Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PENCEGAHAN PENCEMARAN

MINIMISASI LIMBAH RUMAH SAKIT

Kelompok 2
Brian Wirawan 1606906250
Maretha Putri Ayu 1506746203
Nur Rizka Alia H. 1606906282

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI BIOPROSES


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Minimisasi Limbah Industri
Pestisida. Laporan ini dibuat dalam rangka menganalisis dan melaporkan hasil diskusi yang
telah penulis lakukan serta untuk memenuhi bagian tugas dari kuliah Pencegahan Pencemaran.
Dalam penulisan laporan ini, banyak halangan dan rintangan yang terjadi. Namun, pada
akhirnya penulis berhasil menyusun laporan ini atas bantuan dari berbagai pihak pendukung.
Penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam penyelesaian Makalah Pencegahan Pencemaran 1 (Minimisasi Limbah pada
Industri Pestisida) ini, yaitu:
1. Ibu Prof. Dr. Ir. Roekmijati W. Soemantojo, M.Si dan Ibu Dr. Eva Fathul Karamah,
S.T., M.T selaku dosen pengampu mata kuliah Pencegahan Pencemaran

2. Rekan kelompok selaku partner dalam bekerja

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dari penyusunan laporan
Minimisasi Limbah Industri Pestisida ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari semua pihak untuk perbaikan. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca.
Depok, Maret 2019

Kelompok 2

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................................................ ii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... ii

BAB I KEGIATAN ................................................................................................................. 1


1.1. Limbah Rumah Sakit..................................................................................................... 1
1.2. Fungsi Alat atau Tujuan Proses dan Dasar Kerja Instalasi Pengolah Limbah .............. 4

BAB II SOAL DAN PEMBAHASAN ................................................................................... 3


2.1. Minimisasi dan Pengolahan Limbah ........................................................................... 11
2.2. Minimisasi Limbah dengan upaya 3R......................................................................... 14
2.3. Minimisasi Limbah Cair dan Padat Rumah Sakit ....................................................... 15
2.4. Segregasi Limbah ........................................................................................................ 16
2.5. Upaya Minimisasi Limbah yang keluar lagi ............................................................... 17
2.6. Minimisasi Limbah Pihak Produsen dan Konsumen .................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 19

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagan Alir Pengolahan Limbah Rumah Sakit ......................................................... 3


Gambar 2. Limbah Padat Rumah Sakit ............................................................................................. 4
Gambar 3. Insinerasi ............................................................................................................................ 5
Gambar 4. Desorpsi Panas ................................................................................................................. 5
Gambar 5. Otoklaf ............................................................................................................................... 6
Gambar 6. Pengolahan Anerob Biofilter Up Flow ........................................................................ 10
Gambar 7. Hireaki Minimisasi limbah ........................................................................................... 11
Gambar 8. Minimisasi Limbah ........................................................................................................ 16

ii
BAB 1
KEGIATAN
1.1 Limbah Rumah Sakit
Pengertian dari limbah rumah sakit adalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah
sakit dalam bentuk padat, cair, pasta (gel) maupun gas yang dapat mengandung
mikroorganisme pathogen yang bersifat infeksius, bahan kimia beracun, dan sebagian bersifat
radioaktif (Depkes, 2006). Limbah rumah sakit bila tidak dikelola dengan baik akan dapat
mempengaruhi kesehatan manusia dan memperburuk lingkungan hidup karena limbah tersebut
bersifat infeksius dan mengandung bahan kimia yang beracun. Untuk mengoptimalkan upaya
penyehatan lingkungan Rumah Sakit dari pencemaran limbah yang dihasilkan maka
kementrian kesehatan RI mensyaratkan suatu rumah sakit harus memiliki fasilitas pengelolaan
limbah sendiri yang ditetapkan dalam KepMenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang
Pesyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yaitu:

a. Fasilitas pengelolaan limbah padat: Setiap RS harus melakukan reduksi limbah dimulai
dari sumber dan harus mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang
berbahaya, beracun, dan setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan limbah
medis mulai dari pengumpulan, pengangkutan dan pemusnahan harus melalui
sertifikasi dari pihak berwenang.
b. Fasilitas pengelolaan limbah cair: Limbah cair harus dikumpulkan dalam container
yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi, volume, dan prosedur
penangan dan penyimpanannya. RS harus memiliki instalasi pengolahan air limbah
sendiri.

Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yatu
limbah medis klinis dan non klinis baik itu limbah padat maupun limbah cair

1) Limbah Padat
Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah yang berbentuk padat akibat kegiatan
rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis (Keputusan MenKes
R.I. No. 1204/MENKES/SK/X/2004), yaitu:
 Limbah non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di luar medis
yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan
kembali apabila ada teknologi. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik
hitam.

