Anda di halaman 1dari 29

PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

MODUL 3

OPERATIONAL AMPLIFIER

3.1 Tujuan Praktikum


1. Mempelajari penggunaan operational amplifier.
2. Memahami karakteristik dari operational amplifier.
3. Memahami jenis-jenis operational amplifier.
4. Menghitung besarnya penguatan (gain) pada Op-Amp.

3.2 Teori Dasar


3.2.1 Pengertian dan Skematik Operational Amplifier
Operational Amplifier (Op-Amp) adalah suatu blok penguat yang
mempunyai dua masukan dan satu keluaran, berfungsi untuk memperkuat
sinyal, terutama sinyal-sinyal listrik yang lemah. Istilah operational merujuk
pada kegunaannya pada rangkaian elektronika, dimana Operational Amplifier
memberikan operasi aritmatik pada tegangan input.

Secara skematik, Operational Amplifier digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.2.1 Skematik Operational Amplifier

Kelompok 13 88
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Bagian-bagian Operational Amplifier:


1. Non-inverting input
2. Inverting input
3. Catu daya positif
4. Catu daya negatif
5. Output.
Input Op-Amp bisa berupa tegangan searah maupun tegangan bolak-
balik. Sedangkan output Op-Amp tergantung input yang diberikan. Jika input
Op-Amp diberi tegangan searah dengan input Non Inverting (+) lebih besar
dari pada input Inverting (-), maka pada output Op-Amp akan bernilai positif
(+). Sebaliknya jika input Non Inverting (+) lebih kecil dari pada input
inverting (-), maka output Op-Amp akan negatif (-).
Untuk memahami cara kerja Op-Amp perlu diketahui sifat-sifat Op-
Amp. Beberapa sifat ideal Op-Amp adalah sebagai berikut:
a. Penguat lingkar terbuka (A) tak berhingga.
b. Hambatan keluaran lingkar terbuka (Ro) adalah nol.
c. Hambatan masukan lingkar terbuka (Ri) tak berhingga.
d. Lebar pita (bandwidth) tak berhingga, atau respon frekuensi flat.
e. Common Mode Rejection (CMMR) tak berhingga.

3.2.2 Jenis-Jenis Amplifier


1. Inverting Amplifier

Gambar 3.2.2 Skematik Inverting Amplifier

Kelompok 13 89
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Rangkaian dasar penguat inverting adalah seperti yang ditunjukkan


pada Gambar 3.2.2, dimana sinyal masukannya dibuat melalui input
inverting. Seperti namanya, bahwa fase keluaran dari penguat inverting ini
akan selalu berbalikan dengan inputnya. Pada rangkaian ini, umpan balik
negatif di bangun melalui resistor R2. Pada penguat membalik sumber isyarat
(Vin) dihubungkan dengan masukan membalik sedangkan masukan positif
ditanahkan (GND).

Untuk operational amplifier ideal juga tidak ada arus yang mengalir
melalui titik X, maka arus yang melewati R1 harus sama dengan besar arus
yang melewati R1. Beda tegangan pada R1 = Vx – Vout dikarenakan Vx adalah
untuk amplifier ideal maka beda potensial pada R1 = – Vout

Jadi : – Vout = I1 . R2

Dari kedua persamaan ini diperoleh voltase yang didapat dari sirkuit:

Vout Rf
=_
Vin R1

tanda negatif ( – ) menunjukkan outputnya adalah berlawanan arah

2. Non-Inverting Amplifier

Gambar 3.2.3 Skematik Non-Inverting Amplifier

Penguat ini memiliki masukan yang dibuat melalui input non-


inverting. Dengan demikian tegangan keluaran rangkaian ini akan satu fasa

Kelompok 13 90
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

dengan tegangan input-nya. Untuk menganalisa rangkaian penguat Op-Amp


non-inverting, caranya sama seperti menganalisa rangkaian inverting.
Sebagai penguat non-inverting sumber isyarat dihubungkan dengan masukan
(+). Output-nya bisa diambil dan beda potensial sirkuit yang terdiri dari
hubungan seri R1 dan R2. Voltase Vx adalah fraksi R1 / ( R1 + R2 ) dari voltase
output adalah:

