Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

TINJAUAN PERLINDUNGAN HUKUM PADA


KORBAN TERHADAP TINDAK PIDANA PENCUCIAN
UANG (MONEY LAUNDRY)

Disusun Guna memenuhi Tugas Mata Kuliah : Viktimologi


Dosen Pengampu :

Disusun Oleh :
ZAINUL ABIDIN
NIM. 032117692 E

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya yang berlimppah sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya dengan judul “Tinjauan
Perlindungan Hukum Pada Korban Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
(Money Laundry)”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi syarat guna memperoleh nilai tugas
Mata Kuliah Viktimologi. Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai
pengertian dari money laudering, tindak hukum atas kegiatan money laudering di
Indonesia, proses terjadinya money laundering, modus-modus yang biasa
digunakan dalam kegiatan money laundering, Tindakan hukum perlindungan bagi
korban money laundering, dan tindak pencegahan dan penanggulangan atas
adanya kegiatan money laundering.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta membantu penulis dalam penyusunan makalah ini dari awal
sampai akhir. Semoga Allah SWT. senantiasa meridhai segala urusan kita semua.
Amin.

Semarang, 23 Januari 2015

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sejak pemerintah mengeluarkan aturan dalam bidang ekonomi salah
satunya Undang Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas,maka sejak itu pula dunia perbankan mengalami perkembangan
yang pesat. Persyaratan yang mudah menyebabkan setiap orang bisa
mendirikan perbankan. Dampak dari aturan dalam bidang perbankan di
samping memberikan keuntungan/kebaikan terdapat pula dampak negatif
yaitu perkembangan kejahatan ekonomi khususnya kejahatan
perbankan,baik bank sebagai korban maupun bank sebagai pelaku.
Terdapat perbedaan penggunaan istilah misalnya kejahatan di bidang
perbankan,kejahatan perbankan, kejahatan terhadap perbankan dan tindak
pidana perbankan. Kejahatan perbankan bisa diartikan sebagai tindak pidana
di bidang perbankan yang dalam pengertian ini mencangkup segala
perbuatan yang melanggar hukum yang ada kaitannya dengan bisnis
perbankan. Dalam pengertian ini pula tercakup bank sebagai pelaku dan
sebagai korban . Terhadap istilah seperti ini,banyak orang yang tidak
sependapat.Sebagian orang berpendapat sebagai kejahatan di bidang
perbankan, kejahatan perbankan, kejahatan terhadap perbankan dan tindak
pidana perbankan.
Moch Anwar dalam bukunya “ Tindak Pidana bidang perbankan “
merumuskan tindak pidana perbankan sebagai segala jenis perbuatan
melangggar hukum yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan dalam
menjalankan usaha bank.1 Rumusan seperti ini menurut penulis kurang
komprehennsif,karena masih banyak kegiatan-kegiatan perbankan yang
tidak ter-cover. Oleh karena itu,hendaknya rumusan tindak pidana
perbankan harus luwes yaitu segala perbuatan yang bertentangan dengan
aturan perundang-undangan dan kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan

1
www.google.com/pengertian tindak pidana perbankan
dengan dunia perbankan. Tindak pidana di bidang perbankan adalah segala
jenis perbuatan melanggar hukum yang berhubungan dengan kegiatan
dalam menjalankan usaha bank, baik bank sebagai sasaran maupun bank
sebagai sarana. Sedangkan tindak pidana perbankan merupakan tindak
pidana yang dilakukan oleh bank.2
Kejahatan di bidang perbankan adalah kejahatan apapun yang
menyangkut perbankan.Misalnya pencucian uang yang selanjutnya disebut
money laundering, seseorang merampok bank adalah kejahatan di bidang
perbankan, jadi pengertiannya sangat luas. Sedangkan kejahatan perbankan
adalah bentuk perbuatan yang telah diciptakan oleh undang-undang
perbankan yang merupakan larangan dan keharusan,misalnya larangan
mendirikan bank gelap dan pembocoran rahasia bank.
Kegiatan pencucian uang hampir selalu melibatkan perbankan
karena adanya globalisasi perbankan sehingga melalui sistem pembayaran
terutama yang bersifat elektronik (electronic funds transfer), dana hasil
kejahatan yang pada umumnya dalam jumlah besar akan mengalir atau
bahkan bergerak melampaui batas negara dengan memanfaatkan faktor
rahasia bank yang umumnya dijunjung tinggi oleh perbankan. Demikian
pula tidak hanya aspek hukum yang terkait dari kejahatan ini, tetapi juga
aspek non hukum lainnya seperti ekonomi, politik, dan sosial budaya
Berbagai kejahatan, baik yang dilakukan perseorangan maupun
perusahaan dalam batas wilayah negara maupun melintasi batas wilayah
negara lain semakin meningkat. Kejahatan dimaksud berupa perdagangan
minuman keras, judi, perdagangan gelap senjata, korupsi, penyelundupan.
Agar tidak mudah dilacak oleh penegak hukum mengenai asal-usul dana
kejahatan tsb, maka pelakunya tidak langsung menggunakan dana dimaksud
tapi diupayakan untuk menyamarkan/menyembunyikan asal usul dana
tersebut dengan cara tradisional, misalnya melalui kasino, pacuan kuda
atau memasukkan dana tersebut ke dalam sistem keuangan atau perbankan.

