Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Urin atau bisa juga disebut sebagai air seni atau air kencing adalah cairan sisa dari
hasil metabolisme tubuh yang di ekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan
dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang
molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
homeostasis cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju
kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Sitem urinaria terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Sistem ini
mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urine yang merupakan hasil sisa
metabolisme (Soewolo, 2003). Ginjal yang mempertahankan susunan kimia cairan tubuh
melalui beberapa proses, yaitu:
1. Filtrasi Glomerular, yaitu filtrasi plasma darah oleh Glomerulus
2. Reabsorpsi tubular, melakukan reabsorpsi (absorpsi kembali) secara selektif zat –zat
seperti garam, air, gula sederhana, asam amino dari tubulus ginjal ke kapiler
peritubular.
3. Sekresi peritubular, sekresi zat – zat dari kapiler darah ke dalam lumen tubulus,
proses sekresi ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organic dan
ion hydrogen, yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan
mengeluarkan zat – zat yang mungkin merugikan.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari
dalam tubuh. Anggapan umum bahwa urin adalah zat yang kotor. Hal ini berkaitan
dengan adanya zat sisa metabolisme tubuh yang harus dibuang karena zat sisa tersebut
akan menimbulkan racun dalam tubuh jika tidak dibuang.
Urin tidak hanya merupakan cairan buangan hasil metabolisme yang harus dibuang
karena merupakan cairan tidak berguna, namun urin juga bisa digunakan untuk
mendeteksi adanya suatu penyakit atau infeksi yang terjadi dalam tubuh seseorang
misalnya seseorang tersebut menderita suatu penyakit di area genitalia atau infeksi
saluran kemih maka pada pemeriksaan urin akan ditemukan mikroorganisme yang
menyebabkan infeksi tesebut. Dalam urin terdapat mikroorganisme karena pada organ

1
genitalia, saluran kemih terdapat flora normal di dalamnya namun jika terjadi suatu
infeksi, maka dapat dipastikan bahwa ada flora lain yang menyebabkan infelsi tersebut.
Diagnosa penyakit tidak hanya bisa ditentukan dengan adanya mikroorganisme,
namun juga bisa ditentukan dengan ditemukannya senyawa-senyawa yang ada dalam
urin. Senyawa-senyawa tersebut akan diputuskan sebagai diagnostik suatu penyakit jika
kadarnya dalam urin berlebihan.

1.2 Rumusan Masalah


- Bagaimana pemeriksaan urinalisis ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui proses pemeriksaan urinalisis
2. Untuk mengetahui proses pemeriksaan urinalisis, hasil pemeriksaan urinalisis, dan
diagnostik penyakit dari pemeriksaan urinalisis

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian
Urinalisis merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang memeriksa senyawa-
senyawa yang terkandung di dalam urin. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan
makroskopis, pemeriksaan mikroskopis, dan pemeriksaan kimia.
Manfaat pemeriksaan urinalisis antara lain:
1. Diagnostik infeksi saluran kemih
2. Pemeriksaan batu ginjal
3. Pemeriksaan ginjal
4. Skrining kesehatan
5. Evaluasi berbagai penyakit ginjal
6. Memantau perkembangan penyakit ginjal

2.2 Pemeriksaan makroskopis


Pemeriksaan makroskopis ini dilakukan dengan mengamati keadaan yang ada pada
sampel urin meliputi:
1. Warna
Urin normal memiliki warna khusus yang menunjukkan adanya penyakit atau infeksi.
 Urin normal berwarna kuning karena pigmen urokrom dan urobilin.
 Urin encer hampir tidak berwarna
 Urin pekat berwarna kuning tua atau sawo matang
Beberapa keadaan warna urin dan penyebabnya adalah :
 Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin.
Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak),
senna.
 Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk
infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.
 Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab
nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.

3
 Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab
nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.
 Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran.
 Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh
obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.
 Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat,
indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks
besi, fenol.

