Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep, Konstruk Objek Penelitian

2.1.1 Pengertian Auditing

Auditing adalah akumulasi dan evaluasi bukti tentang informasi

untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi

dan kriteria yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh seorang yang

kompeten dan independen.”(Arens et al, 2011:4).

Menurut American Accounting Association (AAA) dalam Rahayu,

Kurnia, dan Suhayati (2010:1) :

“Auditing is a systematic process of objectively obtaining and


evaluating evidence regarding assertions about economic actions
and events to ascertain the degree of correspondence between
those assertions and established criteria and communicating the
results to interested users”.

Artinya auditing adalah merupakan suatu proses yang sistematis

untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif yang

berhubungan dengan asersi-asersi mengenai tindakan-tindakan dan

peristiwa-peristiwa ekonomi untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara

asersi-asersi tersebut dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan, serta

mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengguna informasi.

Menurut Konrath (2002:5) dalam Sukrisno Agoes (2012:2)

mendefinisikan auditing sebagai berikut:

“Suatu proses sistematis untuk secara objektif mendapatkan untuk


mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan-kegiatan dan

120
kejadian-kejadian ekonomi untuk meyakinkan tingkat keterkaitan
antara asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan
mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.”

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa auditing

adalah suatu proses pengevaluasian agar sama dengan kriteria yang telah

ditetapkan untuk dijadikan informasi yang diperuntukkan kepada pihak

yang berkepentingan.

2.1.1.1 Jenis-jenis Audit

Menurut Sukrisno Agoes (2012:11) jenis audit ditinjau dari jenis

pemeriksaan, bisa dibedakan atas:

1. Management Audit (Operational Audit)

Suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan,

termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah

ditetapkan oleh manajemen dengan tujuan untuk mengetahui apakah

kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien dan

ekonomis.

2. Pemeriksaan Ketaatan (Compliance Audit)

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan

telah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang

berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak internal perusahaan maupun

pihak eksternal perusahaan.

3. Pemeriksaan Intern (Internal Audit)

Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan,

yang mencakup laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan


maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditetapkan.

Pemeriksaan umum yang dilakukan internal auditor biasanya lebih

rinci dibandingkan dengan pemeriksaan umum yang dilakukan oleh

Kantor Akuntan Publik (KAP). Internal auditor biasanya tidak

memberikan opini terhadap kewajaran laporan keuangan, karena

pihak-pihak diluar perusahaan menganggap bahwa internal auditor,

yang merupakan orang dalam perusahaan itu tidak independen.

Laporan internal auditor berisi temuan pemeriksaan (audit finding)

mengenai penyimpangan dan kecurangan yang ditemukan, kelemahan

pengendalian intern, beserta saran-saran perbaikannya

(recommendations).

4. Computer Audit

Pemeriksaan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) terhadap perusahaan

yang memproses data akuntansinya dengan menggunakan sistem

Electronic Data Processing(EDP) .

Sedangkan ditinjau dari luasnya pemeriksaan, Sukrisno Agoes

(2012:10) menjelaskan bisa dibedakan atas:

1. Pemeriksaan Umum (General Audit)

Suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh

Kantor Akuntan Publik (KAP) yang independen dengan tujuanuntuk

memberikan pendapat/opini mengenai kewajaran laporan keuangan

secara keseluruhan. Pemeriksaan tersebut harus sesuai dengan Standar

Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan memperhatikan kode etik


Akuntan Indonesia yaitu aturan etika KAP yang telah disahkan Ikatan

Akuntan Indonesia serta standar pengendalian mutu.

2. Pemeriksaan Khusus (Special Audit)

Suatu bentuk pemeriksaan terbatas sesuai permintaan Auditee yang

dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang independen. Opini

yang diberikan hanya untuk bagian dari laporan keuangan yang

diaudit, tidak secara keseluruhan.

2.1.1.2 Jenis-jenis Auditor

Menurut Arens et al (2012:35) jenis auditor dibagi menjadi empat

kategori, yaitu:

1. Certified Public Accounting (CPA) yaitu Akuntan Publik Bersertifikat

yang bertanggung jawab atas laporan keuangan historis yang dibuat

kliennya.

2. A Government Accountability Office Auditor atau Auditor Pemerintah

yaitu auditor yang bertanggung jawab melaksanakan fungsi audit bagi

Kongres. Di Indonesia, auditor pemerintah dapat dibagi menjadi dua

yaitu:

a) Auditor Eksternal Pemerintah

Dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai

perwujudan dari Pasal 23E ayat (1) UUD 1945.

b) Auditor Internal Pemerintah


Dikenal sebagai Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah

(APFP) yang dilaksanakan oleh BPKP, Inspektorat Jenderal

Departemen/LPND, dan Badan Pengawas Daerah.

3. Internal Revenue Agents (IRS) atau Auditor Pajak yang bertanggung

jawab atas penerimaan Negara dari sektor perpajakan.

4. Internal Auditors atau Auditor Internal yaitu auditor yang berada

dalam internal organisasi/perusahaan dan bertanggungjawab dalam

menilai dan mengevaluasi efisiensi dan efektivitas kinerja

organisasi/perusahaan tersebut.

2.1.2 Kualitas Audit

Kualitas audit seperti dikatakan oleh De Angelo (1981) dalam Alim

dkk. (2007), yaitu sebagai probabilitas dimana seorang auditor menemukan

dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi

kliennya.Menurut Moeller (dalam Pratama, 2016), mengatakanbahwa:

“Independence is the freedom from significant conflicts of interest that


threaten objectivity such threats to objectivity must be managed at the
individual auditor level, the engagement level, and the organizational
level”.

Menurut T.Husni (2010), para pengguna laporan keuangan

berpendapat bahwa kualitas audit yang baik terjadi bila auditor dapat

memberikan jaminan bahwa tidak ada salah saji yang material dan fraud

dalam laporan keuangan klien. Menurut Hayes, et al (2005) menyebutkan

bahwa:

“Functional audit quality is defined as the degree to which the


process of carrying out the audit and communicating its results meets
a consumer’s expectations. This aspect of audit quality represents not
the outcome, but the process itself”.
Kualitas audit yang baik harus didasarkan pada standar audit yang

ditetapkan. Awal tahun 2013, Indonesia mulai menggunakan International

Standards on Auditing (ISA). ISA merupakan standar audit yang berbasis

risiko. Tuanakotta (2013:12) menyebutkan bahwa auditor menggunakan

kearifan professional dalam pelaksanaan audit dan lebih menekankan pada

professional judgement. Terdapat tiga langkah audit berbasis risiko menurut

Tuanakotta (2013:95), yaitu:

1. Risk Assessment (menilai risiko)

Melaksanakan prosedur penelitian risiko untuk mengidentifikasi dan

menilai risiko salah saji material dalam laporan keuangan.

