Anda di halaman 1dari 14

Makalah

Struktur dan Fungsi Biomolekul

Hormon Derivat Asam Amino

Nama Dosen : Dr. Muktinigsih Nurjayadi, M. Si

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Biokimia

Disusun Oleh :

Farisa Riyani (3315160055)

Siti Fadilawati (3315160151)

Wahdiyati Laisa Ajeng Pratiwi (3315160416)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Hormon Derivat Asam
Amino ini dengan baik. Tidak lupa pula pada dosen kami yang selalu membimbing kami dalam
proses pembuatan makalah ini sehingga kami dapat menyelesaikannya tepat waktu.

Tujuan pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas, bertujuan pula untuk
dijadikan bahan referensi agar materi Hormon Derivat Asam Amino Struktur dan Fungsi
Biomolekul dapat mudah dipahami dengan baik.

Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang dapat
membangun dan membuat makalah ini menjadi lebih baik sangat dinantikan oleh penulis. Kritik
dan saran dapat langsung disampaikan kepada penulis.

Jakarta, Januari 2019

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii

BAB I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................. 1

1.3 Tujuan .................................................................................................................................. 1

BAB II : Pembahasan

2.2 Pengertian Hormon ........................................................................................................... 3


2.3 Klasifikasi Hormon ........................................................................................................... 3
2.3 Hormon Derivat Asam Amino .......................................................................................... 4
2.4 Mekanisme Kerja Hormon ................................................................................................ 4
2.5 Hormon Adrenalin dan Noradrenalin ................................................................................ 7
2.6 Mekanisme Hormon Adrenalin dan Noradrenalin ............................................................ 7
2.7 Peranan Hormon Adrenalin ............................................................................................... 8
2.8 Hormon Tiroid ................................................................................................................... 9
2.9 Mekanisme Kerja Hormon Tiroid ..................................................................................... 9
2.10 Sintesis Hormon Tiroid ................................................................................................... 10
2.11 Penyakit Yang Disebabkan Oleh Hormon Tiroid…………............................................14

BAB III : Penutup

3.1 Kesimpulan ......................................................................................................................... 12

3.2 Saran ................................................................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Organisme multiseluler memerlukan mekanisme untuk komunikasi antar selagar dapat


memberi respon dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternaldan internal yang selalu
berubah.Sistem Endokri dan susunan saraf merupakan alat utama dimana
tubuhmengkomunikasikan antara berbagai jaringan dan sel. Sistem saraf sering di pandang sebagai
pembawa pesan melalui sistem stuktural yang tetap.

Sistem Endokrim dimana berbagai macam “Hormon” di sekresikan oleh kelenjar spesifik, di
angkut sebagai pesan yang bergerak untuk bereaksi pada sel atau organ targetnya (definisiklasik
dari hormon).Hormon beredar di dalam sirkulasi darah dan fluida sel untuk mencari seltarget.
Ketika hormon menemukan sel target, hormon akan mengikat protein reseptortertentu pada
permukaan sel tersebut dan mengirimkan sinyal.

Reseptor protein akan menerima sinyal tersebut dan bereaksi baik dengan mempengaruhi
ekspresi genetik sel atau mengubah aktivitas protein selular, termasuk di antaranya adalah
perangsangan atau penghambatan pertumbuhan serta apoptosis (kematian sel terprogram),
pengaktifan atau penonaktifan sistem kekebalan, pengaturan metabolisme dan persiapan aktivitas
baru (misalnya terbang, kawin, dan perawatan anak), atau fase kehidupan (misalnya pubertas dan
menopause). Pada banyak kasus, satu hormon dapat mengatur produksi dan pelepasan hormon
lainnya.Hormon juga mengatur siklus reproduksi pada hampir semua organisme multiselular.

