Anda di halaman 1dari 4

A.

ALPUKAT
Persea americana, Mill atau yang lebih kita kenal sebagai alpukat merupakan
tanaman yang termasuk sebagai famili Lauraceae dengan genus Persea. Alpukat
berasal dari dataran Amerika Tengah dan mulai masuk ke daerah Indonesia sekitar abad
ke-18 (Malanggi dkk, 2012). Adapun klasifikasi alpukat secara lengkap yaitu:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Ranales
Keluarga : Lauraceae
Marga : Persea
Varietas : Persea americana Mill
Alpukat dapat digolongkan menjadi 3 ras berdasarkan pada sifat ekologisnya. Ras
pertama adalah Ras meksiko, selanjutnya Ras Guatemala dan Ras Hindia Barat. Ras
meksiko dapat tumbuh baik pada ketinggian 2.400-2800 mdpl dengan ciri buah yang
berukuran kecil dengan bentuk oval dan berkulit tipis dan licin. Biji alpukat ras ini
memenuhi rogga buah dan mengandung kadar lemak yang tinggi. Alpukat ras
Guatemala dapat tumbuh baik dengan ketinggian 800-2400 mdpl, buahnya berukuran
cukup besar dengan kulit buah yang tebal, keras dan kasar. Kandungan lemak alpukat
ras ini sedang dan bijinya berukuran kecil. Ras terakhir adalah ras Hindia Barat, ras ini
tumbuh baik pada ketinggian 800 mdpl. Buah alpukat ras ini berukuran besar dengan
kulit buah licin dan tebal. Biji buahnya tidak memenuhi rongga buah dengan kandungan
lemak terendah (Chotimah, 2008).
Alpukat memiliki kandungan lemak yang tinggi, bahkan mencapai 20 kali lipat
lebih tinggi dari buah lain. Dengan tingginya kandungan lemak buah, maka buah
alpukat ini memiliki rasa yang creamy atau terasa lemak. Tingginya kandungan lemak
di dalam alpukat justru baik untuk kesehatan tubuh. Kandungan lemak dalam alpukat
cocok dikonsumsi oleh orang yang sedang diet, hal ini dikarenakan lemak dalam
alpukat mampu membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama dan
memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi gula (Purnamayanti, 2008). Alpukat
digolongkan menjadi jenis buah klimaterik. Buah klimaterik sendiri merupakan buah
yang memiliki laju respirasi yang semakin meningkat dengan berjalannya periode
kematangan. Oleh karena itu, buah alpukat mudah mengalami pematangan dan
pembusukan (Setyaningsih, 2017).
B. SERAT PANGAN DAN MANFAAT SERAT PANGAN DALAM KESEHATAN
Selama menunggu proses pendistribuasian, dilakukan proses penimbangan sampel
Serat pangan atau yang banyak dikenal sebagai dietary fiber, merupakan komponen
penyusun tumbuhan yang dapat dikonsumsi oleh manusia dengan atau tanpa adanya
sifat penghambatan proses pencernaan dan penyerapan di usus halus manusia. Serat
pangan dapat mengalami proses fermentasi sebagian atau keseluruhan di usus besar. Hal
ini dikrenakan karena serat pangan merupakan bagian dari bahan pangan yang tidak
dapat dihirolisis oleh enzim-enzim pencernaan. Adapun beberapa jenis serat pangan
yang banyak terdapat dalam bahan pangan adalah sebagai berikut hemiselulosa, selulosa,
lignin,oligosakarida, pektin, gum, dan lapisan lilin (Santoso, 2012)
Mengonsumsi makanan yang rendah serat dapat menyebabkan beberapa penyakit
kronis seperti jantung koroner, apendiksitis, divertikulosis dan kanker kolon. Bila
didasarkan pada kelarutannya, serat pangan terbagi menjadi dua yaitu serat pangan
yang terlarut dan tidak terlarut dallam air. Didasarkan pada fungsinya di dalam tanaman,
serat dibagi menjadi 3 fraksi utama, yaitu (a) polisakarida struktural yang terdapat pada