1
 Limbah medis padat terdiri dari:
a) Limbah infeksius dan limbah patologi  disimpan dalam plastik kuning.
Limbah infeksius adalah limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan
isolasi penyakit menular (perawatan intensif) dan limbah laboratorium. Limbah
infeksius mencakup pengertian sebagai berikut (Yahar, 2011):
 Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit
menular (perawatan intensif).
 Limbah laboratorium yang berkaitan dengan mikrobiologi dari rumah sakit
atau ruang perawatan/isolasi penyakit menular.
Limbah patologi (jaringan tubuh) adalah limbah berupa jaringan tubuh yang
terbuang dari proses bedah ataupun autopsi.
b) Limbah farmasi  disimpan dalam plastik coklat.
Limbah farmasi dapat berasal dari obat-obatan kadarluasa, obat-obat yang terbuang
karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi,
obat-obatan yang dibuang oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat, obat-obat
yang tidak lagi diperlukan oleh institusi bersangkutan dan limbah yang dihasilkan
selama proses produksi obat-obatan.
c) Limbah sitotoksis  plastik ungu.
Limbah sitotoksis merupakan limbah sisa dari obat pelayanan kemoterapi. Limbah
ini merupakan bahan yang telah terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi
dengan obat sitotoksis selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi
sitotoksis dan harus dimusnahkan dengan incenerator pada suhu lebih dari 1.000oC.
Tempat pengumpul sampah sitotoksis setelah dikosongkan lalu dibersihkan dan
didesinfeksi.
d) Limbah medis padatan tajam  disimpan dalam safety box/ container.
Limbah medis padatan tajam adalah objek atau alat yang memiliki sudut tajam,
sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit seperti
jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, dan pisau
bedah. Benda padat yang dibuang tersebut bisa saja terkontaminasi oleh darah,
cairan tubuh, bahan mikrobiologi, bahan beracun ataupun radio aktif. Limbah
benda tajam mempunyai potensi bahaya tambahan yang dapat menyebabkan
infeksi atau cidera karena mengandung bahan kimia beracun atau radio aktif.
e) Limbah radioaktif  Plastik merah.

2
Bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan
medis atau riset radio nukleida.
2) Limbah Cair
Limbah cair rumah sakit adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari
kegiatan rumah sakit, yang kemungkinan mengandung mikroorganisme bahan beracun,
dan radio aktif serta darah yang berbahaya bagi kesehatan. Penanganannya melalui
IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Pengolahan air limbah dapat mengguakan
teknologi pengelolaan secara biologis dapat dilakukan secara aerobik (dengan udara)
dan anaerobik (tanpa udara) atau kombinasi antara aerobik dengan anaerobik. Proses
biologis biasanya digunakan untuk pengelolaan air limbah dengan BOD yang tidak
terlalu besar. Pengelolaan secara aerobik dibagi menjadi tiga yaitu (Yahar, 2011):
 Rosesbiologis dengan biakan tersuspensi (suspended culture)
 Biologis dengan biakan melekat (attached culture)
 Proses pengelolaan dengan sistem lagoon adalah denga kolam aerasi atau kolam
stabilisasi (stabilization pond).

Gambar 1. 1. Bagan Alir Pengolahan Limbah Rumah Sakit

Sumber : Yahar. (2011). Studi Tentang Pengelolaan Limbah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah
Kab. Barru. Skripsi. Makasar: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

3
Teknologi pengelolaan limbah cair yang sering digunakan di rumah sakit yaitu
proses lumpur aktif (activated sludge process), reaktor putar biologis (rotating
biological contactor/ RBC), proses aerasi kontak (contact aeration process), proses
pengolahan dengan biofilter “Up Flow” den pengelolaan dengan sistem biofilter
aneorobik-erobik (Adisasmito, 2007).

1.2 Fungsi Alat atau Tujuan Proses dan Dasar Kerja Instalasi Pengolah Limbah
Limbah pada rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu limbah padat, limbah
cair, dan limbah gas. Setiap jenis limbah ini memiliki masing-masing instalasi pengolahan
limbahnya/ Pada instalasi pengolah limbah tersebut terdapat berbagai alat dan proses yang
fungsinya akan dijelaskan sebagai berikut :

 Limbah Medis Padat


Merupakan limbah padat yang bersifat
infeksius atau sitotoksis. Sebelum
ditempatkan di penampungan sementara,
limbah ini harus diolah pada instalasi
pengolahan limbah padat (IPLP) selambat-
lambatnya 24 jam. Penanganan yang tepat
harus dilakukan agar sifat infeksiusnya
tidak menyebar ke lingkungan.
Pengolahan limbah medis padat pada Gambar 1.2.1. Limbah Padat Rumah Sakit

prinsipnya yaitu menghilangkan sifat Sumber : Pedoman Penatalaksanaan


Pengelolaan Limbah Padat dan Limbah Cair di
infeksius dan menimisasinya, oleh karena Rumah Sakit, Bakti Husada
itu biasanya limbah padat dipilah-pilah dari sumbernya dengan menggunakan kantong
warna yang berbeda dan diberi symbol agar proses pengolahannya cepat dan efisien.
Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan beberapa macam teknologi antara
lain :
1. Insinerasi
Merupakan proses dimana limbah padat medis dibakar dengan oksigen dari
udara dan diubah menjadi gas hasil pembakaran serta residu berupa abu. Gas
hasil pembakaran akan dibuang setelah diproses melalui alat pengendalian