2
www.google.com/perbedaan tindak pidana di bidang perbankan dengan tindak pidana
perbankan/rizal saputra
Upaya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul dana yang
diperoleh dari tindak pidana dimaksud dikenal dengan money laundering
Saat ini pelaku tindak kejahatan mempunyai banyak pilihan
mengenai di mana dan bagaimana mereka menginginkan uang hasil
kejahatan menjadi kelihatan ‘bersih’ dan ‘sah menurut hukum’.
Perkembangan teknologi perbankan internasional yang telah
memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan perbankan lokal/regional
menjadi suatu lembaga keuangan global telah memberikan kesempatan
kepada pelaku money laundering untuk memanfaatkan jaringan layanan
tersebut yang berdampak uang hasil transaksi ilegal menjadi legal
dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. Saat ini kegiatan
pencucian uang telah melewati batas juridiksi yang menawarkan tingkat
kerahasiaan yang tinggi atau menggunakan bermacam mekanisme keuangan
dimana uang dapat ‘bergerak’ melalui bank, money transmitters, kegiatan
usaha bahkan dapat dikirim ke luar negeri sehingga menjadi clean-
laundered money.
Kejahatan money laundering tidak hanya merupakan permasalahan
di bidang penegakan hukum, namun juga menyangkut ancaman keamanan
nasional dan internasional suatu negar. Sehubungan dengan hal tersebut
upaya untuk mencegah dan memberantas praktik pemutihan uang telah
menjadi perhatian internasional yang antara lain dilakukan dengan
melakukan kerjasama bilateral maupun multilateral

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tindak pencucian uang menurut UU 25 tahun 2003 ?
2. Apa upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pencucian uang
menurut UU 25 tahun 2003 ?
3. Serta bagaiman tindakan hukum perlindungan pada korban terhadap
tindak pidana pencucian uang ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG


