Anda di halaman 1dari 146

PERAN MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN

(MGMP) DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI


PROFESIONAL GURU SEJARAH PADA SMA DI
KABUPATEN REMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011

SKRIPSI

Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sejarah

Oleh
Nur Mutmainah
NIM 3101407007

JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
i
ii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada:

Hari :

Tanggal :

Penguji Utama

Drs. Abdul Muntholib, M.Hum


19541012 198901 1 001

Pembimbing I Pembimbing II

Drs.Karyono,M.Hum Drs. Ibnu Sodiq,M.Hum


NIP.19510606 198003 1 003 NIP.19631215 198901 1 001

Mengetahui,
Dekan,

Drs. Subagyo M.Pd


NIP. 195108081980031003

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya
sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.
Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau
dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Juli 2011

Nur Mutmainah
NIM.3101407007

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :

 Hidup adalah Perjuangan (Penulis)

 Seseorang yang pikirannya dipenuhi banyak gagasan dan rencana cerdas

tetapi tidak pernah mencoba merealisasikannya menjadi sebuah karya

nyata , maka dia adalah orang yang tidak pernah berguna (Huzaifah

Ismail)

Persembahan :

☺Bapak dan Ibu yang memberikan doa dan kasih sayang yang tulus.

☺Buat saudaraku tersayang ( Mbak Aini, Mas Sarwan, Adik Ifa dan Adik Aisy)

terimakasih atas doa dan dukungan.

☺Guru-guruku yang telah memberikan bekal ilmu yang berharga.

☺Teman-teman terbaikku Kasih, Dwi, Ayu, dan Nisa terima kasih atas motivasi

kalian.

☺Almamaterku Pendidikan Sejarah 2007.

v
PRAKATA

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-

Nya, sehingga terungkap rasa syukur atas terselesainya skripsi dengan

judul Peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Dalam

Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Sejarah Pada SMA di

Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2010/2011, sebagai salah satu

persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas

Negeri Semarang.

Penulis menyadari bahwa dalam karya ilmiah (skripsi) ini masih

memerlukan pengembangan lanjut untuk mencapai tujuan esensialnya

sejalan dengan perkembangan kurikulum sekolah. Skripsi ini dapat

terselesaikan atas bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini

ucapan tulus dan hormat saya sampaikan kepada:

1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmojo, M.Si, Rektor Universitas Negeri


Semarang yang telah memberikan fasilitas selama penulis kuliah.
2. Drs. Subagyo, M.Pd selaku Dekan FIS Universitas Negeri Semarang
yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.
3. Arif Purnomo, S.Pd, S.S. M.Pd selaku Ketua Jurusan Sejarah
Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin dan
semangatnya dalam penyelesaian karya ini.
4. Drs. Karyono, M.Hum dosen pembimbing I yang telah banyak
memberikan bimbingan, petunjuk dan motivasi.
5. Drs. Ibnu Sodiq, M.Hum dosen pembimbing II yang telah banyak
memberikan bimbingan, petunjuk dan motivasi.
6. Seluruh dosen jurusan sejarah yang telah memberikan bekal ilmu
kepada penulis selama belajar di UNNES.

vi
7. Ginna Santoso S.Pd Ketua MGMP Sejarah SMA Kabupaten Rembang
yang telah memberikan ijin melakukan penelitian.
8. Seluruh anggota MGMP Sejarah SMA di Kabupaten Rembang yang
telah menjadi objek penelitian, terimakasih atas bantuannya.
9. Tsabit Azinar Ahmad,S.Pd., M.Pd dan Yupa Setiyawan yang telah
memberikan dukungan hingga terselesaikannya skripsi ini.
10. Bapak, Ibu dan segenap keluarga besar yang telah memberikan
dukungan hingga terselesaikannya skripsi ini.
11. Teman-teman di asholehah kost, emeral kost yang telah memberikan
bantuan dan motivasi selama ini.
12. Semua pihak yang telah membantu dengan sukarela, yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis

pada khususnya dan bagi semua pihak bagi umumnya. Amien.

Semarang, Juli 2011

Penulis

vii
SARI

Mutmainah, Nur. 2011. Peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran


(MGMP) Dalam Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Sejarah Pada
SMA Di Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi, Jurusan
Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

Kata Kunci : MGMP, Kompetensi Profesional, Guru Sejarah.

Profesionalisme guru dan mutu pendidikan Jawa Tengah masih rendah.


Hal ini di latar belakangi oleh banyak faktor yaitu kualifikasi pendidikan
formal guru belum sesuai dengan ketentuan undang-undang, kekurangan guru
pada semua jenis dan jenjang pendidikan masih cukup banyak, distribusi guru
belum merata, masih banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang
studinya, kesejahteraan pendidikan belum optimal dan penghargaan terhadap
pendidikan sangat minim serta peran PKG (Pemantapan Kerja Guru), MGMP
(Musyawarah Guru Mata Pelajaran), KKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah)
dan KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah) belum optimal, padahal usaha
mendiskusikan permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugas
sehari-hari dan mencari penyelesaian yang sesuai dengan karaktetistik sejarah
yang sesuai dengan KTSP guru dapat menemukannya dengan mengikuti wadah
MGMP.
Skripsi ini mendiskripsikan permasalahan yang didapat, Upaya apa
dilakukan MGMP dalam pengembangan kompetensi profesional guru Sejarah
di Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2010/2011; Kendala-kendala apa saja
yang terjadi di lapangan dalam pengembangan kompetensi profesional guru
Sejarah di Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2010/2011 oleh MGMP;
Tanggapan guru Sejarah terhadap fungsi MGMP.
Dalam penelitian ini metode menggunakan kualitatif studi kasus. Sumber
data penelitian ini adalah narasumber atau informan (informant) dan Aktivitas
MGMP. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi,
wawancara, studi dokumen dan angket atau kuesioner (Questionnaires).
Penelitian ini memilih informan dengan menggunakan purposive sampling.
Dalam keabsahan data penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi sumber.
Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif Miles
dan Hiberman terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan,
yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa upaya-upaya MGMP sejarah dalam
pengembangan kompetensi profesional guru sejarah di Kabupaten Rembang,
melalui kegiatan program kerja yang sudah signifikan dan sesuai dengan
kubutuhan guru. Program tersebut yaitu pembahasan silabus, pembuatan
perangkat KBM, pembuatan Modul, pembuatan soal semester, studi lapangan
situs sejarah, pembuatan VCD pembelajaran. Serta, kerja sama yang dilakukan
oleh MGMP dengan MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) Komisariat
Rembang menambah wawasan dan manfaat yang sangat baik bagi anggota
MGMP dan MGMP mempunyai peranan dalam proses sertifikasi guru yaitu

viii
MGMP dapat memberikan surat keterangan bagi anggota untuk (PAK)
Penetapan Angka Kredit. Selain itu MGMP juga dapat dimasukan unsur C
pada aspek pengalaman berorganisasi dibidang pendidikan dan sosial.
Kendala-kendala MGMP dalam pengembangan kompetensi profesional
guru Sejarah di Kabupaten Rembang; SMA Swasta, dari guru sejarah yang
berasal bukan dari lulusan sejarah menjadi permasalahan terhadap MGMP;
Kurang pengawasan dari Dinas, dan KSKO (Kepala Sekolah Koordinasi
Organisasi) kepada kinerja MGMP; Dana pendukung operasional MGMP
yang kurang memadai; Terdapat beberapa etos kerja guru yang rendah.
Tanggapan guru Sejarah terhadap fungsi MGMP Sejarah Kabupaten
Rembang; Bahwa MGMP sangat membantu guru dalam mewujudkan proses
pembelajaran yang dapat mengubah ranah psikologis siswa serta permasalahan
yang terkait dengan implementasi KTSP.

ix
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................................i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................................................ii

PENGESAHAN KELULUSAN..........................................................................iii

PERNYATAAN .................................................................................................iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................ v

PRAKATA .........................................................................................................vi

SARI ................................................................................................................viii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................xiii

DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1

B. Perumusan Masalah............................................................................. 13

C. Tujuan Penelitian................................................................................. 13

D. Kegunaan Penelitian............................................................................ 14

E. Batasan Istilah ..................................................................................... 14

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)........................................ 18

1. Pengertian MGMP ..............................................................................18

2. Organisasi Profesi Guru......................................................................19

3. Tujuan MGMP....................................................................................22

x
4. Peran MGMP.......................................................................................24

B. Kompetensi Profesional Guru.............................................................. 27

1. Pengertian Kompetensi Profesional....................................................27

2. Ruang Lingkup Kompetensi Profesional ............................................33

3. Pengembangan Kompetensi Profesional Melalui MGMP..................36

C. Guru Sejarah ....................................................................................... 38

1. Pengertian Guru...................................................................................38

2. Guru Sejarah........................................................................................39

3. Kompetensi Profesional Guru Sejarah................................................42

D. Kerangka Berfikir................................................................................ 46

BAB III METODE PENELITIAN

A. Sasaran Penelitian ............................................................................... 48

B. Bentuk dan Strategi Penelitian............................................................. 50

C. Sumber Data........................................................................................ 51

D. Teknik Pengumpulan Data................................................................... 52

E. Memilih Informan ............................................................................... 55

F. Keabsahan Data................................................................................... 57

G. Teknik Analisis ................................................................................... 58

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran MGMP Sejarah SMA ......................................................... 61

1. MGMP Sejarah SMA Kabupaten Rembang.....................................61

2. Perkembangan MGMP Sejarah Kabupaten Rembang Tahun 2000-

2010...................................................................................................63

xi
B. Upaya-Upaya MGMP Sejarah Dalam Pengembangan Kompetensi

Profesional Guru Sejarah Di Kabupaten Rembang.................................67

C. Kendala-Kendala MGMP Sejarah Dalam Pengembangan Kompetensi

Profesional Guru Sejarah Di Kabupaten Rembang.................................87

D. Tanggapan Guru Sejarah Terhadap Fungsi MGMP Sejarah Kabupaten

Rembang.... ......................................................................................... 94

BAB V PENUTUP

A. Simpulan ............................................................................................. 97

B. Saran ................................................................................................... 99

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 101

LAMPIRAN

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Organisasi Profesi dan Kode Etik ................................................................ 22

2.2 Kerangka Berpikir....................................................................................... 47

3.3 Teknik Analisis Miles dan Hiberman .......................................................... 59

4.4 Seminar Internasional.................................................................................. 71

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Keputusan MKKS SMA Kabupaten Rembang............................104

2. Susunan Pengurus MGMP Sejarah Kabupaten Rembang Tahun 2009-

2012.......................................................................................................105

3. Susunan Pengurus MGMP Sejarah Kabupaten Rembang Tahun 2000-

2003........................................................................................................106

4. Susunan Pengurus MGMP Sejarah Kabupaten Rembang Tahun 2003-

2006........................................................................................................107

5. Susunan Pengurus MGMP Sejarah Kabupaten Rembang Tahun 2006-

2009........................................................................................................108

6. Daftar Guru Mata Pelajaran Sejarah Kabupaten Rembang...................109

7. Program Kerja MGMP Sejarah Kabupaten Rembang...........................110

8. Surat Katerangan Aktif Anggota MGMP..............................................111

9. Lembar Penilaian dari Atasan dan Pengawas........................................112

10. Supervisi Kunjungan Kelas.................................................................113

11. Lembar Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran oleh Atasan dan

Pengawas...............................................................................................114

12. Diktat Hasil Program Kerja Tahun 2000-

2003........................................................................................................116

13. Surat Keterangan melakukan Penelitian..............................................117

14. Instrumen Penelitian............................................................................118

15. Surat ijin Penelitian.............................................................................127

xiv
16. Foto Penelitian....................................................................................128

A. Studi Lapangan Situs Sejarah di Museum Plawangan Kragan dan

Terjan di Lasem...........................................................................128

1) Studi Lapangan di Museum Plawangan Kragan......................129

2) Situs Megalitikhum di Terjan..................................................129

3) Seminar dan Napak Tilas Jejak Peninggalan Majapahit di Lasem

Rembang..................................................................................129

4) Studi Lapangan Program Kerja Tahun 2006-2009 di Sangiran

dan Objek Percandian Plaosan Lor dan plaosan kidul.............129

B. Kegiatan MGMP di dalam Ruangan............................................130

1) Pemanfaatan Teknologi LCD Dalam Rapat MGMP...............130

2) Pembagian Kelompok Pembuatan Soal...................................130

C. Teknik Pengumpulan Data...........................................................130

1) Observasi Berperan Pasif........................................................130

2) Wawancara...............................................................................131

xv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk

watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang

diinginkan. Dimensi tersebut, peranan guru sulit digantikan oleh yang lain.

Dipandang dari dimensi pembelajaran, peranan guru dalam masyarakat

Indonesia tetap dominan sekalipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam

proses pembelajaran berkembang amat cepat. Hal ini disebabkan karena ada

dimensi-dimensi proses pendidikan, atau lebih khusus lagi proses,

pembelajaran, yang diperankan oleh guru yang tidak dapat digantikan oleh

teknologi (Supriadi, 1998: xv).

Dalam pendidikan formal di sekolah guru mempunyai peranan yang

sangat penting karena sangat menentukan keberhasilan siswa, terutama dalam

kaitannya dengan proses belajar-mengajar. Definisi yang kita kenal sehari-

hari adalah bahwa guru merupakan orang yang harus digugu dan ditiru, dalam

arti orang yang memiliki kharisma atau wibawa hingga perlu ditiru dan

diteladani. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian

pesat, guru tidak hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus

mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih

banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan

mengolah sendiri informasi. Dengan demikian, keahlian guru harus terus

1
2

dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan prinsip mengajar

(Uno, 2008: 17).

Tugas utama guru adalah mengajar, kebanyakan kita mengatakan

bahwa mengajar adalah suatu profesi. Menurut Dedi Supriyadi (1998), guru

sebagai suatu profesi di Indonesia baru dalam taraf sedang tumbuh (emerging

profession) yang tingkat kematangannya belum sampai pada yang telah

dicapai oleh profesi-profesi lainnya sehingga guru dikatakan sebagai profesi

yang setengah-setengah atau semi profesional. Pekerjaan profesional berbeda

dengan pekerja non profesional karena suatu profesi memerlukan kemampuan

dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya dengan kata lain

pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat

dilakukan oleh mereka yang khususnya dipersiapkan untuk itu (Saondi, 2010:

7).

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Profesi adalah

bidang pekerjaan yang dilandasi dengan pendidikan keahlian (keterampilan,

kejujuran dan sebagainya) tertentu (KBBI, 2008: 1216). Berdasarkan

penjelasan tersebut di atas, sebagian orang cenderung menyatakan guru

sebagai suatu profesi, dan sebagian lagi tidak mengakuinya. Oleh sebab itu

dapat dikatakan jabatan guru sebagian, tapi bukan seluruhnya merupakan

jabatan profesional, namun sedang bergerak kearah itu. Kita di Indonesia

dapat merasakan jalan ke arah itu mulai dijalani, misalnya dengan adanya

peraturan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1989 bahwa

yang boleh menjadi guru hanya yang mempunyai akta mengajar yang
3

dikeluarkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Selain

itu, juga guru diberi penghargaan oleh pemerintah melalui Keputusan

Menpan nomor 26 Tahun 1989, dengan memberikan tunjangan fungsional

sebagai pengajar, dan dengan kenaikan pangkat yang terbuka (Soetjipto,

2009: 26).

Sesungguhnya paradigma baru pendidikan nasional nomor 20 tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), memang telah

menempatkan pendidik sebagai tenaga profesional, yang bertugas

merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil

pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan

penelitian dan pengapdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada

perguruan tinggi ( pasal 39 ayat (2) UU Sisdiknas). Pasal ini tidak diikuti

dengan perintah untuk pengaturan lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Itulah salah satu sebab, maka pengaturan lebih lanjut tentang pendidik,

khususnya guru dan dosen, perlu dibuat dalam bentuk undang-undang.

Persamaan yang paling esensial, bahwa guru dan dosen adalah

pendidik yang merupakan tenaga profesional. Pengertian profesional memang

tidak dijelaskan lebih lanjut dalam UU Sisdiknas, dan karena itu dalam

Rancangan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, diberi rumusan :

“Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan


menjadi sumber penghasilan kehidupannya yang memerlukan keahlian,
kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma
tertentu, serta memerlukan pendidikan profesi”.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen, ditetapkan dengan jelas

sembilan prinsip profesional (pasal 7 ayat 1), yaitu guru dan dosen : (a)
4

memiliki bakat, minat dan panggilan jiwa, dan idealisme; (b) memiliki

komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan ketakwaan, dan

akhlak mulia; (c) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang

pendidikan sesuai bidang tugas; dan (d) memilki kompetensi yang diperlukan

sesuai bidang tugas; dan (e) memiliki tangung jawab atas pelaksanaan tugas

keprofesionalan. Selain itu guru dan dosen harus juga: (f) memperoleh

penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (g) memiliki

kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan

dengan belajar sepanjang hayat; dan (h) memiliki jaminan perlindungan

hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan guru. Khusus bagi guru

harus (i) memiliki wadah profesi yang mempunyai kewenangan mengatur

hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Dalam hal ini

dosen tidak wajib memiliki wadah profesi, karena akan lebih banyak diatur

oleh senat perguruan tinggi masing-masing (Arifin, 2007:68).

Pendapat dari Soetjipto, Arifin diatas diperkuat oleh Ondi Saondi

(2009) bahwa guru di Indonesia merupakan jabatan profesi yang mulai

dijalani, hal ini bisa dilihat dari adanya kebijakan-kebijakan pemerintah

sebagai dasar landasan pelaksanaan peningkatan keprofesionalan guru. Pada

undang-undang Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005 menyatakan bahwa

Keprofesionalan guru harus memiliki beberapa kompetensi meliputi

kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan

kompetensi profesional. Penjelasan tentang Standar Kualifikasi dan


5

Kompetensi Pendidik diatur pada peraturan menteri nomor 16 tahun 2007

yaitu (Anonim, 2010: 81) :

1. Kompetensi Pedagogik

Merupakan kemampuan dalam mengelola pembelajaran peserta didik,

yang terdiri dari kemampuan memahami peserta didik, kemampuan

merancang dan melaksanakan pembelajaran, kemampuan melakukan

evaluasi pembelajaran, kemampuan membantu pengembangan peserta

didik dan kemampuan mengaktualisasikan berbagai potensi yang

dipunyainya.

Secara rinci kompetensi paedagogik mencangkup:

a. Memahami karakteristik peserta didik dari aspek fisik, sosial, moral,

kultural, dan emosional.

b. Memahami latar belakang keluarga dan masyarakat peserta didik dan

kebutuhan belajar dalam konteks kebinekaan budaya.

c. Memahami gaya belajar dan kesulitan peserta didik.

d. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik.

e. Menguasai teori dan prinsip belajar serta pembelajaran yang

mendidik.

f. Mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta

didik dalam pembelajaran.

g. Merancang pembelajaran yang mendidik.


6

2. Kompetensi Profesional

Merupakan kemampuan penguasaan meteri pembelajaran secara luas

dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi

standart kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional. Yang

termasuk kompetensi profesional adalah penguasaan materi pelajaran yang

terdiri dari penguasaan bahan yang diajarkan, penguasaan dan

penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan,

penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan, dan pembelajaran

siswa.

Secara rinci kompetensi profesional mencangkup :

a. Menguasai subtansi bidang studi dan metodologi keilmuan

b. Menguasai struktur dan materi bidang studi.

c. Menguasai dan memanfaatkan teknologi Informasi dan komunikasi

dalam pembelajaran.

d. Mengadahkan materi kurikulum bidang studi.

e. Meningkatkan kwalitas pembelajaran melalui penelitian tindakan

kelas.

3. Kompetensi Sosial

Kemampuan berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta

didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, serta

masyarakat sekitar. Cakupan kompetensi sosial meliputi :


7

a. Berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didik, orang

tua peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, dan

masyarakat.

b. Berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan di sekolah dan

masyarakat.

c. Berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan di tingkat lokal,

regional, nasional dan global.

d. Memanfaatkan informasi dan komunikasi (ICT) untuk berkomunikasi

dan pengembangan diri.

4. Kompetensi Kepribadian

Kepribadian yang harus melekat pada pendidik yang merupakan

pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia

serta dapat dijadikan teladan bagi peserta didik. Kompetensi ini

mencangkup penampilan/sikap yang positif terhadap keseluruhan tugas

sebagai guru dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-

unsurnya. Disamping itu pemahaman dan penghayatan dan penampilan

nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru dan penampilan diri

sebagai panutan anak didiknya. Secara rinci kompetensi kepribadian

mencangkup :

a. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan

berwibawa.

b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan sebagai

teladan bagi peserta didik dan masyarakat.


