Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN DOSEN PEMULA

PERFORMANCE MESIN PERONTOK DALAM MEMPERTAHANKAN KUALITAS


DAN KUANTITAS GABAH DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

Tahun ke-1 dari rencana 1 Tahun

TIM PENGUSUL
KETUA: NOVI DEWI SARTIKA, S.TP., M.Si (NIDN: 0810118701)
ANGGOTA: ZUHRIYAH RAMDHANI, SP (NIDN: 0813058602)

Dibiayai oleh :
Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat
Direktorat Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
Sesuai dengan kontrak Penelitian Tahun Anggaran 2018

UNIVERSITAS CORDOVA
NOVEMBER 2018
Performance Mesin Perontok dalam Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas Gabah di
Kabupaten Sumbawa Barat

RINGKASAN

Perontokan adalah salah satu proses pascapanen yang memiliki pengaruh atas kehilangan hasil
padi yang diperoleh para petani. Sejalan dengan perkembangan zaman, alat perontok yang digunakan
oleh para petani sudah beralih menggunakan mesin. Permasalahan yang belum dapat dicegah di
kalangan para petani adalah ketidakpahaman dan kurangnya kesadaran petani akan susut yang terjadi
dalam menggunakan mesin perontok, tidak terkecuali di Kabupaten Sumbawa Barat. Oleh sebab itu,
penelitian ini bertujuan menghitung besarnya penyusutan selama proses perontokan, menentukan
kualitas/mutu gabah yang dihasilkan dari proses perontokan, dan menentukan mesin perontok yang
mampu meminimalkan susut yang terjadi. Penelitian ini akan dilakukan di Desa Beru, kabupaten
Sumbawa Barat. Perontokan dilakukan dengan merontokkan padi varietas Ciliwung menggunakan
dua power thresher dengan spesifikasi yang berbeda. Susut yang dihasilkan kedua power thresher
tersebut 1.68% pada power thresher A dan power thresher B 1.24%. Mutu fisik gabah telah
memenuhi SNI 0224-1987 dengan kadar air 14%, gabah hampa 0.474-0.512%, butir merah 0.446-
0.234%, butir mengapur 0.982-0.612%, dan varietas lain 0.386-0.074%.

Kata Kunci: Mesin perontok, susut bobot, susut mutu, padi


PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala
karunia-Nya sehingga Laporan Akhir Penelitian Dosen Pemula yang berjudul
“Performance Mesin Perontok dalam Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas Gabah di
Kabupaten Sumbawa Barat” berhasil diselesaika”.
Dalam penyusunan laporan akhir penelitian ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu, kami Tim Peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada seluruh pihak yang terkait. Semoga Laporan Akhir Penelitian Dosen Pemula ini
bermanfaat.

Taliwang, November 2018


Ketua Peneliti

Novi Dewi Sartika, S.TP.,M.Si


DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................................ ii
RINGKASAN ..................................................................................................................... iii
PRAKATA ......................................................................................................................... iv
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... v
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................. 1
1.2. Perumusan Masalah ..................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................................... 3
2.1. Padi ............................................................................................................................. 3
2.2. Perontokan Padi ........................................................................................................... 4
2.3. Standar Mutu Gabah .................................................................................................... 4
BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ....................................................... 7
3.1. Tujuan Penelitian ......................................................................................................... 7
3.2. Manfaat Penelitian ....................................................................................................... 7
BAB IV. METODE PENELITIAN .................................................................................... 8
4.1. Lokasi Penelitian ......................................................................................................... 8
4.2. Alat dan Bahan ............................................................................................................ 8
4.3. Rancangan Penelitian .................................................................................................. 8
4.4. Prosedur Penelitian ...................................................................................................... 9
4.5. Susut Bobot Perontokan .............................................................................................. 9
4.6. Mutu Fisik Gabah ........................................................................................................ 10
BAB V HASIL YANG DICAPAI...................................................................................... 11
5.1. Susut Bobot Perontokan ............................................................................................. 11
5.2. Mutu Fisik Gabah ........................................................................................................ 11
KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 14
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Padi merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditas utama dalam
menyongsong pangan masyarakat Indonesia. Seiring meningkatnya jumlah penduduk,
maka produksi padi harus terus ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Meningkatkan produksi padi, tidak hanya dengan memperluas areal pertanaman dan
peningkatan teknik budidaya saja, akan tetapi perlu dilakukan penanganan pascapanen
yang tepat.
Penanganan pascapanen pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan padi
dengan mutu tinggi, mengefisienkan tenaga dalam pelaksanaan pemanenan serta
memperkecil kehilangan hasil (Shahbazi 2012). Penanganan pascapanen yang tidak
tepat akan mengakibatkan terjadinya susut bobot dan kerusakan biji yang bersumber
dari keterlambatan penanganan, kesalahan penanganan maupun penggunaan peralatan
yang tidak sesuai. Menurut BPS (2007), total susut bobot padi mencapai 22.54% pada
bidang pascapanen. Dengan tingginya susut yang dihasilkan, maka perlu dilakukan
perbaikan penanganan pascapanen.
Perontokan adalah salah satu proses pascapanen yang memiliki pengaruh atas
kehilangan hasil padi yang diperoleh para petani. Sejalan dengan perkembangan zaman,
alat perontok yang digunakan oleh para petani sudah beralih menggunakan mesin.
Menurut Chenglong et al. (2011) penggunaan mesin perontok (thresher) dapat
mengurangi biji rusak dan mengurangi biji yang tidak terontok.
Kehilangan hasil akibat ketidaktepatan dalam melakukan perontokan dapat
mencapai lebih dari 5%. Penyebab utama terjadinya kehilangan hasil pada saat
perontokan padi yaitu kurangnya kehati-hatian para petani dalam bekerja, kecepatan
putaran silinder perontok, dan luasan alas terpal/plastik yang digunakan pada saat
merontok (Rokhani 2009). Oleh sebab itu, selama perontokan sebaiknya digunakan alas
terpal berwarna gelap, dengan ukuran 8 m x 8 m, dan ada jahitan pinggir dengan diberi
lubang interval dua meter serta dilengkapi dengan ring di setiap sudut terpal (Ditjen
PPHP 2007). Beberapa faktor yang mempengaruhi kapasitas dan kinerja kegiatan
perontokan padi diantaranya yaitu varietas padi, sistem pemanenan, mekanisme
perontokan, penundaan perontokan, serta faktor kehilangan hasil (Herawati, 2008).