dinding sel yaitu selulosa, hemiselulosa dan substansi pektat; (b) non-polisakarida
struktural yang sebagian besar terdiri dari lignin; dan (c) polisakarida non-struktural,
yaitu gum dan agar-agar (Setyaningsih, 2017).
Wijayanti dan eliya (2014), menuliskan bahwa serat pangan terbagi menjadi dua
kelompok, yaitu : Serat pangan larut (soluble dietary fiber), termasuk dalam serat ini
adalah pektin dan gum merupakan bagian dalam dari sel pangan nabati. Serat ini banyak
terdapat pada buah dan sayur, dan serat tidak larut (insoluble dietary fiber), termasuk
dalam serat ini adalah selulosa, hemiselulosa dan lignin, yang banyak ditemukan pada
seralia, kacang-kacangan dan sayuran. Araujo, (2018), Sebagai sumber serat sayuran
dapat dikonsumsi dalam bentuk mentah atau telah diproses melalui perebusan. Serat
pangan dalam buah dan sayur terdapat pada bagian jaringan parenkim (Selulosa,
Substansi pektat, hemiselulosa dan beberapa glikoprotein) dan juga terdapat dalam
beberapa jaringan terlignifikasi (Selulosa, lignin, hemiselulosa dan beberapa jenis
glikoprotein)
Adapun beberapa manfaat serat untuk kesehatan adalah sebagai berikut:
a. Memperlancar pencernaan dan mencegah kanker kolon
Mengonsumsi serat pangan akan membantu mengurangi waktu transit makanan di
dalam usus besar. Dengan semakin cepatnya proses transit, maka akan mengurangi
kemungkinan terjadinya pengendapan senyawa karsinogen penyebab kanker
b. Mengontrol berat badan
Pada umumnya, serat pangan seperti pektin dan hemiselulosa memiliki daya ikat air
yang tinggi, terutama dalam pencernaan. Dengan tingginya kemampuan mengikat
air, kemampuan tersebut dapat mempengaruhi kamampuan alpukat untuk
mempertahankan rasa kenyang
c. Mengatasi diabetes melitus
Serat pangan memiliki kemampuan untuk mengikat air dan glukosa yang cukup
tinggi. Kemampuannya untuk mampu mengikat glukosa akan memperendah
kandungan glukosa dalam darah dan mengatasi tekanan darah
d. Mencegah gangguan gastrointertinal
Peningkatan kandungan serat pangan dalam tubuh akan meningkatkan daya ikat
feses dengan air, mesakin menigkatnya kandungan air fese, maka akan
mempermudah proses pembuangan feses dan menjaga kesehatan gastrointestinal
e. Mengurangi tingkat kolesterol darah
Selain mampu berikatan dengan air, serat juga dapat berikatan dengan lemak. Saat
serat pangan berikatan dengan HDL dan dikeluarkan melalui feses, maka
kandungan kolesterol tubuh akan menurun

Malangngi, L., Sangi, M., & Paendong, J. (2012). Penentuan kandungan tanin dan uji aktivitas
antioksidan ekstrak biji buah alpukat (Persea americana Mill.). Jurnal MIPA Unsrat Online, 1(1),
5-10.

Santoso, I. A. (2011). Serat pangan (dietary fiber) dan manfaatnya bagi


kesehatan. Magistra, 23(75), 35.

Purnamayati, L. (2008). Kajian substitusi krim dengan daging buah alpukat (Persea Americana
Mill) terhadap sifat es krim (Doctoral dissertation, Universitas Sebelas Maret).
Chotimah, A. Q. (2008). Perlakuan uap panas (vapor heat treatment) dan pelilinan untuk
mempertahankan mutu buah alpukat (Persea americana, Mill).

Setianingsih, N. (2017). Pengaruh Ekstrak Buah Pisang Dan Ekstrak Buah Alpukat Terhadap
Kadar Kolesterol Mencit Betina. Jurnal Biota, 3(2), 48-53.

Araújo, R. G., Rodriguez-Jasso, R. M., Ruiz, H. A., Pintado, M. M. E., & Aguilar, C. N. (2018).
Avocado by-products: Nutritional and functional properties. Trends in Food Science &
Technology.