Anda di halaman 1dari 4

Patologi Sosial

PELACURAN

Pelacuran atau Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang harus
segera dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikan.

Pelacuran merupakan profesi yang sangat tua usianya, setua umur kehidupan manusia
itu sendiri. Yaitu berupa tingkah laku lepas bebas tanpa kendali dan cabul, karena adanya
pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan.
Pelacuran itu selalu ada pada semua negara berbudaya, sejak zaman purba sampai sekarang.
Dan senantiasa menjadi masalah sosial atau menjadi obyek urusan hukum dan tradisi.
Selanjutnya, dengan perkembangan teknologi, industri dan kebudayaan manusia, turut
berkembang pula pelacuran dalam pelbagai ben-tuk dan tingkatannya.

Di banyak negara pelacuran itu dilarang bahkan dikenakan hukuman. Juga dianggap
sebagai perbuatan hina oleh segenap anggota masyarakat. Akan tetapi, sejak adanya
masyarakat manusia yang pertama sehingga dunia akan kiamat nanti, “mata pencaharian”
pelacuran ini akan tetap ada, sukar, bahkan hampir-hampir tidak mungkin untuk diberantas
dari muka bumi, selama masih ada hawa nafsu seks yang lepas dari kendali keamanan dari
hati-nurani. Maka timbulnya masalah pelacuran sebagai gejala patologis yaitu sejak adanya
penataan relasi seks dan diberlakukannya norma-norma perkawinan.

Pelacur wanita disebut dalam bahasa asingnya prostitue sedang penalaran kasarnya ialah:
sundal, balon, lonte. Maka kira-kira pada tahun 60-an oleh beberapa pihak terutama para
petugas dinas sosial, digunakan istilah eufemistis untuk memperhalus arti, yaitu dengan
sebutan Tunasusila. Sedang pelacur pria disebut Gigolo.

Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seksual, dengan pola pola organisasi impuls /
dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu
seks tanpa kendali dengan banyak orang (promiskuitas), disertai eksploitasi dan
komersialisasi seks yang impersonal tanpa afeksi sifatnya.

Yang bisa dimasukkan dalam kategori Prostitusi ini antara lain: Pergundikan,Tante
girang atau loose married woman, Gadis-gadis panggilan, Gadis-gadis bar atau B-girls, Gadis-
gadis binal atau free girls, Gadis-gadis taxi, Penggali emas atau gold-diggers, Hostes atau
pramuria dan Promiskuitas/promiscuity.

Promiskuitas itu merupakan tindak seksual yang immoril, karena sangat tidak susila,
terang-terangan secara terbuka tanpa tedeng aling-aling, sangat kasar, mencolok mata,
dilakukan dengan banyak laki-laki, sehingga mereka seringkali ditolak masyarakat.

Promiskuitas ini juga dilakukan tanpa disertai rasa malu sedikitpun juga biasanya
didorong oleh nafsu - nafsu seks yang tidak wajar atau tidak matang, tidak dewasa. Sifatnya
tidak jauh bedanya dengan ciri-ciri praktik pelacuran. Penganut-penganut promiskuitas ini
menuntut adanya seks bebas secara ekstrem, dalam iklim “cinta bebas”. Dengan jalan
promiscuous atau “Campur-aduk seksual tanpa aturan”. Wanita yang melakukan perbuatan-
perbuatan promiscuous disebut sebagai amatrice, se-dang laki-lakinya disebut sebagai
amateur atau Don Juan.

Pelacuran dari pandangan Norma Adat.

Sejak zaman dahulu para pelacur selalu dikecam atau dikutuk oleh masyarakat, karena
tingkah lakunya yang tidak susila dan dianggap mengotori sakralitas hubungan seks.

Norma adat pada dasarnya melarang pelacuran. Akan tetapi, setiap daerah itu tidak
sama peraturannya dan kebanyakan norma tersebut tidak tertulis. Pelarangan pelacuran itu
berdasarkan alasan seperti tidak menghargai diri wanita dan diri sendiri, penghinaan
terhadap istri dari pria-pria yang melacurkan diri, tidak menghormati kesucian perkelaminan
(sakralitas seks) dan menyebabkan penyebaran penyakit kotor, dan mengganggu keserasian
perkawinan.