1. Pengertian tindak pidana pencucian uang
Istilah pencucian uang atau money laudering telah di kenal sejak
tahun 1930 di Amerika Serikat,yaitu ketika Mafia membeli perusahaan
yang sah dan resmi sebagai salah satu strateginya .Investasi terbesar
adalah perusahaan pencucian pakaian atau Laundromat yang ketika itu
terkenal di Amerika Serikat ,yaitu ketika Mafia membeli perusahaan
pencucian pakaian ini perkembang maju,dan berbagai perolehan uang
hasil kejahatan seperti dari cabang usaha lainnya ditanamkan ke
perusahaan pencucian pakaian ini,seperti uang hasil minuman keras
illegal,hasil perjudian dan hasil usaha pelacuran. 3 Pada tahun 1980-an
uang hasil kejahatan semakin berkembang,dengan berkembangnya
bisnis haram seperti perdagangan narkotik dan obat bius yang mencapai
miliarab rupiah sehingga kemudian muncul istilah narco dollar,yang
berasal dari uang haram perdagangan narkotika.4
Kejahatan pencucian uang ( money laundering ) belakangan ini
makin mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan, yang bukan
saja dalam skala nasional, tetapi juga meregional dan mengglobal
melalui kerja sama antar negara-negara. Gerakan ini terpicu oleh
kenyataan di mana kini semakin maraknya kejahatan money laundering
dari waktu ke waktu, sementara kebenyakan negara belum menetapkan
sistem hukumnya untuk memerangi atau menetapkannya sebagai
kejahatan yang harus diberantas. Sebegitu besarnya dampak negatif
yang ditimbulkannya terhadap perekonomian suatu negara, sehingga
negara-negara di dunia dan organisasi internasional merasa tergugah dan
termotivasi untuk menarik perhatian yang lebih serius terhadap
pencegahan dan pemberantasan kejahatan pencucian uang. Hal ini
3
Adrian Sutedi,Hukum Perbankan,Sinar Grafika,Jakarta.2006.hal.17
4
Ibid hal.18
didorong karena kejahatan money laundering mempengaruhi sistem
perekonomian khususnya menimbilkan dampak negatif baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Yang dimaksud dengan pencucian uang atau money laundering di
Indonesia, menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang memberikan definisi pencucian uang
dalam Pasal 1 angka 1 yang berbunyi sebagai berikut:
“Pencucian Uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer,
membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan,
menitipkan, membawa keluar negeri, menukarkan, atau perbuatan
lainnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut dicurigai
merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk
menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan
sehinnga seolah-olah menjadi Harta Kekayaan yang sah.”
Konvensi PBB Tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Perdagangan Illegal Narkotika, Obat- obatan Berbahaya dan
Psikotropika Tahun 1988 (the United Nations Convention Against Illicit
Trafic in Narcotics, Drugs and Psychotropic Substances of 1988)
mengartikan money laundering adalah “The convertion or transfer of
property, knowing that such property is derived from any serious
(indictable) offence or offences, or from act of participation in such
offence or offences, for the purpose of concealing or disguising the
illicit of the property or of assisting any person who is involved in the
commission of such an offence or offences to evade the legal
consequences of his action; or The concealment or disguise of the true
nature, source, location, disposition, movement, rights with respect to,
or ownership of property, knowing that such property is derived from a
serious (indictable) offence or offences or from an act of participation in
such an offence or offences.“( Konversi atau pengalihan harta,
mengetahui bahwa kekayaan tersebut berasal dari serius (dpt dituduh)
pelanggaran atau pelanggaran, atau dari tindakan partisipasi dalam
tindak pidana atau pelanggaran, untuk tujuan menyembunyikan atau
menyamarkan kekayaan yang tidak sah atau membantu apapun orang
yang terlibat dalam komisi seperti suatu pelanggaran atau pelanggaran
untuk menghindari konsekuensi hukum dari tindakannya, atau
penyembunyian atau penyamaran yang sifat benar, sumber, lokasi, sifat,
gerakan, hak-hak yang berkaitan dengan, atau kepemilikan properti,
mengetahui bahwa kekayaan tersebut berasal dari seorang yang serius
(dpt dituduh) pelanggaran atau pelanggaran atau dari suatu tindakan
seperti partisipasi dalam suatu tindak pidana atau pelanggaran.)

