Anda di halaman 1dari 212
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN BEKASI MENURUT LAPANGAN USAHA (Gross Regional Domestic Product of Bekasi
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
KABUPATEN BEKASI
MENURUT LAPANGAN USAHA
(Gross Regional Domestic Product of Bekasi Region by Industrial Origin)
Domestic Product of Bekasi Region by Industrial Origin) BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BEKASI
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BEKASI TAHUN ANGGARAN 2010
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
KABUPATEN BEKASI
TAHUN ANGGARAN 2010

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN BEKASI MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN ANGGARAN 2010

(Gross Regional Domestic Product of Bekasi Region by Industrial Origin)
(Gross Regional Domestic Product
of Bekasi Region by Industrial Origin)

Nomor Publikasi/Publication Number : 3216.03

Ukuran Buku/Book Size : 21,0 x 29,7 cm

Jumlah Halaman/Number of Pages : x + 193 halaman/page

Naskah/Manuscript :

Anggota Tim Penyusun Buku Produk Domestik Regional Bruto

Penyunting/Editor :

Anggota Tim Penyusun Buku Produk Domestik Regional Bruto

Penerbit/publisher :

Bappeda

Dicetak oleh/printed by :

CV. VICHELLA PRATAMA MEDIA

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya.

Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Atas terselesainya buku Produk

Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Atas terselesainya buku Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bekasi Tahun Anggaran 2010. Kinerja perekonomian Kabupaten Bekasi selama lima tahun terakhir menunjukan peningkatan yang cukup berarti walaupun disela-sela tahun tersebut krisis global sempat mempengaruhi perekonomian khususnya pada sektor industri pengolahan (manufacturing). Fundamental ekonomi yang relatif stabil nampaknya tidak menggoyahkan perekonomian yang mengarah pada keterpurukan ekonomi. Disisi lain peningkatan kinerja ekonomi di Kabupaten Bekasi belum mampu memberikan kesejahteraan masyarakat ini tercermin dari masih tingginya angka pengangguran dan penduduk miskin sebagai akibat belum meratanya pembangunan ekonomi antar wilayah khususnya kecamatan di Kabupaten Bekasi. PDRB merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan wilayah (place prosperity), yang tidak identik dengan kesejahteraan masyarakat disuatu wilayah (people prosperity). Oleh karena itu berdasarkan data PDRB pemerintah daerah dapat melaksanakan langkah strategis pembangunan ekonomi untuk merumuskan kebijakan dalam upaya mendistribusikan potensi kesejahteraan yang dimiliki wilayah, menjadi kesejahteraan yang dapat dinikmati oleh masyarakat diseluruh wilayah. Pembuatan Publikasi PDRB Kabupaten Bekasi Tahun Anggaran 2010 dengan series data 2006-2009 menggunakan Tahun Dasar 2000, merupakan hasil kerja Tim Penyusun Buku PDRB Kabupaten Bekasi yang terdiri dari Bappeda, BPS dan Dinas terkait. Dengan menampilkan bentuk baru, PDRB Kabupaten Bekasi disempurnakan sesuai format yang lebih up to date. Namun demikian, kualitas data dari berbagai sumber terutama instansi pemerintah masih perlu disempurnakan dimasa mendatang untuk mensupport, sehingga publikasi ini dapat diterbitkan dengan data yang lebih akurat. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Bekasi,

September 2010

TIM PENYUSUN

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

i

Hal   Kata Pengantar ………………………………………………………………… i Daftar Isi

Hal

 

Kata Pengantar …………………………………………………………………

i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………

ii

Daftar Tabel ……………………………………………………………………….

iv

Daftar Gambar ……………………………………………………………………

vi

Ringkasan ………………………………………………………………………….

vii

BAB I

PENDAHULUAN………………….………………….……………………………

1

1.1. Latar Belakang…….……………………

1

1.2. Maksud dan Tujuan ………………………………………

4

1.3. Manfaat …………………………………………………………

5

1.4. Landasan Hukum ….……………………………………………

5

1.5. Ruang Lingkup ……………………………………………………………

6

1.6. Keluaran (Output) …………………………………………………………

6

BAB II

KONSEP DAN DEFINISI .………………….………………………………….

7

2.1.Produk Domestik Regional Bruto……………………………………

7

2.2.

Faktor Keterkaitan dan Keterbandingan…………………………

13

BAB III

METODOLOGI

3.1. Pelaksanaan Survei

15

3.2. Metode Penghitungan PDRB atas Dasar Harga Berlaku

16

3.3. Metode Penghitungan PDRB atas Dasar Harga Konstan

17

3.4. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)

19

3.5. Uraian Sektoral

22

3.6. Sektor Primer, Sekunder dan Tertier

36

3.7. Pengukuran Ketimpangan Wilayah (Indeks Williamson)

37

BAB IV

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009

39

4.1. Gambaran Umum Perekonomian Kabupaten Bekasi

39

4.2. Perkembangan Indikator Sosial-Ekonomi Kabupaten Bekasi Tahun 2009

40

4.3. Perekonomian Kabupaten Bekasi ditinjau dari PDRB…

44

4.4. Struktur Ekonomi Kabupaten Bekasi 2006-2009

50

4.5. PDRB perkapita dan Kesejahteraan Penduduk……

52

4.6. Tinjauan Sektor Industri di Kabupaten Bekasi……………

55

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

ii

4.7. Keuangan Daerah dan PDRB ………………………………………… 4.8. Perbandingan 26 Kabupaten/Kota Nilai PDRB Propinsi Jawa Barat Tahun 2009…………………………

4.9. PDRB kaitannya dengan lingkungan Hidup di Kabupaten Bekasi…………………………………………………

4.10. PDRB per Kecamatan di Kabupaten Bekasi ……

4.11. LPE Kecamatan di Kabupaten Bekasi ……………

4.12. Uraian Sektoral Potensi Ekonomi Kecamatan ………

4.13. PDRB perkapita Kecamatan……………………… 4.14. Ketimpangan Wilayah Kecamatan Berdasarkan Indeks Williamson di Kabupaten Bekasi

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ….……………………………………… 5.1 Kesimpulan………………………….………………………………………

…………………

5.2 Saran-saran/Rekomendasi……….………………

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN 1. TABEL-TABEL PDRB KABUPATEN BEKASI

LAMPIRAN 2. TABEL-TABEL PDRB KECAMATAN

60

62

63

64

70

73

78

81

87

87

89

91

92

101

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Indikator Sosial-Ekonomi Kabupaten Bekasi Tahun

41

 

2007-2009

Tabel 4.2. PDRB Kabupaten Bekasi Tahun 2005-2009 (Juta)

45

Tabel 4.3. PDRB Kabupaten Bekasi Menurut Sektor Tahun 2008-

47

 

2009

(Juta)

Tabel 4.4. Andil sektoral terhadap LPE Kabupaten Bekasi

49

Tabel 4.5 Peranan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten

51

Bekasi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Dalam Juta Rupiah/persen) Tabel 4.6. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Bekasi Tahun

52

20062009 (Atas Dasar Harga Berlaku dalam persen) Tabel 4.7. PDRB Perkapita Kabupaten Bekasi Tahun 2007-

53

 

2009.(Rupiah).

Tabel 4.8. Nilai Tambah tertinggi sektor Industri Besar Sedang di

2009

55

Provinsi di Jawa Barat Tahun 2009 Tabel 4.9. Nilai Tambah Bruto ADHK sektor Industri Besar

56

Sedang di Kabupaten Bekasi Tahun 2009 Tabel 4.10. Kawasan Industri di Kabupaten Bekasi

58

Tabel 4.11. Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri

59

Besar dan Sedang Menurut Kelompok Industri Tahun

Tabel 4.12. Nilai Ekspor Import Kabupaten Bekasi Tahun 2005-

60

 

2009

(US $)

Tabel 4.13. Pendapatan Daerah dan Pajak Serta Persentasenya

61

Tabel 4.14

Terhadap PDRB Tahun 2009 Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Terbesar di 26

2009

(Juta Rupiah)

62

Tabel 4.15

Kabupaten/kota di Jawa Barat Tahun 2009. (Juta) Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi Per

65

Kecamatan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-

Tabel 4.16. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto

68

Kabupaten Bekasi Per Kecamatan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2009 (Persen) Tabel 4.17. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi Per

69

Kecamatan Atas Dasar Harga Konstan 2000, Tahun 2007-2009 (Juta Rupiah) Tabel 4.18. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto

70

Kabupaten Bekasi Per Kecamatan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2007-2009 (Persen) Tabel 4.19. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi Per Kecamatan Atas Dasar Harga Konstan (LPE) Tahun 2007-2009 (Persen)

71

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

iv

Tabel 4.20. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto

72

Kabupaten Bekasi Per Kecamatan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2009 (Persen) Tabel 4.21 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Sektor Primer, Sekunder dan Tertier per Kecamatan di Kabupaten Bekasi Tahun 2009. (Juta)

74

Tabel 4.22. Hasil Analisis Kelompok (Cluster) Potensi Kecamatan Berdasarkan PDRB ADH Berlaku persektor Tahun

77

2009.

Tabel 4.23. PDRB Perkapita Kabupaten Bekasi Per Kecamatan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2009 (Rupiah)

78

Tabel 4.24. PDRB Perkapita Kabupaten Bekasi Per Kecamatan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2007-2009 (Rupiah)

79

Tabel 4.25. PDRB Perkapita Kabupaten Bekasi Per Kecamatan Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Industri Tahun 2009.

80

Tabel 4.26. Kriteria Tahapan Industrialisasi 82

Tabel 4.27. Indeks Williamson Menurut Wilayah Industri, Non

Industri dan antar Wilayah Kecamatan. Tabel 4.28. Indeks Williamson Menurut Wilayah Pengembangan 85

83

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1

Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), Inflasi, Pengangguran dan LPP Kabupaten Bekasi

42

Gambar 4.2

PDRB dan Laju PDRB Kabupaten Bekasi atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2006-2009 ……………………………………………

46

Gambar 4.3

Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Bekasi atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2009 …………………………………………

52

Gambar 4.4

Produk Domestik Regional Bruto Perkapita Kabupaten Bekasi Tahun 2006-2009 ………………………………………

54

Gambar 4.5

Peta Kontribusi PDRB Sektor Industri Terhadap PDRB Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 …………………………………

57

Gambar 4.6

Nilai Ekspor Import Kabupaten Bekasi Tahun 2004-2009

60

Gambar 4.7

(US $) ……………………………………………………………………… PDRB Kabupaten Bekasi atas Dasar Harga Berlaku Menurut Kecamatan Tahun 2009 …………

67

Gambar 4.8

Struktur Ekonomi Kecamatan Berdasarkan Sektor Primer, Sekunder dan Tertier Tahun 2009

75

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

vi

RINGKASAN

Akselerasi pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan terutama dalam periode 2005-2009 walaupun disela-sela tahun 2008 akhir dan 2009 krisis global sedikit menggoyahkan perekonomian namun tidak menjadikan keterpurukan ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1998. Akselerasi pertumbuhan ekonomi yang stabil ini didukung pula dengan makin seimbangnya sumber pertumbuhan ekonomi dimana investasi makin penting perannya, sementara konsumsi masyarakat tetap terjaga tinggi tingkat pertumbuhannya. Dengan keberhasilan menciptakan stabilitas ekonomi makro khususnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi serta pendapatan per kapita mengalami peningkatan. Krisis global yang terjadi pada tahun 2009 dan hingga kini masih dirasakan dampaknya walaupun tidak separah tahun 1998, hal ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi negara Indonesia relatif stabil yang didukung oleh kestabilan ekonomi didaerah. Peranan dunia usaha dan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mendorong ekonomi agar tetap tumbuh dalam kondisi krisis, sehingga usaha untuk mewujudkan akselerasi peningkatan kesejahteraan masyarakat tetap tercapai, oleh karena itu pelaksanaan pembangunan ekonomi harus diarahkan pada bidang-bidang yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khusus dibidang ekonomi, pembangunan harus lebih ditingkatkan secara bersamaan antara pertumbuhan ekonomi dengan upaya pemerataan pembangunan, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan daya beli yang pada akhirnya kesejahteraan suatu daerah dapat tercapai. Seiring dengan kondisi nasional, pergerakan ekonomi Kabupaten Bekasi Tahun 2009 yang diukur dengan beberapa indikator ekonomi, salah satunya adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bekasi masih memberikan harapan terhadap peluang berinvestasi maupun memberikan dampak nilai tambah ekonomi terhadap masyarakat. Walaupun pertumbuhan tahun 2009 tidak setinggi tahun 2008. Namun laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

vii

selama 5 tahun terakhir (2005-2009) memperlihatkan pertumbuhan diatas rata- rata nasional yaitu masih tumbuh 6 persen pertahun. Pertumbuhan ekonomi ditahun 2009 sebesar 5,04 persen, tidak setinggi pada tahun 2008 (6,07 persen). Faktor eksternal (krisis global) pada kondisi ditahun 2009 agaknya cukup mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ditahun 2009.