R1
Vx = Vout
( R1 + R2 )

Voltase perolehan dari sirkuit:


Vout ( R1 + R2 ) R2
= =1 +
Vin R1 R1

Kekhususan dari operational amplifier ini adalah ketika loop umpan


baliknya adalah sirkuit pendek R2 = 0, maka voltase perolehan adalah 1.
Input menuju sirkuit sama dengan hambatan yang besar. Hambatan input
dengan ground biasanya lebih kecil 75 . Amplifier jenis ini disebut juga
dengan voltage follower.

3. Summing Amplifier

Gambar 3.2.4 Skematik Summing Amplifier

Gambar 3.2.4 menunjukkan sirkuit dari sebuah summing amplifier,


sama dengan inverting amplifier, X merupakan virtual earth. Ini merupakan
penjumlahan dari arus yang masuk ke X harus sama dengan yang keluar.

Kelompok 13 91
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Dimana IA = VA/RA, IB = VB/RB dan IC = VC/RC, kita juga harus memiliki


arus yang sama melewati tahanan umpan balik. Beda potensial R2 adalah
(Vin – Vx), dimana Vx diasumsikan bernilai nol.

𝑉𝑜𝑢𝑡 𝑉𝐴 𝑉𝐵 𝑉𝑐
− = + +
𝑅2 𝑅𝐴 𝑅𝐵 𝑅𝐶

Jika RA = RB = RC = R1, maka :

𝑅1
𝑉𝑜𝑢𝑡 = − (𝑉 + 𝑉𝐵 + 𝑉𝐶 )
𝑅2 𝐴

Ilustrasi diatas memperlihatkan desain sirkuit yang dapat digunakan untuk


memperoleh voltase output yang merupakan rata – rata dari ketiga voltase
input ketiga sensor.

4. Integrating Amplifier

Gambar 3.2.5 memperlihatkan suatu integrating amplifier yang


merupakan operasional inverting amplifier dengan umpan baliknya melewati
sebuah kapasitor.

Gambar 3.2.5 Skematik Integrating Amplifier

Arus merupakan laju perpindahan muatan (q) dan untuk kapasitor q


= Cv, dimana V voltase yang melewatinya. Arus yang melewati kapasitor
adalah I = dq/dt = Cdv/dt. Perbedaan potensial melaui C adalah (V x – Vout)
dan karena Vx relatif sama dengan nol maka secara virtual earth = Vout, maka

Kelompok 13 92
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

arus yang melewati kapasitor adalah Cdvout/dt tetapi ini juga arus yang
melewati tahanan input R dimana :

𝑉𝑖𝑛 𝑑𝑉𝑜𝑢𝑡
= −𝐶
𝑅 𝑑𝑡

1
𝑑𝑉𝑜𝑢𝑡 = − ( ) 𝑉𝑖𝑛 𝑑𝑡
𝑅𝐶

Dari kedua persamaan diatas diperoleh :

𝑡2
1
𝑉𝑜𝑢𝑡 (𝑡2 ) − 𝑉𝑜𝑢𝑡 (𝑡1 ) = −( ) ∫ 𝑉𝑖𝑛 𝑑𝑡
𝑅𝐶 𝑡1

Vout ( t2 ) adalah voltase output pada waktu t2 demikian juga untuk t1. Output
merupakan proporsional menuju integral dari voltase input. Perubahan sirkuit
dapat diperoleh jika kapasitor dan resistor diubah letaknya pada sirkuit untuk
mengintegralkan amplifier.

5. Differential Amplifier

Salah satu amplifier yang berbeda antara kedua voltase input-nya.


