Anda di halaman 1dari 18

BAB 1 PENDAHULUAN

Nebulizer merupakan salah satu terapi inhalasi. Terapi inhalasi adalah sistem pemberian obat dalam bentuk partikel aerosol melalui saluran napas dengan cara menghirup obat dengan bantuan alat tertentu. Sasaran terapi inhalasi yang utama adalah saluran napas atas dan saluran napas bawah. Target sasaran ini termasuk mukosa dan ujung reseptor neuron di dalamnya. Terdapat berbagai macam bentuk obat atau cara pemberian terapi inhalasi, seperti bentuk aerosol, yang biasanya dikemas dalam bentuk Inhalasi Dosis Terukur dan biasa disebut Metered Dose Inhaler [ MDI ], DPI atau Dry Powder Inhalation yang dapat berbentuk Turbohaler, rotahaler, atau diskhaler. Bentuk lainnya adalah cairan yang dapat berupa solutio atau suspensi.1,6 Terapi nebulizer merupakan bagiandari fisioterapi paru (chest physiotherapy). Tepatnya, cara pengobatan dengan memberi obat dalam bentuk uap secara langsung pada alat pernapasan menuju paru. Sejak ditemukannya nebulizer pada tahun 1859 di Perancis, nebulizer menjadi pilihan terbaik pada kasus-kasus yang berhubungan dengan masalah inflamasi atau obstruksi bronkus seperti pada penderita asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis). Sebagai bronkodilator, terapi ini memberikan onset yang lebih cepat dibandingkan obat oral atau intravena. Terapi inhalasi pertama kali memang ditujukan untuk target sasaran di saluran napas. Terapi ini lebih efektif, kerjanya lebih cepat dan dosis obat lebih kecil, sehingga efek samping ke organ lain lebih sedikit. Sebanyak 20-30% obat akan masuk di saluran napas dan paru, sedangkan 2-5% mungkin akan mengendap di mulut dan tenggorokan.2,6 Pemberian obat dalam bentuk inhalasi ini ditujukan untuk memberikan efek lokal yang maksimal dan memberikan efek samping yang seminimal mungkin. Terapi inhalasi Nebulizer Therapy | 1

dengan nebulizer dapat diberikan di rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan yang telah memenuhi persyaratan dan di rumah dengan aturan yang sudah dimengerti dengan baik dan benar. 6,7

Nebulizer Therapy | 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistim Pernapasan Untuk memahami tentang penggunaan nebulizer, anatomi dan fisiologi pernapasan harus dipahami terlebih dahulu. Secara fungsional saluran pernapasan dibagi atas bagian yang berfungsi sebagai konduksi dan respirasi. Pada bagian konduksi, udara bolak-balik di antara atmosfir dan jalan napas seakan organ ini tidak berfungsi (dead space), akan tetapi organ tersebut selain sebagai konduksi juga berfungsi sebagai proteksi dan pengaturan kelembaban udara. Bagian konduksi meliputi rongga hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea, brnkus, bronkiolus nonrespiratorius. Pada bagian respirasi terjadi pertukaran udara (difus) yang sering disebut dengan unit paru, yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan sakus alveolaris. Tujuan utama respirasi adalah untuk menyediakan oksigen (O2) bagi sel-sel tubuh dan membawa karbondioksida (CO2) darinya. Agar respirasi dapat berlangsung harus ada jalan untuk membawa oksigen ke tubuh dan system sirkulasi yang mengantarkannya pada sel-sel tubuh serta mengeluarkan CO2 dari sel-sel tersebut. Transport O2 berlangsung melalui saluran pernapasan atas dan bawah. Saluran pernapasan atas terdiri dari hidung, nasofaring, mulut dan orofaring serta laring. Saluran napas bawah dibentuk oleh trakea, saluran utama bronkus, bronkhiolus dan duktus alveolaris, yang kemudian berakhir pada alveoli. Saluran pernapasan, dalam melakukan fungsinya sebagai saluran udara, memiliki 3 fungsi: menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara. Secara histolgis epitel yang melapisi permukaan saluran pernapasan terdiri dari epitel gepeng berlapis berkeratin dan tanpa keratin di bagian rongga mulut; epitel silindris Nebulizer Therapy | 3