4
polusi udara. Residu abu yang tidak terbakar kemudian dipindahkan dari tempat
pembakaran ke landfill. Teknologi ini sangat
mengurangi volume dan berat limbah medis
padat yang jumlahnya besar sehingga
menjadi <5%nya dan juga dapat
menghilangkan mikroba dalam sisa limbah.
Limbah yang tersisa sedikit bukan berarti
limbah tersebut musnah, tetapi yang terjadi
yaitu pembakaran mengubah limbah Gambar 1.2.2. Insinerasi
menjadi gas hasil pembakaran dan abu yang Sumber : Pedoman Penatalaksanaan
kemudian dipindahkan atau disebarkan ke Pengelolaan Limbah Padat dan Limbah
Cair di Rumah Sakit, Bakti Husada
udara.
2. Desorpsi Panas
Pada proses adsorpsi
dihasilkan panas, sebalkinya
pada proses desorpsi maka
diperlukan panas. Desorpsi yang
dilakukan pada tekanan rendah
akan membuat panas yang
diperlukan juga semakin rendah.
Gambar 1.2.3. Desorpsi Panas
Desorpsi panas merupakan
Sumber : Pedoman Penatalaksanaan
proses fisika sehingga tidak Pengelolaan Limbah Padat dan Limbah Cair di
Rumah Sakit, Bakti Husada
dihasilkan gas-gas pencemar
udara. Metode ini sangat efektif untuk memisahkan bahan organik dan
anorganik yang mudah menguap seperti minyak, pestisida, air raksa, arsen,
sulfur, dan klor. Material yang telah terdesorpsi berada dalam bentuk uapnya
akan lebih mudah untuk dikumpulkan kembali dengan cara didinginkan. Uap
yang terkondensasi akan terkumpul sehingga tidak mencemari udara. Material
yang berbahaya dan mudah menguap perlu dipisahkan lebih dahulu sehingga
lebih mudah untuk ditangani, sedangkan bahan yang sukar menguap akan
terurai (rekarbonisasi) menjadi arang. Arang yang dihasilkan kemudian
diperiksa untuk mengetahui sifat toksisitasnya dan jika tidak toksik maka dapat
dimanfaatkan kembali seperti menjadi bahan bakar.

5
Pengolahan ini dilakukan dengan memanaskan material limbah hingga
suhu sekitar 300°C dalam suatu silinder yang berputar dengan kondisi tekanan
udara rendah. Dengan adanya pemutaran/pengadukan maka pemanasan menjadi
efisien karena panas menyebar secara merata kesemua bagian material limbah
dan proses desorpsi dapat berlangsung lebih cepat. Limbah tidak dibakar
langsung dengan nyala api tetapi hanya dialiri udara panas sambil dilakukan
pengadukan.
3. Otoklaf
Dapat dilakukan dengan 2 cara
yaitu dengan udara panas dan uap
panas. Pada otoklaf uap panas,
penghancuran jasad renik dilakukan
dengan kombinasi uap, panas, dan
tekanan. Uap air dalam otoklaf
Gambar 1.2.4. Otoklaf
dihasilkan dari wadah logam yang
Sumber : Pedoman Penatalaksanaan
dipanaskan sebagai penghasil uap Pengelolaan Limbah Padat dan Limbah Cair
di Rumah Sakit, Bakti Husada
panas. Tekanan, waktu, dan
temperature uap air dapat diatur sesuai keperluan, pemanasan biasanya pada
121°C selama 20-30menit untuk memastikan bakteri, virus, dan jamur sudah
inaktif. Pada otoklaf uap panas penghancuran jasad renik dilakukan dengan
udara kering atau gas CO2 yang dipanaskan. .
4. Pengolahan Kimia
Pengolahan dengan bahan kimia dapat dilakukan dengan zat antimikroba
baik dengan bantuan sistem mekanik ataupun tidak. Sistem mekanik yang biasa
digunakan yaitu seperti memotong, memukul, dan menggerus. Efektifitas
pengolahan bergantung pada karakteristik bahan kimia, konsentrasi bahan aktif,
waktu kontak dengan limbah dan karakteristik limbah yang diolah. Pada
umumnya bahan kimia yang digunakan hanya bersifat sebagai pembunuh
mikroorganisme dan tidak menghancurkan limbah medis itu sendiri, dan sistem
mekanik dilakukan untuk membantu penetrasi bahan kimia kedalam limbah
yang diolah. Perlu diperhatikan adanya kemungkinan mikroorganisme kebal
terhadap bahan kimia yang digunakan secara terus menerus selama jangka
waktu yang lama.