2. Proses Pencucian uang ( Money Laundryng )


Namun demikian, non-bank financial institution juga merupakan
target yang tak kalah menarik bagi para pelaku pencucian uang.
Kenyataan menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir para
pelaku pencucian uang telah membuat langkah terobosan dengan
mempergunakan lembaga keuangan non bank sebagai sarana pencucian
uang. Placement merupakan metode yang paling banyak digunakan oleh
para pelaku dalam hubungan dengan lembaga keuangan non bank.
Perusahaan asuransi misalnya dapat dimanfaatkan melalui pembelian
asuransi jiwa yang merupakan suatu tahapan melakukan placement dan
sekaligus memuat unsur layering dan integration. Pengiriman uang
melalui perusahaan pengiriman uang (money transfer), placement pada
lembaga pembiayaan dan venture capital serta pelunasan pinjaman pada
perusahaan sewa guna usaha (leasing) merupakan modus-modus yang
dapat digunakan oleh para pelaku pencucian uang dengan menggunakan
non-bank financial institution.
Secara sederhana, proses pencucian uang dapat dikelompokkan
pada tiga kegiatan, yakni placement, layering dan integration
a. Tahap placement
Tahap ini merupakan menempatakan dana yang dihasilkan dari suatu
aktivitas kriminal,misalnya dengan mendepositkan uang kotor
tersebut ke dalam sistem keuangan.sejumlah uang yang ditempatkan
dalam suatu bank,akan kemudian uang tersebut masuk ke dalam
system keuangan negara yang bersangkutan.Jadi misalnya melalui
penyeludupan,ada penempatan dari uang tunai dari suatu negara ke
negara lain,menggabungkan antara uang tunai yang bersifat illegal
itu dengan uang yang diperoleh secara legal.Variasi lain dengan
menempatakan uang giral ke dalam deposito bank,ke dalam
saham,mengkonversi dan menstranfer ke dalam valuta asing. Bentuk
kegiatan ini antara lain sebagai berikut :
1. Menempatkan dana pada bank.
2. Menyetorkan uang pada bank pada bank sebagai pembayaran
kredit untuk mengaburkan audit trail.
3. Menyeludupkan uang tunai dari suatu negara ke negara lain.
4. Membiayai suatu usaha yang seolah-olah sah sehingga
mengubah kas menjadi kredit pembiayaan.
5. Membeli barang-barang berharga yang bernilai tinggi untuk
keperluan pribadi,membelikan hadiah yang nilainya tinggi /
mahal sebagai penghargaan / hadiah kepada pihak lain yang
pembayarannya dilakukan melalui bank atau perusahaaan jasa
keuangan lain.
b. Tahap layering
Tahap kedua ini ialah dengan cara pelapisan(layering). Berbagai cara
dapat dilakukan melalui tahap pelapisan ini yang tujuannya
menghilangkan jejak,baik cirri-ciri aslinya atau asal usul dari uang
tersebut.Misalnya melakukan transfer dana dari beberapa rekening
ke lokasi lainnya atau dari suatu negara ke negara lain dan dapat
dilakukan beberapa kali,memecah-mecah jumlah dananya di bank
dengan maksud mengaburkan asal usulnya,menstranfer dalam
bentuk valuta asing,membeli saham,melakukan transaksi
derivative,dan lain-lain.Seringkali pula terjadi bahwa si penyimpan
dana tersebut bukan justru si pemilik sebenarnya dan si penyimpan
dana itu sudah merupakan lapis-lapis yang jauh,karena sudah
diupayakan berkali-kali simpan menyimpan sebelumnya.
Bisa juga cara ini di lakukan misalnya si pemilik uang kotor