bertingkat bersilia pada rongga hidung, trakea, dan bronkus; epitel kuboid selapis bersilia pada bronkiolus repiratorius; epitel gepeng selapis pada duktus alveolaris dan sakus alveolaris serta alveolus. Dibawah lapisan epitel tersebut terdapat lamina propria yang berisi kelenjar-kelenjar, pembuluh darah, serabut saraf dan kartilago. Dan berikutnya terdapat otot polos serta serabut elastin. Sebelum mencapai alveoli, udara yang dihirup melalui suatu saluran pernapasan dibersihkan dari semua partikel yang berdiameter lebih dari 2 m. Pembersihan terhadap partikelpartikel ini, seperti debu dan bakteri, memungkinkan sterilisasi pada alveolus. Bendabenda asing disaring melalui beberapa mekanisme. Selsel goblet pada lapisan epitel saluran pernapasan menghasilkan sejumlah substansi mukopolisaarida yang tebal, yakni mucus. Silia, yang ditemukan sepanjang percabangan saluran pernapasan seperti bronki, akan mendorong mucus dan benda benda asing menuju faring yang kemudian akan dikeluarkan dengan batuk dan bersin. Selama inspirasi udara di panaskan sesuai dengan suhu tubuh, dan lebih dari 1000 ml air digunakan perhari untuk meningkatkan kelembaban udara yang dihirup sampai paling tidak 80%, dan disimpan sebagai cadangan cairan, rata-rata sebanyak 300 ml air perhari dalam respirasi yang normal. Pada sistem respirasi, alveolus merupakan unit dasar untuk pertukaran gas pada sistem respirasi. Pada paru orang sehat, alveoli yang berjumlah lebih dari 300 juta merupakan kantong-kantong kecil berasal dari duktus alveolaris. Duktus alveolaris terdiri dari otot polos yang mampu melebar dan berkontraksi. Alveoli sendiri terdiri dari selapis epitel skuamosa dan suatu membran basalis yang elastis. Kedua lapisan ini bersama lapisan endotel dan membrane basalis kapiler, membentuk membran alveolar-kapilar atau interface. Pertukaran gas terjadi melewati membran yang tebalnya kurang dari 1 um ini.

Nebulizer Therapy | 4

Paru terdiri atas beberapa lobus, paru kanan terdiri dari 3 lobus, atas, tengah, dan bawah. Paru kiri memiliki dua lobus, atas dan bawah. Udara dialirkan kesetiap lobus melalui bronkus lobaris yang merupakan cabang dari bronkus utama. Perbedaan penting antara paru kanan dan kiri adalah dalam hal ukuran saluran udaranya. Bronkus dari trakea sehingga lebih sering menjadi tempat masuknya bahan bahan yang aspirasi. Bronkus kiri lebih sempit dan berjalan dengan membentuk sudut yang lebih tajam dengan trakea, menjadikan sekret dari paru kiri lebih sulit untuk dikeluarkan. Paru terletak disebelah dalam dan dilindungi oleh rongga toraks. Rongga thorak dilapisi pleura. Pleura adalah suatu membran serosa yang luas, satu permukaannya melapisi bagian dalam rangka kosta ( pleura parietalis ) sedangkan permukaan pleura yang lainnya ( pleura visceralis ) membungkus paru. Ruang diantara kedua permukaan itu dikenal sebagai ruang potensial . Ruang ini biasanya mengandung beberapa millimeter cairan seerosa yang mencegah pergesekan pada saat kedua permukaan tersebut saling bertemu. Proses respirasi meliputi ventilasi, perfusi dan difusi. Ventilasi meliputi pergerakan keluar masuknya udara melalui cabang cabang trakeo-bronkial, sehingga oksigen sampai pada alveoli dan karbondioksida di buang. Perfusi adalah istilah untuk aliran darah pada kapiler paru. Difusi adalah proses pergerakan gas ( O2 dan CO2 ) melintasi membran alveolarkapiler yang alirannya di mulai dari daerah dengan konsentrasi yang besar kedaerah dengan konsentrasi yang lebih kecil, menimbulkan keseimbangan alveokapiler. Berdasarkan semua di atas, barulah kita pahami bagaimana obat inhalasi dapat masuk dan bekerja pada paru. Obat masuk dengan perantara udara pernapasan (mekanisme inspirasi dan ekspirasi) melalui saluran pernapasan, kemudian menempel pada epitel selanjutnya diabsorpsi dan sampai pada target organ bisa berupa pembuluh darah, kelenjar, dan otot polos.

