Anda di halaman 1dari 12

Partai Komunis Indonesia

"PKI" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat PKI (disambiguasi).
Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah sebuah partai politik di
Indonesia yang telah bubar. PKI adalah partai komunis non-penguasa Partai Komunis Indonesia
terbesar di dunia setelah Rusia dan Tiongkok sebelum akhirnya PKI
dihancurkan pada tahun 1965 dan dinyatakan sebagai partai terlarang
pada tahun berikutnya.[1][2]

Daftar isi
Pelopor
Pendiri Henk Sneevliet
Pembentukan dan pertumbuhan
Didirikan Mei 1914
Pemberontakan 1926
Dibubarkan 12 Maret 1966
Kebangkitan pasca-perang
Peristiwa Madiun 1948 Kantor pusat Jakarta
Bangkit kembali Surat kabar Soeara Rakjat
Pemilu 1955 Harian Rakjat
1960 Sayap pelajar CGMI
Pembunuhan massal dan akhir dari PKI Sayap pemuda Pemuda Rakyat
Perkembangan pasca-1965 Sayap perempuan Gerwani
Wacana permintaan maaf Sayap buruh SOBSI
Kontra
Sayap petani BTI
Lihat pula
Anggota (1960) 3 juta
Galeri
Ideologi Komunisme,
Referensi
Referensi umum Marxisme-Leninisme
Catatan Afiliasi Komintern (sampai
Pranala luar internasional 1943)
Bacaan terkait Warna resmi Merah
Simbol pemilu
Palu arit
Pelopor
Politik Indonesia
Henk Sneevliet dan kaum sosialis Hindia Belanda lainnya membentuk Partai politik
serikat tenaga kerja di pelabuhan pada tahun 1914, dengan nama Indies Pemilihan umum
Social Democratic Association (dalam bahasa Belanda: Indische
Sociaal Democratische Vereeniging-, ISDV). ISDV pada dasarnya dibentuk oleh 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu
SDAP dan Partai Sosialis Belanda yang kemudian menjadi SDP komunis, yang berada dalam kepemimpinan Hindia Belanda.[3] Para
anggota Belanda dari ISDV memperkenalkan ide-ide Marxis untuk mengedukasi orang-orang Indonesia mencari cara untuk
menentang kekuasaan kolonial.

Pada Oktober 1915, ISDV mulai aktif dalam penerbitan surat kabar berbahasa Belanda, "Het Vrije Woord" (Kata yang Merdeka).
Editornya adalah Adolf Baars. Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan untuk Indonesia. Pada saat itu, ISDV
mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Indonesia. Namun,
partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Tapi berubah ketika Sneevliet memindahkan markas mereka
dari Surabaya ke Semarang dan menarik banyak penduduk asli dari berbagai elemen
seperti agama, nasionalis dan aktivis gerakan lainnya yang akhir-akhir ini tumbuh di
Hindia Belanda sejak tahun 1900. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak
puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV dan
menolak untuk bekerja sama dengan pemerintah karena menolak "berpura-pura"
menjadi Dewan Masyarakat (Volksraad Volksraad (Hindia Belanda). Pada tahun 1917
kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri, dan membentuk partai sendiri dengan
nama Partai Demokrat Sosial Hindia. Pada tahun 1917 ISDV meluncurkan sendiri
publikasi pertama berbahasa Indonesia,Soeara Merdeka.

Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang
terjadi di Rusia harus diikuti di Indonesia. Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut
di antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda.
Dibentuklah 'Pengawal Merah' dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah
mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di
Henk Sneevliet
Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk
sebuah dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas dewan-dewan soviet di Surabaya
dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer
[4]
Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun.

Sementara itu, ISDV membentuk blok dengan organisasi anti-kolonialis Sarekat Islam. Banyak anggota SI seperti dari Surabaya,
Semaun dan Darsono dari Solo tertarik dengan ide-ide Sneevliet. Sebagai hasil dari strategi Sneevliet akan "blok dalam", banyak
[5]
anggota SI dibujuk untuk mendirikan revolusioneris yang lebih dalam Marxis-didominasi Sarekat Rakjat.

ISDV terus bekerja secara klandestin. Meluncurkan publikasi lain, Soeara Rakyat. Setelah kepergian paksa beberapa kader Belanda,
dalam kombinasi dengan pekerjaan di dalam Sarekat Islam, keanggotaan telah berpindah dari mayoritas Belanda ke mayoritas
Indonesia. Pada tahun 1919 hanya memiliki 25 anggota Belanda, dari total anggota yang kurang dari 400.

Pembentukan dan pertumbuhan


Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH).
Semaun adalah ketua partai dan Darsono menjabat sebagai wakil ketua. Sekretaris, bendahara, dan tiga dari lima anggota komite
adalah orang Belanda.[5] PKH adalah partai komunis Asia pertama yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet
mewakili partai pada kongres kedua Komunis Internasional 1921.

Pada periode menjelang kongres keenam Sarekat Islam pada tahun 1921, anggota menyadari strategi Sneevliet dan mengambil
langkah untuk menghentikannya. Agus Salim, sekretaris organisasi, memperkenalkan sebuah gerakan untuk melarang anggota SI
memegang keanggotaan dan gelar ganda dari pihak lain di kancah perjuangan pergerakan indonesia. Keputusan tersebut tentu saja
membuat para anggota komunis kecewa dan keluar dari partai, seperti oposisi dari Tan Malaka dan Semaun yang juga keluar dari
gerakan karena kecewa untuk kemudian mengubah taktik dalam perjuangan pergerakan indonesia. Pada saat yang sama, pemerintah
kolonial Belanda menyerukan tentang pembatasan kegiatan politik, dan Sarekat Islam memutuskan untuk lebih fokus pada urusan
ganisasi nasionalis yang aktif.[6]
agama, meninggalkan komunis sebagai satu-satunya or

Bersama Semaun yang berada jauh di Moskow untuk menghadiri Far Eastern Labor Conference pada awal 1922, Tan Malaka
mencoba untuk mengubah pemogokan terhadap pekerja pegadaian pemerintah menjadi pemogokan nasional untuk mencakup semua
serikat buruh Indonesia. Hal ini ternyata gagal, Tan Malaka ditangkap dan diberi pilihan antara pengasingan internal atau eksternal.
[6]
Dia memilih yang terakhir dan berangkat ke Rusia.

