Anda di halaman 1dari 18

SOP PEMASANGAN IMPLANT

No. Dikumen :
Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas
:
KABUPATEN Teras Terunjam
MUKOMUKO

Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Pemasangan Implan adalah melakukan pemasangan alat kontrasepsi yang


di letakkan di bawah kulit lengan atas dengan jumlah kapsul yang berbeda
yang bekerja untuk menekan ovulasi dan mengentalkan lendir cervik.

2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah penata laksanaan KB Implant


dalam rangka peningkatan mutu dan kinerja di Puskesmas Kota
Mukomuko
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Teras Terunjam Nomor
Tentang jenis pelayanan di Puskesmas Teras Terunjam
4. Referensi a. Buku Pedoman Praktis Pelayanan Kontrasepsi Tahun 2014
b. Pedoman Manajemen Pelayanan Keluarga Berencana Oleh
Kemenkes Tahun 2014
5. Alat dan Bahan  ALAT
1. Trokan dan Pendorongnya
2. Bisturi / Skapel
3. Nierbekken
4. Mangkok kecil Instrument
5. Bak InstrumentTentukan tempat suntikan.
6. Doek Steril dan kain bersih untuk alas lengan
7. Tensimeter dan Stateskop
8. Timbangan Berat Badan
9. Tempat mencuci tangan lengkap dengan handuk
10. Pinset Anatomis
11. Safety Bok
12. Wascom anti bocor tempat larutan klorin 0,5%
13. Alat bantu Visual
14. Pola pemasangan implant
15. Tempat sampah medis dan non medis

 ALAT
1. Implant
2. Kain kasa steril
3. Sarung Tangan Steril
4. Band Aid
5. Perband
6. Alkohol 70%
7. Betadine 2%
8. Anastesi Lidocain 2%
9. Aquades
10. Jarum Suntik 3cc
11. Gunting Perband
12. Kertas Resep
13. Kartu KB
5. Prosedur / a. Klien datang dan mengambil nomor antrian
Langkah-langkah b. Klien Mendaftar di Loket
c. Petugas Loket membawa K /IV /KB di ruang KIA /KB
d. Petugas KIA /KB Memanggil Klien sesuai urutan
e. Petugas mencocokan Identitas Klien di ruang KIA /KB dengan K/ IV KB
f. Petugas KIA/KB melakukan Anamnesa pada Klien
g. Petugas memberikan konseling ABPK kepada Klien untuk memilih Pelayanan KB
yang di Kehendaki.Jika Klien setuju maka di lakukan Klien mengisi Informed
Consent.Jika Klien tidak setuju akan di lakukan Konseling ulang.Jika kondisi Klien
tidak memungkinkan maka segera dilakukan Rujukan.
h. Menjelaskan kepada Klien apa yang di lakukan dalam proses pemasangan dan
mempersilahkan Klien untuk bertanya.
i. Menunjukan kepada Klien di mana dan bagaimana Implant di pasang
j. Menjelaskan kepada Klien bagaimana Proses Kerja Implant dan Efektivitasnya
k. Menjelaskan kemungkinan efek samping dan Masalah kesehatan lain yang mungkin
akan di alami
l. Menjelaskan Efek samping yang umum yang sering di alami oleh Klien
m. Periksa kembali untuk meyakinkan bahwa Klien telah mencuci lengan nya
sebersih mungkin dengan sabun dan air serta membilas nya sehingga tidak ada sisa
sabun
n. Mempersilahkan Klien untuk naik ke tempat tidur
o. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang juka di perlukan
p. Meletakan kain yang bersih dan kering di bawah lengan Klien dan atur posisi lengan
Klien dengan benar
q. Tentukan Tempat pemasanagan pada bagian dalam lengan atas,dengan mengukur 8 cm
di atas lipatan siku dan beri tanda pada tempat pemasangan dengan pola kaki segitiga
terbalik untuk memasang kapsul Implant
r. Pastikan bahwa peralatan yang Steril atau di desinfeksi tingkat tinggi atau (DTT) sudah
tersedia
s. Mempersiapkan tempat insisi dengan Larutan antiseptik. Gunakan kasa steril atau DTT
untuk memegang ber.,antiseptik

 Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Melarutkan dengan
menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml).
 Dosis pemberian 0,05 ml, sebanyak 1 kali.
 Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertio musculus
deltoideus), dengan menggunakan ADS 0,05 ml.
 Sebelum vaksin dipergunakan, periksa dahulu masa kadaluarsa.
 Vaksin yang telah dilarutkan tidak segera digunakan maka disimpan pada suhu 2 s.d
8oC selama maksimal 3 jam.:
Cara Penyuntikan Vaksin BCG
1. Suntikan diberikan intrakutan pada lengan kanan atas bagian luar dengan dosis
0,005 cc
2. Letakkan bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibu dan lepas baju bayi dari
lengan dan bahu.
3. Ibu sebaiknya memegang bayi dekat dengan tubuhnya, menyangga kepala bayi dan
memegang lengan dekat dengan tubuh.
4. Pegang alat suntuik dengan tangan kanan anda dengan lubang pada ujung jarum
menghadap ke depan.
5. Buatlah permukaan kulit menjadi datar dengan menggunakan ibu jari kiri dan jari
telunjuk anda.
6. Letakkan alat suntik dan jarum dengan posisi hampir datar dengan kulit bayi.
asukkan ujung jarum tepat di bawah permukaan kulit tetapi di dalam kulit yang
tebal – cukup masukkan bevel (lubang di ujung jarum).
7. Jaga agar posisi jarum tetap datar di sepanjang kulit sehinnga jarum masuk ke
dalam lapisan atas kulit saja. Jaga agar lubang di ujung jarum menghadap ke depan.
8. Jangan menekan jarum terlalu dalam dan jangan menurunkan jarum karena jarum
akan masuk di bawah kulit, sehingga yang terjadi suntikan di dalam otot
(subcutaneous) bukan suntikan intrakutan.
9. Untuk memegang jarum dengan posisi yang tepat, letakkan ibu jari kiri anda pada
ujung bawah alat suntik dekat jarum, tetapi jangan menyentuh jarum.
10. Pegang ujung penyedot antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan anda.
Tekan penyedot dengan ibu jari anda.
11. Suntikkan 0,05 ml vaksin dan lepaskan jarum.
Catatan :
Jika suntikan intrakutan diberikan secara tepat, alat penyedot akan sulit didorong. Jika
vaksin mudah masuk anda mungking menyuntik terlalu dalam. Segera hentikan suntikan,
betulkan posisi jarum, dan berikan sisa dosis, tetapi tidak ditambah lagi. Jika suntikan
BCG tepat, akan timbul pembengkakan dengan puncak yang datar (flat-topped) pada
kulit. Pembengkakan ini kelihatan pucat dengan lubang sangat kecil seperti kulit jeruk.
Jika teknik yang digunakan tidak tepat, vaksin akan masuk dengan mudah dan tidak
terlihat adanya pembengkakan.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes
PEMBERIAN & PENYUNTIKAN
VAKSIN CAMPAK
No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/022
Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap
dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus
strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg
residu erythromycin.’
untuk pemberian kekebalan aktif terhadap campak.
2. Tujuan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Ari Manjuto No. 445/ /PKM/I/2016 tentang
Standar Pelayanan Publik Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / Cara Pemberian dan Dosis Vaksin Campak :
Langkah-langkah  Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan
dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut.
 Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri
atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 24 bulan.
 Sebelum vaksin dipergunakan, periksa dahulu masa kadaluarsa dan label
VVM.
 Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 6 jam.
Cara Penyuntikan Vaksin Campak :
1. Suntikan diberikan pada lengan kiri atas, pertengahan M.Deltoideus
secara subkutan dengan dosis 0,05 cc.
2. Atur bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibu dengan seluruh
lengan telanjang.
3. Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi. Gunakan jari-jari kiri anda
untuk menekan ke atas lengan bayi.
4. Pegang lengan seperti mencubit menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.
Kemudian jarum suntik disuntikkan dengan sudut 45o.
5. Terhadap permukaan kulit, dengan kedalaman jarum tidak lebih dari ½
inchi. (lakukan aspirasi sebelumnya untuk memastikan jarum tidak
menembus pembuluh darah).
6. Suntikkan vaksin pelan-pelan untuk mengurangi rasa sakit.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes
PEMBERIAN & PENYUNTIKAN
VAKSIN DPT/HB/Hib
No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/023
Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Vaksin DPT/HB/Hib adalah vaksin jerap Difteri Pertusis Tetanus, Hepatitis
B Rekombinaan, Haemophilus influenza tipe B, berupa suspensi homogen
yang mengandung toksoid tetanus dan difteri murni, bakteri pertusis (batuk
rejan) inaktif, antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) murni yang tidak
infeksius, dan komponen HiB sebagai vaksi bakteri.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan pemberian
dan Penyuntikan Vaksin DPT/HB/HiB.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / Cara Pemberian dan Dosis Vaksin DPT/HB/Hib :
Langkah-langkah  Vaksin harus disuntikkan secara intramuscular.
 Penyuntikan sebaiknya dilakukan pada anterolateral paha atas.
 Penyuntikan pada bagian bokong anak dapat menyebabkan luka saraf
siatik dan tidak dianjurkan.
 Suntikan tidak adalah 0,5 ml.
 Sebelum vaksin dipergunakan, periksa dahulu masa kadaluarsa dan label
VVM.
Cara Penyuntikan Vaksin DPT/HB/Hib :.
1. Pegang lokasi suntikan dengan ibu jari dan jari telunjuk.
2. Suntikan vaksin dengan posisi jarum suntik 90o terhadap permukaan
kulit (lakukan aspirasi sebelumnya untuk memastikan jarum tidak
menembus pembuluh darah).
3. Tekan seluruh jarum langsung ke bawah malalui kulit sehingga masuk
ke dalam otot.
4. Suntikkan pelan-pelan untuk mengurang rasa sakit.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes
PEMBERIAN & PENYUNTIKAN VAKSIN
POLIO
No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/024
Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Vaksin Oral Polio hidup (Oral Polio Vaccine = OPV) adalah Vaksin Polio
Trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1, 2 dan 3
(Strain Sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal
kera dan distabilkan dengan sukrosa.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan pemberian
dan Penyuntikan Vaksin Polio.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / Cara Pemberian dan Dosis :
Langkah-langkah  Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes
sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4
minggu.
 Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang
baru.
 Sebelum vaksin dipergunakan, periksa dahulu masa kadaluarsa dan label
VVM.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes
PEMBERIAN & PENYUNTIKAN VAKSIN
TT
No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/025
Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Vaksin TT merupakan suspense kolodial homogen berwarna putih susu