Nebulizer Therapy | 5

2.2 DEFINISI Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk mengubah obat dari bentuk cair ke bentuk partikel aerosol. Bentuk aerosol ini sangat bermanfaat apabila dihirup. atau dikumpulkan dalam organ paru. Efek dari pengobatan ini adalah untuk mengembalikan kondisi spasme bronkus.3 Dalam referensi yang lain, Nebulizer adalah alat dengan mesin tekanan udara yang membantu untuk pengobatan asma dalam bentuk uap/ aerosol basah. Terdiri dari tutup, mouthpiece yang dihubungkan dengan suatu bagian atau masker, pipa plastik yang dihubungkan ke mesin tekanan udara.6

2.3 MEKANISME KERJA Cara kerja nebulizer adalah dengan penguapan. Beberapa macam dasar cara kerja adalah kompresor, ultrasound atau oksigen. Obat dalam bentuk partikel aerosol yang dapat dibentuk dari cairan ( pada nebulizer ) atau partikel aerosol yang dimampatkan dengan gas sebagai zat pembawa ( MDI = Meterred Doze Inhaler ) atau aerosol yang berasal dari bubuk kering ( Dry Powder Inhalation = DPI ), akan mencapai sasaran di saluran napas bersama proses respirasi sesuai dengan ukuran partikel yang terbentuk dengan mekanisme Hukum Brown yaitu Impaksi, Sedimentasi dan Difusi. Impaksi adalah membentur dan menempelnya partikel obat pada mukosa bronkus yang terjadi karena pergerakan udara melalui inspirasi dan ekspirasi, sedimentasi adalah sampainya partikel pada mukosa bronkus karena mengikuti efek gravitasi. Ukuran partikel berkisar antara 0,01 mikron sampai 100 mikron. Penyebaran partikel obat akan tergantung kepada besaran mikronnya; partikel dengan ukuran 5-10 mikron akan menempel pada orofaring, 2-5 mikron pada trakeobronkial sedangkan partikel

Nebulizer Therapy | 6

<1 mikron akan keluar dari saluran napas bersama proses ekspirasi. (Chrystin, Workshop Aerosol Medicine ERS, 2005 ) Mekanisme kerja nebulizer sampai saat ini selalu berkembang, secara teknologi disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan obat. Selain itu harus diperhatikan pula mengenai kontinuitas kerja alat nebulizer, karena ada beberapa nebulizer yang menggunakan tombol pengatur output aerosol, atau tanpa tombol pengatur sehingga aerosol keluar terus menerus. Pada tipe kontinu banyak dosis obat yang terbuang, sedangkan yang menggunakan tombol pengatur produksi aerosol dapat disesuaikan dengan pola napas pemakai. Ada beberapa tipe nebulizer dengan klep di bagian mouthpiece-nya yang akan secara otomatis tertutup bila pemakai tidak menarik napas, penggunaan obat menjadi efektif. Lama terapi penguapan 5-10 menit, dapat diberikan 3-4 kali sehari (seperti jadwal pemberian obat).