Hormon adalah suatu zat kimia yang bertugas sebagai pembawa pesan (chemical
messenger) disekresikan oleh sejenis jaringan, dalam jumlah yang sangat kecil dan dibawa oleh
darah menuju target jaringan di bagian lain dari tubuh untuk merangsang aktivitas biokimia atau
fisiologi yang khusus.Endokrinologi, suatu cabang ilmu biomedis yang mempelajari hormone dan
aktivitasnya, merupakan salah satu bidang biokimia yang sangat menarik karena beberapa
pemahaman baru berasal dari bidang ini. Lagi pula, karena perubahan dalam kerja hormon dapat
menimbulkan penyakit, maka endokrinologi juga merupakan suatu cabang ilmu biokimia yang
kegunaannya dapat dilihat secara langsung.

Berbagai macam hormon sudah diketahui dan banyak lagi yang ditemukan. Selain mengatur
beberapa aspek metabolisme, hormon juga mempunyai fungsi yang lain yaitu mengatur
pertumbuhan sel dan jaringan, denyut jantung, tekanan darah, fungsi ginjal, pergerakan saluran
gastrointestinal, sekresi enzim-enzim pencernaan, laktasi dan sistem reproduksi.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan hormon?
2. Bagaimana mekanisme kerja hormon?
3. Bagaimana hormon tiroksin dikendalikan?
4. Bagaimana pengaruh hormon tiroksin jika kekurangan atau berlebih?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi hormon,sifat-sifat hormon dan klasifikasi hormon
2. Mengetahui mekanisme kerja hormon
3. Mengetahui dampak kelebihan dan kekurangan hormon tiroksin
4. Mengetahui mekanisme kinerja dan pengendalian tiroksin

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Hormon

Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu).
Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, reproduksi, tingkah laku, keseimbangan dan
metabolisme. Hormon masuk ke dalam peredaran darah menuju organ target. Jumlah yang
dibutuhkan sedikit namun mempunyai kemampuan kerja yang besar dan lama pengaruhnya karena
hormon mempengaruhi kerja organ dan sel. Hormon terdiri dari 2 jenis berdasarkan struktur
kimiawinya yaitu hormon yang terbuat dari peptida (hormon peptida) dan hormon yang terbuat
dari kolesterol (hormon steroid). Perbedaan saraf dan hormon adalah saraf bekerja cepat dan
pengaruhnya cepat hilang. Sedangkan hormon bekerja lambat dan pengaruhnya lama.

Hormon merupakan mediator kimia yang mengatur aktivitas sel / organ tertentu. Dahulu sekresi
hormonal dikenal dengan cara dimana hormon disintesis dalam suatu jaringan diangkut oleh sistem
sirkulasi untuk bekerja pada organ lain disebut sebagai fungsi Endokrin

Kelenjar endokrin adalah organ yang menghasilkan hormon yang tidak memiliki
duktus/pembuluh/saluran (duct), sehingga hormon yang dihasilkan didistribusikan ke seluruh
tubuh melalui pembuluh darah, seperti kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, oavarium, testis dan
pankreas.

Kelenjar Eksokrin adalah organ yang tersusun dari sel epitel, mampu menskresikan senyawa
kimia keluar membran sel (lumen/permukaan tubuh/rongga tubuh) melalui saluran (duct), seperti
kelenjar keringat, kelenjar mamae dan seluruh orga yang bermuara ke saluran pencernaan (hati,
pancreas, kelenjar saliva, kelenjar lambung dan usus)

2.2 Sifat-Sifat Hormon

Hormon memiliki beberapa sifat diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Bekerja secara spesifik pada organ, bagian tubuh tertentu atau aktivitas tertentu

2. Dihasilkan tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit

3. Bekerja lambat, pengaruh hormon tidak spontan

4. Hormon tidak dihasilkan setiap waktu, tetapi diproduksi hanya apabila dibutuhkan

2.3 Klasifikasi Hormon


Hormon dapat diklasifikasikan melalui berbagai cara yaitu menurut komposisi kimia, sifat
kelarutan, lokasi reseptor dan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon di dalam sel .