6
5. Radiasi Gelombang Elektromagnetik
Prinsipnya yaitu memberikan panas terhadap limbah medis sehingga
mikroorganisme menjadi tidak aktif, dimana sumber panas yang dipakai berupa
gelombang elektromagnetik. Radiasi yang digunakan dapat berupa frekuensi
gelombang mikro(Microwave), frekuensi radio gelombang pendek, dan radiasi
sinar gamma. Perbedaannya terletak pada energi hasil radiasinya dimana sinar
gamma mempunyai energi yang sangat besar sehingga penetrasi ke dalam
limbah dan daya rusaknya lebih besar dibandingkan pada gelombang mikro atau
radio gelombang pendek.
Pengolahan ini sangat cocok untuk limbah organic yang jumlahnya kecil
tetapi mengandung mikroorganisme patogen seperti sisa preparat biologi, sisa
makanan pasien, dan potongan tubuh hasil operasi yang berpenyakit sangat
menular. Gelombang elektromagnetik tidak dapat digunakan jika materialnya
berupa logam karena material tersebut dapat memantulkan gelombang dan akan
berdampak fatal jika mengenai operatornya.
 Limbah Medis Cair
Pada dasarnya pengolahan limbah cair dilakukan untuk menghilangkan atau
mengurangi kontaminan yang terdapat didalam limbah cair sehingga hasil olahan
limbah dapat dimanfaatkan kembali atau tidak mengganggu lingkungan apabila
dibuang ke tanah atau ke badan air penerima. Secara spesifik pengolahan ini dilakukan
untuk mengurangi jumlah padatan tersuspensi, jumlah padatan terapung, jumlah bahan
organik, jumlah bahan kimia berbahaya, umur nutrisi yang berlebihan, dan
menghilangkan mikroorganisme patogen.
Menurut sifatnya pengolahan limbah cair dapat dibagi menjadi :
1. Proses Fisik
a) Bar Screen
Menyaring benda kasar yang mengambang ataupun tersuspensi yang tidak
ada kaitannya dalam proses pengolahan limbah cair. Bar Screen juga
berguna untuk melindungi peralatan mekanis dalam bangunan pengolahan
dan menghindari terjadinya clogging dalam saluran.
b) Comminutor
Memecah, memotong, dan menghancurkan kotoran/sampah yang lolos dari
bar screen sehingga ukurannya menjadi lebih kecil dan tidak menganggu
proses pengolahan limbah cair.

7
c) Grit Chamber
Menangkap sejumlah pasir/grit yang terdapat dalam limbah cair. Proses ini
sama dengan sedimentasi tetapi nilai waktu endap lebih kecil dan
memerlukan aliran yang tenang.
d) Alat Ukur Debit
Mengukur dan memonitor debit yang mengalir. Terdiri dari 2 macam yaitu
Parshall Flume dan Propotional Weir.
e) Equalization Tank
Meredam variasi laju aliran sehingga menjadi konstan.
f) Primary Sedimentation
Menurunkan kadar partikel diskrit yang terdapat dalam limbah cair dengan
cara mengendapakannya secara gravitasi.
2. Proses Kimia
Menambahkan bahan kimia sehingga terjadi reaksi untuk menghilangkan
partikel tersuspensi dan koloid. Unit ini pengolahannya antara lain yaitu
presipitasi kimia dan desinfeksi.
3. Proses Biologi
a) Pengolahan Aerob
1. Proses Lumpur Aktif (Activated Sludge)
Umumnya teridiri dari unit proses dan operasi :
a) Saringan Kasar : menyaring padatan kasar berupa sampah yang
terbawa aliran limbah dan menganggu optimalisasi proses.
Padatan ini harus diangkat oleh petugas secara manual secara
periodik.
b) Bak Pengendap Awal : memisahkan padatan yang tidak
dikehendaki, seperti pasir dan lumpur padat serta mengurangi
beban pengolahan pada bak selanjutnya.
c) Bak Ekualisasi : mengatur debit yang akan masuk ke bak
aerasi dan meratakan konsentrasi senyawa organik.
d) Bak Aerasi : memanfaatkan pertumbuhan mikroorganisme
secara tersuspensi dalam limbah cair untuk mendekomposisi
materi organic khususnya dalam badan limbah cair. Dialakukan
suplai udara untuk mentransfer oksigen kedalam limbah cair
dengan mesin blower(aerator) dengan tenaga listrik.