Sementara kontribusi sektor terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Bekasi pada tahun 2009, 77,58 persen diserap sektor industri, dan sebesar 9,44 persen diserap sektor perdagangan serta kontribusi terendah adalah sektor Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan yang hanya sebesar 1,31 persen. Seluruh sektor mengalami pertumbuhan yang positif

Dengan jumlah penduduk sebanyak 2.274.842 jiwa pada tahun 2009, PDRB perkapita ADH berlaku Kabupaten Bekasi tahun 2009 sebesar Rp. 39.129.204,30 hanya mengalami peningkatan sebesar 3,45 persen dibandingkan tahun 2008. Kendati demikian peningkatan PDRB perkapita diatas masih belum mengambarkan secara riil kenaikan daya beli masyarakat Kabupaten Bekasi secara umum. Secara riil tingginya nilai PDRB ADHB Kabupaten Bekasi disebabkan oleh peranan industri pengolahan yang ada di Kabupaten Bekasi dan ini tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat Kabupaten Bekasi atau hasil dari industri pengolahan kebanyakan diekspor, namun multiflier effect dari adanya industri cukup memberikan pengaruh perkembangan perekonomian terhadap daerah sekitarnya. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi sangat tergantung pada potensi dan kinerja perekonomian kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi. Nilai PDRB tertinggi tahun 2009 terdapat pada Kecamatan Cikarang Barat dengan nilai sebesar Rp. 18.079.474,25 Juta memberikan andil sebesar 20,25 persen terhadap total PDRB Kabupaten Bekasi, diikuti kecamatan Cikarang Utara yang memiliki kawasan Jababeka dengan nilai PDRB ADHB sebesar Rp. 17.950.053,80 juta (kontribusi 20,10 persen). Sementara terendah adalah kecamatan Bojongmangu dengan nilai PDRB Rp. 182.945,85 juta.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

viii

Indeks Williamson digunakan untuk melihat tingkat ketimpangan antar wilayah. Indeks williamson untuk klasifikasi non industrialisasi sebesar 0,17 angka ketimpangan kecil artinya pada kecamatan wilayah non industri lebih homogen dari sisi potensi dibandingkan daerah industri. Sementara ketimpangan antar wilayah semi-industri dan industrialisasi penuh masih besar yakni 0,41 artinya penyebaran wilayah potensi daerah industri juga relatif belum merata. Pada kelompok menuju proses industrialisasi share indeks williamson 0,53 artinya perbedaan ketimpang potensi wilayah ini lebih besar dibandingkan kedua wilayah yang telah disebutkan diatas. Dimungkinkan besarnya share indeks williamson pada kelompok ini adanya perbedaan (heterogen) potensi wilayah kecamatan seperti adanya minyak bumi di kecamatan Babelan, industri serta adanya daerah pertanian.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

ix

PETA WILAYAH KABUPATEN BEKASI

Laut Jawa Kabupaten Karawang DKI Jakarta Kota Bekasi Kabupaten Karawang Kabupaten Bogor
Laut Jawa
Kabupaten Karawang
DKI
Jakarta
Kota Bekasi
Kabupaten Karawang
Kabupaten Bogor

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

x

BAB I PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

1

1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi sekarang ini, faktor internal dan eksternal sangat mempengaruhi perekonomian suatu negara. Faktor internal antara lain adalah stabilitas sosial politik; efektifitas pengelolaan keuangan maupun pelaku bisnis; efisiensi proses produksi, distribusi dan transaksi; serta keberhasilan proses

otonomi dan desentralisasi. Sedangkan faktor eksternal antara lain kondisi dan pertumbuhan ekonomi negara-negara partner dagang Indonesia, khususnya AS, Jepang, Eropa, dan negara-negara tetangga; kebijakan moneter internasional; penanaman modal asing; serta konflik politik di wilayah negara- negara penghasil minyak maupun komoditas penting perdagangan dunia. Sebagai daerah dengan basis industri dan merupakan salah satu daerah yang memberikan kontribusi industri nasional, Kabupaten Bekasi tidak luput dari dampak eksternal (krisis global) serta akan dibukanya kran kerjasama

AFTA/ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement). yang berimbas pada

masuknya produk luar khususnya China dan Negara-negara di Asean. Krisis global yang terjadi pada tahun 2008 dan hingga kini masih dirasakan dampaknya walaupun tidak sedahsyat tahun 1998, ini menunjukkan fundamental ekonomi negara Indonesia relatif stabil dan ini harus didukung oleh kestabilan ekonomi didaerah. Oleh karena itu peranan dunia usaha dan pemerintah daerah sangatlah diperlukan dalam mendorong ekonomi agar tetap tumbuh dalam kondisi krisis. Sehingga usaha untuk mewujudkan akselerasi peningkatan kesejahteraan masyarakat tetap tercapai, oleh karena itu pelaksanaan pembangunan ekonomi harus diarahkan pada bidang-bidang yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khusus dibidang ekonomi, pembangunan harus lebih ditingkatkan secara bersamaan antara pertumbuhan ekonomi dengan upaya pemerataan pembangunan, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan daya beli yang pada akhirnya kesejahteraan disuatu daerah dapat tercapai.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

1

Selama 4 tahun terakhir laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi rata-rata lebih dari 6 persen pertahun, walaupun ditahun 2009 mengalami perlambatan pertumbuhan namun masih diatas 5 persen. sinyal ini menandakan kinerja perekonomian Kabupaten Bekasi menunjukkan eksistensinya yang stabil dan cenderung meningkat dengan pertumbuhan yang positif walaupun diterpa krisis global. Disisi lain perkembangan perekonomian ternyata belum mampu meningkatkan kinerja sektor riil secara keseluruhan terutama sektor pertanian. Hal ini terlihat dari kinerja sektor tersebut yang tumbuh relatif kecil. Bahkan sektor penggalian mengalami pertumbuhan negatif. Sangat dimaklumi bahwa ekplorasi ketersediaan sumber daya alam (SDA) secara langsung semakin menipis serta kesadaran akan pentingnya melestarikan SDA semakin meningkat sehingga pengambilan SDA sangat selektif untuk mencegah kerusakan alam. Esensi suatu proses pembangunan adalah terciptanya pembangunan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang lebih merata, baik secara kuantitas yaitu perubahan dalam bentuk sejumlah angka/bilangan maupun kualitas yaitu perubahan dalam bentuk berwujud (in kind) pada struktur/tatanan kehidupan. Sementara pembangunan saat ini tidak terlepas dari berbagai macam kendala yang perlu diantisipasi, untuk mengantisipasi berbagai macam kendala tersebut dan mendukung Renstra Pembangunan Kabupaten Bekasi, kebijaksanaan pembangunan ekonomi yang diambil perlu dievaluasi dan diukur hasil dan implikasinya pada masyarakat.

dan diukur hasil dan implikasinya pada masyarakat. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

2

Disisi lain peningkatan kemajuan ekonomi suatu daerah sangat tergantung dari aktifitas/kinerja ekonomi para stakeholder, sebagai pelaku ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan peran/kinerja pemerintah sebagai penentu kebijakan serta pengaruh kinerja sosial dan lingkungan yang semuanya bersinergi membentuk kinerja pembangunan. Gambaran ini merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya untuk mengukur kinerja pembangunan daerah tersebut perlu disusun indikator-indikator yang telah ditetapkan untuk selanjutnya diuji dan dianalisa serta dievaluasi dari kondisi indikator tersebut. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator makro ekonomi yang digunakan untuk mengukur kinerja perekonomian daerah yang turunannya adalah laju pertumbuhan ekonomi ataupun pendapatan perkapita. Dengan demikian data PDRB merupakan ukuran kuantitas sangat diperlukan untuk memberikan gambaran tentang keadaan masa lalu, sekarang dan sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tingkat regional adalah salah satu indikator ekonomi yang menggambarkan kemampuan suatu wilayah untuk menciptakan output (nilai tambah) pada suatu waktu tertentu yang diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat diwilayah tersebut. Secara sederhana untuk mendapatkan nilai PDRB yaitu dengan cara mengalikan produksi misalnya dalam sektor pertanian produksi padi dikalikan dengan harga lalu dikurangkan dengan biaya antara (biaya yang dikeluarkan hingga mendapatkan gabah/padi) nilai ini menjadi nilai tambah padi pada PDRB. Sehingga pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah nilai barang dan jasa yang diproduksi/dihasilkan pada suatu wilayah pada jangka waktu tertentu. PDRB atas dasar Harga konstan digunakan sebagai dasar dalam penghitungan laju pertumbuhan ekonomi, karena harga konstan pada tahun tertentu merupakan riil peningkatan produksi atau output. Sementara pada sisi PDRB atas dasar harga berlaku menggunakan struktur harga pada tahun berjalan yang menunjukan peningkatan produksi/output yang dipengaruhi oleh harga pada tahun berjalan.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

3

Kabupaten Bekasi terdiri dari beberapa kecamatan, yang memiliki karakteristik dan potensi yang beragam, diperlukan indikator yang tidak hanya dapat menggambarkan potensi kabupaten secara menyeluruh, tetapi juga dapat menggambarkan dinamika dan potensi setiap kecamatan. Hal ini menjadi perlu agar perencanaan pembangunan yang dibuat lebih akurat, terarah dan spesifik untuk masing-masing kecamatan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. PDRB suatu kabupaten merupakan input yang sangat penting dalam perencanaan pembangunan, karena PDRB menggambarkan berbagai potensi ekonomi kabupaten atau kecamatan sesuai dengan sektor andalannya. Hal ini mempermudah penentu kebijakan pembangunan dalam pencapaian sasaran berupa : peningkatan pendapatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

1.2. Maksud dan Tujuan

Perencanaan pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara luas, interpretasi kesejahteraan masyarakat adalah peningkatan kualitas hidup, pembagian distribusi pendapatan yang merata, perluasan kesempatan kerja dan pergeseran aktivitas sektoral perekonomian.

Untuk menggambarkan kesejahteraan masyarakat, diperlukan data yang spesifik. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu data statistik yang digunakan dalam sistem evaluasi dan perencanaan ekonomi makro suatu wilayah. Adapun tujuan dari kegiatan penyusunan buku PDRB Kabupaten Bekasi Tahun Anggaran 2010 adalah :

1. Menyediakan data ekonomi makro bagi perencanaan dan evaluasi pembangunan.

2. Menggambarkan derajat kesejahteraan masyarakat.

3. Melihat pergeseran aktivitas perekonomian masyarakat.

4. Mendapatkan gambaran dinamika perekonomian dan ketimpangan setiap kecamatan di Kabupaten Bekasi berdasarkan PDRB sektoral.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

4

5.

Diketahuinya PDRB perkapita masyarakat Kabupaten Bekasi.

1.3. Manfaat

Secara umum manfaat dari kegiatan ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan kegiatan perencanaan dan kebijakan pembangunan ekonomi dan perencanaan pembangunan pada umumnya serta sekaligus sebagai alat ukur pencapaian pembangunan dan pencapaian Visi dan Misi

Kabupaten Bekasi.

Sementara manfaat secara spesifik diantara;

1.

Pertumbuhan ekonomi digunakan untuk menilai apakah ekonomi mengalami stagnasi, apakah sektor riil masih bergerak, apakah pertumbuhan ekonomi berkualitas dalam arti mampu mengurangi kesenjangan, pengangguran dan kemiskinan.

2.

Data PDRB Kabupaten/kota digunakan sebagai salah satu komponen dalam pengalokasian Dana Alokasi Umum (DAU), disamping data penduduk, luas wilayah, IPM dan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

3.

Melihat keterbandingan kemajuan ekonomi antar wilayah dan sektor serta potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian dimasing-masing wilayah.

4.

Pada tingkat nasional besaran PDB/PDRB digunakan untuk; besaran asumsi makro APBN, patokan defisit anggaran, efektivitas kebijakan fiskal pemerintah dan produktifitas aset-aset daerah serta efektifitas penerimaan pajak dan restribusi.

1.4.

Landasan Hukum. Adapun landasan hukum dalam menyusun buku ini adalah :

1.

Undang-undang nomor 16 tahun 1997 tentang statistik.

2.

Peraturan pemerintah nomor 6 tahun 1998 tentang kordinasi kegiatan instansi vertikal didaerah (lembaran Negara RI tahun 1988 nomor 10 tambahan lembaran Negara Republik Indonesia nomor 3373.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

5

3.

Peraturan Pemerintah RI No. 51 Tahun 1999, tentang Penyelenggaraan Statistik.

4.

Peraturan Pemerintah nomor 58 tahun 2005, tentang pengelolaaan keuangan daerah (lembaran Negara RI tahun 2005 nomor 140 tambahan lembaran Negara RI nomor 4578).

5.

Keputusan Kepala Badan Pusat Statistik No. 121 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan BPS di Daerah

6.

Peraturan daerah Kabupaten Bekasi nomor 1 tahun 2007 tentang pokok- pokok keuangan daerah (lembaran daerah Kabupaten Bekasi nomor 1 tahun 2007.

1.5.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup penyusunan buku Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bekasi sebagai berikut :

1.

Cakupan waktu penelitian data yang digunakan selama 3 tahun yaitu dari

tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.

2.

Cakupan wilayah penelitian yaitu Kabupaten Bekasi dan Kecamatan.

3.

Cakupan materi adalah data-data PDRB yang disusun berdasarkan lapangan usaha.

1.6.

Keluaran (Output)

Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah :

1.

Penyusunan buku PDRB didapatkan informasi mengenai potensi ekonomi persektor dikecamatan dan Kabupaten Bekasi yang dapat dijadikan sebagai acuan/pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, strategi dan arah pembangunan di Kabupaten Bekasi.

2.

Data Hasil Survei/kegiatan.

3.

Media dokumentasi dibuat dalam bentuk hard copy (Buku) maupun soft copy.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

6

BAB II KONSEP DAN DEFINISI
BAB II
KONSEP DAN DEFINISI
BAB II KONSEP DAN DEFINISI Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1

1

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1
BAB II KONSEP DAN DEFINISI
BAB II KONSEP DAN DEFINISI

BAB II KONSEP DAN DEFINISI

BAB II KONSEP DAN DEFINISI

Adapun konsep dan definisi penyusunan buku Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) diuraikan sebagai berikut :

2.1. Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi didalam suatu wilayah atau daerah pada suatu periode tertentu, biasanya satu tahun, tanpa memperhitungkan kepemilikan. Penghitungan PDRB dilakukan dengan dua cara yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga pada suatu tahun tertentu (tahun dasar), dalam penghitungan ini digunakan tahun 2000 sebagai tahun dasar. Hasil dari dua penghitungan PDRB ini diperoleh beberapa indikator

ekonomi makro yang banyak digunakan oleh berbagai kalangan dunia usaha serta pemerintah dll. Indikator tersebut antara lain laju pertumbuhan ekonomi (LPE), struktur perekonomian, pendapatan perkapita, indeks harga implisit dan inflasi.