Pada Mei 1922, Semaun kembali setelah tujuh bulan di Rusia dan mulai mengatur semua serikat buruh dalam satu organisasi. Pada
tanggal 22 September, Serikat Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Persatuan Vakbonded Hindia) dibentuk.[7]
Pada kongres Komintern kelima pada tahun 1924, ia menekankan bahwa "prioritas utama dari partai-partai komunis adalah untuk
mendapatkan kontrol dari persatuan buruh" karena tidak mungkin ada revolusi yang sukses tanpa persatuan kelas buruh ini

Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadiPartai Komunis Indonesia(PKI).[8]

Pemberontakan 1926
Pada Mei 1925, Komite Exec dari Komintern dalam rapat pleno
memerintahkan komunis di Indonesia untuk membentuk sebuah front anti-
imperialis bersatu dengan organisasi nasionalis non-komunis, tetapi unsur-
unsur ekstremis didominasi oleh Alimin & Musso menyerukan revolusi untuk
menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda.[9] Dalam sebuah konferensi di
Prambanan, Jawa Tengah, serikat buruh perdagangan yang dikontrol komunis
memutuskan revolusi akan dimulai dengan pemogokan oleh para pekerja
buruh kereta api yang akan menjadi sinyal pemogokan yang lebih umum dan
luas untuk kemudian revolusi akan bisa dimulai. Hal ini akan mengarah pada
Pertemuan PKI di Batavia (sekarang
[9]
PKI yang akan menggantikan pemerintah kolonial. Jakarta), 1925

Pada November 1926 PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan


kolonial di Jawa Barat dan Sumatera Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Bersama Alimin, Musso yang
merupakan salah satu pemimpin PKI di era tersebut sedang tidak berada di Indonesia. Ia sedang melakukan pembicaraan dengan Tan
Malaka yang tidak setuju dengan langkah pemberontakan tersebut. Pemberontakan ini akhirnya dihancurkan dengan brutal oleh
penguasa kolonial. Ribuan orang dibunuh dan sekitar 13.000 orang ditahan, 4.500 dipenjara, sejumlah 1.308 yang umumnya kader-
kader partai diasingkan, dan 823 dikirim ke Boven Digul, sebuah kamp tahanan di Papua [10]. Beberapa orang meninggal di dalam
tahanan. Banyak aktivis politik non-komunis yang juga menjadi sasaran pemerintahan kolonial, dengan alasan menindas
pemberontakan kaum komunis. Pada 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Karena itu, PKI kemudian bergerak
di bawah tanah.

Rencana pemberontakan itu sendiri sudah dirancang sejak lama. Yakni di dalam perundingan rahasia aktivis PKI di Prambanan.
Rencana itu ditolak tegas oleh Tan Malaka, salah satu tokoh utama PKI yang mempunyai banyak massa terutama di Sumatra. Tan
Malaka memprediksi bahwa pemberontakan akan gagal, karena menurutnya basis kaum proletar Indonesia adalah rakyat petani
bukan buruh seperti di Uni Soviet. Penolakan tersebut membuat Tan Malaka di cap sebagai pengikut Leon Trotsky yang juga sebagai
tokoh sentral perjuangan Revolusi Rusia. Walau begitu, beberapa aksi PKI justru terjadi setelah pemberontakan di Jawa terjadi.
Semisal Pemberontakan Silungkangdi Sumatra.

Pada masa awal pelarangan ini, PKI berusaha untuk tidak menonjolkan diri, terutama karena banyak dari pemimpinnya yang
dipenjarakan. Pada 1935 pemimpin PKI Musso kembali dari pengasingan di Moskwa, Uni Soviet, untuk menata kembali PKI dalam
gerakannya di bawah tanah. Namun Musso hanya tinggal sebentar di Indonesia. Kemudian PKI bergerak di berbagai front, seperti
misalnya Gerindo dan serikat-serikat buruh. Di Belanda, PKI mulai bergerak di antara mahasiswa-mahasiswa Indonesia di kalangan
organisasi nasionalis, Perhimpoenan Indonesia, yang tak lama kemudian berpihak pada PKI[11].

Kebangkitan pasca-perang
PKI muncul kembali di panggung politik setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, dan secara aktif mengambil bagian dalam
perjuangan kemerdekaan dari Belanda. Banyak unit bersenjata berada di bawah kontrol atau pengaruh PKI. Meskipun milisi PKI
memainkan peran penting dalam memerangi Belanda, Presiden Soekarno khawatir bahwa semakin kuatnya pengaruh PKI akhirnya
akan mengancam posisinya. Selain itu, pertumbuhan PKI bermasalah sektor sayap kanan lebih dari pemerintahan Indonesia serta
beberapa kekuatan asing, khususnya semangat penuh anti-komunis dari Amerika Serikat. Dengan demikian hubungan antara PKI dan
kekuatan lain yang juga berjuang untuk kemerdekaan pada umumnya berjalan sengit.
Pada Februari 1948 PKI dan Partai Sosialis membentuk front bersama, yaitu Front Demokrasi Rakyat. Front ini tidak bertahan lama,
namun Partai Sosialis kemudian bergabung dengan PKI. Pada saat itu milisiPesindo berada di bawah kendali PKI.