8

c. Mengevaluasi kinerja sendiri.

d. Mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Kompetensi yang dimiliki oleh guru tersebut akan dinyatakan dalam

sertifikat pendidik yaitu melalui sertifikasi, pada saat ini pemerintah baru

melaksanakan sertifikasi guru dalam jabatan melalui jalur penilain dan

jalur pendidikan. Adanya sertifikasi guru ini pemerintah memberikan

hadiah bagi guru yang telah dinyatakan profesional melalui tunjangan dua

kali gaji pokok. Sehingga dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut

profesi guru sekarang banyak diminati masyarakat.

Profesi guru pada saat ini memang dalam puncak popularitas,

pendapat yang diungkapkan oleh Soetjipto dan Ondi Saondi bahwa guru

di Indonesia merupakan jabatan profesi yang sekarang mulai di gemari

memang benar adanya. Banyaknya minat masyarakat yang ingin

berprofesi menjadi guru, bisa dilihat dari membludaknya yang ingin

bersekolah di LPTK, Misalnya di UNNES menjadi salah satu Perguruan

tinggi favorit dalam mencetak calon guru. Profesi guru pada saat ini

banyak di minati oleh masyarakat karena merupakan salah satu profesi

yang sangat menjanjikan. Kebijakan-kebijakan baru yang di keluarkan

pemerintah di atas terhadap profesi guru dan dosen bertujuan

meningkatkan kesejahteraan hidup, hal inilah yang dijadikan sebab

mengapa profesi guru pada saat ini menjadi profesi yang favorit.

Profesi guru meskipun telah diminati masyarakat dengan adanya

perbaikan melalui program sertifikasi, seorang guru tidak menjamin


9

bahwa guru tersebut sudah profesional, hal ini dapat dilihat dari data yang

dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah

(Supriyono, 2009: 25) terhadap profesionalisme guru dan mutu pendidikan

Jawa Tengah masih rendah. Hal ini di latar belakangi oleh banyak faktor

yaitu kualifikasi pendidikan formal guru belum sesuai dengan ketentuan

undang-undang, kekurangan guru pada semua jenis dan jenjang

pendidikan masih cukup banyak, distribusi guru belum merata, masih

banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang studinya,

kesejahteraan pendidikan belum optimal dan penghargaan terhadap

pendidikan sangat minim serta peran PKG (Pemantapan Kerja Guru),

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), KKS (Kelompok Kerja

Kepala Sekolah) dan KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah) belum

optimal.

Dalam upaya pengembangan kompetensi profesionalisme guru,

menurut Supriadi (1998), yaitu diantaranya dapat melalui mengoptimalkan

fungsi dan peran kegiatan dalam bentuk PKG (Pusat Kegiatan Guru),

KKG (Kelompok Kerja Guru), dan MGMP (Musyawarah Guru Mata

Pelajaran) yang memungkinkan para guru berbagai pengalaman dalam

memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kegiatan

mengajarnya.

Diperlukan suatu wadah yang dapat meningkatkan dan

mengembangkan kompetensi. Organsasi itu di bentuk karena sebagai salah

satu kriteria jabatan profesional, jabatan profesi harus mempunyai wadah


10

untuk menyatukan gerak langkah dan mengendalikan keseluruhan profesi,

yakni wadah profesi. Bagi guru di Indonesia wadah-wadah tersebut yaitu

Persatuan Guru Republik Indonesia yang lebih dikenal dengan singkatan

PGRI, namun di samping PGRI sebagai satu-satunya wadah guru di

sekolah yang diakui pemerintah sampai saat ini, ada wadah guru yang

disebut MGMP sejenis yang didirikan atas anjuran pejabat-pejabat

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sayangnya belum ada

keterkaitan dan hubungan formal antara kelompok guru-guru dalam

MGMP ini dengan PGRI.

MGMP sebagai wadah profesi guru yang berbasis mata pelajaran

secara profesional, terprogram, dan secara khusus diarahkan untuk

mengembangkan standarisasi konsep dan penilain mata pelajaran secara

nasional (Saondi, 2010: 75). Tujuan dari berdirinya MGMP seharusnya

guru dapat memanfaatkan dan ikut berpartisipasi dalam wadah tersebut,

akan tetapi semua guru belum menyadari hal itu. Adanya Sertifikasi Guru

dan Pelaksanaan Implementasi KTSP, guru dapat memecahkan berbagai

permasalahan yang dihadapinya dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya

secara efektif. Memanfaatkan wadah profesi guru tersebut guru dapat

bertukar pengalaman dan saling berbagi sesama guru sehingga dapat

mengembangkan kompetensi guru dan menjadikannya guru profesional.

MGMP sebagai wadah dalam pengembangan profesionalisme guru,

maka peningkatan MGMP merupakan masalah yang mendesak untuk

dapat direalisasikan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan


11

kinerja MGMP, antara lain melalui berbagai pelatihan instruktur dan guru

inti, peningkatan sarana dan prasarana, dan peningkatan mutu manajemen

MGMP. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum

menunjukkan peningkatan kinerja MGMP yang berarti. Di beberapa

daerah menunjukkan peningkatan MGMP yang cukup menggembirakan,

namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Berdasarkan

masalah ini, maka diperlukan penelitian yang mendalam mengenai kinerja

MGMP.

MGMP menjadi sarana yang sangat efektif dalam meningkatkan

kualitas kompetensi dan profesionalisme guru, hal ini bisa dilihat dari

tugas dan fungsi dari adanya wadah MGMP yaitu sebagai tempat guru

untuk berdiskusi dan menelaah mengenai kesulitannya di kelas serta dapat

saling tukar pikiran dalam merancang model pemebelajaran dan

implementasi KTSP secara efektif dan efisisen (Mulyasa, 2008: 79).

Begitu juga dengan MGMP Sejarah di Kabupaten Rembang juga

mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan kompetensi

profesional guru sejarah pada SMA. Apalagi di tambah adanya

pengembangan sejarah Lokal dari tiap-tiap daerah yang harus di masukan

di materi ajar, menambah pentingnya peran MGMP. Dalam MGMP guru

sejarah dapat berkumpul dan membahas tentang peristiwa dan cagar

budaya apa yang perlu di masukan dalam sejarah lokal. Selain itu, MGMP

juga berperan dalam mengatasi permasalahan pembelajaran Sejarah

Kontroversial, Hal ini telah diungkapakan oleh Tri Widodo pada seminar
12

makalah nasional dalam rangka refleksi kebangkitan nasional pada 28 Mei

2009 di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Menurut Tri Widodo “Banyak peristiwa-peristiwa Sajarah” di negeri

ini yang “masih sarat” dengan kontroversi, di samping yang secara khusus

yaitu peistiwa : Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Serangan

Umum 1 Maret 1949, Lahirnya Pancasila, Peristiwa G 30/S PKI, Lahirnya

Orde Baru, Integrasi Timur-Timur. Sifat Sejarah yang kontroversial ini

jelas memberikan pengaruh yang besar dalam pembelajaran Sejarah di

kelas, meski pembelajaran kontroversial di kelas adalah sebuah

keniscayaan yang pasti terjadi. Untuk itu guru membutuhkan suatu wadah,

salah satunya yaitu MGMP dalam membahas berbagai permasalahan yang

terkait dengan implementasi KTSP.

Berdasarkan uraian diatas, Banyak asumsi yang mengatakan bahwa

MGMP mempunyai peran yang sangat penting dalam mengembangkan

standarisasi konsep dan penilain mata pelajaran secara nasional, serta

dapat dijadikan tempat pengembangan kompetensi guru khususnya

kompetensi profesional. Namun apakah MGMP di Kabupaten Rembang

juga dapat memberikan kontribusi yang sama pada guru sejarah dengan

berdasarkan tujuan dan peran MGMP.

Penelitian ini bermaksud melakukan pengamatan terhadap Peranan

MGMP dalam pengembangan kompetensi profesional guru sejarah,

kendala-kendala apa yang terjadi dalam pengembangan kompetensi

tersebut dan tanggapan guru sejarah terhadap fungsi MGMP.


13

Dari latar belakang tersebut, peneliti mengangkat judul : Peran

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Dalam Pengembangan

Kompetensi Profesional Guru Sejarah Pada SMA di Kabupaten Rembang

Tahun Ajaran 2010/2011.

B. Perumusan Masalah

1. Upaya apa yang dilakukan MGMP dalam pengembangan kompetensi

profesional guru sejarah di Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2010/2011?

2. Kendala-kendala apa yang terjadi di lapangan dalam pengembangan

kompetensi profesional guru sejarah di Kabupaten Rembang Tahun Ajaran

2010/2011 oleh MGMP ?

3. Tanggapan guru sejarah terhadap fungsi MGMP ?

C. Tujuan Penelitian

Dari Judul dan permasalahan diatas peneliti dapat merumuskan tujuan

penelitian sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui upaya apa yang telah dilakukan MGMP dalam

pengembangan kompetensi profesional guru sejarah di Kabupaten

Rembang Tahun Ajaran 2010/2011.

2. Untuk mengetahui Kendala-kendala yang terjadi di lapangan dalam

pengembangan kompetensi profesional guru sejarah di Kabupaten

Rembang Tahun 2010/2011 oleh MGMP.

3. Untuk mengetahui tanggapan guru sejarah terhadap fungsi MGMP.


14

D. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut:

1. Kegunaan akademis atau teoritis

a. Dapat memberikan kegunaan kepada guru tentang pengembangan

kompetensi sehingga pengajaran di sekolah di harapkan dapat menjadi

lebih baik.

b. Memberikan kegunaan kepada wadah profesi guru (MGMP) di

Indonesia agar dapat dijadikan suatu wadah yang dapat

mengembangkan kompetensi guru sehingga dapat menjadikan guru

profesional.

2. Kegunaan Praktis

a. Dapat berguna bagi penelitian yang lebih luas dan lebih mendalam.

b. Dapat menambah pengetahuan bagi para mahasiswa yang belajar pada

jurusan sejarah (prodi pendidikan sejarah) pada khususnya dan jurusan-

jurusan lain pada umunya.

c. Dapat dijadikan bahan bacaan bagi para mahasiswa atau masyarakat

umum lainnya.

E. Batasan Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran dalam memahami

penelitian ini perlu memberikan batasan istilah dalam pemakaian kata atau

kalimat pada judul yang peneliti ambil.


15

1. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

MGMP merupakan suatu forum atau wadah profesional guru

matapelajaran yang berada pada suatu wilayah kabupaten/ kota/ sanggar/

gugus sekolah. Ruang lingkupnya meliputi guru mata pelajaran pada SMA

Negeri dan Swasta, baik yang berstatus PNS maupun Swasta dan atau guru

tidak tetap/honorarium. Prinsip kerjanya adalah cerminan kegiatan "dari,

oleh, dan untuk guru" dari semua sekolah. Atas dasar ini, maka MGMP

merupakan wadah nonstruktural yang bersifat mandiri, berasaskan

kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga

lain (http://re-searchengines.com/art05-14.html, diunduh pada tanggal 3

Juni 2010, jam 15.09).

2. Kompetensi Profesional

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (WJS. Purwadarminta)

Kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau

memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi (competency)

yakni kemampuan atau kecakapan (KBBI 2008: 1216).

Kompetensi Profesional merupakan kemampuan yang berkenaan

dengan penguasan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan

mendalam yang mencangkup penguasaan substansi isi materi kurikulum

mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi

kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru

(Soegeng dan Retnaningdyastuti, 2010: 12).


16

3. Guru Sejarah

Dalam Undang-undang Guru dan Dosen (pasal 1 ayat 1 )

dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur

pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah” (Aqib

dan Rohmanto, 2008 : 145).

Sejarah mempunyai Tujuan yang luhur, yaitu ilmu sejarah untuk

diajarkan pada semua jenjang sekolah adalah : “ menanamkan semangat

kebangsaan, cinta tanah air, bangsa dan negara, serta sadar untuk

menjawab untuk apa ia dilahirkan. Pelajaran sejarah merupakan salah satu

unsur utama dalam pendidikan politik bangsa. Lebih jauh lagi pengajaran

sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antarbangsa dan

negara. Anak memahami bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat

negara dan dunia”( Kasmadi, 1996: 13).

Sejarah mempunyai fungsi dalam pembangunan bangsa, kesadaran

sejarah, identitas dan kepribadian nasional menjadi landasan kuat bagi

pembangunan bangsa maka jelaslah bahwa pengkajian sejarah mempunyai

fungsi fundamental dalam pembangunan bangsa serta pembentukan

manusia Indonesia bermartabat ( Kartodirjo, 1990: 60).


17

Berdasarkan uraian di atas, Guru Sejarah yaitu Orang yang

berprofesi mengajar, dalam bidang studi atau ilmu yang merupakan salah

satu unsur utama dalam pendidikan politik bangsa. Lebih jauh lagi

pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan

antarbangsa dan negara.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

1. Pengertian MGMP

MGMP merupakan suatu wadah atau wadah profesional guru mata

pelajaran yang berada pada suatu wilayah kabupaten/ kota/ kecamatan/

sanggar/ gugus sekolah. Ruang lingkupnya meliputi guru mata pelajaran pada

SMA negeri dan swasta, baik yang berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil)

maupun swasta dan atau guru tidak tetap atau honorarium. Prinsip kerjanya

adalah cerminan kegiatan "dari, oleh, dan untuk guru" dari semua sekolah.

Atas dasar ini, maka MGMP merupakan organisasi nonstruktural yang

bersifat mandiri, berasaskan kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan

hierarkis dengan lembaga lain (http://re-searchengines.com/art05-14.html,

diunduh pada tanggal 3 Juni 2010, jam 15.09).

MGMP merupakan salah satu jenis organisasi guru-guru sekolah yang

diakui pemerintah sampai saat ini selain PGRI, MGMP didirikan atas anjuran

pejabat-pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (Soetjipto, 2009:

36).

MGMP adalah forum atau wadah kegiatan profesional guru mata

pelajaran sejenis. Hakikat MGMP berfungsi sebagai wadah atau sarana

komunikasi, konsultasi dan tukar pengalaman. MGMP ini diharapkan dapat

meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran yang

bermutu sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Wadah komunikasi profesi

18
19

ini sangat diperlukan dalam memberikan kontribusi pada peningkatan

kemampuan, wawasan, pengetahuan serta pemahaman guru terhadap meteri

yang diajarkan dan pengembangannya (Saondi, 2010: 80).

MGMP adalah suatu forum atau wadah kegiatan profesional guru

mata pelajaran sejenis disanggar maupun di masing-masing sekolah yang

terdiri dari dua unsur yaitu musyawarah dan guru mata pelajaran. Guru

mata pelajaran adalah guru SMP dan SMA negeri atau swasta yang

mengasuh dan bertangung jawab dalam mengelola mata pelajaran yang

ditetapkan dalam kurikulum. Guru bertugas mengimplementasikan

kurikulum kelas. Dalam hal ini dituntut kerjasama yang optimal diantara

para guru. MGMP diharapkan akan meningkatkan profesionalisme guru

dalam melaksanakan pembelajaran yang bermutu sesuai kebutuhan peserta

didik. Wadah profesi ini sangat diperlukan dalam memberikan kontribusi

pada peningkatan keprofesionalan para anggotanya (Sa’ud, 2009: 107).

2. Organisasi Profesi Guru

Di Indonesia suatu wadah atau organisasi profesi di atur dalam

undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen, dikemukaan

bahwa: “ Organisasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan hukum

yang didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas

guru”. Lebih lanjut dijelaskan hal-hal sebagai berikut :

1. Pasal 41

(1) Guru dapat membentuk organisasi profesi yang bersifat

independen
20

(2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi

untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan

pendidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian

kepada masyarakat.

(3) Guru wajib menjadi anggota organisasi profesi.

(4) Pembentukan organaisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.

(5) Pemerintah dan atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi

organisasi profesi guru dalam pelaksanaan pembinaaan dan

pengembangan profesi guru.

2. Pasal 42

Orgainsasi profesi guru mempunyai kewenangan :

(1) Menetapkan dan menegakkan kode etik guru;

(2) Memberikan bantuan hukum kepada guru;

(3) Memberikan perlindungan profesi guru;

(4) Melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru; dan

(5) Memajukan pendidikan nasional (Mulyasa, 2008: 48)

Pasal yang disebutkan Mulyasa di atas merupakan pasal kebijakan

baru yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam peningkatan profesionalan

guru, sebelumnya sudah ada pasal-pasal yang memuat tentang organisasi guru

yaitu pada buku “Potret Guru” di tulis bahwa PGRI dimantapkan sebagai

organisasi profesi diperjelas dalam kongres PGRI XIV yang berlangsung di

Jakarta tanggal 26 sampai 30 Juni 1979.


21

Pada kongres PGRI XIII menyatakan kode etik guru Indonesia

merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI

dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru.

Sehingga, Pasal 41 dan pasal 42 diatas merupakan pasal yang mengatur

tentang organisasi profesi guru, dengan berpedoman pada Undang-undang

dan peraturan yang sudah ada sebelumnya.

Menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam

pelaksanaan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru tersebut,

membentuk kode etik yang penegakannya dilakukan oleh dewan kehormatan

guru. Sedangkan dewan kehormatan guru dibentuk untuk mengawasi

pelaksanaan kode etik guru dan memberikan rekomendasi pemberian sanksi

atas pelanggaran kode etik oleh guru. Organisasi profesi guru wajib

melaksanakan rekomendasi dewan kehormatan guru. Bagan berikut akan

mempermudah memahami struktur dan kewenangan serta tugas organisasi

profesi profesi.
22

ORGANISASI PROFESI & KODE ETIK


dapat membentuk

PEMERINTAH/PEMDA GURU

ORGANISASI
dapat memfasilitasi PROFESI Wajib menjadi anggota
Menetapkan
& menegakan wewenang INDEPENDEN
KODE ETIK
memajukan
GURU
pendidikan nasional
memberikan
bantuan hukum

norma & etika membentuk DEWAN


memberikan
yang perlindungan KEHORMATAN
mengikat profesi
perilaku guru
dalam melakukan
melaksanakan pembinaan & mengawasi
tugas pengembangan pelaksanaan kode etik
profesi dan memberikan
sanksi pelanggaran

Gambar 2.1 (Sholeh, 2006: 124)

3. Tujuan MGMP

Organisasi MGMP ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan

profesionalisasi dari guru dalam kelompoknya masing-masing. Kegiatan-kegiatan

dalam kelompok ini diatur dengan jadwal yang cukup baik. Sayangnya, belum ada

keterkaitan dan hubungan formal antara kelompok guru-guru dalam MGMP ini

dengan PGRI (Soetjipto, 2009: 36).


23

Tujuan MGMP yang ditulis Oleh Soetjipto hampir sama dengan

pendapat Mulyasa yaitu untuk meningkatkan mutu dan profesionalisasi guru.

Sedangkan, Menurut Zulacchah (2006) Tujuan diselenggarakannya MGMP

yaitu :

1. Untuk memotivasi guru dalam meningkatkan kemampuan dan

keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan dan membuat

evaluasi program pembelajaran dalam rangka meningkatkan

keyakinanan diri sebagai guru profesional.

2. Untuk menyatakan kemampuan dan kemahiran guru dalam

melaksanakan pembelajaran sehingga dapat menunjang usaha

peningkatkan pemerataan mutu pendidikan.

3. Untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan dialami

oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas sehari-hari dan mencari

solusi alternatif pemecahannya sesuai dengan karakteristik mata

pelajaran masing-masing, guru, kondisi sekolah, dan lingkungannya.

4. Membantu guru memperoleh informasi teknis edukatif yang

berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan kurikulum,

metodologi dan sistem pengujian yang sesuai dengan mata pelajaran

yang bersangkutan.

5. Saling berbagi Informasi dan pengalaman dari hasil lokakaryanya,

simposium, seminar, diklat, classromm action reseach, referensi dan

lain-lain. Kegiatan profesional yang dibahas bersama-sama.


24

6. Mampu menjabarkan dan merumuskan agenda reformasi sekolah

(school reform), khususnya focus classroom reform, Sehingga

berproses pada reorientasi pembelajaran yang efektif.

