Anda di halaman 1dari 9

ARAHAN ZONASI KAWASAN SPRITUAL DAN KAWASAN WISATA BAHARI PANTAI

MERTASARI SANUR

Diusulkan Oleh:

Wildan Rois Al Mi’Dam 1662121009 / 2016

UNIVERSITAS WARMADEWA
DENPASAR
2018
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kontribusi parawisata dalam hal perzonasian pengaturan ruang pada daerah Bali sangatlah
besar. Parawisata sendiri dijadikan sebagai keberlangsungan hidup untuk masyarakat Bali atau
sumber mata pencaharian dan banyak lagi dari segi lainnya yang sangat mempengaruhi yaitu
dari segi ekonomi sosial, ekonomi budaya, politik, dan lingkungan hidup. (Iii & Penelitian,
2013)
Provinsi Bali terdiri dari Kabupaten Badung, Kabupaten Bangli, Kabupaten Buleleng,
Kabupaten Gianyar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Klungkung,
Kabupaten Tabanan dan Kota Denpasar. Ibukota provinsi ini adalah Denpasar, walaupun
tingkat perekonomian lebih besar di Kabupaten Badung, dimana sektor parawisata lebih
mendominasi sehingga dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekspor dan
investasi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Bali.
Sanur adalah salah satu desa di Kecamatan Denpasar Selatan, Provinsi Bali. Wilayah yang
di dominasi oleh laut dan pantai yang indah dan membuat wilayah ini banyak di minati oleh
para wisatawan lokal dan tidak sedikit pula wisatawan mancanegara yang menikmati
panorama laut tersebut antara lain : Pantai Sindhu, Pantai Sanur, Pantai Karang, Pantai
Mertasari, Pantai Segara, Pantai Hayet ,Pantai Semawang, Pantai Parigata, Pantai Matahari
Terbit.
Beberapa masalah yang timbul pada salah satu pantai di Sanur yaitu Pantai Mertasari,
terlihat pada penempatan wisata bahari tersebut tidak memperhatikan ketentuan atau aturan
larangan yang sudah di buat oleh Desa Adat Intaran yang membuat larangan atau himbauan
dilarangnya megoperasikan dan menempatkan sebuah sarana wisata bahari pada kawasan
spiritual, namun larangan tersebut tidak dihiraukan oleh masyarakat sekitar pantai yang tetap
megoperasikan wisata bahari tersebut.
Tujuan Penelitian ini yaitu untuk memberikan arahan zonasi wisata bahari pada Pantai
Mertasari agar yang mana nantinya akan menjadikan Pantai Mertasari lebih baik dan aturan
dari Desa Adat Intaran dapat digunakan, sehingga masyarakat sekitar yang melaksanakan
kegiatan spiritual merasa tidak terganggu mejalankan kegiatan tersebut.

Gambar 1. Sumber : Survei Lapangan 2018


1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Pantai Mertasari memiliki perletakan zonasi yang baik antara area wisata
bahari dengan area kegiatan spiritual?
2. Upaya apa yang bisa dilakukan untuk dapat memperbaiki zonasi yang baik pada area
wisata bahari dengan kawasan kegiatan spiritual?
1.3 Hipotesis
1. Pelanggaran pada penempatan wisata bahari pada kawasan spiritual
2. Tata letak pedagang dan turis yang banyak berdatangan membuat faktor untuk
penambahan penghasilan lebih bagi masyarakat untuk membuka tempat wisata bahari
3. Upaya menerapkan peraturan yang sudah dibuat oleh daerah setempat sehingga
menciptakan kawasan yang sesuai dengan fungsi yang sudah ditetapkan
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tata Ruang Kawasan Pantai