2.4 KLASIFIKASI NEBULIZER 1. Berdasarkan penggunaannya, nebulizer dapat diklasifikasikan menjadi 2,6,7: a. Disposible nebulizer, sangat ideal apabila digunakan dalam situasi gawat darurat / di ruang gawat darurat atau di rumah sakit dengan perawatan jangka pendek. Apabila nebulizer di tempatkan di rumah, dapat digunakan lebih dari satu kali, apabila dibersihkan setelah digunakan. Dan dapat terus dipakai sampai dengan 2 minggu apabila dibersihkan secara teratur. b. Re-usable nebulizer, dapat digunakan sampai kurang lebih 6 bulan. Keuntungan nebulizer jenis ini adalah desainnya yang lebih komplek dan dapat menawarkan suatu perawatan dengan efektivitas yang ditingkatkan dari dosis pengobatan. Keuntungan lain adalah dapat direbus untuk proses desinfeksi. Selain itu, dapat juga digunakan untuk terapi setiap hari.

Nebulizer Therapy | 7

2. Berdasarkan cara kerjanya, nebulizer diklasifikasikan menjadi 2,6,8: a. Nebulizer Jet - Aerosol Nebulizer dengan penekan udara (Nebulizer compressors), memberikan tekanan udara dari pipa ke tutup (cup) yang berisi obat cair. Kekuatan tekanan udara akan memecah cairan ke dalam bentuk partikel- partikel uap kecil yang dapat dihirup secara dalam ke saluran pernapasan. Ukuran partikel yang dihasilkan 2-8 mikron. Beberapa bentuk jet nebulizer dapat pula diubah sesuai dengan keperluan, sehingga dapat digunakan pada ventilator dan IPPB (Intermiten Positive Pressure Breathing). b. Nebulizer ultrasonik (Ultrasonic Nebulizer) Nebulizer ini menggunakan gelombang ultrasonik (vibrator dengan frekuensi tinggi), sehingga dengan mudah dapat mengubah cairan menjadi partikel kecil yang bervolume tinggi, yakni mencapai 6cc/menit. Secara perlahan mengubah dari bentuk obat cair ke bentuk uap atau aerosol basah. (Catatan: pulmicort tidak dapat digunakan pada sebagian nebulizer ultrasonik). Besarnya partikel adalah 5 mikron maka dengan mudah masuk ke saluran pernapasan, sehingga dapat terjadi reaksi, seperti bronkospasme dan dispnoe. Oleh karena itu alat ini hanya dipakai secara intermitten, yakni untuk menghasilkan sputum dalam masa yang pendek pada pasien dengan sputum yang kental. c. Nebulizer mini Nebulizer ini merupakan generasi baru (New generation of nebulizer) digunakan tanpa menggunakan tekanan udara maupun ultrasound. Alat ini sangat kecil, dioperasikan dengan menggunakan baterai, dan tidak berisik.

Nebulizer Therapy | 8

2.5 TUJUAN, INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI TERAPI NEBULIZER Tujuan pemberian nebulizer untuk mengurangi sesak, mengencerkan dahak (meningkatkan produksi sekret) dan dapat mengurangi / menghilangkan bronkospasma. Terapi nebulizer diindikasikan untuk penderita gangguan saluran napas. Kontraindikasi terapi nebulisasi adalah pada pasien dengan hipertensi, takikardi, riwayat alergi, trakeotomi, fraktur di daerah hidung. Namun, hal yang tidak boleh dilupakan adalah kontra indikasi dari obat yang kita gunakan untuk nebulisasi.

2.6 PEMILIHAN OBAT Obat akan selalu disesuaikan dengan diagnosis atau kelainan saat itu. Obat yang digunakan dalan terapi inhalasi nebulizer berbentuk solutio, suspensi atau obat khusus yang memang dibuat untuk terapi inhalasi. Golongan obat yang sering diberikan via nebulizer yaitu beta agonis, antikolinergik, kortikosteroid dan antibiotik. Berikut ini adalah penjelesan mengenai obat-obat yang dapat diberikan dengan terapi nebulizer 2: SEDIAN DAN KETERANGAN KANDUNGAN BRONKODILATOR : bekerja dengan merelaksasi otot polos bronkus dan membantu memudahkan dalam bernapas Salbutamol - Nebule 2.5 mg in 2,5ml - Diencerkan dengan 4 ml NaCl 0,9 % (Ventolin) - Nebule 5 mg in 2,5 ml - Dapat dikombinasi Budesonide dan juga Ipratropium Untuk semua usia, tetapi hati-hati penggunaan pada usia < 18 bulan Respule 5 mg dalam 2 ml - Diencerkan dengan 4 ml Nacl 0,9 % Terbutaline (Bricanyl) - Dapat dikombinasi dengan terbutalin, Disetujui untuk BB > 25 budesonide dan Ipratropium. kg OBAT Dapat diberikan pada semua usia