Gambar 3.2.6 memperlihatkan sirkuit tersebut dimana secara nyata tidak ada
arus melalui tahanan terbesar pada operational amplifier diantara terminal
kedua input, tidak ada tegangan jatuh dan kedua input X akan sama
potensialnya.

Voltase V2 melewati R2 dan R1 secara seri, maka potensial V2 pada X


adalah:

𝑉𝑥 𝑅2
=
𝑉2 𝑅1 + 𝑅2

Kelompok 13 93
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Gambar 3.2.6 Skematik Differential Amplifier

Arus melewati tahanan umpan balik mesti sama dengan arus yang melewati
R1 karenanya :

𝑉1 − 𝑉𝑥 𝑉𝑥 − 𝑉𝑜𝑢𝑡
=
𝑅1 𝑅2

𝑉𝑜𝑢𝑡 1 1 𝑉1
= 𝑉𝑥 ( + ) −
𝑅2 𝑅2 𝑅1 𝑅1

𝑅1
𝑉𝑜𝑢𝑡 = (𝑉 − 𝑉1 )
𝑅2 2

3.2.3 Parameter Operational Amplifier

Pada keadaan ideal Op-Amp mempunyai parameter yang penting,


yaitu:

a. Open loop voltage gain (AoL)


Penguatan tegangan pada keadaan terbuka (open loop voltage
gain) untuk frekuensi rendah adalah sangat besar sekitar 100.000 atau
sekitar 100 dB.

b. Input impedance (Zin)


Impedansi input pada kedua terminal input kondisi open loop
tinggi sekali sekitar 1 MW, untuk OP-AMP yang dibuat dari FET,
impedansi
input-nya sekitar 10,6 MW lebih.

Kelompok 13 94
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

c. Output impedance (Zo)


Impedansi output pada kondisi open loop rendah sekali sekitar
100 w bahkan lebih kecil.

d. Input bias current (Ib)


Kebanyakan Op-Amp pada bagian input-nya menggunakan
transistor bipolar, maka arus bias pada input-nya adalah kecil. Level
amplitudonya tidak lebih dari beberapa mikro Ampere.

e. Supply voltage range (Us)


Tegangan sumber untuk Op-Amp mempunyai range minimum
dan maksimum yaitu untuk Op-Amp yang banyak beredar di lapangan /
di pasaran sekitar ± 3 V sampai ± 15 V.

f. Input voltage range (Ui max)


Range tegangan input maksimum sekitar 1 Volt atau 2 Volt atau
lebih dibawah dari tegangan sumber Us.

g. Output voltage range (Uo max)


Tegangan output maksimum mempunyai range antara 1 Volt
atau 2 Volt lebih dibawahnya tegangna sumber (supply voltage) Us.
Tegangan output ini biasanya tergantung tegangan saturasi Op-Amp.

h. Differensial input offset voltage (Uio)


Pada kondisi ideal output akan sama dengan nol bila kedua
terminal inputnya diground-kan. Namun pada kenyataannya semua
piranti Op-Amp tidak ada yang sempurna, dan biasanya terjadi
ketidakseimbangan pada kedua terminal input-nya sekitar beberapa
milivolt. Tetapi jika input ini dibiarkan untuk dikuatkan dengan Op-
Amp dengan model closed loop, maka tegangan output bisa melebihi
saturasinya. Karena itu biasanya setiap Op-Amp pada bagian luar
dilengkapi dengan rangkaian offset tegangan nol (zero offset voltage)

Kelompok 13 95
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

i. Common Mode Rejection Ratio (CMRR)


Secara ideal Op-Amp menghasilkan output yang proporsional
dengan / terhadap beda kedua terminal input, dan menghasilkan output
sama dengan nol jika sinyal kedua input simultan yang biasa disebut
common mode. Secara praktik sinyal common mode tidak diberikan
pada input-nya dan dikeluarkan pada output-nya. Sinyal CMRR
(Common Mode Rejection Ratio) selalu diekspresikan dengan rasio dari
penguatan sinyal beda Op-Amp dengan harga sebesar 90 dB.