I. Klasifikasi hormon berdasarkan senyawa kimia pembentuknya:


1. Golongan Steroid

3
Merupakan turunan dari kolestrol dan disekresi oleh korteks adrenal vertebrata dan pada
mamalia juga oleh plasenta
2. Golongan eikosanoid yaitu dari asam arachidonat
3. Golongan derivat asam amino dengan molekul yang kecil

Merupakan derivat asam amino tirosin, yang disekresikan oleh kelenjar tiroid dan medulla
kelenjar adrenal (catecholamines), seperti : thyroid dan katekolamin

4. Golongan Polipeptida/Protein
Merupakan kelompok terbesar dan diarahkan oleh mRNA pada endoplasmic reticulum,
sebgaian besar dibentuk sebagai prohormon. Peptida yang berasal dari preprohormon
menghasilkan prohormon, kemudian peptida itu selajutnya dipecah di aparatus golgi
membentuk hormon. Peptida/protein ini disekresikan oleh sebagian besar kelenjar endokrin,
seperti : insulin,glukagon,GH dan TSH

II. Klasifikasi hormon berdasarkan berdasarkan sifat kelarutan molekul hormon


1. Lipofilik, yaitu kelompok hormon yang dapat larut dalam lemak
2. Hidrofilik, yaitu kelompok hormon yang dapat larut dalam air

III. Klasifikasi hormon berdasarkan berdasarkan lokasi reseptor hormon


1.Hormon yang berikatan dengan hormon dengan reseptor intraseluler
2.Hormon yang berikatan dengan reseptor permukaan sel (plasma membran)

IV. Klasifikasi hormon berdasarkan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon di dalam sel,
yaitu kelompok hormon yang menggunakan kelompok second messenger senyawa
cAMP,cGMP,Ca2+, fosfoinositol, lintasan kinase sebagai mediator intraseluler

2.4 Mekanisme Kerja Hormon

Hormon diturunkan dari unsur-unsur penting, yaitu hormon peptida dari protein, hormon
steroid dari kolesterol dan hormon tiroid serta katekolamin dari asam amino. Hormon-hormon
tersebut bekerjasama dengan sistem saraf pusat sebagai fungsi pengatur dalam berbagai kejadian
dan metabolisme dalam tubuh. Jika hormon sudah berinteraksi dengan reseptor di dalam atau pada
sel-sel target, maka komunikasi intraseluler dimulai.

Reseptor Hormon

Hormon bekerja melalui pengikatan dengan reseptor spesifik .Pengikatan dari hormon ke
reseptor ini pada umumnya memicu suatu perubahan penyesuaian pada reseptor sedemikian rupa
sehingga menyampaikan informasi kepada unsur spesifik lain dari sel. Reseptor ini terletak pada
permukaan sel atau intraselular. Interaksi permukaan hormon reseptor memberikan sinyal
pembentukan dari "mesenger kedua" . Interaksi hormon-reseptor ini menimbulkan pengaruh pada
ekspresi gen

Interaksi Hormon-Reseptor

Hormon menemukan permukaan dari sel melalui kelarutannya serta disosiasi mereka dari
protein pengikat plasma. Hormon yang berikatan dengan permukaan sel kemudian berikatan
dengan reseptor. Hormon steroid tampaknya mempenetrasi membrana plasma sel secara bebas dan
berikatan dengan reseptor sitoplasmik. Pada beberapa kasus (contohnya, estrogen), hormon juga
perlu untuk mempenetrasi inti sel (kemungkinan melalui pori-pori dalam membrana inti) untuk
berikatan dengan reseptor inti-setempat. Kasus pada hormon tiroid tidak jelas. Bukti-bukti

4
mendukung pendapat bahwa hormon-hormon ini memasuki sel melalui mekanisme transpor;
masih belum jelas bagaimana mereka mempenetrasi membrana inti.

Umumnya hormon berikatan secara reversibel dan non-kovalen dengan reseptornya. Ikatan
ini disebabkan tiga jenis kekuatan. Pertama, terdapat pengaruh hidrofobik pada hormon dan
reseptor berinteraksi satu sama lain dengan pilihan air. Kedua, gugusan bermuatan komplementer
pada hormon dan reseptor mempermudah interaksi. Pengaruh ini penting untuk mencocokkan
hormon ke dalam reseptor. Dan ketiga, daya van der Waals, yang sangat tergantung pada jarak,
dapat menyumbang efek daya tarik terhadap ikatan.