1
Adapun faktor yang mempengaruhi kehilangan hasil pada proses pascapanen adalah
umur panen, kadar air dan cara yang digunakan dalam proses pascapanen tersebut.
Selain itu, permsalahan yang belum dapat dicegah di kalangan para petani adalah
ketidakpahaman dan kurangnya kesadaran petani akan susut yang terjadi. Keadaan
seperti ini hampir tejadi di seluruh wilayah Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten
Sumbawa Barat (KSB). Penggunaan mesin perontok pun kurang diperhatikan, ansalkan
padi terontok semua itu sudah cukup bagi mereka tanpa memperhatikan banyaknya
padi yang tercecer saat perontokan berlangsung. Adapun mesin perontok yang
digunakan dalam proses perontokan di KSB yaitu power thresher buatan bengkel. Oleh
sebab itu, maka perlu dilakukan penelitian tentang Performance Mesin Perontok dalam
Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas Gabah di Kabupaten Sumbawa Barat.
1.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan timbul dari
kurangnya pemahaman dan kesadaran para petani akan susut yang dihasilkan dalam
proses pascapanen, khususnya dalam penggunaan mesin perontok yang ada. Sehingga,
uji performance mesin perontok sangat diperlukan untuk menentukan susut bobot dan
kualitas gabah yang diperoleh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Padi

Sebagai bahan pangan pokok sumber karbohidrat, padi yang diolah menjadi beras
dipandang sebagai komoditas strategis bagi bangsa Indonesia, sehingga ketersediaan
beras perlu terus dijaga kestabilannya. Beras yang dihasilkan tidak hanya berperan
sebagai sumber energi dan zat gizi, tetapi juga mengandung komponen aktif dengan
fungsi fisiologis yang bermanfaaat bagi kesehatan. Beras varietas tertentu atau yang
telah diproses melalui pengolahan khusus, selain sebagai makanan pokok juga dapat
berperan sebagai pangan fungsional. Pangan fungsional adalah pangan yang secara
alami atau telah melalui proses tertentu mengandung satu atau lebih senyawa yang
berdasarkan kajian-kajian dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis yang
bermanfaat bagi kesehatan (Wijayanti, 2004).
Sebelum diolah menjadi beras, padi akan dirontokkan dari malainya. Butir padi
yang telah rontok dari malainya ini disebut dengan gabah. Butir gabah terdiri dari satu
bagian yang dapat dimakan disebut “Caryopsis” dan satu bagian lagi yang merupakan
struktur kulit yang disebut sekam. Bagian sekam adalah 18 sampai 28 persen dari bobot
gabah. Bagian butir beras terdiri dari lapisan pericarp, testa atau tegmen, lapisan
aleuron, endosperm dan embrio. Struktur gabah dapat dilhat pada Gambar 1.

