Anda di halaman 1dari 20

SAMPUL

TUGAS KE – 3

BAHASA PEMOGRAMAN

- MEMBUAT DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAN DAFTAR GAMBAR -


DI MICROSOFT WORD

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL

ULVA YULYANTI

MAGISTER TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Saya
panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-
NyA kepada saya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakat.

Tugas ini sudah saya susun dengan maksimal dan melihat referensi dari berbagai pihak
sehingga bisa memperlancar pembuatan tugas ini. Untuk itu saya menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan tugas ini.

Terlepas dari segala hal tersebut, Saya sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya saya dengan lapang dada
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah ilmiah
ini.

Akhir kata saya berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya ini bisa
memberikan manfaat maupun inspirasi untuk pembaca.

Makassar 03 Februari 2019

Penyusun
Ulva Yulyanti
BAB I
PENGERTIAN INTEGRAL

1.1 Definisi integral


1.2 Notasi Integral
1.3 Integral Tak Tentu dari Fungsi Aljabar dan Fungsi Trigonometri
BAB II
INTEGRAL TERTENTU

2.1 Notasi Integral Tertentu


Integral tertentu dinotasikan dengan

𝑏
∫𝑎 𝑓 (𝑥)𝑑𝑥 =][𝐹(𝑥)]𝑏𝑎 = F(b) – F(a)

Dengan f(x) adalah integran dimana f(x) = F’ (x)


a,b adalah batas-batas pengintegralan
[𝑎, 𝑏] dinamakan interval pengintegralan
2.2 Sifat-sifat Integral Tertentu
Andaikan f(x) dan g(x) masing-masing adalah fungsi-fungsi kontinunya terdefinisi
dalam[a,b] dan andaikan k konstanta, maka :

𝑏
𝑏
1. ∫ 𝑘 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 = 𝑘 ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥
𝑎
𝑎

𝑏
𝑏 𝑏
2. ∫ [𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 + 𝑔(𝑥)]𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 + ∫ 𝑔(𝑥)𝑑𝑥
𝑎 𝑎
𝑎

𝑏
𝑏 𝑏
3. ∫ [𝑓(𝑥) − 𝑔(𝑥)]𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 − ∫ 𝑔(𝑥)𝑑𝑥
𝑎 𝑎
𝑎

𝑐 𝑐
𝑏
4. ∫ 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 + ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑎 < 𝑏 < 𝑐
𝑎
𝑎 𝑎

5. 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑓(𝑥) > 0 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 𝑎 ≤ 𝑥 ≤ 𝑏, 𝑚𝑎𝑘𝑎 ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 > 0


𝑎

6. 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑓(𝑥) < 0 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 𝑎 ≤ 𝑥 ≤ 𝑏, 𝑚𝑎𝑘𝑎 ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 < 0


𝑎

𝑎
𝑏
∫ 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 = − ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥
𝑎
𝑏

∫ 𝑓(𝑔(𝑥)) = 𝑔′ (𝑥)𝑑𝑥 = 𝑓(𝑢)𝑑𝑢

Berikut adalah beberapa bentuk integral (bentuk baku) yang diketahui dalam
pengintegralan dengan metode subsitusi.

1. ∫ 𝑘 𝑑𝑢 = 𝑘𝑢 + 𝑐
1
2. ∫ Un du = 𝑛+1 Un+1 +c, dengan n ≠ -1
1
3. ∫ 𝑢 𝑑𝑢 = ln ⎸u⎹ + c
4. ∫ eu du = eu +c
5. ∫ au du=
6. ∫ sin u du = - cos u + c
7. ∫ cos u du = sin u + c
8. ∫ sec2 u du = tan u + c
9. ∫ cos ec2u du = - cot u + c
10. ∫ sec u . tan u du =sec u + c
11. ∫ cot u . cosec u du = - cosec u + c
12. ∫ tan u du = - ln ⎸cos u⎹ + c
13. ∫ cot u du = ln ⎸sin u⎹ + c

2.3 Metode Subsitusi dalam Integral Tertentu


Metode subsitusi dalam integral tertentu sama seperti pada integral tak tentu,
hanya saja kita tidak boleh lupa untuk mengubah batas-batas pengintegralannya.
Metode subsitusi dalam integral tertentu adalah sebagai berikut.
Andaikan g mempunyai turunan kontinu pada [a,b] dan andaikan f kontinu
pada daerah nilai dari 𝑔, maka

𝑏 𝑔(𝑏)

∫ 𝑓(𝑔(𝑥)𝑔′ (𝑥)𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑢)𝑑𝑢


𝑎 𝑔(𝑎)

Langkah pengintegralan tertentu dengan metode subsitusi adalah sebagai berikut.