dalam vial gelas, mengandung toksoid tetanus murni, teradsorbsi ke dalam
alumunium fosfat.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan Pemberian
Vaksin Polio.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / Cara Pemberian dan Dosis :
Langkah-langkah  Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen.
 Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang
disuntikkan secara intra muskular atau subkutan dalam, dengan dosis
pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis
ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan
terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5
dosis. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1
tahun setelah pemberian dosis ketiga dan keempat. Imunisasi TT dapat
diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode
trimester pertama.
 Sebelum vaksin dipergunakan, periksa dahulu masa kadaluarsa dan label
VVM.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes
PEMBERIAN & PENYUNTIKAN VAKSIN
DT
No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/026
Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Vaksin DT merupakan suspensi kolodial homogen berwarna putih susu


dalam vial gelas, mengandung toksoid tetanus dan toksoid difteri murni
yang teradsorbsi kedalam alumunium fosfat.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan Pemberian
dan Penyuntikan Vaksin DT.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / Cara Pemberian dan Dosis :
Langkah-langkah
 Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen.
 Disuntikkan secara intra muskular atau subkutan dalam, dengan dosis
pemberian 0,5 ml. dianjurkan untuk anak usia di bawah 8 tahun. Untuk
usia 8 tahun atau lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin TD.
 Sebelum vaksin dipergunakan, periksa dahulu masa kadaluarsa dan label
VVM.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes
PERAWATAN LEMARI ES

No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/027


Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Lemari es atau peralatan rantai dingin adalah peralatan yang digunakan
dalam pengelolaan vaksin sesuai dengan prosedur untuk menjaga vaksin
pada suhu yang telah ditetapkan.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan Perawatan
Lemari Es.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / a. Prosedur Harian :
Langkah-langkah 1. Memantau suhu dengan melihat termometer atau alat pemantau suhu
digital setiap hari pada pagi dan sore.
2. Periksa apakah terjadi bunga es dan periksa ketebalan bunga es.
Apabila bunga es lebih dari 0,5 cm lakukan defrosting ( pencairan
bunga es).
3. Lakukan pencatatan langsung pada kartu pencatatn suhu setelah
selesai pengecekan suhu dan defrosting.
b. Prosedur Mingguan :
1. Memeriksa steker jangan sampai kendor, bila kendor kencangkan baut
dengan obeng.
2. Perhatikan adanya tanda-tanda steker hangus dengan melihat
perubahan warna pada steker, jika itu terjadi gantilah steker dengan
yang baru.
3. Sebelum membersihkan badan lemari es, cabut steker terlebih dahulu
agar tidak terjadi konsleting/arus pendek.
4. Bersihkan seluruh badan lemari es dengan menggunakan lap basah,
kuas yang lembut/spon busa dan sabun.
5. Pergunakan lap kering untuk mengeringkan badan lemari es.
6. Ketika membersihkan badan lemari es, jangan membuka pintu lemari
es untuk menjaga suhu tetap 2 s/d 8 oC.
7. Setelah selesai melakukan hal tersebut diatas colokkan kembali
steker.
8. Lakukan pencatatan pada kartu pemeliharaan lemari es sebagai
kegiatan pemeliharaan mingguan.