8
e) Bak Pengendap Akhir : bioflok terbentuk secara gravitasi akan
mengendap ke dasar bak yang efisiensi pengendapannya
tergantung dari waktu endap sehingga terjadi pemisahan limbah
cair yang sudah jernih dengan padatan yang ada. Padatan yang
dikenal sebagai lumpur aktif yang mengandung konsentrat
mikroorganisme kemudian dikembalikan menggunakan pompa
ke bak aerasi sebagai return sludge dan sisanya dapat dibuang
apabila sudah aman (waste sludge).
f) Bak Klorinasi : pembunuhan mikroorganisme dengan bahan
kaporit/hipoklorit.
g) Bak Stabilisasi Lumpur : menampung lumpur yang
terbentuk.
2. Proses Reaktor Biologis Putar
Merupakan teknologi dengan sistem pertumbuhan mikroorganisme
melekat. Prinsip kerjanya yaitu mengkontakkan limbah cair yang
mengandung materi organic ke lapisan mikroorganisme(bicrobial
film) yang melekat pada permukaan media dalam reaktor. Proses
awal pengolahan limbah cair ini serupa dengan pengolahan lumpur
aktif. Rangkaian unit operasi yang dipakai adalah Saringan Kasar,
Bak Pengendapan Awal, Bak Kontak Biologis Putar, Bak
Pengendapan Akhir, Bak Klorinasi dan Bak Stabilisasi Lumpur.
Bak kontak biologis putar berisikan piringan yang berjajar dengan
putaran menggunakan poros sebagai motornya. Pada bak ini
penguraian bahan organik dari limbah cair terjadi. Pertumbuhan
mikroorganisme ditandai dengan tumbuhnya biofilm yang melekat
pada permukaan piringan. Piringan dapat tersusun dari bahan
polimer yang ringan sehingga membentuk modul atau paket
kemudian diputar secara pelan dalamkeadaan tercelup sebagian
kedalam limbah cair yang mengalir kontinyu ke reaktor.
b) Pengolahan Anaerob
Pengolahan limbah cair anaerob konvensional yang konvensional
yaitu septik tank. Pengolahan ini memiliki banyak kelemahan dari aspek
lingkungan karena konstruksinya yang dibagi menjadi 2 ruangan tidak
mampu menurunkan senyawa organik secara signifikan. Pengembangan

9
lebih lanjut dilakukan pada metode pengolahan anaerob seperti proses
Biofilter up Flow. Proses ini terdiri dari 2 bak pengendap yang
dilengkapi dengan biofilter berupa plastic, keriki atau batu split.
Penguraian senyawa organic dalam limbah cair dilakukan oleh bakteri
fakultatif dan anaerob. Secara umum proses ini dilakukan seperti
pengolahan lainnya yang unitnya terdiri dari : Saringan kasar, bak
pengendapan 1-2, bak anaerob biofilter 1-4, bak pengendapan akhir, bak
klorinasi dan bak stabilisasi lumpur.
Biofilter memilii fungsi sebagai tempat tumbuhnya mikroorganisme
yang membentuk film untuk mempercepat proses penguraian senyawa
organic dan menyaring padatan tersuspensi termasuk bakteri E. coli.

Gambar 1.2.5. Pengolahan Anerob Biofilter Up Flow

Sumber : Pedoman Penatalaksanaan Pengelolaan Limbah Padat dan Limbah Cair di


Rumah Sakit, Bakti Husada

Proses flow up merupakan cara pengaliran limbah cair dari bawah keatas
mengikuti tekanan air aibat debit limbah cair yang terus menerus
memasuki sistem. Limbah cair dari bak pengendap diatas akan
memasuki bak biofilter up flow untuk melakukan penguraian senyawa
organik dengan bakteri anaerob.

10
BAB II
MINIMISASI LIMBAH

2.1 Minimisasi dan Pengolahan Limbah


Pengelolaan limbah adalah kegiatan terpadu yang meliputi kegiatan pengurangan
(minimization), segregasi (segregation), penanganan (handling), pemanfaatan dan pengolahan
limbah. Minimisasi limbah adalah upaya untuk mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas,
dan tingkat bahaya limbah yang berasal dari proses produksi, dengan cara reduksi pada
sumbernya dan pemanfaatan limbah berupa penggunaan kembali (reuse) ,daur ulang (recycle),
dan perolehan kembali (recovery) (BAPEDAL, 1995). Minimisasi limbah merupakan suatu
bentuk pengelolaan limbah yang bertujuan untuk menurunkan jumlah limbah yang terbuang
baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Minimisasi ini mencakup reduksi pada sumber serta pemanfaatan limbah yang
merupakan upaya pertama dalam mengurangi limbah. Upaya selanjutnya yang dapat dilakukan
adalah dengan melakukan pengolahan limbah dan pembuangan sisa limbah untuk limbah yang
sudah tidak dapat diolah kembali.