Pada tanggal 11 Agustus 1948 Musso kembali ke Jakarta setelah dua belas tahun di Uni Soviet. Politibiro PKI direkonstruksi,
termasuk D.N. Aidit, M.H. Lukman dan Njoto. Pada 5 September 1948 dia memberikan pidato anjuran agar Indonesia merapat
kepada Uni Soviet. Dan anjuran itu berujung pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun, Jawaimur.
T

Peristiwa Madiun 1948


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Peristiwa Madiun
Setelah penandatanganan Perjanjian Renville pada tahun 1948, hasil kesepakatan perundingan Renville dianggap menguntungkan
posisi Belanda. Sebaliknya, Indonesia menjadi pihak yang dirugikan dengan semakin sempit wilayah yang dimiliki. Banyak unit
bersenjata dari Partai Republik kembali dari zona konflik. Hal ini memberikan beberapa keyakinan sayap kanan Indonesia bahwa
mereka akan mampu menandingi PKI secara militer. Unit gerilya dan milisi di bawah pengaruh PKI diperintahkan untuk
membubarkan diri. Di Madiun kelompok militer PKI menolak untuk pergi bersama dengan perlucutan senjata para anggota yang
dibunuh pada bulan September tahun yang sama. Pembunuhan itu memicu pemberontakan kekerasan. Hal Ini memberikan alasan
untuk menekan PKI. Hal ini diklaim oleh sumber-sumber militer bahwa PKI telah mengumumkan proklamasi 'Republik Soviet
Indonesia' pada tanggal 18 September dengan menyebut Musso sebagai presiden dan Amir Syarifuddin sebagai perdana menteri.
Pada saat yang sama PKI mengecam pemberontakan dan meminta tenang. Pada 30 September Madiun diambil alih oleh TNI dari
Divisi Siliwangi. Ribuan kader partai terbunuh dan 36 000 dipenjara. Di antara beberapa pemimpin yang dieksekusi termasuk Musso
yang dibunuh pada 31 Oktober saat tertangkap di Desa Niten Kecamatan Sumorejo, Ponorogo. Diduga ketika Musso mencoba
melarikan diri dari penjara. Aidit dan Lukman pergi ke pengasingan di Republik Rakyat Tiongkok. Namun, PKI tidak dilarang dan
terus berfungsi. Rekonstruksi partai dimulai pada tahun 1949.

Bangkit kembali
Pada 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ
utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah. Pada 1950-an, PKI mengambil
posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung
kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden
Soekarno. Aidit dan kelompok di sekitarnya, termasuk pemimpin-pemimpin muda
seperti Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman, menguasai pimpinan partai pada
1951. Pada saat itu, tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 30 tahun.
Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000
anggota pada 1950, menjadi 165.000 pada1954 dan bahkan 1,5 juta pada1959 [12]

Oposisi lanjutan oleh Belanda terhadap Irian Jaya adalah masalah yang sering
diangkat oleh PKI selama tahun 1950.

Pada Agustus 1951, PKI memimpin serangkaian pemogokan-pemogokan, yang


diikuti oleh tindakan-tindakan tegas oleh kubu yang menentang PKI di Medan dan
Jakarta. Akibatnya, para pemimpin PKI kembali bergerak di bawah tanah untuk
sementara waktu.
DN Aidit berbicara pada pertemuan
Pada Februari 1958 sebuah upaya kudeta yang dilakukan oleh kekuatan pro-AS
pemilu 1955
antara militer dan politik sayap kanan. Para pemberontak, yang berbasis di Sumatera
dan Sulawesi, memproklamasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia
pada tanggal 15 Februari. Pemerintah Revolusioner yang terbentuk ini segera mulai menangkap ribuan anggota PKI di daerah di
bawah kendali mereka. PKI mendukung upaya Soekarno untuk memadamkan pemberontakan, termasuk pemberlakuan hukum
darurat militer. Pemberontakan itu akhirnya dikalahkan.
Pada bulan Agustus 1959, terjadi upaya atas nama militer untuk mencegah penyelenggaraan kongres PKI. Namun kongres digelar
sesuai jadwal, dan ditangani oleh Sukarno sendiri. Pada tahun 1960 Sukarno meluncurkan slogan Nasakom, singkatan dari
Nasionalisme, Agama, Komunisme. Dengan demikian peran PKI sebagai mitra junior dalam pemerintahan Sukarno resmi
dilembagakan. PKI menyambut baik peluncuran konsep Nasakom, melihatnya dari segi front persatuan multikelas.

Pemilu 1955
Sebelum pemilihan 1955, PKI disukai Sukarno untuk rencana 'demokrasi terpimpin'
dan merupakan pendukung aktif Sukarno.[13] Pada Pemilu 1955, PKI menempati
tempat ke empat dengan 16% dari keseluruhan suara. Partai ini memperoleh 39 kursi
(dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi diKonstituante.

Pada Juli 1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat. Pada bulan yang sama
PKI memperoleh banyak kemajuan dalam pemilihan-pemilihan di beberapa kota.
Pada September 1957, Masjumi yang merasa tersaingi oleh PKI secara terbuka
menuntut supaya PKI dilarang[14].
Perayaan Milad PKI yang ke 45 di
Pada 3 Desember 1957, serikat-serikat buruh yang pada umumnya berada di bawah Jakarta pada awal tahun 1965
pengaruh PKI, mulai menguasai perusahaan-perusahaan milik Belanda. Penguasaan
ini merintis nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh asing.
Perjuangan melawan para kapitalis asing memberikan PKI kesempatan untuk
menampilkan diri sebagai sebuah partai nasional.

Pada Februari 1958 terjadi sebuah upaya koreksi terhadap kebijakan Sukarno yang
mulai condong ke timur di kalangan militer dan politik sayap kanan. Mereka juga
menuntut agar pemerintah pusat konsisten dalam melaksanakan UUDS 1950, selain
itu pembagian hasil bumi yang tidak merata antara pusat dan daerah menjadi
pemicu. Gerakan yang berbasis di Sumatera dan Sulawesi, mengumumkan pada 15
Pemimpin DN Aidit bersama Sukarno
Februari 1958 telah terbentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
di acara perayaan ulang tahun Partai
Pemerintahan yang disebut revolusioner ini segera menangkapi ribuan kader PKI di
Komunis Indonesia
wilayah-wilayah yang berada di bawah kontrol mereka. PKI mendukung upaya-
upaya Soekarno untuk memadamkan gerakan ini, termasuk pemberlakuan Undang-
Undang Darurat. Gerakan ini pada akhirnya berhasil dipadamkan.