Nebulizer Therapy | 9

Adrenaline (Epinefrine)

Injeksi 1 : 1000 Digunakan untuk usia yang 1 tahun

Dapat di encerkan dengan 4 ml Nacl 0,9 % Observasi ketat dengan monitor EKG dan saturasi oksigen. - Diencerkan dengan 4 ml Nacl 0,9 % (penggunaan dengan mouthpiece lebih baik daripada masker, dan menurunkan risiko kerusakan mata - Dapat di campurkan dengan budesonide, salbutamol, terbutaline.

ANTIKOLINERGIK Ipratropium Bromide Nebule 250 mcg dalam 1 ml (atrovent) Nebule 500 mcg dalam 2 ml

Diberikan untuk usia > 3 tahun KORTIKOSTEROID : untuk menekan proses inflamasi Budesonide Nebule 500 mcg dalam 2 Penggunaan mouthpiece lebih baik ml untuk mencegah skin rash. (Pulmicort) Nebule 1 mg dalam 2 ml Diencerkan dengan 4 ml Nacl 0,9 % Dapat dicampurkan dengan Terbutaline, Salbutamol, Ipratropium. Diberikan pada usia >3 bulan. Nebule 500 mcg dalam 2 ml Nebule 2 mg dalam 2 ml Dapat diberikan untuk usia >16 tahun.

Fluticasone (flixotid)

Diencerkan dengan 4 ml Nacl 0,9 % Penggunaan mouthpiece lebih baik untuk mencegah skin rash.

KOMBINASI PRODUK : mengandung antikolinergik dan bronkodilator Combivent Nebule (Ipratropium Sebaiknya jangan diencerkan atau dicampur dengan obat lain Bromide 500 mcg & salbutamol 2,5 mg) dalam Penggunaan mouthpiece lebih baik 2,5 ml untuk mengurangi risiko kerusakan mata Diberikan pada usia > 12 tahun Hanya digunakan pada pasien COPD

Nebulizer Therapy | 10

Duovent

Nebule (Ipratropium Bromide 500 mcg & Fenoterol 1,25 mg) dalam 4 ml Diberikan pada usia > 14 tahun

Diencerkan dengan 4 ml Nacl 0,9 % Penggunaan mouthpiece lebih baik untuk mengurangi risiko kerusakan mata

MUKOLITIK Dornase Alfa (Pulmozyme)

Nebulizer Solusio 2.5mg dalam 2.5ml Diberikan pada usia > 5 tahun A Nacl 5% - 6ml dosis

- Sebaiknya tidak diencer-kan atau dicampur deng-an obat lain - Harus disimpan dalam lemari pendingin

