Anda di halaman 1dari 26

TYPUS ABDOMINALIS

Ns. Enok Sureskiarti.M.Kep


TYPHUS ABDOMINALIS

Definisi
Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi
akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella
typhosa, bercirikan lesi definitif di plak Peyer,
kelenjar mesenterika dan limpa, disertai oleh
gejala demam yang berkepanjangan, sakit
kepala dan nyeri abdomen
Epidemiologi
Infeksi berasal dari penderita atau seorang
yang secara klinik tampak sehat tetapi yang
mengandung kuman yang keluar bersama
faecesnya atau bersama kemih (carrier).
Kuman-kuman ini mengkontaminasi
makanan, minuman dan tangan. Lalat
merupakan penyebar kuman typhus
terpenting, karena dari tempat kotor ia dapat
mengotori makanan.
Masa inkubasi (masa sejak terpapar oleh
virus sampai timbulnya gejala pertama)
berkisar antara 1-3 minggu (rata-rata 10-14
hari)
Etiologi

Etiologi : Salmonella typhi


• Batang gram negatif
• Termasuk dalam famili Enterobacteriace

Faktor Risiko

• Kebiasaan jajan di tempat-tempat yang tidak


memenuhi syarat kesehatan
• Lingkungan yang kotor
• Daya tahan tubuh yang rendah
Patofisiologis

Salmonella typhi masuk ke dalam saluran


pencernaan melalui makanan dan atau
minuman yang tercemar.

Sebagian kuman akan mati akibat barier


asam lambung, tapi sebagian lagi akan
lolos ke dalam usus.

Sesampainya di usus, bakteri akan


menembus masuk ke dinding usus halus
melalui kelenjar yang disebut plak Peyer
dan menimbulkan peradangan di sana.
• Bakteri ini kemudian berkembang biak dalam
makrofag plak peyer tersebut.

• Lama-kelamaan plak Peyer yang membesar


akan menekan dinding usus sehingga terjadi
nekrosis dan akhirnya pecah.

• Akibatnya kuman akan tersebar melalui darah


(septikemi) ke seluruh organ tubuh.
• kuman-kuman

usus

kelenjar getah bening mesentarium [berproliferasi]

ductus thoracicus

peredaran darah

kuman-kuman musnah - endotoksinnya keluar

menyebabkan gejala-gejala penyakit.


Kelainan yang timbul pada jaringan limfoid usus dapat
dibagi atas beberapa tingkat :

Tingkat I :

Waktu inkubasi

• Proliferasi sel retikuloendotel yang mempunyai daya


fagosit dan membentuk sel-sel besar, mengandung
satu inti yang jelas (mononukleus) dan mempunyai
sitoplasma yang berlebihan berwarna merah
(eosinofil). Dalam sitoplasma sel-sel ini terdapat
kuman atau sisa-sisa jaringan nekrotik dan eritrosit
(erythrophagocytosis).
• Sel-sel ini disebut pula sel typhus. Akibat kerusakan
pada susuan retikuloendotel sumsum tulang dan
tempat hemopoiesis, maka pembentukan lekosit
berkurang.

• Pelebaran pembuluh darah (hiperemi) ; lekosit jarang.

• Bercak-bercak peyer dan lymphonoduli akibat


hiperemi dan hiperplasi tampak membengkak dan
menonjol di atas permukaan selaput lendir. Lamanya
1 minggu.
Tingkat II :

• Nekrosis daripada jaringan limfoid yang membengkak


itu dan mengeras seperti kerak dan disebut tingkat
keropeng.

Tingkat III :

• Keropeng yang terdiri atas jaringan limfoid nekrotik


dilepaskan, terjadilah tukak (ulkus). Tukak itu
bertempat pada bercak peyer dan berbentuk lonjong
dan memanjang menurut poros usus. Dasar tukak
diliputi fibrin yang mengandung lekosit dan jaringan
nekrotik dan secara mikroskopik tempat makrofag
pada semua lapisan usus.
Tingkat IV

Tingkat resolusi (pembersihan) atau penyembuhan, jika


terjadi perforasi.

• Tukak sembuh dengan regenerasi mukosa yang


sempurna tanpa parut dan tanpa stenosis.
Gejala dan Tanda Klinis

Gejala- Gejala :

• Gejala biasanya diawali dengan rasa tidak


enak badan, nyeri yang tidak jelas, sakit
kepala dan bisa juga mimisan, konstipasi,
lemas.