1. Memilih fungsi 𝑢 = 𝑔(𝑥) sehingga ∫ 𝑓(𝑔(𝑥))𝑔′ (𝑥)𝑑𝑥 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 ∫ 𝑓(𝑢)𝑑𝑢
2. Ubah batas-batas pengintegralan
a. Menjadi 𝑔(𝑎)
b. Menjadi 𝑔(𝑏)

Sehingga,

𝑏 𝑔(𝑏)
∫𝑎 𝑓(𝑔(𝑥)𝑔′ (𝑥)𝑑𝑥 = ∫𝑔(𝑎) 𝑓(𝑢)𝑑𝑢

2.4 Penggunaan Integral Tertentu untuk menghitung Luas Daerah


2.4.1 Luas daerah yang dibatasi Kurva dan Sumbu X
Perhatikan gambar berikut ini.

Pada gambar (a) , kurva y = f(x) merupakan fungsi kontinu dan tak negatif ( f(x) ≥ 0)
dalam interval tertutup a ≤ x ≤ b. Daerah yang dibatasi oleh kurva y= f(x), sumbu x,
garis x = a dan garis x = b pada gambar adalah daerah A1.
Luas daerah A1 ditentukan oleh
𝑏

𝐿(𝐴1) = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥
𝑎

Pada gambar (b), kurva y = f(x) merupakan fungsi kontinu dan tak positif (f(x) ≤ 0)
dalam interval tertutup a ≤ x ≤ b. Daerah yang dibatasi oleh kurva y= f(x), sumbu x,
garis x = a dan garis x = b pada gambar adalah daerah A2.
Luas daerah A1 ditentukan oleh
𝑏

𝐿(𝐴2) = − ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥
𝑎

2.4.2 Luas Daerah yang Dibatasi Dua Kurva


Perhatikan gambar berikut ini.
Pada gambar diatas, kurva y = f(x) dan y = g(x) merupakan kurva-kurva yang kontinu
dalam interval tertutup a ≤ x ≤ b dengan f(x) ≥ g(x). Daerah yang dibatasi oleh kurva
y = f(x), kurva y = g(x), garis x = a dan garis x = b ditunjukkan oleh bagian yang
diarsir.
Luas daerah yang dibatasi oleh kurva y = f(x), kurva y = g(x), garis x = a, dan garis x
= b, dengan f(x) ≥ g(x) pada interval a ≤ x ≤ b di tentukan oleh

𝐿 = ∫(𝑓(𝑥) − 𝑔(𝑥))𝑑𝑥
𝑎

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan luas daerah antara dua kurva
adalah sebagai berikut.
1. Untuk merumuskan dan menghitung luas daerah antara dua kurva perlu dilukiskan
terlebih dahulu sketsa grafik kedua kurva tersebut dalam bidang Cartesius
2. Batas-batas pengintegralan x = a dan atau x = b perlu ditentukan terlebih dahulu.
Nilai x = a atau x = b dapat diperoleh dari arah titik potong kedua kurva.