Gambar. 1 Struktur gabah


2.2. Perontokan padi
Proses perontokan padi merupakan kegiatan memisahkan butir padi dari
malainya. Ada berbagai macam cara yang dilakukan oleh para produsen padi untuk
melakukan perontokan, yaitu dengan cara tradisional dan cara mekanis. Cara tradisional
dilakukan dengan cara gebot di atas alas yang telah disediakan, sedangkan cara mekanis
dilakukan dengan menggunakan mesin (thresher). Mesin perontok terdiri dari
komponen-komponen utama, yaitu kerangka perontok, silinder perontok, ruang
perontok, ayakan, blower dan motor penggerak (Koes 2007).
Ada beberapa jenis mesin perontok (thresher) yang digunakan di Indonesia,
yaitu thresher tipe drum (silinder) tertutup, thresher tipe drum terbuka dan thresher tipe
axial. Thresher tipe drum tertutup hanya cocok untuk merontokkan padi. Pengumpanan
pada thresher tipe drum tertutup dilakukan secara throw in maupun hold on.
Pengumpanan secara throw in dilakukan dengan memasukan umpan secara penuh tanpa
menyisakan bulir di tangan, sedangkan hold on dilakukan dengan pengumpanan yang
masih menyisakan bulir di tangan agar bisa dimanfaatkan. Thresher tipe drum terbuka
merupakan modifikasi pengembangan dari thresher tipe drum tertutup. Thresher ini
tidak hanya mampu merontokan padi tetapi juga mampu merontokkan kedelai dan
jagung.
Mesin perontok yang beredar di masyarakat dan sampai saat ini masih
digunakan adalah mesin perontok tipe drum terbuka. Keunggulan mesin ini adalah
mampu merontokan berbagai macam komoditas pangan sehingga lebih praktis dalam
penggunaannya, tanpa harus menggati mesin perontok sesuai dengan komoditas yang
akan dirontokkan. Mesin perontok ini merupakan hasil modifikasi mesin perontok yang
dikembangkan oleh IRRI di Indonesia dengan tipe TH 6, TH 7 dan TH 8. Hasil test
report mesin perontok ini dapat dilihat pada Tabel 2. Test report dari mesin perontok
ini telah memenuhi SNI 7866-2013.
2.3. Standar Mutu Gabah
Persyaratan mutu gabah meliputi persyaratan kualitatif dan kuantitatif.
Persyaratan mutu kualitatif gabah terdiri atas empat karakter, yaitu: 1) bebas hama dan
penyakit, 2) bebas dari bau busuk, asam dan bau lainnya, 3) bebas bahan kimia dan sisa
pupuk, insektisida, dan fungisida, dan 4) gabah tidak boleh panas. Persyaratan
kuantitatif meliputi kriteria pemeriksaan gabah di laboratorium dengan berpedoman
pada standar mutu gabah berdasarkan SNI 0224-1987 (Tabel 3). Sedangkan kualitas
gabah berdasarkan Inpres tahun 2012 dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu : a)
Gabah Kering Giling (GKG) dan b) Gabah Kering Panen (GKP). Gabah kering giling
merupakan gabah yang mengandung kadar air 14 persen dan hampa/kotoran maksimum
3 persen, sedangkan gabah kering panen adalah gabah yang mengandung kadar air
maksimum 25 persen dan hampa/kotoran maksimum 10 persen.
Beberapa pengertian yang berkaitan dengan mutu gabah terdiri dari 3 (tiga)
komponen masing-masing adalah sebagai berikut :
a) Kadar Air (KA)
Jumlah kandungan air dalam butir gabah yang dinyatakan dalam persentase dari
berat basah.
b) Butir Hampa
Butir gabah yang tidak berkembang secara sempurna akibat serangan hama,
penyakit, atau sebab lain sehingga tidak berisi butir beras meskipun kedua tungkup
sekamnya tertutup ataupun terbuka. Butir gabah setengah hampa tergolong dalam butir
hampa.
c) Kotoran
Segala benda asing yang tidak tergolong bagian dari gabah, misalnya debu,
butiran tanah, butiran pasir, batu kerikil, potongan kayu, potongan logam, tangkai padi,
biji-bijian lain, bangkai serangga, dan lain sebagainya. Termasuk dalam kategori
kotoran adalah butiran gabah yang telah terkelupas (beras pecah kulit) dan gabah patah
(BPS 2014).
Tabel 3 Mutu Gabah Berdasarkan SNI 0224-1987
Persyaratan
No. Komponen mutu Satuan
I II III
1 Kadar air (maks) % 14 14 14
2 Gabah hampa (maks) % 1 2 3
3 Butir kuning/rusak (maks) % 2 5 7
4 Butir mengapur/gabah muda (maks) % 1 5 10
5 Butir merah (maks) % 1 2 10
6 Benda asing (maks) % 0 0,5 4
7 Gabah varietas lain (maks) % 2 5 10
Tabel 2 Test Report Mesin Perontok Tipe Silinder Terbuka yang dimodifikasi
Parameter Satuan Test Report
Daya motor penggerak Motor bensin/motor diesel 5.5-6 HP
Panjang x Lebar x Tinggi Mm 1325x965x1213
Kapasitas kerja
- Padi kg/jam 500-600
- Kedelai kg/jam 350-450
- Jagung kg/jam 700-1000
Bobot keseluruhan Kg 110
Kecepatan putar silinder
- Padi Rpm 600
- Kedelai Rpm 600-650
- Jagung Rpm 650-700
Kebutuhan bahan bakar
- Bensin liter/jam 0.9
- Solar liter/jam 1.0
Sumber : Koes 2007
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menghitung besarnya penyusutan selama proses perontokan
1. Menentukan kualitas/mutu gabah yang dihasilkan dari proses perontokan
2. Menentukan mesin perontok yang mampu meminimalkan susut yang terjadi
3.2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dihasilkan pada penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan masukan bagi petani dan masyarakat di KSB dalam memilih dan
menggunakan mesin perontok padi
2. Publikasi pada Jurnal Ilmiah Universitas Cordova dan penyusunan buku ajar
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi Penelitian


Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 19 Juni 2018 di Desa Beru, Kecamatan
Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat.
4.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah, power thresher dengan
spesifikasi teknis disajikan pada Tabel 3, karung, timbangan analitik, timbangan
gantung, pinset, kaca pembesar, moisture tester, penampi, terpal 8 x 8 m, terpal yang
biasa digunakan petani di saat perontokan, plastik, bakul.
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah padi varietas Ciliwung yang
didapatkan dari kelompok tani di Desa Beru, kecamatan Taliwang, kabupaten
Sumbawa Barat.
Tabel 3 Spesifikasi Teknis Thresher secara Mekanis
Spesifikasi
Kondisi teknis
Thresher A Thresher B
Diameter silinder perontok 200 mm 220 mm
Lebar silinder perontok 550-590 mm 550-890 mm
Jumlah baris gigi perontok 6 baris 8 baris
Jumlah gigi tiap baris ada yang 6 ada yang 7 ada yang 8 ada yang 9
Tinggi gigi perontok 120 mm 100 mm
Diameter puli 200 mm 300 mm
Lebar alat 700 mm 730 mm
Panjang alat 610 mm 1200 mm
Tinggi alat 1400 mm 1270 mm
Daya motor 5.5 HP 5.5 HP
Pemasangan gigi Selang seling Selang seling
Motor Pengggerak Bensin 4 tak Bensin 4 tak
Putaran silinder perontok 500-800 RPM 500-800 RPM
Tinggi hopper 820 mm 850 mm

