Anda di halaman 1dari 4

Patofisiologi

Patah tulang (fraktur) biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma (Long,1996). Baik itu,
karena trauma langsung, misalnya kaki tertindih motor, tulang kaki terbentur bamper mobil. Ataupun
trauma tidak langsung, missalnya : seseorang jatih dengan telapak tangan menyangga.

Setelah fraktur, fragmen-fragmen biasanya bergeser. Sebagian oleh kekuatan cedera itu,
sebagian oleh gaya berat dan sebagian oleh tarikan otot yang melekat padanya.
Pergeseran biasanya disebut sebagai aposisi, penjajaran rotasi dan berubahnya panjang.

1. Aposisi (pergeseran)
Fragmen dapat bergeser ke samping dan ke belakang atau ke depan dalam
hubungannya dengan satu sama lain, sehingga permukaan fraktur kehilangan kontak.
Fraktur biasanya akan menyatu sekalipun aposisi tidak sempurna, atau sekalipun ujung-
ujung tulang terletak berdampingan dan permukaan fraktur tidak berkontak sama
sekali.

2. Penjajaran (kemiringan)
Fragmen dapat miring atau menyudut dalam hubungannya satu sama lain. Malposisi,
kalau belum dikoreksi, dapat mengakibatkan deformitas.

3. Rotasi (puntiran)
Salah satu fragmen dapat berotasi pada proses longitudinalnya. Tulang itu tampak lurus
tetapi tungkai akhirnya mengalami deformitas rotasional.

4. Panjang fragmen dapat tertarik dan terpisah, atau dapat tumpang tindih akibat spasme
otot, menyebabkan perpendekkan tulang.

Sewaktu tulang patah, biasanya terjadi perdarahan di sekitar tempat fraktur dan di dalam jaringan lunak
sekitar tulang tersebut, sehingga jaringan lunak juga mengalami kerusakan.

Reaksi peradangan hebat biasanya timbul setelah fraktur.

- Jaringan yang mengalami nekrosis akibat insufisiensi pembuluh darah akan menstimulasi
terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit dan
infiltrasi sel darah putih.
- Sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke
tempat fraktur. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai.
- Kerusakan pada otot dan jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat karena adanya
spasme otot di sekitarnya.
- Sedangkan kerusakan pada tulang itu sendiri mengakibatkan terjadinya gangguan jaringan
sekitar dimana tulang dapat menekan persarafan pada daerah yang terkena fraktur sehingga
dapat menimbulkan kerusakan saraf.
- Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yang tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan
mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia
jaringan yang mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini
dinamakan “Kompartemen sindrom” (Brunner and Suddart, 2002)
- Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.

- Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk
melekatkan sel-sel baru.
- Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut callus.
- Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk
tulang sejati.

Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan
(Apley). Tapi, apabila tekanan eksternal yang dating lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka
terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.

- Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jarinngan lunak yang membungkus tulang menjadi rusak .
- Kemudian terjadi perdarahan karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga
medulla tulang.
- Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah.

PROSES PENYEMBUHAN TULANG

- Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain.


- Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk
tulang baru di antara ujung patahan tulang.
- Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang.
- Proses perbaikan fraktur beragam sesuai dengan jenis tulang yang terkena dan jumlah gerakan
di tempat fraktur. Pada tulang tubuler, dan bila takada fiksasi yang kaku, penyembuhan dimulai
dalam 5 tahap menurut Apley dan Solomon :
1. Pembentukan hematoma
Fase ini dimulai setelah fraktur sampai hari kelima terjadi perdarahan.
Ketika pembuluh darah robek, suplai darah meningkat ke area fraktur dan terbentuk
hematom.
Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum dan otot).
Hematom berkembang menjadi jaringan granulas iyang membentuk fibrin guna melindungi
tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru, juga fibroblast di daerah
fraktur.
2. Radang dan Proliferasi seluler
Dalam 8 jam setelah fraktur, terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah
periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus.
Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast.

Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat
cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang akan
membersihkan daerah tersebut dari zat asing. Pada saat ini terjadi inflamasi,
pembengkakan, dan nyeri

Hematoma yang membeku, perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus
berkembang ke dalam daerah itu.
Pada area fraktur, periosteum, endosteum dan sumsum tulang (bone marrow) yang
mensuplai sel berubah menjadi fibrokartilago, kartilago hialin dan jaringan penunjang
fibrosa.
Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan
disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis.
Dalam beberapa hari, terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang
yang patah.
Proses ini terjadi sampai hari ke12.

3. Pembentukkan kalus
Sel-sel yang berproliferasi tadi memiliki potensi kondrogenik dan osteogenik.
Bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan dalam
beberapa keadaan juga kartilago.
Populasi sel sekarang juga mencakup osteoklas (mungkin dihasilkan dari pembuluh darah
baru) mulai membersihkan tulang yang mati.
Osteoblast membentuk kalus (Massa sel yang tebal dengan pulau-pulau tulang yang imatur
dan kartilago) yang kemudian menjadi bebat pada permukaan endosteal dan periosteal.
Kalus tulang rawan tersebut di rangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah
tulang. Namun, gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus.
Sementara tulang fibrosa yang imatur (masih dalam bentuk anyaman tulang) menjadi lebih
padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur
menyatu.
4. Konsolidasi
Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi.
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anayamn tulang berubah menjadi tulang
lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku untuk memungkinkan osteoclast menerobos
melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan dekat dibelakangnya osteoblast mengisi celah-
celah yang tersisa di antara fragmen dengan tulang yang baru.
Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup
kuat untuk membawa beban yang normal.
5. Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan
atau bahkan tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorpsi dan
pembetukan tulang yang terus-menerus.

Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi
tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.

Lamella yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya leih tinggi, tulang yang
berlebihan/ tidak dikehendaki dibuang oleh osteoklast, rongga sumsum dibentuk dan
akhirnya terutama pada anak-anak tulang akan dibentuk struktur yang mirip dengan
normalnya. Sementara pada dewasa masih ada tanda penebalan tulang.