Menurut Saondi MGMP mempunyai tujuan tidak lain menumbuhkan

kegairahan guru untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam

mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi program kegiatan belajar

mengajar dalam rangka meningkatkan sikap percaya diri sebagai guru;

menyetarakan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksankan kegiatan

belajar-mengajar sehingga dapat menunjang usaha peningkatkan dan

pemerataan mutu pendidikan; mendiskusikan permasalahan yang dihadapi

guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari penyelesaian yang

sesuai dengan karakteristik mata pelajaran guru, kondisi sekolah dan

lingkungan; Membantu guru memperoleh informasi teknis edukatif yang

berkaitan dengan kegiatan keilmuan dan Iptek, kegiatan pelakanaan

kurikulum, metodologi, dan sistem evaluasi sesuai dengan mata pelajaran

yang bersangkutan; saling berbagi informasi dan pengalaman dalam rangka

menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Saondi, 2010:

81).

4. Peran MGMP

MGMP di tuntut untuk berperan sebagi, pertama reformator dalam

classroom, terutama dalam reorientasi pembelajaran efektif. Kedua, mediator,

dalam pengembangan dan peningkatan kompetensi guru, terutama dalam

pengembangan kurikulum dan sistem pengujian. Ketiga, Supporting agency,


25

dalam inovasi manajemen kelas dan manajemen sekolah. Keempat,

Collaborator, terhadap unit terkait dan organisasi profesi relevan. Kelima,

evaluator dan development school reform dalam konteks MGMP, dan

Keenam, Clinical dan academic supervisor dengan pendekatan penilaian

appraisal (http://re-searchengines.com/art05-14.html, diunduh pada tanggal 3

Juni 2010, jam 15.09).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam

implementasinya tidak mudah bagi seorang guru untuk menerapkannya di

lapangan yaitu untuk mewujudkan proses pembelajaran yang dapat mengubah

ranah psikologis siswa sebagaimana yang digariskan pemerintah, serta

berbagai permasalahan lain terkait dengan implementasi KTSP.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan,

dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu

mengembangkannya dengan memperhatikan Undang-undang nomor 20 tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36:

1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada

Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan

pendidikan nasional.

2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan

dikembangkan dengan prinsip diversivikasi sesuai dengan satuan

pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.


26

3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah

dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada

standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan

penyusunan kurikulum yang dibuat oleh (BSNP) Badan Standar

Nasional Pendidikan (Mulyasa 2006: 12)

Dalam kerangka inilah dirasakan perlunya merevitalisasi wadah

musyawarah guru, agar guru dapat memecahkan berbagai permasalahan yang

dihadapinya dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya secara efektif. Wadah

musyawarah guru seperti MGMP merupakan suatu wadah yang efektif dalam

memantapkan profesi guru, karena di MGMP guru dapat berdiskusi dan

menelaah mengenai kesulitannya di kelas serta dapat saling tukar pikiran

dalam merancang model pembelajaran dan implementasi KTSP secara efektif

dan efisien.

Melalui wadah musyawarah guru diharapkam persoalan dapat diatasi,

termasuk bagaimana mengembangkan KTSP dan mengimplementasikannya

dalam pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, mencari alternative

pembelajaran yang tepat serta menemukan berbagai variasi metode, dan

variasi media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Wadah musyawarah guru juga dapat menyusun juga mengevaluasi

perkembangan kemajuan belajar peserta didik. Evaluasi kemajuan dilakukan

secara berkala dan hasilnya digunakan untuk menyempurnakan rencana

berikutnya. Kegiatan wadah guru yang dilakukan dengan intensif, dapat


27

dijadikan sebagai wahana pengembangan diri guru untuk meningkatkan

kapasitas dan kemampuan serta menambah pengetahuan dan keterampilan

dalam bidang yang diajarkan. Melalui revitalisasi wadah musyawarah guru,

diharapkan semua kesulitan dan permasalahan dapat dipecahkan, dan dapat

meningkatkan kualitas pendidikan disekolah melalui peningkatan kualitas

pembelajaran yang efektif dan menyenangkan (efective instruction).

Berdasarkan urain di atas, menurut pendapat penulis Organisasi

profesi guru di Indonesia yang sudah diatur dalam undang-undang merupakan

sebuah organisasi yang sangat baik apabila pelaksanaannya sesuai dengan

tujuan dari organisasi tersebut, akan tetapi organisasi guru misalnya PGRI

dalam peningkatan mutu profesional keguruan belum menonjol, oleh karena

itu atas anjuran pejabat-pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

membentuk organisasi lagi yang disebut sebagai MGMP, pada dasarnya

dengan melihat pengertian, tujuan dan peran MGMP yang telah di jelaskan

atas begitu baik. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum

menunjukkan peningkatan kinerja MGMP yang berarti. Pelaksanaan

dilapangan sulit karena adanya faktor-faktor yang menghambat kerja dari

MGMP sehingga tidak sesuai dengan yang diharapkan.

B. Kompetensi Profesional Guru

1. Pengertian Kompetensi Profesional

Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun

2005 dan peraturan menteri nomor 16 tahun 2007 kompetensi profesional


28

adalah Merupakan kemampuan penguasaan meteri pembelajaran secara luas

dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi

standart kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional. Termasuk

kompetensi profesional adalah penguasaan materi pelajaran yang terdiri dari

penguasaan bahan yang diajarkan, penguasaan dan penghayatan atas landasan

dan wawasan kependidikan dan keguruan, penguasaan proses-proses

kependidikan, keguruan, dan pembelajaran siswa (Anonim, 2010: 81).

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3)

butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional

adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan

mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi

standar kompetensi yang ditetapkan dalam (SNP) Standar Nasional

Pendidikan (Mulyasa, 2008: 135).

SNP Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 mencangkup 8

(delapan) lingkup, yaitu: standar isi, standar proses, standar kompetensi

lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan

prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian

pendidikan :

1) Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk

mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan

tertentu. Standar isi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat

kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum

tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.


29

2) Standar Proses mencangkup (1) proses pembelajaran pada satuan

pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,

menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk

berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi

prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,

dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (2) Selain

ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam proses

pembelajaran pendidik memberikan keteladanan. (3) Setiap satuan

pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran,

pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran,

dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses

pembelajaran yang efektif dan efisien. (Pasal 20) Perencanaan

proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan

pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan

pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan

penilaian hasil belajar.

3) Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian

dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

(a) Standar kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau

kelompok mata pelajaran dan mata kuliah atau kelompok mata

kuliah. (b) Kompetensi lulusan untuk mata pelajaran bahasa

menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai


30

dengan jenjang pendidikan. (c) Kompetensi lulusan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dan (2) mencakup sikap, pengetahuan, dan

keterampilan.

4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan (1) Pendidik harus

memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen

pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki

kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (2)

Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah

tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang

pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat

keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang

berlaku. (3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang

pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini

meliputi: a. Kompetensi pedagogik; b. Kompetensi kepribadian; c.

Kompetensi profesional; dan d. Kompetensi sosial. (4) Seseorang

yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian

khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi

pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan. (5)

Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4)

dikembangkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)

dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.


31

5) Standar Sarana dan Prasarana (1) Setiap satuan pendidikan wajib

memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan,

media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis

pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang

proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. (2) Setiap

satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan,

ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik,

ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang

bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya

dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain,

tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk

menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

6) Standar Pengelolaan mencangkup pengelolaan satuan pendidikan

pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan

manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan

kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan

akuntabilitas (2) Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang

pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan tinggi yang

dalam batas-batas yang diatur dalam ketentuan perundang-

undangan yang berlaku memberikan kebebasan dan mendorong

kemandirian dalam pengelolaan akademik, operasional,

personalia, keuangan, dan area fungsional kepengelolaan lainnya

yang diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.


32

7) Standar Pembiayaan (1) Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya

investasi, biaya operasi, dan biaya personal. (2) Biaya investasi

satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan

sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. (3) Biaya personal

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan

yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti

proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. (4) Biaya

operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi: a. gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala

tunjangan yang melekat pada gaji, b. bahan atau peralatan

pendidikan habis pakai, dan c. biaya operasi pendidikan tak

langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan

sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak,

asuransi, dan lain sebagainya. (5) Standar biaya operasi satuan

pendidikan ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan

usulan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

8) Standar Penilaian Pendidikan (1) Penilaian pendidikan pada

jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: a. penilaian

hasil belajar oleh pendidik; b. penilaian hasil belajar oleh satuan

pendidikan; dan c. penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. (2)

Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi terdiri atas: a.

penilaian hasil belajar oleh pendidik; dan b. penilaian hasil belajar


33

oleh satuan pendidikan tinggi. (3) Penilaian pendidikan pada

jenjang pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

2. Ruang Lingkup Kompetensi Profesional

Ruang lingkup kompetensi profesional guru secara umum dapat

diidentifikasi dan disarikan sebagai berikut :

a. Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi,

psikologis, sosiologis, dan sebagainya;

b. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf

perkembangan peserta didik;

c. Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi

tangung jawabnya;

d. Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi;

e. Mampu mengembangkan dan mengunakan berbagai alat, media dan

sumber belajar yang relevan;

f. Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran;

g. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik;

h. Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik;

Secara lebih khusus, kompetensi profesional guru dapat dijabarkan

sebagai berikut : (a) Memahami Standar Nasional Pendidikan, (b)

Mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (c) Menguasai

materi standar, (d) Mengelola program pembelajaran, (e) Mengelola kelas, (f)
34

Menggunakan media dan sumber pembelajaran, (g) Menguasai landasan-

landasan kependidikan, (h) Memahami dan melaksanakan pengembangan

peserta didik, (i) Memahami dan menyelenggarakan administrasi sekolah, (j)

Memahami penelitian dalam pembelajaran, (k) Menampilkan keteladanan dan

kemimpinan dalam pembelajaran, (l) Mengembangkan teori dan konsep dasar

kependidikan, (m) Memahami dan melaksanakan konsep pembelajaran

individual.

Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa kompetensi profesional

merupakan kompetensi yang harus dikuasi oleh guru dalam kaitannya dengan

pelaksanaan tugas utamanya mengajar (Mulyasa, 2008: 138). Kompetensi

guru berdasarkan profesionalisme, yaitu guru yang profesional adalah guru

yang kompeten (berkemampuan). Karena itu, kompetensi profesionalisme

guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam

menjalankan profesi kegurunnya dengan kemampuan tinggi. Dengan kata

lain, kompetensi adalah pemilikan penguasaan, keterampilan, dan

kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang.

Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru, selain kompetensi profesional. Ada 4

kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu , kompetensi kepribadian,

komptensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional.

Keempat kompetensi tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan

dan saling mempengaruhi satu sama lain. George J. Mouly mengatakan

bahwa keempat bidang tersebut mempunyai hubungan hierarkis. Artinya,


35

saling mendasari satu sama lain. Kompetensi yang satu mendasari kompetensi

lainnya.

Seorang guru yang dikatakan sebagai guru profesional adalah guru

yang memiliki kompetensi dalam melaksanakan program pembelajaran.

Pendapat ini diperkuat oleh Syaefudin, bahwa guru profesional adalah guru

yang memiliki seperangkat kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan

perilaku) yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam

melaksanakan tugas keprofesionalannya (Syaefudin, 2009: 49).

Kompetensi merupakan bagian atau syarat untuk menjadi guru

profesional. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan

meteri pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan

membimbing peserta didik memenuhi standart kompetensi yang ditetapkan

dalam standar nasional. Mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi.

Demikian tentang pengertian kompetensi profesional guru, sedangkan

guru profesional tidak hanya mengetahui, tetapi betul-betul melaksanakan

apa-apa yang menjadi tugas dan peranannya, merupakan pendapat dari Uzer

Usman, sedangkan menurut Hamzah Uno guru profesional adalah guru yang

kompeten (berkemampuan). Jadi perbedaan antara kompetensi profesional

guru dengan guru profesional adalah kompetensi profesional itu jadi bagian

atau syarat menjadi guru profesional.

3. Pengembangan Kompetensi Profesional Melalui MGMP

Profesionalisme guru dan mutu pendidikan yang dilakukan oleh Dinas

Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (Supriyono, 2009: 25)


36

menyimpulkan bahwa kompetensi guru se-Jawa Tengah masih rendah.

Padahal untuk mencapai mutu pendidikan yang berkualitas, dalam Undang-

undang Guru dan Dosen tahun 2005 menyatakan dengan tegas bahwa setiap

guru memiliki beberapa kompetensi meliputi pedagogik, kompetensi

kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Permasalahan

masih rendahnya kompetensi guru di Jawa Tengah antara lain di latar

belakangi : kualifikasi pendidikan formal guru belum sesuai dengan

ketentuan Undang-undang, kekurangan guru pada semua jenis dan jenjang

pendidikan masih cukup banyak, distribusi guru belum merata, masih banyak

guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang studinya, kesejahteraan

pendidikan belum optimal, dan penghargaan terhadap pendidikan sangat

minim serta peran PKG (Pemantapan Kerja Guru), MGMP (Musyawarah

Guru Mata Pelajaran), KKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), dan KKPS

(Kelompok Kerja Pengawas Sekolah) belum optimal.

Melihat data di atas yang telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan

Kebudayaan Jawa Tengah sungguh sangat memprihatinkan karena Menurut

Danim (Syaefudin, 2009: 98) dari perspektif institusi, pengembangan

profesionalisme guru sangatlah penting, hal ini dimaksudkan untuk

merangsang, memelihara, dan meningkatkan kualitas staf dalam memecahkan

masalah-masalah keorganisasian. Selanjutnya dikatakan juga bahwa

pengembangan guru berdasarkan kebutuhan institusi adalah penting, namun

hal yang lebih penting adalah berdasar kebutuhan individu guru untuk

menjalani proses profesionalisasi. Karena substansi kajian dan konteks


37

pembelajaran selalu berkembang dan berubah menurut dimensi ruang dan

waktu, guru dituntut untuk selalu meningkatkan kompetensinya.

Profesi keguruan mempunyai tugas utama melayani masyarakat dalam

dunia pendidikan. Sejalan dengan itu, jelas kiranya bahwa profesionalisasi

dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha

dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada

masyarakat. Untuk meningkatkan mutu pendidikan saat ini, maka

profesionalisasi guru (pendidik) merupakan suatu keharusan, terlebih lagi

apabila kita melihat kondisi objektif saat ini berkaitan dengan berbagai hal

yang ditemui dalam melaksanakan pendidikan, yaitu: (1) perkembangan

Iptek, (2) persaingan global bagi lulusan pendidikan, (3) otonomi daerah, dan

(4) implementasi KTSP.

Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen

Pendidikan Nasional (2005) menyebutkan beberapa alternatif Program

Pengembangan Profesionalisme Guru, sebagai berikut : (1) Program

Peningkatan Kualifikasi Pendidikan Guru, (2) Program Penyetaraan dan

Sertifikasi, (3) Program Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi, (4)

Program Supervisi Pendidikan, (5) Program Pemberdayaan MGMP, (6)

Simposium Guru, (7) Program Pelatihan Tradisional lainnya, (8) Membaca

dan menulis jurnal atau karya ilmiah, (9) Berpartisipasi dalam pertemuan

ilmiah, (10) Melakukan penelitian (khususnya penelitian tindakan kelas), (11)

Magang, (12) Mengikuti berita aktual dari media pemberitaan, (13)


38

Berpartisipasi dan aktif dalam organisasi Profesi, (14) Menggalang kerjasama

dengan teman sejawat.

Berdasarkan urain diatas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan

profesionalisme oleh guru sangatlah penting hal ini dikarenakan adanya

beberapa faktor yang mengharuskan profesionalisme guru harus di

kembangkan, yaitu: (1) perkembangan Iptek, (2) persaingan global bagi

lulusan pendidikan, (3) otonomi daerah, dan (4) implementasi KTSP. Banyak

cara yang dapat ditempuh guru dalam pengembangan profesionalismenya,

salah satunya melalui pemberdayaan MGMP. profesional guru dapat

memberikan kontribusi yang cukup banyak terhadap proses pengelolaan

pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu.

Keluaran yang bermutu dapat dilihat pada hasil langsung pendidikan yang

berupa nilai yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat melalui dampak

pengiring, yakni di masyarakat.

C. Guru Sejarah

1. Pengertian Guru

Dalam Undang-undang Guru dan Dosen (pasal 1 ayat 1 ) dinyatakan

bahwa: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi

peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,

pendidikan dasar, dan pendidikan menengah” (Aqib dan Rohmanto, 2008:

145).
39

Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab

dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang

disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program

pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik

dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai

tujuan akhir dari proses pendidikan (Uno, 2008: 15).

2. Guru Sejarah

Sejarah mempunyai Tujuan yang luhur, yaitu ilmu sejarah untuk

diajarkan pada semua jenjang sekolah adalah : “menanamkan semangat

kebangsaan, cinta tanah air, bangsa dan negara, serta sadar untuk menjawab

untuk apa ia dilahirkan. Pelajaran sejarah merupakan salah satu unsur utama

dalam pendidikan politik bangsa. Lebih jauh lagi pengajaran sejarah

merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antarbangsa dan negara.

Anak dapat memahami bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat negara

dan dunia”( Kasmadi, 1996: 13).

Sejarah mempunyai fungsi dalam pembangunan bangsa, kesadaran

sejarah, identitas dan kepribadian nasional menjadi landasan kuat bagi

pembangunan bangsa maka jelaslah bahwa pengkajian sejarah mempunyai

fungsi fundamental dalam pembangunan bangsa serta pembentukan manusia

Indonesia bermartabat (Kartodirdjo, 1990: 60).

Menurut Abu Su’ud mengenai kegunaan sejarah berdasarkan

pernyataan yang menjadi klasik yang dikemukakan oleh Herodotus, yaitu

“Historia Vitae Magistra”. Sejarah merupakan guru kehidupan, katanya.


40

Artinya, bahwa sejarah memiliki kemampuan untuk digunakan mencapai

tujuan pendidikan tertentu yang dikehendaki manusia, karena pada

hakikatnya sejarah umat manusia berisi pengalaman yang penuh dengan

pelajaran tentang hidup (Su’ud, 1990: 94)

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa guru

sejarah yaitu orang yang berprofesi mengajar, dalam bidang studi atau ilmu

yang merupakan salah satu unsur utama dalam pendidikan politik bangsa.

Lebih jauh lagi pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap

hubungan antarbangsa dan negara, serta dapat membentuk manusia Indonesia

yang bermartabat, karena Sejarah mempunyai fungsi dalam pembangunan

bangsa, identitas dan kepribadian nasional.

Pendidikan dianggap suatu sarana untuk mewujudkan cita-cita

nasional kita, maka pelajaran sejarah pada hakikatnya merupakan sumber

kekuatan bagi berfungsinya sarana tersebut dengan efektif. Dengan kata lain,

semakin kita menyadari nilai sejarah, semakin kita punya kekuatan untuk

menumbuhkan sifat, watak, kemampuan yang diinginkan.

Kesadaran sejarah yang tidak lain daripada kondisi kejiwaan yang

menunjukan tingkat penghayatan pada makna dan hakikat sejarah bagi masa

kini dan masa yang akan datang, menjadi dasar pokok bagi berfungsinya

makna sejarah dalam proses pendidikan (Widja, 1989: 10). Pentingnya

sejarah sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita nasional, yaitu melalui

pendidikan. Dengan demikian, pelajaran sejarah di sekolah termasuk kedalam

mata pelajaran yang penting. Untuk itu seorang guru sejarah harus dapat
41

memperbaiki cara-cara mengajar sejarah, karena diperhatikan dalam praktek-

praktek pengajaran sejarah di sekolah, sering didapat kesan bahwa pelajaran

sejarah itu tidak menarik, bahkan sangat membosankan. Guru sejarah hanya

membeberkan fakta-fakta kering, berupa urutan tahun dan peristiwa belaka.

Pelajaran sejarah dirasakan peserta didik hanyalah mengulangi hal-hal

yang sama dari tingkat SD sampai SMA. Model serta teknik pengajarannya

juga dari itu ke itu saja. Apa yang terjadi kelas, biasanya adalah : guru

memulai pelajaran dengan bercerita, atau lebih tepat membacakan apa-apa

yang telah tertulis di dalam buku ajar, dan akhirnya langsung menutup

pelajarannya begitu bel akhir pelajarn berbunyi. Tidak mengherankan, di

pihak guru-guru (termasuk guru sejarah sendiri) sering timbul kesan bahwa

mengajar sejarah itu mudah.

