Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cebakan mineral (bahan tambang) merupakan salah satu kekayaan alam yang
mempengaruhi perekonomian nasional. Oleh karena itu, upaya untuk mengetahui kuantitas
dan kualitas cebakan mineral hendaknya selalu diusahakan dengan tingkat kepastian yang
lebih tinggi, seiring dengan tahapan eksplorasinya. Semakin lanjut tahapan eksplorasi,
semakin besar pula tingkat keyakinan akan kuantitas dan kualitas sumberdaya dan cadangan
mineral.
Di Indonesia, masalah yang ada adalah belum terwujudnya standar pelaporan
sumberdaya dan cadangan mineral. Sehingga dalam pernyataan mengenai kuantitas dan
kualitas sumberdaya mineral atau cadangan sering timbul kerancuan, terlebih apabila
pernyataan tersebut tidak disertai penjelasan yang rinci mengenai kriteria klasifikasi dan
estimasinya.
The Australasian Code for Reporting of Exploration Results, Mineral Resources and
Ore Reserves (JORC Code, 2004 edition) yang menjadi acuan utama dalam perumusan
standar ini mengandung prinsip-prinsip utama yang mengatur operasi dan aplikasi dari JORC
Code yaitu transparency (transparansi), materiality (materialiti), dan competence
(kompetensi). Transparansi mensyaratkan bahwa pembaca laporan disuguhi dengan
informasi yang cukup, penyajian yang jelas dan tidak ambigu, untuk memahami laporan dan
tidak menyesatkan. Materialiti mensyaratkan laporan berisi semua informasi relevan, yang
diperlukan oleh pemerintah, investor dan penasihat profesionalnya secara wajar, dan
sepantasnya diharapkan dijumpai dalam laporan tersebut, untuk keperluan pengambilan
keputusan yang tepat dan berimbang mengenai hasil eksplorasi, sumberdaya mineral dan
cadangan mineral yang dilaporkan. Kompetensi mensyaratkan bahwa laporan didasarkan
atas pekerjaan orang-orang yang bertanggungjawab, berkualitas, dan berpengalaman sesuai
dengan aturan dan kode etik profesional.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Memodelkan endapan nikel laterit
2. Merancang tambang dan menghitung cadangan nikel laterit
3. Menjadwalkan penambangan sampai batas final pit
4. Merancang timbunan dan menghitung kapasitasnya
5. Merancang teknis penambangan
1.3. Metodologi
Metode ini dilakukan dengan cara mengolah data yang diperoleh dari data yang didapat
sebagai sumber informasi sehingga kita dapat menarik kesimpulan. Pengolahan data
perhitungan cadangan dibantu dengan memakai program Software surpac 6.5.1 dan Autocad
2009.
1.4. Deskripsi Umum Tentang Endapan Laterit
Endapan bijih nikel yang terdapat di Pulau Gebe adalah termasuk dalam jenis nikel
laterit yang terbentuk sebagai hasil, Residual Concentration yang merupakan konsentrasi
residu melalui proses pelapukan mekanis dan kimiawi yang bekerja pada batuan ultra basa
seperti peridotit yaitu batuan yang terdiri dari mineral utama seperti olivin dan piroksin yang
mengandung unsur nikel dalam prosentase yang kecil (PT. Aneka Tambang UBPN, 1992).
I-1
Proses pelapukan yang lebih dominan yaitu pelapukan kimiawi. Menurut Bolt,
(Bolt,dalam PT. Aneka Tambang, 1992), kandungan nikel yang terdapat pada batuan
periodotit adalah seperti pada tabel 1. Adapun awal terbentuknya endapan dimulai dari
batuan induk (Peridotie).
Tabel 1.1
Kandungan Unsur Ni Dalam Batuan Ultra Basa Sampai Asam

Sumber : PT. Aneka Tambang UBPN Operasi Gebe


Proses serpentinasi dimana akibat pengaruh larutan hidrotermal yang pada akhir
pembekuan magma, telah mengubah batuan serpentin atau peridotit yang terserpentinasi.
Proses yang dialami batuan tersebut sebagai awal terbentuknya suatu endapan residu bijih
nikel dan batuan yang berasal dari laterit dengan derajat serpentinasi akan mempengaruhi
zona. Saprolit yang relatif homogen dengan sedikit kuarsa dengan gernerit air permukaan
yang mengandung CO2 dari atmosfir dan terkayakan kembali oleh material organis
dipermukaan meresap kebawah sampai zona perlindihan dimana fluktuasi air berlangsung.
Magnesium, silika dan juga nikel atau larut terbawah sesuai dengan pola aliran tanah,
kemudian sebagian magnesium akan terendapkan misalnya magnesit yang dikenal dengan
alur pelapukan (Zona Of Weathering).
pada zona saprolit dijumpai rekahan-rekahan antara lain garnerit, kuarsa, chrysopros
sebagai hasil pengendapan hidrosilikat dari Mg, Si, dan Ni. Unsur-unsur mineral lainnya
yang tertinggal adalah besi, aluminium, mangan, kobal, crom, serta nikel zona limonit terikat
sebagai mineral oksida atau hidroksida seperti hemamit, magnesium, dan mineral lainnya.
Selain dari itu terdapat juga mineral relik, spinel chrom serta yang akibat
termigrasinya unsur-unsur magnesium (Mg dan Si) serta karena sifatnya resisiten pelapukan
relative terkayakan. Jika spinel chrom serta yang tidak berubah proses pelapukan ini
dijadikan standar untuk semua unsur selama proses pelapukan ini dijadikan standar untuk
melihat semua unsur-unsur selama proses pelapukan pada suatu profil laterit nikel, maka
dapat dibuat suatu model keseimbangan unsur.
Hasil analisa kimia menunjukkan bahwa zona tengah yang paling banyak
mengandung nikel, sedangkan unsur Ca, Mg, karbonat, akan terus mengalir kebawah pada
tempat yang tidak dapat mengalir lagi dan terendapkan sebagai unsur-unsur dolomit dan
magnesit yang mengisi rekahan-rekahan pada batuan asal sebagai gambaran umum dari pada
penampang endapan bijih nikel laterit. Metoda penambangan yang akan diusahakan untuk
dilakukan dengan metode open pit mining dengan system berjenjang dengan banyak muka
kerja (multi bench system). Setiap jenjang dihubungkan jalan masuk tambang dengan jalan
utama tambang. Penambangan mulai dari pengupasan overburden, limonit, saprolit dan
berhenti pada batuan dasar (bed rock).

I-2