Beberapa konsep dan definisi tentang PDRB atau Pendapatan Regional yang perlu diketahui antara lain :

a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku

PDRB atas dasar harga yang berlaku atau disebut juga atas dasar harga pasar merupakan penjumlahan nilai tambah bruto (gross value added) dari seluruh sektor perekonomian di dalam suatu daerah/wilayah dalam periode

tertentu, biasanya satu tahun. Yang dimaksud dengan nilai tambah adalah

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

7

selisih nilai produksi (output) dengan biaya antara (intermediat input). Nilai tambah mencakup komponen faktor produksi, upah dan gaji, bunga modal, sewa tanah, keuntungan penyusutan serta pajak tak langsung netto. Faktor pendapatan adalah merupakan balas jasa faktor produksi yang terdiri dari tenaga kerja, modal, tanah dan managerial. PDRB ditinjau dari berbagai segi, pengertiannya adalah:

(1). Segi Produksi, merupakan nilai tambah bruto produksi barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam suatu daerah/wilayah dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. (2). Segi Pendapatan, merupakan nilai balas jasa yang diterima oleh faktor- faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di dalam suatu daerah/wilayah dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. (3). Segi Pengeluaran, merupakan jumlah seluruh pengeluaran yang dilakukan untuk konsumsi rumahtangga dan lembaga nirlaba (lembaga yang tidak mencari untung), konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan stok dan ekspor netto (ekspor dikurangi impor) di dalam suatu daerah/wilayah dalam periode tertentu, biasanya satu tahun.

b. Produk Domestik Regional Netto (PDRN) Atas Dasar Harga Pasar

PDRN atas dasar harga pasar merupakan PDRB yang dikurangi dengan penyusutan (depreciation). Penyusutan dikeluarkan dari PDRB oleh karena aus/susutnya barang modal selama berproduksi seperti mesin-mesin, peralatan, kendaraan, gedung dan barang modal lainnya.

c. Produk Domestik Regional Netto (PDRN) Atas Dasar Biaya Faktor

PDRN atas dasar biaya faktor adalah PDRN dengan harga pasar dikurangi dengan pajak tak langsung ditambah subsidi dari pemerintah. Pajak tak langsung tersebut terdiri dari pajak penjualan, bea ekspor, cukai dan pajak tak langsung lainnya. Pajak tak langsung dibebankan kepada konsumen,

sehingga pengenaan pajak ini akan menaikkan harga barang. Subsidi yang

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

8

diberikan oleh pemerintah bertujuan untuk membantu para konsumen sehingga harga menjadi turun dan dapat dijangkau oleh daya beli (purchasing power) masyarakat. Subsidi tersebut terdiri dari subsidi pupuk, BBM dan lainnya. Selisih antara pajak tak langsung dengan subsidi disebut dengan Pajak Tak Langsung Netto.

d. Pendapatan Regional

Dari konsep dan definisi di atas ternyata PDRN atas dasar biaya faktor merupakan jumlah balas jasa faktor-faktor produksi dalam proses produksi. Namun tidak seluruhnya menjadi milik suatu daerah/wilayah karena termasuk pendapatan penduduk wilayah lain. Sebaliknya PDRN tersebut harus pula ditambah dengan pendapatan yang diperoleh dari daerah lain. Bila PDRN dikurangi dengan pendapatan penduduk yang masuk (income in flow) dan yang keluar (income out flow) disebut dengan pendapatan netto antar daerah/wilayah, didapatkan Pendapatan Regional (Produk Regional Netto). Oleh karena sulitnya memperoleh data pendapatan masuk dan keluar dalam suatu daerah/wilayah, maka PDRN atas dasar biaya faktor diasumsikan sama dengan pendapatan regional (Produk Regional Netto) atau dengan kata lain pendapatan netto (pendapatan masuk dikurangi pendapatan keluar) sama

dengan nol.

e. Pendapatan/PDRB Per Kapita

Pendapatan/PDRB per kapita merupakan pendapatan yang diterima oleh masing-masing penduduk. Pendapatan per kapita tersebut diperoleh dengan membagi pendapatan regional/produk regional netto dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

(1). Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar (gross regional domestic product at market prices), dikurangi penyusutan diperoleh PDRN; (2). Produk Domestik Regional Netto atas dasar harga pasar (net regional

domestic product at market prices), bila dikurangi pajak tak langsung

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

9

netto (pajak tak langsung dikurangi subsidi) akan diperoleh PDRN atas dasar biaya faktor; (3). Produk Domestik Regional Netto atas dasar biaya faktor (net regional domestic product at factor cost), ditambah dengan pendapatan netto (pendapatan masuk dikurangi pendapatan keluar), akan sama dengan pendapatan regional; (4). Pendapatan Regional (regional income), bila dikurangi dengan pajak pendapatan perusahaan (corporate income taxes), keuntungan yang tidak

dibagikan (undistributed profit), iuran kesejahteraan sosial (social security

contribution), ditambah dengan transfer yang diterima rumahtangga, bunga netto, atas hutang pemerintah, akan sama dengan pendapatan perorangan; (5). Pendapatan Perorangan (personal income), bila dikurangi pajak rumahtangga, transfer yang dibayarkan rumahtangga, akan sama dengan pendapatan yang siap dibelanjakan; (6). Pendapatan yang siap dibelanjakan (disposible income).

f. Produk Domestik dan Produk Regional

Didalam literatur ekonomi terdapat perbedaan pengertian Produk Domestik dengan Produk Regional. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian dari kegiatan produksi yang dilakukan di suatu daerah/wilayah, beberapa faktor produksinya berasal dari daerah/wilayah lain, seperti tenaga kerja, mesin/alat bahkan modal untuk investasi. Dengan demikian menyebabkan nilai produksi di daerah/wilayah atau domestik tidak sama dengan pendapatan yang diterima oleh penduduk tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya arus pendapatan yang mengalir antar daerah (termasuk juga yang mengalir dari/ke luar negeri) pada umumnya terdiri dari upah/gaji, deviden dan keuntungan, akhirnya timbullah perbedaan antara produk domestik dan produk regional. Produk regional merupakan produk domestik setelah ditambah pendapatan yang mengalir ke dalam daerah/wilayah tersebut, kemudian dikurangi pendapatan yang mengalir keluar daerah/wilayah. Sehingga dapat

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

10

dikatakan bahwa produk regional merupakan produk yang betul-betul dihasilkan oleh faktor-faktor produksi (tenaga kerja, tanah, modal, enterpreneur) yang dimiliki penduduk daerah/wilayah yang bersangkutan. Namun karena masih terbatasnya data untuk memantau pendapatan yang mengalir dari/ke luar suatu daerah/wilayah, maka antara produk domestik dengan produk regional sampai saat ini diasumsikan sama.

g. Pendapatan Regional Atas Dasar harga Berlaku dan Konstan Dalam uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa Pendapatan Regional menggambarkan perekonomian suatu daerah/wilayah. Perkembangan tersebut sebenarnya didasarkan atas beberapa faktor :

(1). Perubahan harga Yaitu kenaikan/penurunan perekonomian yang diakibatkan oleh perubahan harga yang terjadi di pasar. Pada umumnya harga tersebut cenderung menaik sehingga pendapatan regional atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun selalu menunjukkan kenaikan.

(2). Perubahan Riil Yaitu kenaikan/penurunan perekonomian yang dihitung berdasarkan perubahan riil, artinya tidak termasuk lagi perubahan harga. Pengertian yang umum digunakan para ekonom yaitu pendapatan yang telah dihilangkan pengaruh inflasinya. Pendapatan regional atas dasar harga berlaku yang telah dikurangi dengan perkembangan inflasi dikenal dengan pendapatan regional atas dasar harga konstan. Pendapatan regional yang terakhir inilah pada umumnya banyak dimanfaatkan oleh para birokrat, peneliti dan para ekonom. Berkaitan dengan penyusunan buku PDRB kabupaten Bekasi maka penyusunan dan penghitungannya melalui tahapan sebagai berikut :

a. Melakukan Identifikasi Potensi Ekonomi dan jenis kegiatan pembangunan ekonomi selama tahun 2009 per kecamatan di wilayah Kabupaten Bekasi.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

11

b. Inventaris data sekunder dari masing-masing dinas, instansi dan lembaga yang ada, serta melakukan survei khusus untuk penunjang penghitungan.

c. Penghitungan struktur biaya dan nilai tambah sektoral.

d. Tabulasi PDRB Kabupaten Bekasi dan tabulasi PDRB 23 kecamatan di

Kabupaten Bekasi. Disamping itu dilakukan pula penyusunan dan penjelasan tentang konsep dan definisi. Hal ini sangat penting agar lebih memudahkan bagi pembaca data Statistik Pendapatan Regional ini untuk memahami makna angka-angka yang disajikan. Sajian Statistik Pendapatan Regional sarat dengan istilah-istilah yang bagi orang awam akan mengartikan lain, bila tidak dibekali penjelasan tentang istilah-istilah dimaksud. Seringkali orang mengartikan pendapatan regional sebagai pendapatan daerah, padahal pendapatan daerah adalah pendapatan pemerintah daerah dari pajak, pungutan-pungutan, retribusi dan lain-lain sebagai balas jasa faktor produksi atas aktivitas produksi yang dilakukan oleh unit-unit ekonomi di daerah. Sedangkan sektor pemerintahan adalah hanya salah satu saja dari unit kegiatan ekonomi. Selanjutnya perlu dibedakan antara nilai produksi dan nilai produk. Bila nilai produksi diartikan sebagai output, yaitu hasil kali antara indikator harga

dengan indikator produksi, sedangkan nilai produk adalah balas jasa atas faktor produksi atau sering disebut sebagai nilai tambah. Penghitungan balas jasa atas faktor produksi ini perlu ditinjau dari 2 (dua) aspek, yaitu aspek wilayah (domestik region) dan aspek penduduk. Aspek wilayah memberi arti sebagai nilai produk yang ditimbulkan oleh adanya aktifitas produksi yang dilakukan unit-unit kegiatan ekonomi di suatu daerah/wilayah yang dilakukan oleh penduduk wilayah tersebut maupun oleh penduduk wilayah lain (production originated). Sedangkan aspek penduduk memberi arti sebagai nilai produk yang diterima oleh penduduk suatu wilayah atas aktifitas produksi yang dilakukan di wilayah tersebut maupun di wilayah

lainnya (income receipt).

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

12

2.2.

Faktor Keterkaitan dan Keterbandingan

Sistem perekonomian yang dianut oleh Indonesia adalah sistem perekonomian yang terbuka, artinya dimungkinkan adanya barang dan jasa yang masuk dari luar negeri (impor) maupun barang dan jasa yang ke luar negeri (ekspor). Pada tingkat nasional, barang maupun jasa dari dan ke luar negeri tercatat dengan baik di BPS maupun Bank Indonesia. Selain itu arus dana yang masuk dari dan ke luar negeri juga tercatat di Bank Indonesia. Dengan demikian Produk Domestik Bruto maupun Produk Nasional Bruto dapat dihitung lebih akurat. Untuk tingkat regional (propinsi/kabupaten) sistem ekonomi menjadi lebih terbuka lagi, dengan kurangnya data/catatan mengenai arus barang yang keluar maupun masuk ke suatu propinsi/kabupaten. Hal ini menyebabkan penghitungan Produk Regional menjadi sulit dan sarat dengan asumsi. Lebih lagi pada tingkat kabupaten maupun kecamatan dengan sistem ekonomi menjadi sangat terbuka, maka yang dapat dihitung pada tingkat kabupaten maupun kecamatan hanya terbatas pada Produk Domestik Regional Bruto. Penghitungan PDRB untuk tingkat propinsi, kabupaten maupun kecamatan akan selalu berkaitan dari segi metodologi, konsep dan definisi yang digunakan, utamanya bila angka-angka PDRB tersebut akan dibandingkan antar propinsi, Kabupaten maupun kecamatan, Hal ini disebabkan adanya prinsip/konsep dasar yang harus ditaati, terutama bila bicara tentang konsistensi penghitungan. Sebagai contoh, penjumlahan PDRB propinsi- propinsi seharusnya akan sama atau di bawah angka PDB nasional. Begitu pula untuk tingkat kabupaten/kotamadya dan tingkat kecamatan. Pemecahan masalah ini adalah dengan melakukan rekonsiliasi penghitungan baik untuk tingkat nasional maupun tingkat propinsi. Rekonsiliasi penghitungan ini tidak hanya membahas konsistensi total, tetapi juga konsistensi sektoral dengan menggunakan metode penghitungan yang dipakai serta konsistensi data yang digunakan.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

13

Faktor keterkaitan dan keterbandingan ini sangat mewarnai penghitungan untuk wilayah yang lebih kecil. Khususnya penghitungan PDRB Kabupaten Bekasi dan kecamatannya akan terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan wilayah-wilayah yang berbatasan dengannya, seperti DKI, Kodya Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang. Sebagai contoh, Perum Pegadaian di Bekasi ternyata adalah cabang dari Jakarta, demikian juga untuk PT. Telkom. Dan masih banyak lagi contoh-contoh dari sektor lainnya, seperti sektor industri, perdagangan, jasa serta angkutan. Apabila konsistensi serta konsep penghitungan yang digunakan sudah disamakan, maka perbandingan angka PDRB per Kabupaten maupun kecamatan dapat dilakukan. Penghitungan PDRB dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode langsung dan metode tak langsung (alokasi). Dalam metode langsung dikenal ada 3 (tiga) macam pendekatan penghitungan, yaitu pendekatan produksi, pendekatan pendapatan dan pendekatan pengeluaran. Dari ketiga pendekatan tersebut akan memberikan hasil yang sama.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

14

BAB III METODOLOGI
BAB III
METODOLOGI
BAB III METODOLOGI Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010 1

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

1

BAB III METODOLOGI
BAB III METODOLOGI

BAB III METODOLOGI

BAB III METODOLOGI

3.1. Pelaksanaan Survei.

Beberapa tahapan dilakukan dalam penyusunan buku ini diantaranya tahap persiapan dilakukan dengan mengadakan briefing dan rapat petugas serta pelatihan petugas survei dalam rangka pengumpulan data, pengawasan/pemeriksaan, editing/coding, entry data dan pengolahan data serta analisis data.

3.1.1. Pengumpulan data

a. Data Primer

Pengumpulan data primer dilakukan secara langsung oleh petugas yang telah dilatih dengan menggunakan kuesioner yang telah dirancang sesuai dengan responden perusahaan atau kegiatan usaha di setiap kecamatan, adapaun kuesioner yang digunakan adalah Survei Khusus Pendapatan Regional serta survei lainnya seperti Survei Indikator Ekonomi, Survei Usaha Kecil Menengah dsb. Sebagai analisis tambahan untuk melihat dampak lingkungan

yang ditimbulkan dari kegiatan ekonomi dilakukan survei mengenai dampak lingkungan yaitu menggunakan kuesioner Survei Dampak Lingkungan (SDL) dengan metode purposive dimana respondenya adalah rumahtangga.

b. Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dengan cara memberikan format isian yang harus diisi oleh Dinas/Instansi/Lembaga terkait. Adapun jenis kuesioner yang digunakan adalah Survei Data Sekunder (SDS).

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

15

c.

Metode Pengambilan Sampel

Metode pengambilan sampel untuk survei yaitu dengan menstratakan berdasarkan sektor usaha (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia/KBLI) dengan sampling frame dari Sensus Ekonomi 2006 (SE2006).

3.1.2. Pengolahan Data

Data hasil lapangan dan dari berbagai Dinas/Instansi (sekunder) serta data yang telah diperiksa, kemudian dilakukan proses editing coding serta diolah dengan menggunakan program pengolahan komputer (entry data). Pengolahan data primer akan menghasilkan struktur biaya seperti output per indikator produksi, ratio biaya antara dan ratio produksi sampingan. Pengolahan data sekunder dengan input data primer akan menghasilkan output, biaya antara dan nilai tambah bruto sektoral.

3.2. Metode Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

Penghitungan PDRB atas dasar harga berlaku ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu :

3.2.1. Metode Langsung

Penghitungan metode langsung dilakukan dengan pendekatan produksi, pendapatan dan pengeluaran. Dari ketiga pendekatan tersebut akan memberikan hasil yang sama.

a. Pendekatan Produksi

Pendekatan ini didasarkan pada pengertian bahwa PDRB merupakan jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di suatu wilayah/region dalam suatu periode (biasanya setahun). Nilai tambah bruto diperoleh dari pengurangan nilai produksi bruto dengan biaya antara yang dikeluarkan.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

16

b. Pendekatan Pendapatan

Pendekatan ini didasarkan pada pengertian bahwa PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut di dalam proses produksi di suatu wilayah/region pada suatu periode. Dalam pendekatan ini PDRB diperoleh dengan menjumlahkan komponen-komponen pendapatan faktor-faktor produksi. Komponen-komponen pendapatan tersebut adalah upah dan gaji, keuntungan, sewa tanah, bunga modal, penyusutan barang modal tetap dan pajak tak langsung netto.

c. Pendekatan Pengeluaran

Pendekatan ini didasarkan pada pengertian bahwa PDRB merupakan jumlah seluruh pengeluaran konsumsi rumahtangga dan lembaga sosial swasta yang tidak mencari keuntungan, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan stok dan ekspor netto di dalam suatu wilayah/region pada periode tertentu. Dalam pendekatan ini PDRB diperoleh

dengan menjumlahkan komponen-komponen tersebut di atas.