j. Transition frequency (fT)


Secara umum Op-Amp pada frekuensi rendah mempunyai
penguatan tegangan sekitar 100 dB. Kebanyakan Op-Amp mempunyai
frekuensi transisi fT setiap 1 MHz dan penguatan pada harga sebesar 90
dB.

k. Slew rate (s)


Untuk penormalan batas lebar band (bandwidth limitations) yang
biasa disebut juga sebagai slew rate limiting, yaitu suatu efek untuk
membatasi rate maksimum dari perubahan tegangan output piranti Op-
Amp. Normalnya slew rate Volt per mikro detik ( V/ µS ), dan range-
nya sebesar 1 V / µS sampai 10 V / µS pada Op-Amp yang sudah
populer. Efek lain dari slew rate adalah membuat bandwidth lebih besar
untuk sinyal output yang rendah daripada sinyal output yang besar.

3.2.4 IC Operational Amplifier 741

Gambar 3.2.7 Konfigurasi IC Op-Amp 741

Kelompok 13 96
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

IC Op-Amp ini merupakan jenis amplifier yang digunakan dalam


percobaan. Rangkaian Op-Amp ini dikemas dalam bentuk dual in package
(DIP). DIP memiliki tanda bulatan atau strip pada salah satu ujungnya untuk
menandai arah yang benar dari rangkaian.

Pada bagian atas DIP biasanya tercetak nomor standar IC. Perhatikan
bahwa penomoran pin dilakukan berlawanan arah jarum jam, dimulai dari
bagian yang dekat dengan bulatan atau tanda strip. Pada IC ini terdapat dua
pin input, dua pin power supply, satu pin output, satu pin NC (no conection)
dan dua pin offset null. Pin offset null memungkinkan kita untuk memaksa
tegangan output menjadi nol ketika input-nya nol.

IC Op-Amp memiliki kelakuan yang mirip dengan konsep Op-Amp


ideal pada analisis rangkaian. Bagaimana pun, terdapat batasan-batasan
penting yang perlu diperhatikan:
1. Tegangan maksimum power supply tidak boleh melebihi rating
maksimum, biasanya ±18V, karena akan merusak IC.
2. Tegangan output dari IC Op-Amp biasanya satu atau dua volt lebih kecil
dari tegangan power supply.
3. Arus output dari sebagian besar Op-Amp memiliki batas pada 30 mA,
yang berarti resistansi beban yang ditambahkan pada output Op-Amp
harus cukup besar sehingga pada tegangan output maksimum, arus output
yang mengalir tidak melebihi batas arus maksimum.

Kelompok 13 97
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

3.3 Metodologi
3.3.1 Skema Alat
1. IC Amplifier

Gambar 3.3.1 IC Amplifier

3.3.2 Percobaan Inverting Amplifier

1. Buat rangkaian seperti Gambar 3.3.2.


2. Berikan V1 = -10 mV dengan frekuensi 100 Hz, Ri = 10 Ω, Rf = 10 Ω.
3. Lihat V0 pada osiloskop, catat nilainya.
4. Hitung dan catat besarnya penguatan (Vout/Vin)
5. Ulangi langkah 2 dan 3 dengan Rf = 5 Ω, Rf = 3,3 Ω, Rf = 2,5 Ω, Rf = 20
Ω, Rf = 30 Ω.