6. Prosedur / c. Prosedur Bulanan :


Langkah-langkah 1. Sehari sebelum pemeliharaan bulanan, lakukan penghitungan vaksin
yang akan dipindahkan dan kondisikan cool pack (kotak dingin
cair), vaksin carrier atau cold box sesuai dengan kebutuhan.
2. Pindahkan vaksin kedalama vaksin carrier atau cold box yang telah
berisi cool pack (kotakdingin cair).
3. Sebelum melakukan defrosting, cabut steker lemari es.
4. Lakukan pembersihan kondensor, pada model terbuka gunakan sikat
yang lembut atau dengan tekanan udara, pada model tertutup tidak
perlu dilakukan pembersihan.
5. Lakukan pembersihan karet pintu lemari es, pada model yang
mudah dibuka gunakan kain atau busa yang lembut untuk
mencucinya dan pasang kembali setelah kering, pada model tertutup
pembersihan dilakukan dengan menggunakan lap basah atau dengan
tekanan udara.
6. Memeriksa kerapatan pintu menggunakan selembar kertas, bila
kertas sulit ditarik berarti karet pintu masih baik, sebaliknya bila
kertas mudah ditarik berarti karet sudah mengeras, beri bedak untuk
sementara dan rencanakan untuk diganti.
7. Jika ditemukan baut kendor pada engsel pintu kencangkan dengan
menggunakan obeng.
8. Setelah selesai melakukan hal tersebut diatas colokkan kembali
steker.
9. Setelah suhu lemari es mencapai 2 s/d 8 oC, susun kembali vaksin.
10. Lakukan pencatatan pada kartu pemeliharaan lemari es sebagai
kegiatan pemeliharaan bulanan.
7. Unit Terkait Pustu, Polindes.

PEMBUANGAN KOTAK PENGAMAN

No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/028


Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Kotak pengaman merupakan kotak / tempat pembuangan sementara sampah


limbah tajam dan limbah imunisasi lainnya.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan
Pembuangan Kotak Pengaman.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / Ada lima cara yang biasa digunakan untuk memusnahkan kotak pengaman
Langkah-langkah yang telah berisi penuh atau untuk menjauhkannya dari jangkaun orang-
orang :
1. Insinerasi.
Incinerator dapat memusnahkan alat suntik dan jarum dengan sempurna.
Api yang membakar pada suhu lebih tinggi dari 800 C membunuh
mikro organisme dan mengurangi volume sampah.insinerator ini
berfungsi dengan baik menjamin pemusnahan alat suntik dan jarum
yang paling sempurna. Alat ini menimbulkan lebih sedikit polusi udara
ketimbang api yang membakar pada temperatur yang lebih rendah.
2. Membakar dalam drum logam.
Untuk membakar dalam sebuah drum atau wadah logam
a. Tentukan tempat pembakaran di area yang tidak digunakan sejauh
mungkin dari gedung. Area tersebut harus diberi pagar dan bersih.
b. Letakkan empat batu bata di atas tanah dengan berbentuk segi empat.
c. Letakkan layar logam atau panggangan di atas batu bata.
d. Lepaskan kedua sisi drum baja 210 liter (55 galon US). Ini
memungkinkan udara mengalir melalui drum dan isinya akan
terbakar lebih sempurna. Jika tidak ada drum logam, anda bisa
membuat silender dari pelat logam, batu bata atau tanah liat. Bagian
atas drum atau wadah yang dapat dilepas bisa diberi cerobong asap.