Pada 1959, militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun, kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal
dan Presiden Soekarno sendiri memberi angin pada komunis dalam sambutannya. Pada 1960, Soekarno melancarkan slogan
Nasakom yang merupakan singkatan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra
dalam politik Soekarno dilembagakan. PKI membalasnya dengan menanggapi konsep Nasakom secara positif, dan melihatnya
sebagai sebuah front bersatu yang multi-kelas dan multi-golongan.

1960
Meskipun PKI mendukung Sukarno, ia tidak kehilangan otonomi politiknya. Pada bulan Maret 1960, PKI mengecam penanganan
demokratis anggaran oleh Sukarno. Pada tanggal 8 Juli, Harian Rakyat menerbitkan sebuah artikel yang mengkritik kebijakan
pemerintah. Pemimpin PKI sempat ditangkap oleh militer
, namun kemudian dibebaskan atas perintah dari Sukarno.

Ketika gagasan tentang Malaysia berkembang, PKI maupun Partai Komunis Malaya menolaknya, dan baik PKI maupun Partai
Komunis Malaya menganggap pembentukan Malaysia sebagai proyek neo-kolonialisme dan neo-imperialisme Inggris dan sekutunya.

Dengan berkembangnya dukungan dan keanggotaan yang mencapai 3 juta orang pada 1965, PKI menjadi partai komunis terkuat di
luar Uni Soviet dan RRT. Partai itu mempunyai basis yang kuat dalam sejumlah organisasi massa, seperti SOBSI (Sentral Organisasi
Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dan
Himpunan Sardjana Indonesia (HSI). Menurut perkiraan seluruh anggota partai dan
organisasi-organisasi yang berada di bawah payungnya mungkin mencapai
seperlima dari seluruh rakyat Indonesia.

Pada bulan Maret 1962, PKI bergabung dengan pemerintah. Para pemimpin PKI,
Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat. Pada bulan April 1962, PKI
menyelenggarakan kongres partainya. Pada 1963, pemerintah Malaysia, Indonesia
dan Filipina terlibat dalam pembahasan tentang pertikaian wilayah dan kemungkinan
tentang pembentukan sebuah Konfederasi Maphilindo, sebuah gagasan yang Dipa Nusantara Aidit (kiri) dan
dikemukakan oleh presiden Filipina, Diosdado Macapagal. PKI menolak gagasan Revang dalam kongres kelimaPartai
Persatuan Sosialis Jerman, Berlin
pembentukan Maphilindo dan federasi Malaysia. Para anggota PKI yang militan
Timur, 11 Juli 1958
menyeberang masuk ke Malaysia dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran
dengan pasukan-pasukan Inggris dan Australia. Sebagian kelompok berhasil
mencapai Semenanjung Malaysia lalu bergabung dalam perjuangan di sana. Namun kebanyakan dari mereka ditangkap begitu tiba.
Sebagian satuan tempur PKI aktif di wilayah perbatasanKalimantan.

Salah satu hal yang dilakukan PKI setelah masuk kedalam pemerintahan Orde Lama adalah dengan diusulkannya Angkatan ke-5
yang terdiri dari buruh dan petani, Pimpinan PKI bermaksud dengan dibentuknya angkatan kelima ini diharapkan dapat mendukung
mobilisasi massa untuk menuntaskan Operasi Dwikora dalam menghadapi Malaysia. Namun, hal ini membuat TNI AD merasa
khawatir takut adanya penyelewengan senjata yang dilakukan PKI.

Pada Januari 1964 PKI mulai menyita properti Inggris yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan Inggris di Indonesia.

Pada pertengahan 1960-an Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memperkirakan keanggotaan partai meningkat menjadi sekitar
2 juta (3,8% dari populasi usia kerja negara).[15]

Pembunuhan massal dan akhir dari PKI


Sukarno bertindak menyeimbangkan antara PKI, militer, fraksi nasionalis, dan kelompok-kelompok Islam yang terancam oleh
kepopuleran PKI. Pengaruh pertumbuhan PKI menimbulkan keprihatinan bagi pihak Amerika Serikat dan kekuatan barat anti-
komunis lainnya. Situasi politik dan ekonomi menjadi lebih tidak stabil; Inflasi tahunan mencapai lebih dari 600 persen dan
kehidupan Indonesia memburuk.

PKI dirasakan oleh kalangan politik, beberapa bulan menjelang Peristiwa G30S, makin kuat. Sehingga para pesaing PKI mulai
khawatir PKI akan memenangkan pemilu berikutnya. Gerakan-gerakan untuk menentang PKI mulai bermunculan, dan dipelopori
oleh Angkatan Darat. Pada Desember 1964, Chaerul Saleh dari Partai Murba (dibentuk oleh mantan pemimpin PKI Tan Malaka)
menyatakan bahwa PKI sedang mempersiapkan kudeta. PKI menuntut larangan Partai Murba, tuntutan itu dipaksakan kepada
Soekarno pada awal 1965. Dalam konteks Konfrontasi dengan Malaysia, PKI menyerukan untuk 'mempersenjatai rakyat'. Sebagian
besar pihak dari tentara Angkatan Darat melarang hal ini. Sikap Soekarno tetap secara resmi untuk tidak terlalu mengambil sikap atas
hal tersebut karena Sukarno cenderung mendukung Konfrontasi dengan Malaysia seperti PKI. Pada bulan Juli sekitar 2000 anggota
PKI mulai menggelar pelatihan militer di dekat pangkalan udara Halim. Terutama dalam konsep 'mempersenjatai rakyat' yang telah
memenangkan banyak dukungan di antara kalangan militer Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Pada tanggal 8 September
demonstran PKI memulai untuk pengepungan selama dua hari di Konsulat AS di Surabaya. Pada tanggal 14 September, Aidit
mengalamatkan kepada gerilyawan PKI untuk mendesak anggota agar waspada dari hal-hal yang akan datang. Pada 30 September
Pemuda Rakyat dan Gerwani, kedua organisasi PKI terkait menggelar unjuk rasa massal di Jakarta terhadap krisis inflasi yang
melanda.