Keadaan seperti digambarkan di atas ini bisa terjadi karena kurang

memadainya kemampuan guru sejarah untuk mengembangkan strategi serta

metode pengajaran sejarah. Untuk itu guru sejarah memerlukan suatu

organisasi dalam memecahkan masalah yang dihadapi salah satu organisasi

tersebut adalah MGMP, melalui MGMP ini seorang guru dapat saling

komunikasi, konsultasi dan tukar pengalaman. Selain itu, MGMP juga

berperan dalam mengatasi permasalahan pembelajaran sejarah kontroversial,

Hal ini telah diungkapakan oleh Tri Widodo pada seminar makalah nasional

dalam rangka refleksi kebangkitan nasional pada 28 Mei 2009 di Universitas

Sebelas Maret Surakarta. Menurut Tri Widodo “Banyak peristiwa-peristiwa

Sajarah” di negeri ini yang “masih sarat” dengan kontroversi, di samping


42

yang secara khusus yaitu peistiwa : Surat Perintah Sebelas Maret

(Supersemar), Serangan Umum 1 Maret 1949, Lahirnya Pancasila, Peristiwa

G 30/S PKI, Lahirnya Orde Baru, Integrasi Timur-Timur. Sifat sejarah yang

kontroversial ini jelas memberikan pengaruh yang besar dalam pembelajaran

sejarah di kelas, meski pembelajaran kontroversial di kelas adalah sebuah

keniscayaan yang pasti terjadi. Untuk itu guru membutuhkan suatu wadah,

salah satunya yaitu MGMP dalam membahas berbagai permasalahan yang

terkait dengan implementasi KTSP.

3. Kompetensi Profesional Guru Sejarah

Seorang guru sejarah harus memiliki kompetensi yang telah diatur

dalm Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru. Menurut pasal tersebut dalam kompetensi

profesional seorang guru sejarah SMA/MA, SMK/MAK yaitu:

a. Menguasai hakikat struktur keilmuan, ruang lingkup, dan objek sejarah.

b. Membedakan pendekatan-pendekatan sejarah.

c. Menguasai materi sejarah secara luas dan mendalam.

d. Menunjukkan manfaat mata pelajaran sejarah

Menurut I Gde Widja (1989: 16-18), khusus hubungan dengan

pengajaran sejarah, seorang guru sejarah dituntut untuk bisa memenuhi

kemampuan-kemampuan sebagai berikut: (1) Seorang guru sejarah

seyogyanya memiliki kualitas prima dalam masalah kemanusiaan. Ini tidak

lain dari pada konsekwensi logis dari hakikat sejarah, dimana bahan baku dari

sejarah itu tidak lain dari kemanusiaan itu sendiri. (2) Guru sejarah
43

seyogyanya adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan luas tentang

kebudayaan. Dalam hubungan ini, guru sejarah adalah “messenger of man’s

cultural inheritance” (penyampai dari warisan budaya manusia). Untuk itu

dengan sendirinya guru sejarah dituntut untuk punya pengetahuan yang

meluas dan mendalam tentang berbagai aspek kebudayaan, baik kebudayaan

rohani maupun kebudayaan material. (3) Guru sejarah seyogyanya juga

adalah pengabdi perubahan. Ini berarti bahwa guru sejarah harus selalu

menyadari salah satu watak utama sejarah, yaitu perubahan. Berpikir historis

adalah berpikir bahwa segala sesuatu akan bergerak atau berubah, cepat atau

lambat, Dengan demikian seorang guru sejarah hendaknya menjadi seorang

yang cukup peka terhadap pertanda-pertanda jaman dan bahkan hendaknya

mampu mndeteksi arah perkembangan tersebut, untuk itu pula seorang guru

sejarah hendaknya tanggap terhadap permasalahan masyarakat. (4) Guru

sejarah seyogyanya juga adalah pengabdi kebenaran.

Memang sejarah terkenal karena unsur subjektifitas yang inherent

(yang sudah menjadi pembawaanya) pada prosedur kerja sejarah itu sendiri,

tapi ini sama sekali bukan berarti bahwa guru sejarah begitu saja bisa

berbohong. Ada tuntutan etis yang seharusnya tetap membimbing kata hati “

orang-orang sejarah“, yaitu kejujuran intelektul (integritas intelektual) yang

seharusnya selalu mendasari kegiatannya. Ini berarti guru sejarah dituntut

untuk mampu menyampaikan fakta yang benar, atau bahwa murid harus

mempelajari fakta yang sebenarnya terjadi. Secara lebih opersional,


44

kompetensi khusus guru sejarah bisa diperinci kedalam aspek-aspek (1)

pengetahuan, (2) ketrampilan, dan (3) sikap.

(1) Aspek Pengetahuan

Tentu saja penguasaan aspek pengetahuan yang meluas dan mendalam

tentang materi sejarah yang akan diajarkan. Namun, diperlukan

pengetahuan tambahan yang sifatnya memperluas cakrawala serta

wawasan guru sejarah, sehingga ia mampu lebih menghidupkan peristiwa

masa lampau. Ini meliputi antara lain pengetahuan yang mendalam tentang

peristiwa-peristiwa kontemporer di masyarakat sekitarnya maupun di

dunia internasional. Kepentingan pengetahuan semacam ini ialah untuk

memungkinkan guru sejarah menghubungkan peristiwa yang telah lewat

dengan peristiwa masa kini.

(2) Aspek Ketrampilan

Aspek ini terutama manyangkut kemampuan guru sejarah dalam

memilih cara-cara mengajar yang efektif, sehingga sasaran pelajaran

sejarah bisa dicapai semaksimal mungkin. Di sinilah keterampilan

memilih, mengembangkan dan mengimpelentasikan berbagai alternatif

strategi dan metode mangajar sejarah sangat diperlukan bagi seorang guru

sejarah. Tanpa adanya keterampilan ini guru sejarah akan hanya terpaku

pada strategi dan metode yang itu-itu saja. Selanjutnya bisa diduga hasil

kegiatan belajar mengajarnya akan sangat minim, kalau tidak bisa

dikatakan gagal. Termasuk dalam keterampilan ini adalah berbagai macam

keterampilan, seperti penggunaan media pengajaran sejarah, menyuguhkan


45

uraian yang memudahkan penanaman nilai-nilai sejarah pada diri peserta

didik, keterampilan bercerita sejarah, dan keterampilan mengembangkan

dan menggunakan teknik evaluasi baik untuk tes sumatif maupun tes

formatif.

(3) Aspek Sikap

Sudah jelas bahwa sikap guru sejarah akan sangat berpengaruh atas

pencapaian tujuan pengajaran sejarah yang pada dasarnya bertekanan di

bidang efektif, yaitu pengembangan sikap murid yang positif terhadap

lingkungan masyarakat dan bangsanya yang bersumber pada nilai-nilai

sejarah yang dipelajarinya. Apabila seorang guru sejarah sama sekali tidak

menunjukan sikap menghargai peristiwa masa lampau, atau secara

tegasnya tidak tertarik pada peristiwa sejarah, sulit diharapkan guru bisa

mengajar dengan baik, dalam artian mampu merealisir tujuan pengajaran

sejarah itu. Di sini prinsip keteladanan sangat diharapkan dari guru sejarah.

Bukan saja di dalam kelas, tapi di luar kelas juga dia harus menunjukan

diri sebagai seorang yang menghargai sejarah.

Berdasarkan uraian di atas, melihat pentingnya pelajaran sejarah bagi

terwujudnya pembangunan bangsa, identitas dan kepribadian nasional.

Diharapkan seorang guru sejarah harus mempunyai kompetensi yang sudah di

tetepkan pada Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru.


46

D. Kerangka Berfikir

Dalam upaya pengembangan kompetensi guru khusunya kompetensi

profesional sesuai dengan permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang

standar kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Guru dapat

memanfaatkan organisasi profesi yang ada, organisasi guru yang telah berdiri

atas anjuran pejabat-pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan selain

PGRI yaitu MGMP. Melaui wadah ini guru dapat meningkatkan

profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran yang bermutu sesuai

dengan kebutuhan peserta didik. Wadah komunikasi profesi ini sangat

diperlukan dalam memberikan kontribusi pada peningkatakan

keprofesionalan para anggotanya tidak hanya peningkatan kemampuan guru

dalam hal menyusun perangkat pembelajaran tetapi juga peningkatan

kemampuan, wawasan, pengetahuan serta pemahaman guru terhadap materi

yang diajarkan dan pengembangannya (Saondi, 2010: 80).

Banyak asumsi yang mengemukakan bahwa MGMP mempunyai

peran yang sangat penting dalam pengembangan guru, khususnya guru

sejarah berkaitan dengan materi kontroversial dan pengembangan sejarah

lokal. Wadah organisasi ini memang sangat dibutuhkan oleh guru dalam

pengembangan kompetensi khususnya kompetensi profesional. Berbagai

upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja MGMP, antara lain

melalui berbagai pelatihan instruktur dan guru inti, peningkatan sarana dan

prasarana, dan peningkatan mutu manajemen MGMP. Namun demikian,

berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan kinerja


47

MGMP yang berarti. Di beberapa daerah menunjukkan peningkatan MGMP

yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih

memprihatinkan. Berdasarkan masalah ini, maka diperlukan penelitian yang

mendalam mengenai kinerja MGMP.

Berdasarkan landasan teori di atas, secara ringkas gambaran penelitian

disajikan pada gambar di bawah ini :

Kerangka berpikir Peran MGMP Sejarah


Terhadap kompetensi profesional guru Sejarah

MGMP
Guru Profesional

Program-program Kompetensi Profesional


Guru Sejarah

Gambar 2.2
Kendala-kendala
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Sasaran Penelitian

Objek penelitian ini dilakukan pada guru-guru Sejarah SMA yang

tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMA

di Kabupaten Rembang. MGMP di jadikan lokasi penelitian karena Wadah

tersebut begitu penting sebab merupakan salah satu alternatif dalam

pengembangan kompetensi guru, Syaefudin dalam bukunya “Pengembangan

profesi guru”. Khususnya kompetensi profesional sesuai dengan Peraturan

Menteri nomor 16 tahun 2007 dan Kompetensi Guru Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia (PPRI) nomor 74 tahun 2008 guru dituntut untuk

mempunyai kompetensi. Ada 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru

yaitu, kompetensi kepribadian, komptensi sosial, kompetensi pedagogik, dan

kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut tidak berdiri sendiri,

tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. George J.

Mouly mengatakan bahwa keempat bidang tersebut mempunyai hubungan

hierarkis. Artinya, saling mendasari satu sama lain. Kompetensi yang satu

mendasari kompetensi lainnya.

Selain pendapat dari Syaefudin mengenai MGMP dalam

mengembangkan kompetensi guru dalam mengimplementasikan KTSP,

Mulyasa juga berpendapat demikian hal ini tertuang dalam buku

“Implementasi KTSP Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah”.

Perkembangan Kurikulum membuat peran wadah guru menjadi penting,

48
49

dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang di

kembangkan oleh setiap sekolah dan satuan pendidikan di berbagai wilayah

dan daerah.

Mengimplementasikan KTSP menuntut kemandirian guru dan kepala

sekolah untuk merevitalisasikan wadah musyawarah guru. Hal ini penting

karena jumlah guru di sekolah pada umumnya sudah cukup memadai, tetapi

suasana belajar belum cukup kondusif akibat rendahnya penguasaan guru

terhadap metodologi, misalnya metode mengajar guru yang kurang bervariasi.

Melalui wadah musyawarah guru, di harapkan persoalan dapat diatasi

termasuk bagaimana mengembangkan KTSP dan mengimplementasikannya

dalam pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, mencari alternatif

pembelajaran yang tepat serta menemukan berbagai variasi metode, dan

variasi media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (Mulyasa 2008: 79).

Penelitian ini fokus pada MGMP Sejarah SMA bukan MGMP Sejarah

(IPS) SMP, karena mata pelajaran Sejarah SMA lebih spesifik tidak

dimasukan kedalam mata pelajaran terpadu (IPS) seperti di SMP yaitu

perpaduan dari mapel Geografi, mapel Ekonomi, dan mapel Sejarah. Sasaran

penelitian ini sangat relevan karena sesuai dengan profesi yang akan peneliti

lakukan kelak yaitu sebagai guru Sejarah.

Fokus pada kompetensi profesional karena penilaian supervisi yang

sering dilakukan pengawas terhadap kinerja guru lebih cenderung pada

kompetensi profesional yang dapat diukur melalui skala Likert. Serta, tujuan

berdirinya wadah MGMP lebih cenderung pada kompetensi profesionalisme.


50

Alasan penelitian di Kota Rembang yaitu adanya penilaian dari dinas

pendidikan dan kebudayaan Jawa Tengah (Supriyono, 2009: 25)

menyimpulkan bahwa kompetensi guru se-Jawa Tengah masih rendah,

Permasalahan masih rendahnya kompetensi guru di Jawa Tengah antara lain

di latar belakangi oleh banyak faktor salah satunya yaitu: Peran MGMP yang

belum optimal. Sehingga peneliti ingin mengetahui Peran MGMP Sejarah

SMA Rembang, karena Rembang merupakan bagian Kabupaten Provinsi

Jawa Tengah. Apakah MGMP di wilayah Kabupaten Rembang sudah

bermanfaat bagi guru, khususnya guru sejarah dalam mengembangkan

kompetensinya khususnya kompetensi profesional, mengingat fungsi dan

tujuan dari MGMP. Apakah guru-guru sejarah sudah memanfaatkan wadah

tersebut, dengan melihat perkembangan kurikulum yang menuntut agar guru

menjadi guru yang profesional. Sehingga penelitian ini mengamati tentang

peran MGMP dalam Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Sejarah

Pada SMA di Kabupaten Rembang tahun 2010/2011 dapat dilakukan.

B. Bentuk dan Strategi Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang diangkat, penelitian ini

mendeskripsikan secara rinci dan mendalam tentang peran MGMP dalam

pengembangan kompetensi profesional guru sejarah di Kabupaten Rembang.

Untuk memahami hal itu, perlu diteliti secara mendalam, tentang peran

MGMP terhadap guru sejarah, kendala-kendala yang terjadi di lapangan

dalam pengembangan kompetensi profesional guru sejarah di Kabupaten

Rembang dan Tanggapan guru sejarah terhadap fungsi MGMP tersebut.


51

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif adalah yang bersifat

deskriptif mengarah pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam baik

kondisi maupun proses, dan juga hubungan atau saling keterkaitannya

mengenai hal-hal pokok yang ditemukan pada sasaran penelitiannya (Sutopo,

2006: 179).

Sifat Penelitian ini menggunakan studi kasus terpancang (embedded

research), yakni sudah terarah pada batasan atau fokus tertentu yang

dijadikan sasaran dalam penelitian (Sutopo, 2006: 139). Meneliti tentang

peran MGMP dalam pengembangan kompetensi profesional guru sejarah,

bagaimana upaya yang dilakukan MGMP dalam pengembangan kompetensi

profesioanl guru sejarah, kendala-kendala yang terjadi di lapangan dalam

pengembangan kompetensi profesional guru sejarah di Kabupaten Rembang

dan tanggapan guru Sejarah terhadap fungsi MGMP tersebut.

Jenis Penelitian studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini

adalah studi kasus tunggal, artinya penelitian hanya dilakukan pada satu

sasaran (satu lokasi, atau satu subyek) (Sutopo, 2006: 140). karena meneliti

satu wadah yaitu MGMP Sejarah SMA Kabupaten Rembang.

C. Sumber Data

1. Narasumber atau Informan (informant)

Pada penelitian kualitatif sumber data yang berupa manusia

(narasumber) sangat penting perannya sebagai individu yang memiliki

informasinya. Dalam pengumpulan data peneliti kualitatif untuk bisa

lentur dan juga kritis memahami berbagai informasi yang memang penting
52

yang secara langsung berdampak pada kemantapan kualitas penelitiannya

(Sutopo, 2006: 58). Informan dalam penelitian ini adalah ketua, pengurus,

anggota MGMP SMA, Dinas Pengawas IPS Kabupaten Rembang dan

Ketua MGMP IPS SMP.

Dari data yang didapatkan dari Ketua, Pengurus MGMP Sejarah,

anggota MGMP (Guru Sejarah), Dinas Pengawas IPS Kabupaten

Rembang dan Ketua MGMP IPS SMP dibandingkan untuk mengetahui

tingkat kepercayaan (validitas) data yang diperoleh.

2. Aktivitas MGMP

Aktivitas MGMP merupakan sumber data yang digunakan untuk

mendapatkan informasi tentang kinerja MGMP dalam pengembangan

kompetensi guru Sejarah pada SMA di Kabupaten Rembang. Aktivitas

MGMP digunakan untuk mengetahui bagaimana kegiatan yang di lakukan

oleh MGMP selama ini dan arah dari kegiatan tersebut. Aktivitas MGMP

yang diamati adalah program yang telah direncanakan pengurus MGMP

dan yang akan dilaksanakan.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang meliputi

kegiatan pemusatan perhatian secara langsung terhadap sesuatu objek

dengan menggunakan seluruh alat indra (Arikunto, 2006: 156). Pada

penelitian ini, digunakan observasi langsung untuk mengetahui aktivitas

program yang dilakukan MGMP. Observasi yang dilakukan dalam


53

penelitian ini adalah observasi secara langsung dan termasuk dalam

observasi berperan pasif yaitu kehadirannya sebagai orang asing diketahui

oleh pribadi yang diamati, tetapi hanya sebagai pengamat (Sutopo, 2006:

76). Peneliti mengamati secara langsung aktivitas Program MGMP, hal-

hal yang menjadi objek pengamatan meliputi keadaan guru, Interaksi-

Sosial, Struktur Wadah, Keanggotaan, Jenis Kegiatan dan Pendanaan

MGMP sejarah Kabupaten Rembang. Dalam observasi ini untuk

mengetahui kendala MGMP dalam peningkatan kompetensi profesional.

2. Wawancara

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini merupakan

wawancara mendalam (in depth interview). Patton (dalam Sutopo, 2006:

228) menjelaskan bahwa wawancara ini bersifat lentur dan terbuka, tidak

berstruktur ketat, tidak berada pada suasana formal, dan bisa dilakukan

berulang pada informan yang sama. Wawancara mendalam dilakukan

untuk mengetahui tentang kinerja MGMP Kabupaten Rembang berkaitan

dengan pengembangan kompetensi profesional guru sejarah. Wawancara

dilakukan terhadap MGMP Sejarah SMA Kabupaten Rembang yang

berjumlah 24 orang namun peneliti hanya bisa mewawancarai 11 orang, 9

dari MGMP, 1 orang dari Dinas Pengawas IPS Kabupaten Rembang, dan

1 orang dari ketua MGMP IPS. Dikarenakan tidak adanya waktu dari guru

untuk kesediaannya diwawancarai dalam pertemuan MGMP sehingga

peneliti datang ke rumah dan sekolah yang lokasi mudah dijangkau.

Dalam wawancara ini untuk mengetahui upaya, kendala MGMP dalam


54

peningkatan kompetensi profesional guru serta tanggapan guru terhadap

wadah MGMP.

3. Studi Dokumen

Mencari hal-hal atau variabel yang berkaitan dengan kredibilitas

penelitian, Dokumen-dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan

tujuan dan fokus masalah. Studi dokumen merupakan pelengkap dari

penggunaan metode observasi dan wawancara (Sugiyono, 2008: 240).

Studi dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik

pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-

dokumen, baik dokumen tertulis, gambar, maupun elektrik. Dokumen-

dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah

(Sukmadinata, 2010: 221-222).

Dalam penelitian ini peneliti menemukan data berupa dokumen

sebagai pelengkap penelitian, dokumen yang menjadi sumber data berupa

program kerja MGMP periode 2009-2012 dan Surat Keputusan Ketua

Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Rembang

yang terdapat pula pengembangan kompetensi guru Sejarah pada SMA di

Kabupaten Rembang. Penelitian dalam hal ini akan mengabadikan suatu

yang khas dari khusus dengan menggunakan foto.

4. Angket atau Kuesioner (Questionnaires)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis

kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono 2008:142). Angket yang


55

dilakukan adalah berupa pertanyaan yang ditujukan kepada anggota

MGMP. Pertanyaan ini berpedoman dari Permendiknas nomor 16 tahun

2007 diambil spesifiknya tentang Kompetensi Profesional. Angket

diberikan kepada 15 orang yang belum di wawancarai, pemberian angket

ini dimaksud untuk melengkapi data dari wawancara dan 15 orang tersebut

tidak ada waktu untuk diwawancarai. Angket ini bertujuan untuk

mengetahui kompetensi profesional guru sejarah melalui MGMP.

