Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN

PENDAHULUAN
A. Konsep Lansia
1. Definisi Lansia
Lansia merupakan tahap akhir perkembangan pada daur hidup manusia
(Dewi,2014). Menurut WHO (2011) mengklasifikasikan lansia pada tiga kategori
yaitu “old” berusia 60-74 tahun, “old-old” berusia 75-84 tahun dan “oldest old”
berusia lebih dari 85 tahun.
2. Perubahan Fisiologis Pada Lansia
Menjadi tua atau menua membawa pengaruh serta perubahan menyeluruh baik
fisik, sosial,mental, dan moral spiritual,yang keseluruhan saling mengait antara satu
bagian dengan bangian lainnya. Perubahan pada lansia memerlukan penyesuaian diri,
padahal dalam kenyataan semakin menua usia kebanyakan semakin kurang fleksibel
untuk menyesuaikan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia Menurut Padila
(2013). Secara umum, menjadi tua ditandai oleh perubahan fisiologis,antara lain:
a. Perubahansistem kardiovaskuler
1) Elastis dinding aorta menurun
2) Katup jantung mudah fibrosis dan klasifikasi(kaku)
3) Penurunan denyut jantung maksimal pada latihan
b. Perubahan sistem gastrointestinal
1) Ukuran lambung pada lansia lebih mengecil,sehingga daya tampung
makanan menjadi lebih berkurang.
2) Proses perubahan protein menjadi pepton terganggu, karena sekresi asam
lambung berkurang dan rasa lapar juga berkurang.

c. Perubahan sistem muskuloskeletal


1) Penurunan kekuatan otot yang disebabkan oleh penurunan massa otot
2) Ukuran otot mengecil dan penurunan massa otot lebih banyak terjadi pada
ekstrimitas bawah
3) Kekuatan otot menurun dengan bertambahnya usia
d. Perubahan sistem endokrin
Sistem endokrin mempunyai fungsi sebagai sistem utama dalam mengontrol
seluruh sistem tubuh melalui hormon, sistem endokrin menstimulus seperti proses
yang berkesinambungan dalam tubuh sebagai pertumbuhan dan perkembangan,

1
2

metabolisme dalam tubuh, reproduksi dan pertahanan tubuh terhadap berbagai


serangan penyakit atau virus.
e. Perubahan sistem integumen
Perubahan pada sistem integumen yang terjadi pada lansia yaitu kulit keriput
akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan kulit keelastisannya karena
menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adipose, kelenjar keringat mulai tak
bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan
temperatur tinggi, menurunnya aliran darah dalam kulitjuga menyebabkan luka-
luka kurang baik.
f. Perubahan sistem sensori (Panca Indra)
Perubahan pada panca indra merupakan suatu organ yang tersusun dari jaringan,
sedangkan jaringan sendiri merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi
yang sama.
B. Konsep Hipertensi
1. Definisi Hipertensi
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik lebih tinggi dari
140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg. Hipertensi Sistolik
Terisolasi (HST) merupakan suatu faktor risiko kardiovaskuler pada lansia, dua faktor
yang bisa terjadinya hipertensi sistolik adalah kekakuan arteri dan pantulan
gelombang carotid secara dini.
2. Klasifikasi Hipertensi
a. Berdasarkan bentuk hipertensi
Menurut Perry dalam Kamal (2014) klasifikasi tekanan darah untuk usia dewasa 18
tahun dan lansia seperti yang terdapat dibawah ini.
Klasifikasi menurut WHO (Sani 2008)
Klasifikasi Derajat Tingkatan Sistolik Diastolik
Hipertensi
Hipertensi derajat I Ringan 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Hipertensi derajat II Sedang 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Hipertensi derajat III Berat 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Hipertensi derajat IV Sangat Berat ≥210 mmHg ≥120 mmHg
3

b. Berdasarkan penyebab
1) Hipertensi Primer atau Hipertensi Esensial hampir 90% tidak diketahui
penyebabnya, karena faktor risiko gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang
bergerak (inaktivitas) dan pola makan.
2) Hipertensi sekunder penyebabnya boleh dikatakan telah pasti, misalnya
penyempitan arteri renalis atau penyakit parenkim ginjal, berbagai obat,
disfungsi organ, tumor, dan kehamilan.
3. Etiologi
Menurut Kowalski dalam Kamal (2014) faktor resiko yang dapat dimasukkan
sebagai etiologi faktor terjadinya hipertensi yaitu :