3.2.2. Metode tak Langsung (alokasi)

Dalam metode ini nilai tambah di suatu wilayah/region diperoleh dengan mengalokasikan nilai tambah suatu kegiatan ekonomi kabupaten ke dalam masing-masing kegiatan ekonomi pada tingkat kecamatan. Sebagai alokator digunakan indikator yang mempunyai pengaruh paling erat dengan kegiatan ekonomi tersebut.

3.3. Penghitungan PDRB atas dasar harga konstan

Penghitungan PDRB disamping dihitung atas dasar harga berlaku, juga dihitung dengan harga konstan. Hal ini bertujuan untuk melihat perkembangan PDRB secara riil, bukan karena adanya kenaikan harga. Ada empat cara yang dikenal untuk menghitung nilai tambah atas dasar harga konstan, yaitu :

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

17

a. Revaluasi

Dilakukan dengan cara menilai produksi dan biaya antara masing- masing tahun dengan harga pada tahun dasar 2000. Hasilnya merupakan output dan biaya antara atas dasar harga konstan 2000. Selanjutnya nilai tambah bruto atas dasar harga konstan, diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara hasil perhitungan di atas. Dalam praktek, sangat sulit melakukan revaluasi terhadap biaya antara yang digunakan, karena mencakup komponen input yang sangat banyak, disamping data harga yang tersedia tidak dapat memenuhi semua keperluan tersebut. Oleh karena itu biaya antara atas dasar harga konstan biasanya diperoleh dari perkalian antara output atas dasar harga konstan masing-masing tahun dengan rasio tetap biaya antara terhadap output pada tahun dasar.

b. Ekstrapolasi

Nilai tambah masing-masing tahun atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara mengalikan nilai tambah pada tahun dasar 2000 dengan indeks produksi. Indeks produksi sebagai ekstrapolator dapat merupakan indeks dari masing-masing produksi yang dihasilkan atau indeks dari berbagai indikator produksi seperti tenaga kerja, jumlah perusahaan dan lainnya, yang

dianggap cocok dengan jenis kegiatan yang dihitung.

c. Deflasi

Nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara membagi nilai tambah atas dasar harga yang berlaku masing-masing tahun dengan indeks harga. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator biasanya merupakan indeks harga konsumen, indeks harga perdagangan besar dan sebagainya. Indeks harga di atas dapat pula dipakai sebagai inflator dalam keadaan dimana nilai tambah atas dasar harga yang berlaku justru diperoleh dengan mengalikan nilai tambah atas dasar harga konstan dengan indeks harga tersebut.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

18

d. Deflasi Berganda Dalam deflasi berganda ini, yang dideflasi adalah output dan biaya antaranya, sedangkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara hasil deflasi tersebut. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator untuk perhitungan output atas dasar harga konstan biasanya merupakan indeks harga produsen atau indeks harga perdagangan besar sesuai dengan cakupan komoditinya, sedangkan indeks harga untuk biaya antara adalah indeks harga dari komponen input terbesar. Kenyataannya sangat sulit melakukan deflasi terhadap biaya antara, disamping karena komponennya terlalu banyak juga karena indeks harganya belum tersedia secara baik.Oleh karena itu dalam penghitungan harga konstan, deflasi berganda ini belum banyak dipakai.

3.4. Laju Pertumbuhan Ekonomi

Laju pertumbuhan ekonomi atau economic growth merupakan indeks berantai dari masing-masing kegiatan ekonomi angka indeks yang dihasilkan bias didasarkan atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. Pada umumnya yang sering digunakan atau dianalisis adalah LPE atas dasar harga konstan, karena menggambarkan pertumbuhan produksi riil dari masing-masing

sektor/sub sektor. LPE diperoleh dengan cara membagi selisih nilai PDRB sektor/sub sektor tahun berjalan dan tahun sebelumnya, dikali 100. LPE dirumuskan sebagai berikut :

PDRB PDRB LPE (   ( n k i , , ) ( n 1,

PDRB

PDRB

LPE

(

 
LPE (   ( n k i , , ) ( n 1, k i ,

(

n k i

,

,

)

(

n

1,
1,

k i

,

)

x 100%

n i

,

)

 

PDRB

( n 1, k i , )
(
n
1,
k i
,
)

Keterangan

LPE

= Laju Pertumbuhan Ekonomi

K

= atas dasar harga konstan

n

= Tahun Berjalan

i

= Sektor/subsektor

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

19

Gambar 1. SIKLUS PRODUKSI DAN KONSUMSI

Balas jasa factor produksi (Y)

Balas jasa factor produksi (Y)
Balas jasa factor produksi (Y)
Balas jasa factor produksi (Y)

Arus uang

Faktor-faktor produksi Arus riil Konsumen Produsen Produk barang dan jasa (Y) Arus riil
Faktor-faktor produksi
Arus riil
Konsumen
Produsen
Produk barang dan jasa (Y)
Arus riil
Pengeluaran/pembelian Arus uang Keterangan : : : Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran
Pengeluaran/pembelian
Arus uang
Keterangan :
:
:
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010
20

Gambar 2.

SIKLUS PRODUKTIVITAS DAN UKURAN KEMAKMURAN

Nilai Tambah Bruto Penyusutan (Minus) Nilai Tambah Netto (ADHP)
Nilai Tambah Bruto
Penyusutan
(Minus)
Nilai Tambah Netto
(ADHP)
Pajak tdk langsung
Pajak tdk
langsung
(Minus) Nilai Tambah Netto (ADHP) Pajak tdk langsung DOMESTIK UKURAN PRODUKTIVITA Nilai Tambah Netto Atau

DOMESTIK

UKURAN PRODUKTIVITA
UKURAN
PRODUKTIVITA

Nilai Tambah Netto Atau Pendapatan Domestik

diterima Pendapatan Faktor
diterima
Pendapatan
Faktor

Pendapatan Regional

Domestik diterima Pendapatan Faktor Pendapatan Regional dibayar diterima Transfer Berjalan dibayar UKURAN

dibayar

diterima Transfer Berjalan
diterima
Transfer
Berjalan
Pendapatan Regional dibayar diterima Transfer Berjalan dibayar UKURAN KEMAKMURA Pendapatan Disposabel Produk

dibayar

UKURAN KEMAKMURA
UKURAN
KEMAKMURA

Pendapatan Disposabel

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

21

3.5.

Uraian Sektoral

Salah satu kendala dalam memahami publikasi PDRB adalah masalah konsep dan definisi serta ruang lingkup yang memuat data dan informasi statistik.Disamping itu tidak banyak masyarakat yang tertarik untuk menekuni data-data statistik sehingga kurang menghargai data/informasi.Padahal dalam perencanaan pembangunan sangat diperlukan data-data statistik, karena selain dibutuhkan untuk startegi pembangunan, juga digunakan untuk bahan evaluasi kebijakan. Untuk itu, pada bab ini akan diuraikan tentang ruang lingkup, metode penghitungan, sumber data baik terhadap PDRB atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. United Nation (UN)/Persatuan Bangsa Bangsa memberikan rekomendasi, secara makro perekonomian diklasifikasikan menjadi 9 sektor yaitu :

1. Pertanian

2. Pertambangan dan Penggalian

3. Industri Pengolahan

4. Listrik, Gas Kota dan Air Bersih

5. Konstruksi/Bangunan

6. Perdagangan, Hotel dan Restauran

7. Pengangkutan dan Komunikasi

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

9. Jasa-jasa.

3.5.1. Pertanian Sektor Pertanian terdiri dari sub sektor tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, peternakan dan hasil-hasilnya, kehutanan dan perikanan. Untuk lebih jelasnya uraian sub sektor tersebut adalah sebagai berikut :

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

22

3.5.1.1.

Tanaman Bahan Makanan

Sub sektor ini mencakup komoditi tanaman bahan makanan misalnya padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedele, sayur- sayuran, buah-buahan dan hasil-hasil produksi ikutannya. Data produksi diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, sedangkan data harga seluruhnya bersumber dari BPS. Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara Pendekatan Produksi yaitu dengan mengalikan setiap jenis kuantum produksi dengan masing-masing harganya, kemudian hasilnya dikurangi biaya antara. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. Rasio Biaya Antara diperoleh dari hasil Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR) yang dilakukan oleh BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara Revaluasi.

3.5.1.2. Tanaman Perkebunan

Sub sektor ini mencakup komoditi tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat dan perusahaan misalnya karet, kopra, kopi, kapuk, tebu, tembakau, cengkeh dan sebagainya, termasuk produksi ikutannya dan hasil- hasil pengolahan sederhana. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara Pendekatan Produksi, yaitu mengalikan kuantum produksi dengan masing-masing harganya kemudian hasilnya dikurangi biaya antara. Biaya antara diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap output yang diperoleh dari hasil SKPR. Adapun NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara Revaluasi

3.5.1.3. Peternakan dan Hasil-hasilnya

Sub sektor ini mencakup produksi ternak besar dan ternak kecil, misalnya sapi, kerbau, kambing, domba serta unggas termasuk hasil-hasil ternak, susu segar, telur dan kulit. Yang dimaksud dengna produksi peternakan

adalah jumlah ternak yang lahir dan penambahan berat ternak.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

23

Produksi

peternakan

dihitung

berdasarkan

menggunakan pendekatan sebagai berikut;

perkiraan

dengan

Produksi = Jumlah Pemotongan + (Populasi Akhir Awal Tahun) + (Ternak Keluar Ternak Masuk)

Data jumlah ternak yang dipotong, populasi ternak dan keluar masuk

ternak, diperoleh dari Dinas Peternakan, sedangkan data harga diperoleh dari

BPS.

NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara Pendekatan

Produksi yaitu mengalikan setiap jenis produksi ternak dengan masing-masing

harganya, kemudian dikurangi dengan biaya antara. Biaya antara diperoleh dari

hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara

Revaluasi.

3.5.1.4.

Kehutanan

Sub sektor ini mencakup komoditi kayu pertukangan, kayu bakar, arang

bambu, rotan dan lain-lain.

NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara Pendekatan Produksi

yaitu mengalikan produksi kehutanan dengan masing-masing harganya,

kemudian dikurangi biaya antara. Biaya antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB

atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi.

3.5.1.5. Perikanan

Sub sektor ini mencakup kegiatan perikanan laut, perikanan darat dan

pengolahan sederhana (pengeringan dan penggaraman ikan). NTB atas dasar

harga berlaku dihitung dengan menggunakan pendekatan produksi yaitu output

dikurangi biaya antarnya. Data produksi perikanan diperoleh dari Dinas

Perikanan Kabupaten Bekasi sedangkan biaya antar diperoleh dari hasil

perkalian rasio biaya antara terhadap outputnya, besarnya biaya antara

diperoleh dari SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara

Revaluasi.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

24

3.5.2.

Pertambangan dan Penggalian

Sektor ini dikelompokan dalam tiga sub sektor, yaitu Minyak dan Gas Bumi (Migas), Pertambangan Tanpa Migas dan Penggalian. Sektor ini mencakup kegiatan-kegiatan penggalian, pemboran, dan pengambilan segala macam benda bon biologis, barang-barang tambang, mineral dan barang galian yang tersedia di alam, baik yang berupa benda padat, benda cair, misalnya minyak

mentah, maupun gas bumi.

3.5.2.1. Pertambangan

Sub sektor ini mencakup komoditi minyak mentah, gas bumi, biji emas dan perak. Data produksi dan harga diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan PT ANTAM (dari BPS Propinsi Jawa Barat) serta dinas pertambangan Kabupaten Bekasi. NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara Pendekatan Produksi, yaitu mengalikan produksi dengan harganya, kemudian dikurangi biaya antara yang diperoleh dari hasil survei yang dilakukan oleh BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara Revaluasi.

3.5.2.2. Penggalian

Sub sektor ni mencakup kegiatan penggalian dan pengambilan segala jenis barang galian, misalnya batu kapur, pasir, batu-batuan dan sebagainya. Data produksi dan harga diperoleh dari Dinas Pertambangan Kabupaten Bekasi, sedangkan biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. Rasio biaya antara diperoleh dari Survei Penggalian yang dilakukan oleh BPS Kabupaten Bekasi. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan metode Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi yaitu dengan membagi NTB harga berlaku dengan Indeks Harga untuk barang-barang galian.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

25

3.5.3.

Sektor Industri Pengolahan

Sektor ini terdiri dari industri pengolahan minyak dan gas bumi serta industri pengolahan bukan migas.

3.5.3.1. Industri Pengolahan Minyak dan Gas Bumi (Migas)

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengolahan, pengilangan minyak bumi dan gas alam misalnya premium, minyak tanah, minyak diesel, avtur, avigas

dan sebagainya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi, dengan Indeks Harga Hasil Pengilangan Minyak Bumi sebagai deflatornya.

3.5.3.2. Industri Pengolahan Bukan Migas

Sub sektor ini mencakup industri besar dan sedang, industri kecil dan industri rumah tangga. Industri besar dan sedang mencakup perusahaan industri yang mempunyai tenaga kerja 20 orang atau lebih. Industri kecil dengan tenaga kerja 5 sampai 19 orang, dan industri rumah tangga dengan 1 sampai 4 orang. NTB atas dasar harga berlaku untuk industri besar dan sedang menggunakan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Tahunan Industri Besar dan

Sedang yang setiap tahun dilakukan oleh BPS. Industri kecil dan rumah tangga diestimasi berdasarkan indikator jumlah tenga kerja dan rata-rata output per tenaga kerja yang bersumber dari Survei Industri Kecil dan Rumah Tangga BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi, dengan deflatornya Indeks Harga barang-barang industri. Berikut sektor industri pengolahan yang disajikan dalam 2 digit Kode Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) :

1. Makanan, Minuman dan Tembakau

2. Tekstil, Brg. Kulit & Alas kaki

3. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya

4. Kertas dan Barang Cetakan

5. Pupuk, Kimia & Brg. dari Karet

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

26

6.

Semen & Brg. Galian bukan logam

7. Logam Dasar Besi & Baja

8. Alat Angk., Mesin & Peralatannya

9. Barang lainnya

3.5.4. Listrik, Gas dan Air Bersih Sektor ini terdiri dari sub sektor listrik, gas dan air bersih dengan uraian

sebagai berikut :

3.5.4.1. Listrik

Sub sektor ini mencakup kegiatan pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik yang diselenggarakan oelh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Non PLN. NTB atas dasar harga berlaku menggunakan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian produksi listrik PLN dan Non PLN dengan tarif listrik. Datanya diperoleh dari PLN dan Survei Listrik Non PLN. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dikalikan nilai outputnya. Rasio ini didapat dari hasil survei yang diselenggarakan oleh BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan menggunakan metode Revaluasi.