2. Berat jenis
Pengukuran berat jenis urin menggunakan alat yang disebut urinometer. Urinometer
adalah hidrometer untuk penentuan bobot jenis dari urine dan ditera khusus untuk
penentuan tersebut. Urinometer memiliki skala 1.0000-1.0060 (tiga desimal) dan
umumnya dipergunakan pada temperatur 60oF atau 15,5 oC.
Prosedur pemeriksaan:
40 mL urin dimasukkan ke dalam gelas ukur, lepas pelan-pelan urinometer ke dalam
gelas ukur.
Pembacaan:
Rumus : berat jenis terbaca + (suhu kamar-suhu kamar)/3x0.001

3. pH urin
pH urin adalah asam. pH urin diukur menggunakan ph universal yang dicelupkan
ke dalam urin. Perubahan warna paa ph universal disamakan pada skala pH yang ada
pada bungkus pH universal. Urin yang akan diperiksa harus memiliki pH asam karena
jika pH urin sudah basa maka bisa dikatakan bahwa urin tersebut sudah rusak karena
aktivitas mikroorganisme yang ada di dalam urin yang mengubah ureum menjadi
amoniak sehingga pH menjadi basa. Perubahan pH menjadi basa tersebut
membutuhkan waktu tidak 1 menit 2 menit jadi bisa dikatakan jika ph urin tersebut
sudah berubah menjadi basa maka senyawa-senyawa yang ada dalam urin tersebut
juga sudah berubah baik bentuk maupun struktur kimia (rusak, teroksidasi, kadar
turun, dll) sehingga tidak baik digunakan untuk digunakan sebagai sampel untuk
pemeriksaan.

4
4. Kejernihan urin
Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine
asam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan
selular berlebihan atau protein dalam urin.

5. Volume urin
Volume urin normal orang dewasa 600 – 2500 ml/ hari. Jumlah ini tergantung pada
masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/ fisik individu, produk akhir
nitrogen dan kopi, teh serta alkohol mempunyai efek diuretic.

6. Buih
Pada urin normal yang baru saja dikeluarkan tidak akan langsung menimbulkan buih
namun jika dikocok akan menimbulkan buih putih. Pada urin yang baru saja
dikeluarkan langsung membentuk buih putih maka urin tersebut mengandung protein.
Pada urin yang berbuih kuning maka urin tersebut mengandung bilirubin.

7. Bau
Urin normal beraroma seperti zat-zat yang sudah dimakan.

2.3 Pemeriksaan mikroskopis


Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen
urin. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan memutar (centrifuge) urin lalu
mengamati endapan urin di bawah mikroskop. Tes ini bertujuan untuk mengetahui unsur-
unsur organik (sel-sel : eritrosit, lekosit, epitel), silinder, silindroid, benang lendir; unsur
anorganik (kristal, garam amorf); elemen lain (bakteri, sel jamur, parasit Trichomonas sp.,
spermatozoa).
1. Eritrosit
Dalam keadaan normal, terdapat 0 – 2 sel eritrosit dalam urin. Jumlah eritrosit yang
meningkat menggambarkan adanya trauma atau perdarahan pada ginjal dan saluran
kemih, infeksi, tumor, batu ginjal.
2. Leukosit
Dalam keadaan normal, jumlah lekosit dalam urin adalah 0 – 4 sel. Peningkatan
jumlah lekosit menunjukkan adanya peradangan, infeksi atau tumor.