Gambar 2.1 Hireaki Minimisasi limbah

Sumber: Roekmijati, 2000

11
Salah satu instansi penghasil limbah klinis terbesar adalah rumah sakit. Pengunjung, para
petugas atau tenaga medis maupun masyarakat di sekitar rumah sakit berpotensi mengalami
gangguan kesehatan akibat limbah klinis yang dihasilkan oleh rumah sakit. Pengolahan limbah
klinis berbahaya yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya penularan penyakit antara
pasien dan pengunjung, pasien dan para pegawai rumah sakit serta pasien dengan pasien itu
sendiri. Oleh sebab itu sangat diperlukan penanganan limbah yang baik untuk menghindari
dampak negatif tersebut.
Aspek yang harus diperhatikan dalam pengelolaan limbah adalah aspek kesehatan. Apsek
tersebut meliputi lingkungan sekitar, fasilitas yang di gunakan, tenaga kesehatan yang bertugas
dalam hal ini serta meminimalisir resiko terjadinya penyebaran penyakit dan kecelakaan kerja.
Pada umumnya pengelolaan limbah medis akan memiliki penerapan pelaksanaan yang
berbeda-beda antara fasilitas-fasilitas kesehatan, yang umumnya terdiri dari Pemilahan,
Pewadahan, Pengangkutan, Tempat Penampungan Sementara dan pemusnahan (Fattah, dkk,
2007).
1. Pemilahan
Pelaksanaan proses pemilahan dan reduksi sampah harus mempertimbangkan
kelancaran penanganan dan penampungan sampah, pengurangan volume dengan
perlakuan pemisahan limbah B3 dan non B3 serta menghindari penggunaan bahan
kimia B3, pengemasan dan pemberian label yang jelas dari berbagai jenis limbah untuk
efisiensi biaya, petugas dan pembuangan. Selain itu pelaksanannya juga sebaiknya
bersifat kontinyu.
Pemilihan (Segregasi) dan identifikasi limbah merupakan kunci minimisasi dan
pengelolaan limbah layanan kesehatan secara efektif. Penanganan, pengolahan dan
pembuangan akhir limbah berdasarkan manfaat yang lebih banyak dalam melindungi
kesehatan masyarakat. Pemilahan merupakan tanggung jawab yang di bebankan pada
produsen limbah dan harus dilakukan sedekat mungkin dengan tempat dihasilkannya
limbah. Kondisi yang telah terpilah itu tetap harus dipertahankan di area penampungan
dan selama pengangkutan.
2. Pewadahan
Sesuai dengan permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004. Adapun syarat kesehatan
menurut permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu memenuhi syarat jika :
a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk.
b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang.
c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui sterilisasi.

12
d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer).
e. Sampah radioaktif menggunakan warna merah.
f. Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning.
g. Sampah/ limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning.
h. Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu.
i. Sampah/ limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat.
Penanganan sampah dari masing-masing sumber dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
 Wadah tidak boleh penuh, bila wadah sudah terisi ¾ bagian, maka segera ketempat
pembuangan akhir.
 Wadah berupa kantongan plastik dapat diikat rapat pada saat akan diangkut dan
dibuang berikut wadahnya.
 Pengumpulan limbah dari ruang perawatan atau pengobatan harus tetap pada
wadahnya dan jangan dituangkan pada gerobak yang terbuka. Hal ini dimaksud
untuk menghindari terjadinya kontaminasi disekitarnya dan mengurangi resiko
kecelakaan terhadap petugas, pasien dan pengunjung.
 Petugas yang menangani harus selalu menggunakan sarung tangan dan sepatu,
serta harus mencuci tangan dengan sabun setiap selesai mengambil limbah. Berikut
ini kategori pewadahan limbah sesuai dengan karesteristiknya.
Agar kebijakan kodifikasikan menggunakan warna dapat di laksanakan dengan
baik, tempat limbah diseluruh rumah sakit harus memiliki warna yang sesuai, sehingga
limbah dapat dipisah-pisahkan di tempat sumbernya (Depkes RI, 1992)
a) Bangsal harus memiliki dua macam tempat limbah dengan dua warna, satu untuk
limbah klinik dan yang lain untuk bukan klinik
b) Semua limbah dari kantor, biasanya berupa alat-alat tulis dianggap sebagai limbah
klinik.
c) Semua limbah yang keluar dari unit patologi harus dianggap sebagai limbah klinik
dan perlu dinyatakan aman sebelum dibuang.
3. Pengangkutan
Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan internal dan eksternal.
Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke tempat pembuangan
atau ke incinerator (pengolahan on-site). Dalam pengangkutan internal biasanya
digunakan kereta dorong sebagai yang sudah diberi label, dan dibersihkan secara

13
berkala serta petugas pelaksana dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian kerja
khusus. Pengangkutan eksternal yaitu pengangkutan sampah medis ke tempat
pembuangan di luar (off-site). Pengangkutan eksternal memerlukan prosedur
pelaksanaan yang tepat dan harus dipatuhi petugas yang terlibat. Prosedur tersebut
termasuk memenuhi peraturan angkutan lokal. Limbah medis diangkut dalam kontainer
khusus, harus kuat dan tidak bocor.
4. Tempat Penampungan Sementara (TPS)
Penampungan limbah ini wadah yang memiliki sifat kuat, tidak mudah bocor atau
berlumut, terhindar dari sobek atau pecah, mempunyai tutup dan tidak overload.
Penampungan dalam pengelolaan sampah medis sesuai standarisasi kantong dan
kontainer seperti dengan menggunakan kantong yang bermacam warna seperti telah
ditetapkan dalam PERMENKES RI No 1204/MENKES/SK/X/2004 dimana kantong
berwarna kuning dengan lambang biohazard untuk sampah infeksius, kantong
berwarna ungu dengan simbol sitotoksis untuk limbah sitotoksis, kantong berwarna
merah dengan simbol radioaktif untuk limbah radioaktif dan kantong berwarna hitam
dengan tulisan “domestik”.
5. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Sebagian besar limbah dan sejenisnya itu dimusnahkan dengan incinerator atau
dengan menggunakan metode sanitari landfill. Metode ini digunakan tergantung pada
faktor-faktor khusus yang sesuai dengan institusi, peraturan yang berlaku, aspek
lingkungan yang berpengaruh terhadap masyarakat. Incinerator adalah istilah yang di
gunakan untuk menjelaskan semua sistem pembakaran, walau hanya satu yang biasa
dipandang efektif. Dalam pedoman ini incinerator digunakan untuk menjelaskan proses
pembakaran yang dilaksanakan dalam ruang ganda incinerator yang mempunyai
mekanisme pemantauan secara ketat dan pengendalian parameter pembakaran.