Pada malam 30 September dan 1 Oktober 1965, enam jenderal senior Indonesia dibunuh dan mayat mereka dibuang ke dalam sumur.
Pembunuh para jenderal mengumumkan keesokan harinya bahwa Dewan Revolusi baru telah merebut kekuasaan, yang menyebut diri
mereka "Gerakan 30 September ("G30S"). Dengan banyaknya jenderal tentara senior yang mati atau hilang, Jenderal Suharto
mengambil alih kepemimpinan tentara dan menyatakan kudeta yang gagal pada 2 Oktober. Tentara dengan cepat menyalahkan upaya
kudeta PKI dan menghasut dengan kampanye propaganda anti-Komunis di seluruh Indonesia. Bukti yang mengaitkan PKI untuk
pembunuhan para jenderal tidak meyakinkan, yang mengarah ke spekulasi
bahwa keterlibatan mereka sangat terbatas, atau bahwa Suharto mengorganisir
peristiwa, secara keseluruhan atau sebagian, dan mengkambinghitamkan
kepada komunis. Dalam pembersihan anti-komunis melalui kekerasan
berikutnya, diperkirakan 500.000 komunis (atau dicurigai) dibunuh, dan PKI
secara efektif dihilangkan (lihat Pembantaian di Indonesia 1965–1966).
Jenderal Suharto kemudian mengalahkan Sukarno secara politik dan diangkat
menjadi presiden pada tahun 1968, karena mengkonsolidasikan pengaruhnya

Soeharto menghadiri pemakaman atas militer dan pemerintah.


jenderal-jenderal yang dibunuh pada
Pada tanggal 2 Oktober basis di Halim berhasil ditangkap oleh pihak tentara.
tanggal 5 Oktober 1965. (Gambar oleh
Departemen Penerangan Indonesia) Harian Rakyat mengambil isu pada sebuah artikel yang berisi untuk
mendukung kudeta G30S, tetapi spekulasi kemudian bangkit mengenai apakah
itu benar-benar mewakili pendapat dari PKI. Sebaliknya pernyataan resmi PKI
pada saat itu adalah bahwa upaya G30S merupakan urusan internal di dalam angkatan bersenjata mereka. Pada tanggal 6 Oktober
kabinet Sukarno mengadakan pertemuan pertama sejak 30 September. Menteri PKI hadir. Sebuah resolusi mengecam G30S disahkan.
Njoto ditangkap langsung setelah pertemuan itu.

Presiden Soekarno berkali-kali melakukan pembelaan bahwa PKI tidak terlibat dalam peristiwa sebagai partai melainkan karena
adanya sejumlah tokoh partai yang bertindak di luar kontrol dan terpancing oleh inisiasi Barat, dan karena itu Soekarno tidak akan
membubarkan PKI. Kemudian, pimpinan dan sejumlah perwira Angkatan Darat memberi versi keterlibatan PKI sepenuhnya, dalam
penculikan dan pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat pada tengah malam 30 September menuju
dinihari 1 Oktober 1965. Versi ini segera diterima secara umum sesuai fakta kasat mata yang terhidang dan ditopang pengalaman
buruk bersama PKI dalam kehidupan sosial dan politik pada tahun-tahun terakhir. Hanya saja harus diakui bahwa sejumlah perwira
penerangan telah menambahkan dramatisasi terhadap kekejaman, melebihi peristiwa sesungguhnya (in factum). Penculikan dan
kemudian pembunuhan para jenderal menurut fakta memang sudah kejam, tetapi dramatisasi dengan pemaparan yang hiperbolis
dalam penyajian, telah memberikan efek mengerikan melampaui batas yang mampu dibayangkan semula. Dan akhirnya,
mengundang pembalasan yang juga tiada taranya dalam penumpasan berdarah antar manusia di Indonesia.

Manifestasi besar diadakan di Jakarta dua hari kemudian, menuntut pelarangan PKI. Kantor utama milik PKI dibakar. Pada tanggal
13 Oktober organisasi Islam Ansor mengadakan aksi unjuk rasa anti-PKI di seluruh Jawa. Pada tanggal 18 Oktober sekitar seratus
PKI dibunuh oleh pihak Ansor. Pemusnahan secara sistematis untuk partai telah dimulai.

Antara 300.000 sampai satu juta orang Indonesia dibunuh dalam pembunuhan massal yang digelar.[16] [4] Para korban termasuk juga
non-komunis yang dibunuh karena kesalahan identitas atau "kesalahan oleh asosiasi". Namun, kurangnya informasi menjadi tidak
mungkin untuk menentukan angka pasti dari jumlah korban yang dibunuh. Banyak para peneliti hari ini menjelaskan korban yang
dibunuh antara 200.000 sampai 500.000 orang.[17] Sebuah studi dari CIA tentang peristiwa di Indonesia ini menilai bahwa "Dalam
hal jumlah korban pembantaian oleh anti-PKI, Indonesia masuk dalam salah satu peringkat pembunuhan massal terburuk pada
abad ke-20 ...".[18]

Time menyajikan berita berikut pada tanggal 17 Desember 1966:

Komunis, simpatisan merah dan keluarga mereka dibantai yang mencapai ribuan. Unit tentara dilaporkan telah
mengeksekusi ribuan komunis setelah diinterogasi di penjara-penjara terpencil. Berbekal pisau berbilah lebar
yang disebut parang, kelompok Muslim merayap di malam hari ke rumah-rumah komunis, membunuh seluruh
keluarga dan mengubur mayat mereka di kuburandangkal.

Kampanye pembunuhan ini sangatlah kejam di beberapa daerah pedesaan di Jawa Timur, para milisi Islam
menancapkan kepala korban pada tiang dan mereka mengarak melalui desa-desa. Pembunuhan telah ada pada
skala tinggi sehingga pembuangan mayat menciptakan masalah sanitasi yang serius di Jawa Timur dan Sumatera
Utara di mana udara lembab penuh bau busuk daging. Pengunjung dari daerah tersebut mengatakan sungai kecil
dan besar yang telah benar-benar tersumbat dengan mayat tubuh.
Meskipun motif pembunuhan tampaknya bernuansa politik, beberapa ahli berpendapat bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh
keadaan panik dan ketidakpastian politik. Bagian dari kekuatan anti-komunis yang bertanggung jawab atas pembantaian terdiri dari
para pelaku tindak kriminal seperti para preman, yang telah diberi izin untuk terlibat dalam tindakan yang tidak masuk akal berupa
kekerasan.[19] Motif lain yang terjadi juga telah dieksplorasi.