- digunakan untuk meng-induksi dahak untuk diagnosis atau - A dipersiapkan dengan mencampur Nacl 30% 1ml dengan Air 5ml untuk B Nacl 7.5% - 5ml dosis suntikan untuk induksi sputum - B dipersiapkan dengan mencampur Nacl 30% 1ml dengan Air 4ml untuk suntikan - Dapat menyebabkan mual dan muntah - Digunakan itu pra-perawatan pasien dengan brokodilator untuk mengurangi bronko-spasme ANTIBIOTIK :Antibiotik dapat diberikan untuk menembus fokus infeksi dalam dahak. Antibiotik Nebulised harus selalu diberikan setelah fisioterapi atau bronkodilator pengobatan, menggunakan mouthpiece. Injeksi 1Mu/vial Colistimethate - Larutkan dengan Nacl 0,9% 4ml Sodium/colistin - Sebaiknya tidak diencerkan lebih lanjut Digunakan untuk semua (Colomycin) atau dicampur dengan usia obat lain kecuali gentamisin (cat: jika keadaan krusial) Hypertonic Saline Gentamicin Tobramycin Injeksi 80mg/2ml (ampul) - Kedua antibiotik ini tidak dianjurkan untuk terapi nebulizer. Namun dapat Injeksi 40mg/ml dan digunakan sebagai terapi nebulizer jika 80mg/2ml (ampul) keadaan krusial. - Diencerkan dengan 4ml dengan Nacl 0,9%. - Sebaiknya tidak dicampur dengan obat lain.

Nebulizer Therapy | 11

Tobramycin (TOBI)

Nebulizer Solusio 300mg/5ml Diberikan pada usia >6 tahun

- Sebaiknya tidak diencer-kan atau dicampur dengan obat lain dan diberikan setelah semua obat nebulizer lain - Harus disimpan dalam lemari pendingin

PENTAMIDINE Pentamidin adalah obat yang berbahaya dengan banyak efek samping dan seharusnya hanya diberikan oleh mereka yang berpengalaman dalam peng-gunaannya Pakaian pelindung - masker, celemek dan sarung tangan harus dipakai oleh petugas Obat ini teratogenik, wanita usia subur harus menghindari kontak obat. Pentamidin Nebulizer adalah sebagai profilaksis terhadap dan pengobatan lini kedua untuk Pneumocystis carinii pneumonia (PCP) Pre-medikasi dengan bronkodilator Nebulizer solusio 300mg/5ml Injeksi 300mg/vial Digunakan pada orang dewasa RIBAVIRIN Ribavirin (Virazole ) Nebulizer Powder 6gr/vial untuk cairan inhalasi Digunakan untuk neonatus dan anak-anak - Ribavirin adalah obat yang berbahaya dengan banyak efek samping dan seharusnya hanya diberikan oleh yang berpengalaman dalam penggunaannya. - Pakaian pelindung - masker, celemek dan sarung tangan harus dipakai oleh petugas. - Memiliki efek teratogenik - Ribavirin dapat digunakan untuk mengobati Bronchiolitis Virus parah Respiratory syncytial yang paling sering menyerang bayi. - Dapat diencerkan dengan air untuk Injeksi - Gunakan mouthpiece dan tube exhauser saat penggunaan pentamide inhalasi

Pentamidine isethioat

Nebulizer Therapy | 12

2.7 PROSEDUR TERAPI NEBULIZER 1. Alat- alat yang digunakan Nebulizer terdiri dari beberapa bagian yang terpisah, antara lain generator aerosol, nebulizer, tempat obat cair dan alat hisapnya yang dapat berupa masker, mouthpiece atau kanul ( kanul hidung, kanul trakeostomi ). Serta obat-obat untuk pernapasan dan Nacl untuk pengeceran obat pernapasan tersebut. Generator aerosol adalah sumber tenaga yang diberikan kepada nebuliser sehingga dapat mengubah cairan menjadi aerosol atau partikel halus. Masker, digunakan pada pasien dengan kesadaran menurun. Tidak memerlukan koordinasi inspirasi atau ekspirasi dari pasien. Hati hati pada penggunaan kortikosteroid atau antikolinergik. Kerugian menggunakan masker yaitu mengganggu kemampuan pasien untuk berkomunikasi, tidak nyaman, lembab, harus terus melekat pada wajah untuk mencegah kebocoran, dapat terjadi aspirasi jika pasien muntah terutama pasien yang tidak sadar / pasien anak. Mouthpiece, obat yang terhirup akan lebih efektif. Diperlukan koordinasi inspirasi dan ekspirasi yang baik. Berikan sambungan kor pada pipa inspirasi. Pada trakeostomi diperlukan konektor khusus; dapat juga dengan T konektor biasa.