3.5.4.2. Gas Kota

Sub sektor ini mencakup kegiatan penyediaan gas kota yang biasanya diusahakan oleh Perusahaan Gas Negara (PN. Gas), NTB atas dasar harga berlaku menggunakan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Gas. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunkan metode Revaluasi.

3.5.4.3. Air Bersih

Sub sektor ini mencakup kegiatan proses pembersihan, pemurnian dan proses kiamawi lainnya untuk menghasilkan air minum, serta pendistribusian

dan penyalurannya baik yang dilakukan oleh Perusahaan Air Minum (PAM)

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

27

maupun bukan PAM. NTB atas dasar harga berlaku menggunakan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Air Minum oleh BPS yang dilakukan setiap tahunnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunkan metode Revaluasi.

3.5.5. Bangunan

Sektor ini mencakup kegiatan pembangunan fisik (konstruksi), baik yang digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana lainnya yang dilakukan oleh perusahaan konstruksi maupun yang dilakukan oleh perorangan. NTB atas dasar harga berlaku menggunakan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Perusahaan Konstruksi anggota Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) dan Non AKI, dilengkapi dengan kegiatan konsturksi yang dilakukan oleh perorangan (individu). NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi, dengan Indeks Harga Barang Bangunan sebagai deflatornya.

3.5.6. Perdagangan, Hotel dan Restoran

Sektor

ini

terdiri

dari

perdagangan

besar

dan

eceran,

Hotel

dan

Restoran.

3.5.6.1.

Perdagangan Besar dan Eceran

Perdagangan besar mencakup kegiatan pembelian dan penjualan kembali barang baru atau bekas oleh pedagang dari produsen/importir ke pedangan besar lainnya atau pedagang eceran. Pedagang eceran mencakup kegiatan pedagang yang umumnya melayani konsumen perorangan atau rumah tangga, baik barang baru atau barang bekas. NTB atas dasar harga berlaku maupun atas dasr harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan Metode Arus Barang(Commodity Flow). Output perdagangan dihitung berdasarkan besarnya margin perdagangan dari barang-barang yang diperdagangkan dan terdiri dari barang-barang hasil sektor

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

28

Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri serta barang dari impor. Dengan mengurani nilai output dengan biaya antara didapatkan NTB. NTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara yang sama seperti pada harga berlaku.

3.5.6.2. Hotel

Sub sektor ini mencakup kegiatan penyediaan akomodasi yang menggunakan sebagian atau seluruh bangunan sebagai tempat penginapan. Yang termasuk dalam akomodasi adalah hotel berbintang maupun tidak berbintang, serta tempat tinggal lainnya yang digunakan untuk menginap seperti losmen dan motel. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangai biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian jumlah malam kamar yang terjual dengan rata-rata tarif per malam kamar. Biaya antara diperoleh dari perkalian nilai output dengan rasio biaya antara hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 menggunakan metode Ekstrapolasi, dimana Indeks Jumlah Malam Kamar yang terjual dipakai sebagai ekstrapolatornya.

3.5.6.3. Restoran

Sub sektor ini mencakup kegiatan usaha penyediaan makanan dan minuman jadi yang pada umumnya dikonsumsi di tempat penjualan. Kegiatan yang termasuk dalam sub sektor ini seperti bar, kantin, kafe tenda, warung kopi, rumah makan, warung nasi, warung sate, katering dan lain-lain. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangai biaya antara. Nilai output diperoleh dengan cara mengalikan pengeluaran makanan dan minuman per kapita selama setahun dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Biaya antara diperoleh dari perkalian nilai output dengan rasio biaya antara yang diperoleh dari hasil Survei Sosial Ekonomi (SUSENAS). NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

29

berdasarkan

metode

Deflasi

dengan

IHK

kelompok

makanan

sebagai

deflatornya.

3.5.7. Pengangkutan dan Komunikasi Sektor ini terdiri dari sub sektor angkutan rel, jalan raya, laut, sungai,

danau dan penyeberangan, udara serta jasa penunjang angkutan.

3.5.7.1. Angkutan Rel

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan kerta api yang dikelola oleh Perusahaan Kereta Api Indonesia (PT. KAI). NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangai biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Laporan Keuangan PT KAI. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Ekstrapolasi, sebagai ekstrapolatornya adalah Indeks Jumlah Penumpang dan Angkutan Barang.

3.5.7.2. Angkutan Jalan Raya

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan alat angkut kendaraan jalan raya (darat), baik bermotor maupun tidak bermotor. Termasuk kegiatan lainnya seperti sewa kendaraan (rental car), baik dengan atau tanpa pengemudi. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangai biaya antara. Nilai output diperoleh dengan mengalikan jumlah kendaraan umum dengan rata-rata output per kendaraan. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Revaluasi.

3.5.7.3. Angkutan Laut

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan kapal laut yang beroperasi di dalam dan ke luar daerah

domestik oleh Perusahaan Angkutan Laut. NTB atas dasar harga berlaku

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

30

dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangai biaya antara. Nilai rata-rata output dan biaya antara diperoleh dari hasil Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR). NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Ekstrapolasi, sebagai ektrapolatornya adalah Indeks Jumlah Penumpang dan Barang.

3.5.7.4. Angkutan Sungai dan Penyeberangan

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan kapal atau angkutan sungai, baik bermotor maupun tidak bermotor, serta kegiatan penyeberangan dengan kapal feri. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangai biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari SKPR. Metode Ekstrapolasi digunakan untuk menghitung NTB atas dasar harga konstan 2000, sebagai ekstrapolatornya dipakai Indeks Jumlah Penumpang dan Barang.

3.5.7.5. Angkutan Udara

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan penumpang dan barang dengan menggunakan pesawat udara yang diusahakan oleh perusahaan penerbangan yang beroperasi di daerah tersebut. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antaranya. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari hasil SKPR. Adapun NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan pendekatan metode Revaluasi.

3.5.7.6. Jasa Penunjang Angkutan

Sub sektor ini mencakup kegiatan yang bersifat menunjang dan memperlancar kegiatan pengangkutan terdiri dari jasa pelabuhan udara, laut, darat (terminal dan parkir), sungai, bongkar muat laut dan darat, keagenan penumpang, ekspedisi laut, jalan tol dan lain-lain.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

31

NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antaranya. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi, sebagai deflatornya dipakai Indeks Harga Konsumen (IHK).

3.5.7.7. Komunikasi Sub sektor ini mencakup kegiatan pos dan giro, telekomunikasi dan jasa penunjang komunikasi. Pos dan Giro mencakup kegiatan pemberian jasa kepada pihak lain seperti pengiriman surat, wesel dan paket yang diusahakan oleh Perusahaan Pos Indonesia dan perusahaan swasta lainnya. Kegiatan telekomunikasi meliputi pemberian jasa kepada pihak lain seperti pengiriman berita melalui telegram, telepon, e-mail dan telex yang diusahakan oleh PT. Telkom, PT. Indosat, PT Satelindo dan PT Excelcomindo. Jasa penunjang komunikasi meliputi kegiatan yang menunjang kegiatan komunikasi seperti warung telekomunikasi (wartel), dan telepon seluler (ponsel). NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antaranya. Nilai output kegiatan pos, giro dan telekomunikasi diperoleh dari Laporan Keuangan PT Pos dan Giro, dan PT Telkom wilayah Jawa Barat. Data penunjang komunikasi, diperoleh hasil SKPR seperti wartel, dan telepon seluler. NTB atas dasar harga konstan dihitung dengan menggunakan metode ekstrapolasi. Ekstrapolator yang digunakan adalah jumlah surat yang dikirim untuk kegiatan pos dan giro serta jumlah pulsa untuk kegiatan telekomunikasi.

3.5.8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Sektor ini terdiri dari sub sektor Bank, Lembaga Keuangan Lainnya, Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

32

3.5.8.1.

Bank

Sub sektor ini mencakup kegiatan bank sentral dan bank komersial yang memberikan jasa keuangan pada pihak lain, diantaranya menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito, memberikan kredit, kredit jangka pendek, menengah dan panjang, mengirim uang, membeli dan menjual surat berharga, mendiskonto surat wesel/kertas dagang/surat hutang dan sejenisnya, menyewakan tempat menyimpan barang berharga dan sebagainya. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antaranya. Nilai output dan biaya antara bersumber dari Laporan Keuangan Bank Indonesia. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi dengan deflatornya Indeks Kurs.

3.5.8.2. Lembaga Keuangan Lainnya

Sub sektor ini mencakup kegiatan asuransi, dana pensiun, pegadaian, koperasi simpan pinjam, dan lembaga pembiayaan. Dalam sub sektor ini juga mencakup kegiatan valuta asing, pasar modal, leasing dan jasa penunjangnya misalnya pialang, penjamin emisi dan sebagainya. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antaranya.Data output dan biaya antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 sama dengan sub sektor bank.

3.5.8.3. Sewa Bangunan

Sub sektor ini mencakup kegiatan usaha persewaan bangunan dan tanah, baik yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal seperti perkantoran, pertokoan, apartemen serta usaha persewaan tanah persil. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian antara

pengeluaran rumah tangga untuk sewa rumah, kontrak rumah, sewa beli rumah

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

33

dinas, perkiraan sewa rumah, pajak dan pemeliharaan rumah perkapita setahun yang bersumber dari hasil SUSENAS dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Nilai biaya antara diperoleh dari perkalian pengeluaran pemeliharaan rumah per kapita dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. NTB atas dasar harga konstan 2000 didapatkan dengan menggunakan metode Deflasi dan IHK Perumahan sebagai deflatornya.

3.5.8.4. Jasa Perusahaan

Sub sektor ini mencakup kegiatan pemberian jasa hukum (Advokat dan Notaris), jasa akuntansi dan pembukuan, jasa pengolahan dan penyajian data, jasa bangunan/arsitek dan teknik, jasa periklanan dan riset pemasaran, jasa persewaan mesin dan peralatan dan sejenisnya. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian jumlah perusahaan dengan rata-rata output per perusahaan hasil SKPR. Biaya antara

diperoleh dengan mengalikan rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode

R0evaluasi.

3.5.9.

Jasa-jasa

Sektor jasa-jasa dikelompokan ke dalam dua sub sektor yaitu sub sektor jasa pemerintahan umum dan jasa swasta.

3.5.9.1. Jasa Pemerintahan Umum

Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum, seperti jasa pemerintah umum, pertahanan dan keamanan dan sebagainya.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

34

3.5.9.2.

Jasa Swasta

Sub sektor ini meliputi kegiatan jasa yang dilaksanakan pihak swasta, misalnya jasa sosial dan kemasyarakatan, jasa hiburan dan rekreasi, serta jasa perorangan dan rumah tangga.

3.5.9.3. Jasa Sosial Kemasyarakatan

Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa pendidikan, kesehatan, riset/penelitian, palang merah, panti asuhan, panti wreda, yayasan pemeliharaan anak cacat (YPAC), rumah ibadah dan sejenisnya yang dikelola swasta. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil perkalian jumlah indikator produksi (jumlah murid, jumlah tempat tidur rumah sakit, jumlah dokter, jumlah panti asuhan dan sebagainya) dengan rata-rata output per masing-masing indikator dari hasil survei SKPR. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 menggunakan metode Revaluasi, yaitu perkalian jumlah masing- masing indikator dengan rata-rata output pada tahun 2000.

3.5.9.4. Jasa Hiburan dan Rekreasi

Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa bioskop, kebun binatang, taman hiburan, pub, bar, karaoke, diskotik, kolam renang dan kegiatan hiburan lainnya. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil perkalian jumlah pengunjung/penonton dengan rata-rata tarif per pengunjung/ penonton hasil survei SKPR. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 menggunakan metode Revaluasi atau sama dengan sub sektor jasa sosial kemasyarakatan.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

35

3.5.9.5.

Jasa Perorangan dan Rumah Tangga

Sub sektor ini mencakup kegiatan yang pada umumnya melayani perorangan dan rumah tangga misalnya jasa reparasi, pembantu rumah tangga, tukang cukur, tukang jahit, semir sepatu dan sejenisnya. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil perkalian jumlah masing-masing jenis kegiatan usaha jasa perorangan dan rumah tangga dengan rata-rata output per masing-masing jenis kegiatan tersebut. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Revaluasi.

3.6. Sektor Primer, Sekunder dan Tertier. Gambaran kemajuan ekonomi suatu daerah dapat dilakukan

pengelompokan sektor ekonomi yang terdiri atas :

1. Sektor Primer yaitu sektor yang tidak mengolah bahan mentah atau bahan baku melainkan hanya mendayagunakan sumber-sumber alam seperti tanah dan deposit didalamnya. Yang termasuk kelompok ini adalah sektor Pertanian serta sektor Pertambangan Penggalian.

2. Sektor Sekunder yaitu sektor yang mengolah bahan bahan mentah atau bahan baku baik berasal dari sektor Primer maupun dari sektor Sekunder menjadi barang yang lebih tinggi nilainya. Sektor ini mencakup sektor Industri Pengolahan, sektor Listrik Gas dan Air Minum, dan sektor Konstruksi.

3. Sektor tertier atau dikenal sebagai sektor Jasa, yaitu yang tidak memproduksi dalam bentuk fisik melainkan dalam bentuk jasa. Sektor yang tercakup adalah Perdagangan Hotel dan Restoran, Angkutan dan Komunikasi, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, dan Jasa-jasa.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

36

3.7.