2. Risk Response (menanggapi risiko)

Merancang dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya yang

menanggapi risiko salah saji material yang telah diidentifikasi dan

dinilai pada tingkat laporan keuangan dan asersi.

3. Reporting (pelaporan)

Merumuskan pendapat berdasarkan bukti audit yang diperoleh dan

membuat serta menerbitkan laporan yang tepat, sesuai kesimpulan yang

ditarik.

Berikut adalah standar auditing menurut International Standards on

Auditing (ISA) :
Tabel 2.1

International Standards on Auditing

100-199 Pengantar
ISA/SA 120 Kerangka International Standards on
Auditing (ISA)

200-299 Prinsip-prinsip umum dan tanggung


jawab
ISA/SA 200 Tujuan keseluruhan auditor dan
pelaksanaan suatu audit berdasarkan
standar perikatan audit
ISA/SA 210 Persetujuan atas syarat-syarat perikatan
audit
ISA/SA 220 Pengendalian mutu untuk audit atas
laporan keuangan
ISA/SA 230 Dokumentasi audit
ISA/SA 240 Tanggung jawab auditor terkait dengan
kecurangan dalam suatu audit atas laporan
keuangan
ISA/SA 250 Pertimbangan atas peraturan
perundangundangan dalam audit laporan
keuangan
ISA/SA 260 Komunikasi dengan pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola
ISA/SA 265 Pengkomunikasian defisiensi dalam
pengendalian internal kepada pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola dan
manajemen

300-450 Penilaian risiko dan respons terhadap


risiko yang telah dinilai
ISA/SA 300 Perencanaan suatu audit atas laporan
keuangan
ISA/SA 315 Pengindentifikasian dan penilaian risiko
salah saji material melalui pemahaman atas
entitas dan lingkungannya
ISA/SA 320 Materialitas dalam perencanaan dan
pelaksanaan audit
ISA/SA 330 Respons auditor terhadap risiko yang telah
dinilai
ISA/SA 402 Pertimbangan audit terkait dengan entitas
yang menggunakan suatu organisasi jasa
ISA/SA 450 Pengevaluasian atas salah saji yang
diidentifikasi selama audit

500 – 580 Bukti audit


ISA/SA 500 Bukti audit
ISA/SA 501 Bukti audit – pertimbangan spesifik atas
unsur pilihan
ISA/SA 505 Konfirmasi eksternal
ISA/SA 510 Perikatan audit tahun pertama – saldo awal
ISA/SA 520 Prosedur analistis
ISA/SA 530 Sampling audit
ISA/SA 540 Audit atas estimsai akuntansi, termasuk
estimasi akuntansi nilai wajar, dan
pengungkapan yang bersangkutan Audit
atas estimsai akuntansi, termasuk estimasi
akuntansi nilai wajar, dan pengungkapan
yang bersangkutan
ISA/SA 550 Pihak berelasi
ISA/SA 560 Peristiwa kemudian
ISA/SA 570 Kelangsungan usaha
ISA/SA 580 Representasi tertulis

600-620 Penggunaan pekerjaan pihak lain


ISA/SA 600 Pertimbangan khusus-audit atas laporan
keuangan grup termasuk pekerjaan auditor
komponen
ISA/SA 610 Penggunaan pekerjaan auditor internal
ISA/SA 620 Penggunaan pekerjaan seorang pakar
auditor

700-720 Kesimpulan audit dan pelaporan


ISA/SA 700 Perumusan suatu opini dan pelaporan atas
laporan keuangan
ISA/SA 705 Modifikasi terhadap opini dalam laporan
auditor independen
ISA/SA 706 Paragraf penekanan suatu hal dan paragraf
hal lain dalam laporan auditor independen
ISA/SA 710 Informasi komparatif-angka korespondensi
dan laporam keuangan komparatif
ISA/SA 720 Tanggung jawab auditor atas informasi
lain dalam dokumen yang berisi laporan
keuangan auditan

800-810 Area-area khusus


ISA/SA 800 Pertimbangan khusus-audit atas laporan
keuangan yang disusun sesaui dengan
kerangka bertujuan khusus
ISA/SA 805 Pertimbangan khsusu- audit atas laporan
keuangan tunggal dan unsur, akun atau pos
spesifik dalam suatu laporan keuangan
ISA/SA 810 Perikatan untuk melaporkan ikhtisar
laporan keuangan

2.1.2.1 Pendekatan Kualitas Audit

Penelitian yang dilakukan oleh Bhen et al, Schroeder, Sutton dan

Lampe, Dies dan Girous (dalam Mansur, 2008) menyimpulkan bahwa

mengukur kualitas audit terdapat dua pendekatan yaitu:

1. Pendekatan Proses Audit

Pendekatan proses audit ditentukan oleh:

a) Independensi;

b) Reputasi kompetensi;

c) Integritas auditor;

d) Sistem pengendalian mutu; dan

e) Pengendalian proses audit KAP.

Kelima elemen diatas saling berhubungan dan tidak dapat

dipisahkan. Faktor independensi sudah mulai dilaksanakan pada saat

menerima klien. Pada tahap audit selanjutnya pun sikap independensi

sangat diharuskan bagi auditor yaitu tahap perencanaan dan

pembuatan program audit, tahap supervisi dan pengendalian

pelaksanaan audit, serta tahap pengambilan kesimpulan pembuatan

laporan audit. Selanjutnya, faktor reputasi kompetensi adalah faktor

yang berhubungan dengan pelaksanaan independensi, integritas dan


objektivitas. Dalam pelaksanaan audit, auditor bertanggungjawab

mendeteksi kecurangan (fraud) yang terjadi dalam perusahaan klien.

Lalu, faktor penerapan sistem pengendalian mutu merupakan

pengendalian personel agar fungsi akuntan publik berjalan dengan

semestinya sehingga fungsi utama akuntan publik bisa terjaga.Yang

terakhir yaitu faktor pengendalian proses audit menjamin berjalannya

fungsi audit yaitu terlaksananya tugas audit melalui perencanaan,

pengorganisasian dan pembuatan program, dan prosedur pengumpulan

bukti-bukti kompeten yang disusun secara sistematis dalam kertas

kerja.

