Anda di halaman 1dari 3

RINGKASAN CATATAN PAK

1. Definisi

Penyakit Akibat Kerja (Occupational Disease) adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen
penyebab dan umumnya terdiri dan satu agen penyebab yang sudah diakui

Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (Work Related Disease) adalah penyakit yang
mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang pemeranan bersama
dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi yang kompleks

Timbulnya penyakit akibat kerja telah mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia, berdasarkan
Surat Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 telah ditetapkan 31 macam penyakit yang timbul
karena kerja

2. Faktor Resiko

Faktor risiko yang mungkin ada di tempat kerja, dapat digolongkan sebagai berikut:

Faktor Fisik: bising, getaran, radiasi pengion/non-pengion, suhu ekstrim, pencahayaan dan tekanan
barometer.

Faktor Kimiawi : Hydrocarbon (misalnya : benzene), solvents, pestisida, asbes, debu (silicosis,
pneumoconiosis), bahan yang mudah meledak, logam berat (misalnya pada pengelas/welders), gas
yang menimbulkan sesak nafas/asphyxiants (H2S, CO, C02), bahan yang membuat sensitif, bahan iritan
dan sebagainya.

Faktor Biologis: Penyebaran bahan patogen dalam darah/Bloodborne pathogen (misalnya tertusuk
jarum suntik), bio-aerosols (TBC, Legionella), HIV/AIDS, penyakit menular seksual, gigitan binatang
(misalnya: ular, kalajengking), tanaman beracun, penyakit-penyakit lokal (misalnya: TB, malaria, DHF),
keracunan makanan dan sebagainya.

Faktor Ergonomi: Gerakan berulang, mengangkat, beban statis, postur janggal, menarik dan
mendorong,dan Iain-Iain.

 Faktor Psikososial: Kerja lembur, tugas yang berat/berlebihan, perubahan/pergeseran kerja, post
traumatic, alkohol dan obat-obatan terlarang, kerja shift, terpencil/dikucilkan, pengorganisasian
(kerja tim, hubungan kerja, dan sebagainya), pekerjaan lain/ paruh waktu dan sebagainya.

3. Tujuh Langkah Diagnosis

Tujuh langkah dalam diagnosis PAK :

1. Menentukan diagnosis klinis

Untuk menyatakan, bahwa suatu penyakit adalah akibat hubungan pekerjaan, harus dibuat Diagnosis
klinis dahulu.

2. Menentukan pajanan yang dialami individu tersebut dalam pakerjaan


Identifikasi semua pajanan yang dialami oleh pekerja tersebut. Untuk itu perlu dilakukan anamnesis
pekerjaan yang lengkap dan kalau perlu dilakukan pengamatan di tempat kerja dan mengkaji data
sekunder yang ada.

3. Menentukan apakah ada hubungan pajanan dengan penyakit

Untuk menentukan adanya hubungan antara pajanan dan penyakit, harus berdasarkan dari bukti yang
ada.

4. Menentukan apakah pajanan yang dialami cukup besar

Penentuan besarnya pajanan, dapat dilakukan secara kuantitatif dengan melihat data pengukuran
lingkungan dan masa kerja atau secara kualitatif dengan mengamati cara pekerja bekerja.

5. Menentukan apakah data faktor-faktor individu yang berperan

Faktor individu apakah ada yang dapat mempercepat atau memperlambat kemungkinan terjadi
penyakit akibat hubungan kerja, misalnya kebiasan merokok,faktor genetik atau kebiasaan memakai
alat pelindung dengan baik.

6. Menentukan apakah ada faktor lain diluar pekerjaan

Apakah ada faktor di luar pekerjaan yang juga dapat menjadi penyebab penyakit,

misalnya kanker paru selain dapat disebabkan oleh asbes, juga dapat disebabkan oleh kebiasaan
merokok.

7. Menentukan diagnosis akibat kerja

Apabila dapat dibuktikan, bahwa paling sedikit ada satu faktor pekerjaan yang berperan sebagai
penyebab penyakit,maka penyakit tersebut dapat dikategorikan sebagai PAK.

4. Cara Pencegahan Penyakit Akibat Kerja/Penyakit Akibat Hubungan Kerja Dan Kecelakaan Akibat
Kerja

Pencegahan Peanyakit Akibat kerja/ Penyakit Akibat Hubungan Kerja dan Kecelakaan Kerja dilakukan
sesuai kaidah Pencegahan Primer, Pencegahan Sekunder dan Pencegahan Tersier.

Pencegahan primer (Health Promotion) a. Perilaku kesehatan

2. Faktor bahaya ditempat kerja


3. Perilaku kerja yang baik
4. Olahraga
5. Gizi seimbang

Pencegahan sekunder (Spesifik protection)

1. Pengendalian melalui perundang-undangan


2. Pengendalian administratif/organisasi: rotasi/pembatasanjambekerja
3. Pengendalian teknis: subtitusi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri
(APD)

4. Pengendalianjalurkesehatan:imunisasi

Pencegahan tersier (Early Diagnosis and Prompt Treatmen)

1. Pemeriksaan kesehatan pra kerja


2. Pemeriksaan kesehatan berkala
3. Surveilans
4. Pemeriksaan lingkungan secara berkala
5. Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada pekerja
6. Pengendalian segera ditempat kerja

Disability limitation Evaluasi kembali bekerja

Rehabilitation

1. Evaluasi kecacatan
2. Menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi pekerja
3. Mengganti pekerjaan sesuai dengan kemampuan pekerja