Pengikatan Hormon Non-Reseptor

Reseptor bukan merupakan satu-satunya protein yang mengikat hormon, banyak protein
lain juga mengikatnya. Dalam hal ini termasuk protein pengikat plasma dan molekul seperti alat
transpor lainnya yang lazim ditemukan dalam jaringan perifer, enzim yang terlibat dalam
metabolisme atau sintesis dari steroid, dan protein lain yang belum diidentifikasi hingga sekarang.
Protein ini dapat mengikat hormon seketat atau tebih ketat ketimbang reseptor; namun, mereka
berbeda dari reseptor di mana mereka tidak mentransmisikan informasi dari pengikatan ke dalam
peristiwa pascareseptor

2.5 Hormon Adrenalin dan Noradrenalin

Adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin) adalah hormon – hormon yang


berhubungan erat, dibuat dan di sekresikan oleh medulla atau bagian dalam dari kelenjar
adrenal, yang terletak persis di atas ginjal. Medula kelenjar adrenal menghasilkan hormon
ephinefrin dan norephinefrin.

Norepinefrin :

﹡ Terbentuk melalui hidroksilasi dan dekarboksilasi tirosin

﹡ Kadar neopinaferin bebas yang normal dalam plasma adalah sekitar 300 pg/mL (1,8
nmol/L), akan terjadi peningkatan 50-100% sewaktu berdiri.

Epinerfrin :

﹡ Terbentuk melalui metilasi norepinefrin.

﹡ Ditemukan dalam jaringan luar medula adrenal dan otak.

5
﹡ Kadar Epinefrin bebas yang normal dalam plasma adalah sekitar 30 pg/mL (0,16
nmol/L).

Adrenalin dan noradrenalin adalah senyawa amina yang larut dalam air , diturunkan
dari tirosin melalui 3,4-hidroksifenilanin (dopa). Perantara lain dalam perubahan ini 3,4-
dihidroksifeniletilamin biasanya disebut dopamiri, juga merupakan senyawa
hormon.Adrenalin, noradrenalin, dan dopamine disebut juga katekolamin karena ketiganya
dapat di katakan sebagai turunan katekol atau L2-dihidroksibenzeneKatekolamin ini juga
di buat di otak dan system saraf yang berfungsi sebagai senyawa neurotransmitter.

2.6 Mekanisme Hormon Adrenalin dan Nonadrenalin

Mekanisme nya sebagai berikut :

1. Hidroksilasi Cincin, tirosin diubah menjadi dihidroksifenilalanin (dopa) dengan bantuan


enzim tirosin hidroksilase
2. Dekarboksilasi, dopa mengalami konversi menjadi 3,4 dihifrokdifeniletilamin
(dopamine)dengan bantuan enzim dopa dekarboksilasi dan pridoksal fosfat
3. Hidroksilasi rantai samping, dopamine mengalami konversi menjadi norepinefrin
melaluiperan dopamine beta-hidroksilasi (DBH)
4. N-metilase, reaksi n-metilasi yang dialami oleh norepinefrin dikatalis oleh enzim
feniletanolamin N-metiltransferase (PNMT) membentuk epinefrin

Sekresi norepinefrin meningkat oleh stres emosi yang biasa dialami individu.

6
Sekresi Epinefrin meningkat pada situasi – situasi ketika individu tidak mengetahui apa
yang akan terjadi.

2.7 Peranan Hormon Adrenalin


1. Meningkatkan denyut jantung, output jantung dan tekanan darah menyiapkan
kardiovaskular untuk tindakan-tindakan darurat.
2. Adrenalin dapat menenangkan otot-otot polos di sekitar pembuluh bronkiolus paru-paru
3. Merangsang pemecahan glikogen hati menjadi glukosa darah
4. Mendorong pemecahan anaerob glikogen pada otot kerangka menjadi laktat melalui
glikolisis.