5
3. Epitel
Ini adalah sel yang menyusun permukaan dinding bagian dalam ginjal dan saluran
kemih. Sel-sel epitel hampir selalu ada dalam urine, apalagi yang berasal dari
kandung kemih (vesica urinary), urethra dan vagina.
4. Silinder (cast)
Ini adalah mukoprotein yang dinamakan protein Tam Horsfal yang terbentuk di
tubulus ginjal. Terdapat beberapa jenis silinder, yaitu : silinder hialin, silinder
granuler, silinder eritrosit, silinder lekosit, silinder epitel dan silinder lilin (wax cast).
Silinder hialin menunjukkan kepada iritasi atau kelainan yang ringan. Sedangkan
silinder-silinder yang lainnya menunjukkan kelainan atau kerusakan yang lebih berat
pada tubulus ginjal.
5. Kristal
Dalam keadaan fisiologik / normal, garam-garam yang dikeluarkan bersama urine
(misal oksalat, asam urat, fosfat, cystin) akan terkristalisasi (mengeras) dan sering
tidak dianggap sesuatu yang berarti. Pembentukan kristal atau garam amorf
dipengaruhi oleh jenis makanan, banyaknya makanan, kecepatan metabolisme dan
konsentrasi urin (tergantung banyak-sedikitnya minum).Yang perlu diwaspadai jika
kristal-kristal tersebut ternyata berpotensi terhadap pembentukan batu ginjal. Batu
terbentuk jika konsentrasi garam-garam tersebut melampaui keseimbangan kelarutan.
Butir-butir mengendap dalam saluran urine, mengeras dan terbentuk batu.
6. Benang lendir
Ini didapat pada iritasi permukaan selaput lendir saluran kemih.

2.4 Pemeriksaan kimia


a. Glukosa
Pada percobaan uji glukosa dilakukan dengan menambahkan 5 ml larutan benedict
kedalam tabung reaksi yang berisi 8 tetes urin dan kemudian dipanaskan. Hasilnya
adalah larutan yang semula berwarna biru menjadi biru kehijauan. Uji positif ditandai
dengan terbentuknya endapan merah bata. Benedict spesifik dengan gula pereduksi.
Sehingga apabila hasil uji glukosa positif akan menyebabkan warna merah bata
karena ada endapan yang terbentuk (Cu2O) dan urine tersebut mengandung gugus OH
bebas yang reaktif. Reaksinya adalah sebagai berikut:
(D-glukosa) + 2 CuO → (asam glukonat) + Cu2O
Berikut ini adalah skala uji pemeriksaan glukosa:

6
No. Warna Hasil
1. Biru negatif
2. Biru kehijauan Ada gula
3. Kuning kehijauan 1+
4. Coklat kehijauan 2+
5. Jingga-kuning 3+
6. Merah bata dengan endapan 4+

b. Protein
Untuk mengetahui adanya unsur protein dalam urin, pada percobaan ini
menggunakan reagen millon. Setelah 3 ml supernatan urine ditambah 5 tetes reagen
millon maka larutan yang awalnya berwarna putih keruh, tetap tidak terjadi
perubahan yang signifikan, yakni tetap berwarna putih keruh.
Reaksi negatif dari reagen millon karena tidak terbentuknya ikatan antara Hg dari
pereaksi millon dengan gugus hidroksifenil yang terdapat dalam urine, sehingga tidak
didapatkan warna merah. Reaksi pembentukan reagen millon yaitu:
HgCl2 + 2HNO3 → Hg(NO3)2 + Cl2
(merkuri klorida) (asam nitrat) (merkuri nitrat)

c. Pigmen Empedu
Untuk mengetahui adanya pigmen empedu, pada percobaan ini cukup dengan
mengocok tabung reaksi yang berisi urin dengan baik dan benar. Hasilnya terdapat
buih yang berwarna putih. Reaksi yang dihasilkan negatif jika buih yang dihasilkan
berwarna bening (tidak ada pigmen empedu). Reaksi positif ditandai dengan buih
berwarna kuning.

7
ANALISIS DIPSTICK

Dipstick adalah strip reagen berupa strip plastik tipis yang ditempeli kertas seluloid
yang mengandung bahan kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan diperiksa.
Urine Dip merupakan analisis kimia cepat untuk mendiagnosa berbagai penyakit. Uji
kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah : glukosa, protein, bilirubin,
urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit esterase.