6. Prosedur / 3. Bakaran terbuka dalam sebuah lubang


Langkah-langkah
Pembakaran terbuka dalma sebuah lubang tidak selalu
direkomendasikan karena pembakaran palstik tidak baik bagi
lingkungan. Jika anda membakar sampah dalam lubang terbuak maka
sebaiknya :
a) Pilih area yang tidak digunakan untuk tempat pembakaran, sejauh
mungkin dari bangunan. Area ini harus diberi pagar dan bersih.
b) Ada petugas untuk mengawasi pembakaran.
c) Gali lubang paling sedikit sedalam satu meter, tetapi pastikan
bahwa lubang ini tidak begitu dalam sehingga anda punya akses
untuk menyalakan api.
d) Masukkan kotak pengaman yang sudah terisi penuh ke dalam
lubang. Campurlah kertas, daun atau bahan-bahan yang mudah
terbakar di antara kotak agar mudah terbakar.
e) Jika tersedia, siram dengan sedikit minyak tanah dan bakar benda-
benda tersebut.
f) Peringatkan orang-orang agar tetap manjauh dan menghindari asap,
uap dan abu pembakaran.
g) Bakar sampai semua kotak musnah dan kemudian ikuti petunjuk di
atas untuk menimbun sisa pembakaran.
4. Lubang pembuangan
Lubang pengaman yang dibuat secara khusus merupakan pilihan lain
untuk membuang alat suntik dan jarum bekas. Lubang pengaman
biasanya mempunyai kedalaman 2 meter dan diameter satu meter
sehingga bisa ditutupi dengan pipa beton buatan lokal. Lubang ini
memiliki tutup beton dengan pipa logam yang diletakkan didalamnya.
Alat suntik dan jarum bekas dimasukkan ke dalam lubang melalui pipa
logam ini.
5. Ditimbun di dalam lubang pembuangan
Alat suntik bekas dapat ditimbun di dalam lubang pembuangan.
Tentukan tempat secara hati-hati dan gali sebuah lubang yang cukup
lebar dan dalam untuk kotak yang besar. Jika alat suntik AD yang
terkontaminasi entah bagaimana caranya keluar dari kotak dan terbawa
ke dalam sungai atau tanah lapang, orang bisa menginjak atau anak-
anak dapat bermain dengan benda-benda ini.
7. Unit Terkait Pustu, Polindes

PENANGANAN VAKSIN

No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/029


Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Vaksin adalah produk biologis yang sangat mudah rusak dan kehilangan potensi
bila tidak dikelola dengan benar.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan Penanganan
Vaksin.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor Imunisasi.
5. Prosedur / 1. Penyimpanan Vaksin
Langkah-langkah a) Semua vaksin disimpan pada suhu 2 s/d 8 C
b) Letakkan cool pack di bagian bawah lemari es sebagai penahan dingin dan
menjaga kestabilan suhu.
c) Peletakan dus vaksin mempunyai jarak antara minimal 1-2 cm atau satu jari
tangan
d) Vaksin HS (BCG, Campak, Polio) diletakkan dekat dengan evaporator.
e) Vaksin FS (Hep. B, DPT/HB/Hib, DT, Td, TT dan IPV) diletakkan jauh
dengan evaporator.
f) Vaksin dalam lemari es harus diletakkan dalam kotak vaksin
2. Penanganan Vaksin di Unit Pelayanan
Tempat pelayanan imunisasi baik di komponen statis maupun di posyandu
adalah merupakan mata rantai paling akhir dari system rantai vaksin. Oleh
karena itu perlakuan vaksin di unit ini sangat penting.
a) Di puskesmas dan unit pelayanan statis lainnya (RS, Klinik Bersalin,
Dokter/Bidan Praktek Swasta).
1) Vaksin disimpan dalam vaccine carrier yang diberi kotak dingin cair.
2) Letakkan vaccine carrier di meja yang tidak terkena sinar matahari
langsung.
3) Dalam penggunaan, letakkan vaksin diatas spon/busa yang berada di
dalam vaccine carrier.
4) Di dalam vaccine carrier tidak boleh ada air yang merendam vaksin. Ini
untuk mencegah kontaminasi vaksin dari bakteri lain.

b) Di Posyandu dan komponen lapangan lainnya.