2.

Penggunaan nebulizer Dalam penggunaan terapi nebulizer diperlukan teknik yang benar agak efek obat tercapai. Untuk ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:

Nebulizer Therapy | 13

1. Pengiriman gas Penggunaan oksigen sebagai sarana pengiriman gas. Berikan oksigen suplemen 6-8 liter/menit, dengan flow rate disesuaikan menurut kondisi pasien, pulse oximetry / hasil AGD (Analisa Gas Darah). Inhalasi katekolamin dapat merubah ventilasi-perfusi paru dan memperburuk hipoksemia untuk periode singkat. Karena inhalasi katekolamin dapat meningkatkan heart rate dan menimbulkan diaritmia. 2. Pengencer dan isi volume Semua ruang nebulizer meninggalkan volume residu antara 0,5 dan 1,0 ml. Volume residu dalam intersurgical cirrus chamber adalah 0,9 ml. Ini berarti bahwa 0,9 ml obat tidak sampai ke pasien dan ini harus dipertimbangkan ketika dosis dihitung. Meningkatkan isi volume dengan menambahkan pengenceran menyebabkan penurunan jumlah obat aktif terbuang. Pengisian volume minimal adalah 4ml dan dan maksimum dari 10 ml harus digunakan ketika obat solutio sedang ditransfer melalui nebuliser. Pengenceran dilakukan dengan hanya dengan Nacl 0,9%, jangan menggunakan air sebagai pengencer karena dapat menginduksi bronkospasme. 3. Laju aliran Laju aliran gas mempengaruhi waktu nebulisator dan ukuran tetesan yang tersebar. Kecepatan aliran meningkat berarti waktu nebulisator lebih pendek dan ukuran tetesan lebih kecil. Untuk pengiriman obat efisien pada bronkus, diameter tetesan optimal adalah 1-5 mikron. Untuk mencapai hal ini Laju aliran ditetapkan pada 8 liter per menit. 4. Waktu pengiriman Nebuliser tidak akan pernah kering karena volume sisa. Tergantung pada obat dan nebulizer, naik sampai 80% dari dosis total diberikan dalam waktu lima menit

Nebulizer Therapy | 14

pertama pengiriman. Tapi kepatuhan tetes dengan waktu pemberian yang lebih lama. Waktu pengiriman tidak lebih dari 10 menit. 5. Posisi pasien Pasien harus nyaman dan duduk tegak (40-900) hal ini memungkinkan ventilasi pasien dan pergerakan diafrgama maksimal. Pastikan masker sesuai dan nyaman dan mendorong pasien untuk bernapas terus melalui mulut (bukan hidung). Pasien harus menghindari berbicara karena hal ini mengurangi efisiensi pengiriman obat. Miring sedikit ke depan memberikan perluasan maksimum. Hal ini penting bahwa ruang nebuliser tetap tegak. 6. Perawatan nebulizer Setiap pasien harus memiliki nebuliser sendiri. Kolonisasi bakteri pada ruang nebulizer dengan mikroorganisme seperti Burkholderia spp telah terbukti dalam meningkatkan risiko infeksi pasien. Pasien yang menerima terapi nebuliser jangka panjang harus mengganti ruang nebulizer setiap 3 bulan. Oleh karena itu nebuliser harus dibilas setelah digunakan dan dikeringkan dengan tisu lembut.

Jalankan ruang kosong selama beberapa menit sebelum penggunaan berikutnya.

3.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengguna nebulizer adalah: a) Gunakan tubing, nebulizer cup, mouthpiece/masker untuk masing-masing pasien (single use). b) Lindungi mata dari uap. c) Berikan obat yang sesuai dengan resep yang dianjurkan oleh dokter. d) Jangan mencampur obat tanpa seijin dokter. e) Jika memungkinkan, selama terapi, atur napas dengan menarik napas dalam melalui hidung dan tiup melalui mulut.