Pengukuran Ketimpangan Wilayah dengan Indeks Williamson

Konsep tentang kesenjangan mempunyai kemiripan dengan konsep tentang perbedaan. Perbedaan mengenai fisik seseorang misalnya, hal itu memiliki konsep perbedaan yang relatif dan tidak terkait dengan moral pemahaman, berbeda halnya berbicara tentang perbedaan kekayaan seseorang yang bisa dilihat dari tingkat pendapatannya. Selain pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat pendapatan, pengukuran kesenjangan juga menggunakan daerah sebagai basis pengelompokan. Pengelompokan berbasis daerah tersebut mempunyai implikasi pengamatan kesenjangan masyarakat antar daerah. Kondisi kesenjangan kesejahteraan umumnya dinyatakan dalam bentuk indikator kesenjangan, salah satunya yang diperkenalkan oleh Williamson. Indeks Williamson merupakan salah satu alat yang digunakan untuk melihat tingkat kesenjangan ekonomi antar wilayah. Indeks ini didasarkan pada hasil perhitungan PDRB perkapita serta jumlah penduduk suatu daerah. Indeks Wiliamson ini akan menghasilkan angka indeks sama bernilai antara nol dan satu, yang menandakan tidak terjadi kesenjangan ekonomi antar wilayah jika sama dengan nol, sedangkan angka indeks yang lebih besar dari nol menunjukan adanya kesenjangan antar wilayah. Semakin besar indeksnya berarti semakin besar pula tingkat kesenjangan ekonomi antar wilayah. Teknik pengukuran ketimpangan yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan indeks Williamson dengan dasar perhitungannya adalah dengan menggunakan PDRB per kapita dalam kaitannya dengan jumlah penduduk per daerah. Rumus Indeks Williamson :

V

W

f 2 i ( Y Y ) i n i Y
f
2
i
(
Y
Y
)
i
n
i
Y

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

37

di mana:

V w

Y i

f i

= indeks Williamson = pendapatan per kapita di wilayah ke i

= pendapatan per kapita rata-rata seluruh wilayah

= jumlah penduduk di wilayah i

n = jumlah penduduk wilayah

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

38

BAB IV PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009
BAB IV
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI
TAHUN 2009
IV PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009 Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

1

BAB IV PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009
BAB IV PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009

BAB IV

BAB IV PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Bekasi

Wilayah Kabupaten Bekasi secara geografis merupakan jalur utama perekonomian memasuki ibukota Jakarta, dengan letak yang sangat strategis

yaitu berbatasan langsung dengan Ibukota Negara Jakarta sehingga berimplikasi pada pesatnya pembangunan yang ada serta pertambahan penduduk yang cepat. Angka sementara hasil Sensus Penduduk 2010 jumlah penduduk yang mendiami wilayah Kabupaten Bekasi sebesar 2.629.551 jiwa. Pesatnya pertumbuhan penduduk sebagai akibat dari tingkat urbanisasi yang tinggi karena Kabupaten Bekasi sebagai salah satu barometer perekonomian nasional khususnya sektor industri pengolahan sehingga ada kecenderungan arus migrasi untuk mencari pekerjaan khususnya di daerah industri di Kabupaten Bekasi seperti Kecamatan Cikarang Utara, Cikarang selatan, Cikarang Barat, Tambun Selatan serta Cibitung. Hal ini terlihat dengan tercirikan Kabupaten Bekasi sebagai daerah industri terbesar berskala nasional/asing dengan kontribusi sektor ini terhadap total PDRB mencapai 77,58 persen, sehingga baik-buruknya perekonomian Kabupaten Bekasi juga memberikan sinyal terhadap baik buruknya perekonomian nasional. Bertolak dari kondisi tersebut berbagai kebijakan dan strategi yang diambil pemerintah daerah maupun pusat sangat berpengaruh pada akselarasi percepatan pertumbuhan ekonomi khususnya investasi, sehingga perlu mendapat perhatian penuh terhadap upaya-upaya yang mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif di Kabupaten Bekasi. Perkembangan perekonomian Kabupaten Bekasi, yang diukur dengan beberapa indikator ekonomi salah satunya adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bekasi cukup memberikan harapan terhadap peluang berinvestasi maupun memberikan dampak nilai tambah ekonomi terhadap

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

39

masyarakat. Ini tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi

selama 5 tahun terakhir (2005-2009) memperlihatkan pertumbuhan diatas rata-

rata nasional yaitu pertumbuhan rata-rata 6 persen pertahun.Sektor industri

pengolahan memberikan andil tertinggi terhadap perekonomian Kabupaten

Bekasi, diikuti sektor perdagangan dan jasa. Sektor riil (non keuangan) tumbuh

rata-rata diatas 6 persen pertahun kecuali sektor pertanian,

penggalian/pertambangan serta industri dengan kisaran laju hanya 3 s.d 5

persen pertahun. Untuk industri dengan pertumbuhan 4 hingga 5 persen sudah

sangat baik karena besarnya output sektor ini. Diakui pergerakan ekonomi pada

sektor riil terutama sektor pertanian di Kabupaten Bekasi nampaknya belum

memberikan harapan dapat meningkatkan nilai tambah yang signifikan, hal ini

dapat dilihat dari laju pertumbuhan pada sektor ini yang relatif kecil dalam 10

tahun terakhir. Sementara sektor non riil (keuangan) tumbuh rata-rata diatas 6

persen.

4.2.

Perkembangan Tahun 2009

Indikator

Sosial-Ekonomi

Kabupaten

Bekasi

Pergerakan ekonomiKabupaten Bekasi Tahun 2009 yang diukur dengan

beberapa indikator ekonomi salah satunya adalah Produk Domestik Regional

Bruto (PDRB) Kabupaten Bekasi masih memberikan harapan terhadap peluang

berinvestasi maupun memberikan dampak nilai tambah ekonomi terhadap

masyarakat. Walaupun pertumbuhan tahun 2009 tidak setinggi tahun 2008.

Secara rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi selama 5 tahun

terakhir (2005-2009) memperlihatkan pertumbuhan diatas rata-rata nasional

yaitu masih tumbuh 6 persen pertahun. Pertumbuhan ekonomi ditahun 2009

sebesar 5,04 persen, tidak setinggi pada tahun 2008 (6,07 persen). Faktor

eksternal (krisis global) pada kondisi ditahun 2009 agaknya cukup

mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ditahun 2009. Apalagi Kabupaten Bekasi

sebagai daerah yang berbasis industri, dengan kontribusi industri yang

mencapai hampir 80 persen, masih berharap pada sektor ini agar tetap eksis

walaupun sektor ini kerap kali diterjang badai krisis baik itu kenaikan BBM,

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

40

ekspor yang tertunda maupun kebijakan fiskal lainnya serta ancaman buruh akan upah (UMR). Diharapkan pertumbuhan sektor ini masih memberikan kestabilan perkonomian yang pada akhir dapat mengatasi dampak sosial seperti bertambahnya pengangguran dan kemiskinan. Disisi lain perkembangan yang pesat disektor perdagangan dan jasa sedikitnya dapat membantu mengatasi pengangguran yang ditimbulkan akibat kegiatan industri. Beberapa indikator yang dapat memberikan “sinyal” yang lebih tepat kepada pemerintah daerah dan masyarakat, tentang fundamental ekonomian yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun kebijakan perencanaan pembangunan. Tabel 4.1. disajikan indikator fundamental sosial ekonomi tahun 2007 s.d 2009.

Tabel 4.1. Indikator Sosial-Ekonomi Kabupaten BekasiTahun 2007-2009

Indikator

2007

2008*)

2009**)

[1]

[2]

[3]

(4)

PDRB ADH Konstan 2000 (juta rupiah)

46.481.291,50

49.302.484,58

51.789.754,54

Pertumbuhan Ekonomi (%)

6,14

6,07

5,04

PDRB ADH Berlaku (juta rupiah)

74.498.000,40

82.977.554,24

89.012.757,37

PDRB Perkapita ADH Berlaku (rupiah)

35.038.278,00

37.824.078,86

39.129.204,30

Laju Inflasi (%)

6,04

11,10

2,58

Angka Pengangguran Terbuka (%)

15,12

13,29

10,41

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

71,53

72,10

72,47

Laju Pertumbuhan Penduduk (%)

3,46

3,19

3,69

Konsumsi Pemerintah (Juta Rupiah)

1.320.962,39

1.562.657,42

1.680.794,32

Konsumsi Rumahtangga (Juta Rupiah)

16.663.783,33

18.910.712,91

20.663.736,00

Penanam Modal Tetap Bruto (PMTB) (juta)

9.249.970,74

11.089.117,40

11.366.225,69

Jumlah Penduduk(jiwa)

2.126.189

2.193.776

2.274.842

*) Angka perbaikan **) Angka sementara

Indikator ekonomi yang biasa digunakan untuk memberi gambaran atau mengevaluasi variabel ekonomi riil adalah pertumbuhan PDRB, baik dalam harga berlaku maupun dalam harga konstan (LPE). Indikator lain yang biasa digunakan di antaranya adalah tingkat inflasi, angka pengangguran, IPM, pertumbuhan penduduk dsb. Dari Tabel 4.1. tersebut tampak bahwa hingga tahun 2009 perekonomian Kabupaten Bekasi tercatat memiliki pertumbuhan

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

41

yang positif yaitu tumbuh sebesar 5,04 persen. Namun pertumbuhan ini tidak setinggi tahun 2008 yang sebesar 6,07 persen. Sebagai daerah yang memiliki industri menjadikan Kabupaten Bekasi sebagai daerah para urban untuk mencari pekerjaan sehingga Kabupaten Bekasi merupakan daerah dengan tingkat ubanisasi yang tinggi hal ini terlihat dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) yang mencapai 3,69 persen pada tahun 2009, dan diperkirakan akan mengalami peningkatan ditahun akan datang. Urbanisasi, LPP yang tinggi berakibat pada tidak terpenuhinya antara kesempatan kerja dibandingkan dengan banyaknya pencari kerja.Ini tercermin dari angka pengangguran yang terjadi pada tahun 2009 yakni mencapai 10,41 persen.

Gambar 4.1. Grafik LPE, Inflasi, Pengangguran dan LPP Kabupaten Bekasi Tahun 2006-2009 20 LPE 15
Gambar 4.1. Grafik LPE, Inflasi, Pengangguran dan LPP
Kabupaten Bekasi Tahun 2006-2009
20
LPE
15
Inflasi
Pengangguran
10
LPP
Linear
(Pengangguran)
5
0
2006
2007
2008
2009
%

Inflasi merupakan kenaikan harga secara rata-rata (agregat) sementara penurunan harga secara rata-rata disebut deflasi, Perkembangan laju inflasi Kabupaten Bekasi Tahun 2005-2009 tertinggi ditahun 2005 dan 2008 (2 digit) yakni mencapai 16,41 persen dan 11,10 persen. Tingginya inflasi ditahun 2005 disebabkan kenaikan BBM pada saat itu. Sementara sepanjang tahun 2009 inflasi Kabupaten Bekasi hanya sebesar 2,58 persen terkecil selama lima tahun terakhir begitu pula Jawa Barat yang mencatat inflasi sebesar 2,02 persen dan nasional sebesar 3,11 persen. Kecilnya angka inflasi dimungkinkan akibat daya beli yang menurun atau stagnan dan ini sejalan dengan pergerakan ekonomi

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

42

ditahun 2009 yang hanya mencapai 5,04 persen tidak setinggi tahun 2008 yang mencapai 6,07 persen. Inflasi yang terjadi diharapkan pada posisi tidak terlalu rendah dan tinggi artinya adanya pergerakan ekonomi dan inflasi pada kondisi yang stabil. Sementara tahun 2008 nasional inflasi 11,11 persen dan Kabupaten Bekasi 11,10 persen.Bersamaan dengan itu, kenaikan harga-harga barang dan jasa yang ditunjukkan oleh persentase perubahan PDRB deflator maupun IHK. Pada tahun 2009 lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kenaikan harga yang ditunjukkan IHK, dimana persentase perubahan PDRB deflator sebesar 2,12 persen dan inflasi yang didasarkan pada IHK sebesar 2,58 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa pada tahun 2009 tingkat kenaikan harga yang dibayar rumah tangga untuk mengkonsumsi sejumlah barang/jasa lebih tinggi dibanding tingkat kenaikan harga yang dibayar pemerintah dan perusahaan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Indikator ketenagakerjaan yang ditunjukkan dengan angka pengangguran di Kabupaten Bekasi masih relatif tinggi pada tahun 2009 dan diperkirakan akan tetap tinggi dalam kurun waktu 3 tahun kedepan, apabila faktor-faktor yang terkait dengan iklim investasi belum memberikan gambaran yang mengembirakan. Selama tahun 2009 angka pengangguran di Kabupaten Bekasi mencapai sebesar 10,41 persen terjadi penurunan persentase bila dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 13,29 persen. Disisi lain tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 sebesar 5,04 persen, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai 6,07 persen. Penurunan ini disebabkan oleh laju pertumbuhan sektor industri yang tidak setinggi di tahun 2008. Indikasi ini terlihat dari turunnya nilai ekspor industri ditahun 2009sebagaidampak krisis global ditahun 2009. Sektor informal menjadi pilihan akibat imbas dari sektor industri sehingga tingginya angka pengangguran menjadi tertahan dan bahkan sedikit mengalami penurunan. Ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi yang terjadi ditahun 2009 masih bertahan walaupun dari sisi produksi menurun, namun tidak mem- PHK secara drastis pekerjanya dan secara perlahan kondisi industri semakin membaik sehingga terjadi peningkatan kembali kesempatan kerja dan angka pengangguran sedikit tertahan dan tidak berbeda jauh dengan tahun 2008.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

43

Disisi lain untuk melihat perkembangan ekonomi sesungguhnya, indikator PDRB yang lebih akurat untuk digunakan adalah PDRB berdasarkan harga konstan, karena menunjukan riil produksi/potensi tanpa dipengaruhi inflasi, meskipun PDRB menurut harga berlaku pada tahun 2009 terlihat meningkat secara signifikan, tetapi dalam kenyataan PDRB menurut harga konstan relatif stabil. Ditinjau menurut komposisi pengeluaran berdasarkan PDRB penggunaan atas dasar harga berlaku, terlihat bahwa komposisi pengeluaran rumah tangga terhadap total PDRB pada tahun 2009 sebesar Rp. 20.663.736,00 juta atau memiliki kontribusi 23,21 persen terhadap total PDRB. Ada peningkatan kontribusi dibandingkan tahun 2008. Pada periode yang sama pengeluaran konsumsi pemerintah juga mengalami peningkatan kontribusi bila dibandingkan tahun 2008, nilai konsumsi pemerintah menurut PDRB penggunaan pada tahun 2009 sebesar Rp. 1.680.794,32 juta atau 1,89 persen terhadap total PDRB.

4.3. Perekonomian Kabupaten Bekasi ditinjau dari PDRB Tahun 2009

Krisis global yang mewarnai dunia dipenghujung tahun 2008 dan tahun 2009 sedikitnya mempengaruhi perekonomian Indonesia walaupun tidak sedasyat tahun 1998, fundamental ekonomi yang kuat dan kestabilan ekonomi hanya sedikit mempengaruhi perekonomian secara umum. Krisis global tidak hanya berdampak pada dunia usaha dan rumah tangga, tetapi juga menerpa aspek penawaran dan permintaan. Sektor yang paling tertekan di Kabupaten Bekasi pada tahun 2009 adalah sektor industri pengolahan ini terlihat dengan penurunan laju pada sektor ini dari 5,44 persen menjadi 4,06 persen, sehingga sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi total yang hanya 5,04 persen ditahun 2009. Disisi tenaga kerja perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat menghambat penyerapan tenaga kerja bahkan terjadi pengurangan. Hal ini berdampak pada sektor riil dalam menyerap tenaga kerja, sehingga terjadi penurunan tenaga kerja dibeberapa disektor industri dan ada kecenderungan pekerja yang terkena pengurangan tenaga kerja beralih dari sektor formal ke

sektor informal.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

44

Sektor industri merupakan sektor penopang utama dalam pembentukan

PDRB Kabupaten Bekasi. Sebagai daerah yang berbasis industri Kabupaten

Bekasi memberikan kontribusi industri terhadap pendapatan nasional yang

cukup signifikan. Nilai ekspor industri besar sedang yang ada di Kabupaten

Bekasi pada tahun 2009 mencapai 1.784.689.878,96 US $ (Rp. 16,06 trilyun, 1

US $= Rp. 9.000). Sementara di tahun 2008 nilai ekport Kabupaten Bekasi

mencapai 2.106.500.402,66 US $ atau sekitar Rp. 21,06 trilyun. Nilai ekspor

tersebut yang tercatat di Kabupaten Bekasi, sementara sebagian pelaporan nilai

ekspor Kabupaten Bekasi pencatatan di DKI Jakarta. Tingginya nilai ekspor

ditunjukkan dengan besarnya kontribusi sektor industri terhadap total PDRB

Kabupaten Bekasi yang mencapai sekitar 80 persen.