• Dalam beberapa hari sampai minggu, terjadi


kenaikan suhu badan yang bisa mencapai
lebih dari 40°C.
• Pada saat ini, sebuah tanda khas demam
tifoid yang disebut rose spots “bintik merah
muda” bisa terlihat, khususnya pada bagian
perut (abdomen). Tanda yang juga dapat
dijumpai pada daerah dada dan punggung ini
akan telihat memudar bila ditekan.
• Pada akhir minggu pertama, terjadi gejala-
gejala hematopoetik sebagai pembesaran
limpa (splenomegali), lekopeni dan
berkurangnya atau menghilangnya dari darah
sel-sek lekosit polinukleus dan eosinofil.
• Pada minggu kedua, suhu badan akan
mengalami remisi harian. Panas terutama
meningkat pada malam hari dengan
perbedaan temperatur lebih kurang ½ sampai
2°C dibanding pagi hari. Bila demam sangat
tinggi dapat terjadi penurunan kesadaran dan
penderita mengigau.

• Retensi urin cukup sering terjadi.


Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :

• Bradikardi relatif (frekuensi denyut jantung relatif


lambat bila dibanding dengan tingkat kenaikan
suhu tubuh).

• Lidah tifoid (Awalnya merah di tengah dengan tepi


hiperemis dan bergetar, bila penyakit berat lidah
menjadi kering dan pecah-pecah serta berwarna
kecoklatan).
• Perkusi abdomen: timpani

• Palpasi abdomen: Nyeri tekan khususnya di fosa iliaka

• Stupor

• Bergumam

• Delirium

• Twitching otot-otot

• Karpologia

• Koma vigil
Pada masa penyembuhan dapat terjadi :
• Anemia
• Kerontokan rambut

Pemeriksaan Laboratorium
• Pembiakan kuman dari darah penderita. Pembiakan akan
positif selama minggu pertama penyakit, yaitu pada saat-saat
terjadinya bakteriemi.
• Tes serologi Widal ialah percobaan terhadap antibodi, berupa
aglutinasi antigen-antibodi.
• Perhitungan lekosit merupakan cara penting bagi diagnosis
penyakit typhus, yaitu akan ditemukan lekopeni yang
terutama disebabkan menurunnya jumlah sel polinukleus dan
sering menghilangnya sel eosinofil.
• Pada minggu ke-3, kemih dapat mengandung kuman typhus.
Komplikasi
Komplikasi biasanya timbul pada minggu ke-3 atau ke-4 dan
terjadi pada ± 25% kasus yang tidak mendapatkan pengobatan.
Kematian sering mengikuti komplikasi ini. Komplikasi tersebut
antara lain :
• Gangguan metabolik
• Perdarahan saluran cerna
• Perforasi saluran cerna
• Peritonitis
• Hepatitis tifosa
• Pnemonia
• Ensefalopati tifosa
• Abses otak
• Meningitis
• Osteomielitis
• Endokarditis
• Abses pada berbagai organ
• Komplikasi yang paling sering terjadi dan berbahaya adalah
perdarahan dan perforasi saluran cerna. Turunnya suhu tubuh
secara drastis sering menjadi pertanda terjadinya komplikasi
tersebut.
Masalah Keperawatan

Masalah keperawatan yang mungkin muncul :


• Peningkatan suhu tubuh : hipertermi
berhubungan dengan proses penyakit
(bakterimia).
• Nyeri berhubungan dengan patofisiologis
penyakit.
• Potensial terjadinya pendarahan intra
abdominalis berhubungan dengan lekopeni
• Gangguan pola eliminasi behubungan dengan
konstipasi
Penatalaksanaan
• Isolasi penderita (untuk mencegah
penularan)
• Tirah baring
• Diet bergizi tinggi dan mudah dicerna.
Makanan sebaiknya tidak banyak
mengandung serat dan tidak merangsang
(seperti pedas dan asam)
• Masukan cairan harus cukup
• Kompres hangat bila terjadi panas tinggi
• Pembedahan kadang diperlukan bila
penggunaan obat-obatan dan dekompresi
usus gagal mengatasi perdarahan saluran
cerna yang berat. Tindakan tersebut juga
dibutuhkan bila terjadi perforasi usus.
Pencegahan

• Tingkatkan kebersihan diri dan lingkungan


• Pilih makanan yang telah diolah dan
disajikan dengan baik (memenuhi syarat
kesehatan)
• Jamban keluarga harus cukup jauh dari
sumur (harus sesuai standar pembuatan
jamban yang baik)
• Imunisasi
Typhus abdominalis