2.2 Minimisasi Limbah dengan Upaya 3R


Penangan limbah dapat dilakukan dengan cara 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Sampai saat
ini sistem pengolahan sampah secara 3R masih dianggap sebagai cara terbaik untuk mengelola
dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya. Penerapan sistem 3R menjadi
solusi pengeolaan sampah disamping mengelola sampah menjadi kompos atau memanfaatkan
sampah menjadi sumber listrik (PLTSa: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Selain itu

14
penerapan sistem pengelolaan sampah secara 3R juga dapat dilaksanakan oleh setiap orang
dalam kegiatan sehari-hari. Sistem 3R sendiri terdiri dari:

 Reuse, berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan uttuk
fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya.
 Reduce, berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah.
 Recycle, berarti mengolah kembali (mendaur ulang) sampah menjadi barang atau
produk baru yang bermanfaat.

Penerapan sistem pengolahan sampah secara 3R dapat dilakukan untuk limbah ataupun
sampah yang tergolong kedalam limbah bahan tidak berbahaya dan beracun (non-B3).
Sedangkan untuk bahan atau limbah yang termasuk kedalam sampah atau limbah B3 jarang
sekali dilakukan penerapan sistem 3R. Limbah rumah sakit termasuk kedalam limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3) dikarenakan limbah rumah sakit dapat mengandung limbah yang
berpotensi menginfeksi. Kadangkala, limbah residu hasil insenerasi juga dapat dikategorikan
sebagai limbah berbahaya bila insenerator tidak sesuai dengan kriteria atau tidak dioperasikan
sesuai dengan kriteria. Umumnya limbah rumah sakit akan diproses menggunakan incenerator.
Pengolahan limbah rumah sakit menggunakan incenerator dipilih dikarenakan untuk mencegah
potensi infeksi beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan dari limbah rumah sakit.

2.3 Minimisasi Limbah Cair dan Padat Rumah Sakit

Melalui minimisasi limbah, diharapkan limbah yang harus diolah di tempat pengelolaan
limbah maupun yang dibuang ke lingkungan dapat berkurang dengan cara mengurangi jumlah
limbah yang dihasilkan oleh proses produksi pada sumbernya atau dengan memanfaatkannya
kembali. Minimisasi limbah didefinisikan sebagai upaya mengurangi volume, konsentrasi,
toksisitas, dan tingkat bahaya limbah yang berasal dari proses produksi, dengan jalan reduksi
pada sumbernya dan atau pemanfaatan limbah.

Pada kasus seperti di rumah sakit, limbah cair hasil olahan ulang telah memenuhi syarat
dapat digunakan untuk penyiraman tanaman, penyiraman kendaraan, pencucian linen kotor,
water cooling, dan lain sebagainya. Minimisasi memiliki berbagai keuntungan seperti
mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja, mengurangi biaya pengolahan limbah,
mengurangi biaya pentaatan hukum, meningkatkan daya saing dipasar internasional, dan

15
mendorong dikembangkannya dan diterapkannya teknologi bersih dan produk akrab
lingkungan.

Limbah pada rumah sakit dapat diminimisasi juga dengan berbagai cara seperti
mengembangkan teknologi biodegradable plastic sehingga setelah disterilkan dapat langsung
dibuang atau dikubur kedalam tanah. Pengembangan teknologi tersebut akan sangat
mengurangi limbah padat pada rumah sakit karena masih banyak sekali material yang
menggunakan plastik non-degradable seperti alat suntik, kantong infus, dan berbagai tempat
penyimpanan lainnya. Selain hal tersebut dapat juga dilakukan pengembangan dalam
pembuatan obat yang harus dilakukan oleh industri pembuat obat. Pengembangan yang dapat
dilakukan yaitu dengan mengatur dosis obat dan mengontrol drug release dalam tubuh sehingga
dengan mengonsumsi 1 tablet obat dapat bermanfaat selama beberapa hari. Hal ini akan
mengurangi banyaknya obat yang diproduksi dan berkemungkinan akan menjadi limbah
apabila tidak digunakan selama masa pakainya (batas kadaluarsa).