Menurut Charles F. dan Robin W. Roberts (1996:52), indikator

kualitas auditdiperoleh dari penelitian tentang reduce audit quality

yaitu terdiri dari:

a) Personality Characteristics

b) Professional Characteristics

c) Quality control and review procedures

d) Audit Firm Structure

e) Time budget

2. Pendekatan Hasil Audit

Dalam pendekatan hasil audit mempunyai banyak keuntungan

bagi investor yaitu mengurangi asymmetric informations dan

ketidakpastian keadaan laporan keuangan yang dibuat manajemen,

mengurangi kecurangan karena number games atau creative


accounting serta menemukan window dressing yang dilakukan

manajemen yang selanjutnya akan diperbaiki oleh auditor.

Cara pendekatan ini adalah dengan menerapkan konsep audit

terhadap tingkat kecukupan dan kelayakan bukti. Penelitian yang

dilakukan oleh Barry Cushing, et al, 1977 (dalam Mansur, 2008)

menjelaskan bahwa keputusan kecukupan dan kelayakan bukti

tergantung kepada :

a) Materiality, required precision of the audit opinion

Meliputi:

1) Importance of accuracy effect of a misstatement of this

magtitude on user

2) Practicality of limiting misstatements to this magtitude.

b) Degree of Assurance, required degree of assurance of the audit

opinion. Mempunyai pertimbangan tiga faktor risiko yaitu:

1) Inherent Risk is a risk of error occurring in the first phase cq.

Suspicious circumtances, prior years errors and nature of

item.

2) Control Risk is a risk of Control system failing to prevent or to

detect cq. design of system, compliance with system :

importance of strong control and practicality making control

this strong.

3) Audit Risk is a risk of audit procedure failing to detect cq. non

recognition of Error, sampling risk is importance of low risk


effect this degree of risk on user and auditor and practicality

of limiting audit risk to this degree.

c) Nature and Quantity of evidence available, practical availability

of audit evidence.

Meliputi:

1) Relevance

2) Reliability

3) Sufficiency

4) Timeliness

5) Economic

Auditor harus mengumpulkan bukti-bukti yang konkrit sebagai

dasar untuk memberikan opini atas laporan keuangan klien. Bukti

audit merupakan konsep dasar dalam audit. Menurut Arens, et al

(2006:162) bukti audit adalah sebagai berikut:

“Evidence is any information used by the auditor to determine


wether to information being audited is stated in accordance with
the established criteria.
Kualitas audit dengan pendekatan hasil audit dinilai dari kualitas

bukti dan kuantitas bukti yang memadai. Bagi auditor, bukti yang

terpercaya itu mengandung tujuh unsur-unsur berikut, yaitu :

a) Relevansi bukti;

b) Sumber informasi yang independen;

c) Efektivitas pengendalian internal;


d) Data primer;

e) Sumbernya dari orang yang terpercaya;

f) Tingkat ovbjektivitas bukti yang tinggi; dan

g) Tepat waktu

Kuantitas bukti adalah cukup memadainya jumlah bukti audit

yang telah dikumpulkan pada kertas kerja. Memadainya jumlah bukti

audit tergantung kepada faktor tingkat materialitas salah saji dan

faktor keefektivan pengendalian internal. Semakin banyak jumlah

bukti yang dikumpulkan maka semakin baik. Bukti audit kompeten

yang cukup harus diperoleh melalu inspeksi, pengamatan, pengajuan

pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk

menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. (IAI, SPAP,

2001:326.1).

Dalam penelitian ini, pendekatan yang akan digunakan untuk

mengukur kualitas audit adalah pendekatan hasil audit. Elemen-

elemen dari pendekatan hasil audit adalah Materiality, Degree of

Asurance, dan Nature and Quantity of evidence available.

2.1.3 Profesionalisme

Kata profesionalisme berasal dari kata profesi. Menurut Yamin

(2007:3), profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni

pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur

berlandaskan intelektualitas. Selanjutnya, menurut Usman (2006:14)


memberikan pernyataan bahwa suatu pekerjaan yang bersifat profesional

memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan

kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Jadi, seseorang yang

professional dituntut untuk menguasai bidang yang ditekuninya dengan

mendalam.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme

adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi

atau orang yang profesional.Profesionalisme adalah sebuah konsep untuk

mengukur bagaimana para profesional memandang profesi mereka yang

tercermin melalui sikap dan perilaku mereka sebagai seorang auditor.

Profesionalisme merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dan

dimiliki oleh seorang auditor dimana hal ini akan berdampak kepada sikap

serta keteguhan didalan menjalankan profesi sebagai auditor independen.

(Yendrawati, 2008:76).

Dalam Tuanakotta (2015:51) menyatakan Code of Ethics mengenai

prinsip-prinsip dasar. Seorang akuntan professional wajib mematuhi prinsip-

prinsip dasar berikut, yaitu:

1. Integritas

Lurus, lugas, dan jujur dalam semua hubungan professional dan

bisnis.

2. Objektif

Tidak bias, benturan kepentingan atau tekanan pihak lain

menghilangkan kearifan professional.


3. Kompetensi dan kehati-hatian professional

Memelihara pengetahuan dan keterampilan professional untuk

memastikan bahwa klien mendapatkan jasa professional yang

kompeten berdasarkan ketentuan perundangan dan teknik, dan

bertindak sesuai standar teknis dan standar professional.

4. Konfidensialitas

Menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh dari hubungan

professional dengan tidak mengungkapkan informasi kepada pihak

ketiga tanpa hak/wewenang yang tepat kecuali jika ada hak atau

kewajiban hukum.

5. Perilaku professional

Memenuhi ketentuan undang-undang dan aturan perundangan lainnya

dan menghindari perbuatan yang merendahkan martabat profesi.

Standar ketiga dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya

menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam PSA No. 4 SA Seksi 230

adalah auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan

cermat dan seksama. Di berbagai bidang profesi, sikap dan tindakan

profesional merupakan tuntutan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI),

seorang auditor bisa dikatakan profesional apabila telah memenuhi dan

mematuhi standar-standar kode etik yang telah ditetapkan, antara lain:

1. Prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh IAI yaitu standar ideal dari perilaku

etis yang telah ditetapkan oleh IAI seperti dalam terminologi filosofi,
2. Peraturan perilaku seperti standar minimum perilaku etis yang

ditetapkan sebagai peraturan khusus yang merupakan suatu keharusan,

3. Inteprestasi peraturan perilaku tidak merupakan keharusan, tetapi para

praktisiharus memahaminya, dan

4. Ketetapan etika seperti seorang akuntan publik wajib untuk harus tetap

memegang teguh prinsip kebebasan dalam menjalankan proses auditnya,

walaupun auditor dibayar oleh kliennya.