a. Faktor keturunan
Jika seseorang memiliki orang tua atau saudara yang memiliki tekanan darah
tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar.
b. Usia
Penelitian menunjukkan bahwa usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan
meningkat.
c. Gaya hidup
Gaya hidup denganberaktivitas fisik secara teratur tidak hanya menurunkan
tekanan darah, juga menyebabkan perubahan yang signifikan.Aktivitas fisik dapat
meningkatkan aliran darah ke jantung, kelenturan arteri, dan fungsi arterial.
Aktivitas fisik juga dapat memperlambat aterosklerosis dan menurunkan risiko
serangan jantung dan stroke.
d. Kelamin
Pada umumnya hipertensi pada pria lebih tinggi dari pada wanita, namun pada usia
pertengahan atau lanjut usia, pada usia diatas 65 tahun paling tinggi yang
mengalami hipertensi yaitu wanita.
e. Obesitas
Kenaikan berat badan yang berlebih sangat berisiko 65-70% terkena hipertensi
primer. Obesitas dihubungkan dengan peningkatan volume intravaskuler.
4. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis menurut Baughman dalam Adjani (2016), seabagai berikut:
a. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan tidak adanya abnormalitas selain tingginya
tekanan darah
4

b. Dapat terjadi perubahan pada retina, seperti perdarahan, penyempitan pembuluh


darah
c. Penyakit arteri koroner dengan angina merupakan gejala umum pada hipertensi
d. Keterlibatkan vaskular atau pembuluh darah pada otak dapat mengakibatkan stroke
atau serangan iskemia transien dengan gejala paralisis sementara pada satu sisi
(hemiplegia) dan gangguan penglihatan.
5. Patofisiologi
Peningkatan darah pada lansia disebabkan oleh perubahan struktur dan fungsi
arteri yang dikaitkan dengan penuaan. Pada lapisan intima terdapat sel endotel yang
mengalami penurunan produksi nitric oxide. Nitric oxide berperan dalam
vasodilatasi tonus pembuluh darah. Penurunan produksi nitrix oxide dapat
mengakibatkan kekauan arteri dan penyempitan lumen pembuluh darah.
Vasokontriksi pembuluh darah dan adanya penyempitan lumen pembuluh darah
dapat meningkatkan tahanan vaskuler perifer sehingga dapat meningkatkan tekanan
darah. Peningkatan tekanan darah pada lansia merupakan bagian dari proses
penuaan, namun faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi pada
lansia yaitu gaya hidup seperti aktivitas yang kurang, konsumsi natrium tinggi dan
obesitas.
6. Komplikasi
a. Penyakit serebrovaskuler
Hipertensi pada lansia merupakan faktor risiko untuk terjadinya stroke dan
perdarahan pada otak.
b. Penyakit arteri koroner
Penyakit arteri koroner pada lansia dengan hipertensi insedensinya lebih tinggi
hingga mencapai 85% dibandingkan dengan lansia yang tidak mengalami
hipertensi.
c. Gangguan mata
Kerusakan pembuluh darah perifer akibat hipertensi salah satunya pada pembuluh
darah retina yang ditandai dengan perdarahan, edema dan gangguan penglihatan.
7. Penatalaksanaan
a. Pengobatan dengan farmakologis
1) Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan
diuresis.Pengurangan volume plasma dan Stroke Volume (SV) berhubungan
5

dengan dieresis dalam penurunan curah jantung (Cardiac Output) dan tekanan
darah pada akhirnya.Penurunan curah jantung yang utama menyebabkan
resitensi perifer.
2) Beta Blocker
Mekanisme hipotensi beta bloker tidak diketahui tetapi dapat melibatkan
menurunnya curah jantung melalui kronotropik negatif dan efek inotropik
jantung dan inhibisi pelepasan renin dan ginjal.
3) Inhibitor Enzim Pengubah Angiotensin (ACE-inhibitor)
ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam regulasi
tekanan darah arteri). ACE didistribusikan pada beberapa jaringan dan ada
pada beberapa tipe sel yang berbeda tetapi pada prinsipnya merupakan sel
endothelial. Kemudian, tempat utama produksi angiotensin II adalah
pembuluh darah bukan ginjal.
4) Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin II digenerasikan oleh jalur renin-angiotensin (termasuk ACE) dan
jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain seperti chymases. Inhibitor
ACE hanya menutup jalur renin-angiotensin, ARB menahan langsung reseptor
angiotensin tipe I, reseptor yang memperentarai efek angiotensin II.
5) Antagonis Kalsium
Verapamil menurunkan denyut jantung, memperlambat konduksi nodus AV,
dan menghasilkan efek inotropik negative yang dapat memicu gagal jantung
pada penderita lemah jantung yang parah. Diltiazem menurunkan konduksi
AV dan denyut jantung dalam level yang lebih rendah daripada verapamil.
6) Alpha blocker
Prasozin, Terasozin dan Doxazosin merupakan penghambat reseptor α1 yang
menginhibisi katekolamin pada sel otot polos vascular perifer yang
memberikan efek vasodilatasi.Kelompok ini tidak mengubah aktivitas
reseptor α2sehingga tidak menimbulkan efek takikardia.
7) VASO-dilator langsung
Hedralazine dan Minokxidil menyebabkan relaksasi langsung otot polos
arteriol.Aktivitasi refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran simpatetik
dari pusat fasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah jantung, dan
pelepasan renin.
6