Gambar 2.3. Minimisasi Limbah

Sumber : Pedoman Penatalaksanaan Pengelolaan Limbah Padat dan Limbah Cair di Rumah Sakit, Bakti Husada

2.4 Segregasi Limbah

Segregasi aliran limbah, yakni memisahkan berbagai jenis aliran limbah menurut jenis
komponen, konsentrasi atau keadaanya, sehingga dapat mempermudah, mengurangi volume,
atau mengurangi biaya pengolahan limbah. Untuk berbagai jenis limbah diperlukan wadah
terpisah misalnya limbah yang berisiko dan limbah yang tidak berisiko. Semua wadah memiliki
warna yang berbeda dan dibatasi dengan plastik ditempatkan di setiap bangsal dan departemen.

16
Orang yang bertanggung jawab untuk penanganan limbah harus melakukan pemisahan
sumber untuk mengurangi kemungkinan infeksi dan jumlah limbah yang lebih sedikit untuk
dibakar. Pemisahan harus dipraktikkan dari sumber pembangkitan hingga penanganan,
transportasi hingga pembuangan akhir.

Semua kategori limbah berisiko selain benda tajam dikumpulkan dalam wadah "warna
putih" yang dilapisi dengan kantong plastik. Ketika plastik sudah penuh, segera menggantinya
dengan plastik baru. Wadah disegel dan diberi label dengan nama bangsal dan lokasi. Benda
tajam disimpan dalam wadah plastik keras warna "Merah" yang dilapisi dengan kantong
plastik. Staf medis memotong jarum suntik sehingga tidak layak untuk digunakan kembali. Jika
wadah yang tajam harus dibakar, wadah itu harus diletakkan di dalam kantong limbah kuning
bersama limbah berisiko lainnya. Limbah farmasi dalam jumlah besar harus dikembalikan ke
pemasok. Sejumlah kecil dapat ditempatkan dalam kantong limbah kuning.

Limbah radioaktif dapat ditempatkan dalam wadah atau drum besar dan dapat ditandai
dengan limbah "Radioaktif". Limbah radioaktif yang tidak menular dapat ditempatkan di
kantong putih. Limbah yang tidak berisiko disimpan secara terpisah dari semua limbah lainnya
dan dikumpulkan dalam wadah "Biru" dengan lapisan kantong plastik. Wadah biru harus
ditempatkan di koridor ruang terbuka dan tempat kunjungan lainnya, dll.

2.5 Upaya Minimisasi Limbah yang Keluar Lagi

Dalam pengolahan limbah rumah sakit disamping memberikan peningkatan derajat


kesehatan lingkunga juga dapat menghasilkan hasil sampingan. Hasil sampingan tersebut
berupa cairan, dan gas yang banyak mengandung kuman patogen, zat kimia yang beracun, zat
radioaktif dan zat lainnya. Apabila pengelolaan bahan buangan tersebut tidak dilaksanakan
dengan baik maka akan menyebabkan gangguaan terhadap kelompok masyarakat sekitar
rumah sakit dan lingkungan. Agen penyakit yang dihasilkan oleh kegiatan pelayanan kesehatan
rumah sakit tersebut akan memasuki media lingkungan melalui air (air kotor dan air minum),
udara, makanan, alat atau benda, seranggga, tenaga kesehatan, dan media lainnya. Oleh karena
itu, pengawasan terhadap mutu media lingkungan ini terhadap kemungkinan adanya
kontaminasi oleh agen penyakit yang dihasilkan oleh kegiatan pelayanan kesehatan di rumah
sakit hendaknya dipantau dengan cermat sehingga media tersebut bebas dari kontaminasi.
Dengan demikian, kelompok masyarakat di rumah sakit akan terhindar dari kemungkinan

17
untuk mendapatkan gangguan atau penyakit akibat buangan agen dari masyarakat tersebut
(Adisasmito, 2007)

2.6 Minimisasi Limbah Pihak Produsen Maupun Konsumen.


Minimisasi limbah di rumah sakit dari pihak konsumen dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Cara yang utama yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat sehingga tidak sakit
dan tidak memerlukan pengobatan di rumah sakit. Pola hidup sehat dapat dilakukan dengan
mengonsumsi makanan dan minuman sehat, melakukan aktivitas olahraga secara rutin, dan
tidak melakukan pekerjaan berbahaya tanpa adanya pengamanan. Dengan mengurangi jumlah
orang yang sakit maka limbah yang diproduksi di rumah sakit juga akan semakin sedikit
sehingga pengolahan yang dilakukan tidak banyak.

18
Daftar Pustaka

Bagus, T. (2011). Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah Menggunakan Teknologi Incenerator.


Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol. 3, No. 1, pp 17 – 23.

Keputusan MenKes R.I. No. 1204/MENKES/SK/X/2004, Persyaratan Kesehatan Lingkungan


Rumah Sakit. Depkes: Jakarta, 2006.

Rosita, Ratna; Luwiharsih; Gempari, Rarit. (2013). Pedoman Penatalaksanaan Pengelolaan


Limbah Padat dan Cair Rumah Sakit. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Yahar. (2011). Studi Tentang Pengelolaan Limbah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kab.
Barru. Skripsi. Makasar: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

19