Gambar 3.3.2 Rangkaian Inverting Amplifier

Tabel 3.3.1 Percobaan Inverting Amplifier

Vpp (mV) Gain


Ri (Ω) Rf (Ω)
Output Input (Vout/Vin)
2,5
3,3
5
10 -10
10
20
30

Kelompok 13 98
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

3.3.3 Percobaan Non-Inverting Amplifier

1. Buat rangkaian seperti Gambar 3.3.3.


2. Berikan V1 = 10 mV dengan frekuensi 100 Hz, Ri = 10 Ω, Rf = 10 Ω.
3. Lihat V0 pada osiloskop, catat nilainya.
4. Hitung dan catat besarnya penguatan (Vout/Vin).
5. Ulangi langkah 2 dan 3 dengan Rf = 5 Ω, Rf = 3,3 Ω, Rf = 2,5 Ω, Rf = 20
Ω, Rf = 30 Ω.

Gambar 3.3.3 Rangkaian Non-Inverting Amplifier

Tabel 3.3.2 Percobaan Non-Inverting Amplifier

Vpp (mV) Gain


Ri (Ω) Rf (Ω)
Output Input (Vout/Vin)
2,5
3,3
5
10 10
10
20
30

3.3.4 Percobaan Summing Amplifier

1. Buat rangkaian seperti Gambar 3.3.4.


2. Berikan V1 = V2 = V3 = -10 mV dengan frekuensi 100 Hz, Ri = 10 Ω, R1 =
R2 = R3 = 10 Ω.
3. Lihat V0 pada osiloskop, catat nilainya.
4. Hitung dan catat besarnya penguatan (Vout/Vin).
4. Ulangi langkah 2 dan 3 dengan Rf = 5 Ω, Rf = 3,3 Ω, Rf = 2,5 Ω, Rf = 20
Ω, Rf = 30 Ω.

Kelompok 13 99
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Gambar 3.3.4 Rangkaian Summing Amplifier

Tabel 3.3.3 Percobaan Summing Amplifier

Ri Rf Vpp (mV) Gain


(Ω) (Ω) Output VLSB VMSB Vmax Vfs Input (Vout/Vin)

2,5
3,3
4
5
10 -10
6
9
20
30

Kelompok 13 100
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

3.4 Data dan Pembahasan

3.4.1 Perhitungan

3.4.1.1 Inverting Amplifier

Vin = -10 mV

Ri = 10 Ω

(a) Rf = 2,5 Ω

Rf
Vout =- x Vin
Ri

2,5 Ω
=- x (−10 mV)
10 Ω

= 2,5 mV
Vout
Gain =
Vin

2,5 mV
=
− 10 mV

= - 0,25

(b) Rf = 3,3 Ω

Rf
Vout =- x Vin
Ri

3,3 Ω
=- x (−10 mV)
10 Ω

= 3,3 mV
Vout
Gain =
Vin

3,3 mV
=
− 10 mV

= - 0,33

Kelompok 13 101
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

(c) Rf =5Ω

Rf
Vout =- x Vin
Ri

5Ω
=- x (−10 mV)
10 Ω

= 5 mV
Vout
Gain =
Vin

5 mV
=
− 10 mV
= - 0,5

(d) Rf = 10 Ω

Rf
Vout =- x Vin
Ri

10 Ω
=- x (−10 mV)
10 Ω

= 10 mV
Vout
Gain =
Vin

10 mV
=
− 10 mV

=-1

(e) Rf = 20 Ω

Rf
Vout =- x Vin
Ri

20 Ω
=- x (−10 mV)
10 Ω

= 20 mV

Kelompok 13 102
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

20 mV
=
− 10 mV
=-2

(f) Rf = 30 Ω

Rf
Vout =- x Vin
Ri

30 Ω
=- x (−10 mV)
10 Ω

= 30 mV
Vout
Gain =
Vin

30 mV
=
− 10 mV

=-3

Tabel 3.4.1 Hasil Perhitungan Inverting Amplifier

Vpp (mV) Gain


Ri (Ω) Rf (Ω)
Output Input (Vout/Vin)
2,5 2,5 -0,25
3,3 3,3 -0,33
5 5 -0,5
10 -10
10 10 -1
20 20 -2
30 30 -3