2.5 Menggunakan Integral Tertentu Untuk Menghitung Volum Benda


Putar
Volume Benda Putar dari Daerah yang mengliling Sumbu X

Jika daerah yang dibatasi oleh kurva y = f(x), sumbu x, garis x = a, dan garis x = b
diputar sejauh 360o mengelilingi sumbu x, maka volume atau isi benda putar yang
terjadi ditentukan oleh :

𝑏 𝑏
𝑉 = 𝜋 ∫𝑎 𝑦 2 dx atau V = π ∫𝑎 ((𝑓𝑥))2 dx

1. Volume Benda Putar dari Daerah yang mengliling Sumbu y


Jika daerah yang dibatasi oleh kurva x = g(y), sumbu y, garis y = c, dan garis y = d
diputar sejauh 360o mengelilingi sumbu y, maka volume atau isi benda putar yang
terjadi ditentukan oleh :

𝑑 𝑑
𝑉 = 𝜋 ∫𝑐 𝑥 2 dy atau V = π ∫𝑐 (𝑔(𝑥))2 dy

2. Volume Benda Putar Mengelilingi Sumbu Y


Jika daerah yang dibatasi oleh kurva y1 = f(x), kurva y2 = g(x), garis x=a, garis x = b
diputar sejauh 360o mengelilingi sumbu X, maka volum atas isi benda putar yang
terjadi ditentukan oleh rumus
𝑏 𝑏
V = π∫𝑎 (y12 – y22)dx atau V = π∫𝑎 (f2(x) – g2 (x)dx
3. Volume Benda Putar Dari Daerah Antara Dua Kurva yang Diputar
Mengelilingi Sumbu Y
Daerah yang diarsir pada gambar berikut adalah daerah yang dibatasi oleh kurva x1 =
f(y), kurva x2 = g(y), garis y = c, dan garis y = d.
Jika daerah yang dibatasi oleh kurva x1 = f(y), kurva x2 = g(y), garis y = c, dan garis y
= d diputar sejauh 360o mengelilingi sumbu Y, maka volume atau isi benda putar yang
terjadi di tentukan dengan rumus :

𝑑
V= π∫𝑐 (x12 – x22)dx
Atau
𝑑
V= π ∫𝑐 (f2 (y) – g2 (y))dy

a. Bentuk ∫sinn x dx dan ∫cosn x dx


- Apabila n bilangan bulat ganjil dan positif, setelah mengeluarkan faktor sin x atau
cos x, gunakan kesamaan :
Sin2 x + cos2 x = 1

- Apabila n bilangan bulat genap dan positif, gunakan rumus setengah sudut
berikut.

1−cos 2𝑥 1+cos 2𝑥
Sin2x = dan cos2x =
2 2

b. Bentuk ∫sinm cosn x dx


- Apabila m dan n genap positif, keluarkan faktor sin x atau cos x kemudian
gunakan kesamaan
Sin2x + cos2x = 1

- Apabila m dan n genap positif, gunakan rumus setengah sudut.

c. Bentuk ∫tannx dx dan ∫cotnx dx


- Dalam kasus ∫tann x d, keluarkan faktor tan2x = sec2x – 1
- Dalam kasus ∫cotn x d, keluarkan faktor cot2x = cosec2x - 1
d. Bentuk ∫sin mx . Cos nx dx, ∫sin mx . Sin nx dx dan ∫cos mx . cos nx dx
Untuk menyelesaikan integral dalam bentuk tersebut, gunakan kesamaan berikut:
1
sin mx . Cos nx = 2 [sin (m + n)x + sin (m – n)x]
1
sin mx . Sin nx = -2 [cos (m + n)x - cos (m – n)x]
1
cos mx . Cos nx = 2 [cos (m + n)x + cos (m – n)x]

2.4 Macam-macam Substitusi

Pertama, asumsikan bahwa pada sebuah fungsi rasional, sebuah variable


diganti dengan suatu radikal-radikal berikut.
𝑛
1. √𝑎𝑥 + 𝑏, maka substitusi 𝑎𝑥 + 𝑏 = 𝑧 𝑛 akan menghasilkan fungsi rasional.

2. √𝑞 + 𝑝𝑥 + 𝑥 2 , maka substitusi 𝑞 + 𝑝𝑥 + 𝑥 2 = (𝑧 − 𝑥)2 akan menghasilkan


fungsi rasional .
3. √𝑞 + 𝑝𝑥 + 𝑥 2 = √(𝑎 + 𝑥)(𝛽 − 𝑥), maka substitusi 𝑞 + 𝑝𝑥 + 𝑥 2 =
(𝑎 + 𝑥)2 𝑧 2 akan menghasilkan fungsi rasional.