E. Memilih Informan

Pada penelitian ini, akan memilih informan dengan menggunakan

purposive sampling. Artinya, sumber data dipilih melalui seleksi berdasarkan

pertimbangan dan tujuan tertentu. H.B Sutopo (2006) menjelaskan bahwa

dalam purposive sampling, peneliti memilih informannya berdasarkan posisi

dengan akses tertentu yang dianggap memiliki informasi berdasarkan

permasalahan secara mendalam. Ketua, Pengurus dan Guru Sejarah yang

menjadi anggota MGMP Kabupaten Rembang, akan di jadikan sasaran

penelitian terlebih dahulu dipilih berdasarkan karakteristiknya sesuai dengan

kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam perolehan data. Informan

selanjutnya yaitu dari Dinas Pendidikan IPS Kabupaten Rembang dan Ketua

MGMP IPS SMP.

Ketua dan Pengurus MGMP Sejarah Kabupaten Rembang dipilih

karena untuk mengetahui aktifitas pelaksanaan program MGMP,

bagaimana upaya yang dilakukan MGMP dalam pengembangan


56

kompetensi guru sejarah, kendala-kendala yang terjadi di lapangan dalam

pengembangan kompetensi guru Sejarah di Kabupaten Rembang.

Informan dari anggota MGMP (guru Sejarah) dipilih untuk

mengetahui tanggapan-tanggapan terhadap fungsi MGMP dalam

pengembangan kompetensi guru. Informan anggota ini dibagi menjadi dua

yaitu informan lulusan Sejarah dengan anggota yang bukan dari lulusan

Sejarah. Informan dari Dinas Pengawas IPS kabupaten dipilih untuk

mengetahui bagaiman kinerja MGMP Sejarah pada periode 2009-2012 ini.

Sedangkan Informan Ketua MGMP IPS SMP dipilih untuk mengetahui kerja

sama yang dilakukan MGMP SMA dengan MSI (Masyarakat Sejarawan

Indonesia) komisariat Rembang.

Pada penelitian digunakan pula cuplikan waktu (time sampling) untuk

melihat aktivitas MGMP dalam mengembangkan kompetensi guru sejarah.

Hal ini karena tidak semua aktivitas MGMP sering dilakukan, sehingga

dipilih waktu-waktu tertentu berdasarkan pelaksanaan program kerja untuk

melakukan pengamatan tentang aktivitas MGMP dalam pengembangan

kompetensi guru sejarah. Waktu kegiatan yang digunakan penelitian yaitu

pada Kamis 17 Februari 2011 pada rapat pembuatan soal ujian sekolah, Sabtu

19 Februari 2011 pada rapat koordinasi soal ujian sekolah, dan Kamis 28

April 2011 pada rapat pengumpulan soal ujian sekolah.

F. Keabsahan Data

Pengujian keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan

teknik trianggulasi. Moleong (2007: 330) menjelaskan bahwa teknik


57

trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan

sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai

pembanding terhadap data itu.

Trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi

dengan sumber, yaitu untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-

beda dengan teknik yang sama ( Sugiyono, 2009: 241). Dalam keabsahan

data ini peneliti menguji dengan cara :

1. Membandingkan antara wawancara dengan angket.

Peneliti dalam hal ini membandingkan upaya MGMP dalam

pengembangan kompetensi profesional guru. Dari hasil wawancara

peneliti mendapatkan bahwa program kerja yang terlaksana bertujuan

dalam pengembangan kompetensi profesional, salah satu program tersebut

yaitu studi lapangan situs sejarah yang bermanfaat bagi guru sejarah yang

bukan lulusan sejarah. MGMP di sini juga mempunyai peran terhadap

proses sertifikasi guru, yaitu MGMP dalam pengembangan kompetensi

guru serta mendukung guru dalam proses sertifikasi. Serta, dapat

memberikan surat keterangan bagi anggota untuk (PAK) Penetapan Angka

Kredit, selain itu MGMP juga dapat dimasukan unsur C pada aspek

pengalaman berorganisasi dibidang pendidikan dan sosial.

Dalam angket peneliti mendapatkan bahwa wadah MGMP merupakan

alternatif guru dalam pengembangan kompetensi profesionalnya karena

melalui program kerja yang ada guru dapat menambah perspektif

penguasaan materi bahan ajar (subject matter), penguasaan metode dan


58

strategi serta seni mendidik dan mengajar, menjadi pribadi sosial dan

demokratis merujuk pada tugas pokok dan fungsi guru harus beranjak dari,

oleh dan untuk peserta didiknya.

2. Membandingkan antara observasi dengan wawancara.

Peneliti dalam hal ini membandingkan kendala MGMP dalam

pengembangan kompetensi profesional guru. Dari hasil observasi peneliti

melihat kurangnya manajemen dari anggota MGMP sendiri, baik pengurus

dan anggota MGMP yang belum berfungsi secara optimal seperti

partisipasi anggota terhadap pelaksanaan program menyebabkan terjadinya

kendala, misalnya kehadiran pada saat rapat. Dari hasil wawancara peneliti

menemukan perbedaan antara MGMP dengan dinas perbedaanya yaitu dari

segi perlakuan, misalnya bantuan dalam bentuk dana.

G. Teknik Analisis

Dalam Penelitian ini menggunakan analisis interaktif terdiri atas tiga

alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian

data, dan penarikan simpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 2009: 20).

Gambar 3.3
59

Miles dan Huberman (2009: 16) menjelaskan bahwa reduksi data

diartikan sebagai “proses pemilihan, pemusatan perhatian pada

penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul

dari catatan-catatan tertulis di lapangan”. Setelah data dikumpulkan dengan

teknik observasi, wawancara, studi dokumen dan kuesioner (angket),

dilakukanlah reduksi data. Reduksi data dalam penelitian ini terdiri atas

beberapa langkah, yaitu (1) menajamkan analisis, (2) menggolongkan atau

pengkategorisasian, (3) mengarahkan, (4) membuang yang tidak perlu dan (5)

mengwadahkan data sehingga simpulan-simpulan finalnya dapat ditarik dan

diverifikasi (Miles dan Huberman, 2009:16-17).

Langkah berikutnya dalam analisis interaktif adalah penyajian data.

Penyajian data yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif

adalah dalam bentuk teks naratif, yang merupakan rangkaian kalimat yang

disusun secara logis dan sistematis, sehingga mampu menyajikan

permasalahan dengan fleksibel, tidak “kering”, dan kaya data. (Miles dan

Huberman, 2009: 17). Penyajian data dalam penelitian kualitatif dirancang

guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu

dan mudah diraih, sehingga peneliti dapat melihat apa yang sedang terjadi.

Dengan demikian, peneliti lebih mudah dalam menarik simpulan.

Kegiatan analisis yang ketiga adalah menarik simpulan dan verifikasi.

Langkah awal dalam penarikan simpulan dan verifikasi dimulai dari

penarikan simpulan sementara. Penarikan simpulan hasil penelitian diartikan

sebagai penguraian hasil penelitian melalui teori yang dikembangkan. Dari


60

hasil temuan ini kemudian dilakukan penarikan simpulan teoretik (Miles dan

Huberman, 2009: 18-19). Kemudian simpulan perlu diverifikasi agar cukup

mantap dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan

tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau simpulan dapat ditinjau sebagai

makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya, kekokohan, dan

kecocokannya. Namun demikian, jika simpulan masih belum mantap, maka

peneliti dapat melakukan proses pengambilan data dan verifikasi, sebagai

landasan penarikan simpulan akhir.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran MGMP Sejarah SMA

1. MGMP Sejarah SMA Kabupaten Rembang

MGMP adalah kependekan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran

dapat diartikan sebagai “komunitas” bagi guru mata pelajaran untuk

mengembangkan kompetensinya sesuai dengan mata pelajaran yang

diampunya, MGMP terdapat di wilayah kabupaten atau kota atau

kecamatan. MGMP merupakan Organisasi non struktural yang

keberadaanya dibentuk berdasarkan pedoman Dirjen Dikdasmen

(Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah) yang beredar

sejak tahun 1991 dan dicetak ulang pada tahun 1993. Namun

sebenarnya MGMP telah ada sejak tahun 1970-an. Guru mata

pelajaran yang pertama kali tahun 1979 memperoleh kesempatan

mengikuti pembinaan adalah guru-guru kelompok mata pelajaran IPA

(fisika, kimia, dan biologi, serta IPA SLTP), disusul kemudian guru

matematika 1982, Bhs Inggris, Bahasa Indonesia 1988 dan terakhir

mata pelajaran IPS (geografi, sejarah, sosiologi) (Masrukhan, dalam

workshop Pengembangan model evaluasi pasca sertifikasi guru dalam

jabatan: 2010)

Berdirinya MGMP sejarah SMA merupakan tempat komunitas

guru sejarah dalam tingkatan sekolah menengah atas baik sekolah

negeri maupun swasta, wadah ini dijadikan tempat berkomunikasi

61
62

dengan guru-guru senior, yang telah berpengalaman dalam mengajar.

Selain itu untuk membahas persoalan-persoalan yang terkait dengan

materi bahan ajar, model belajar, rencana pengajaran, penilaian,

masalah kepangkatan, dan penyamaan visi dan misi ke depan wadah

tersebut akan dibawa. Peran pemecahan persoalan keseharian

mengenai tugas guru mengajar dan penyiapan bahan ajar apa yang

harus dibuat dan diberikan pada peserta didik, MGMP menjadi sarana

yang dapat memerankan fungsi dan peranannya selama ini secara

efektif.

MGMP Kabupaten Rembang lahir pada tahun 1984 karena adanya

pemikiran untuk mengembangkan dan meningkatkan rasa kepedulian

terhadap mata pelajaran sejarah yang digagas dan dirintis oleh Slamet

Riyanto guru sejarah SMA Negeri 2 Rembang dan Suyoto guru sejarah

SMA Negeri 1 Lasem. Berdirinya MGMP ini berdasarkan atas anjuran

pejabat-pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun-

tahun ini MGMP sejarah sudah berjalan akan tetapi belum terwadah

dan terstruktur dengan baik hal ini dikarenakan SMA yang ada pada

waktu itu hanya sedikit dan guru yang mengajar sejarah terbatas, SMA

yang ada pada waktu itu yaitu SMA N 1 Rembang, SMA N 2

Rembang, SMA N 1 Lasem dan SMA Swasta yaitu SMA PGRI

Rembang dan SMA Muhamadiyah.

Perkembangan kurikulum tahun 1994 memunculkan berdirinya

SMA-SMA di Kecamatan seperti SMA Kragan, SMA Sale, SMA


63

Pamotan, dan lain-lain. Sampai sekarang SMA yang berdiri di

Kabupaten Rembang sebanyak 14 sekolah, yang terdiri dari 9 SMA

Negeri dan 5 SMA Swasta. Guru yang mengajar mata pelajaran

sejarah dari 14 sekolah tersebut sebanyak 24 orang. Pada tahun 1994

ini kepengurusan MGMP terbentuk dan program kerja tidak hanya

pembuatan soal semesteran saja (seperti pada tahun 1984) akan tetapi

sudah menjadi suatu wadah informasi dan kebersamaan bagi guru

(Wawancara dengan Slamet Riyanto Tanggal 16 Mei 2011).

2. Perkembangan MGMP Sejarah Kabupaten Rembang Tahun

2000-2010

MGMP sejak berdiri sampai sekarang mengalami pasang surut

dalam peranannya meningkatkan profesionalisme guru. Secara

keseluruhan periode pergantian pengurus visi dan misinya sama yaitu

visi dalam mewujudkan sejarah SMA Kabupaten Rembang yang

profesional dan berkualitas sedangkan misinya yaitu meningkatkan

profesionalisme guru sejarah di Kabupaten Rembang melalui kegiatan

MGMP. Perkembangan struktur organisasi dari tahun 2000-2010 (lihat

lampiran halaman 106-108) mengalami perkembangan dari seksi

pembagian tugas guru semakin lama semakin mengalami kemajuan

serta program kerjanya.

Perkembangan tugas dan program kerja MGMP ini disesuaikan

dengan perkembangan kurikulum yang ada. Masing-masing periode

dalam pelaksaanaan program kerjanya memiliki keunggulan. Program


64

kerja tahun 2000-2003 yang telah sukses dilaksanakan yaitu

Peyusunan Diktat (lihat lampiran halaman 116) serta studi lapangan di

Jawa Tengah (Jepara, Menara Kudus, dan Masjid Agung Demak).

Program kerja Verifikasi sejarah lokal Rembang ke tapak Kaki Hayam

Wuruk merupakan salah satu program kerja studi lapangan yang telah

berhasil dilakukan MGMP periode 2003-2006. Program kerja tahun

2006-2009 yang telah berhasil dilakukan yaitu Studi lapangan di

Sangiran dan Candi Borobudur, Candi Kalasan (lihat lampiran

halaman 129) dan BALAR (Badan Arkeologi). Program kerja dan

struktur organisasi tahun 2009-2012 mengalami perbaikan yang pesat

hal ini berkaitan dengan adanya perubahan kurikulum KBK

(Kurikulum Berbasis Kompetensi) 2006 ke kurikulum KTSP

(Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan) serta adanya sertifikasi guru

melalui portofolio yang secara langsung maupun tidak langsung

MGMP dijadikan tempat guru dalam perbaikan mutu kinerjanya serta

tempat informasi terbaru dalam dunia pendidikan. MGMP dirasakan

tempat yang paling sesuai kebutuhan guru hal ini dikarenakan MGMP

merupakan wadah yang dekat dengan guru.

Implementasi KTSP serta Serifikasi guru membuat Dinas

Pendidikan dan Kebudayaan memproklamirkan kembali revitalisasi

MGMP. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas Pendidikan Bidang

Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan mengadakan

kegiatan fasilitasi kualifikasi akademik dan sertifikasi dengan


65

mengadakan workshop tentang Pemberdayaan KKG dan MGMP.

Berhubungan dengan ini maka pengurus organisasi MGMP periode

2009-2012 memperbaiki kwalitas maupun kuantitas MGMP Sejarah.

Lambat laun organisasi MGMP ini memperbaiki kinerjanya

sehingga dapat menjadi wadah kegiatan guru yang bertujuan

menanggapi perkembangan iptek yang menuntut penyesuaian dan

perkembangan profesional guru. Wadah ini bagi guru sejarah di

Kabupaten Rembang menjadi tempat berkomunikasi, berkonsultasi

dan saling berbagi informasi serta pengalaman. Seiring perkembangan

kurikulum di Indonesia menyebabkan organisasi MGMP menjadi

wadah yang vital bagi guru hal ini merupakan wadah yang paling

dekat dengan guru dan dari guru untuk guru untuk pelaksanaan PKB

(Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan).

Usaha dalam PKB ini susunan kepengurusan MGMP sejarah

Kabupaten Rembang tersusun dan terstruktur dengan baik.

Berdasarkan Keputusan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah

(MKKS) SMA Kabupaten Rembang Nomor: 23 / MKKS – SMA / 11 /

2009, maka kepengurusan MGMP Sejarah SMA Kabupaten Rembang

periode 2009-2012 terbentuk.

Kepengurusan MGMP sejarah di Kabupaten Rembang masa

jabatannya selama tiga tahun dengan pemilihan dari anggota MGMP

sendiri, berdasarkan keputusan Ketua MKKS dan dari Kepala Sekolah

Koordinasi Organisasi (KSKO) MGMP Sejarah. MKKS merupakan


66

suatu wadah kepala sekolah sekabupaten Rembang, dan salah satu

program kerjanya yaitu mengkoordinasi MGMP semua mata pelajaran

sekabupaten. KSKO merupakan kepala sekolah yang dipilih untuk

mengkoordinasi organisasi dan bertangung jawab terhadap satu

MGMP biasanya kepala sekolah yang dipilih serumpun dengan

MGMP yang dikoordinasi, misalnya MGMP sejarah periode 2009-

2012 KSKOnya yaitu Sutrisno dari mata pelajaran geografi.

Pemilihan ketua dan sekretaris MGMP dipilih dari SMA yang

selokasi yaitu dari SMA yang sama atau SMA yang berdekatan hal ini

bertujuan untuk efektif dan efisien dalam menjalankan program kerja.

Pemilihan pengurus juga dipilih secara acak dan bergilir tidak hanya

dari SMA kota yang mendominasi kepengurusan akan tetapi dari SMA

pinggiran juga diikutsertakan hal ini dikarenakan agar dapat

mengetahui perkembangan jaman serta menyamakan kedudukan tidak

menganak tirikan sebuah instansi.

Identitas MGMP sejarah Kabupaten Rembang yaitu:

1) Stempel MGMP sejarah yang berlambang candi Borobudur.

2) Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada hari kamis, untuk

tempat pertemuan tidak sepenuhnya berada di dalam ruangan

yang biasanya bertempat di SMA N 2 Rembang akan tetapi

bisa mencari lokasi tempat-tempat yang bisa dijadikan studi

lapangan bagi anggota, misalnya di Kragan Plawangan hal ini

dibertujuan agar guru dapat memperoleh tambahan materi.


67

3) Mempunyai seragam batik sebagai identitas, batik yang

dipilih adalah batik buatan dari produksi daerah sendiri yaitu

batik Lasem.

4) MGMP sejarah Kabupaten Rembang bekerjasama dengan

MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) komisariat Rembang.

anggota dari MSI sebagian besar adalah guru yang mengajar

mata pelajaran sejarah, baik guru SMA maupun IPS untuk

SMP dan guru SD, seperti Gina Santoso selain menjabat

sebagai ketua MGMP sejarah SMA dalam MSI juga

menjabat sebagai sekretaris MSI.

B. Upaya-Upaya Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah

Dalam Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Sejarah Di

Kabupaten Rembang

MGMP didirikan atas anjuran pejabat-pejabat Departemen Pendidikan

dan Kebudayaan (Soetjipto, 2009: 36). Tujuan dari organisasi ini adalah

untuk meningkatkan mutu dan profesionalisasi dari guru dalam

kelompoknya masing-masing. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini

diatur dengan jadwal yang cukup baik. Dalam surat keputusan MKKS

SMA Kabupaten Rembang Nomor: 23 / MKKS – SMA / 11 / 2009.

Menetapkan bahwa semua pengurus supaya melaksanakan tugas dengan

baik dalam meningkatkan profesionalismenya, bersama teman-teman guru

lainnya. Profesionalisme disini yang dimaksud adalah guru harus memiliki

standar kompetensi sesuai dengan Permendiknas nomor 16 tahun 2007


68

yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial

dan kompetensi profesional.

Susunan kepengurusan MGMP periode 2009-2012 yang diketuai oleh

Ginna Santosa sudah terstruktur dan terwadah dengan baik karena

program kerjanya terdokumen, adapun terdapat Surat Keputusan MKKS

memutuskan kepengurusan (lihat lampiran halaman 104).

MGMP periode 2009-2012 mempunyai beberapa program kerja yaitu:

(a) Pembahasan Silabus (b) Pembuatan soal semester (c) Pembuatan

Perangkat KBM (d) Pembuatan Modul Materi (e) studi lapangan situs

Sejarah (f) pembuatan VCD pembelajaran (lihat lampiran halaman 110).

Kegiatan MGMP ini sudah berjalan lancar, meskipun masih terdapat

beberapa program yang masih dalam proses pelaksanaan seperti

pembuatan modul materi dan pembuatan VCD pembelajaran. Hal ini

dirasa cukup baik mengingat dalam pelaksanaan program kerja dana yang

diperoleh dari swadaya anggota MGMP sendiri. Selain itu, peran antara

anggota dan pengurus yang terjalin sangat baik sehingga kegiatan dapat

berjalan lancar.

Pembahasan silabus dilakukan dalam rangka untuk menjadikan guru

paham mengenai silabus, hal ini dikarenakan dalam pembuatan RPP

(rencana pelaksanaan pembelajaran), seorang guru harus berpedoman

terhadap silabus oleh karena itu jika ingin menjadi guru profesional dan

berkualitas dalam proses belajar mengajar di dalam kelas maka guru harus

memahami silabus karena jika guru belum paham terhadap silabus maka
69

dalam pembuatan RPP yang dibuat guru yang bersangkutan hasilnya

kurang maksimal. Sehingga, akan berakibat pada pelaksanaan proses

belajar-mengajar dikelas. RPP merupakan skenario guru dalam mengajar,

kalau guru dapat membuat RPP dengan baik maka dalam proses belajar di

kelas akan baik pula.