Kelompok 13 103
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

3.4.1.2 Non-Inverting Amplifier

Vin = 10 mV

Ri = 10 Ω

(a) Rf = 2,5 Ω

R
Vout = (1 + Rf ) x Vin
i

2,5 Ω
= (1 + 10 Ω ) x (10 mV)

= 12,5 mV
Vout
Gain =
Vin

12,5 mV
=
10 mV

= 1,25

(b) Rf = 3,3 Ω

R
Vout = (1 + Rf ) x Vin
i

3,3 Ω
= (1 + 10 Ω ) x 10 mV

= 13,3 mV
Vout
Gain =
Vin

13,3 mV
=
10 mV

= 1,33

Kelompok 13 104
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

(c) Rf =5Ω

R
Vout = (1 + Rf ) x Vin
i

5Ω
= (1 + 10 Ω) x 10 mV

= 15 mV
Vout
Gain =
Vin

15 mV
=
10 mV

= 1,5

(d) Rf = 10 Ω

R
Vout = (1 + Rf ) x Vin
i

10 Ω
= (1 + 10 Ω) x 10 mV

= 20 mV
Vout
Gain =
Vin

20 mV
=
10 mV

=2

(e) Rf = 20 Ω

Rf
Vout = (1 +
Ri
) x Vin
20 Ω
= (1 + 10 Ω) x 10 mV

= 30 mV

Vout
Gain =
Vin

Kelompok 13 105
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

30 mV
=
10 mV

=3

(f) Rf = 30 Ω

R
Vout = (1 + Rf ) x Vin
i

30 Ω
= (1 +
10 Ω
) x 10 mV
= 40 mV
Vout
Gain =
Vin

40 mV
=
10 mV

=4

Tabel 3.4.2 Hasil Perhitungan Non-Inverting Amplifier

Vpp (mV) Gain


Ri (Ω) Rf (Ω)
Output Input (Vout/Vin)
2,5 12,5 1,25
3,3 13,3 1,33
5 15 1,5
10 10
10 20 2
20 30 3
30 40 4

Kelompok 13 106
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

3.4.1.3 Summing Amplifier

Vin = VA = VB = VC = -10 mV

Ri = 10 Ω

(a) Rf = 2,5 Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

2,5 Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω

= 7,5 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(2,5 Ω x (−10 mV) )


=-
24−1 x 10 Ω

= 0,3125 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(2,5 Ω x (−10 mV) )


=-
10 Ω

= 2,5 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 0,3125 mV

= 4,6875 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 0,3125 mV + 4,6875 mV

= 5 mV

Kelompok 13 107
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

7,5 mV
=
−10 mV
= -0,75

(b) Rf = 3,3 Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

3,3 Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω

= 9,9 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(3,3 Ω x (−10 mV) )


=-
24−1 x 10 Ω

= 0,4125 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(3,3 Ω x (−10 mV) )


=-
10 Ω

= 3,3 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 0,4125 mV

= 6,1875 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 0,4125 mV + 6,1875 mV

= 6,6 mV

Kelompok 13 108
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

9,9 mV
=
−10 mV
= -0,99

(c) Rf =4Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

4Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω
= 12 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(4 Ω x (−10 mV) )
=-
24−1 x 10 Ω

= 0,5 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(4 Ω x (−10 mV) )
=-
10 Ω

= 4 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 0,5 mV

= 7,5 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 0,5 mV + 7,5 mV

= 8 mV

Kelompok 13 109
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

12 mV
=
−10 mV
= -1,2

(d) Rf =5Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

5Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω

= 15 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(5 Ω x (−10 mV) )
=-
24−1 x 10 Ω

= 0,625 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(5 Ω x (−10 mV) )
=-
10 Ω
= 5 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 0,625 mV

= 9,375 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 0,625 mV + 9,375 mV

= 10 mV

Kelompok 13 110
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

15 mV
=
−10 mV
= -1,5

(e) Rf =6Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

6Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω

= 18 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(6 Ω x (−10 mV) )
=-
24−1 x 10 Ω