PROSEDUR TES

Ambil hanya sebanyak strip yang diperlukan dari wadah dan segera tutup wadah.
Celupkan strip reagen sepenuhnya ke dalam urin selama dua detik. Hilangkan
kelebihan urine dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan
meletakkan strip di atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan
dengan membandingkannya dengan skala warna rujukan, yang biasanya ditempel
pada botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil
pembacaan mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau
jika pencahayaan kurang. Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih
dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual
Pemakaian reagen strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu harus

8
diperhatikan cara kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam leaflet.
Setiap habis mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera ditutup
kembali dengan rapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia. Setiap
strip harus diamati sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan
warna.

9
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis
infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal,
memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi
(hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses pembentukan
urine. Urin merupakan hasil metabolism tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200
ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat
tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya
terbentuk 1 ml urine per menit. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain
untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-
kelainan di pelbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal,
uterus dan lain-lain (dr.Wirawan, Tanpa Tahun).
Pada praktikum urinalisis ini, praktikan melakukan pengujian terhadap urin laki-laki.
Praktikum ini meliputi beberapa pengamatan, yaitu analisis fisik (warna urin, berat jenis, dan
pH), analisis kimia (uji glukosa, uji protein, dan pigmen empedu), serta analisis mikroskopis.
Bahan urin yang diuji adalah urine yang segar. Jadi, setelah dilakukan pengumpulan bahan
urin segera dilakukan pemeriksaan. Sesuai dengan teori oleh bahwa apabila terlalu lama akan
terjadi perubahan pada komposisi zat dan hasil yang keluar, sebagian di antaranya adalah
pertumbuhan bakteri meningkat, kadar glukosa menurun, pH menjadi alkalis, dekomposisi
silinder, lisisnya eritrosit, urin menjadi makin keruh, perubahan warna dan bau, dan nitrit
menjadi positif.
Urinalisis, istilah untuk tes urine umum, dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan
seseorang, mendiagnosis kondisi medis seseorang, atau untuk memonitor penyakit seseorang.
Tidak semua tes pada urine disebut urinalisis, misalnya tes kehamilan dan tes narkoba.
Berdasarkan hasil urinalisis, kita akan mengetahui apakah kondisi kita baik atau buruk secara
medis, biasanya dibuat berdasarkan tiga pemeriksaan, yaitu analisis fisik, analisis kimiawi,
dan analisis mikroskopis (Husada, 2010).

10
Sifat – sifat urine adalah:
1. Volume urin normal orang dewasa 600 – 25000 ml/ hari. Jumlah ini tergantung pada
masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/ fisik individu, produk akhir
nitrogen dan kopi, teh serta alkohol mempunyai efek diuretic.
2. Berat jenis berkisar antara 1,003 – 1,030
3. Reaksi urin biasanya asam dengan pH kurang dari 6(berkisar 4,7 – 8). Bila masukan
protein tinggi, urin menjadi asam sebab fosfor dan sulfat berlebihan dari hasil metabolism
protein.
4. Warna urin normal adalah kuning pucat atau ambar. Pigmen utamanya urokrom, sedikit
urobilin dan hematopofirin. Pada keadaan demam, urin berwarna kuning tua atau
kecoklatan. Pada penyakit hati pigmen empedu mewarnai urin menjadi hijau, coklat atau
kuning tua. Darah (hemoglobin) memberi warna seperti asap sampai merah pada urin.
5. Urin segar beraroma sesuai dengan zat – zat yang dimakannya.

Unsur – unsur normal dalam urine misalnya adalah:


1. Urea yang lebih dari 25 – 30 gram dalam urin.
2. Amonia, pada keadaan normal terdapat sedikit dalam urin segar
3. Kreatinin dan keratin, normalnya 20 – 26 mg/kg pada laki – laki, pada perempuan 14 –
22 mg/kg.
4. Asam urat, adalah hasil akhir terpenting oksidasi purine dalam tubuh
5. Asam amino, hanya sedikit dalam urin
6. Klorida, terutama diekskresikan sebagai natrium klorida
7. Sulfur, berasal dari protein yang mengandung sulfur dari makanan
8. Fosfat di urin adalah gabungan dari natrium dan kalium fosfat
9. Oksalat dalam urin rendah
10. Mineral, natrium, kalsium, kalium dan magnesium ada sedikit dalam urin
11. Vitamin, hormone, dan enzim ditemukan dalam urin dengan jumlah kecil.