Pada prinsipnya sama seperti di komponen statis, dan intinya vaksin tetap
berada pada suhu 2 C s/d 8 C. beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1) Sepulang darti lapangan, sisa vaksin yang belum dibuka diberi tanda
khusus untuk didahulukan penggunaannya pada jadwal pelayanan
berikutnya selama VVM nya masih baik.
2) Semua sisa vaksin yang sudah dibuka pada kegiatan lapangan misalnya
pada posyandu, sekolah, atau pelayanan di luar gedung lainnya tidak
boleh digunakan lagi.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes

PEMBUANGAN SAMPAH LIMBAH


TAJAM DAN LIMBAH IMUNISASI
LAINNYA
No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/030
Revisi :
SPO Tgl. Terbit Ditetapkan Oleh
:
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Semua alat suntik pada akhirnya harus dimusnahkan. Alat suntik dan jarum
untuk mencampur yang sekali digunakan rusak atau dibuang (auto-disable
atau disposable) sebaiknya digunakan sekali dan kemudian dimusnahkan.
Limbah imunisasi yang lain seperti vial/flacon vaksin, tutup vial, kapas
bekas suntikan dan lain-lain, sebaiknya tidak dibuang bersama dengan jenis-
jenis sampah lainnya, karena dapat mencemari dan membahayakan
lingkungan. Maka harus ditangani sama seperti menangani limbah tajam
imunisasi.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan
Pembuangan Sampah Limbah Tajam dan Limbah Imunisasi Lainnya.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / 1. Letakkan kotak pengaman di tempat yang terjangkau oleh petugas
Langkah-langkah kesehatan. Setiap kali selesai melakukan penyuntikan, segera masukkan
alat suntik dan jarum ke dalam kotak pengaman atau wadah untuk
benda-benda tajam.
Jika tersedia pencabut atau pemotong jarum, segera pisahkan jarum dan
alat suntik bekas stiap kali setelah digunakan untuk menyuntik. Setelah
mencabut jarum dengan sebuah alat, segera masukkan ke dalam kotak
pengaman.
2. Setelah pelayanan imunisasi atau ketika isi kotak pengaman sudah ¾
penuh, tutup kotak tesebut.
Jangan memindahkan alat suntik dan jarum bekas dari kotak pengaman
ke wadah lain. Kotak pengaman dengan kapasitas lima liter dapat
menampung kurang lebih dari 100 alat suntik dan jarum. Selain itu
terdapat juga safety box ukuran 0,25 ml yang dapat menampung 10 HB
PID bekas.
3. Cari tempat yang aman untuk menimbun atau membakar kotak
Jangan pernah memasukkan benda-benda berikut ke dalam kotak
pengaman. Musnahkan benda-benda ini dengan sampah medis lainnya
seperti botol kosong, botol vaksin yang tidak digunakan, bantalan kapas,
kompresor, bahan-bahan pembalut, kantong IV atau pipa sambungan,
sarung tangan karet dan atau segala jenis bahan-bahan platik atau sisa
buangan.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes

PENYIAPAN PELAYANAN IMUNISASI

No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/030


Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Keberhasilan program imunisasi sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan


iunisasi oleh petugas imunisasi di Puskesmas, mulai dari persiapan playanan
imunisasi.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan Penyiapan
Pelayanan Imunisasi
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor Imunisasi.
5. Prosedur / 1. Logistik
Langkah-langkah Jenis peralatan yang diperlukan untuk pelayanan imunisasi :
a. Vaksin carrier
b. Cool pack / kotak dingin cair
c. Vaksin, pelarut dan penetes (dropper)
d. Alat suntik
e. Safety box
f. Pemotong / kikir ampul pelarut
g. Formulir KIPI
h. Kapas dan wadah
i. Bahan penyuluhan (poster, leaflet, dll)
j. Alat tulis (kertas, pensil, dan pena)
k. Catatan imunisasi (buku KIA, KMS, kartu TT)
l. Buku register (kohort) bayi dan ibu
m. Tempat samah
n. Sabun dan wadah air mengalir untuk cuci tangan
o. Anafilaktik kit
p. Pingset
2. Mengeluarkan vaksin dan pelarut dari lemari es
a. Sebelum membuka pintu lemari es, tentukan berapa banyak vial vaksin
yang dibutuhkan untuk pelayanan.
b. Buku lemari es, periksa freeze tag atau fridge tag dan termometer untuk
mengetahui keadaan vaksin sebelumnya.
c. Pilih dan keluarkan vaksin sesuai kondisi VVM, tanggal kadaluarsa/early
expired first out (EEFO), yang masuk duluan dikeluarkan lebih dulu/first
in first out (FIFO). Prioritas dalam mengeluarkan mengacu kepada kondisi
VVM.
3. Memeriksa apakah vaksin aman diberikan
Sebelum memberikan vaksin, harus dipastikan bahwa vaksin yang akan
diberikan masih baik, dengan melakukan langkah-langkah berikut :
a. Periksa label vaksin dan pelarut. Jika label tidak ada, jangan gunakan
vaksin atau pelarut tersebut.
b. Periksa alat pemantau vaksin (VVM).
c. Periksa tanggal kadaluarsa, jangan gunakan vaksin dan pelarut jika telah
melewati tanggal kadaluarsa.
d. Periksa alat pemantau suhu beku (freeze tag) dalam lemari es. Jika freeze
tag menunjukkan tanda silang, berarti pernah terjadi penyimpangan suhu
(dibawah 2o C) selama lebih dari 60 menit.