4.3. Rancangan Percobaan


Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap
(RAL) dengan mesin perontok sebagai perlakuan. Pengulangan dilakukan sebanyak 5
kali. Model linear rancangan percobaan yang digunakan adalah:
Yij =µ + τi + εij, dimana : i= 1, 2, 3 ; j = 1, 2;3
Keterangan :
Yij : Pengamatan pada mesin perontok ke-i, ulangan ke-j
µ : Rataan umum
τi : Pengaruh mesin perontok ke-i
εij : Pengaruh acak pada mesin perontok ke-i, ulangan ke-j
Hasil yang didapatkan kemudian diolah dengan Analysis of Variance (ANOVA)
dengan taraf 5 %. Bila terdapat pengaruh nyata maka akan dilakukan uji lanjutan
dengan menggunakan metode uji BNJ (Beda Nyata Jujur) dengan selang kepercayaan
95%. Data diolah dengan menggunakan Statistial Analysis Software (SAS).
4.4. Prosedur Penelitian
Setelah padi dipanen, padi akan dikumpulkan dan ditimbang sebanyak 200 kg
untuk sekali rontok. Perontokan segera dilakukan menggunakan mesin yang telah
disiapkan, yaitu dua power thresher dengan spesifikasi yang berbeda. Padi yang telah
dirontok kemudian ditimbang dan dikumpulkan butir gabah yang tercecer dari hasil
perontokan.
4.5. Susut Bobot Perontokan (Purwardaria 1988)
Perontokan mekanis dilakukan pada terpal pengamatan 8 m x 8 m yang di atasnya
dihamparkan terpal petani yang biasa digunakan dalam melakukan perontokan padi.
Untuk memperoleh susut perontokan (Gambar 1) menggunakan Persamaan :
BGTpm +T1 +T2
ST = BGH × 100 % ………………………… (1)
pm +BGTpm +T1 +T2

Keterangan :
STperontokan : Susut perontokan (%)
BGHpm : Berat gabah hasil perontokan pada alas petani (kg)
BGTpm : Berat gabah yang terlempar keluar alas petani (kg)
T1 : Berat gabah yang tidak terontok dan masih melekat pada jerami (gr)
T2 : Berat gabah yang terbuang/terbawa kotoran (gr)
Untuk mendapatkan T1mekanis dan T2mekanis digunakan rumus :
B
T1mekanis = Berat sampel1mekanis × Bmekanis …………… (2)
brangkasan (1 kg)

C
1mekanis
T2mekanis = Berat sampel × Cmekanis …………… (3)
kotoran (1 kg)

Keterangan :
Bmekanis : Berat jerami perontokan keseluruhan (kg)
Cmekanis : Berat kotoran sisa perontokan keseluruhan (kg)
B1mekanis : Gabah yang dipisahkan dari tangkai padi sampel 1 kg (gr)
C1mekanis : Gabah yang dipisahkan dari sampel kotoran 1 kg (gr)

Gambar 1 Alur dalam menentukan susut tercecer perontokan

4.6. Mutu Fisik Gabah


Mutu fisik gabah yang diamati meliputi kadar air, gabah hampa/kotoran dan
benda asing, butir hijau/mengapur, butir kuning/rusak dan butir merah. Pengukuran
kadar air dilakukan dengan metode oven dan menimbang sampel sebanyak 5 g dan
memanaskannya pada suhu 105 ºC. Penentuan gabah hampa/kotoran dan benda asing
dilakukan dengan menyiapkan sampel gabah sebanyak 100 gram dan dilakukan
pemisahan secara manual. Selanjutnya gabah hampa/kotoran dan benda asing
ditimbang. Sedangkan penentuan butir hijau/mengapur, butir kuning/rusak dan butir
merah dilakukan dengan menyiapkan sampel gabah bersih 100 g yang telah dipisahkan
dari gabah hampa, kotoran, dan benda asing. Kemudian dikupas kulitnya dengan
menggunakan mini husker. Timbang beras pecah kulit 50 gram yang terjadi. Pisahkan
butir hijau/mengapur, butir kuning/rusak, dan butir merah secara manual kemudian
ditimbang.
BAB V
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

5.1. Susut Bobot Perontokan


Besar kecilnya susut bobot perontokan bergantung pada banyaknya jumlah
gabah yang terlempar keluar alas petani, jumlah padi yang tidak terontok dan jumlah
gabah yang terbawah kotoran. Dalam hal ini, produksi padi akan berkurang seiring
tingginya susut yang dihasilkan. Menurut Rokhani (2012), bahwa susut dapat ditekan 3-
4% dengan menggunakan power thresher. Dari kedua power thresher yang digunakan,
didapatkan susut sebesar 1.68% pada power thresher A dan power thresher B sebesar
1.24% (Gambar 5). Susut bobot tersebut telah memenuhi standar SNI 7866-2013, yang
menstandarkan susut maksimum 5%. Hasil analisis sidik ragam menyatakan bahwa
kedua thresher yang digunakana tidak memiliki pengaruh nyata terhadap susut bobot
yang dihasilkan (P-value > 5%).