Kedua, asumsikan bahwa pada fungsi rasional, beberapa variable diganti


dengan sin 𝑥 dan atau cos 𝑥 . kemudian dengan mensubstitusikan 𝑥 = 2 𝑡𝑎𝑛−1 𝑧
akan menghasilkan sebuah integral fungsi rasional dari 𝑧. Alas an bahwa ini akan
terjadi adalah:

2𝑧 1 − 𝑧2 2 𝑑𝑧
sin 𝑥 = cos 𝑥 = 𝑑𝑥 =
1+𝑧 2 ′ 1+ 𝑧 2 ′ 1 + 𝑧2

Pada hasil akhir, ganti z dengan tan (𝑥⁄2).


2.6
1.3.4

BAB III
INTEGRAL SUBSTITUSI

3.1 Pengintegralan dengan Rumus Integral Substitusi


3.2 Pengintegralan yang dapat diubah ke dalam bentuk ∫ 𝒇(𝒖)𝒅𝒖.
3.3 Substitusi Trigonometri

BAB IV
INTEGRAL PARSIAL
1. Pengintegralan dengan Menggunakan Integral Parsial
Pengintegralan dengan menggunakan rumus integral parsial diperoleh dari
pengintegralan turunan hasil fungsi kali fungsi-fungsi. Misalkan terdapat fungsi 𝑢 dan
fungsi 𝑣 yang hasil kalinya adalah 𝑦 = 𝑢𝑣. dengan menggunakan aturan turunan hasil
kali fungsi-fungsi diperoleh hubungan:
𝑦 ′ = 𝑢′ 𝑣 + 𝑢𝑣′
𝑑𝑦 𝑑𝑢 𝑑𝑣
↔ = 𝑣+𝑢
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑥
↔ 𝑑𝑦 = 𝑣𝑑𝑢 + 𝑢𝑑𝑣

Kemudian dilakukan operasi pengintegralan pada kedua ruas persamaan, sehingga


diperoleh:

∫ 𝑑𝑦 = ∫(𝑣𝑑𝑢 + 𝑢𝑑𝑣)

↔ 𝑦 = ∫ 𝑣𝑑𝑢 + ∫ 𝑢𝑑𝑣

↔ 𝑢𝑣 = ∫ 𝑣𝑑𝑢 + ∫ 𝑢𝑑𝑣

↔ ∫ 𝑣𝑑𝑢 = 𝑢𝑣 − ∫ 𝑢𝑑𝑣

Persamaan terakhir yang diperoleh merupakan rumus integral parsial yang


dimaksud.

2. Integrasi Pecahan Parsial


𝑁(𝑥)
Metode umum untuk menentukan integral berbentuk ∫ 𝐷(𝑥) 𝑑𝑥, di mana N(x) dan
𝑁 (𝑥)
D(x) adalah polynomial-polinomial. Sebuah fungsi 𝐷 (𝑥) disebut fungsi rasional .

3. Metode pecahan Parsial

𝑁(𝑥) 𝑁 (𝑥)
Asumsikan bahwa kita ingin mengevaluasi ∫ 𝐷(𝑥) 𝑑𝑥, di mana 𝐷 (𝑥) adalah

fungsi kuadrat irredusibel. Metode ini akan tergantung pada faktorisasi. Dalam
metode ini akan mempertimbangkan banyak kasus.

Kasus I

D(x) adalah hasil kali faktor-faktor linear yang berbeda.


AturanUmum untuk Kasus I

𝐴
Nyatakan integral sebagai jumlah dari suku-suku berbentuk 𝑥−𝑎 untuk tiap

faktor linear 𝑥 − 𝑎 dari penyebut, di mana A adalah konstanta yang tidak diketahui.
Selesaikan konstanta tersebut. Integrasi menghasilkan jumlah suku-suku berbentuk
𝐴𝐼𝑛|𝑥 − 𝑎|. Asumsi ini tanpa bukti bahwa integral selalu mempunyai representasi
jenis yang dikehendaki. Untuk tiap soal khusus, hal ini dapat diperiksa pada akhir
perhitungan

Kasus II

D(x) adalah hasil kali faktor-faktor linear yang beberapa di antaranya muncul
lebih dari satu kali.