8) Inhibitor Simpatetik Postganglion


Guanethidin dan guanadrel mengosongkan norepinefrin dari terminal
simpatetik postganglionik dan inhibisi pelepasan norepinefrin terhadap respon
stimulasi saraf simpatetik.
b. Non farmakologis
Menurut Jafar (2010), diantaranya adalah :
1) Diet rendah garam /kolesterol /lemak jenuh
2) Mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium.
Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi.
3) Mengurangi minum minuman atau makanan beralkohol.
4) Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi.
5) Mengkonsumsi sayur dan buahyang berserat tinggi.
6) Berhenti merokok juga berperan besar untuk mengurangi tekanan darah tinggi
atau hipertensi
7) Menghindari obatyang bisa meningkatkan tekanan darah.
C. Tekanan Darah
1. Definisi Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan tekanan yang dihasilkan oleh darah terhadap
pembuluh darah. Tekanan ini timbul pada dinding arteri dan diukur pada nadi yaitu
tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik merupakan tekanan puncak terjadi saat
ventrikel berkontraksi. Tekanan darah sistolik dihasilkan oleh otot jantung yang
memompa darah dari ventrikel menuju ke dalam arteri yang telah meregang. Tekanan
diastolik merupakan tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat.
2. Fisiologi Tekanan Darah
a. Curah jantung
Curah jantung merupakan volume darah yang dipompa jantung selama 1 menit.
b. Tahanan perifer
Tahanan perifer merupakan tahanan terhadap aliran darah yang ditentukan oleh
tonus otot vaskuler dan diameter pembuluh darah. Pembuluh darah yang
memberikan tahanan yang paling besar pada aliran darah yaitu arteri kecil dan
arteriol. Semakin kecil lumen pembuluh darah semakin besar tahanan vaskuler
terhadap aliran darah.
7

c. Viskositas
Kekentalan darah dapat mempengaruhi kemudahan aliran darah melalui pembuluh
darah kecil. Viskositasdarah disebabkan protein plasma dan jumlah sel darah yang
berada di dalam aliran darah.
d. Elastisitas
Dinding pembuluh darah arteri normalnya bersifat elastis dan dapat mudah
berdilatasi. Peningkatan tekanan dalam arteri diikuti juga peningkatan diameter
dinding pembuluh darah untuk mengakomodasi perubahan tekanan.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Darah
a. Usia
Tekanan darah pada anak-anak atau remaja dikaji dengan memperhitungkan
ukuran tubuh dan usia. Anak-anak yang lebih besar (lebih berat atau lebih tinggi)
tekanan darahnya lebih tinggi dari pada anak-anak yang lebih kecil dengan usia
yang sama. Tekanan darah dewasa cenderung meningkat seiring dengan
pertambahan usia.
b. Stres
Stimulasi saraf simpatik sehingga dapat meningkatkan frekuensi darah, curah
jantung dan tahanan vaskuler perifer diakibatkan oleh ansietas, takut, nyeri dan
stres emosi.
c. Ras
Hipertensi lebih sering terjadi pada kulit hitam dimana dua kali lebih berisiko
dibandingkan dengan ras kulit putih.
d. Medikasi
Medikasi dapat secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi tekanan darah.
Medikasi antihipertensi dapat menurunkan tekana darah. Golongan medikasi lain
yang dapat menurunkan tekanan darah yaitu analgesik narkotik.
e. Jenis Kelamin
Tekanan darah pada laki-laki atau perempuan jika ditinjau dari segi klinis tidak ada
perbedaan yang signifikan. Pada laki-laki yang sudah pubertas cenderung memiliki
tekanan darah yang lebih tinggi, sedangkan pada wanita yang sudah menopause
cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan
usia yang sama.
8