meminta kredit di bank dan dengan uang kotornya dipakai untuk
membiayai suatu kegiatan usaha secara legal.Dengan melakukan
cara seperti ini,maka kelihatannya bahwa kegiatan usahanya yang
secara legal tersebut tidak merupakan hasil dari uang kotor itu
melainkan dari perolehan kredit bank tadi.Bentuk kegiatan ini antara
lain ;
1. Transfer dana dari suatu bank ke bank lain
2. Penggunaan simpanan tunai sebagai agunan untuk mendukung
transaksi yang sah
3. Memindahkan uang tunai lintas batas Negara melalui jaringan
kegiatan usaha yang sah.
c. Tahap integration
Tahap ini merupakan tahap menyatukan kembali uang-uang kotor
tersebut setelah melalui tahap-tahap placement atau layering di
atas,yang untuk selanjutnya uang tersebut dipergunakan dalam
berbagai kegiatan-kegiatan legal.Dengan cara ini akan tampak
bahwa aktivitas yang dilakukan sekarang tidak berkaitan dengan
kegiatan-kegiatan illegal sebelumnya,dan tahap inilah kemudian
uang kotor itu tercuci.

B. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA


PENCUCIAN UANG
1. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang Menurut Undang- Undang no.25 tahun 2003
Guna mencegah terjadinya tindak pidana pencucian uang maka
menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang yang selanjutnya disebut TPPU di bentuklah Pusat
Pelaporan dan Analisis Keuangan yang selanjutnya disebut PPATK.
Lembaga ini merupakan lembaga independen yang memiliki tugas dan
wewenang untuk melakukan pemeriksaan atas tindakan-tindakan yang
dicurigai berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) atau
The Indonesian Financial Transaction Reports and Analysis Centre
(INTRAC) dibentuk dengan kewenangan untuk melaksanakan kebijakan
pencegahan dan pemberantasan pencucian uang sekaligus membangun
rezim anti pencucian uang di Indonesia.5
Dengan ini maka pemberantasan tindak pidana sudah beralih
orientasinya dari “menindak pelakunya” kearah menyita “hasil tindak
pidana”; Dengan dinyatakan money laundering sebagai tindak pidana
dan dengan adanya sistem pelaporan transaksi dalam jumlah tertentu dan
transaksi yang mencurigakan, maka hal ini lebih memudahkan bagi para
penegak hukum untuk menyelidiki kasus pidana sampai kepada tokoh-
tokoh yang ada dibelakangnya.6
Menurut Pasal 26 Undang-Undang No.25 Tahun 2003,fungsi Pusat
Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan yang selanjutnya disebut PPATK
mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Mengumpulkan, menyimpan, menganalisis , mengevaluasi,informasi
yang diperoleh PPATK sesuai dengan dengan Undang – Undang ini;
b. Memantau catatan dalam buku daftar pengecualian yang dibuat oleh
Penyedia Jasa keuangan;
c. Membuat pedoman mengenai tata cara pelaporan transaksi keuangan
mencurigakan;
d. memberikan nasihat dan bantuan kepada instansi yang berwenang
tentang informasi yang diperoleh PPATK sesuai dengan ketentuan
dalam Undang – Undang ini;
e. membuat pedoman dan publikasi kepada Penyedia Jasa keuangan
tentang kewajibannya yang ditentukannya dalam Undang – Undang
ini atau dengan peraturan perundang- undangan lain,dan membantu
dalam mendeteksi perilaku nasabah yang mencurigakan;