Threser A

2 Thresher B
Susut Perontokan (%)

1.5

0.5

1.68±0.25 1.24±0.17

Gambar 5. Susut Bobot Perontokan

5.3 Mutu Fisik Gabah


Pengamatan mutu fisik gabah dengan kadar air 14% dari kedua power thresher
yang digunakan telah memenuhi SNI 0224-1987. Menurut Buckle et al (2009), kadar
air sangat mempengaruhi sifat fisik, perubahan kimia dan mikrobiologis bahan pangan
yang mengakibatkan bahan pangan cepat rusak. Selain kadar air, mutu fisik gabah juga
dipengaruhi oleh gabah hampa, butir kuning/rusak/mengapur, butir merah, benda asing
dan varietas gabah lain. Semua komponen mutu dari hasil pengamatan telah memenuhi
SNI 0224-1987. Semakin rendah benda asing, gabah hampa/rusak di dalam campuran
gabah maka tingkat kemurnian gabah semakin tinggi. Mutu fisik gabah dapat di lihat
pada Tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4 Mutu Fisik Gabah
Thresher
No. Komponen mutu Satuan
A B
1 Kadar air (maks) % 14 14
2 Gabah hampa (maks) % 0.542 0.474
3 Butir kuning/rusak (maks) % 0.75 0.512
Butir mengapur/gabah muda
4 (maks) % 0.982 0.612
5 Butir merah (maks) % 0.234 0.446
6 Benda asing (maks) % 0 0
7 Gabah varietas lain (maks) % 0.074 0.386
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Susut bobot yang diperoleh pada power thresher A 1.68% pada dan power
thresher B sebesar 1.24%.
2. Kedua power thresher tidak memiliki pengaruh nyata terhadap susut
perontokan.
3. Kadar air diperoleh dari kedua power thresher adalah 14%, gabah hampa
0.542% power thresher A dan 0.474% power thresher B, butir
kuning/rusak/mengapur masing-masing power thresher A dan B adalah 0.750%
dan 0.512% , butir merah 0.234% power thresher A dan power thresher B
0.446%, butir mengapur 0.982% pada power thresher A dan 0.612 pada power
thresher B dan varietas gabah lain power thresher A 0.074% dan power
thresher B 0.386%. dan semua komponen mutu tersebut telah memenuhi SNI
0224-1987.

6.2 Saran
Penelitian berikut bisa dilakukan dengan mengamati kapasitas mesin dan
pengaruh kecepatan putar dari power thresher.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2007. Buku Pedoman Survei Gabah Beras. 2007.

Badan Pusat Statistik. 2014. Produksi Tanaman Pangan Angka Tetap Tahun 2013 dan
Angka Ramalan 1 Tahun 2014. Jakarta : BPS RI.

Buckle KA, Edward RA, Fleet GH, Wotton M. 2009. Ilmu Pangan. Penerjemah; Hari
P, Adiono. Jakarta (ID): Universitas Indonesia Press.

Chenglong H, Lingfeng D, Qian L, Wanneng Y. 2011. Development of a whole-


feeding and automatic rice thresher for single plant. J Mathematical and Computer
Modelling 58 (2013):684–690.

Ditjen PPHP Deptan. 2007. Pedoman Teknis Penanganan Pascapanen dan Pemasaran
Gabah. Direktorat Jenderal Pengolahan danPemasaran Hasil Pertanian. Departemen
Pertanian.

Herawati H. 2008. Mekanisme dan Kinerja pada Sistem Perontokan Padi. J Litbang
Provinsi Jawa Tengah. 6(196):195-203.

Koes S. 2007. Mesin perontok padi thresher. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi
Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen pertanian.
Perekayasa Madya pada BBPMektan, Serpong.

Rokhani H, Riska I. 2009. Penggunaan Teknologi Perontokan untuk Menekan Susut


dan Mempertahankan Kualitas Gabah. JTEP. 23(2):111-118.

Rokhani H, Anggitha R. 2012. Teknik Penanganan Pascapanen Padi untuk Menekan


Susut dan Meningkatkan Rendemen Giling. J Pangan. 21 (1) : 17-28.

Purwadaria HK. 1988. Teknologi Penanganan Pasca Panen Kedelai. Deptan-FAO-


UNDP. Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian, Proyek INS/088/007. Deptan :
Jakarta.

Shahbazi F. 2012. A Study on the Seed Susceptibility of Wheat (Triticum aestivum L.)
Cultivars to Impact Damage. J Agriculture science technology. 14: 505-512.

Wijayanti E. 2004. Potensi dan Prosfek Pangan Fungsional Indigenous Indonesia.


Disajikan pada Seminar Nasional : Pangan Fungsional Indigenous Indonesia :
Potensi, Regulasi, Keamanan, Efikasi dan Peluang Pasar. Bandung. 6-7 Oktober
2004.
Lampiran 1. Analisis Sidik Ragam Susut Bobot

Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F


Model 5 1.01889246 0.20377849 0.62 0.6967
Error 4 1.31501765 0.32875441
Corrected Total 9 2.33391012

Lampiran 2. Berat Gabah Perontokan, Gabah Terlempar, Tidak Terontok,


Terbawa Kotoran

Power Thresher A
BGH (kg) BGT (g) Bj (Kg) Ck (kg) B1 (g) C1 (g)
52 2 112 25 7 8
52 2 128 25 6 7
53 1 125 20 6 7
54 0.5 123 22 8 5
58 0.6 114 20 6 4

Power Thresher B
BGH (kg) BGT (g) Bj (Kg) Ck (kg) B1 (g) C1 (g)
53 4 125 19 5 3
52 2.5 115 20 4 5
55 3.6 124 21 6 4
54 4 111 20 7 3
57 2 117 22 5 5
Lampiran 3. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian
Lampiran 4. Biodata Peneliti

A. Identitas Diri Ketua


1. Nama Lengkap Novi Dewi Sartika, S.TP., M.Si
2. Jenis Kelamin Perempuan
3. Jabatan Fungsional Asisten Ahli
4. NIP/NIK 198711102010092001
5. NIDN 0810118701
6. Tempat dan Tanggal Lahir Alas, 10 Nopember 1987
7. E-mail novidewisartika@gmail.com
8. Nomor Telepon/HP 085205205958
9. Alamat Kantor Jalan pondok pesantren no 112 taliwang, KSB
10. Nomor Telepon/Faks
11. Lulusan yang Telah Dihasilkan -
12. Mata Kuliah yang Diampuh 1. Kewirausahaan
2. Elemen mesin
3. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian
3. Ekonomi Agroidustri

B. Riwayat Pendidikan
S1 S2 S3
Nama -
Perguruan Universitas Mataram Institut pertanian Bogor
Tinggi

Bidang Ilmu Teknik Pertanian Teknologi Pascapsanen -

Tahun Masuk- 2006-2010 2013-2015 -


Lulus
Judul Studi Simulasi dan Performansi Kinerja dan Keekonomian -
Skripsi/Tesis/ Aktual Bucket Elevator untuk Mesin Perontok untuk
Dis ertasi Memindahkan Gabah secara Kedelai (Studi Kasus :
Vertikal Kecamatan Majalengka,
Kabupaten Majalengka)

Nama Ir. Cahyawan Catur EM, M. Eng Prof . Dr. Ir Sutrisno, M.Agr -
Pembimbing/ Rahmat Sabani., S.TP., MP Dr Ir Emmy Darmawati, M.Si
Pro motor
C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir
(Bukan Skripsi, Tesis maupun Disertasi)
Pendanaan
No Tahun Judul Penelitian
Sumber Jumlah (Juta Rp)

1.

D. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir

No Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/ Nomor/Tahun


1. Operasionalisasi Mesin Perontok Jurnal Keteknik an
Multiguna untuk Kedelai Studi Pertanian Institut Volume 4/ no 1/April 2016
Kasus : Kecamatan Majalengka, Pertanian Bogor
Kabupaten Majalengka

E. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir

Nama Pertemuan
Judul Artikel Ilmiah
No Ilmiah / Waktu danTempat
Seminar
1.

F. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


institusi lainnya
Institusi Pemberi
No Jenis Penghargaan Penghargaan Tahun
1.
A. Identitas Diri Anggota Peneliti
1. Nama Lengkap Zuhriyah Ramdhani, SP
2. Jenis Kelamin Perempuan
3. Jabatan Fungsional -
4. NIP/NIK 198605132010092001
5. NIDN 0813058602
6. Tempat dan Tanggal Lahir Taliwang, 13 Mei 1986
7. E-mail Azzahroh2012@yahoo.co.id
8. Nomor Telepon/HP 0852339847066
9. Alamat Kantor Jalan pondok pesantren no 112 taliwang, KSB
10. Nomor Telepon/Faks -
11. Lulusan yang Telah Dihasilkan -
12. Mata Kuliah yang Diampuh 1. Kimia Dasar
2. Dasar-dasar Ilmu Tanah
3. Fisika Dasar

B. Riwayat Pendidikan
S1

Nama Perguruan Tinggi Universitas mataram

Bidang Ilmu Ilmu Tanah

Tahun Masuk - Lulus 2005-2010

Uji Aplikasi Paket Teknologi


Pemupukan pada Kacang Tanah (Arachis
Judul Skripsi
hygaea L) di Desa Batu Putih Kecamatan
Sekotong

1. Ir. Joko Priyono, M.Sc., Ph.D


Nama Pembimbing/Pro motor
2. Ir. Raden Sutriono, MP
C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir
(Bukan Skripsi, Tesis maupun Disertasi)
Pendanaan
No Tahun Judul Penelitian
Sumber Jumlah (Juta Rp)

1.

D. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir

Nama
No Judul Artikel Ilmiah Jurnal Volume/ Nomor/Tahun

1.

E. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya


Dalam 5 Tahun Terakhir
Judul//Tema/Jenis Rekayasa
Sosial Lainnya yang Telah Tempat
No Tahun Respon Masyarakat
Diterapkan Penerapan
1.
Lampiran 5. Artikel Ilmiah

PERFORMANCE MESIN PERONTOK DALAM MEMPERTAHANKAN


KUALITAS DAN KUANTITAS GABAH DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

Novi Dewi Sartika1), Zuhriyah Ramdhani2)


Universitas Cordova-Indonesia1)
novidewisartika@gmail.com
ABSTRACT
Threshing is one of the postharvest processes that has an influence on the loss of rice yields
obtained by farmers. In line with the times, thresher used by farmers has switched to using
machines. Problems that cannot be prevented among farmers are the lack of understanding and
lack of awareness of farmers about the losses that occur in using threshing machines, including
in West Sumbawa Regency. Therefore, this study aims to calculate the amount of depreciation
during the threshing process, determine the quality / quality of grain produced from the
threshing process, and determine the threshing machine that is able to minimize losses that
occur. This research will be conducted in Beru Village, West Sumbawa Regency. Threshing is
done by shedding Ciliwung varieties using two power thresher with different specifications.
The resulting shrinkage of the two power thresher is 1.68% in power thresher A and power
thresher B is 1.24%. Physical quality of grain has fulfilled SNI 0224-1987 with 14% moisture
content, empty grain 0.474-0.512%, red grains 0.446-0.234%, calcified grains 0.982-0.612%,
and other varieties 0.386-0.074%.
Keyword: thresher machine, weight loss, quality loss, paddy

