Anda di halaman 1dari 10

1.

MANAJEMEN RISIKO PROYEK

a. Pengertian

Risiko proyek dalam manajemen risiko adalah efek

kumulasi dari peluang kejadian yang tidak pasti, yang

mempengaruhi sasaran dan tujuan proyek. Secara

ilmiah dapat didefinisikan sebagai kombinasi fungsi

dari frekuensi kejadian probabilitas dan konsekuensi

dari bahaya risiko yang terjadi.

Risiko = f (frekuensi kejadian, probabilitas,

konsekuensi)

b. Jenis-Jenis Resiko

 Risiko operasional = risiko yang berhubungan

dengan sistem organisasi, proses kerja, teknologi

dan SDM

 Risiko finansial = risiko yang berdampak pada

kinerja keuangan organisasi, spt fluktuasi mata

uang, tingkat suku bunga, kredit


 Hazard Risk = risiko berhubungan dengan

kecelakaan fisik, spt kejadian atau kerusakan yang

menimpa harta perusahaan dan adanya ancaman

perusahaan

 Strategic Risk = risiko yang berhubungan dengan

strategi perusahaan, politik, ekonomi, peraturan

dan perundangan, reputasi organisasi

kepemimpinan

2. Proses Perencanaan Manajemen Risiko Proyek

Proses manajemen resiko memberikan gambaran

kepada kita bahwa untuk mengelola resiko ada beberapa

tahapan yakni:

Perencanaan meliputi langkah memutuskan

bagaimana mendekati dan merencanakan kegiatan

manajemen resiko untuk sebuah proyek. Dengan

mempertimbangkan lingkup proyek, rencana manajemen

proyek, faktor lingkungan perusahaan, maka tim proyek


dapat mendiskusikan dan menganalisis aktivitas

manajemen resiko untuk proyek-proyek tertentu.

Untuk membuat perencanan manajemen resiko, ada

beberapa hal yang diperlukan yakni:

1. Project Charter, yakni dokumen yang dikeluarkan oleh

manajemen senior yang secara formal menyatakan

adanya suatu proyek. Dokumen ini memberi otorisasi

kepada manajer proyek untuk menggunakan

sumberdaya organisasi untuk melaksanakan aktivitas

proyek.

2. Kebijakan manajemen resiko,

3. Susunan peran dan tanggung jawab

4. Toleransi stakeholder terhadap resiko

5. Tamplate untuk rencana manajemen resiko organisasi

6. Work Breakdown Structure (WBS)


Output dari perencanaan manajemen resiko adalah Risk

Management Plan yang berisi:

 Metodologi yang menguraikan definisi alat,

pendekatan, sumber data yang mungkin digunakan

dalam manajemen resiko proyek tertentu

 Peran dan Tanggung Jawab yang menguraikan

tanggung jawab dan peran utama serta pendukung

berikut keanggotaan tim manajemen resiko untuk setiap

tindakan

 Budget yang berisi rencana anggaran untuk manajemen

resiko proyek

 Waktu yang berisi rencana waktu pelaksanaan proses

manajemen resiko di sepanjang siklus proyek

 Scoring dan Intepretasi yang menguraikan metode

skoring dan intepretasi yang sesuai tipe dan waktu

analisis resiko kualitatif maupun kuantitatif.


3. Identifikasi Resiko

Sebagai suatu rangkaian proses, identifikasi resiko

dimulai dengan memahami apa sebenarnya yang

disebut sebagai resiko. Berikutnya adalah pendefinisian

resiko yang mungkin mempengaruhi tingkat

keberhasilan proyek dan mendokumentasikan

karakteristik dari tiap-tiap resiko dengan melakukan

Hasil utama dari langkah ini adalah risk register.

Identifikasi resiko dapat dilakukan dengan analisis

sumber resiko dan analisis masalah Analisis sumber

resiko yaitu analisis resiko dengan melihat darimana

resiko berasal. Ada tiga sumber resiko yang sudah

banyak dikenal yakni Resiko internal yakni resiko yang

bersumber dari internal organisasi yang dapat

dikategorikan dalam non technical risk (manusia,

material, keuangan) dan technical risk (disain,

konstruksi dan operasi). Analisis masalah adalah


analisis resiko yang terkait dengan kekawatiran/ rasa

khawatir.

Untuk dapat mengidentifikasi resiko setidaknya

ada empat metode yang digunakan, yakni :

 Identifikasi resiko berdasarkan tujuan Yaitu

resiko diidentifikasi berdasarkan sejauh mana

suatu peristiwa dapat membahayakan pencapaian

tujuan secara perbagian atau secara keseluruhan

pekerjaan proyek.

 Identifikasi Resiko berdasarkan Skenario. Yakni

resiko diidentifikasi berdasarkan skenario yang

dibuat berdasarkan perkiraan terjadinya sebuah

peristiwa.

 Identifikasi resiko berdasarkan Taksonomi. Yakni

resiko dibreakdown berdasarkan sumber resiko

dengan menggunakan pengetahuan praktek yang

ada melalui daftar pertanyaan yang telah disusun


yang jawabannya akan menunjukkan resiko yang

ada.

 Common risk check. Yakni resiko yang sudah

biasa terjadi didaftar dan dilakukan pemilihan

mana resiko yang sesuai dengan proyek yang

sedang dikerjakan

4. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

a. Tujuan

Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

tercermin dalam Tujuan Penerapan SMK3 dalam Pasal

2:

 Meningkatkan efektifitas perlindungan

keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana,

terukur, terstruktur, dan terintegrasi


 Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan

penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur

manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat

pekerja/serikat buruh; serta

 Menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman,

dan efisien untuk mendorong produktivitas

Tujuan Keselamatan Kerja :

 Melindungi para pekerja dan orang lain di tempat

kerja.

 Menjamin agar setiap sumber produksi dapat

dipakai secara aman dan effisien.

 Menjamin proses produksi berjalan secara aman


b. Faktor Penunjang

Unsur – unsur Penunjang keamanan yang bersifat

material diantaranya sebagai berikut.

1. Baju kerja

2. Helm

3. Kaca mata

4. Sarung tangan

5. Sepatu

Unsur-unsur penunjang keamanan yang bersifat

nonmaterial adalah sebagai berikut.

1. Buku petunjuk penggunaan alat

2. Rambu-rambu dan isyarat bahaya.

3. Himbauan-himbauan

4. Petugas keamanan

c. Dasar Hukum

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) memiliki

landasan hukum yang patut dipatuhi oleh semua


pihak, baik pekerja, pengusaha atau pihak lain yang

terkait.

 Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang

keselamatan kerja.

 Pasal 23,Undang-undang No. 18/1999 tentang

jasa konstruksi.

 Pasal 86,Undang-undang No. 13 Tahun 2003

tentang ketenaga kerjaan dan Pasal 87 yang

mewajibkan setiap organisasi melaksanakan

Sistem Manajemen K3 .

 Permen PU No.09/PRT/M/2008 tentang

Pedoman Sistem Manajemen Keselamtaan dan

Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang

Pekerjaan Umum

 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.50

tahun 2012 tentang Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)