= 0,75 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(6 Ω x (−10 mV) )
=-
10 Ω

= 6 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 0,75 mV

= 11,25 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 0,75 mV + 11,25 mV

= 12 mV

Kelompok 13 111
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

18 mV
=
−10 mV
= -1,8

(f) Rf =9Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

9Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω

= 27 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(9 Ω x (−10 mV) )
=-
24−1 x 10 Ω

= 1,125 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(9 Ω x (−10 mV) )
=-
10 Ω

= 9 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 1,125 mV

= 16,875 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 1,125 mV + 16,875 mV

= 18 mV

Kelompok 13 112
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

27 mV
=
−10 mV
= -2,7

(g) Rf = 20 Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

20 Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω

= 60 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(20 Ω x (−10 mV) )


=-
24−1 x 10 Ω

= 2,5 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(20 Ω x (−10 mV) )


=-
10 Ω

= 20 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 2,5 mV

= 37,5 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 2,5 mV + 37,5 mV

= 40 mV

Kelompok 13 113
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

60 mV
=
−10 mV
= -6

(h) Rf = 30 Ω

Rf
Vout =- x (VA + VB + VC )
Ri

30 Ω
=- x {(−10 mV) + (−10 mV) + (−10 mV)}
10 Ω

= 90 mV

(Rf x Vin )
VLSB =-
2n−1 x Ri

(30 Ω x (−10 mV) )


=-
24−1 x 10 Ω

= 3,75 mV

(Rf x Vin )
VMSB = -
Ri

(30 Ω x (−10 mV) )


=-
10 Ω

= 30 mV

Vmax = (2n − 1) x VLSB

= (24 − 1) x 3,75 mV

= 56,25 mV

Vfs = VLSB + Vmax

= 3,75 mV + 56,25 mV

= 60 mV

Kelompok 13 114
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

Vout
Gain =
Vin

90 mV
=
−10 mV
= -9

Tabel 3.4.3 Hasil Perhitungan Summing Amplifier

Ri Rf Vpp (mV) Gain


(Ω) (Ω) Output VLSB VMSB Vmax Vfs Input (Vout/Vin)

2,5 7,5 0,3125 2,5 4,6875 5 -0,75


3,3 9,9 0,4125 3,3 6,1875 6,6 -0,99
4 12 0,5 4 7,5 8 -1,2
5 15 0,625 5 9,375 10 -1,5
10 -10
6 18 0,75 6 11,25 12 -1,8
9 27 1,125 9 16,875 18 -2,7
20 60 2,5 20 37,5 40 -6
30 90 3,75 30 56,25 60 -9

Kelompok 13 115
PRAKTIKUM 2015/2016 LABORATORIUM MEKATRONIKA

3.5 Penutup

3.5.1 Kesimpulan

Setelah melaksanakan praktikum Operational Amplifier, maka


praktikan dapat berkesimpulan bahwa:

1. Operational Amplifier digunakan sebagai penguat tegangan atau beda


potensial dalam rangkaian elektronika.

2. Operational Amplifier memiliki karakteristik atau ciri-ciri tertentu.

3. Operational Amplifier terdiri atas beberapa jenis yang masing-masingnya


dapat digunakan sesuai karakteristiknya.

4. Operational Amplifier menghasilkan penguatan tegangan (gain) yang


didapat dengan membandingkan tegangan output terhadap tegangan
input.

3.5.2 Saran

Agar praktikum dapat dilaksanakan dengan lebih baik kedepannya,


maka praktikan hendaklah:

1. Memahami materi atau teori dasar sebelum melaksanakan praktikum.

2. Mengikuti seluruh rangkaian praktikum dari awal hingga akhir dengan


tertib.

3. Menjaga keselamatan kerja selama praktikum.

4. Mengikuti arahan Asisten selama praktikum.

Kelompok 13 116