6. Prosedur / e. Pada kondisi tersebut, diduga pernah terjadi pembekuan pada vaksin
Langkah-langkah yang sensitif beku seperti DT, TT, Td, Hepatitis B, DPT/HB,
DPT/HB/Hib dan IPV. Untuk memastikan vaksin dalam kondisi baik
atau rusak, maka sebaiknya dilakukan shake test (uji kocok).
Langkah-langkah uji kocok :
a) Pilih satu dari tiap tipe dan batch vaksin yang dicurigai pernah
beku, utamakan yang dekat dengan evaporator atau bagian lemari
es yang paling dingin. Beri label “Tersangka Beku”. Bandingkan
dengan vaksin dari tipe dan batch yang sama yang sengaja
dibekukan hingga beku padat seluruhnya dan beri label
“Dibekukan”.
b) Biarkan contoh vaksin “Dibekukan” dan vaksin “Tersangka beku”
sampai mencair seluruhnya.
c) Kocok contoh vaksin “Dibekukan” dan vaksin “Tersangka Beku”
secara bersamaan.
d) Kemudian taruh berdekatan, dan diamkan.
e) Amati contoh vaksin “Dibekukan” dan vaksin “Tersangka Beku”,
utk membandingkan lamanya waktu pengendapan (5 – 30 mnt).
f) Jika :
 Pengendapan vaksin “Tersangka Beku” lebih lambat dari contoh
vaksin “Dibekukan”, maka vaksin boleh digunakan.
 Pengendapan vaksin “Tersangka Beku” sama atau lebih cepat dari
pada contoh vaksin “Dibekukan”, maka vaksin tidak boleh
digunakan (vaksin sudah rusak).
g) Harus melakukan uji kocok untuk tiap vaksin yang berbeda batch
dan jenis vaksinnya dengan kontrol “Dibekukan” yang sesuai.
4. Pemeliharaan vaksin & rantai vaksin selama pelaksanaan imunisasi
a. Hindari vaccine carrier yang berisi vaksin dari sinar matahari
langsung.
b. Sebelum sasaran datang, vaksin dan pelarut harus disimpan dalam
vaccine carrier yang tertutup rapat.
c. Jika sasaran imunisasi sudah datang, maka vaksin dilarutkan dengan
jenis pelarut yang sesuai.
d. Pada saat melarutkan vaksin, suhu vaksin dan pelarut harus sama.
e. Vaksin yang sudah dilarutkan diberi label yang berisikan waktu
pelarutan. Setelah dilarutkan, vaksin BCG hanya boleh digunakan
selama 3 jam, dan vaksin campak selama 6 jam.
f. Vaksin yang lainnya, setelah dibuka harus diberi label yang ditulis
tanggal dan waktu vaksin dibuka. Penggunaannya mengikuti standar
penggunaan vaksin multidose.
g. Selama pelayanan imunisasi, vaksin dan pelarut harus disimpan dalam
vaccine carrier dengan menggunakan cool pack, agar suhu vaksin dan
pelarut tetap terjaga.
h. Tidak diperkenankan membuka vial baru sebelum vial yang sudah
dibuka habis.
i. Apabila sasaran selanjutnya belum datang, vaksin yg sudah dilarutkan
harus diletakkan di lubang busa yang terdapat di bagian atas vaccine
carrier, dan dilindungi agar tidak terkena sinar matahari langsung.
j. Setiap vaccine carrier sebaiknya dilengkapi dgn empat buah cool pack
k. Apabila vaksin yang sudah dilarutkan habis, pelarutan selanjutnya
dilakukan jika sasaran berikutnya telah datang.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes

PENYIAPAN TEMPAT PELAYANAN


IMUNISASI
No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/031
Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Berdasarkan tempat palayanan, imunisasi dibagi menjadi 2 yaitu


Pelayanan imunisasi di dalam gedung (komponen statis) seperti
puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, klinik, bidan praktek,
dokter praktik dan Pelayanan imunisasi di luar gedung (komponen
dinamis) seperti posyandu, di sekolah, atau melalui kunjungan rumah.
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan Penyiapan
Tempat Pelayanan Imunisasi.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur / 1. Pelayanan imunisasi di fasilitas kesehatan :
Langkah-langkah Ruangan yang ditetapkan untuk pelayanan imunisasi harus :
 Mudah dijangkau oleh sasaran.
 Tidak terkena sinar matahari, hujan atau debu.
 Cukup luas, terang, cukup ventilasi dan tenang.

2. Pelayanan imunisasi di lapangan :


 Mudah dijangkau oleh sasaran
 Jika di dalam gedung maka harus cukup luas, terang, cukup ventilasi
dan tenang.
 Jika di tempat terbuka, upayakan tempat itu terlindung sinar
matahari langsung.

Dalam mengatur tempat imunisasi, pastikan bahwa :


 Pintu masuk terpisah dari pintu keluar sehingga orang-orang dapat
masuk dan keluar tempat pelayanan dengan lebih cepat dan mudah.
 Tempat menunggu haruslah bersih dan nyaman.
 Mengatur letak meja dan menyiapkan perlengkapan yang
diperlukan.
 Melaksanakan kegiatan dengan sistem 5 meja yaitu pelayanan
terpadu yang lengkap yang memberikan pelayanan 5 program (KB,
KIA, Diare, Imunisasi, dan Gizi).
 Jumlah orang yang ada di tempat pelayanan imunisasi diatur
sehinnga tidak penuh sesak.
 Segala sesuatu yang anda perlukan berada dalam jangkauan atau
dekat dengan meja imunisasi anda.
6. Unit Terkait Pustu, Polindes

SKEINING TT WUS

No. Dikumen : B/V/SPO/I/2016/032


Revisi :
SPO
Tgl. Terbit : Ditetapkan Oleh
PEMERINTAH Halaman Kepala Puskesmas Air Manjuto
:
KABUPATEN
MUKOMUKO
Dr.Osar Pane
NIP. 19710526 200012 1002

1. Pengertian Skrining TT WUS adalah kegiatan untuk menentukan status Imunisasi TT


pada WUS (Wanita Usia Subur)
2. Tujuan Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan Skrining
TT WUS
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Air Manjuto No. A/I/SK/I/2016/003 tentang Jenis-
jenis Pelayanan di Puskesmas Air Manjuto
4. Referensi Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Wakil Supervisor
Imunisasi.
5. Prosedur /  Mencatat Identitas WUS / ibu hamil pada register dan pada kartu
Langkah-langkah Imunisasi TT – WUS.
 Menanyakan riwayat imunisasi sebelumnya, dengan pedoman sebagai
berikut :
Lahir Setelah Tahun 1987 :
Riwayat Skrining Lengkap Skrining Sedehana
DPT* + T0 Pernah 0
DPT* + T1 Pernah 1
DPT* + T2 Pernah 1
BIAS Kls 1 + T3 Pernah 1
BIAS Kls 2 + T4 Pernah 1
BIAS Kls 3 + T5 Pernah 1
Hamil ? 1+1+1+1+1 = 5

Lahir Setelah Tahun 1977 :


Riwayat Skrining Lengkap Skrining Sedehana
BIAS + T1 Pernah 1
BIAS + T2 Pernah 1
BIAS + T3 Pernah 1
CATIN + T4 Pernah 1
Hamil I + T5 Pernah 1
Hamil II ? 1+1+1+1+1 = 5

Lahir Sebelum Tahun 1977 :


Riwayat Skrining Lengkap Skrining Sedehana
CATIN + T1 Pernah 1
Hamil I + T2 Pernah 1
Hamil II + T3 Pernah 1
Hamil III ? T4 1+1+1+1+1 = 5
(Sekarang) Diimunisasi TT T4 Diimunisasi TT 

 Mencatat Hasil Skrining pada register dan kartu Imunisasi TT – WUS.

6. Unit Terkait Pustu, Polindes

Anda mungkin juga menyukai