Fungsi tata ruang kawasan pantai adalah merupakan suatu usaha/upaya yang terpadu
untuk melestarikan fungsi daripada kawasan pantai yang meliputi kebijaksanaan penataan,
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, dan pengendaliannya.Setiap usaha pengelolaan
wilayah pesisir, sebelumnya diperlukan perencanaan yang matang dalam mengalokasikan
sumber daya alam. Perencanaan dapat diartikan sebagai proses persiapan pembuatan
keputusan untuk pelaksanaan sesuai dengan sasaran yang diinginkan.(Manaf, 2007)
2.2 Zonasi Wilayah Pesisir
Batas Wilayah Rencana Zonasi Pesisir Kawasan Rencana Zonasi mencakup semua
wilayah kecamatan di pesisir dan saluran air yang ditemukan di wilayah perencanaan. Secara
spesifik, batas wilayah daratan untuk Rencana Zonasi ditetapkan sama dengan batas
administrasi kecamatan, dan batas kearah laut sampai 4 mill laut pada tingkat pemerintahan
kabupaten dan sampai 12 mill laut untuk tingkat propinsi. Menurut UU No.27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil, zonasi adalah suatu bentuk
rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan
potensi sumber daya dan daya dukung.(Manaf, 2007)
Serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam ekosistem
pesisir. Sistem zonasi sebagaimana dimaksud terdiri dari:
1. Zona inti yang antara lain diperuntukkan:
a. Perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan, serta alur migrasi biota laut;
b. Perlindungan ekosistem pesisir yang unik dan/atau rentan terhadap perubahan;
c. Perlindungan situs budaya/adat tradisional;
d. Penelitian; dan/atau
e. Pendidikan.
2. Zona pemanfaatan terbatas antara lain diperuntukkan:
a. Perlindungan habitat dan populasi ikan;
b. Pariwisata dan rekreasi;
c. Penelitian dan pengembangan; dan/atau
d. Pendidikan.
3. Zona lainnya sesuai dengan peruntukan kawasan. Yaitu merupakan zona diluar
zona inti dan zona pemanfaatan terbatas yang karena fungsi dan kondisinya ditetapkan
sebagai zona tertentu antara lain zona rehabilitasi.
2.3 Mekanisme Penyusunan Rencana Zonasi
Mekanisme penyusunan perencanaan wilayah pesisir ditunjukan pada diagram dibawah.
Hasil arahan rencana zonasi dapat digunakan sebagai pertimbangan didalam penetapan
struktur dan pola ruang yang terdapat didalam RTRW. Manfaat Zonasi dalam pengendalian
pemanfaatan ruang wilayah adalah ketentuan yang diperuntukan sebagai alat penertiban
penataan ruang, meliputi pernyataan kawasan/ zona/sup zona, ketentuan perizinan, ketentuan
pemberian insentif dan disinsentif, serta arahan pengenaan sanksi dalam rangka perwujudan
rencana tata ruang wilayah (RTRW). RZR Kabupaten / Kota Rencana Zonasi Rinci Kab/Kota
adalah rencana detail dalam 1 (satu) Zona dan/atau satu unit perencanaan berdasarkan arahan
pengelolaan di dalam Rencana Zonasi kab/kota dengan memperhatikan daya dukung
lingkungan dan teknologi yang dapat diterapkan serta ketersediaan sarana yang pada
gilirannya menunjukkan jenis dan jumlah surat izin yang dapat diterbitkan oleh Pemerintah
Daerah. Keuntungan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah adalah ketentuan yang
diperuntukan sebagai alat penertiban penataan ruang , meliputi pernyataan kawasan/ zona/sup
zona, ketentuan perizinan, ketentuan pemberian insentif dan disinsentif, serta arahan
pengenaan sanksi dalam rangka perwujudan rencana tata ruang.(Koddeng et al., 2011)
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan objek kajian adalah bentuk arahan
zonasi pada Pantai Mertasari, Sanur. Adapun lokasi penelitian ini terdapat di Pantai
Mertasari, Sanur.
Terdapat lima tahapan utama yang dijalankan dalam penelitian ini, yaitu : (a) tahap pra
penelitian ; (b) tahap pengumpulan data ; (c) tahap analisis data ; (d) tahap sintesis data dan
(e) tahap simpulan dan penyusunan laporan akhir.
TAHAP PENELITIAN GAMBARAN PENELITIAN
Pra Penelitian Pengamatan Pengamatan langsung berfungsi untuk melihat permasalahan
Langsung secara umum dan nyata dengan cara berkeliling dan
mengambil foto objek
Studi Literatur Studi literatur awal yang telah dilakukan adalah dengan
Awal mempelajari karakteristik, sejarah Pantai Segara , Sanur
Penetapan Penetapan fokus topik penelitian dilakukan berdasarkan
fokus topik masalah nyata yang terdapat di lapangan
penelitian
Studi lapangan Menyangkut mengenai observasi, tata pola zonasi dan
Pengumpulan (observasi) observasi lanjutan
Data Studi literatur Pada tahap ini akan dilakukan mengenai studi pustaka tentang
lanjutan data yang berkaitan di lapangan
Wawancara Pada tahap ini dilakukan wawancara untuk mendapatkan
pendapat dari pengguna langsung pada objek penelitian ini

Identifikasi Identifikasi atas karakter aspek aktifitas pengguna, aspek


Analisis kasus kenyamanan ruang yang ada pada Pantai Mertasari, Sanur
Data penelitian dalam menjelaskan bentuk arahan zonasi di Pantai Segara,
Sanur

Klasifikasi Kasus dan karakter yang dimiliki akan dibagi menjadi


kasus dan beberapa kelompok, hingga ditemukannya tema-tema
karakter yang temuan.
dimiliki
Penetapan Temuan ditetapkan berdasarkan klasifikasi kasus dan karakter
jenis-jenis yang dimiliki
temuan
Data literatur Difokuskan pada hal-hal yang berkenaan dengan teori
zonasi wilayah, mekanisme penyusunan zonasi berdasarkan
aspek pengguna aktivitas dan aspek kenyamanan ruang
Sintesis Dialog antar Dialog dilakukan hingga menemukan temuan tentang: bentuk
Data temuan arahan zonasi Pantai Mertasari, Sanur

Hasil temuan Didialogkan dengan teori dan data lapangan untuk


menemukan temuan akhir penelitian.
Simpulan Simpulan disusun secara induktif untuk menemukan hasil akhir penelitian yang
merupakan jawaban dari rumusan masalah penelitian ini, yaitu berupa : (1)
Bagaimana bentuk arahan zonasi Pantai Mertasari, Sanur?

