Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang


Kebudayaan merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi system ide yang terdapat dalam fikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari
hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Masyarakat di luar bangsa Arab yang menerima Islam,
pada uumnya telah hidup dalam suatu system budaya yang telah berkembang melebihi
perkembangan system budaya bangsa Arab pada masa turunnya Islam. Dengan demikian
Islam menghadapi unsure-unsur budaya baru yang berbeda dengan unsure-unsur budaya
bangsa Arabj yang pernah dihadapinya. Islam adalah agam fitrah yang berdasarjan potensi
dasar manusiawi dengan landasan petunjujk Allah. Pendidikan Islam berarti menumbuhkan
dan mengembangkan potensi fitrah tersebut dan mewujudkannya dalam system budaya
manusiawi yang Islami. Adapun budaya manusia yang telah berkembang yang menyimpang
dari potensi dari ditrah manusiawi dan bertentangan dengan prinsip-prindsip budaya Isalm ,
Islam menolaknya dan menggantinya dengan budaya baru yang Islami.

Pada masa pertumbuhan kebudayaan Islam terjadi perselisihan antara prinsip-prinsip


budaya Islam dengan budaya manusiawi yang telah berkembang.perselisihan tersebut terjadi
dalam perbedaan-perbedaan pemikiran dan pandangan yang menimbulkan sikap
kebijaksanaan yang berbeda-beda pula dalam menghadapi masalah-masalah baru. Bentuk
konkritnya adalah timbulnya berbagai aliran dan mazhab dalam aspek budaya Islam.
1.2 Rumusan Masalah

Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa dapat :

1. Menjelaskan pengertian sistem politik islam.

2. Menjelaskan mazhab (aliran-aliran) politik dalam islam.

3. Bersikap komprehensif dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan.

4. Menjelaskan garis-garis besar bahasan sistem politik islam.

1.3 Tujuan

1. untuk mengetahui apa itu sistem politik islam.

2. untuk mengetahui nilai-nilai dasar sistem politik dalam islam.

3. mengetahui ruang lingkup pembahasan siasah


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian politik islam

Umat islam berbeda pendapat tentang kedudukan politik dalam syariat islam. Pendapat
pertama menyatakan bahwa islam adalah agama yang serba lengkap. Di dalamnya terdapat
antara lain ketatanegaraan atau politik. Dalam bahasa lain, sistem politik atau disebut juga
fiqih siasah merupakan bagian integral dari ajaran islam, lebih jauh kelompok berpendapat
bahawa sistem ketatanegaraan yang harus diteladani adalah sistem yang harus diteladani
oleh Nabi Muhammad saw. Dan oleh para khulafa al-Rasyidin yaitu sistem khalifah.
Kedua,kelompok yang berpendirian bahwa islam adalah agama dalam pengertian barat.
Artinya agama tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi
Muhammad hanyalah seorang Rasul, seperti rasul-rasul yang lain bertugas menyampaikan
risalah tuhan kepada segenap alam. Nabi tidak bertugasuntuk mendirikan atau memimpin
suatu negara.
Aliran ketiga menolak bahwa islam adalah agama yang serba lengkap yang terdapat
didalamnya segala sistem kehidupan termasuk sistem ketatanegaraan, tetapi juga menolak
pendapat bahwa islam sebagaimana pendapat barat yang hanya mengatur hubungan
manusia dengan Tuhan. Aliran ini berpendirian bahwa dalam islam tidak terdapat sistem
ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara.

2.2. Prinsip dasar politik Islam


Prinsip-prinsip dasar politik islam tercantum dalam QS Al-Nisa (4) : 58-59 beberapa
prinsip pokok tersebut adalah :

1. Prinsip menunaikan amanat


Prinsip ini mengandung kewajiban setiap orang yang beriman agar menunaikan amanat
yang menjadi tanggung jawabnya, baik amanat itu dari Tuhan atau pun amanat dari sesama
manusia.
2. Prinsip keadilan
Prinsip keadilan ini tidak hanya dituntut terhadap kelompok, golongan tertentu atau umat
islam saja, tetapi mencakup seluruh umat manusia bahkan seluruh mahluk yang ada di
alam ini.

3. Prinsip ketaatan kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri


Ungkapan ulil amri merupakan frase nominal yang terdiri dari dua kata: ulu dan al-amr.
Ulu bearti pemilik, al-amr bearti perintah, tuntutan melakukan sesuatu, keadaan atau
urusan.

