Anda di halaman 1dari 6

FIVE LEVELS OF PREVENTION DIMENSIA

PADA LANSIA

Ujian Tengah Semester (Kespro Lansia ) DR. dr. Aila Karyus,


M.Kes

Oleh :

A. Deza Farista
186131032

Program Magister Kesehatan Masyarakat


Universitas Mitra Indonesia
2018
Five levels of prevention Dimensia Pada Lansia

1. Peningkatan kesehatan (health promotion)


Pada tingkat ini dilakukan tindakan umum untuk menjaga keseimbangan
proses bibit penyakit-pejamu-lingkungan, sehingga dapat menguntungkan
manusia dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki
lingkungan. Tindakan ini dilakukan pada seseorang yang sehat.
Seperti :
 Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun
kuantitas)
 Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu.
 Mengedukasi untuk istirahat yang cukup
 Mengedukasi untuk tidak merokok
 Mengedukasi untuk tidak konsumsi alkohol
 Mengedukasi untuk menjaga berat badan ideal sejak muda
 Melakukan Penyuluhan mengenai cara pencegahan dimensia
pada usia tua
 Melakukan Kampanye Peningkatan kesadaran masyarakat
bahwa demensia (“pikun”) bukan merupakan bagian dari
penuaan normal sehingga diperlukan berbagai upaya dan
kegiatan gaya hidup otak sehat (brain healthy life style)
 Menyarankan untuk mengutamakan pendidikan sejak muda
karena penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan
tingkat pendidikan yang lebih rendah memiliki faktor risiko
yang lebih tinggi terkena dimensia

2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu (general and


specific protection)
Merupakan tindakan yang masih dimaksudkan untuk mencegah penyakit,
menghentikan proses interaksi bibit penyakit-pejamu-lingkungan dalam tahap
prepatogenesis, tetapi sudah terarah pada penyakit tertentu. Tindakan ini
dilakukan pada seseorang yang sehat tetapi memiliki risiko terkena penyakit
tertentu.
Seperti :
 Memberdayakan Lansia untuk lebih produktif seperti membuat
kerajinan tangan, dll
 Menyarankan lansia untuk lebih banyak konsumsi ikan yang
mengandung omega-3 Karena asam lemak omega-3 mampu
mencegah dimensia
 Menyarankan lansia untuk lebih banyak latihan mental yang
mengasah otak untuk meningkatkan fungsi kognitif seperti
puzzle, catur, dan lainnya
 Melatih otak secara berkala, seperti membaca dan bermain
teka-teki
 Menyarankan lansia untuk lebih banyak bersosialisasi karena
Dimensia bisa dicegah dengan pergaulan yang aktif dan
seringnya bersosialisasi dengan orang lain
 Memberitahu lansia untuk mengurangi konsumsi gula dan
batasi makanan asin dan tinggi lemak
 Menyarankan lansia untuk konsumsi kedelai karena Isoflavon
kedelai tampaknya memiliki efek positif pada peningkatan
fungsi otak dan memori visual
 Menyarankan lansia untuk konsumsi vitamin B karenadapat
membantu meningkatkan kesehatan otak. Tingkat homosistein
pada tubuh kita meningkat dengan bertambahnya usia; vitamin
B12, asam folat (vitamin B9), dan vitamin B6 dapat membantu
untuk menyeimbangkan kembali
 Melakukan olahraga senam otak bagian luar seperti gerakan
silang, gerakan delapan tidur (Lazy 8), gerakan coretan ganda
(Double doodle), gerakan putaran leher (Neck Rolls), gerakan
Pernafasan Perut (Belly Breathing).
 Melakukan olahraga senam otak pemfokusan seperti gerakan
Burung Hantu (The Owl), gerakan Mengaktifkan Tangan (The
Active Arm), gerakan Lambaian Kaki (The Footflex), gerakan
Pompa Betis, gerakan Luncuran Gravitasi (The Gravitational
glider) dan gerakan Pasang Kuda-kuda (Grounder)
 Melakukan olahraga senam otak pemusatan seperti gerakan
Sakelar Otak (Brain Buttons), gerakan Tombol Imbang
(Balance Buttons), gerakan Menguap Berenergi (The Energy
Yawn), gerakan Pasang Telinga (The Thinking Cap), gerakan
Kait Relaks (Hook-Ups) dan gerakan Titik Positif (Positive
Point)

3. Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (early
diagnosis and prompt treatment)
Merupakan tindakan menemukan penyakit sedini mungkin dan melakukan
penatalaksanaan segera dengan terapi yang tepat.
Seperti :
 Melakukan pemeriksaan dan test terhadap pasien dimensia
seperti :
o Tes darah: untuk membantu memastikan adanya
gangguan lain seperti hipotiroidisme atau kekurangan
vitamin B12, dll.
o Evaluasi perilaku dan uji kognitif: Sejumlah tes
terstruktur untuk mengukur ingatan dan keterampilan
mental, untuk menentukan apakah ada penyakit
demensia seperti test Mini Mental State Examination
(MMSE)
o Pemindaian MRI (pencitraan resonansi magnetik):
Menggunakan medan dan gelombang radio magnetik
untuk membuat citra otak secara terperinci, untuk
membantu mengidentifikasi ukuran dan perubahan
struktural otak serta masalah lainnya, seperti gumpalan
darah atau tumor di otak.
o Pemindaian PET (Tomografi Emisi Positron): Jenis
pencitraan yang bisa mendeteksi kelainan beta-amiloid
di otak. Pemindaian ini dilakukan dengan menyuntikkan
sejumlah kecil zat radioaktif (pelacak) ke dalam vena.
Pelacak diangkut menuju otak untuk mendeteksi beta-
amiloid. Pemindaian ini membantu untuk mengevaluasi
tingkat keparahan kondisi kesehatan dan respons pasien
terhadap obat-obatan.
 Pengobatan dimensia dengan secara simptomatik, sosial, terapi
psikiatri dan dukungan keluarga.
 Memberikan obat-obatan yang sesuai seperti :
Acetylcholinesterase inhibitors atau N-methyl-D-aspartate
(NMDA) inhibitor (Memantin) dapat meningkatkan fungsi
kognitif pada pasien dimensia.

4. Pembatasan kecacatan (dissability limitation)


Merupakan tindakan penatalaksanaan terapi yang adekuat pada pasien dengan
penyakit yang telah lanjut untuk mencegah penyakit menjadi lebih berat,
menyembuhkan pasien, serta mengurangi kemungkinan terjadinya kecacatan
yang akan timbul.
Seperti :

 Pencegahan terhadap komplikasi dengan cara sering mengajak


ngobrol dan berbicara pada lansia penderita dimensia
 Mengajak lansia penderita dimensia untuk bermain permainan
yang merangsang kognitif seperti puzzle dan catur.
 Melakukan konseling intensif bagi anggota keluarga dan care
giver untuk merawat pasien dimensia dengan cara :
menghindari perbedaan pendapat, latihlah otak dengan
permainan (interaksi sosial, pengembangan hobi), memantau
kesehatan secara berkala, jauhi sikap (mengkritik, komentar
negatif, berdebat, memaksa keinginan).
 Mengedukasi keluarga untuk Merawat pasien demensia
hendaknya memiliki sikap tenang dan memaklumi, berilah
penghargaan/pujian, perlakukan penderita demensia sebagai
orang dewasa terbatas bukan sebagai anak kecil, berilah
kegiatan yang bersifat rekreatif, humor dan menyenangkan,
ciptakan lingkungan yang nyaman (tidak bising, penerangan
cukup, lingkungan yang bersahabat).
 Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita
sembuh dan tak terjadi komplikasi.
5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation)
Merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk mengembalikan pasien ke
masyarakat agar mereka dapat hidup dan bekerja secara wajar, atau agar tidak
menjadi beban orang lain.
Seperti :
 Melakukan penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus
tetap dilakukan seseorang setelah ia sembuh dari dimensia
 Menjaga kondisi lingkungan tempat tinggal tetap konsisten dan
hindari perubahan yang tidak perlu.
 Menyediakan alat bantu untuk mengingatkan, menjeklaskan,
dan menunjuk arah pada pasien dimensia.