f. Merokok
Merokok dapat meningkatkan risiko peningkatan tekanan darah. Menghirup asap
tembau dapat menyebabkan pengaruh langsung pada jantung dan pembuluh darah.
Rokok mengandung senyawa nikotin yang merupakan bahan aktif dalam
tembakau. Nikoti dapat merangsang pengeluaran adrenalin sehingga dapat
membuat jantung berdenyut lebih cepat dan mingkatkan ketegangan arteri sehingga
dapat meningkatkan tekanan darah.
D. Teori-teori Proses Penuaan
1. Teori Biologi
a. Teori genetik dan Mutasi (Somatic Mutatie Theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesie
spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokomia yang
deprogram oleh molekul-kolekul/DNA dan setiap sel pada saatnya akan
mengalami mutasi.
2. ’’Pemakaian dan Rusak’
Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
b. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh
Pengumpulan dari pigmen atau lemak tubuh, yang disebut Teori
Akumulasi Dari Produk Sisa. Sebagai contoh adanya pigmen Lypofuchine di
sel otot jantung dab sel susunan syaraf pusat pada orang lanjut usia yang
mengakibatkan menganggu fungsi sel itu sendi .
c. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan
d. Tidak ada perlindungan terhadap ; radiasi, penyakit, dan kekurangan gizi .
e. Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto Immune Theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat
khusus. Teori ‘’Immunologi Slow Virus’’ (Imuunology Slow Virus Theory)
Sistem immune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus
ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
f. Teori Stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.
Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan
internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai .
g. Teori Radikal Bebas
9

Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal


bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik
seperti karbohidrat dan protein.Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat
regenerasi.
h. Teori Rantai Silang
Sel-sel yang tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang
kuat, khusunya jaringan kolagen.Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis,
kekacauan, dan hilangnya fungsi.
i. Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah
setelah sel-sel tersebut mati.
3. Teori Kejiwaan Sosial
a. Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara
langsung. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah
mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
b. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup pada lanjut usia.
c. Mempertahankan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia
pertengahan ke lanjut usia.
d. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
e. Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjur usi.Teori ini
merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh
tipe personality yang dimilikinya.
4. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran
individu dengan individu lainnya. Pada lanjut usia pertama diajukan oleh
Cumming and Henry 1961. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya
usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan
sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan
interaksi social lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas
sehingga sering terjadi kehilangan ganda (Triple Loos), yakni :
a. Kehilangan peran (Loos of Role)
b. Hambatan kontak sosial (Restraction of Contacts and Relation Ships)
c. Berkurangnya komitmen (Reduced commitment to social Mores and Values.
10

E. Asuhan Keperawatan
Menurut Hidayat (2009) asuhan keperawatan pada lansia dengan hipertensi
meliputi:
1. Pengkajian:
Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko, antara lain: kegemukan, riwayat
keluarga positif, peningkatan kadar lipid serum, merokok sigaret berat, penyakit
ginjal, terapi hormon kronis, gagal jantung, kehamilan.
a. Aktivitas/ Istirahat, gejala: kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup
monoton. Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,
takipnea.
b. Sirkulasi, gejala: riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi. Tanda: kenaikan
TD, nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, takikardi, murmur
stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin
(vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin lambat/ bertunda.
c. Integritas Ego, gejala: riwayat perubahan kepribadian, ansietas, faktor stress
multiple (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan). Tanda:
letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan
meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi, gejala: gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat
penyakit ginjal pada masa yang lalu).
e. Makanan/cairan, gejala: makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi
garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir - akhir ini
(meningkat/turun) dan riwayat penggunaan diuretik. Tanda: berat badan normal
atau obesitas, adanya edema, glikosuria.
f. Neurosensori, gejala: keluhan pening pening/pusing, berdenyut, sakit kepala,
sub oksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan setelah
beberapa jam), gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis).
Tanda: status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek,
proses pikir, penurunan kekuatan genggaman tangan.
g. Nyeri/ketidaknyamanan, gejala: angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan
jantung), sakit kepala.
11

h. Pernafasan, gejala: dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,


ortopnea, dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda: distres.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
b. Gangguan intoleransi aktivitas
c. Gangguan rasanyaman nyeri
d. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan
dengan gangguan sirkulasi.
e. Risiko jatuh
f. Risiko kesepian
3. Rencana Tindakan
a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi
iskemia miokard
KH : Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah /
beban kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat
diterima, memperlihatkan norma dan frekuensi jantung stabil dalam rentang
normal pasien.
Intervensi :
1) Observasi Tanda-tanda vital
2) Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.
3) Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi.
4) Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
5) Lakukan masase punggung dan leher.
6) Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan.
7) Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
8) Berikan pembatasan cairan dan diet natrium sesuai indikasi.
9) Kolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi
b. Gangguan intoleransi aktivitas
Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi.
KH : Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan /
diperlukan,melaporka n peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat
diukur.
12

Intervensi
1) Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan
/ kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian padaaktivitas
dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk
memajukan tingkat aktivitas individual).
2) Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen
miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen
yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba
pada kerja jantung).
3) Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi,
menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik
penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga
membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen).
4) Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.(Seperti
jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan mencegah
kelemahan).
c. Gangguan rasa nyaman: nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan
tekanan vaskuler serebral.
Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.
KH : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.
Intervensi :
1) Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan.
2) Batasi aktivitas.
3) Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin.
4) Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan.
5) Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es,
posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi
6) Pertahankan tirah baring.