PENDAHULUAN Menurut Chenglong et al. (2011) penggunaan mesin


perontok (power thresher) dapat mengurangi biji
Padi merupakan salah satu hasil pertanian yang rusak dan mengurangi biji yang tidak terontok.
menjadi komoditas utama dalam menyongsong Kehilangan hasil akibat ketidaktepatan dalam
pangan masyarakat Indonesia. Seiring meningkatnya melakukan perontokan dapat mencapai lebih dari 5%.
jumlah penduduk, maka produksi padi harus terus Penyebab utama terjadinya kehilangan hasil pada saat
ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat. perontokan padi yaitu kurangnya kehati-hatian para
Meningkatkan produksi padi, tidak hanya dengan petani dalam bekerja, kecepatan putaran silinder
memperluas areal pertanaman dan peningkatan teknik perontok, dan luasan alas terpal/plastik yang
budidaya saja, akan tetapi perlu dilakukan penanganan digunakan pada saat merontok (Rokhani 2009). Oleh
pascapanen yang tepat. sebab itu, selama perontokan sebaiknya digunakan
Penanganan pascapanen pada umumnya alas terpal berwarna gelap, dengan ukuran 8 m x 8 m,
bertujuan untuk mendapatkan padi dengan mutu dan ada jahitan pinggir dengan diberi lubang interval
tinggi, mengefisienkan tenaga dalam pelaksanaan dua meter serta dilengkapi dengan ring di setiap sudut
pemanenan serta memperkecil kehilangan hasil terpal (Ditjen PPHP 2007). Beberapa faktor yang
(Shahbazi 2012). Penanganan pascapanen yang tidak mempengaruhi kapasitas dan kinerja kegiatan
tepat akan mengakibatkan terjadinya susut bobot dan perontokan padi diantaranya yaitu varietas padi,
kerusakan biji yang bersumber dari keterlambatan sistem pemanenan, mekanisme perontokan,
penanganan, kesalahan penanganan maupun penundaan perontokan, serta faktor kehilangan hasil
penggunaan peralatan yang tidak sesuai. Menurut (Herawati, 2008). Adapun faktor yang mempengaruhi
BPS (2007), total susut bobot padi mencapai 22.54% kehilangan hasil pada proses pascapanen adalah umur
pada bidang pascapanen. Dengan tingginya susut panen, kadar air dan cara yang digunakan dalam
yang dihasilkan, maka perlu dilakukan perbaikan proses pascapanen tersebut.
penanganan pascapanen. Selain itu, permsalahan yang belum dapat
Perontokan adalah salah satu proses pascapanen dicegah di kalangan para petani adalah
yang memiliki pengaruh atas kehilangan hasil padi ketidakpahaman dan kurangnya kesadaran petani akan
yang diperoleh para petani. Sejalan dengan susut yang terjadi. Keadaan seperti ini hampir tejadi di
perkembangan zaman, alat perontok yang digunakan seluruh wilayah Indonesia, tidak terkecuali di
oleh para petani sudah beralih menggunakan mesin. Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Penggunaan mesin
perontok pun kurang diperhatikan, ansalkan padi perontokan padi. Untuk memperoleh susut perontokan
terontok semua itu sudah cukup bagi mereka tanpa (Gambar 1) menggunakan Persamaan :
memperhatikan banyaknya padi yang tercecer saat
perontokan berlangsung. Adapun mesin perontok BGTpm +T1 +T2
ST = BGH × 100 % (1)
yang digunakan dalam proses perontokan di KSB pm +BGTpm +T1 +T2
yaitu power thresher buatan bengkel. Oleh sebab itu,
Keterangan :
maka perlu dilakukan penelitian tentang Performance
STperontokan : Susut perontokan (%)
Mesin Perontok dalam Mempertahankan Kualitas dan
BGHpm : Berat gabah hasil perontokan pada
Kuantitas Gabah di Kabupaten Sumbawa Barat.
alas petani (kg)
BGTpm : Berat gabah yang terlempar keluar
METODE PENELITIAN
alas petani (kg)
T1 : Berat gabah yang tidak terontok dan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah
masih melekat pada jerami (gr)
power thresher dengan spesifikasi teknis disajikan
T2 : Berat gabah yang terbuang/terbawa
pada Tabel 1, karung, timbangan analitik, timbangan
kotoran (gr)
gantung, pinset, kaca pembesar, moisture tester,
penampi, terpal 8 x 8 m, terpal yang biasa digunakan
Untuk mendapatkan T1mekanis dan T2mekanis
petani di saat perontokan, plastik, bakul. Bahan yang
digunakan rumus :
digunakan pada penelitian ini adalah padi varietas
Ciliwung. B
Metode yang dilakukan adalah merontokan T1mekanis = Berat sampel1mekanis
brangkasan (1 kg)
× Bmekanis
padi dengan dua power thresher yang berbeda dengan
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) C
1mekanis
T2mekanis = Berat sampel kotoran (1 kg)
× Cmekanis (3)
sebanyak 5 kali ulangan. Uji lanjut dilakukan dengan
menggunakan beda nyata jujur (BNJ). Pengamatan
yang dilakukan berupa susut bobot perontokan dan Keterangan :
mutu fisik gabah. Bmekanis : Berat jerami perontokan
keseluruhan (kg)
a. Susut Bobot Perontokan Cmekanis : Berat kotoran sisa perontokan
Perontokan mekanis dilakukan pada terpal keseluruhan (kg)
pengamatan 8 m x 8 m yang di atasnya dihamparkan B1mekanis : Gabah yang dipisahkan dari tangkai
terpal petani yang biasa digunakan dalam melakukan padi sampel 1 kg (gr)
C1mekanis : Gabah yang dipisahkan dari sampel
kotoran 1 kg (gr)