Berdasarkan perhitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000, laju

pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi tahun 2009 mencapai 5,04 persen

angka pertumbuhan ini tidak setinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan

ekonomi ditahun 2008 yang mencapai 6,07 persen. Setelah mengalami

perubahan-perubahan serta revisi pada PDRB atas dasar harga berlaku, nilai

PDRB Kabupaten Bekasi atas dasar harga berlaku pada tahun 2009 mencapai

sebesar 89,01 trilyun seperti disajikan pada Tabel 4.2. berikut.

Tabel 4.2. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi Tahun 2005-2009 Tahun Dasar 2000.

Tahun

PDRB (Juta Rupiah)

Pertumbuhan (%)

Berlaku

Konstan

Berlaku

Konstan

 

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

2005 Dengan Migas

57.175.916,16

41.319.270,05

18,16

6,01

 

Tanpa Migas

56.250.213,34

40.750.989,10

17,77

5,84

2006 Dengan Migas

66.519.529,55

43.793.374,65

16,34

5,99

 

Tanpa Migas

65.346.675,62

42.202.971,05

16,17

6,02

2007 Dengan Migas

73.867.761,25

46.480.291,50

11,05

6,14

 

Tanpa Migas

72.543.098,48

45.905.994,41

11,01

6,26

2008*)

Dengan Migas

82.977.554,24

49.302.484,58

11,38

6,07

Tanpa Migas

81.469.279,74

48.652.292,93

11,34

6,10

2009**)

Dengan Migas

89.012.757,37

51.789.754,54

7,27

5,04

Tanpa Migas

87.469.038,43

51.117.066,26

7,36

5,07

*) Angka perbaikan **) Angka sementara

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

45

Penopang utama kinerja ekonomi yang diukur dengan nilai PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi masih terdapat pada sektor industri. Sementara sektor perdagangan dan jasa mengalami peningkatan sejalan dengan pertumbuhan sektor industri. Pada tahun 2009 sektor industri tumbuh sebesar 4,06 persen tidak setinggi ditahun 2008 sebesar 5,44 persen. Sementara sektor perdagangan, hotel dan restaurant pada 2009 tumbuh sebesar 9,84 persen, pertumbuhan ini tidak setinggi dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 10,17 persen.

PDRB

Gambar 4.2. Grafik PDRB dan Laju PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2006-2009 100.000.000,00 20,00
Gambar 4.2.
Grafik PDRB dan Laju PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 2006-2009
100.000.000,00
20,00
90.000.000,00
18,00
80.000.000,00
16,00
70.000.000,00
14,00
60.000.000,00
12,00
50.000.000,00
10,00
40.000.000,00
8,00
30.000.000,00
6,00
20.000.000,00
4,00
10.000.000,00
2,00
0,00
0,00
2006
2007
2008
2009
Laju

Tahun

8,00 30.000.000,00 6,00 20.000.000,00 4,00 10.000.000,00 2,00 0,00 0,00 2006 2007 2008 2009 Laju Tahun

PDRB

PDRB Laju

Laju

Dari sisi produksi, hampir semua sektor mengalami pertumbuhan peningkatan kinerja yang positif kecuali sub sektor penggalian dan sub sektor kehutanan. Berikut ini uraian berdasarkan sektor. Berdasarkan PDRB harga konstan pertumbuhan ekonomi sektor pertanian pada tahun 2009 sebesar 5,96 persen, dengan memberikan andil terhadap LPE Kabupaten Bekasi sebesar 0,11 persen. Penopang terbesar pada sektor ini adalah kenaikan produksi padi dari 586.372 ton ditahun 2008 menjadi 617.607 ton ditahun 2009. Hanya sub sektor kehutanan yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,25 persen. Secara rinci PDRB Kabupaten Bekasi menurut sektor disajikan pada Tabel 4.3.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

46

Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3,39 persen,

memberikan andil terhadap LPE Kabupaten Bekasi sebesar 0,04. Disisi lain

subsektor penggalian mengalami pertumbuhan yang negatif yakni sebesar -

4,05 persen. Sektor pertambangan minyak bumi dengan nilai produksi hasil

lifting sebesar 5.296.680,00barrel dan gas sebesar 10.423.830,00MMBTU.

Produksi minyak bumi dan gas terdapat di Kecamatan Babelan dan

Cabangbungin.

Tabel 4.3. PDRB Kabupaten Bekasi menurut SektorTahun 2008-2009(Juta Rupiah)

LAPANGAN

USAHA

PDRB ADH BERLAKU

 

PDRB ADH KONSTAN 2000

 

2008*)

2009**)

%

2008*)

2009**)

%

[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

[6]

[7]

01. Pertanian

1,700,959.92

1,882,930.81

10.70

935,339.07

991,095.68

5.96

02. Pertambangan Dan

1,521,509.12

1,557,853.52

2.39

655,916.11

678,180.90

3.39

03. Industri Pengolahan

65,243,577.15

69,059,461.93

5.85

39,067,966.95

40,653,221.28

4.06

04. Listrik, Gas Dan Air Minum

1,894,723.41

2,091,705.72

10.40

876,877.50

940,190.20

7.22

05. Bangunan/Konstruksi

1,188,305.17

1,422,163.63

19.68

624,126.55

711,629.09

14.02

06. Perdagangan, Hotel &

7,315,042.73

8,405,349.09

14.90

4,774,815.62

5,244,796.77

9.84

07. Pengangkutan Dan

1,370,230.67

1,509,043.04

10.13

739,028.63

803,964.40

8.79

08. Bank & Lembaga Keuangan

1,012,604.60

1,163,521.28

14.90

532,336.52

579,516.75

8.86

09. Jasa-Jasa

1,730,601.45

1,920,728.34

10.99

1,096,077.64

1,187,159.48

8.31

PDRB Dengan Migas

82,977,554.24

89,012,757.37

7.27

49,302,484.58

51,789,754.54

5.04

PDRB Tanpa Migas

81,469,279.74

87,469,038.43

7.36

48,652,292.93

51,117,066.26

5.07

*) Angka perbaikan **) Angka sementara

Sektor industri merupakan sektor yang dominan di Kabupaten Bekasi,

sektor ini pada tahun 2009 tumbuh sebesar 4,06 persen dan memberikan andil

tertinggi terhadap laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kabupaten Bekasi sebesar

3,18 persen dari total LPE Kabupaten Bekasi yang sebesar 5,04 persen. Melihat

tingginya andil sektor ini terhadap LPE Kabupaten Bekasi diharapkan

pemerintah daerah dapat menjaga kenyamanan investasi, mengatasi

permasalahan buruh serta prasarana fisik dalam mendukung investasi sehingga

apabila pada sektor ini pertumbuhannya relatif stabil maka laju pertumbuhan

ekonomi Kabupaten Bekasi cenderung stabil dan tumbuh positif. Secara umum

laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dan Kabupaten Bekasi tahun 2009 tidak

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

47

setinggi pada tahun 2008 yakni hanya sebesar 4,29 persen untuk Jawa Barat dan 5,04 persen untuk Kabupaten Bekasi. Krisis global yang menimpa dunia turut mempengaruhi industrialisasi ditahun 2009, turunnya output sektor industri menjadi penyebab perlambatan pertumbuhan ditahun 2009. Tingginya Kontribusi sektor industri di Provinsi Jawa Barat yang mencapai 44 persen, sementara di Kabupaten Bekasi mencapai 77,58 persen sehingga sangat mempengaruhi total laju pertumbuhan ekonomi. Tingginya kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi, oleh karena itu peranan pemerintah daerah sangat diharapkan dalam membantu terciptanya iklim investasi yang kondusif, infrastruktur yang memadai serta pelayanan publik terhadap dunia investasi yang baik/prima. Semakin membaiknya perekonomian ditahun 2010 diharapkan laju pertumbuhan ekonomi kembali diatas enam persen bahkan lebih. Sektor listrik, gas dan air tumbuh sebesar 7,22 persen, menyumbangkan terhadap LPE Kabupaten Bekasi sebesar 0,13 persen. Sub sektor listrik tumbuh 7,11 persen, gas kota 7,89 persen serta air bersih tumbuh 7,71 persen. Pesatnya pembangunan di bidang konstruksi/bangunan terutama perluasan dan penambahan pabrik baru, perumahan, pertokoan, jalan di Kabupaten Bekasi menjadikan sektor ini tumbuh sebesar 14,02 persen. Sektor ini menyumbangkan andilnya terhadap LPE Kabupaten Bekasi sebesar 0,19 persen. Andil kedua terbesar setelah sektor Industri terhadap LPE Kabupaten Bekasi tahun 2009 adalah sektor perdagangan, hotel dan restaurant yakni sebesar 0,99 persen. Pergerakan sektor industri memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sektor perdagangan, hotel dan restaurant di Kabupaten Bekasi. Output dari arus barang hasil industri serta multiplier dari adanya kegiatan industri menjadikan sektor perdagangan hotel dan restaurant tumbuh sebesar 9,84 persen. Kenaikan tersebut merupakan kenaikan dari komponen sub sektor perdagangan yang tumbuh 10,01 persen, sub sektor hotel tumbuh 8,95 persen serta sub sektor restaurant yang mengalami kontraksi ekonomi sebesar 7,88 persen.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

48

Tahun 2009 sektor angkutan dan komunikasi tumbuh sebesar 8,79

persen dengan andil terhadap LPE sebesar 0,13 persen. Setelah mengalami

peningkatan yang signifikan terhadap pengguna/pemakai telepon selular pada

tahun 2008, sub sektor komunikasi pada tahun 2009 tumbuh sebesar 9,56

persen, sementara sub sektor angkutan tumbuh sebesar 8,28 persen.

Sektor keuangan persewaan dan jasa tumbuh sebesar 8,86 persen,

dengan andil terhadap LPE Kabupaten Bekasi sebesar 0,09 persen. Peranan sub

sektor Bank sebesar 12,10 persen, sub sektor lembaga keuangan tumbuh 8,02

persen. Sewa bangunan tumbuh 7,55 persen serta sub sektor jasa perusahaan

tumbuh sebesar 7,36 persen.

Sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan sebesar 8,31 persen dan

memberikan andil terhadap LPE Kabupaten Bekasi sebesar 0,18 persen. Sektor

ini terdiri dari sub sektor pemerintahan yang tumbuh sebesar 8,73 persen serta

sub sektor swasta tumbuh 7,50 persen.

Dari sembilan sektor hasil kegiatan ekonomi yang ada di Kabupaten

Bekasi masing-masing memberikan kontribusi/andil sehingga menjadikan laju

pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi pada tahun 2009 menjadi 5,04

persen. Seperti disajikan dalam Tabel 4.4.

Tabel 4.4.Andil Sektoral terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bekasi Tahun 2009

 

Laju Pertumbuhan Ekonomi (%)

Andil Terhadap

SEKTOR

LPE (%)

 

(1)

(2)

(3)

1. PERTANIAN

5.96

0.11

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN

3.39

0.04

3. INDUSTRI PENGOLAHAN

4.06

3.18

4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH

7.22

0.13

5. BANGUNAN

14.02

0.19

6. PERDAG., HOTEL & RESTORAN

9.84

0.99

7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI

8.79

0.13

8. KEU. PERSEWAAN, & JASA PERUSAHAAN

8.86

0.09

9. JASA-JASA

8.31

0.18

Laju Pertumbuhan Ekonomi

5.04

5.04

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

49

4.4.

Struktur Ekonomi Kabupaten Bekasi Tahun 2006-2009

Struktur perekonomian disuatu wilayah dapat menggambarkan sektor- sektor yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah (engine growth). Di Kabupaten Bekasi yang menjadi motor penggerak pertumbuhannya adalah sektor industri pengolahan, hal ini terbukti dari peranan sektor industri yang mendominasi perekonomian di Kabupaten Bekasi dari tahun ketahun. Disisi lain sektor perdagangan dan jasa di Kabupaten Bekasi mulai bergerak dan semakin

memberikan kontribusinya terhadap perekonomian Kabupaten Bekasi. Distribusi persentase PDRB secara sektoral menunjukan peranan masing-masing sektor dalam pembentukan PDRB secara keseluruhan. Semakin besar persentase suatu sektor maka semakin besar pula pengaruh sektor tersebut dalam perkembangan ekonomi suatu daerah. Oleh karena itu dengan melihat perkembangan suatu sektor dalam kurun waktu tertentu akan kurang tepat tanpa memperhatikan peranan sektor tersebut dalam PDRB secara keseluruhan dengan kurun waktu yang sama. Jadi persentase ini dapat dianggap sebagai penimbang apabila ingin melihat perkembangan sektoral dengan lebih teliti, dalam arti lain jika peranan suatu sektor besar dan terjadi perubahan kecil saja dalam sektor tersebut, maka akan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan ekonomi daerah tersebut. Sebaliknya jika peranan suatu sektor kecil dan terjadi perubahan baik besar maupun kecil dalam sektor tersebut, maka pengaruh yang diakibatkan kurang signifikan terhadap perubahan ekonomi daerah tersebut. Tabel 4.5. berikut disajikan distribusi persentase PDRB Kabupaten Bekasi Tahun 2006-2009 atas dasar harga berlaku berdasarkan sektor primer, sekunder dan tertier.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

50

Tabel 4.5. Peranan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi Atas Dasar Harga Berlaku menurut Sektor Primer, Sekunder dan Tertier (Dalam JutaRupiah/persen)

Lapangan Usaha

2006

2007

2008*)

2009**)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1. Primer (Pertanian

2.492.058,93

2.842.957,74

3.222.469,04

3.440.784,33

&Pertambangan)

(3,75)

(3,82)

(3,88)

(3,87)

2. Sekunder (Industri, Listrik,air dan Bangunan)

55.387.293,60

61.789.428,99

68.326.605,73

72.573.331,28

(83,26)

(82,94)

(82,34)

(81,53)

3. Tersier (Perdagangan, pengangkutan lembaga keuangan dan jasa)

8.640.177,02

9.865.613,67

11.428.479,46

12.998.641,76

(12,99)

(13,24)

(13,77)

(14,60)

 

66.519.529,55

74.498.000,40

82.977.554,24

89.012.757,37

PDRB

(100,00)

(100,00)

(100,00)

(100,00)

*) Angka perbaikan **) Angka sementara

Kontribusi sektor Primer atas dasar harga berlaku pada tahun 2009

mengalami penurunan dari 3,88 persen pada tahun 2008 menjadi 3,87 persen

pada tahun 2009. Sementara sektor sekunder mengalami sedikit penurunan

dari 82,34 persen menjadi 81,53 persen. Sedangkan untuk sektor tersier

mengalami kenaikan dari 13,77 persen pada tahun 2008 persen menjadi 14,60

persen ditahun 2009. Kontribusi sektor tertier yang diatas 10 persen dan dari

tahun ketahun mengalami peningkatan, hal ini memperlihatkan bahwa

Kabupaten Bekasi selain sebagai daerah berbasis industri perkembangan kearah

kota/daerah perdagangan dan jasa semakin nampak. Ini disebabkan makin

meningkatnya pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa. Untuk sektor primer

Migas pada tahun 2009 mengalami pertumbuhan positif sebesar 3,39 persen

dibandingkan tahun 2008. Minyak bumi diekplorasi di Kecamatan Babelan sejak

tahun 2001 serta eksplorasi baru di Kecamatan Cabangbungin. Sementara

kontribusi sektor terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Bekasi pada tahun

2009, 77,58 persen diserap sektor industri, dan sebesar 9,44 persen diserap

sektor perdagangan serta kontribusi terendah adalah sektor Keuangan,

Persewaan & Jasa Perusahaan yang hanya sebesar 1,31 persen. (Tabel 4.6.).