5
www.google.com/Pengertian PPATK/yeti ganarsih
6
www.kompas.com
f. memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya –
upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian
uang;
g. melaporkan hasil analisis transaksi keuangan yang berindikasi tindak
pidana pencucian uang kepada Kepolisian dan Kejaksaan;
h. membuat dan memberikan laporan mengenai hasil analisis transaksi
keuangan dan kegiatan lainnya secara berkala 6 ( enam ) bulan sekali
kepada Presiden,Dewan perwakilan rakyat,lembaga yang berwenang
melakukan pengawasan terhadap Penyedia Jasa Keuangan;
i. memberikan informasi kepada public tentang kinerja kelembagaan
sepanjang pemberian informasi tersebut tidak bertentangan dengan
Undang – undang ini.
Wewenang PPATK, yaitu: Meminta dan menerima laporan dari
Penyedia Jasa Keuangan; Meminta informasi mengenai perkembangan
penyidikan atau penuntutan terhadap tindak pidana pencucian uang yang
telah dilaporkan oleh penyidik atau penuntut umum; Melakukan audit
terhadap Penyedia Jasa Keuangan mengenai kepatuhan, kewajiban
sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang dan terhadap pedoman
pelaporan mengenai transaksi keuangan; Memberikan pengecualian
kewajiban pelaporanmengenai transaksi keuangan yang dilakukan secara
tunai. Pesatnya kemajuan teknologi dan arus globalisasi di sektor
perbankan membuat industri ini menjadi lahan empuk bagi para pelaku
kejahatan pencucian uang. Pelaku kejahatan dapat memanfaatkan bank
untuk kegiatan pencucian uang.
Sesuai Pasal 26 Undang – Undang TPPU, tugas PPATK antara lain:
mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi
yang diperoleh, membuat pedoman mengenai tata cara pelaporan
transaksi keuangan yang mencurigakan, memberikan nasihat dan
bantuan kepada instansi lain yang berwenang mengenai informasi yang
diperoleh sesaui ketentuan Undang - Undang, memberikan rekomendasi
kepada Pemerintah sehubungan dengan pencegahan dan pemberantasan
tindak pidana pencucian uang, melaporkan hasil analisis terhadap
transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang
kepada Kepolisian untuk kepentingan penyidikan dan Kejaksaan untuk
kepentingan penuntutan dan pengawasan, membuat dan menyampaikan
laporan mengenai analisis transaksi keuangan dan kegiatan lainnya
secara berkala kepada Presiden, DPR dan lembaga yang berwenang
melakukan pengawasan bagi Penyedia Jasa Keuangan yang selanjutnya
disebut PJK.
Dari tugas dan kewenangan yang diamanatkan oleh Undang –
Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, maka PPATK setidaknya
memiliki 5 fungsi yaitu intelijen keuangan, regulator, koordinator,
mediator dan pembantuan dalam penegakan hukum sebagai berikut :
a. PPATK sebagai intelijen keuangan.
Sebagai intelijen keuangan, PPATK melakukan kegiatan :
1) Pengumpulan data (Data Collection) yaitu pengumpulan
berbagai informasi dari segala sumber baik dari aparat penegak
hukum, PJK maupun individual, seperti : laporan yang
diwajibkan oleh UU TPPU kepada PJK dan Ditjend Bea dan
Cukai; informasi dari regulator; hasil penyelidikan dan
penyidikan pihak Kepolisian; informasi dari kantor imigrasi; dan
hasil permintaan informasi dari pihak lain.
2) Evaluasi data (data evaluation) yaitu melakukan penyaringan
data atau informasi yang diterimaagar proses analisis dapat
dilakukan dengan lebih baik dan pada gilirannya dapat
dihasilkan suatu kesimpulan yang relatif tepat.
3) Penyimpanan (collation) yaitu kegiatan penyimpanan secara
aman dan rapi terhadap informasi benar-benar relevan melalui
system peng-index-an dan cross referenced.
4) Analysis adalah proses penggabungan dan pengkajian atas
semua informasi yang dimiliki sehingga nantinya dapat
membentuk suatu pola atau arti tersendiri. Berdasarkan pola
tersebut dapat dibuat suatu hipotesa atau beberapa hipotesa yang
tentunya masih perlu dilakukan pengujian atas hipotesa tersebut.
Dalam melakukan kegiatan analisis ini, dapat digunakan suatu
analytical tools & techniques seperti link charting, event
charting, flow charting, activity charting, dan data correlation
5) Dissemination of Intelligence yaitu penyampaian hasil analisis
(kesimpulan / ramalan / perkiraan) yang didapat dari ke-empat
proses di atas kepada pihak-pihak yang membutuhkan seperti
aparat penegak hukum, regulator atau pihak lainnya.
Penyampaian informasi intelijen kepada pihak lain harus
memperhatikan ketentuan “3 C’s” yaitu clear, concise and clock.
Berkaitan dengan tugas ini, PPATK telah menyerahkan 411
kasus ke penegak hukum (406 kasus ke Polri, 5 kasus ke
Kejaksaan).
6) Re-evaluation adalah proses review yang dilakukan secara