Profesionalisme merupakan salah satu elemen dari seseorang agar

mempunyai kinerja tugas yang tinggi. Dalam penelitian ini menggunakan

elemen-elemen profesionalisme yang dirumuskan oleh Hastuti (2003) yaitu

sebagai berikut:

1. Pengabdian terhadap profesi

Tercermin melalui dedikasi profesional dengan menggunakan

pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Sikap ini merupakan

ekspresi dari pencurahan diri secara total terhadap komitmen pribadi.

Kompensasi utama yang diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasan

rohaniah dan kemudian kepuasan material. Sub indikator pengabdian

terhadap profesi dalam IAI, sebagai berikut :

a) Tanggung jawab profesi

Indikator tanggung jawab profesi menyatakan bahwa sebagai

profesional, anggota IAI mempunyai peranan penting dalam

masyarakat dan bertanggung jawab dalam mengembangkan profesi

akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dalam menjalankan


tanggung jawab profesi dalam mengatur diri sendiri bersama-sama

dengan rekan sesama anggota.

b) Penyerahan diri secara total terhadap pekerjaan

c) Mengadakan dan menjalankan setiap program dan kegiatan profesi

Masing-masing anggota profesi akuntan publik bertanggung jawab

untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu dan seni akuntansi

serta mengadakan dan menjalankan setiap program dan kegiatan

profesi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas jasa yang

diberikan profesi.

2. Hubungan dengan rekan seprofesi

Prinsip ini menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk

organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai

sumber ide utama pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini, para profesional

membangun kesadaran profesinya. Sub indikator hubungan dengan

rekan seprofesi dalam IAI, yaitu :

a) Keaktifan berorganisasi, dan

b) Menggunakan ikatan profesi sebagai acuan.

3. Kewajiban sosial

Merupakan pandangan tentang pentingnya peranan profesi serta

manfaat yang diperoleh oleh masyarakat maupun professional karena

adanya pekerjaan tersebut. Sikap profesionalisme dalam pekerjaan tidak

terlepas dari kelompok orang yang menciptakan sistem suatu organisasi


tersebut. Sub indikator profesionalisme kewajiban sosial, sebagai

berikut :

a) Pelayanan kepentingan publik

Prinsip ini menyatakan bahwa setiap anggota berkewajiban untuk

selalu bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik,

menghormati kepercayaan publik dan menunjukkan komitmen atas

profesionalisme.

b) Integritas dan Obyektivitas

Prinsip integritas mengakui integritas sebagai kualitas yang

dibutuhkan untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan

publik. Sedangkan prinsip obyektivitas mengharuskan anggota

untuk selalu menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan

kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

c) Menjaga kepercayaan publik terhadap profesi

Semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan

publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota

harus terus-menerus menunjukkan dedikasi untuk mencapai

profesionalisme yang tinggi.

4. Kemandirian

Kemandirian merupakan suatu pandangan bahwa seorang

profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan

dari pihak lain. Rasa kemandirian akan timbul melalui kebebasan yang

diperoleh. Dalam pekerjaan yang terstruktur dan dikendalikan oleh


manajemen secara ketat, akan sulit menciptakan tugas yang

menimbulkan rasa kemandirian. Sub indikator kemandirian, yaitu :

a) Cara pengambilan keputusan; dan

b) Menggunakan seluruh kemampuan, kehati-hatian, kompetensi dan

keahlian dalam melaksanakan tugasnya.

5. Keyakinan terhadap peraturan profesi

Prinsip ini merupakan suatu keyakinan bahwa yang paling

berwenang dan berhak untuk menilai pekerjaan profesional adalah

sesama profesi. Auditor harus selalu meningkatkan profesionalisme

sehingga mereka accountable baik terhadap orang lain maupun diri

sendiri. Sub indikator profesionalisme keyakinan terhadap peraturan

profesi adalah :

a) Independensi dalam sikap dan mental

Akuntan publik harus bersikap independen dalam kenyataan dan

penampilan pada waktu melaksanakan jasa audit dan jasa atestasi

lainnya.

b) Penilaian dan pemeriksaan laporan keuangan.

2.1.4 Kompetensi

Menurut Arens, Elder, dan Beasley (2012) :

"Competence is the knowledge and skills necessary to accomplish


tasks that define an individual's job”.

Menurut definisi diatas, kompetensi adalah pengetahuan dan

keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan

yang menentukan pekerjaan individu tersebut.


Bedard, 1986 (dalam Lastanti, 2005:88) mengatakan bahwa

kompetensi sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan

prosedural yang luas yang ditunjukkan dalam pengalaman audit. Dalam

melaksanakan audit, auditor harus bertindak sebagai seorang ahli dalam

bidang akuntansi dan auditing. Pencapaian keahlian dimulai dengan

pendidikan formal, yang selanjutnya melalui pengalaman dan praktek audit

(SPAP, 2011). Selain itu auditor harus menjalani pelatihan teknis maupun

pendidikan umum. Dengan demikian auditor harus memiliki kompetensi

dalam pelaksanaan pengauditan agar dapat menghasilkan audit yang

berkualitas. Suraida, 2005 (dalam Sukriah, 2009) menjelasakan bahwa

kompetensi berkaitan dengan keahlian yang berasal dari pendidikan formal,

mengikuti pelatihan, seminar dan simposim, dan ujian formal.

Alan Millichamp dan John Taylor (2008) menyatakan bahwa :

“Auditors must be throughly trained and prove reviews their


competence before they can sign an audit report on the financial
statements in order to quality.”

Berdasarkan definisi di atas, auditor harus terlatih dan membuktikan

kompetensi mereka sebelum mereka dapat menandatangani laporan audit.

Menurut Hutapea dan Thoha (2008:28) ada tiga indikator utama

pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang,

kemampuan, dan perilaku individu.

1. Pengetahuan (Knowledge) adalah informasi yang dimiliki seseorang

karyawan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sesuai

dengan bidang yang digelutinya.


2. Keterampilan (Skill) merupakan suatu upaya untuk melaksanakan tugas

dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada seorang

karyawan dengan baik dan maksimal.

3. Selainknowledge dan skill, hal yang perlu diperhatikan adalah sikap

perilaku kerja karyawan. Sikap (Attitude) merupakan pola tingkah laku

seorang karyawan/pegawai di dalam melaksanakan tugas dan tanggung

jawabnya sesuai dengan peraturan perusahaan.