Pembuatan perangkat KBM yang terdiri dari Silabus, RPP (rencana

pelaksanaan pembelajaran), Promes-Prota (Program Semester-Program

Tahunan), Kaldik (Kalender Akademik) dan KKM (kriteria ketuntasan

minimal). Pada program kerja pembuatan perangkat KBM ini sudah

terlaksana di awal semester tahun ajaran baru hal ini dikarenakan agar

dapat mempermudah guru sejarah dalam melaksanakan kebijakan-

kebijakan sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing misalnya saja

pada SMA N 1 Sumber yang sering melakukan studi lapangan mata

pelajaran yaitu suatu kegiatan yang rutin dilakukan tiap satu tahun sekali

untuk terjun kelapangan sesuai dengan materi yang diajarkan seperti

mapel sejarah studi lapangannya di candi-candi atau museum .

Kegiatan ini dapat dilakukan oleh pihak guru sejarah dari SMA N 1

Sumber untuk mengambil kebijakan kapan waktu yang dilakukan untuk

pelaksanaan studi lapangan tersebut dengan melihat Kaldik (kalender

akademik). Selain itu, dengan Promes dan Prota guru juga dapat

melakukan program-program apa yang perlu dicapai pada saat ini terhadap

peserta didik, sesuai dengan arah dan tujuan masing-masing sekolah


70

meskipun materi sejarah yang diajarkan dari satu kabupaten sama

(Wawancara dengan Partono, Tanggal 24 April 2011).

Program yang sudah terlaksana dalam peningkatan kompetensi

profesionalisme guru sejarah yaitu studi lapangan situs sejarah, guru

sejarah yang bukan dari lulusan sejarah merupakan permasalahan

tersendiri bagi kepengurusan MGMP sejarah di Kabupaten Rembang, hal

ini dikarenakan guru tersebut harus dapat mengajar materi sejarah kepada

peserta didik dengan baik. Sebagai suatu wadah guru, MGMP sepatutnya

dapat memberikan bantuan kepada guru yang bukan lulusan sejarah untuk

dapat memahami dan mengerti tentang sejarah. Studi lapangan situs

sejarah ini pernah dilakukan pada MGMP periode 2004 di Sangiran di

tempat tersebut guru sejarah yang bukan dari lulusan sejarah diajak untuk

dapat mengerti dan memahami tentang zaman Pra-Sejarah karena pada

materi ini sebagian besar guru yang bukan dari lulusan sejarah merasa

kesulitan dalam pemahaman materi ini.

Studi lapangan situs sejarah ini setelah tahun 2008 program

pelaksanaanya dilaksanakan dengan MSI. Kerjasama MGMP dengan MSI

dilakukan sejak tahun 2008 setelah Dinas Kabupaten Rembang dengan

UNDIP mengadakan seminar Internasional dengan Jepang. Seminar

Internasional ini bertema “Meningkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

Guru IPS dan Sejarah di era Sertifikasi: Perbandingan Pandangan di

Indonesia dan Jepang” dengan narasumber Prof. Dr. Hatori Mina dari

Nagoya University Japan.


71

Gambar 4.4
Sumber: Dokumen MGMP IPS Rembang

UNDIP yang merupakan sebuah universitas yang berbasis kelautan

dan Kota Rembang sebuah kabupaten yang berbasis maritim, sehingga

terdapat kesinambungan antara kerjasama tersebut. Seminar ini dilakukan

dalam rangka promosi S2 Sejarah UNDIP. UNDIP pada waktu itu

menjabat sebagai MSI Jawa Tengah akhirnya membentuk MSI komisariat

Kabupaten Rembang. Anggota dari MSI adalah Orang yang minat dengan

sejarah serta guru-guru yang tergabung dalam MGBS (Musyawarah Guru

Bidang Studi) untuk guru SD, MGMP IPS, dan MGMP Sejarah SMA

(Wawancara dengan Munawir, Tanggal 1 Juli 2011).

Terbentuknya MSI ini membuat kinerja MGMP semakin meningkat

kearah yang baik, yaitu setelah di bentuk MSI, MGMP beberapa kali

mengadakan seminar. Seminar yang baru dilaksanakan yaitu pada bulan


72

November 2010 telah dilaksanakan kegiatan berupa upaya

menginventarisasi jejak-jejak sejarah di sekitar sungai Lasem dan bakal

merekomendasikan kota tua Lasem dan Sungai Lasem sebagai Kota Cagar

Budaya (heritage town). Dalam kegiatan bertema ”Menyusur Sungai,

Meretas Sejarah Cina di Lasem” itu, Minggu (29/11), MSI Rembang dan

MGMP mencatat sembilan jejak sejarah di bantaran Sungai Lasem. Jejak

sejarah yang dimaksud adalah Klenteng Makao, bekas pelabuhan Dasun,

Masjid Tiban, parit jalur candu, kembatan lori pengangkut kayu, bekas

permukiman China, galangan kapal, bekas pos pengawasan laut, dan situs

tambak bathuk mini (lihat lampiran halaman 129).

April 2011 MGMP dengan MSI mempunyai program seperti seminar

yang telah dilakukan sebelumnya yaitu kegiatan seminar nasional dalam

rangka memperingati hari Kartini, akan tetapi karena sebagian besar

anggota MSI adalah anggota MGMP yang profesinya guru, terbentur

waktu dengan pelaksanaan Ujian sekolah sehingga seminar ini tidak

terlaksana. Dari hasil kerjasama MGMP dengan MSI ini maka guru

sejarah mendapatkan informasi dan pengalaman yang baru yang dapat

menambah wawasan guru terhadap materi Sejarah (Wawancara dengan

Gianto, Tanggal 24 April 2011).

Kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan kompetensi guru

selain seminar yaitu dalam memanfaatkan teknologi informasi dan

komunikasi, menurut penuturan Siska yang mengajar selain mata

pelajaran sejarah, beliau juga mengajar mata pelajaran sosiologi di SMA


73

Kragan ini menjelaskan bahwa MGMP sejarah dengan menyerahkan soal

ujian lewat flash-disk pada pertemuan MGMP tanggal 28 April 2011,

disamping lebih efektif dan efisisen dalam pengeditan soal mampu

membantu guru dalam belajar teknologi. Dalam hal ini yaitu pembuatan

soal MGMP sejarah dirasa lebih baik dari pada MGMP sosiologi yang

harus menyerahkan soal ujian dalam bentuk print-out, dalam bentuk print-

out ini dirasa kurang efektif karena akan mempersulit guru dalam

pengeditan soal dan guru juga kurang dapat mengembangkan teknologinya

karena sebagian guru belum begitu menguasai teknologi selain itu,

pembuatan media pembelajaran berupa power-point juga dilakukan oleh

guru sejarah, dan pada saat pertemuan di MGMP antar guru saling

bertukar materi power-point, hal ini membantu guru dalam menguasai

teknologi (Wawancara dengan Siska, Tanggal 28 April 2011).

Penguasaan teknologi yang harus dikuasai guru ini merupakan

keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam mengikuti perkembangan

zaman. Selain penguasaan teknologi, seorang guru sejarah harus dapat

menguasai materi sejarah lokal hal ini disebabkan karena sejarah lokal

masuk ke dalam kurikulum KTSP. Dalam penguasaan sejarah lokal

MGMP pada waktu pertemuan tertentu mengundang narasumber tokoh

sejarah dari Rembang sendiri yang biasanya dipanggil dengan nama Mbah

Eli, Mbah Eli adalah mantan guru SMA N 3 Rembang karena sudah lama

di Rembang Mbah Eli tahu tentang situs-situs di Rembang dan beliau juga

tahu tentang tokoh-tokoh lokal.


74

Selain penguasaan sejarah lokal ini, guru sejarah harus dapat

menguasai materi sejarah yang masih penuh dengan kontroversi, seperti

G 30 S/PKI, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Serangan Umum

1 Maret, Lahirnya pancasila, lahirnya Orde Baru, dan Integrasi timor-timor

dan bahkan sangat dijejeli fakta yang terkadang sangat jauh tidak berguna

bagi kehidupan siswa sehari-hari menjadi permasalahan sendiri bagi guru

sejarah, dan dalam pertemuan MGMP ini guru dapat membahas dan

mendiskusikan dalam rapat MGMP.

Proses pelaksanaan program di atas, pasti membutuhkan dana.

Pendanaan MGMP sejarah diperoleh dari swadaya anggota, subsidi

MKKS dari pembuatan soal ujian, MGMP bekerjasama dengan penerbit

LKS sehingga mendapatkan bagian dari hasil pembuatan LKS dan

penjualan VCD pembelajaran.

Dana yang menjadi pokok andalan dari pemasukan MGMP adalah

Pendanaan dari swadaya anggota, uang ini diiurkan pada bendahara pada

tiap pertemuan sebesar Rp.10.000 dengan rincian Rp.5.000 untuk

konsumsi ketika pelaksanaan kegiatan rutin yang biasanya dilaksanakan

pada tiap hari kamis, sedangkan Rp.5.000 lagi disimpan untuk pemasukan.

Swadaya anggota ini diwajibkan bagi guru yang hadir ketika kegiatan

MGMP berlangsung, apabila guru tidak hadir pada pertemuan maka tidak

diwajibkan membayar swadaya dan tidak di kenakan punishment pada

guru yang bersangkutan, hal ini yang membuat pemasukan sangat minim

karena meskipun pada saat pertemuan yang tidak hadir 4-5 guru akan
75

tetapi hal ini mempengaruhi pemasukan dana. MGMP sejarah kabupaten

Rembang sengaja tidak memberikan punishment pada anggota yang tidak

hadir pada saat rapat MGMP hal ini dikarenakan agar guru sadar dengan

sendirinya untuk mengikuti MGMP ini.

Guru yang akan menghadiri MGMP juga mendapatkan uang

transportasi dari pihak sekolah hal ini dikarenakan sekolah sudah

mempunyai anggaran terhadap MGMP yaitu dari Rencana Anggaran

Pendapatan dan Belanja Sekolah (RABPS). Uang transportasi tersebut

dihitung dari sekolah ke tempat MGMP yang di jadikan pertemuan

sehingga banyak anggota yang memilih SMA di wilayah kota karena

lokasinya dekat dengan rumah para anggota MGMP sehingga lebih efektif

dan efisien. Sekolah menyediakan RAPBS terhadap guru dalam mengikuti

MGMP karena forum ini merupakan forum yang dapat meningkatkan

kinerja guru dalam mencapai profesionalisme, sebagian besar anggota

memakai uang dari RAPBS untuk iuran swadaya yang sebesar Rp. 10.000

tersebut.

Selain dana dari swadaya anggota MGMP, dana juga diperoleh dari

subsidi MKKS dari pembuatan soal ujian. Bentuk evaluasi ini sesuai

dengan peraturan menteri pendidikan nasional Republik Indonesia nomor

20 tahun 2007 tentang standar penilain pendidikan ada beberapa

mekanisme, prosedur, dan instrumen penilain. Evaluasi yang di buat oleh

MGMP terdiri dari ulangan akhir semester, ulangan kenaikan kelas dan

ujian sekolah, sedangan ulangan tengah semester dibuat oleh masing-


76

masing sekolah sendiri. Dalam evaluasi ini guru akan mendapatkan

bantuan dana dari MKKS dalam proses print-out soal ujian, dana subsidi

tersebut digunakan seminim mungkin dan sisanya disimpan sebagai

tabungan dalam pelaksanaan program MGMP lainnya seperti studi

lapangan keluar daerah.

MGMP juga bekerjasama dengan penerbit LKS sehingga MGMP

mendapat bagian dari pembuatan LKS selain itu MGMP juga sering

membuat media pembelajaran berupa VCD misalnya VCD Hindhu-Budha,

VCD Perang Diponegoro dan lain-lain di buat berupa VCD dan VCD

tersebut dikembalikan kepada guru untuk dijual kepada masing-masing

sekolah guru, hal ini dikarenakan sekolah sudah mempunyai program

dalam bidang sarana dan parasarana dalam proses belajar mengajar

sehinga dari hasil penjualan VCD tersebut dimasukan ke dalam kas

MGMP (Wawancara dengan Gina Santosa, Tanggal 29 April 2011).

MGMP mendapat bantuan dana dari MKKS, untuk mendanai print out

lembar ujian hal ini disebabkan 14 sekolah yang ada di Kabupaten

Rembang baik negeri maupun swasta, dari sekolah yang berstatus RSKM,

SKM, RSBI, dan SBI. Keempat jenis sekolah yang ada di Kabupaten

Rembang materi sejarah yang diajarkan sama, oleh karena itu dalam

pembuatan soal ujian semester juga disamakan.

RSKM (Rintisan Sekolah Kategori Mandiri), SKM (Sekolah Kategori

Mandiri), RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), dan SBI

(Sekolah Bertaraf Internasional). Sekolah yang berstatus RSKM yaitu


77

SMA Kragan, SMA Sale, SMA Pamotan dan SMA Sulang, SKM yaitu

SMA Lasem dan SMA Sumber, RSBI yaitu SMA N 2 Rembang dan SMA

N 3 Rembang, SBI yaitu SMA N 1 Rembang (Wawancara dengan

Suparyo, Tanggal Sabtu 19 Februari 2011).

Sekolah RSKM dan SKM yaitu sekolah yang hampir atau sudah

memenuhi standar nasional pendidikan. Standar Nasional Pendidikan

(SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh

wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional

Pendidikan terdiri dari delapan standar yaitu standar isi, standar

kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik dan tenaga

kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar

pembiyaan, dan standar penilian (http://awan965.wordpress.com/2008/ 11/

19/pengertian-dan-karakteristik-skmss, diunduh pada tanggal 7 Juni 2011,

jam 14. 56 Wib).

Sekolah RSBI dan SBI adalah sekolah yang sudah memenuhi dan

melaksanakan standar nasional pendidikan yang meliputi: standar isi,

standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga

kependidikan, dan standar penilaian. Selanjutnya, aspek-aspek SNP

tersebut diperkaya, diperkuat, dikembangkan, diperdalam, diperluas

melalui adaptasi atau adopsi standar pendidikan dari salah satu anggota

(OECD) Organization for Economic Cooperation and Development

dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam

bidang pendidikan serta diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui
78

secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing

internasional.

OECD adalah organisasi negara-negara maju dan mempunyai

keunggulan tertentu dalam pendidikan serta memiliki daya saing di forum

internasional, Sejumlah negara maju yang tergabung dalam OECD

diantaranya Australia, Austria, Jerman, Belgia, Canada, Denmark, dan

Amerika Serikat ( http: // hartoyo. wordpress. com/ category/ seminar-

articles/ seminar- depag- jateng, diunduh pada tanggal 7 Juni 2011, jam

15. 09 Wib).

Pembagian sekolah menjadi empat status ini, berdasarkan dasar

hukum yang kuat yaitu Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang nomor 20 tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 20/2003) yang

menyebutkan bahwa “pemerintah dan atau pemerintah daerah

menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada

semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan

pendidikan bertaraf internasional”. Pada keempat jenis sekolah ini harus

mengimplementasikan KTSP yaitu Penerapan kurikulum yang di

kembangkan sendiri oleh satuan pendidikan (sekolah) sesuai karakteristik,

kondisi, dan potensi daerah, sekolah, dan peserta didik dengan mengacu

pada standar isi (SI), standar kompetensi lulusan (SKL), pelaksanaan SI

dan SKL, dan panduan penyusunan KTSP yang di buat oleh badan

penyusunan KTSP yang dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan

(BSNP). Permendiknas nomor 22 tahun 2006 merupakan landasan tentang


79

SI mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal

untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis

pendidikan tertentu. Sedangkan, permendiknas nomor 23 tahun 2006

landasan tentang SKL untuk satuan pendidikan dasar dan menengah

digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan

peserta didik.

Penyusunan KTSP merupakan bagian dari kerja sekolah, sedangkan

kerja sekolah merupakan sebagian besar hasil kerja para guru. Tim

penyusun KTSP SD, SMP, SMA dan SMK, terdapat guru, konselor,

kepala sekolah, komite sekolah, dan narasumber dengan kepala sekolah

merangkap anggota, dan disupervisi oleh Dinas Pendidikan kabupaten

/atau kota dan provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

Dalam kebijakan baru dari pemerintah sesuai amanat UU nomor 14 tahun

2005 tentang guru dan dosen, guru dituntut untuk meningkatkan

kompetensinya serta nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru

angka kreditnya, guru diwajibkan melaksanakan kegiatan pengembangan

keprofesian berkelanjutan (PKB) untuk naik pangkat kejenjang berikutnya

dan wadah yang paling dekat dengan guru dalam pelaksanaan PKB adalah

MGMP.

Berbicara mengenai kompetensi guru sejarah yang mengajar di

Kabupeten Rembang, dari hasil wawancara anggota MGMP guru sejarah

sudah mempunyai kompetensi yang bagus, hal ini dikarenakan sebagian

besar guru merupakan alumni dari LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga


80

Kependidikan) ternama seperti IKIP Semarang yang kini menjadi

UNNES, UNS dan UGM. Dari melihat anggota MGMP yang berasal dari

beraneka ragam LPTK ini dapat membuat ilmu yang didapat akan

bertambah karena saling berbagi ilmu. meskipun, guru yang mengajar

mata pelajaran sejarah tidak semuanya berijazah pendidikan sejarah ada

yang berasal dari geografi, sosiologi dan PKN. Namun, yang mendominasi

tetap dari pendidikan sejarah. SMA yang tidak berasal dari lulusan sejarah

berasal dari SMA swasta yaitu SMA Kartini, SMA Santa Maria, SMA Al-

Yaqin (dari lulusan PKN), Al-Kamal dari lulusan geografi, dan SMA

Muhamadiyah Lasem dari sosiologi (lihat lampiran halaman 109).

Lulusan yang beraneka ragam ini saling mengisi dan berbagi ilmu

yang didapatkan di bangku kuliah, karena sifat dari sejarah yang

mengikuti peristiwa perkembangan zaman maka guru dapat

memperolehnya dari wadah ini, misalnya guru yang lulus tahun angkatan

2000 akan lebih tahu tentang peristiwa reformasi 1998 karena pada saat itu

guru tersebut masih berstatus menjadi mahasiswa yang informasi dan

wawasannya lebih luas. selain itu lama mengajar guru rata-rata sekitar

enam tahun sampai dua puluh tahun ini dapat berbagi ilmu mengajar, yaitu

guru yang sudah lama mengajar akan lebih luas wawasannya terhadap

bagaimana menangani peserta didik, yang dapat di informasikan kepada

guru muda.

Pelaksanaan program kerja MGMP sejarah ini mendapatkan

pengawasan dari dinas karena tiap tahunnya difasilitasi oleh dinas dalam
81

rangka peningkatan profesionalisme guru, fasilitas disini merupakan

bantuan yang tidak berupa dana melainkan berupa kegiatan-kegiatan untuk

meningkatkan kompetensi guru misalnya workshop, seminar dan

pelatihan.

Pengawasan dari dinas ini adalah pengawasan dari mapel serumpun

misal sejarah yang masuk ke dalam IPS, rumpun IPS mengadakan

pertemuan dengan MGMP untuk pengawasan meliputi pengarahan dan

pembinaan terutama mengenai program MGMP dalam rangka

meningkatkan profesionalisme guru, di dalam hal ini di tekankan dalam

proses pembelajaran, karena MGMP merupakan wadah dari guru se-mapel

untuk itu guru dapat meningatkan profesionalismenya, peningkatan ini di

tandai dengan bagaimana proses guru dalam pembelajaran di dalam kelas.

Misalnya pembinaan meliputi menyusun program pembelajaran.

Pengawas mempunyai kewajiban mengadakan pembinaan di tingkat

MGMP bahkan terdapat program pemberdayaan kelas merupakan salah

satu program dari pengawas, maka ada pengarahan, pembekalan,

pembinaan terhadap guru sehingga nanti sinkron program dari pengawas

dan MGMP, karena di dalam program pengawas terdapat program

pembinaaan terhadap MGMP.

Dinas di minta untuk mengisi sesuai dengan Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang SNP (Standar Nasional

Pendidikan). Pada pengawasan ini dari pihak dinas menyerahkan

sepenuhnya kepada pengawas serumpun yaitu pengawas IPS, sedangkan


82

dari dinas mengawasi kepada KSKO. Pengawas serumpun ini akan datang

dalam bentuk kunjungan kelas terutama bagi guru sejarah yang telah

mendapatkan sertifikasi yang merupakan bukti nyata bahwa seorang guru

dinyatakan profesional.

Profesionalisasi Guru adalah proses untuk menjadikan guru

profesional, yaitu terdidik dan terlatih. Profesionalisasi dapat dilakukan

dengan meningkatkan kualifikasi pendidikannya (menjadi terdidik) dan

kemampuannya (menjadi terlatih), sehingga mencapai standar/kriteria

ideal yang telah ditetapkan. Untuk guru, sesuai dengan UU nomor 14

tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, standar/guru profesional adalah yang

memiliki kualifikasi pendidikan S-1/D-IV dan memiliki sertifikat

pendidik. Jadi profesionalisasi guru berarti proses menjadikan guru

berkualifikasi pendidikan S-1/D-IV dan memiliki sertifikat pendidik.