2.8 Hormon Tiroksin

Nama alternatif untuk tiroksin T4; tetraiodothyronine; tiroksin

Apa itu tiroksin?


Tiroksin adalah hormon utama yang dikeluarkan ke dalam aliran darah oleh kelenjar tiroid.
Ini adalah bentuk tidak aktif dan sebagian besar dikonversi menjadi bentuk aktif yang disebut
triiodothyronine oleh organ-organ seperti hati dan ginjal. Hormon tiroid memainkan peran
penting dalam mengatur laju metabolisme tubuh, fungsi jantung dan pencernaan, kontrol otot,
perkembangan otak, dan pemeliharaan tulang.

Bagaimana tiroksin dikendalikan?


Produksi dan pelepasan hormon tiroid, tiroksin dan triiodothyronine, dikendalikan oleh
sistem putaran umpan balik yang melibatkan hipotalamus di otak dan kelenjar hipofisis dan
tiroid. Hipotalamus mengeluarkan hormon pelepas thyrotropin yang, pada gilirannya,
merangsang kelenjar hipofisis untuk menghasilkan hormon perangsang tiroid. Hormon ini
merangsang produksi hormon tiroid, tiroksin dan triiodothyronine, oleh kelenjar tiroid.
Sistem produksi hormon ini diatur oleh loop umpan balik sehingga ketika kadar hormon
tiroid (tiroksin dan triiodothyronine) meningkat, mereka mencegah pelepasan baik hormon
pelepas thyrotropin dan hormon perangsang tiroid. Sistem ini memungkinkan tubuh
mempertahankan tingkat hormon tiroid yang konstan dalam tubuh.

Apa yang terjadi jika saya memiliki terlalu banyak tiroksin?


Pelepasan terlalu banyak tiroksin dalam aliran darah dikenal sebagai tirotoksikosis. Ini
mungkin disebabkan oleh terlalu aktifnya kelenjar tiroid (hipertiroidisme), seperti pada
penyakit Graves, radang tiroid atau tumor jinak. Tirotoksikosis dapat dikenali oleh goiter, yang
merupakan pembengkakan pada leher karena pembesaran kelenjar tiroid. Gejala lain dari
tirotoksikosis termasuk intoleransi terhadap panas, penurunan berat badan, peningkatan nafsu
makan, peningkatan pergerakan usus, siklus haid yang tidak teratur, detak jantung yang cepat

7
atau tidak teratur, jantung berdebar, kelelahan, lekas marah, tremor, penipisan / kehilangan
rambut dan retraksi kelopak mata yang mengakibatkan 'menatap' 'Penampilan.

Apa yang terjadi jika saya memiliki tiroksin terlalu sedikit?


Terlalu sedikit produksi tiroksin oleh kelenjar tiroid dikenal sebagai hipotiroidisme. Ini
mungkin disebabkan oleh penyakit autoimun, asupan yodium yang buruk atau disebabkan oleh
penggunaan obat-obatan tertentu. Terkadang, penyebabnya tidak diketahui. Hormon tiroid
sangat penting untuk perkembangan fisik dan mental sehingga hipotiroidisme yang tidak
diobati sebelum kelahiran atau selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan gangguan
mental dan penurunan pertumbuhan.
Hipotiroidisme pada orang dewasa menyebabkan berkurangnya metabolisme. Ini dapat
menyebabkan gejala seperti kelelahan, intoleransi suhu dingin, detak jantung rendah,
penambahan berat badan, nafsu makan berkurang, ingatan buruk, depresi, kekakuan otot dan
berkurangnya kesuburan.