Kompetensi Knowledge, Skill, dan Attitude merupakan karakteristik

nyata yang dimiliki manusia. Menurut Standar Kompetensi Auditor,

dijelaskan bahwa auditor harus memiliki kemampuan yang mencakup:

1. Pengetahuan (knowledge)

Knowledge merupakan fakta, informasi, dan keahlian yang

diperoleh seseorang melalui pendidikan, baik secara teori maupun

pemahaman praktis. Pengetahuan yang dimiliki adalah pengetahuan di

bidang pengawasan yang harus dimiliki oleh seluruh auditor di semua

tingkat atau jenjang jabatan. Perolehan pengetahuan melibatkan proses

kognitif yang kompleks meliputi persepsi, pembelajaran, komunikasi,

asosiasi dan argumentasi.

2. Keterampilan/Keahlian (skill)

Skill merupakan kemampuan untuk melakukan tugas dengan

baik atau lebih baik dari rata-rata. Dalam Taksonomi Bloom,

keterampilan masuk dalam ranah psikomotor yang berisi perilaku-

perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik. Keterampilan


yang dimiliki adalah keterampilan/keahlian di bidang pengawasan yang

harus dimiliki oleh seluruh auditor di semua tingkat atau jenjang jabatan.

3. Sikap Perilaku (attitude)

Attitude mewakili rasa suka atau tidak seseorang pada suatu hal.

Dalam Taksonomi Bloom, sikap perilaku masuk dalam ranah afektif

yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan

emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Sikap

perilaku ini harus dimiliki oleh seluruh auditor di semua tingkat atau

jenjang jabatan.

Selain ketiga komponen tersebut, Standar Kompetensi Auditor pasal 3

ayat (2) menyebutkan bahwa “Auditor wajib mempertahankan

kompetensinya melalui Pendidikan dan Pelatihan Profesional Berkelanjutan

(Continuing Professional Education) guna menjamin kompetensi yang

dimilikinya sesuai dengan kebutuhan organisasi dan perkembangan

lingkungan pengawasan”. Pendidikan dan Pelatihan Profesional

Berkelanjutan diperoleh melalui keanggotaan dan partisipasi dalam asosiasi

profesi, pendidikan sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor (JFA),

konferensi, seminar, kursus-kursus, program pelatihan di kantor sendiri dan

partisipasi dalam proyek penelitian yang memiliki substansi di bidang

pengawasan. Jadi dapat disimpulkan bahwa kompetensi auditor dapat diukur

dengan beberapa indikator sebagai berikut, yaitu:

1. Knowledge;

2. Skill;
3. Attutude; dan

4. Continuing Professional Education.

Menurut Kubr (1989), indikator kompetensi yang identik dengan

kinerja meliputi knowledge, trait and attitude, skill, and experience.

1. Knowledge, atau pengetahuan adalah informasi yang dimiliki seseorang

berkenaan dengan fakta, konsep, dan hubungan antar fakta (retained

information concerning facts, concepts, and relationship).

2. Traits and attitude, merupakan pembawaan seseorang dan refleksi dari

nilai-nilai yang dimilikinya. Pembawaan itu terbentuk dari faktor

genetik dan proses interaksi dengan keluarga, sekolah, kondisi sosial

budaya masyarakat dimana seseorang berada. Traits disebut juga

kepribadian yang merujuk kepada kemampuan mereaksi terhadap

stimulus atau kejadian tertentu dalam berbagai situasi. Attitude

merupakan sesuatu yang unik pada setiap orang dan diyakini sulit.

3. Skill adalah kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan

attitude ke dalam situasi pekerjaan. Seperti conceptual skill, managerial

skill, technical skill, leadership skill, analytical skill, communication

and interpersonal skill, social and cultural skill.

Menurut Louwers, et al (2015), kompetensi dan kemampuan dimulai

dari dua hal, yaitu :


1. Education

Yang pertama dimulai dari education tentang akuntansi karena auditor

harus ahli dalam standar akuntansi, pelaporan keuangan, dan audit.

Selain education pada tingkat universitas, auditor juga perlu untuk

melanjutkan pendidikan profesional sepanjang kariernya untuk

memastikan bahwa pengetahuan mereka terus berkembang dengan

perubahan dalam profesi akuntansi dan audit. Saat ini salah satu

persyaratan penting untuk menjaga lisensi CPA adalah dengan

melanjutkan pendidikan profesional. Education adalah salah satu

elemen dalam kompetensi dan keahlian.

2. Experience

Elemen penting lainnya adalahexperience, yang diperoleh dari hasil

pelatihan sendiri dan pelatihan saar bekerja. Experience adalah

kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan pertimbangan

profesional dalam situasi audit dalam dunia nyata.

Elemen-elemen kompetensi yang dikemukakan oleh Louwers, et al

(2015) sama halnya dengan yang dikemukakan oleh International Standards

on Auditing (ISA) dalam Tuanakotta (2015:58) yaitu hal yang paling mudah

terlihat bahwa seorang auditor sudah menggunakan kearifan professional

ialah keterlibatan auditor yang berpengalaman yaitu auditor yang mumpuni.

Dalam praktik akuntan publik, ini berarti keterlibatan partner yang

mempunyai pengalaman (experience), pendidikan dan pelatihan yang tepat


dengan penugasannya (education), dan ciri-ciri kepribadian tertentu seperti

sikap skeptis.

Dalam penelitian ini, indikator-indikator kompetensi yang akan

digunakan adalah menurut Louwers, et al (2015) yaitu education dan

experience.

2.1.5 Independensi

Menurut Alan Millichamp dan John Taylor (2008) :

"Auditors can not give unless they Unbiased opinios are independent
of all the parties involved. There is a dilemma here in that auditors
receive Reviews their fees from the client. Nonetheless, independence
is very important. Not only auditors must be independent in fact and
in attitude of mind but they must also be seen to be independent."

Maksud penjelasan di atas adalah auditor tidak bisa memberikan opini

kecuali opini atau rekomendasinya bersifat independen dari semua pihak

yang terlibat. Ada dilema yaitu auditor menerima audit fees dari klien atau

mereka dibayar oleh klien. Auditor tidak hanya dituntut mempunyai sikap

dan pikiran yang independen tetapi mereka juga dituntut mandiri.