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

51

Tabel 4.6. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten BekasiTahun20062009(Atas Dasar Harga Berlaku)

S

E

K

T

O

R

2006

2007

2008*)

2009**)

 

(1)

 

(3)

(4)

(5)

(6)

1. Pertanian

1,97

2,02

2,05

2,12

2. Pertambangan dan Penggalian

1,78

1,79

1,83

1,75

3. Industri Pengolahan

 

79,78

79,36

78,63

77,58

4. Listrik dan Air Bersih

 

2,31

2,29

2,28

2,35

5. Bangunan / Konstruksi

 

1,18

1,29

1,43

1,60

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran

8,31

8,45

8,82

9,44

7. Angkutan dan Komunikasi

 

1,51

1,56

1,65

1,70

8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

1,10

1,15

1,22

1,31

9. Jasa-jasa

2,07

2,07

2,09

2,16

 

TOTAL

 

100,00

100,00

100,00

100,00

*) Angka perbaikan **) Angka sementara

Gambar 4.3. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Bekasi atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2009 Pertanian Penggalian
Gambar 4.3.
Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Bekasi
atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2009
Pertanian
Penggalian
Industri
Listrik, Gas
Konstruksi
Perdagangan
Pengangkutan
Bank
Jasa-jasa

4.5. PDRB Perkapita dan Kesejahteraan Penduduk

Indikator yang dipakai untuk menggambarkan tingkat kemakmuran

masyarakat secara makro adalah pendapatan perkapita (percapita income).

Semakin tinggi pendapatan yang diterima penduduk disuatu wilayah maka

tingkat kesejahteraan di wilayah yang bersangkutan dapat dikatakan bertambah

baik. Oleh karena pendapatan faktor produksi dan transfer yang mengalir

keluar (transfer out) serta pendapatan faktor produksi dan transfer yang

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

52

masuk (transfer in) yang menjadi komponen penghitungan pendapatan regional belum dapat dihitung maka yang disajikan adalah PDRB perkapita. PDRB perkapita atas dasar harga berlaku menggambarkan besarnya nilai tambah domestik bruto perpenduduk secara nominal, sedangkan PDRB perkapita atas dasar harga konstan berguna untuk mengetahui nilai tambah nyata serta pertumbuhan nyata perkapita. Angka ini diperoleh dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Tabel 4.7.disajikan PDRB perkapita ADH berlaku Tahun 2000-2009.

Tabel 4.7. PDRB Perkapita Kabupaten Bekasi Tahun 2000-2009

     

PDRB Perkapita

 

Tahun

PDRB Perkapita

ADH Berlaku

(Rp.)

Perubahan

(%)

ADH Konstan

2000

(Rp.)

Perubahan

(%)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

 

2000 18.844.107,33

-

18.844.107,33

-

 

2001 19.992.068,09

6,09

19.127.282,94

1,50

 

2002 21.367.366,72

6,88

19.316.123,90

0,99

 

2003 22.720.472,88

6,33

19.384.788,89

0,36

 

2004 24.811.881,94

9,20

19.985.880,48

3,10

 

2005 28.194.615,31

13,63

20.375.378,12

1,95

 

2006 32.372.830,16

14,82

21.312.770,69

4,60

 

2007 35.038.277,60

8,23

21.861.316,89

2,57

 

2008 37.824.077,86

7,95

22.473.801,69

2,80

 

2009 39.129.204,30

3,45

22.766.308,40

1,30

PDRB perkapita Kabupaten Bekasi mengalami peningkatan dari tahun ketahun dari jumlah penduduk sebanyak 2.274.842 jiwa pada tahun 2009, PDRB perkapita ADH berlaku Kabupaten Bekasi sebesar Rp. 39.129.204,30 mengalami peningkatan 3,45 persen dibandingkan tahun 2008. Kendati demikian peningkatan PDRB perkapita diatas masih belum mengambarkan secara riil kenaikan daya beli masyarakat Kabupaten Bekasi secara umum, karena adanya output sektor industri yang diekspor. PDRB perkapita yang dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku masih terkandung faktor inflasi yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

53

Untuk memantau perkembangan daya beli masyarakat secara riil dapat digunakan PDRB perkapita yang dihitung dari PDRB atas dasar harga konstan. Dari Tabel 4.7. dapat dilihat PDRB perkapita atas dasar konstan tahun 2009 di Kabupaten Bekasi sebesar Rp. 22.766.308,40 mengalami peningkatan sebesar 1,30 persen bila di dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 2,80 persen. Secara riil tingginya nilai PDRB ADHB Kabupaten Bekasi disebabkan oleh peranan industri pengolahan yang ada di Kabupaten Bekasi dan ini tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat Kabupaten Bekasi atau hasil dari industri pengolahan kebanyakan diekspor tercatat ekspor Kabupaten Bekasi tahun 2009 ± Rp. 16,07 trilyun, namun multiplier effect dari adanya industri cukup memberikan pengaruh perkembangan perekonomian terhadap daerah sekitarnya. Sebagai pembanding untuk mendapatkan nilai PDRB perkapita yang dapat menggambarkan produk perkapita Kabupaten Bekasi yang mungkin lebih riil yaitu dengan melihat PDRB perkapita tanpa Industri pengolahan. Pada tahun 2009 PDRB perkapita Kabupaten Bekasi tanpa industri pengolahan sebesar Rp. 8.771.288,49 sedangkan tahun 2008 mencapai Rp. 8.083.768,17. Gambar 4.4 memperlihatkan pertumbuhan PDRB perkapita tahun 2006-2009.

Gambar 4.4. Grafik Produk Domestik Regional Bruto Perkapita Kabupaten Bekasi Tahun 2006-2009

100.000.000,00 90.000.000,00 80.000.000,00 70.000.000,00 60.000.000,00 50.000.000,00 40.000.000,00 30.000.000,00
100.000.000,00
90.000.000,00
80.000.000,00
70.000.000,00
60.000.000,00
50.000.000,00
40.000.000,00
30.000.000,00
20.000.000,00
10.000.000,00
0,00
2006
2007
2008
2009
PDRB Perkapita (Rupiah)

Tahun

Berlaku30.000.000,00 20.000.000,00 10.000.000,00 0,00 2006 2007 2008 2009 PDRB Perkapita (Rupiah) Tahun Konstan

Konstan30.000.000,00 20.000.000,00 10.000.000,00 0,00 2006 2007 2008 2009 PDRB Perkapita (Rupiah) Tahun Berlaku

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

54

4.6.

Tinjauan Sektor Industri di Kabupaten Bekasi

Seiring dengan semakin membaiknya roda perekonomian Indonesia yang

diindikasikan dengan terus meningkatnya nilai PDB maupun PDRB. Semakin

membaiknya sektor industri khususnya di Kabupaten Bekasi sebagai penopang

industri nasional yang dibuktikan dengan tingginya nilai ekspor Kabupaten

Bekasi pada tahun 2008 yang mencapai sebesar 2.106.500.402,66 US $, dan

pada tahun 2009 tercatat ekspor menjadi 1.784.689.878,96 US $, sebagai

catatan angka ekspor ini adalah yang tercatat/melapor pada dinas perindagkop

dan masih banyak perusahaan industri besar sedang yang ada di Kabupaten

Bekasi catatan/melapor ekspor impornya secara langsung di DKI. Kenyataan ini

tidak dapat dipungkiri apabila Industri di Kabupaten Bekasi mendominasi

kontribusi terhadap nilai PDRB Kabupaten Bekasi yang mencapai hingga 80

persen. Sebagai barometer industri nasional Kabupaten Bekasi akan

menghadapi tantangan liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas dalam

rangka WTO/GATT maupun AFTA/ACFTA(ASEAN-China Free Trade Agreement).

Industri di Kabupaten Bekasi bukan saja memiliki tingkat output tertinggi di

Jawa Barat saja tetapi juga ditingkat nasional sebagai gambaran untuk ukuran

berikut ini disajikan nilai tambah sektor industri di 6 kota/kabupaten di Jawa

Barat.

Tabel 4.8. Nilai Tambah Bruto (NTB) Sektor Industri Besar Sedang di Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 (Juta Rp.)

     

Persentase Thd

No.

Daerah

2009**)

Jawa Barat

(1)

(2)

(3)

(4)

1

Kab. Bekasi

69.059.461,93

25,10

2

Kab. Bogor

40.428.260,00

14,69

3

Kab. Bandung

24.721.851,70

8,98

4

Kab. Karawang

24.342.282,27

8,85

5

KotaBandung

17.208.403,00

5,63

6

Kab. Indramayu

15.504.096,64

6,25

7

Kota Bekasi

13.499.050,01

4,91

8

18 Kabupaten/Kota Lainnya

70.401.858,41

25,59

 

Jawa Barat

275.165.263,96

100,00

Sumber : BPS Propinsi Jawa Barat

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

55

Dari sebanyak 25 kota/kabupaten di Jawa Barat 7 Kota/Kabupaten diatas

mendominasi 74,41 persen nilai tambah industri besar sedang di Jawa Barat.

Kabupaten Bekasi memberikan andil nilai tambah bruto sektor industri sebesar

25,10 persen (Rp.69,06 trilyun), kemudian diikuti Kabupaten Bogor 14,69

persen (Rp.40,43 trilyun), Kabupaten Bandung 8,98 persen (Rp.24,72 trilyun),

Kabupaten Karawang 8,85 persen (Rp.24,34 trilyun), Kota Bandung 5,63 persen

(Rp.17,21 trilyun), Kabupaten Indramayu 6,25 persen (Rp.15,50) serta Kota

Bekasi dengan nilai tambah Rp.13,50 trilyun atau 4,91 persen terhadap nilai

tambah sektor industri Provinsi Jawa Barat.

Tabel 4.9. Nilai Tambah Bruto (NTB) Atas Dasar Harga Konstan Sektor Industri Besar Sedang di Kabupaten Bekasi berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 2008-2009.(Juta Rp.)

Lapangan Usaha

2008*)

2009**)

%

(1)

(2)

(3)

(4)

1. Makanan, Minuman dan Tembakau

1.057.451,51

1.157.380,68

9,45

2. Tekstil, Brg. Kulit & Alas kaki

4.612.007,42

4.731.627,58

2,59

3. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya

104.591,12

102.133,23

-2,35

4. Kertas dan Barang Cetakan

308.462,12

351.708,51

14,02

5. Pupuk, Kimia & Brg. dari Karet

11.463.958,20

13.311.341,35

16,11

6. Semen & Brg. Galian bukan logam

159.114,37

159.095,54

-0,01

7. Logam Dasar Besi & Baja

1.322.312,08

1.321.044,86

-0,10

8. Alat Angk., Mesin & Peralatannya

19.505.005,48

18.941.754,90

-2,89

9. Barang lainnya

535.064,64

577.134,63

7,86

Total

39.067.966,95

40.653.221,28

4,06

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

56

Gambar 4.5. Peta Kontribusi Sektor Industri Terhadap PDRB Provinsi Jawa Barat Tahun 2009
Gambar 4.5.
Peta Kontribusi Sektor Industri Terhadap PDRB
Provinsi Jawa Barat Tahun 2009

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

57

Tabel 4.10. Kawasan Industri di Kabupaten Bekasi

No.

Nama Kawasan Industri

Luas (Ha)

(1)

(2)

(3)

1

Kawasan Industri Jababeka

790,0

2

Kawasan Industri Jababeka II

250,0

3

Bekasi Fajar Industrial Estate

700,0

4

Megapolis Manunggal Industrial Estate

760,0

5

LippoCity Development

427,4

6

East Jakarta Industri Park (EJIP)

320,0

7

Hyundai Inti Development

200,0

8

Rawa Intan

100,0

9

Patria Manunggal Jaya

90,0

10

Jatiwangi Utara

20,0

11

Gobel Dharma Nusantara

54,0

12

YKK Indonesia Zipper

20,0

13

Kawasan Dharma Industri

18,0

14

Indo Kargomas Persada

230,0

15

Gerbang Teknologi Cikarang

240,0

16

Pura Delta Lestari

2.000,0

 

TOTAL

6.219,4

Sumber : Kabupaten Bekasi Dalam AngkaTahun 2009

Dari 752 industri besar sedang pada tahun 2009 terjadi penyerapan tenaga kerja sebesar 213.838 tenaga kerja, mengalami penurunan sebesar 8,07 persen dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 220.991 tenaga kerja. Kelompok industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah Barang- barang dari logam, mesin yaitu sebanyak 107,446 tenaga kerja dan kelompok industri ini memberikan nilai tambah bruto/PDRB sebesar Rp.36,11 trilyun. Industri kimia menyerap tenaga kerja terbesar kedua yakni sebesar 33,394 tenaga kerja dengan sumbangan terhadap nilai NTB/PDRB dari industri kelompok Kimia dan barang-barang dari bahan kimia, minyak bumi, batu bara, karet dan barang-barang dari plastik yaitu sebesar Rp.14,76 trilyun. Selanjutnya disajikan dalam Tabel 4.11.

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi, Tahun Anggaran 2010

58

Tabel 4.11. Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Besar dan Sedang menurut Kelompok Industri Tahun 2009

   

Banyaknya

Tenaga

Kerja

NTB/

KBLI

Kelompok Industri

Industri

PDRB

ADHB(juta)**)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)