Aturan Umum Kasus II

Untuk tiap faktor linear berulang (x – r) yang muncul k kali pada penyebut,
1 𝐴 𝐴2 𝐴𝑘
gunakan 𝑥−𝑟 + (𝑥−𝑟)2
+ …+ (𝑥−𝑟)𝑘
sebagai bagian dari representasi integran. Tiap

faktor linear yang muncul hanya sekali diganti seperti dalam kasus I.

Kasus III

D(x) adalah hasil kali satu atau lebih faktor-faktor kuadrat iredusibel yang
berbeda dan mungkin juga beberapa faktor linear (yang mungkin muncul lebih dari
sekali).

Aturan Umum Kasus III

Faktor-faktor linear ditangani seperti pada kasus I-II. Untuk tiap faktor kuadrat
𝐴𝑥+𝐵
iredusibel 𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐, ditempatkan suku 𝑥 2 + 𝑏𝑥+𝑐 pada representasi integran.

Kasus IV

D(x) adalah hasil kali nol atau lebih faktor linear dengan satu atau lebih
faktor-faktor kuadratik iredusibel.

Aturan Umum Kasus IV


Faktor linear ditangani seperti pada kasus I-II. Untuk tiap faktor kuadrat
iredusibel 𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐 yang muncul pada pangkat ke-k, sisipkan sebagai bagian dari
representasi integran.

𝐴1 𝑥+𝐵1 𝐴2 𝑥 +𝐵 𝐴𝑘 𝑥 + 𝐵𝑘
2
+ (𝑥 2 + 𝑏𝑥+𝑐) +…+
𝑥 2 +𝑏𝑥+𝑐 2 (𝑥 2 + 𝑏𝑥+𝑐)𝑘

BAB V
APLIKASI INTEGRAL

A. Pengaplikasian Integral
Dalam pengaplikasian integral, disini saya akan membahas mengenai peranan
integral di dunia teknik. Penggunaan integral sangat membantu dan mempermudah
dalam perhitungan.
a. Runtuhnya Jembatan Tacoma, Washington
Jembatan Tacoma yang panjangnya 1,8 km di buka pada 1 Juli 1940. Empat
bulan kemudian jembatan tersebut runtuh karena badai yang berkekuatan 68
km/jam. Untuk membangunnya kembali membutuhkan perhitungan yang tepat,
agar tidak terjadi bencana yang sama.

Robohnya jembatan tersebut karena putusnya tali baja yang mengikat jembatan
agar tidak roboh. Disini diperlukan seorang ahli teknik sipil agar tali dan luas
daerah jembatan untuk menghubungkannya kembali. Pilar-pilar jembatan pada
gambar di atas membentuk partisi-partisi yang akan kita temukan dalam pokok
bahasan menghitung luas daerah dengan menggunakan integral.
 Penerapannya
Untuk penerapannya sang ahli teknik sipil menggunakan prinsip integral
tertentu, Secara geometri dari bentuk jembatan seperti itu didefinisikan sebagai
integral yang dapat diartikan sebagai luas daerah di bawah kurva y = f(x) pada
interval [a, b].
b n
L   f (x) dx  lim  f (xi ) xi
a n  i 1

Kegiatan pokok dalam menghitung luas daerah dengan integral tentu adalah:
1. Gambar daerahnya.
2. Partisi daerahnya
3. Aproksimasi luas sebuah partisi Li  f(xi) xi
4. Jumlahkan luas partisi L   f(xi) xi
5. Ambil limitnya L = lim  f(xi) xi
a


6. Nyatakan dalam integral L  f ( x) dx dan hitung nilainya
0
Sebagai contohnya kita bisa misalkan talinya yang seperti kurva sebagai kurva
y = x2 yang dibatasi jembatan sebagai sumbu x, dan tiang jenmbatannya sebagai
sumbu y, dimisalkan dibatasi oleh garis x=3. Sehingga dapat dilukskan pada
gambar dibawah ini.
Dengan mengikuti langkah pokok dalam perhitungan luas daerah integral, di
3


dapat persamaan integralnya L  x 2 dx , kemudian dihitung nilainya.