Kualifikasi pendidikan S-1/D-IV ditandai dengan ijazah, yang diperoleh

melalui pendidikan, sedang sertifikat pendidik dapat diperoleh memiliki

sertifikasi. Dengan demikian, profesionalisasi guru dapat dilakukan

melalui pendidikan dan sertifikasi. Pada dasarnya, pendidikan dan

sertifikasi guru itulah yang disebut dengan pendidikan profesi bagi guru.

Jadi, singkatnya profesionalisasi guru dilaksanakan dengan pendidikan

profesi.

Tahun 2010 tentang pendidikan profesi itu masih dalam perencanaan.

Yang telah dilaksanakan adalah sertifikasi guru, itu pun baru untuk guru

dalam jabatan atau untuk mereka yang telah menjadi guru, belum untuk
83

calon guru (prajabatan). Sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan

melalui dua jalur, yaitu jalur penilaian portofolio dan jalur pendidikan.

Sebagian besar sertifikasi guru dilakukan melalui jalur portofolio, dan

apabila hasil penilaian portofolio mencapai angka minimal kelulusan (total

850) dan batas setiap unsur (A,B,C) terpenuhi, maka dinyatakan lulus dan

memperoleh sertifikat pendidik. Namun, apabila skor hasil penilaian

portofolio telah mencapai batas kelulusan, maka Rayon LPTK

menetapkan/merekomendasikan alternatif sebagai berikut:

Melakukan kegiatan yang berkaitan dengan profesi pendidik untuk

melengkapi kekurangan portofolio (MS= Melengkapi Substansi) bagi

peserta yang memperoleh total skor 841 s/d 849. Apabila dalam kurun satu

bulan peserta tidak mampu melengkapi substansi tersebut, peserta tersebut

diikutsertakan dalam Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

MGMP di sini mempunyai peran terhadap proses sertifikasi guru,

yaitu MGMP dapat memberikan surat keterangan bagi anggota untuk

(PAK) Penetapan Angka Kredit (lihat lampiran halaman 111), selain itu

MGMP juga dapat dimasukan unsur C pada aspek pengalaman

berorganisasi dibidang pendidikan dan sosial. Dalam sertifikasi terdapat 3

aspek yang dinilai yaitu Aspek A : Unsur Kualifikasi dan Tugas Pokok,

Aspek B : Unsur Pengembangan Profesi, Aspek C : Unsur Pendukung

Profesi.

Sebagai wadah guru yaitu dapat mendukung guru dalam

meningkatkan kompetensinya, kompetensi yang dimiliki oleh guru harus


84

mencangkup 4 kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi

kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Akan tetapi

yang sering disinggung dalam supervisi atau penilain dalam portofolio

yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, Pada penelitian

ini ditekankan pada penelitian kompetensi profesional khususnya disini

yaitu kompetensi profesional yaitu dalam mengembangkan dan menguasai

materi, struktur konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata

pelajaran yang diampu.

Supervisi yang dilakukan oleh atasan (kepala sekolah) dan pengawas

pada guru yang sudah disertifikasi ini terdapat beberapa aspek yaitu: Pra

Pembelajaran dan Kegiatan inti Pembelajaran (lihat lampiran halaman

114). Guru dalam menguasai Pra Pembelajaran dan Kegiatan inti

Pembelajaran dapat diperoleh dari wadah MGMP dalam pembahasan

silabus yang dilanjutkan dengan pembuatan RPP.

Pada guru sejarah yang ada di kabupaten Rembang yang sudah

mendapatkan sertifikasi yaitu 13 guru dari 8 SMA yaitu : 1) SMA Kragan:

Puji Utomo, 2) SMA Lasem: Suyoto, 3) SMA Pamotan: Widjoyo Hadi, 4)

SMA Sulang: Agoeng Djoelianto dan Warsono, 5) SMA 1 Rembang: Heni

Sunarni, Sri Susilowati dan Dwi Astutik, 6) SMA 3 Rembang: Suparyo

dan Gianto, 7) SMA 2 Rembang : Slamet Rianto, dan Yuni, 8) SMA

Sumber: Partono.

Tiga belas guru sejarah tersebut yang diutamakan oleh pengawas

tentang kinerja profesionalisme guru dalam bentuk kunjungan kelas, dan


85

hasil dari penilaian tersebut akan diserahkan kepada dinas kabupaten

kemudian dikirim ke dinas provinsi. Selama ini hasil kinerja guru sejarah

yang sudah tersertifikasi mempunyai profesionalisme yang baik.

Menurut Tamsi selaku pengawas IPS menuturkan MGMP sejarah

Kabupaten Rembang sudah terlaksana dengan baik hal ini dapat dilihat

program kerja yang sudah berjalan. Serta, hasil kunjungan kelas terhadap

guru sejarah yang telah tersertifikasi hasilnya memuaskan yaitu sudah

masuk kedalam guru profesional.

Pada tahun ini akan ada revitalisasi MGMP baru dari Dinas Provinsi,

yaitu supaya MGMP dapat menyelenggarakan satu kegiatan terprogram

untuk pengembangan profesionalisme guru sampai pada pemberian

STPPL (Surat Tanda Lulus Program Pelatihan) yaitu merupakan program

pelatihan dan hal itu di ikuti secara berlanjut. STPPL ini dapat di jadikan

bukti fisik untuk diusulkan kepada PAK (Penetapan Angka Kredit) untuk

menambah point, sehinga guru dapat naik pangkat. Pembahasan mengenai

kebijakan STPPL ini diharapkan akan berjalan pada MGMP sejarah

karena melalui kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi guru dalam

peningkatan profesionalisme guru (Wawancara dengan Tamsi Heri Budhi,

Tanggal 14 Mei 2011).

Data dari angket, guru sejarah yang tergabung dalam MGMP dapat

meningkatkan kompetensi profesionalisme melalui wadah tersebut dalam

perspektif penguasaan materi bahan ajar (subject matter), penguasaan

metode dan strategi serta seni mendidik dan mengajar, menjadi pribadi
86

sosial dan demokratis merujuk pada tugas pokok dan fungsi guru harus

beranjak dari, oleh dan untuk peserta didiknya. Akan tetapi dalam

penelitian tindakan kelas (PTK) MGMP dirasa tidak menjadi menjadi

wadah bagi guru dalam melaksakankan PTK dikarenakan MGMP belum

pernah membahas hal tersebut, guru mendapatkannya melalui acara-acara

seperti penataran di sekolah masing-masing. Kegiatan yang sering

dilakukan oleh guru sejarah Kabupaten Rembang adalah mengevalusi

bukan PTK. Misalnya Pada saat evaluasi peserta didik tidak lulus sesuai

dengan SKL, guru bisa melakukan evaluasi seperti strategi mengajar guru,

metode mengajar, atau evaluasi struktur soalnya apabila hasil dari evalusi

bagus maka guru di rasa tidak perlu melakukan evaluasi. Hal ini

disebabkan karena guru dituntut untuk membina peserta didik, sehingga

untuk memfokuskan pada pembinaan peserta didik guru jarang melakukan

PTK. Adanya serifikasi guru yang menuntut guru untuk mengajar 24 jam

selama seminggu guru cenderung lebih memfokuskan hal tersebut.

Hasil wawancara dan angket, peneliti mengambil kesimpulan MGMP

merupakan wadah bagi guru sejarah di Kabupaten Rembang dalam

meningkatkan kompetensi profesionalisme, program kerja yang sudah

terlaksana berupaya untuk meningkatkan kompetensi profesionalisme guru

salah satunya yaitu studi lapangan situs sejarah yang bermanfaat bagi guru

sejarah yang bukan lulusan sejarah. Adanya sertifikasi guru MGMP

mempunyai peran dalam mendukung guru untuk mengembangkan

kompetensi yang dinilai pada waktu sertifiksi melalui penilian portofolio.


87

Selain itu, guru dapat menambah perspektif penguasaan materi bahan ajar

(subject matter), penguasaan metode dan strategi serta seni mendidik dan

mengajar, menjadi pribadi sosial dan demokratis merujuk pada tugas

pokok dan fungsi guru harus beranjak dari, oleh dan untuk peserta

didiknya. Kerja sama antar lembaga seperti MGMP dengan MSI

menambah kualitas yang baik bagi anggota MGMP.

C. Kendala-Kendala Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

Dalam Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Sejarah Di

Kabupaten Rembang

Dalam menjalankan program MGMP pastilah terdapat kendala-

kendala, dari hasil obervasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 17

Februari dan 28 April 2011 yaitu pelaksanaan pembuatan soal semester

genap. Rapat dimulai jam 09.00 WIB bertempat di SMA N 2 Rembang, di

ruang laboratorium IPS. Akan tetapi rapat bisa berjalan jam 10.00 WIB hal

ini disebabkan kehadiran anggota yang tidak tepat waktu, padahal

penggurus hadir tepat waktu dan menyiapkan keperluan untuk rapat. Hal

ini disebabkan terdapat beberapa guru yang mempunyai jam mengajar

pada hari itu dan tangung jawab dari guru sejarah yang merangkap

beberapa jabatan di sekolah.

Jumlah guru yang tergabung dalam MGMP berjumlah 24 orang, akan

tetapi pada saat rapat ini hanya 19 guru yang hadir. Anggota yang tidak

hadir cenderung berasal dari SMA kecamatan yang lokasinya cukup jauh

dari tempat rapat, dan dari SMA swasta. Keadaan guru pada saat
88

mengikuti rapat menggunakan batik seragam MGMP, meskipun ada

beberapa guru yang tidak menggunakan seragam identitas.

Pada rapat tanggal 28 April 2011 agendanya yaitu pengumpulan soal

guru yang hadir dalam rapat tidak dapat hadir sepenuhnya, dan soal yang

sudah dibagikan pada rapat tangal 17 Februari 2011 di titipkan pada guru

yang berasal satu lokasi, hal ini dikarenakan guru yang tidak hadir adalah

dari sekolah kecamatan dan SMA swasta .

Dari tidak hadirnya anggota sedikit-banyak mempengaruhi jalannya

program hal ini dikarenakan dalam pengeditan soal dibutuhkan kehadiran

guru dari semua sekolah yang ada di kabupaten Rembang, baik yang

bersataus RSKM, SKM, RSBI, dan SBI. Karena guru yang mengajar di

SMA kecamatan akan memberikan masukan tentang materi yang sesuai

dengan kemampuan peserta didiknya, begitu pula dengan guru yang

mengajar di SMA kabupaten akan menyamakan materi yang ada.

Sehingga, tidak terjadi kesenjangan soal yang mudah bagi peserta didik di

kabupaten dan soal yang sulit bagi peserta didik di kecamatan.

Data yang peneliti peroleh melalui studi dokumen yaitu Susunan

Kepengurusan MGMP periode 2009-2011 dengan daftar guru sejarah tidak

sama yaitu dari susunan pengurus dan anggota MGMP yang terdaftar

hanya 21 orang, padahal data dari daftar guru sebanyak 24 orang.

Kesalahan dalam penentuan jumlah ini akan mempengaruhi kinerja

program MGMP, hal ini ternyata disebabkan oleh pendataan dari SMA

swasta yang guru sejarahnya berasal dari bukan lulusan sejarah dan sering
89

berganti. Pada Pengurus MGMP juga kesulitan dalam menghubungi guru

sejarah yang mengajar di SMA swasta tersebut karena guru yang mengajar

sejarah selalu berbeda-beda tiap tahun.

Data obeservasi menunjukan manajemen MGMP belum berfungsi

secara optimal, dan akan mempengaruhi program kerja MGMP yang

sudah signifikan dan sesuai dengan kebutuhan guru, misalnya saja dalam

rapat pengeditan soal ujian yang tidak sepenuhnya hadir serta pengadaan

seminar kartini yang direncanakan pada bulan April ternyata tidak

terlaksana yang terbentur oleh waktu dan kesibukan dari masing-masing

anggota.

Data dari hasil wawancara terdapat permasalahan yang dihadapi oleh

MGMP saat ini adalah pada masalah pendanaan hal ini dikarenakan dalam

suatu pelaksanaan program kegiatan maka untuk melaksanakan program

tersebut pastilah harus didukung oleh dana akan tetapi pada saat ini dana

yang terkumpul pada kas bendahara MGMP tidak mencukupi untuk

pelaksaan program yaitu dalam program studi lapangan situs sejarah.

Program studi lapangan situs sejarah ini meskipun pada periode ini sudah

berjalan yaitu di musium Plawangan Kragan dan Terjan di Lasem akan

tetapi pelaksanaan kegiatan ini adalah merupakan gabungan dari kegiatan

MGMP dengan MSI Rembang.

Rendahnya perhatian dan kontribusi pemerintah daerah melalui dinas

pendidikan terkait terhadap program dan kegiatan MGMP masih dirasakan

kurang, meskipun terdapat beberapa program yang ada di dinas melalui


90

pengawas dengan kegiatan kunjungan kelas terutama guru yang sudah

tersertifikasi namun pelaksanaan kegiatan tersebut masih belum optimal.

Misalnya dalam pelaksanaan pelatihan, seminar atau workshop dari dinas

langsung menunjuk sekolah bukan diserahkan kepada MGMP.

Pengawasan dari KSKO terhadap program kerja MGMP selama ini masih

kurang, dalam rapat yang sering dilakukan MGMP selama ini KSKO

jarang melakukan pengawasan dan mengikuti program.

Dana pendukung operasional MGMP juga kurang memadai, dalam

pelaksanaan program sampai saat ini MGMP kurang dalam dana, dari

pemerintah provinsi pada tahun 2004 MGMP pernah mendapatkan dana

akan tetapi sampai saat ini MGMP belum mendapatkan bantuan dana lagi,

berbeda dengan MGMP pada mata pelajaran yang diujian nasionalkan

akan mendapatkan bantuan dan perlakuan yang khusus seperti dana Block

Grant.

Block Grant adalah sejumlah dana yang diberikan oleh Pusat

Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan

(PPPPTK), Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan,

Depdiknas kepada forum KKG dan MGMP sebagai bantuan

mengembangkan kompetensi guru dalam bentuk pendidikan dan pelatihan.

Pihak sekolah yang ikut andil dalam pengembangan guru yang

bermutu untuk menjadi guru yang profesional mengalokasikan dana buat

guru untuk mengikuti MGMP dalam RAPBS, RAPBS ini masing-masing

guru bidang studi akan mendapatkan bantuan uang transportasi dalam


91

mengikuti MGMP dalam pemberian dana tersebut diambil jarak antara

sekolah dengan lokasi tujuan dari pertemuan MGMP. Dalam RAPBS ini

sekolah tidak mungkin memberikan dana seminggu sekali dalam

pertemuan MGMP hal ini dikarenakan sekolah menangung paling sedikit

empat belas mata pelajaran yang masing-masing guru akan mengikuti

MGMP untuk itu biasanya guru melakukan pertemuan MGMP minimal

enam kali dalam semester, pertemuan minimal ini tidak hanya dari MGMP

sejarah saja akan tetapi pada umumnya MGMP lain juga pelaksanaannya

seperti itu (Wawancara dengan Slamet Riyanto Tanggal 16 Mei 2011).

Permasalahan lain selain dana yaitu dari anggota MGMP sendiri

kurangnya pemahaman guru sejarah terhadap silabus, silabus merupakan

hal terpenting yang harus dikuasi guru dalam pelaksanaan KBM, guru

seharusnya dapat menguasai perangkat pembelajaran yang terdiri dari

Silabus, RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), Promes-Prota, Kaldik

dan KKM (kriteria ketuntasan minimal). Karena sebagian besar guru

sejarah kurang memahami silabus maka pengurus dalam program kerja

MGMP mementingkan tentang pembahasan silabus hal ini dikarenakan

dari silabus ini nanti masing-masing guru dapat megembangkan menjadi

RPP yang harus disesuaikan dengan kondisi sekolah oleh karena itu guru

harus paham terlebih dahulu terhadap silabus sebelum membuat RPP.

Pelaksanaan pemahaman silabus ini sudah terlaksana pada awal semester

tahun ajaran baru kemudian disusul dengan pelaksanaan program

pembuatan perangkat KBM.


92

Anggota MGMP Sejarah tidak hanya dari lulusan sejarah saja terdapat

lima anggota yang berasal dari bukan lulusan sejarah yaitu dari PKN,

sosiologi dan geografi. Keberadaan guru yang bukan dari lulusan sejarah

ini yang menjadi masalah sendiri terhadap MGMP, yaitu MGMP

mempunyai kewajiban untuk dapat mengadakan pemberdayaan materi

sehingga guru yang bersangkutan dapat memahami materi yang

bersangkutan. Untuk itu, salah satu kegiatan yang dapat dilakukan MGMP

yaitu dengan melaksanakan program studi lapangan situs sejarah hal ini

dikarenakan dengan studi lapangan guru yang bukan lulusan sejarah dapat

belajar dan mengerti secara langsung tentang sejarah yang pada akhirnya

guru dapat memahami materi yang ada kepada peserta didik.

Guru yang mengajar mata pelajaran sejarah bukan dari lulusan sejarah

biasanya berasal dari SMA swasta hal ini di karenakan mata pelajaran

sejarah termasuk kedalam mata pelajaran yang mudah yang tidak di ujian

nasionalkan sehingga banyak yang mengisi mata pelajaran tersebut bukan

dari lulusan sejarah, dari tidak menetapnya yang mengajar mata pelajaran

sejarah ini sehingga biasanya guru yang mengajar selalu berganti-ganti

tiap tahun, hal ini yang terkadang membuat pengurus MGMP kesulitan

dalam berkomunikasi dan mendata anggota sejarah MGMP. Selain itu,

letak sekolahan di kecamatan dan di pertemuan MGMP di sekolah

kabupaten cukup jauh sehingga terkadang membuat guru yang mengajar di

sekolahan kecamatan jarang mengikuti pertemuan MGMP ini.


93

Sebagai guru sejarah sepatutnya guru mempunyai banyak referensi

buku hal ini dikarenakan guru dapat dengan mudah menjelaskan materi

kepada peserta didik tanpa terpangku satu buku saja akan tetapi dari

sumber yang ada dilapangan terdapat beberapa materi yang perlu

diseragamkan sekabupaten Rembang agar materi yang diajarkan pada

semua sekolah sama karena pada pelaksanaan evaluasi SMA sekabupaten

Rembang sama, untuk itu dalam mengatasi kekurangan bahan atau

referensi maka di buat modul. Pelaksanaan program kerja pembuatan

modul ini baru berjalan (Wawancara dengan Gina Santosa, Tanggal 29

April 2011).

Dari hasil observasi dan wawancara, peneliti mengambil kesimpulan

bahwa:

1. Sumber belajar dan dana, mengalami keterbatasan dan bila tidak

memperoleh blockgrant atau bantuan dana dari pemerintah provinsi

maupun kabupaten dan dari dinas sehingga tidak mampu

mengadakan sumber belajar dan kegiatan lainnya.

2. Terdapat beberapa etos kerja guru yang bersangkutan memang

rendah, sehingga tidak berniat untuk mengembangkan hasilnya

yang diperoleh melalui kegiatan program kerja MGMP.

3. Rendahnya perhatian dan kontribusi pemerintah daerah melalui

dinas pendidikan terkait terhadap program dan kegiatan MGMP

masih dirasakan kurang.


94

D. Tanggapan Guru Sejarah Terhadap Fungsi MGMP Sejarah

Kabupaten Rembang

MGMP mempunyai peran yang sangat vital bagi perkembangan

kompetensi guru untuk menjadi guru profesionalisme hal ini dapat dilihat

dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti, guru yang tergabung dalam

MGMP sebagian besar menilai MGMP yang diikuti pada saat ini

memberikan kontribusi secara langsung maupun tidak langsung kepada

guru dalam hal peningkatan profesionalisme. Penilain-penilain yang

diberikan guru terhadap MGMP sangatlah bagus meskipun pada faktanya

terdapat beberapa kekurangan dan kendala menyebabkan MGMP yang

seharusnya menjadi wadah yang dapat dijadikan tempat peningkatan

kompetensi guru secara maksimal namun belum begitu bekerja secara

efektif. Melalaui wawancara, maka data yang didapat adalah sebagai

berikut :

Kegiatan pelaksanaan program MGMP yang sudah berjalan hampir

selesai dan kesesuaian antara program yang signifikan sesuai dengan

kebutuhan guru menyebabkan keberadaanya bermanfaat bagi guru, banyak

kegiatan dan informasi yang baru yang didapatkan guru dalam mengikuti

MGMP. Seperti guru dapat memahami dan mengerti silabus dengan

mengikuti rapat yang menjadi program kerja utama MGMP.