Unsur – unsur abnormal dari urine:


1. Protein: proteinuria (albuminuria) yaitu adanya albumin dan globulin dalam urin
2. Glukosa: glukosaria tidak tetap dapat ditemukan setelah stress emosi, 15% kasus
glikosuria tidak karena diabetes.

11
3.2 Glukosa
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin
(kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai
ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya
berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan
kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk
menunjang diagnosis diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi
enzim glukosaoksidase (GOD), peroksidase (POD), dan zat warna.

3.3 Protein
Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh
tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10
mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai proteinuria.
Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan fisiologis.
Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan
protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-menstruasi dan mandi air panas
juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi. Protein terdiri atas fraksi albumin dan
globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit
ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi.
Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda
yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Dipsticks mendeteksi protein
dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif terhadap albumin tetapi kurang
sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan mukoprotei.

3.4 Bilirubin
Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urin adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena
tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke
dalam urin bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus
parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder),
CHF disertai ikterik.

3.5 Urobilinogen
Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area duodenum,
tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Sebagian besar

12
urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah, di sini
urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan ke
dalam urin oleh ginjal.
Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urin terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau
terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas
kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada :
destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab
apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar,
keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis
infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif,
kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit),
penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat.
Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan
oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil
urobilinogen.

3.6 Keasaman (pH)


Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran
pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status asam-
basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 – 8,0. pH bervariasi sepanjang hari, dipengaruhi oleh
konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan menjadi kurang basa
menjelang makan berikutnya. Urin pagi hari (bangun tidur) adalah yang lebih asam. Obat-
obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan asam-basa jug adapt mempengaruhi pH
urin.
Urin yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan
berubah menjadi basa. Urin basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai terhadap
albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urin, seperti eritrosit, silinder yang akan
mengalami lisis. pH urin yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya infeksi. Urin
dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat.
Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :
 pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih (Proteus
atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi alkalinisasi,
asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.

13
 pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik
(kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu
pengasaman urin dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.

3.7 Berat Jenis (Specific Gravity, SG)


Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur konsentrasi
zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai kemampuan ginjal
untuk memekatkan dan mengencerkan urin.
Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika
fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 – 1,025, sedangkan dengan
pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam bisa mencapai
≥1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah kehilangan
kemampuan untuk memekatkan urin.
BJ urin yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus.
Nokturia dengan ekskresi urin malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar glukosa
sangat tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan
tinggi secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul
rendah. Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut
non-glukosa.

3.8 Darah (Blood)


Pemeriksaan dengan carik celup akan memberi hasil positif baik untuk hematuria,
hemoglobinuria, maupun mioglobinuria. Prinsip tes carik celup ialah mendeteksi hemoglobin
dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor oksigen. Eritrosit yang utuh dipecah
menjadi hemoglobin dengan adanya aktivitas peroksidase. Hal ini memungkinkan hasil tidak
sesuai dengan metode mikroskopik sedimen urin.
Hemoglobinuria sejati terjadi bila hemoglobin bebas dalam urin yang disebabkan
karena danya hemolisis intravaskuler. Hemolisis dalam urin juga dapat terjadi karena urin
encer, pH alkalis, urin didiamkan lama dalam suhu kamar. Mioglobinuria terjadi bila
mioglobin dilepaskan ke dalam pembuluh darah akibat kerusakan otot, seperti otot jantung,
otot skeletal, juga sebagai akibat dari olah raga berlebihan, konvulsi. Mioglobin memiliki
berat molekul kecil sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresi ke dalam urin.