L  
x3
3 0
3
 0  9
33
3
0

Jadi, dengan menggunakan oprasi integral dapat mempermudah perhitungan luas


daerah yang ingin diketahui meskipun bentuknya tidak geometris.

Penggunaan integral yang lain adalah pada perhitungan


volume benda putar, seperti pada bola lampu. Bola lampu di
samping dapat dipandang sebagai benda putar jika kurva di
atasnya diputar menurut garis horisontal. Pada pokok
bahasan ini akan dipelajari juga penggunaan integral untuk
menghitung volume benda putar.
Dalam menentukan volume benda putar yang harus
diperhatikan adalah bagaimana bentuk sebuah partisi jika
diputar.

B. Menghitung Volume Benda putar


 Kurva y = f(x) diputar 3600 terhadap sumbu x, batas x, sumbu putar x. Dapat
dirumuskan sebagai berikut:
𝒃

𝒗 = 𝝅 ∫ 𝒚𝟐 𝒅𝒙
𝒂

 Kurva x = f(y) diputar 3600 terhadap sumbu y, batas y, sumbu putar y. Dapat
dirumuskan sebagai berikut:
𝒃

𝒗 = 𝝅 ∫ 𝒙𝟐 𝒅𝒚
𝒂

(Bintang, 2011)

C. Integral dalam Dunia Ekonomi


Dalam bidang ekonomi integral digunakan dalam perhitungan yang berkaitan
dengan surplus konsumen dan surplus produsen.
a. Contoh pengaplikasiannya
Pada kondisi ekuilibrium QS=QD=QE atau PS=PD=PE, Misalnya supplier dan petani
 Jumlah yang ditawarkan QF & haraga yang diterima PF
 Jadi, fungsi penawarannya dapat ditulskan sebagai berikut PF = b + βQF
 Haraga yang diterima petani tergantung pada jumlah yang ditawarkan (inverse
supply), karena biasanya jumlah yang diproduksi tidak fleksible, sangat
tergantung dengan musim misalnya, Di samping itu, produk tidak bisa ditahan
ketika harga jatuh karena bersifat perishable.
 Sedangkan pada pembeli dan pedagang, jumlah yang diminta di simbolkan
segabai QR & harga yang diterima PR. Sehingga fungsi permintaannya adalah
QR = a - αPR
b. Kondisi Keseimbangan
 QS = QD = Q atau PS = PD = P
 PF = b + βQF  QF = (PF-b)/β
 QS = QD
 a – αP = (P-b)/β
 β(a – αP) = P-b  βa – βaP = P – b
 Ba+b = P+βαP  Ba+b = (1+βα)P
 P = Ba+b / (1+βα)
 Q = a – αP atau Q = (P-b)/β
 Q = a – αP  Q = a – α (Ba+b / (1+βα))
c. Dari contoh tersebut diketahui jumlah dan harga kesimbangan: (Chiang,
2006)
d. Grafik Hasil Perhitungan contoh

Dengan menggunakan integral grafik tersebut dapat dihitung dengan persamaan


sebagai berikut: (Chiang, 2006)

Perlu di ingat aturan mengenai penggunaan Integral, terutama mengenai aturan


penambahan dan pengurangan dan aturan eksponensial
 Aturan Penambahan/ Penguranagan

∫[𝑓(𝑥) ± 𝑔(𝑥)] 𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 ± ∫ 𝑔(𝑥)𝑑𝑥

 Aturan eksponensial
DAFTAR PUSTAKA

Simangunsong,Wilson. 2012. MATEMATIKA DASAR. Jakarta: Erlangga.

Sudaryono,Untung Rahaja. 2010. Langkah Mudah Belajar kalkulus for IT. Yogyakarta:
ANDI.

Chiang, Alpha C. 2006. Dasar – Dasar Matematika Ekonomi Edisi 4. Jakarta: Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kedudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.

Purcell, Edwin J. 1996. Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 1. Jakarta: Erlangga.