4. Prinsip merujuk kepada Allah dan Rasul jika terjadi perselisihan


Prinsip ini menekankan agar perselisihan yang terjadi di antara manusia diselesaikan
dengan berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah.

2.3. Nilai – nilai Dasar Sistem Politik Dalam Al-Qur’an


Al-qur’an merupakan sumber ajaran utama dan pertama agama islam mengandung ajaran
tentang nilai – nilai dasar yang harus di aplikasikan dalam pengembangan sistem politik
islam. Nilai –nilai dasar tersebut adalah :

1. Kemestian mewujudkan persatuan dan kesatuan umat sebagaimana tercantum dalam QS


23 (al-Mu’minun) : 52
    
   
Artinya : Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang
satu dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku.

2. Kemestian bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah-masalah ijtihadiyyah. Dalam


QS (al-Syura) : 38 dan QS (ali Imran) : 159 dijelaskan :
a) Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.
b) Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Dalam kata al-Amr (urusan) tercakup urusan ekonomi, politik, sosial, budaya dan
sebagainya.

3. Keharusan menunaikan amanat dan menetapkan hukum secara adil. Dalam QS 4 (al-
Nisa’) : 58 Allah berfirman:
     
   
    
     
      

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
mendengar lagi Maha melihat.

4. Kemestian menaati Allah dan Rasulullah dan uli al-Amr (pemegang kekuasaan)
sebagaimana difirmankan dalam QS 4 (al-Nisa’) : 59 :

  


   
     
     
   
    
   
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-
benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya.

5. Keniscayaan mendmaikan konflik antar kelompok dalam masyarakat islam, sebagaimana


difirmankan dalam QS 49 (al-Hujurat) : 9 :
   
   
    
    
     
  
    
 
Artinya : dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang
hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian
terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai
surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya
menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang Berlaku adil.

6. Kemestian mempertahankan kedaulatan negara dan larangan melakukan agresi dan


invasi. Dalam QS 2 (al-Baqarah) : 190 Allah berfirman :
    
      
  
Artinya : dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi)
janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang melampaui batas.

7. Kemestian mementingkan perdamaian daripada permusuhan. Dalam QS 8 (al-Anfal) : 61


Allah berfirman :
     
     
  
Artinya : dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya
dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi
Maha mengetahui.

8. Keharusan meningkatkan kewaspadaan dalam bidang keamanan dan pertahanan,


sebagaimana firman Allah dalam QS 8 (al-Anfal) : 60 :
    
   
    
    
     
     
   

Artinya : dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan
itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka
yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu
nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu
tidak akan dianiaya (dirugikan).

9. Keharusan menepati janji, sebagaimana firman Allah dalam QS 16 (al-Nahl) : 91 :


    
   
    
     
 
Artinya : dan tepatilah Perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah
kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu
telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu).
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

10. Keharusan mengutamakan perdamaian bangsa – bangsa, sebagaimana firman Allah


dalam QS 49 (al-hujurat) : 13 :
   
   
    
     
   
Artinya : Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

11. Kemestian peredaran harta pada seluruh lapisan masyarakat, dalam QS 59 (al-Hasyr) : 7
Allah berfirman :
     
    
 
   
     
     
    
      
Artinya : apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari
harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk
rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara
kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya
bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat
keras hukumannya.

12. Keharusan mengikuti prinsip-prinsip pelaksanaan hukum, dalam hal :


1) Menyedikitkan beban (taqlil al-takalil)
2) Berangsur-angsur (al-tadarruj)
3) Tidak menyulitkan (“adam al-Haraj)

2.4. Ruang lingkup pembahasan Siasah

Pada garis besarnya, obyek pembahasa sistem politik islam meliputi

1) Siasah “dusturiyyah” atau dalam fikih modern disebut hukum tata negara
2) Siasah “dauliyyah” atau biasa disebut hukum internasional dalam islam
3) Siasah “maaaliyyah” yaitu hukum yang mengatur tentang pemasukan, pengelolaan, dan
pengeluaran uang milik negara

Siasah “dusturiyyah” secara global membahas hubungan pemimpin dengan rakyatnya,


yang meliputi :

 Persoalan imamah, hak dan kewajiban


 Persoalan rakyat, status, hak , dan kewajibannya
 Persoalan “bai’at”
 Persoalan “waliyyul ‘ahdi”
 Persoalan perwakilan
 Persoalan “ahl al-halli wa al- ‘aqdi”
 “wizarah” dan pembagiannya.