Independensi adalah cara pandang yang tidak memihak dalam

melaksanakan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, serta penyusanan

laporan keuangan yang telah diaudit (Simamora, 2010:73). Seorang auditor,

sekalipun ia ahli, apabila tidak mempunyai sikap independen dan

mengumpulkan informasi akan tidak berguna, sebab informasi yang

digunakan untuk mengambil keputusan haruslahtidak bias (Arens,

2009:4).Namun sesuai dengan tanggungjawabnya untuk menaikkan tingkat

keandalan laporan keuangan suatu perusahaan maka akuntan publik tidak


hanya perlu memiliki kompetensi atau keahlian saja tetapi juga harus

independen dalam melakukan audit, karena tanpa adanya independensi

masyarakat tidak dapat mempercayai hasil audit. Dengan kata lain,

keberadaan auditor ditentukan oleh independensinya (Indah,2010).

Dalam audit, independensi berarti cara pandang yang tidak memihak

dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan

laporan audit. Kepercayaan masyarakat berbanding lurus dengan sikap

independensi yang dimiliki auditor. Jika auditor memiliki sikap

independensi yang tinggi, maka kepercayaan masyarakat pun akan

bertambah. Sebaliknya, jika sikap independensi yang dimiliki auditor

rendah, maka kepercayaan masyarakat akan berkurang bahkan fatal jika

masyarakat sudah menjadi tidak percaya terhadap opini atau hasil yang

dibuat oleh auditor.

Menurut Louwers, et al (2015) independensi adalah prinsip tanggung

jawab yang mengharuskan auditor untuk mematuhi ketentuan etika yang

tepat. Auditor harus menjaga independensi dalam sikap mental, yaitu

auditor diharapkan mempertimbangkan laporan keuangan dan informasi lain

yang mereka mengaudit. IESBA (International Ethics Standards Board for

Accountants) Code of Ethics for Professional Accountants (2015)

menyebutkan bahwa independensi terbagi dua, yaitu:

1. Independence of mind

Hal-hal yang ada dalam pikiran auditor yang memungkinkannya

memberikan opini tanpa dipengaruhi hal-hal yang dapat mengganggu


professional judgement. Maka auditor dapat bertindak dengan integritas

penuh, tidak memihak, dan melaksanakan skeptisme professional.

2. Independence in appearance

Menghindari pengaruh dari pihak ketiga yang mempunyai reasonable

dan informed third party yang akan meragukan integritas, objektivitas,

dan skeptisme professional dari anggota tim.

Menurut Lauw, et al (2012) indikator yang digunakan untuk

mengukur variabel independensi adalah : Lama Hubungan dengan Klien

(Audit Tenure), Tekanan dari Klien, Telaah dari Rekan Auditor (Peer

Review), dan Jasa Non audit.

1. Lama Hubungan dengan Klien (Audit Tenure)

Keputusan Menteri Keuangan No.17/PMK.01/2008 tentang Jasa

Akuntan Publik Pasal 3 ayat (1) menyebutkan bahwa “Pemberian jasa

audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan oleh KAP paling

lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang

Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut”.

Pembatasan ini dimaksudkan agar auditor tidak terlalu dekat dengan

klien sehinggan mencegah terjadinya skandal/fraud akuntansi.

2. Tekanan dari Klien

Tekanan dari klien yaitu tekanan personal, emosional atau keuangan

dapat mengakibatkan independensi auditor berkurang dan dapat

mempengaruhi kualitas audit.


3. Telaah dari Rekan Auditor (Peer Review)

Telaah dari rekan auditor merupakan mekanisme monitoring yang

dipersiapkan oleh auditor (peer review) dapat meningkatkan kualitas

jasa akuntansi dan audit.

4. Jasa Non Audit

Jasa non audit merupakan jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik

tetapi akhirnya tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif,

ringkasan temuan atau bentuk lainnya keyakinan. Dengan demikian jasa

yang diberikan oleh KAP bukan hanya jasa atestasi, melainkan juga jasa

non atestasi yang berupa jasa konsultasi manajemen dan perpajakan

serta jasa akuntansi seperti jasa penyusunan laporan keuangan.

Namun, karena kasus Enron yang membayar audit fees kepada KAP

Arthur Andersen yang ternyata lebih dari setengah fee yang diberikan adalah

untuk jasa konsultan, maka SEC (Security and Exhange Commission)

berpikir keras untuk mendiskusikan keadaan ini. Lalu, SEC dan PCAOB

(Public Company Accounting Oversight Board) membuat kebijakan untuk

membatasi jasa nonaudit kepada klien, yaitu sebagai berikut:

a) Pembukuan atau jasa lain yang berhubungan dengan laporan keuangan

atau catatan akuntansi klien(termasuk menjaga atau mempersiapkan

catatan akuntansi, penyusunan laporan keuangan, atau mempersiapkan

sumber data yang mendasari laporan keuangan, kecuali dalam keadaan

darurat);
b) Implementasi dan desain sistem informasi keuangan (termasuk

mengoperasikan atau mengawasi sistem informasi klien, merancang atau

menerapkan perangkat keras atau perangkat lunak sistem yang

menghasilkan informasi yang signifikan terhadap laporan keuangan

klien kecuali manajemen klien yang bertanggung jawab penuh atas

semua desain, pelaksanaan, pengendalian internal, dan keputusan

manajemen tentang hardware dan software);

c) Jasa appraisal atau penilaian atas opini kewajaran (termasuk materi

layanan tersebut terhadap laporan keuangan ketika auditor mengaudit

klien sendiri, namun para ahli menilai perusahaan enggan mengaudit

perhitungan sebenarnya, melakukan valuasi pajak berorientasi, dan

melakukan penilaian non finansial untuk klien);

d) Jasa aktuaria (termasuk penentuan kewajiban aktuaria kecuali

manajemen klien yang pertama melakukan aktuaris dan auditor

menerima tanggungjawab untuk metode aktuaria signifikan dan asumsi);

e) Jasa audit internal (termasuk yang terkait dengan pengendalian internal

klien, akuntansi, sistem keuangan, atau laporan keuangan);

f) Fungsi manajemen (termasuk bertindak sementara atau permanen

sebagai direktur, pejabat, atau karyawan dari klien, atau melakukan

fungsi monitoring pengambilan keputusan, pengawasan klien);

g) Sumber daya manusia (termasuk semua kegiatan pencarian eksekutif,

memeriksa referensi, status dan kompensasi, dan memberikan saran);


h) Jasa broker-dealer (termasuk bertindak sebagai broker-dealer,

promotor, atau penanggung atas nama klien; membuat keputusan

investasi yang ditanamkan atau memiliki kewenangan diskresi atas

investasi; mengeksekusi transaksi untuk membeli atau menjual investasi,

atau memiliki hak atas aset);

