Anda di halaman 1dari 1

Prolog

“Katrina, kamu terlihat cantik malam ini.”

“Benarkah?” Katrina menyisingkan rambut dengan wajah memerah. Tak disangka, Dave
melemparkan jurusan gombal secara tiba-tiba. “Kau juga...terlihat tampan.”

“Hahahaha....yah, sudah banyak yang bilang begitu,” Dave malah tertawa terbahak.

Katrina merutuki diri. Alih-alih menyembunyikan rasa gugupnya, malah selontar kalimat
komedi yang ia berikan untuk Dave. Pipi Katrina panas menahan malu. Ia hanya menunduk pilu
sembari menyengir kering.

Tidak ada yang mengeluarkan suara. Dave sedang asyik mengayun pelan gelas wine yang
baru saja dituangnya sedangkan Katrina masih belum berani mengangkat kepalanya. Nyanyian para
jangkrik dan beberapa mobil yang melewati villa mampu merobek sedikit kekakuan yang dirasa oleh
Katrina.

“Katrina.”

“Ya!” sontak Katrina memandang wajah Dave yang berubah menjadi serius. Sebuah kotak
berwarna merah sudah mendarat manis dihadapannya. Mata Katrina melebar. Kalau boleh
menebak, ia tahu benda apa di dalamnya. Perhiasan yang bisa disematkan di jari manis, kan?

“Aku mengajakmu kesini bukan hanya sekedar ingin makan malam. Tapi, ada sesuatuyang
ingin aku bicarakan,” sedikit samar, tapi Katrina bisa menangkap nada suara Dave yang tidak
setenang sebelumnya. Mungkinkah?

Dave terlihat gelisah. Ia berusaha mengunci pandangan pada gadis yang tengah duduk di
seberangnya. Katrina yang bengong tanpa mengeluarkan sepatah kata membuat Dave harus
melanjutkan kalimat dengan tegas.

“Katrina, kita berdua sudah benar-benar matang dan kita sudah bersama selama 2 tahun ini.
Aku sudah sangat yakin untuk terus bersama dengan kamu. Karena itu...,” tangan Dave membuka
kotak merah tersebut secara perlahan.

“Apa kamu mau menikah denganku?”

BYARRR!! PLETAK-PLETAK!! WUUUSSHHH!! Dengan ajaibnya Katrina merasakan berpuluh-


puluh letusan kembang api menyambut sel-sel hatinya yang mendadak bermekaran.