Di tingkat internasional, Kantor Berita RRT (Republik Rakyat Tiongkok), Xinhua, memberikan versi bahwa Peristiwa 30 September
1965 adalah masalah internal Angkatan Darat Indonesia yang kemudian diprovokasikan oleh dinas intelijen Barat sebagai upaya
percobaan kudeta oleh PKI.

Di antara daerah-daerah yang terkena dampak terburuk adalah pulau Bali, di mana PKI telah berkembang pesat sebelum tindakan
kerasasan tersebut. Pada tanggal 11 November bentrokan meletus antara PKI dan PNI, yang berakhir dengan pembantaian terhadap
anggota dan simpatisan yang dituduh PKI. Jika banyak dari pogrom anti-PKI di seluruh daerah lain itu dilakukan oleh organisasi-
organisasi politik Islam, pembunuhan di Bali dilakukan atas nama Hindu. Bali berdiri sebagai satu-satunya tempat di Indonesia di
mana tentara lokal dalam beberapa cara intervensi cenderung mengurangi praktik pembantaian tersebut.

Pada tanggal 22 November, Aidit ditangkap dan dibunuh.

Pada bulan Desember militer menyatakan bahwa Aceh telah dibersihkan dari komunis. Bersamaan, khusus Pengadilan Militer yang
dibentuk untuk mengadili dan memenjarakan para anggota PKI. Pada 12 Maret, partai PKI secara resmi dilarang oleh Suharto, dan
serikat buruh pro-PKISOBSI dilarang pada bulan April.

Penjara-penjara di Jakarta begitu penuh, hampir seluruh penjara digunakan untuk menahan anggota PKI. Banyak tahanan politik
ditahan tanpa dasar yang jelas. Sejak saat itu, identitas banga Indonesia berubah total sesudah 1965. Semangat anti-kolonialisme
hilang dan anti-komunisme menjadi dasar identitas bangsa. Kebencian terhadap sesama orang Indonesia menjadi basis untuk
menentukan siapa warganegara yang jahat dan baik.[20]

Beberapa peristiwa yang menggemparkan itu dituangkan dalam novel fiksi populer dan difilmkan dengan judul yang sama yaitu The
Year of Living Dangerously (1982).

Perkembangan pasca-1965
Meskipun mendapat perlawanan secara sporadis, PKI berdiri dengan lumpuh setelah pembunuhan 1965-1966. Sebagai hasil dari
pembunuhan massal ini, kepemimpinan partai lumpuh di semua tingkat, meninggalkan banyak mantan pendukung dan kekecewaan
simpatisan, tanpa pemimpin lagi, dan tidak terorganisir. Pada bulan September 1966, sisa-sisa partai politbiro mengeluarkan
pernyataan kritik diri, mengkritik kerja sama sebelumnya dengan rezim Sukarno. Setelah pembunuhan Aidit dan Njoto, Sudisman,
pemimpin PKI di tingkat keempat sebelum Oktober 1963, mengambil alih kepemimpinan partai. Dia berusaha untuk membangun
kembali partai atas dasar saling keterkaitan tiga kelompok anggota, namun hanya berdampak sedikit kemajuan sebelum akhirnya ia
ditangkap pada Desember 1966[21]. Pada tahun 1967 ia dijatuhi hukuman mati.

Beberapa kader PKI telah mengungsi di sebuah wilayah terpencil di selatan Blitar, Jawa Timur menyusul tindakan kekerasan
terhadap partai. Di antara para pemimpin yang hadir di Blitar adalah anggota Politbiro Rewang, teoretikus partai Oloan Hutapea, dan
pemimpin Jawa Timur Ruslan Widjajasastra. Blitar merupakan daerah tertinggal dengan PKI yang memiliki dukungan kuat di
kalangan kaum tani. Pihak militer tidak menyadari bahwa PKI telah mampu mengkonsolidasikan dirinya di sana. Para pemimpin PKI
ini bergabung dengan Letkol Pratomo, mantan komandan Distrik Militer Pandeglang di Jawa Barat, yang membantu memberikan
pelatihan militer untuk Komunis lokal di Blitar. Namun pada Maret 1968 kekerasan meletus di Blitar, petani lokal menyerang para
pemimpin dan kader Nahdatul Ulama, sebagai balasan atas Nahdatul Ulama yang telah memainkan peran dalam penganiayaan
antikomunis. Sekitar 60 kader NU tewas. Namun ilmuwan politik Australia Harold Crouch berpendapat bahwa itu tidak mungkin
bahwa pembunuhan kader NU di Blitar telah dilakukan atas perintah dari para pemimpin PKI di Blitar. Militer menyadari daerah
[22]
kantong PKI di Blitar tersebut dan menghancurkannya pada pertengahan tahun 1968.
Beberapa kader partai yang sementara di luar Indonesia pada saat peristiwa 30 September. Terutama delegasi yang cukup besar
melakukan perjalanan ke Republik Rakyat Tiongkok untuk berpartisipasi dalam perayaan ulang tahun Revolusi Cina. Sedangkan
yang lainnya telah meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi di Eropa Timur. Dalam pengasingan, aparatur partai terus
berfungsi. Bagaimanapun, sebagian besar dari mereka terisolasi dari perkembangan politik di dalam Indonesia. Di Jawa, beberapa
desa yang dikenal sebagai tempat perlindungan bagi anggota atau simpatisan yang telah diidentifikasi oleh pihak berwenang, dan
dilindungi di bawah pengawasan secara hati-hati untuk waktu yang cukup.