Dalam ajaran islam, siasah dauliyah (hubungan internasional) dalam islam bedasar pada :

1) Kesatuan umat manusia


2) Keadilan (al-‘adalah)
3) Persamaan
4) Kehormatan manusisa
5) Toleransi
6) Kerjasama kemanusiaan
7) Kebebasan, kemerdekaan
 Kebebasa berfikir
 Kebebasan beragama
 Kebebasan menyatakan pendapat
 Kebebasan menuntut ilmu
 Kebebasan memiliki harta benda

8) Perilaku moral yang baik.


Pembahasan siasah dauliyah dalam islam berorientasi pada permasalan berikut :

1. Damai adalah asas hubungan internasional. Dengan demikian, perang tidak dilakukan
kecuali dalam keadaan darurat. Sesuai dengan persyaratan darurat, perang hanya
dilakukan sesuai dengan keperluan kolektif. Orang yang tidak ikut berperang tidak
boleh diperlakukan sebagai musuh. Segera hentikan perang apabila salah satu pihak
cenderung kepada damai.
2. Memperlakukan tawanan perang secara manusiawi.
3. Kewajiban suatu negara terhadap negara lain.
4. Perjanjian-perjanjian internasional. Syarat mengikuti perjanjian adalah. 1) yang
melakukan perjanjian memiliki kewenangan ; 2) kerelaan; 3) isi perjanjian dan
obyekya tidak dilarang oleh agama islam; 4) perjajian penting harus ditulis; 5) saing
memberi dan menerima.
5. Perjanjian ada yang selamanya (mu’abbad) dan sementara (muaqqat).
6. Perjanjian terbuka dan tertutup.
7. Menaati perjanjian.
8. Siasah “dauliyyah” dan orang asing.

Secara khusus siasah dauliyyah membahas hubungan internasional dalam kondisi perang
yang berkisar pada persoalan berikut :

1. Sebab-sebab terjadinya perang


a. Perang dalam islam untuk mempertahankan diri.
b. Perang dalam rangka dakwah.

2. Aturan perang dalam siasah “dauliyyah”


a. Pengumuman perang.
b. Etika dan aturan perang :
1. Dilarang membunuh anak-anak dan wanita
2. Dilarang membunuh orang yang sudah tua apabila ia tidak ikut perang.
3. Tidak merusak pepohonan.
4. Tidak merusak binatang ternak.
5. Dilarang menghancurkan rumah ibadah semua agama.
6. Dilarang membunuh para ulama termasuk para tokoh agama.
7. Bersikap sabar, ikhlas, dan berani dalam melakukan peperangan.
8. Tidak melampui batas.

yang menjadi pembahasan dalam “siasah maaliyyah” adalah sekitar :

a. Prinsip-prinsip kepemilikan harta


b. Tanggunng jawab sosal yang kokoh terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat
dan sebaliknya.
c. Zakat; zakat hasil bumi, emas perak, ternak dan zakat fitrah.
d. Harta karun.
e. “kharaj” (pajak)
f. Harta peninggalan dari orang yang tidak meninggalkan ahli waris.
g. “jizyah”
h. “Ghanimah” dan “fa’i”
i. Bea cukai barang import
j. Eksploitasi sumber daya alam yang berwawasan lingkungan.
BAB III

PENUTUP

3.1 kesimpulan

Islam sebagai agama yang mencakup persoalan spiritual dan politik telah
memberikan kontribusi yang cukupsignifikan terhadap kehidupan politik Indonesia. Pertama
ditandai dengan munculnya partai-partai yang berasaskan Islam serta partai nasionalis yang
berbasis umat islam. Kedua ditandai dengan sikap pro aktifnya tokoh-tokoh politik islam
dan umat islam terhadap keutuhan negara, negara kesatuan Republik Indonesia sejak proses
kemerdekaan, masa-masa mempertahankan kemerdekaan, masa pembangunan hingga
sekarang masa reformasi.

Islam telah menyumbang banyak pada Indonesia. Islam membentuk “civic culture”
(budaya bernegara), “nasional solidarity”, ideologi jihad, dan kontrol sosial. Sumbangan
besar islam berujung pada keutuhan negara dan terwujudnya persatuan dan kesatuan.

3.2 Saran