berkesinambungan atas seluruh proses intelijen yang dilakukan.
Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi setiap
kelemahan/kekurangan yang ada dalam setiap tahapan proses
intelijen. Dengan demikian kelemahan yang ada tersebut dapat
segera ditanggulangi.
b. PPATK dalam kewenangan mengeluarkan pengaturan.untuk
membantu PJK dalam mengidentifikasi transaksi keuangan
mencurigakan dan melaporkannya kepada PPATK, PPATK telah
menerbitkan Keputusan Kepala PPATK yang berisi pedoman bagi
penyedia jasa keuangan. No. 2/4/KEP.PPATK/2003 Tentang Pedoman
Identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi Penyedia Jasa
Keuangan, tanggal 15 Oktober 2003. Pedoman ini berlaku bagi PJK
berbentuk bank umum, Bank Perkreditan Rakyat, perusahaan efek,
pengelola reksa dana, bank kustodian, perusahaan perasuransian,
dana pensiun, dan lembaga pembiayaan. Pedoman ini dikeluarkan
dalam rangka memberikan pemahaman dan acuan kepada PJK
tentang bagaimana melakukan identifikasi transaksi keuangan
mencurigakan dengan tepat, untuk menghasilkan laporan LTKM yang
berkualitas.
PPATK juga telah mengeluarkan Keputusan Kepala PPATK No.
2/6/KEP.PPATK/2003 Tentang Pedoman Tata Cara Pelaporan
Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi Penyedia Jasa Keuangan,
tanggal 15 Oktober 2003. Pedoman ini berlaku bagi PJK bank umum,
BPR, perusahaan efek, pengelola reksa dana, bank kustodian,
perusahaan perasuransian, dana pensiun, dan lembaga pembiayaan.
Pedoman ini diperlukan agar penyampaian laporan transaksi
keuangan mencurigakan oleh PJK dapat dilakukan secara tepat, benar
dan dapat dipertanggungjawabkan, mengingat laporan tersebut
merupakan salah satu sumber informasi utama yang diperlukan dalam
pelaksanaan tugas PPATK.
c. Mediator antara sektor lembaga keuangan dan penegakan hukum.
d. Pembantuan (assistancy) dalam penegakan hukum
e. Pengawasan kepatuhan
Dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan pelaporan,
sejak Juli 2005 sd. Juni 2006 telah dilakukan audit kepada 28 kantor
bank di beberapa daerah seperti Jakarta, Surabaya, Lampung,
Mataram, Kupang, Medan, Palembang, Manado, Padang, Makasar,
Ambon, Balikpapan, dan Pontianak. Audit juga dilakukan terhadap 23
Penyedia Jasa Keuangan berbentuk non-bank.
2. Penegakan hukum tindak pidana pencucian uang
Undang – Undang tindak pidana pecucian uang menetapkan
perbuatan-perbuatan yang tergolong tindak pidana pencucian uang
adalah
a. Perbuatan yang dengan sengaja menempatkan, mentransfer,
membayarkan atau membelanjakan, menghibahkan atau
menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan
atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang diketahui atau patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana, dengan maksud
menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
(Pasal 3 ayat 1)
b. Perbuatan percobaan, pembantuan atau permufakatan jahat untuk
melakukan tindak pidana pencucian uang (Pasal 3 ayat 2).
c. Perbuatan menerima atau menguasai penempatan, pentransferan,
pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran harta
kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana (Pasal 6 ayat 1).Tindak pidana lainnya yang berkaitan
dengan pencucian uang dengan pemberian sanksi pidana dalam UU
TPPU adalah :
1. Penyedia Jasa Keuangan yang dengan sengaja tidak
menyampaikan laporan yang diwajibkan dipidana dengan pidana
denda paling sedikit Rp250 juta dan paling banyak Rp1.000 juta
(Pasal 8).
2. Setiap orang yang tidak melaporkan pembawaan uang tunai
dalam rupiah sejumlah Rp100 juta atau lebih atau mata uang
asing yang nilainya setara yang dibawa ke dalam atau ke luar
wilayah negara Republik Indonesia (Pasal 9).
3. PPATK, penyidik, saksi, penuntut umum, hakim atau orang lain
yang terkait dengan perkara tindak pidana pencucian uang yang
sedang diperiksa, melanggar larangan menyebut identitas pelapor
(Pasal 10).
4. Direksi, pejabat, atau pegawai penyedia jasa keuangan yang
memberitahukan kepada pengguna jasa keuangan atau orang lain
baik langsung atau tidak langsung mengenai laporan transaksi
keuangan mencurigakan yang sedang disusun atau telah
disampaikan kepada PPATK, dipidana penjara paling singkat 3
tahun dan paling lama 5 tahun serta denda paling sedikit Rp100
juta dan paling banyak Rp1.000 juta (Pasal 17A)
5. Pejabat atau pegawai PPATK atau penyelidik/penyidik, penuntut
umum, hakim dan siapapun juga yang membocorkan informasi
yang diwajibkan oleh UU TPPU karena melaksanakan tugasnya,
apabila sengaja dipidana penjaran 5 sampai dengan 15 tahun dan
jika tidak sengaja dipidana penjara 1 sampai dengan 3 tahun
(Pasal 10A).