Tabel 1 Spesifikasi Teknis Thresher secara Mekanis


Spesifikasi
Kondisi teknis
Thresher A Thresher B
Diameter silinder perontok 200 mm 220 mm
Lebar silinder perontok 550-590 mm 550-890 mm
Jumlah baris gigi perontok 6 baris 8 baris
Jumlah gigi tiap baris ada yang 6 ada yang 7 ada yang 8 ada yang 9
Tinggi gigi perontok 120 mm 100 mm
Diameter puli 200 mm 300 mm
Lebar alat 700 mm 730 mm
Panjang alat 610 mm 1200 mm
Tinggi alat 1400 mm 1270 mm
Daya motor 5.5 HP 5.5 HP
Pemasangan gigi Selang seling Selang seling
Motor Pengggerak Bensin 4 tak Bensin 4 tak
Putaran silinder perontok 500-800 RPM 500-800 RPM
Tinggi hopper 820 mm 850 mm
b. Mutu Fisik Gabah
Mutu fisik gabah yang diamati meliputi HASIL DAN PEMBAHASAN
kadar air, gabah hampa/kotoran dan
benda asing, butir hijau/mengapur, a. Susut Bobot Perontokan
butir kuning/rusak dan butir merah.
Pengukuran kadar air dilakukan dengan Besar kecilnya susut bobot
metode oven dan menimbang sampel perontokan bergantung pada banyaknya
sebanyak 5 g dan memanaskannya jumlah gabah yang terlempar keluar alas
pada suhu 105 ºC. Penentuan gabah petani, jumlah padi yang tidak terontok dan
hampa/kotoran dan benda asing jumlah gabah yang terbawah kotoran.
dilakukan dengan menyiapkan sampel Dalam hal ini, produksi padi akan
gabah sebanyak 100 gram dan berkurang seiring tingginya susut yang
dilakukan pemisahan secara manual. dihasilkan. Menurut Rokhani (2012),
Selanjutnya gabah hampa/kotoran dan bahwa susut dapat ditekan 3-4% dengan
benda asing ditimbang. Sedangkan menggunakan power thresher. Dari kedua
penentuan butir hijau/mengapur, butir power thresher yang digunakan, didapatkan
kuning/rusak dan butir merah susut sebesar 1.68% pada power thresher A
dilakukan dengan menyiapkan sampel dan power thresher B sebesar 1.24%
gabah bersih 100 g yang telah (Gambar 1). Susut bobot tersebut telah
dipisahkan dari gabah hampa, kotoran, memenuhi standar SNI 7866-2013, yang
dan benda asing. Kemudian dikupas menstandarkan susut maksimum 5%. Hasil
kulitnya dengan menggunakan mini analisis sidik ragam menyatakan bahwa
husker. Timbang beras pecah kulit 50 kedua thresher yang digunakana tidak
gram yang terjadi. Pisahkan butir memiliki pengaruh nyata terhadap susut
hijau/mengapur, butir kuning/rusak, bobot yang dihasilkan (P-value > 5%).
dan butir merah secara manual
kemudian ditimbang.

Threser A
Susut Perontokan (%)

Thresher B
2

1.68±0.25 1.24±0.17

Gambar 1. Susut Bobot Perontokan

a. Mutu Fisik Gabah dipengaruhi oleh gabah hampa, butir


kuning/rusak/mengapur, butir merah, benda
Pengamatan mutu fisik gabah asing dan varietas gabah lain. Semua
dengan kadar air 14% dari kedua power komponen mutu dari hasil pengamatan
thresher yang digunakan telah memenuhi telah memenuhi SNI 0224-1987. Semakin
SNI 0224-1987. Menurut Buckle et al rendah benda asing, gabah hampa/rusak di
(2009), kadar air sangat mempengaruhi dalam campuran gabah maka tingkat
sifat fisik, perubahan kimia dan kemurnian gabah semakin tinggi. Mutu
mikrobiologis bahan pangan yang fisik gabah dapat di lihat pada Tabel 2
mengakibatkan bahan pangan cepat rusak. dibawah ini.
Selain kadar air, mutu fisik gabah juga

1
Tabel 2 Mutu Fisik Gabah
Thresher
No. Komponen mutu Satuan
A B
1 Kadar air (maks) % 14 14
2 Gabah hampa (maks) % 0.542 0.474
3 Butir kuning/rusak (maks) % 0.75 0.512
Butir mengapur/gabah muda
4 (maks) % 0.982 0.612
5 Butir merah (maks) % 0.234 0.446
6 Benda asing (maks) % 0 0
7 Gabah varietas lain (maks) % 0.074 0.386

KESIMPULAN
Chenglong H, Lingfeng D, Qian L,
1. Susut bobot yang diperoleh pada Wanneng Y. 2011. Development of a
power thresher A 1.68% pada dan whole-feeding and automatic rice
power thresher B sebesar 1.24%. thresher for single plant. J
2. Kadar air diperoleh dari kedua Mathematical and Computer Modelling
power thresher adalah 14%, gabah 58 (2013):684–690.
hampa 0.542% power thresher A Ditjen PPHP Deptan. 2007. Pedoman
dan 0.474% power thresher B, Teknis Penanganan Pascapanen dan
butir kuning/rusak/mengapur Pemasaran Gabah. Direktorat Jenderal
masing-masing power thresher A Pengolahan danPemasaran Hasil
dan B adalah 0.750% dan 0.512% , Pertanian. Departemen Pertanian.
butir merah 0.234% power thresher Herawati H. 2008. Mekanisme dan Kinerja
A dan power thresher B 0.446%, pada Sistem Perontokan Padi. J
butir mengapur 0.982% pada Litbang Provinsi Jawa Tengah.
power thresher A dan 0.612 pada 6(196):195-203.
power thresher B dan varietas Rokhani H, Riska I. 2009. Penggunaan
gabah lain power thresher A Teknologi Perontokan untuk Menekan
0.074% dan power thresher B Susut dan Mempertahankan Kualitas
0.386%. dan semua komponen Gabah. JTEP. 23(2):111-118.
mutu tersebut telah memenuhi SNI Rokhani H, Anggitha R. 2012. Teknik
0224-1987. Penanganan Pascapanen Padi untuk
Menekan Susut dan Meningkatkan
DAFTAR PUSTAKA Rendemen Giling. J Pangan. 21 (1) :
17-28.
Badan Pusat Statistik. 2007. Buku Shahbazi F. 2012. A Study on the Seed
Pedoman Survei Gabah Beras. 2007. Susceptibility of Wheat (Triticum
Buckle KA, Edward RA, Fleet GH, Wotton aestivum L.) Cultivars to Impact
M. 2009. Ilmu Pangan. Penerjemah; Damage. J Agriculture science
Hari P, Adiono. Jakarta (ID): technology. 14: 505-512.
Universitas Indonesia Press.