Nebulizer Therapy | 15

f) Perhatikan perubahan yang terjadi, seperti kebiruan (sianosis), batuk berkepanjangan, gemetar (tremor), berdebar-debar, mual, muntah dan lain-lain. g) Lakukan penepukan dada atau punggung pada saat atau setelah selesai terapi inhalasi h) Segera setelah selesai melakukan terapi inhalasi, basuh wajah dengan air.

2.8 EFEK SAMPING & KOMPLIKASI Efek samping dan komplikasi yang ditimbulkan dari penggunaan terapi nebulasi adalah: a) Infeksi silang antar pasien b) Mual dan muntah c) Tremor dan takikardi d) Penyempitan saluran napas atau refleks vagal yang menyebabkan henti napas mendadak e) Penumpukan sekret atau lender f) Iritasi pada selaput mata, kulit dan selaput lender tenggorokan g) Dosis yang kurang tepat karena kurang tepat dalam menggunakan alat ataupun tekniknya. h) Kurang dalam pemberian obat karena malfungsi dari alat tersebut. i) Pemberian dosis tinggi dari beta agonis akan menyebabkan efek yang tidak baik pada system sekunder penyerapan dari obat tersebut. Hipokalemia dan atrial atau ventricular disritmia dapat ditemui pada pasien dengan kelebihan dosis. j) Spasme bronkus atau iritasi pada saluran pernapasan.

Nebulizer Therapy | 16

BAB 3 KESIMPULAN

Terapi nebuliser merupakan salah satu terapi inhalasi. Terapi inhalasi adalah sistem pemberian obat dalam bentuk partikel aerosol melalui saluran napas dengan cara menghirup obat dengan bantuan alat tertentu. Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk merubah obat dari bentuk cair ke bentuk partikel aerosol. Bentuk aerosol ini sangat bermanfaat apabila dihirup atau dikumpulkan dalam organ paru. Cara kerja nebulizer adalah dengan penguapan. Tujuan pemberian nebulizer untuk mengurangi sesak (rasa tertekan di dada), mengencerkan dahak (peningkatan produksi secret) dan dapat mengurangi / menghilangkan bronkospasma. Keuntungan nebulizer terapi adalah medikasi dapat diberikan langsung pada tempat / sasaran aksinya seperti paru sehingga dosis yang diberikan rendah. Dosis yang rendah dapat menurunkan absorpsi sistemik dan efek samping sistemik. Pengiriman obat melalui nebuliaer ke paru sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat daripada rute lainnya seperti subkutan.oral. Obat-obatan yang dapat diberikan dengan terapi nebulizer yaitu beta agonis, antikolinergik, kortikosteroid dan antibiotik. Protokol pemakaian nebuliser yang terpenting adalah oksigen diperlukan untuk sarana pengiriman gas, flow rate harus 8 liter per menit, pengecer yang digunakan adalah Nacl 4ml10ml, dan lama pemberian 5-10 menit, jangan lebih dari 10 menit. Efek samping dari terapi nebuliser yaitu mual, muntah, tremor, takikardi dan bronkospasme.

Nebulizer Therapy | 17

DAFTAR PUSTAKA

1. Ward, Jeremy, dkk. 2008. The Respiratory System at a Glance Ed. 2. Penerbit Erlanga: Jakarta 2. Harris, David. 2006. Nebulizer guidelines. United Bristol Health care. Directorate of childrens services. 3. Hoan, Tan, Drs & Rahardja, Kirana, Drs. 2010. Obat-obat Penting Ed.6. Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Kompas Gramedia : Jakarta 4. Rab T. 1996. Prinsip Gawat Paru. Hipokrates : Jakarta 5. Ganong WF.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta 6. Terapi Inhalasi. Available from: URL: http://www.pharmacy.gov.my/patient_educa tion/inhalation_malay.shtml 7. Inhalation Therapy. Available from: URL: http://www.unc/~chooper/classes/voice/webtherapy/inhalationx.html. 8. Terapi inhalasi asma bronkial. Available from: http://www.asthmastuff.com/nebulizer.htm

Nebulizer Therapy | 18