Guru yang bukan dari lulusan sejarah mendapatkan ilmu yang

bermanfaat melalui MGMP karena dapat mendapatkan informasi, materi

yang dianggap sulit bagi guru bukan lulusan sejarah seperti materi pra-
95

sejarah, kerajaan hindu-budha dibahas pada pertemuan ini, serta dapat

diperoleh melalui kegiatan studi lapangan situs sejarah (Wawancara

dengan Kasni, Tanggal 7 Mei 2011).

Manfaat mengikuti MGMP juga dirasakan oleh guru yang berasal dari

lulusan sejarah, karena diwadah tersebut guru dapat mendiskusikan

permasalahan yang dihadapi dan dialami oleh guru dalam melaksanakan

tugas sehari-hari dan mencari solusi alternatif pemecahannya, guru,

kondisi sekolah, dan lingkungannya; guru juga dapat memperoleh

informasi teknis edukatif yang berkaitan dengan kegiatan ilmu

pengetahuan dan teknologi, kegiatan kurikulum, metodologi, dan sistem

pengujian; guru dapat saling berbagi informasi dan pengalaman dari hasil

lokakarya, simposium, seminar, dan diklat (Wawancara dengan Dwi

Hastutik, Tanggal 7 Mei 2011).

Kebijakan lain dari dinas yaitu pemahaman guru terhadap Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang SNP

(Standar Nasional Pendidikan) yang mencangkup delapan lingkup.

Dengan kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah dalam peningkatkan

mutu pendidikan ini, guru dapat memperolehnya dari mengikuti wadah

MGMP. Akan tetapi pertemuan yang jarang dilakukan yang minimal enam

kali dilakukan dalam setahun berkaitan dengan dana RAPBS.

Program pemerintah yang sudah berjalan hingga tahun 2010 ini

berkaitan dengan sertifikat pendidik diperoleh melalui sertifikasi, dan

sertifikasi ini melalui penilaian portofolio. MGMP mempunyai peranan


96

dalam penilaian portofolio tersebut yaitu dalam pengembangan

kompetensi guru serta mendukung guru dalam proses sertifikasi.


BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Upaya-upaya Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah

dalam pengembangan kompetensi profesional guru Sejarah di Kabupaten

Rembang, dari hasil penelitian menyimpulkan bahwa di dalam wadah ini

guru mendapatkan pengetahuan dan ilmu selain dari workshop, seminar,

dan pelatihan dari dinas yaitu:

1. Dalam pemecahan persoalan keseharian mengenai tugas guru mengajar

dan penyiapan bahan ajar apa yang harus dibuat dan diberikan pada

peserta didik. MGMP menjadi sarana yang dapat memerankan fungsi

dan peranannya selama ini secara efektif karena MGMP mempunyai

program kerja yang di buat oleh pengurus secara signifikan dan sesuai

dengan kebutuhan guru. Program tersebut yaitu pembahasan silabus,

pembuatan perangkat KBM, Pembuatan Modul, pembuatan soal

semester, studi lapangan situs sejarah, pembuatan VCD pembelajaran.

2. Kerja sama yang dilakukan oleh MGMP dengan MSI (Masyarakat

Sejarawan Indonesia) komisariat Rembang, menambah wawasan dan

manfaat yang sangat baik bagi anggota MGMP dengan berjalanya

program yang pernah dilaksanakan yaitu Seminar serta rencana

pendirian museum Bahari di Rembang.

3. Sertifikasi guru dalam jabatan melalui penilain portofolio, MGMP

mempunyai peranan, yaitu MGMP dapat memberikan surat keterangan

97
98

bagi anggota untuk (PAK) Penetapan Angka Kredit. Selain itu MGMP

juga dapat dimasukan unsur C pada aspek pengalaman berorganisasi

dibidang pendidikan dan sosial.

Kendala-kendala Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

dalam pengembangan kompetensi profesional guru Sejarah di kabupaten

Rembang, dari hasil penelitian maka peneliti menyimpulkan bahwa:

4. Terdapat beberapa etos kerja guru yang bersangkutan memang

rendah, sehingga tidak berniat untuk mengembangkan hasilnya

yang diperoleh melalui kegiatan program kerja MGMP.

5. SMA Swasta yang guru sejarahnya berasal dari bukan lulusan

sejarah menjadi permasalahan terhadap MGMP hal ini dikarenakan

apabila MGMP akan mengadakan rapat dan pembahasan

pelaksanaan program kerja, maka pemberitauan kepada guru

swasta akan kesulitan, padahal dalam pelajaran sejarah, materi serta

evaluasinya disamakan.

6. Kurangnya pengawasan dari KSKO kepada MGMP membuat

kinerja MGMP seolah bekerja sendiri tanpa di perhatikan oleh

dinas serta kurang diberdayakannya eksistensi MGMP oleh para

pemangku kepentingan stakeholder dalam peningkatan mutu

pembelajaran yang akan berdampak positif terhadap peningkatan

proses belajar mengajar di dalam kelas serta peningkatan mutu

pendidikan nasional secara luas.

7. Dana pendukung operasional MGMP yang kurang memadai.


99

Tanggapan guru Sejarah terhadap fungsi MGMP Sejarah

kabupaten Rembang, setelah melakukan penelitian peneliti

menyimpulkan:

1. Bahwa MGMP sangat membantu guru dalam mewujudkan proses

pembelajaran yang dapat mengubah ranah psikologis siswa (guru

melalui rapat MGMP menciptakan ide-ide baru dalam menciptakan

iklim belajar dan pembelajaran yang aman, nyaman, tenang, dan

menyenangkan), yang mampu menumbuhkan semangat, serta motivasi

belajar peserta didik sehingga dapat membentuk kompetensi dan

mengembangkan dirinya secara optimal.

2. Dalam MGMP pula guru dapat memperoleh jalan keluar terkait

permasalahan dengan implementasi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan).

B. Saran

Permasalahan yang terjadi di lapangan dalam pelaksanaan program

kerja yaitu :

1. Dana selama ini MGMP sudah dapat menanganinya dengan berbagai

cara yang cukup kreatif seperti pembuatan VCD pembelajaran yang

dijual kepada masing-masing sekolah namun untuk pelaksanaan

program masih belum mencukupi. Seharusnya dari pihak dinas selain

memberikan bantuan dalam bentuk pelatihan, workshop, dan seminar.

Dinas juga memberikan bantuan dalam bentuk dana guna menunjang

keberhasilan program MGMP.


100

2. Seharusnya ada pengawasan yang lebih ketat dari dinas kepada KSKO

sehingga KSKO dapat menjalankan tugasnya sebagai koordinasi yang

baik bagi MGMP Sejarah di Kabupaten Rembang serta penyamaan

perlakuan dari Dinas terkait pada mata pelajaran yang diujiankan

nasionalkan dengan mata pelajaran yang tidak diujian nasionalkan.

3. Program kerja MGMP yang sudah sesuai dengan kebutuhan guru pada

SMA Kabupaten Rembang harus didukung oleh manajemen yang baik,

karena tidak akan berjalan sukses apabila suatu program kurang dalam

manajemennya.

4. Dukungan dari kepala sekolah yang dapat ikut memantau keaktifan

gurunya.

5. Guru yang memiliki etos kerja rendah dapat saling diingatkan oleh

anggota MGMP lain karena sudah kenal lama dan sudah akrab.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Undang-Undang Guru dan Dosen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arifin, Anwar. 2007. Profil Baru Guru dan Dosen Indonesia. Jakarta: Pustaka
Indonesia.

Aqib, Zainal dan Elham Rohmanto. 2008. Membangun Profesionalisme Guru dan
Pengawas Sekolah. Bandung: CV Yrama Widya.

Danim, Sudarwan. 2002. INOVASI PENDIDIKAN Dalam Upaya Peningkatan


Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.

Hamalik, Oemar. 2004. PENDIDIKAN GURU Berdasarkan Pendekatan


Kompetensi. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Kartodirjdo, Sartono. 1990 Fungsi Sejarah Dalam Pembangunan Bangsa,


Kesadaran Sejarah, Identitas dan Kepribadian Nasional. Makalah
disajikan dalam seminar sejaran nasional V. Semarang 27 Agustus.

Kasmadi, Hartono. 1996. Model-Model dalam Pengajaran Sejarah. Semarang:


IKIP Semarang Press.

Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: PT Benteng Pustaka.

Majid, Abdul 2009. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar


Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Masrukhan. 2010. Pemberdayaan KKG dan MGMP. Workshop Pengembangan


Model Evaluasi Pasca sertifikasi Guru dalam jabatan (SMA/SMK)
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010.

Miles,Mattew dan Huberman, A.Michael. 2009. Analisis data kualitatif. Buku


sumber tentang metode-metode baru. Penerjemah Tjejep Rohendi Rohidi.
Jakarta: UI Press.

Moleong, Leky J. 2002. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosda Karya.

Mulyasa, E. 2008. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


Kemandirian guru dan kepala sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.

. a. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung : PT Remaja


Rosdakarya.

101
102

. b. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT Remaja


Rosdakarya.

Saondi, Ondi dan Aris Suherman. 2010. Etika Profesi Keguruan. Bandung: PT
Refika Aditama.

Sa’ud, Udin Syaefudin. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: CV


ALFABETA.

Sholeh, Asrorun Ni’am. 2006. MEMBANGUN PROFESIONALITAS GURU


Analisis Kronologis atas lahirnya UU Guru dan Dosen. Jakarta: elSAS
Jakarta.

Soetjipto dan Raflis, Kosasi. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta.

Sugiono. 2008. Metode Penelitian Kuantitafif, Kualitatif, R&D. Bandung:


(alfabeta)

Suharsini, Arikunto. 2002. Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktek.


Jakarta: Rineka Cipta.

Sukmadinata, N. S. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Supriadi, Dedi. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Mitra
Gama Widya.

Supriyono, Danang. 2009. Pengaruh Kompetensi Guuru Sejarah Dalam


Memanfaatkan Sumber Dan Media Belajar Pada Kualitas Pembelajaran
Siswa Kelas X Di Sma N Kabupaten Jepara Tahun Ajaran 2008/2009.
Skripsi.Semarang: Fakultas Ilmu Sosial UNNES.

Sutopo, H. B. 2006. Metodelogi penelitian kualitatif dasar teori dan terapanya


dalam penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Tim Penyusun KBBI. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka.

Uno, Hamzah. 2008. Profesi Kependidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Usman,Uzer. 2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja


Rosdakarya.

Widja, I Gde. 1989. Dasar-dasar Pengembangan Strategi serta Metode


Pengajaran Sejarah. Jakarta : DEPDIKBUD.
103

Widodo, Tri. 2009. Praksis Pelaksanaan sejarah kontroversial dan Peran MGMP
dalam mengatasi Permasalahan Pembelajaran Sejarah Kontroversial.
Makalah disajian dalam seminar nasional di Universitas Sebelas Maret
Surakata 28 Mei.

Ysh, Soegeng dan Retnaningdyastuti. 2010. Pendidikan dan Pelatihan Profesi


Guru (PLPG) Sertifikasi Guru Dalam Jabatan. Semarang : IKIP

Zulacchah. 2006. Peran MGMP dalam meningkatkan Profesionalisme Guru


Sejarah (Studi Kasus pada MGMP Sejarah Kabupaten Kendal). Skripsi.
Semarang: Fakultas Ilmu Sosial UNNES.

Efendi, Arif. 2009. MGMP Sebuah Wadah Yang Sering Kosong Berisi?. http://re-
searchengines.com/art05-14.html, (diunduh pada tanggal 3 Juni 2010, jam
15.09).

Sundiawan, Awan. 2008. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK SKM/SSN


http://hartoyo.wordpress.com/category/seminar-articles/seminar-depag-
jateng, (diunduh pada tanggal 7 Juni 2011, jam 15. 09 Wib).

Hartoyo. 2009. MENGGAGAS MADRASAH ALIYAH BERTARAF


INTERNASIONAL. http://awan965.wordpress.com/2008/11/19/pengertian-
dan-karakteristik-skmss, (diunduh pada tanggal 7 Juni 2011, jam 14. 56
Wib)
104
104
105
106
107
108
109
110
111

111
112
113
114
115
116
117

Instrumen Penelitian
Pedoman Observasi

No Jenis Data yang di Observasi Keterangan


1. Keadaan guru
a. Jumlah guru sejarah SMA kab. Rembang
b. Penampilan guru pada saat mengikuti rapat
MGMP Sejarah SMA kab. Rembang
c. Aktivitas guru Sejarah pada saat mengikuti
rapat MGMP Sejarah SMA kab. Rembang
d. Situasi dan Kondisi pada saat rapat MGMP
Sejarah SMA kab. Rembang
2. Interaksi-Sosial
a. Ketua-Pengurus
b. Ketua-Anggota
c. Pengurus-Anggota
d. Pengurus-Pengurus
e. Anggota-Anggota
3. Struktur Organisasi, Keanggotaan, Jenis Kegiatan
dan Pendanaan MGMP Sejarah SMA kab. Rembang
Meliputi :
a. Struktur Organisasi
b. Keanggotaan
c. Jenis Kegiatan
d. Pendanaan
118

Instrumen Penelitian
Pedoman Wawancara I

Informan/responden dalam penelitian ini adalah Ketua MGMP Sejarah SMA kab.
Rembang
Identitas Informan/Responden
Nama :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Pekerjaan :
Pertanyaan untuk Ketua MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang:
1. Bagaimanakah sejarah perkembangan MGMP Sejarah SMA Kab.
Rembang?
2. Apakah Visi-Misi MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang?

3. Apakah tujuan MGMP Sejarah Kab. Rembang?

4. Apakah fungsi MGMP Sejarah kab. Rembang?

5. Bagaimanakah struktur dan keanggotaan organisasi MGMP Sejarah SMA


Kab. Rembang?

6. Bagaimanakah Kegiatan MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang?

7. Bagaimankah pendanaan MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang?

8. Apakah Permasalahan-permasalahan MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang


dalam meningkatkan kompetensi profesionalisme guru sejarah?
9. Bagaimanakah solusi yang diberikan MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang
dalam meningkatkan kompetensi profesionalisme guru sejarah?
119

Instrumen Penelitian
Pedoman Wawancara II

Informan/responden dalam penelitian adalah guru Sejarah SMA Kab. Rembang


Identitas Informan/Responden
Nama :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Pekerjaan :
Pertanyaan untuk guru Sejarah SMA Kab. Rembang :
1. Apakah MGMP berperan membantu guru Sejarah dalam mengatasi
permasalahan yang di hadapi guru di kelas?

2. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam membahas perangkat


pembelajaran?

3. Bagaimanakah solusi yang diberikan MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang


dalam meningkatkan profesionalisme guru sejarah?

4. Bagaimana saran dan kritik Bapak/Ibu guru untuk kemajuan MGMP?


120

Instrumen Penelitian
Pedoman Wawancara III

Informan/responden dalam penelitian adalah pengurus MGMP Sejarah SMA Kab.


Rembang
Identitas Informan/Responden
Nama :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Pekerjaan :
Pertanyaan untuk guru Sejarah SMA Kab. Rembang:
1. Bagaimana kondisi (Kompetensi dan kualitas) guru Sejarah sebelum mengikuti
MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang?

2. Apakah permasalahan-permasalahan MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang


dalam meningkatkan profesionalisme guru Sejarah?

3. Bagaimana solusi MGMP Sejarah SMA Kab. Rembang dalam meningkatkan


kompetensi profesionalisme guru Sejarah?

4. Bagaimana mutu profesi guru Sejarah di Kab. Rembang setelah mengikuti


MGMP Sejarah SMA di Kab. Rembang?
121

Instrumen Penelitian
Pedoman Wawancara IV

Informan/responden dalam penelitian adalah Dinas Pendidikan Kabupaten


Rembang
Identitas Informan/Responden
Nama :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Pekerjaan :
Pertanyaan untuk anggota Dinas Kab. Rembang :
1. Apakah Dinas pendidikan ikut Campur dalam Program Kerja MGMP?
2. Adakah perbedaan perlakuan terhadap MGMP Mata Pelajaran yang di
UAN-kan dengan MGMP yang tidak di UAN-kan?
3. Pernakah Dinas Pendidikan mengadakan workshop dan pelatihan dengan
peningkatan profesi guru?
122

Instrumen Penelitian
Pedoman Wawancara V

Informan/ responden dalam penelitian adalah Ketua MGMP IPS SMP Kabupaten
Rembang
Identitas Informan/Responden
Nama :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Pekerjaan :
Pertanyaan untuk anggota Dinas Kab. Rembang :
1. Kerjasama yang dilakukan MGMP Sejarah SMA dengan MSI berupa apa
saja?
2. Adakah kegiatan yang berkaitan dengan pengembangkan kompetensi guru
dalam kegiantan MSI?
123

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL (FIS)
Kampus Sekaran Gunungpati Gedung C7, Telp./Fax.(024)
8508006, Semarang

Nomor :- 14 Maret 2011


Lamp : 1 Lembar Kuesioner
Hal : Permohonan ijin Pengisian Kuesioner

Yth. Guru Sejarah SMA


Kabupaten Rembang

Dengan hormat,
Bersama ini, saya mohon ijin melaksanaan penelitian untuk menyusun skripsi
sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan Sejarah di UNNES
dengan judul :

“ PERAN MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) DALAM


PENGEMBANGAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU SEJARAH PADA
SMA DI KABUPATEN REMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011”

Sehubungan dengan hal tersebut, saya mohon agar Bapak/Ibu guru bersedia
mengisi lembar kuesioner pada lampiran yang telah saya sediakan.

Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Nur Mutmainah
NIM.3101407007
124

LEMBAR ANGKET

Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
TTD :

Petunjuk pengisian:
1. Bacalah Pertanyaan berikut ini dengan baik dan benar.
2. Isilah Pertanyaan di bawah ini dengan singkat.

Pertanyaan :
1. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Menguasai hakikat
struktur keilmuan, ruang lingkup, dan objek Sejarah? (Alasan)

2. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Membedakan


pendekatan-pendekatan Sejarah? (Alasan)

3. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Menguasai materi


Sejarah secara luas dan mendalam? (Alasan)

4. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Menunjukkan manfaat


mata pelajaran Sejarah? (Alasan)

5. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Memahami standar


kompetensi mata pelajaran sejarah? (Alasan)

6. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Memahami kompetensi


dasar mata pelajaran sejarah? (Alasan)

7. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Memahami tujuan


pembelajaran sejarah? (Alasan)
125

8. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Memilih materi


pembelajaran yang diampu sesuai dengan tingkat perkembangan peserta
didik? (Alasan)

9. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Mengolah materi


pelajaran sejarah secara kreatif sesuai dengan tingkat perkembangan
peserta didik? (Alasan)

10. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Melakukan refleksi


terhadap kinerja sendiri secara terus menerus? (Alasan)

11. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Memanfaatkan hasil


refleksi dalam rangka peningkatan keprofesionalan? (Alasan)

12. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Melakukan penelitian


tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan? (Alasan)

13. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Mengikuti kemajuan


zaman dengan belajar dari berbagai sumber? (Alasan)

14. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Memanfaatkan


teknologi informasi dan komunikasi dalam berkomunikasi? (Alasan)

15. Apakah MGMP berperan membantu guru dalam Memanfaatkan


teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri? (Alasan)

Terima kasih
126
127

FOTO PENELITIAN
A. Studi lapangan situs Sejarah di Musium Plawangan Kragan dan Terjan di
Lasem
1) Studi lapangan di Musium Plawangan Kragan
Sumber : Dokumen MGMP Sejarah Kab. Rembang
128

2) Situs Megalithikum di Terjan

3) Seminar dan Napak Tilas Jejak Peninggalan Majapahit di Lasem Rembang


Sabtu (15/8/09)
B. Kegiatan MGMP di dalam ruangan

1) Pemanfaatan teknologi LCD dalam rapat MGMP


129

2) Pembagian kelompok dalam pembuatan soal semesteran

C. Teknik Pengumpulan Data

1) Observasi berperan pasif

2) Wawancara

Wawancara Kepada Pengurus MGMP

Wawancara kepada guru Sejarah (Kasni, S.Pd) yang bukan dari lulusan
Sejarah
130

Wawancara kepada guru Sejarah anggota MGMP