Sampai tahun 2004, mantan anggota PKI masih dilarang dan masuk daftar hitam dari banyak pekerjaan termasuk apabila ingin
bekerja di pemerintahan, sebagaimana kebijakan rezim Soeharto yang telah dijalankan sejak pembersihan PKI tahun 1965. Selama
masa presiden Abdurrahman Wahid, ia mengundang mantan buangan PKI untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1999, dan
mengusulkan menghilangkan pembatasan diskusi terbuka atas ideologi komunis. Dalam berdebat untuk penghapusan larangan itu,
Wahid mengutip dari UUD 1945 Indonesia, yang tidak melarang atau bahkan secara khusus menyebutkan komunisme. Usulan Wahid
itu ditentang oleh beberapa kelompok masyarakat Indonesia, khususnya kelompok Islam konservatif. Dalam sebuah protes pada
April 2000, sebuah kelompok yang disebut Front Islam Indonesia berjumlah sepuluh ribu orang datang ke Jakarta terkait usulan
d teliti" terhadap ide tersebut.[23]
Wahid. Tentara tidak segera menolak proposal tersebut, namun menjanjikan "studi komprehensifan

Wacana permintaan maaf


Presiden Joko Widodo berencana akan meminta maaf kepada keluarga korban PKI yang telah menjadi korban pelanggaran Hak Asasi
Manusia di masa pembangunan Orde Baru,[24] namun kabar itu dibantah langsung oleh presiden.[25][26] Menurut Menkopolhukam
Luhut Panjaitan upaya-upaya untuk rekonsiliasi pelanggaran HAM masa lampau diakui sedang dilakukan dan terus mencari format
yang tepat.[27] Sedangkan Jaksa AgungMuhammad Prasetyo yang tengah mengupayakan langkah non yudisial atau rekonsiliasi yang
[28]
berujung pada ungkapan penyesalan negara terhadap peristiwa itu dengan tetap menolak permintaan maaf oleh Presiden.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengharapkan presiden dapat mengambil inisiatif untuk meminta maaf atau menyatakan
penyesalan kepada korban pelanggaran HAM pasca 1965 mengingat dampaknya begitu besar berkelanjutan ke anak, saudara dan
keturunan terkait. Dengan tidak berdirinya proses peradilan pada peristiwa 1965, tidak semua korban baik yang sudah dibunuh,
[29]
dibuang ke pulau pengasingan maupun dipenjara terlibat langsung dengan PKI.

Kontra
Beberapa ormas dan elemen agama menolak wacana permintaan maaf tersebut dan menggelar aksi unjuk rasa.[30][31] Menhan
Ryamizard Ryacudu menolak permintaan maaf terhadap PKI dengan alasan PKI yang melakukan pembunuhan terhadap 7
jenderal.[32] Permintaan maaf terhadap PKI juga ditolak oleh KSAD JenderalGatot Nurmantyo.[33]

Penolakan permintaan maaf terhadap PKI juga datang dari budayawan Taufiq Ismail karena menurutnya PKI telah 3 kali
memberontak yaitu tahun 1927, 1948 dan 1965.[34]

Lihat pula
Badan Permusjawaratan Partai- Pembantaian di Indonesia 1965–
Komunisme Partai 1966
Sosialisme Gerwani Orde Baru
Marhaenisme Lembaga Kebudajaan Rakjat Jejak Langkah Orde Baru
Karl Marx Pemuda Rakyat Bersatu Sarwo Edhie Wibowo
Friedrich Engels Pemberontakan Partai Komunis Resimen Para Komando
Manifesto Komunis Indonesia 1926 Angkatan Darat
Komunisme di Sumatra Peristiwa Madiun 1948 Sejarah Indonesia (1965-1966)
Angkatan Kelima Gerakan 30 September 1965

Galeri
Perayaan ulang tahun Pertemuan PKI di DN Aidit saat Pidato dari Presiden
Partai Komunis Batavia memberikan sambutan Sukarno yang
Indonesia bersama DN pada ulang tahun ke-5 menunjukkan bagaimana
Aidit dan Sukarno Partai Persatuan Sosialis komunisme juga menjadi
Jerman (Sozialistische kekuatan yang
Einheitspartei membawa Indonesia
Deutschlands) di Berlin menuju identitas Negara
(1958). yang kuat, dengan
semangat nasionalis,
agama dan komunis.

Sorak-sorai dan Pengemudi becak di Anggota dan simpatisan


pengibaran bendera Bandung memakai Partai Komunis
bergambar palu arit bendera palu arit sebagai Indonesia
menjadi pemandangan hiasan di becaknya. Juga menyandingkan foto
sehari-hari di berbagai sebagai identitas ideologi pemimpin besar revolusi
kota di pulau Jawa. warga. Indonesia dengan
bendera Partai Komunis
Indonesia