Sumber : Analisis, 2018


3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Pantai Mertasari Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan,
Kota Denpasar, Bali.. Penelitian dilakukan selama bulan Oktober sampai Desember 2018.

3.3 Jenis Data dan Sumber Data


Jenis data yang akan digunakan adalah data yang bersifat kualitatif atau data yang tidak
berupa angka atau statistik, data ini diperoleh melalui hasil observasi lapangan dan studi
literatur serta wawancara.

Sumber data yang akan digunakan terdapat dua jenis, yaitu sebagai berikut.

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari observasi langsung ke lokasi penelitian dan
wawancara kepada para informan.
b. Data sekunder, yaitu data yang diambil dari literatur yang berkaitan langsung
dengan penelitian yang akan diangkat seperti buku, jurnal, penelitian sebelumnya, sumber
internet, dan lain sebagainya

3.4 Teknik Penelitian

Dilaksanakan dengan teknik penelitian lapangan (field research) dan studi literatur
(literature review) yakni dengan mempelajari, menganalisis literature yang berkaitan
dengan topik pembahasan. Adapun langkah langkahnya:

a.Observasi yaitu dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung. Observasi ini
kami gunakan untuk menggali data dengan jalan melakukan pengamatan.
b. Studi literatur dalam penelitian ini dengan cara mencari literatur atau teori yang
berkaitan dengan judul penelitian. Studi literatur dilakukan pada kajian pustaka,
teori-teori dan konsep yang berkaitan dengan penelitian ini, studi literatur ini dilakukan
untuk membedah penelitian yang kita lakukan agar mendapatkan hasil terbaik. Literatur
yang digunakan antara lain buku, jurnal, sumber internet, e-book, dan lain sebagainya.
c.Melakukan wawancara terhadap key person atau yang menjadi informan dalam penelitian
ini, yang disajikan dalm bentuk pertanyaan yang berkenan dalam topik pembahasan.
Metode wawancara yang dilakukan akan dilakukan dengan cara sistem wawancara semi
terstruktur yaitu dengan penentuan poin-poin wawancara kepada informan yang telah
ditentukan dan dikembangkan sesuai dengan situasi yang ada.
d. Pengolahan data dilakukan dengan merekam, mendata serta menyusun kembali data
yang telah terkumpul yang diperoleh dari data primer dan data sekunder
e.Teknik analisis melalui tahapan pengumpulan data primer di lapangan maupun data
sekunder melalui studi literature berupa teori teori yang sesuai dengan topik pembahasan
peneltian ini , kemudian dilanjutkan dengan proses analisis sampai menghasilkan temuan-
temuan yang dipakai untuk menjawab masalah penelitian.
f. Teknik penarikan kesimpulan dengan cara deduktif dimulai dari hal yang umum menuju
ke hal yang khusus melalui proses pengumpulan, pengolaha dan analisis data yang sudah
dilalui
ALUR PIKIR PENELITIAN

LATAR BELAKANG
Perkembangan perzonasian pada Pantai Mertasari
yang menimbulkan permasalahan penempatan area
wisata bahari yang illegal.

RUMUSAN MASALAH
1. Apakah Pantai Mertasari memiliki perletakan zonasi yang baik antara
area wisata bahari dengan area kegiatan spiritual?
2. Upaya apa yang bisa dilakukan untuk dapat memperbaiki zonasi yang
baik pada area wisata bahari dengan kawasan kegiatan spiritual?

STUDI LITERATUR

Zonasi Wilayah Tata Ruang Mekanisme


Pesisir Kawasan Pantai Penyusunan Rencana
Zonasi

TEMUAN LAPANGAN
Sebuah data yang terkumpul
dari keadaan di lapangan

DATA PRIMER DATA SEKUNDER


Observasi langsung ke lokasi Literatur yang berkaitan
penelitian dan wawancara langsung dengan penelitian
seperti buku, jurnal, penelitiian
sebelumnya, sumber internet

ANALISIS DATA
Proses mengolah data primer dan sekunder yang sudah ditemukan

PEMBAHASAN
Menjawab pertanyaan dan membahas rumusan masalah dengan teori

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Iii, B. A. B., & Penelitian, A. L. (2013). Evvie Ariantya Wulandari, 2013 Evaluasi Zonasi Dan
Lingkungan Kawasan Wisata Pantai Anyer Kabupaten Serang Universitas Pendidikan
Indonesia | repository.upi.edu.
Koddeng, B., Teknik, J., Fakultas, A., Universitas, T., Pesisir, K., & Arsitektur, G. T. (2011).
Zonasi kawasan pesisir pantai makassar berbasis mitigasi bencana, 5, 978–979.
Manaf, M. (2007). ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI WILAYAH PESISIR
KECAMATAN BONTOHARU KABUPATEN KEPULAUAN SALAYAR Murshal
Manaf, 10–21.