i) Jasa hukum (termasuk layanan di bawah curcumstances di mana orang

yang memberikan layanan harus diakui untuk berlatih sebelum

pengadilan dari yurisdiksi);

j) Jasa ahli (termasuk memberikan pendapat ahli atau jasa lain untuk klien

atau perwakilan hukum dari klien untuk tujuan advokasi);

k) Layanan dilakukan untuk klien audit Shere auditor membayar biaya

kontingen atau komisi;

l) Pelayanan pajak yang didasarkan pada proses hukum atau interpretasi

agresif hukum pajak;

m) Merencanakan atau memberikan opini pada konsekuensi pajak dari

transaksi;

n) Pelayanan pajak untuk eksekutif perusahaan eksekutif

Aturan PCAOB 3526 membuat kebijakan untuk kantor akuntan publik

membahas masalah independensi dengan komite audit sebelum menerima

klien.

2.2Kerangka Pemikiran

2.2.1 Pengaruh Profesionalisme terhadap Kualitas Audit

Menurut Tantina (dalam Kusuma, 2012) :


“Istilah profesional berarti bertanggung jawab untuk berperilaku yang
lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab yang dibebankan
kepadanya. Persyaratan profesional yang dituntut dari auditor
independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman
berpraktik sebagai auditor independen. Dalam meningkatkan
profesionalisme seorang auditor harus terlebih dahulu memahami
dirinya sendiri dan tugas yang akan dilaksanakan serta selalu
meningkatkan dan mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan
auditee.”

Profesionalisme menjadi isu yang kritis untuk profesi akuntan dan

merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh auditor untuk meletakan

kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil audit dan pendapat yang

diberikan. Penelitian yang dilakukan oleh Nteseo (2013) dengan judul

“Pengaruh Profesionalisme terhadap Kualitas Audit (Studi kasus pada

Auditor di Provinsi Gorontalo)” menyimpulkan bahwa profesionalisme

auditor mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit.

Artinya, untuk meningkatkan kualitas audit, sangat bergantung pada tingkat

profesionalisme seorang auditor. Semakin baik tingkat profesionalisme yang

dimilki oleh seorang auditor, maka auditor tersebut akan dengan mudah

melakukan tugas-tugas auditnya dan sebaliknya jika rendah maka dalam

melaksanakan tugasnya, auditor akan mendapatkan kesulitan-kesulitan

sehingga kualitas audit yang dihasilkan akan rendah pula.

Begitu pun dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2015)yang

berjudul “Pengaruh Profesionalisme, Etika, Pengalaman, Pengetahuan, dan

Kualitas Audit terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas Akuntan

Publik” menyimpulkan bahwa profesionalisme auditor berpengaruh secara

positif terhadap pertimbangan tingkat materialitas, berhasil didukung oleh


data atau dengan kata lain hipotesis diterima. Menurut Ussahawanitchakit

(2008:102) perilaku profesional auditor berhubungan positif mempengaruhi

kualitas audit. Selain itu, dalam penelitian yang lain yang dilakukan

olehnya, profesionalisme juga memiliki hubungan positif terhadap kualitas

audit. Penelitian lain yang dilakukan oleh Baotham (2007:97) menunjukan

bahwa profesionalisme berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas

audit.

H10 : Profesionalisme auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas

audit.

H1a : Profesionalisme auditor berpengaruh signifikan terhadap kualitas

audit.

2.2.2 Pengaruh Kompetensi terhadap Kualitas Audit

Menurut SA Seksi 210, SPAP 2011, kompetensi berkaitan dengan

pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh auditor dibidang auditing

dan akuntansi. Keahlian auditor independen dengan pendidikan formal, lalu

diperluas dengan pengalaman-pengalaman dalam praktik audit. Tuanakotta

(2011) menjelaskan bahwa kompetensi yaitu keahlian seorang auditor yang

diperoleh dari pengetahuan, pengalaman, dan pelatihan. Penelitian yang

dilakukan oleh Linting (2013) berjudul “Pengaruh Kompetensi,

Objektivitas, Independensi, dan Kinerja Auditor Internal terhadap Kualitas

Audit (Studi Kasus pada BRI Inspektorat Makassar)” menyatakan bahwa

Kompetensi, Objektivitas, Independensi, dan Kinerja Auditor Internal

berpengaruh simultan terhadap Kualitas Audit. Kompetensi berpengaruh


positif terhadap kualitas audit sehingga semakin baik kompetensi yang

dimiliki seorang auditor maka semakin baik pula kualitas audit yang

dihasilkannya.

H20 : Kompetensi auditor tidak berpengaruh signifikan secara parsial

terhadap kualitas audit.

H2a : Kompetensi auditor berpengaruh signifikan secara parsial terhadap

kualitas audit.

2.2.3 Pengaruh Independensi terhadap Kualitas Audit

Porter dkk 2003 (dalam Fonda, 2014) menjelaskan berdasarkan

konsep auditing, kualitas audit berhubungan dengan independensi,

kompetensi dan kode etik auditor. Independensi dan kompetensi menjadi

faktor penting yang harus dimiliki seorang auditor dalam pelaksanaan tugas

audit. Kode Etik Akuntan Publik menyatakan bahwa independensi adalah

sikap mental yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak

mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan tugasnya, yang

bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Penelitian yang

dilakukan oleh Novyarni (2014) berjudul “Influence of Internal Auditor

Competence and Independence on The Quality of Financial Reporting by

Municipal/Provincial Government” menyatakan bahwa :

“This study proves that the competence of internal auditors affect the
quality of financial reporting. 0.379 R square figures. R Square is also
called the coefficient of determination coefficient which in this case
means that 37.9% of the variation in the quality of financial reporting
can be explained by the variable financial competence of internal
auditors.”
Maksud dari kesimpulan diatas adalah penelitian ini membuktikan

bahwa kompetensi auditor internal mempengaruhi kualitas pelaporan

keuangan. Penelitian oleh Alim, dkk (2007) menyatakan bahwa

independensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.

H30 : Independensi auditor tidak berpengaruh signifikan secara parsial

terhadap kualitas audit.

H3a : Independensi auditor berpengaruh signifikan secara parsial terhadap

kualitas audit.