Referensi

Referensi umum
Crouch, Harold (1978).The Army and Politics in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.ISBN 0-
8014-1155-6.
Mortimer, Rex (1974). Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965 . Ithaca, New York:
Cornell University Press.ISBN 0-8014-0825-3.
Ricklefs, M.C. (1982). A History of Modern Indonesia. London: MacMillan. ISBN 0-333-24380-3.
Sinaga, Edward Djanner (1960).Communism and the Communist Party in Indonesia(MA Thesis). George
Washington University School of Government.
Roosa, John (2006). Pretext for Mass Murder, The September 30th Movement & Suharto's Coup D'état. Madison,
Wisconsin: University of Wisconsin Press.ISBN 978-0-299-22034-1.
Catatan
1. ^ Mortimer (1974) p19
2. ^ Ricklefs(1982)p259
3. ^ marxist.com (http://www.marxist.com/Asia/earlyPKI.html)
4. ^ Nuri, Wasul (2008). "Perseteruan Partai Masyumi dengan Partai Komunis Indonesia 1945-1960"
. Jurusan Sejarah
dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijagaogyakarta.
Y
5. ^ a b Sinaga (1960) p2
6. ^ a b Sinaga (1960) p7
7. ^ Sinaga (1960) p9
8. ^ George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia(Cornell University Press: Ithaca. New Y
ork,
1952) p. 77.
9. ^ a b Sinaga (1960) p10
10. ^ [1] (http://www.independent-bangladesh.com/news/may/20/20052005ed.htm), Independent-Bangladesh.com,
diakses 28 April 2008
11. ^ [2] (http://www.marxists.org/indonesia/indones/pkihist.htm), Marxists.org, diakses28 April 2008
12. ^ 'Communism and Stalinism in Indonesia'(http://archive.workersliberty.org/wlmags/wl61/indonesi.htm),
WorkersLiberty.org, diakses 28 April 2008
13. ^ Indonesians Go to the Polls: The Parties and their Stand on Constitutional Issues by Harold F. Gosnell. In Midwest
Journal of Political ScienceMay, 1958. p. 189
14. ^ 'The Sukarno years: 1950 to 1965'(http://www.gimonca.com/sejarah/sejarah09.shtml), Gimonca.com, diakses28
April 2008
15. ^ Benjamin, Roger W.; Kautsky, John H.. Communism and Economic Development(http://links.jstor.org/sici?sici=000
3-0554%28196803%2962%3A1%3C110%3ACAED%3E2.0.CO%3B2-V) , in The American Political Science Review,
Vol. 62, No. 1. (Mar., 1968), pp. 122.
16. ^ Robert Cribb, ed., The Indonesian killings of 1965-1966: studies from Java and Bali(Clayton, Vic.: Monash
University Centre of Southeast Asian Studies, Monash Papers on Southeast Asia no 21, 1990).
17. ^ Totten, Samuel (2004). Century of Genocide. New York: Routledge. hlm. 239.; Robert Cribb, "How many deaths?
Problems in the statistics of massacre in Indonesia (1965-1966) and Eastimor T (1975-1980)" Violence in Indonesia.
Ed. Ingrid Wessel and Georgia Wimhöfer. Hamburg: Abera, 2001. 82-98.[3] (http://works.bepress.com/robert_cribb/
2)
18. ^ Kahin, George McT. and Kahin, Audrey R. Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles
Debacle in Indonesia. New York: The New Press, 1995.
19. ^ Totten, Samuel (2004). Century of Genocide. New York: Routledge. hlm. 238.
20. ^ "Lembaran Hitam Komunis di Indonesia". plasa.msn.com. September 2013. Diakses tanggal 12 April 2014.
21. ^ Harold Crouch, 226-27.
22. ^ Harold Crouch, 227.
23. ^ Asian News Digest (2000) 1(18):279 and 1(19):295-296.
24. ^ "Permohonan Maaf Jokowi Ke PKI Masih T erus Digodok". detik.com. Diakses tanggal 30 September 2015.
25. ^ "G30S 1965, Jokowi Bicara Permintaan Maaf ke Keluarga PKI" . tempo. Diakses tanggal 30 September 2015.
26. ^ "Istana Resah Presiden Jokowi Diisukan Minta Maaf ke PKI" . tribunnews. Diakses tanggal 30 September 2015.
27. ^ "Luhut: Tak Ada Permintaan Maaf Soal PKI, T api Pemerintah Akan Rekonsiliasi". news.detik. Diakses tanggal 30
September 2015.
28. ^ "Jaksa Agung: Bukan Minta Maaf ke PKI, T api Penyesalan atas Peristiwa Itu". news.detik. Diakses tanggal 30
September 2015.
29. ^ "Komnas HAM: Presiden minta maaf kepada korban, bukan kepada PKI" . bbc.com. Diakses tanggal 30 September
2015.
30. ^ "Ketum PBNU Ingatkan Jokowi Tidak Minta Maaf ke PKI". news.detik. Diakses tanggal 30 September 2015.
31. ^ "Banser Jatim Tolak Presiden Jokowi Minta Maaf ke PKI". tribunnews. Diakses tanggal 30 September 2015.
32. ^ http://news.okezone.com/read/2015/08/18/337/1198281/permohonan-maaf-jokowi-ke-pki-masih-terus-digodok
33. ^ http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/12/nrcr1s-isu-pemerintah-minta-maaf-ke-korban-g-30-s-
pki-ini-jawaban-gatot-nurmantyo
34. ^ http://news.okezone.com/read/2015/08/21/337/1200498/pki-dalam-kacamata-budayawan-taufik-ismail/

Pranala luar
People of Indonesia, Unite and Fight to Overthrow the Fascist Regime
Defence speech given by Sudisman in 1967
Shadow Play - Information regarding the 1965 coup and subsequent persecution of the PKI.
The First Period of the Indonesian Communist Party (PKI): 1914-1926
(Indonesia) Pemberontakan Yang Gagal
(Indonesia) Pidato pembelaan Sudisman di Sidang Mahmilub
(Inggris) Indonesian Communist Party
(Inggris) Pernyataan Biro Politik CC-PKI, 1966
(Inggris) Kebangkitan dan keruntuhan PKIoleh Craig Bowen
(Indonesia) Lagu Genjer-Genjer - Lagu yang dilarang oleh Pemerintah Indonesia pada zaman Orde Baru @
YouTube.com

Bacaan terkait
Jochen Hippler, Nasr Hamid Abu Zaid, Amr Hamzawy: Krieg, Repression, Terrorismus. Politische Gewalt und
Zivilisation in westlichen und muslimischen Gesellschaften . ifa, Stuttgart 2006, S. 55-58 (Review)
Hunter, Helen-Louise, (2007)Sukarno and the Indonesian coup : the untold storyWestport, Conn. : Praeger Security
International. PSI reports (Westport, Conn.)ISBN 9780275974381 (hbk.)ISBN 0275974383 (hbk.)
J.L. Holzgrefe / Robert O. Keohane:Humanitarian Intervention: Ethical, Legal and Political Dilemmas . Cambridge
(2003). ISBN 0-521-52928-X, S. 47
Mark Levene u. Penny Roberts:The Massacre in History. (1999). ISBN 1-57181-935-5, S. 247-251
Robert Cribb, 'The Indonesian Marxist tradition', in C.P
. Mackerras and N.J. Knight, eds,Marxism in Asia (London:
Croom Helm, 1985), pp. 251–272[5].

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Partai_Komunis_Indonesia&oldid=14574876


"

Halaman ini terakhir diubah pada 9 Desember 2018, pukul 13.10.

Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons


; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat
Ketentuan Penggunaanuntuk lebih jelasnya.