2.9 Mekanisme Hormon Tirosin

2.10 Sintesis Hormon Tiroid


1. Transpor aktif dari I melintasi membrane ke dalam sel tiroid (trappingof iodine)
2. Oksidasi dari iodide dan iodinasi dari residu tirosil dalam tiroglubin
3. Penggabungan molekul iodotirosin dalam tiroglubin membentuk T3 dan T4
4. Proteolysis dari tiroglubin, dengan pelepasan dari iodotirosin dan iodotironin bebas
5. Deiodinase dari iodotirosin di dalam sel tiroid dengan konservasi dan penggunaan dari
iodide yang dibebaskan dan dibawah lingkungan tertentu deiodinase 5’ dari T4 menjadi T3
intratirodial

8
6. Sintesis hormone tiroid melibatkan suatu glikoprotein unik, tiroglubulin dan suatu enzim
essensial peroksidase tiroid.

2.12 Penyakit yang disebabkan Hormon Tiroid


Apabila iodin tidak mencukupi, kelenjar tiroid tidak dapat mensintesis T3 atau T4 dalam
jumlah mencukupi. Dengan demikian pituitari akan terus mensekresi TSH, dan menyebabkan
pembesaran tiroid.Salah satu keadaan yang diakibatkan kerusakan kelenjar tiroid adalah
penyakit Grave. Keadaan ini menyebabkan mata membengkak Gondok adalah suatu keadaan
yang diakibatkan oleh pembesaran kelenjar tiroid.
Jenis penyakit lainnya :
Hyperthyroidism / thyrotoxicosis, hormon tiroid T3 dan T4 didapati lebih tinggi daripada
orang biasa. Kelenjar tiroid normal menghasilkan sekitar 80% T4 dan sekitar 20% T3,
Penyebab penyakit ini ialah :
1. Grave's disease. Antibodi di dalam badan menyebabkan tiroid membesar dan
mengeluarkan lebih hormon. orang yang menghidapi penyakit ini mengeluarkan hormon
berlebihan
2. Thyroiditis (tiroid bengkak).
3. Toxic nodule goitre. Terlalu banyak iodin di dalam makanan.

9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan sifat kimia penyusunnya hormon dapat diklasifikasi menjadi 3 yaitu :
1. Golongan Steroid, Merupakan turunan dari kolestrol dan disekresi oleh korteks adrenal
vertebrata dan pada mamalia juga oleh plasenta
2. Golongan eikosanoid yaitu dari asam arachidonat
3. Golongan derivat asam amino dengan molekul yang kecil

Hormon golongan derivat asam amino tirosin, yang disekresikan oleh kelenjar tiroid dan
medulla kelenjar adrenal (catecholamines). Adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin
(norepinefrin) adalah hormon – hormon yang berhubungan erat, dibuat dan di sekresikan oleh
medulla atau bagian dalam dari kelenjar adrenal, yang terletak persis di atas ginjal. Medula
kelenjar adrenal menghasilkan hormon ephinefrin dan norephinefrin. Tiroksin adalah hormon
utama yang dikeluarkan ke dalam aliran darah oleh kelenjar tiroid. Ini adalah bentuk tidak aktif
dan sebagian besar dikonversi menjadi bentuk aktif yang disebut triiodothyronine oleh organ-
organ seperti hati dan ginjal. Hormon tiroid memainkan peran penting dalam mengatur laju
metabolisme tubuh, fungsi jantung dan pencernaan, kontrol otot, perkembangan otak, dan
pemeliharaan tulang.

Dari kedua hormone itu masing-masing sangat berperan penting bagi kelangsungan hidup
manusia. Tetapi pada prosesnya mekanisme kerja hormone tersebut di dalam tubuh harus baik
dan tidak berlebihan atau kekurangan karena jika hal tersebut terjadi akan menimbulkan
penyakit-penyakit yang tidak diinginkan.

3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat menjadikan tambahan ilmu bagi pembaca pada umumnya penulis
pada khususnya. Namun, penyusun juga membutuhkan kritik yang membangun untuk menjadikan
tambahan bagi penyusunnya.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://azkurs.org/zat-kimia-dalam-bentuk-senyawa-organik-yang-dihasilkan-oleh-ke.html diakses
pada Sabtu,12 Januari 2019

Lehninger, Albert L. 1982. Dasar – Dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga

Wirahadikusuma, M., 2008. Biokimia Protein Enzim dan Asam Nukleat. ITB- Press. Bandung.

iii