2.2.4 Pengaruh Profesionalisme, Komepetensi, dan Independensi Auditor

terhadap Kualitas Audit

Kualitas audit ditentukan oleh dua hal yaitu kompetensi dan

independensi. Hasil penelitian empiris setidaknya memberikan refleksi

tentang kondisi kompetensi dan independensi akuntan publik (Christiawan,

2005). Faktor-faktor penentu kualitas audit diantaranya adalah kompetensi

dan independensi auditor. Hal ini didapat dari pernyataan AAA Financial

Accounting Committe (2000) dalam Christiawan (2002:83) menyatakan

bahwa “Kualitas audit ditentukan oleh 2 hal yaitu kompetensi dan

independensi”. Lalu menurut Hidayat (2011) selain kompetensi dan

independensi, kualitas audit juga dipengaruhi oleh profesionalisme.

Penelitian oleh Lesmana dan Nera Marinda Machdar (2015) berjudul

“Pengaruh Profesionalisme, Kompetensi, dan Independensi Auditor

terhadap Kualitas Audit (Studi Kasus pada KAP di wilayah Tangerang)”

menyatakan bahwa pengaruh profesionalisme terhadap kualitas audit


variabel profesionalisme ternyata mempunyai pengaruh positif terhadap

kualitas audit, dikarenakan makin tinggi tingkat profesionalisme maka

semakin berkualitas hasil auditnya.

H40 : Profesionalisme, kompetensi, dan independensi auditor tidak

berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kualitas audit

H4a : Profesionalisme, kompetensi, dan independensi auditor berpengaruh

signifikan secara simultan terhadap kualitas audit.

Profesionalisme
Auditor

Kompetensi Kualitas
Auditor Audit

Independensi
Auditor

= Hubungan Parsial

= Hubungan Simultan

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran

2.3 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.2

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Penulis Tahun Judul Variabel Hasil


1 Agustiany 2013 Pengaruh Variabel Diperoleh hasil bahwa
Nteseo Profesionalisme Independen : profesionalisme
No Penulis Tahun Judul Variabel Hasil
terhadap Profesionalisme auditor mempunyai
Kualitas Audit pengaruh yang
(Studi kasus Variabel signifikan terhadap
pada Auditor di Dependen : kualitas audit.
Provinsi Kualitas Audit
Gorontalo)
2 Indriyani 2013 Pengaruh Variabel 1. Kompetensi
Linting Kompetensi, Independen : berpengaruh positif
Objektivitas, Kompetensi, terhadap kualitas audit,
Independensi, Objektivitas,
dan Kinerja Independensi, dan 2. Objektivitas tidak
Auditor Internal Kinerja Auditor berpengaruh secara
terhadap Internal signifikan terhadap
Kualitas Audit kualitas audit,
Variabel
Dependen : 3. Independensi
Kualitas Audit berpengaruh positif
terhadap kualitas audit,

4. Kinerja auditor
internal berpengaruh
positif terhadap
kualitas audit.
3 Nelli 2014 Influence of Variabel Kompetensi
Novyarni Internal Auditor Independen : mempengaruhi kualitas
Competence and Kompetensi dan pelaporan keuangan.
Independence Independensi Kualitas Pelaporan
on The Quality Auditor Internal Keuangan akan
of Financial menambah nilai
Reporting by Variabel kepada pemerintah
Municipal/Provi Dependen : provinsi dan kota dari
ncial Kualitas Pelaporan Jakarta ketika auditor
Government Keuangan internal memiliki
kompetensi dalam
proses manufaktur atau
review laporan
keuangan, pengaruh
Kemerdekaan pada
kualitas pelaporan
keuangan oleh arti
bahwa kualitas
pelaporan keuangan
akan baik jika auditor
internal memiliki
independensi ,
kompetensi dan
independensi auditor
internal mempengaruhi
kualitas pelaporan
keuangan , variabel
yang sangat
berkorelasi dengan
kualitas pelaporan
keuangan adalah
No Penulis Tahun Judul Variabel Hasil
kompetensi variabel.
4 Anindy 2015 Pengaruh Variabel 1. Profesionalisme
Mugia Profesionalisme, Independen : berpengaruh secara
Lestari Etika, Profesionalisme, signifikan terhadap
Pengalaman, Etika, pertimbangan tingkat
Pengetahuan, Pengalaman, materialitas akuntan
dan Kualitas Pengetahuan, dan publik.
Audit terhadap Kualitas audit
Pertimbangan 2. Etika berpengaruh
Tingkat Variabel secara signifikan
Materialitas Dependen : terhadap pertimbangan
Akuntan Publik Pertimbangan tingkat materialitas
Tingkat akuntan publik
Materialitas
Akuntan Publik 3. Pengalaman
berpengaruh secara
signifikan terhadap
pertimbangan tingkat
materialitas akuntan
publik

4. Pengetahuan
berpengaruh secara
signifikan terhadap
pertimbangan tingkat
materialitas akuntan
publik

5. Kualitas Audit
berpengaruh secara
signifikan terhadap
pertimbangan tingkat
materialitas akuntan
publik.
5 Rudi 2015 Pengaruh Variabel Berdasarkan dari hasil
Lesmana Profesionalisme, Independen : penelitian serta analisis
dan Nera Kompetensi, Profesionalisme, data maka dapat
Marinda dan Kompetensi dan disimpulkan bahwa:
Machdar Independensi Independensi Terdapat pengaruh
Auditor Auditor profesionalisme,
terhadap kompetensi dan
Kualitas Audit Variabel independensi terhadap
(Studi Kasus Dependen : kualitas audit.
pada KAP di Kualitas Audit
wilayah
Tangerang)
2.4 Hipotesis Penelitian

Menurut Zikmund (1997:112), hipotesis adalah proposisi atau dugaan

belum terbukti bahwa tentatif menjelaskan fakta atau fenomena, serta

kemungkinan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian. Dari uraian

teori di atas, dapat ditarik hipotesis sebagai berikut :

H10 : Profesionalisme auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas

audit

H1a : Profesionalisme auditor berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit

H20 : Kompetensi auditor tidak berpengaruh signifikan secara parsial

terhadap kualitas audit

H2a : Kompetensi auditor berpengaruh signifikan secara parsial terhadap

kualitas audit

H30 : Independensi auditor tidak berpengaruh signifikan secara parsial

terhadap kualitas audit

H3a : Independensi auditor berpengaruh signifikan secara parsial terhadap

kualitas audit

H40 : Profesionalisme, kompetensi, dan independensi auditor tidak

berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kualitas audit

H4a : Profesionalisme, kompetensi, dan independensi auditor berpengaruh

signifikan secara simultan terhadap kualitas audit.