14
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
- Hasil positif palsu dapat terjadi bila urin tercemar deterjen yang mengandung hipoklorid
atau peroksida, bila terdapat bakteriuria yang mengandung peroksidase.
- Hasil negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung vitamin C dosis tinggi, pengawet
formaldehid, nitrit konsentrasi tinggi, protein konsentrasi tinggi, atau berat jenis sangat
tinggi. Urine dari wanita yang sedang menstruasi dapat memberikan hasil positif.

3.9 Keton
Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam β-hidroksibutirat) diproduksi untuk
menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam aseotasetat dan asam β-
hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting terutama
untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan untuk menggunakan keton
sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urin, dan apabila kemampuan ginjal untuk
mengekskresi keton telah melampaui batas, maka terjadi ketonemia. Benda keton yang
dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat.
Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya
diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan
gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes), sehingga tubuh
mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein, febris.

3.10 Nitrit
Di dalam urin orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolisme protein, yang
kemudian jika terdapat bakteri dalam jumlah yang signifikan dalam urin (Escherichia coli,
Enterobakter, Citrobacter, Klebsiella, Proteus) yang megandung enzim reduktase, akan
mereduksi nitrat menjadi nitrit. Hal ini terjadi bila urin telah berada dalam kandung kemih
minimal 4 jam. Hasil negative bukan berarti pasti tidak terdapat bakteriuria sebab tidak
semua jenis bakteri dapat membentuk nitrit, atau urin memang tidak mengandung nitrat, atau
urine berada dalam kandung kemih kurang dari 4 jam. Disamping itu, pada keadaan tertentu,
enzim bakteri telah mereduksi nitrat menjadi nitrit, namun kemudian nitrit berubah menjadi
nitrogen.

15
Spesimen terbaik untuk pemeriksaan nitrit adalah urine pagi dan diperiksa dalam
keadaan segar, sebab penundaan pemeriksaan akan mengakibatkan perkembang biakan
bakteri di luar saluran kemih, yang juga dapat menghasilkan nitrit.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
 Hasil positif palsu karena metabolisme bakteri in vitro apabila pemeriksaan tertunda,
urine merah oleh sebab apapun, pengaruh obat (fenazopiridin).
 Hasil negatif palsu terjadi karena diet vegetarian menghasilkan nitrat dalam jumlah cukup
banyak, terapi antibiotik mengubah metabolisme bakteri, organism penginfeksi mungkin
tidak mereduksi nitrat, kadar asam askorbat tinggi, urine tidak dalam kandung kemih
selama 4-6 jam, atau berat jenis urine tinggi.

3.11 Lekosit esterase


Lekosit netrofil mensekresi esterase yang dapat dideteksi secara kimiawi. Hasil tes
lekosit esterase positif mengindikasikan kehadiran sel-sel lekosit (granulosit), baik secara
utuh atau sebagai sel yang lisis. Limfosit tidak memiliki memiliki aktivitas esterase sehingga
tidak akan memberikan hasil positif. Hal ini memungkinkan hasil mikroskopik tidak sesuai
dengan hasil pemeriksaan carik celup.
Temuan laboratorium negatif palsu dapat terjadi bila kadar glukosa urine tinggi
(>500mg/dl), protein urine tinggi (>300mg/dl), berat jenis urine tinggi, kadar asam oksalat
tinggi, dan urine mengandung cephaloxin, cephalothin, tetrasiklin. Temuan positif palsu pada
penggunaan pengawet formaldehid. Urin basi dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.

16
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
- Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis
infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit
ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah
tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
- Pemeriksaan Urin rutin ada Pemeriksaan Makroskopis (warna, kekeruhan, Ph, bau),
Pemeriksaan Mikroskopis dan Pemeriksaan Kimiawi (glukosa, protein,pigmen
empedu).

17
DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Etu,.dkk, 2011, Pedoman Teknik Dasar Untuk LaboratoriumKesehatan,


Jakarta: EGC
Budiyanto.2013. Proses Pembentukan Urin pada Ginjal. Tersdia di :
http://budisma.web.id/materi/sma/biologi-kelas-xi/proses-pembentukan-urine-pada-
ginjal/ (Akses tanggal 23 Juli 2017)

18