C. Perlindungan Saksi & Korban Dihubungkan Dengan Perlindungan


Terhadap Pelapor & Saksi Tindak Pidana Pencucian Uang
Undang – Undang tindak pidana pencucian uang telah mengatur
adanya perlindungan bagi perusahaan jasa keuangan.perlindungan tersebut
adalah :
1) Perusahaan jasa keuangan tidak terkena sanksi rahasia bank (Pasal 47
ayat 2 UU Perbankan) dalam hal :
a. Melaksanaan kewajiban pelaporan kepada PPATK sebagaimana
diatur dalam Pasal 13 (Pasal 14)
b. Memberikan informasi dan segala keterangan kepada PPATK dlm
rangka audit (Pasal 27 ayat 3)
c. Memberikan keterangan rahasia bank kepada penyidik, penuntut
umum dan hakim (Pasal 33 ayat 2)
2) Perusahaan Jasa Keuangan, pejabat, serta pegawainya tidak dapat
dituntut baik secara perdata dan pidana atas pelaksanaan kewajiban
pelaporan (Pasal 15 dan Pasal 43)
3) Pihak pelapor diberikan perlindungan khusus oleh negara dari
kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa, dan atau
hartanya termasuk keluarganya (Pasal 40 ayat 1)
4) Dalam praktek, perlindungan bisa berasal dari Perusahaan Jasa
Keuangan itu sendiri terkait dengan pembocoran informasi atas
laporan transaksi keuangan mencurigakan yang sedang disusun atau
sudah dilaporkan kepada PPATK ( Pasal 17A). Di samping itu, untuk
memberikan perlindungan (back up) sehingga nasabah terlapor tidak
mengetahui bahwa transaksinya telah dilaporkan kepada PPATK
adalah terdapat ketentuan bahwa pejabat atau pegawai PPATK,
Penyidik, Penuntut Umum dan Hakim wajib merahasiakan dokumen
dan keterangan yang diperoleh (Pasal 10A ayat 1), sumber keterangan
dan laporan transaksi keuangan wajib dirahasiakan dalam persidangan
(Pasal 10 A ayat 2) dan kewajiban bagi hakim untuk mengingatkan
kepada semua pihak agar tidak mengungkap identitas pelapor (Pasal
41). Lebih dari itu, perlindungan juga bisa muncul karena proses
penegakan hokum pencucian itu sendiri, yaitu bahwa laporan transaksi
keuangan yang disampaikan perusahaan jasa keuangan, oleh PPATK
tidak diteruskan kepada siapapun, Berita Acara pemeriksaan oleh
penyidik atas dugaan tindak pidana pencucian uang atas dasar temuan
penyidik yang bersangkutan (bukan atas dasar hasil analisis PPATK
atau laporan perusahaan jasa keuangan), dan pada umumnya, kasus
pencucian uang melibatkan beberapa perusahaan jasa keuangan dan
lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri
Untuk lebih menguatkan upaya perlindungan di atas, Kapolri telah
mengeluarkan peraturan pelaksanaannya yaitu Peraturan Kapolri No.Pol.:
17 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pemberian Perlindungan Khusus
Terhadap Pelapor dan Saksi Dalam TPPU. Dalam ketentuan ini, antara lain
diatur bahwa pemberi Perlindungan Khusus adalah Aparat Kepolisian
Negara Republik Indonesia, sedangkan pemohon/penerima Perlindungan
Khusus : Pelapor, Saksi, PPATK, Penyidik, Penuntut Umum dan Hakim.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa : Pelapor adalah : (a) Reporting
Parties/Pihak Pelapor/PJK dan (b) setiap orang yang melaporkan dugaan
terjadinya TPPU; saksi adalah orang yg memberi keterangan dalam
penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang perkara TPPU yg didengar,
dilihat dan atau dialami sendiri; dan Keluarga adalah keluarga inti
(suami/istri dan anak dari pelapor dan saksi). Sedangka yang dilindungi
adalah : keamanan pribadi dari ancaman fisik atau mental; harta benda;
perahasiaan dan penyamaran identitas; dan pemberian keterangan tanpa
bertatap muka (konfrontasi) dengan tersangka atau terdakwa.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pencucian uang atau money laundry adalah perbuatan menempatkan,
mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan,
menyumbangkan, menitipkan, membawa keluar negeri, menukarkan
atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan sehingga
seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah.
2. Guna mencegah terjadinya tindak pidana pencucian uang maka menurut
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
yang selanjutnya disebut TPPU di bentuklah Pusat Pelaporan dan
Analisis Keuangan yang selanjutnya disebut PPATK. Lembaga ini
merupakan lembaga independen yang memiliki tugas dan wewenang
untuk melakukan pemeriksaan atas tindakan-tindakan yang dicurigai
berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang.

B. Saran
1. Upaya pencegahan dilakukan baik di tiap negara ( secara domestik )
maupun secara internasional. Namun inti dari langkah pencegahan baik
secara domestik dan internasional adalah sama, yaitu memperketat aliran
dana yang masuk maupun keluar dari suatu negara. Seperti yang
dilakukan bank yang mulai memperketat asal usul dana yang akan di
simpan oleh nasabah. Selain itu, dengan adanya United Nations
Convention AgainstIllicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic
Substances atau yang lebih dikenal UN Drugs Convention, diharapkan
dapat meningkatkan kerjasama antar negara dan meningkatkan
komitmen untuk memberantas money laundry.
2. Upaya untuk mencegah terjadinya pencucian uang di Indonesia,
dibutuhkan partisipasi dan dukungan masyarakat. Sekalipun ada
ketentuan tentang anti pencucian uang, tidak ada yang perlu
dikhawatirkan untuk menyimpan uang di bank. Jika uang Anda bersih,
kenapa harus risih?
DAFTAR PUSTAKA

Adrian Sutedi,Hukum Perbankan,Sinar Grafika, Jakarta. 2006.


Henry Campbell Black, Black's Law Dictionary (Sixth Edition), St. Paul Minn.
West
Undang - Undang No.1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang - Undang Hukum
Pidana;
Undang - Undang No.15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang ;
Undang - Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan ;
Undang – Undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
Undang – Undang No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
www.google.com/pengertian tindak pidana perbankan
www.google.com/perbedaan tindak pidana di bidang perbankan dengan tindak
pidana perbankan/rizal saputra/
Publishing Co., 1990, www.google.com/Pengertian PPATK/yeti ganarsih/17 juli
2010
www.kompas.com