Anda di halaman 1dari 6

Makalah Kelompok Hari : Selasa

Mk.SPMI Tanggal : 29 Januari 2019

CIRI-CIRI PENGELOLAAN MAKANAN DI PANTI ASUHAN


Disusun Oleh:
Kelompok 1
Kelas 2.A
Aulia Ismi Arlin (P031713411007)
Dian Agusti Ramadhani (P031713411009)
Eka Rohmawati (P031713411012)
Kinanty Heriati (P031713411019)
Miftah Suci Azizi (P031713411022)
Oriza Santifa (P031713411025)
Switri Mega Dewi (P031713411035)

Dosen Pembimbing :
Fitriani,SKM, MKM
Roziana, SST, M.Gizi

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENEKES RIAU
JURUSAN GIZI
2018/2019
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pelayanan Gizi Institusi Sosial
Makanan institusi sosial adalah makanan yang dipersiapkan dan dikelola
untuk masyarakat yang diasuhnya, tanpa memperhitungkan keuntungan dari
institusi tersebut.
Pelayanan Gizi Institusi Sosial adalah pelayanan gizi yang dilakukan
oleh pemerintah atau swasta yang berdasarkan azas sosial dan bantuan.
Sedangkan makanan institusi sosial adalah makanan yang dipersiapkan dan
dikelola untuk masyarakat yang diasuhnya, tanpa memperhitungkan
keuntungan dari institusi tersebut. Berikut yang termasuk golongan ini
adalah panti asuhan, panti jompo, panti tuna netra, tuna rungu, dan lembaga
sejeis lainnya yang menglola makanan institusi secara sosial (Mukrie &
Nursiah A. 1990).

2.1.1 Ciri-ciri penyelenggaraan makanan institusi

Ciri-ciri penyelenggaraan makanan institusi, adalah :

1. Penyelenggaraan makanan dilakukan oleh institusi sendiri dan tidak


mencari keuntungan.

2. Dana yang diperlukan untuk penyelenggaraan makanan sudah


ditetapkan jumlahnya sehingga penyelenggaraan harus menyesuaikan
pelaksanaanya dengan dana yang tersedia.

3.Makanan yang diolah dan dimasak didapur yang berada dilingkungan


tempat institusi berada.

4.Hidangan makanan yang disajikan tidak banyak berbeda dengan


hidangan yang biasa disajikan dilingkungan keluarga (Sjahmien Moehyi,
1992).
Menurut Mukrie & Nursiah. A (1990) , Ciri-ciri MMI di Panti asuhan:

1. Pengelolaannya oleh atau mendapat bantuan dari Departemen Sosial


atau badan-badan amal lainnya.
2. Melayani sekelompok masyarakat dari usia 0 – 75 tahun, sehingga
memerlukan kecukupan gizi yang berbeda-beda.
3. Mempertimbangkan bentuk makanan, suka dan tidak suka anak
asuh/klien menurut kondisi klien (kecukupan gizi anak dan
kecukupan gizi orang dewasa/jompo).
4. Harga makanan yang disajikan selayaknya wajar dan tidak
mengambil keuntungan sesuai dengan keterbatasan dana. Dana yang
tersedia terbatas.
5. Kosumen mendapat makanan 2 – 3 kali ditambah makanan selingan
1-2 kali perhari. Makanan yang disediakan dengan secara kontinyu
setiap hari.
6. Macam konsumen yang dilayani macam-macam dan jumlahnya
tetap.
7. Susunan hidangan sederhana dan variasi terbatas.

2.1.2 Tujuan Penyelenggaraan makanan institusi sosial

Penyelenggaraan makanan institusi sosial bertujuan untuk mengatur


menu yang tepat agar dapat diciptakan makanan yang memenuhi kecukupan
gizi klien (Bakrie. P., Intiyati. A., dan Widartika. 2018).

2.1.3 Karakteristik Penyelenggaraan makanan institusi sosial

Menurut Bakrie. P., Intiyati. A., dan Widartika (2018) Karakteristik


penyelenggaraan makanan institusi sosial adalah:

1. Pengelolaannya oleh atau mendapat bantuan dari departemen sosial atau


badan-badan amal lainnya.
2. Melayani sekelompok masyarakat semua umur, sehingga memerlukan
kecukupan gizi yang berbeda-beda. Oleh karena itu perlu perhitungan
yang saksama untuk memenuhi kebutuhan porsi makanan masing-
masing kelompok umur.

3. Mempertimbangkan bentuk makanan, suka atau tidak suka klien


menurut kondisi klien (kecukupan gizi anak dan kecukupan gizi orang
dewasa/usia lanjut). Jadi kemungkinan perlu membuat bentuk dan cara
pengolahan yang berbeda-beda untuk masing-masing klien.

4. Harga makanan yang disajikan seyogyanya wajar dan tidak mengambil


keuntungan, sesuai dengan keterbatasan dana.

5. Konsumen mendapat makanan 2-3 kali ditambah makanan selingan 1-2


kali sehari

6. Makanan disediakan secara kontinu setiap hari.

7. Macam dan jumlah konsumen yang dilayani tetap.

8. Susunan hidangan sederhana dan variasi terbatas.

2.1.3 Kekurangan Institusi Sosial :

1. Tenaga pemasak jarang (mungkin tidak ada) yang melibatkan ahli gizi

 Untuk panti umumnya orang anak-anak atau orang dewasa yang


dilibatkandalam pengelolaan, pengawasan dan pelaksanaan pemasakan.
2. Keterbatasan dana terutama panti asuhan yang dikelola perorangan.
Konsumsi gizi rendah.

Penyelenggaraan makanan institusi social ini, sebagian besar mendapat


subsidi dari pemerintah pusat, daerah ataupun dari yayasan-yayasaan amal
yang ada. Disamping itu juga ada donatur tetap dan donator tidak tetap,
keadaan ini yang mengakibatkan pengelola makanan institusi harus dapat
memperhitungkan secara tepat sehingga tidak mengganggu kelancaran
pelaksanaannya (Bakrie. P., Intiyati. A., dan Widartika. 2018).
DAFTAR PUSTAKA

Bakrie. P., Intiyati. A., dan Widartika. 2018. Sistem penyelenggaraan


Makanan Institusi. Kemenkes RI
Mukrie, Nursiah A. 1990. Manajemen Pelayanan Gizi Institusi Dasar.
Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Gizi Pusat dan Akademi
Gizi Depkes Jakarta : Jakarta
Moehyi, S. 1999. Pengaruh Makanan dan Diet Untuk Penyembuhan
Penyakit. Gramedia : Jakarta