Namun, ada masyarakat-masyarakat tertentu yang memperkenankan hubungan seks


di luar perkawinan. Pada masyarakat Eskimo, kelahiran bayi di luar nikah, ditoleransi oleh
masyarakat. Bahkan untuk menghormat tamu-tamu yang terpandang, istri sendiri disuruhnya
tidur bersama dengan tamunya dan memberikan pelayanan seks seperlunya, mengizinkan
anak-anak gadis mengadakan hubungan kelamin dengan laki-laki pilihannya sebelum nikah.
Bahkan gadis-gadis yang terampil dan pandai memberikan pelayanan seks, akan laku terlebih
dahulu.
Motif-motif yang Melatarbelakangi Pelacuran

Isu pelacuran atau motif-motif yang melatarbelakangi tumbuhnya pelacuran pada


wanita itu beraneka ragam.

Adanya kecenderungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk mendapatkan


kesenangan melalui jalan pendek. Kurang pengertian, kurang pendidikan, dan buta huruf,
sehingga menghalalkan pelacuran.

Ada nafsu-nafsu seks yang abnormal( Histeria dan hyperseks) sehingga tidak merasa
puas mengadakan relasi seks dengan satu pria/suami. Tekanan ekonomi, faktor kemiskinan,
ada pertimbangan-pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Anak-anak gadis memberontak terhadap otoritas orang tua yang menekankan banyak
tabu dan peraturan yang dianggap terlalu mengekang diri anak-anak remaja mereka lebih
menyukai pola seks bebas serta kecanduan obat bius (hash-hish, ganja).

Ada kebutuhan seks yang normal, akan tetapi tidak dipuaskan oleh pihak suami.

Fungsi Pelacuran

Fungsi pelacuran yang positif sifatnya di tengah masyarakat, diantaranya menjadi


sumber pelancar dalam dunia bisnis, menjadi sumber kesenangan bagi kaum politisi yang
harus hidup berpisah dengan istri dan keluarganya. Juga dijadikan alat untuk mencapai
tujuan-tujuan politik tertentu.

Menjadi sumber hiburan bagi kelompok dan individu mempunyai jabatan/pekerjaan


mobil dan menjadi sumber pelayanan dan hiburan bagi orang-orang cacat, misalnya: pria yang
buruk wajah, pincang, buntung, abnormal secara seksual, para penjahat (orang kriminal) yang
selalu dikejar-kejar polisi, dan lain-lain.

Akibat-akibat Pelacuran

Beberapa akibat yang ditmibulkan oleh pelacuran diantaranya menimbulkan dan


menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit. Penyakit yang paling banyak ialah Sypilis dan
genorhoe (kencing nanah).
Penanggulangan Prostitusi

Prostitusi sebagai masalah sosial sejak sejarah kehidupan manusia sampai sekarang dan
selalu ada pada setiap tingkatan peradaban, perlu ditanggulangi dengan penuh kesungguhan.

Usaha yang bersifat preventif diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan untuk mencegah


terjadinya pelacuran. Usaha ini antara lain berupa penyempurnaan perundang-undangan
mengenai larangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran, pembentukan badan atau
tim koordinasi dan semua usaha penanggulangan pelacuran yang dilakukan oleh beberapa
instansi sekaligus mengikutsertakan potensi masyarakat lokal untuk membantu
melaksanakan kegiatan pencegahan atau penyebaran pelacuran dan meningkatkan
kesejahteraan rakyat pada umumnya.

Kemudian ada juga usaha yang represif dan kuratif dimaksudkan sebagai kegiatan untuk
menekan (mengha-puskan, menindas), dan usaha menyembuhkan para wanita dan
ketunasusilaannya untuk kemudian membawa mereka ke jalan benar seperti menyediakan
lapangan keja baru bagi mereka yang bersedia meninggalkan profesi pelacuran dan mau
memulai hidup susila dan mengikutsertakan ex-WTS (bekas wanita tuna susila) dalam usaha
transmigrasi, dalam rangka pemerataan penduduk di tanah air kita yang sangat luas ini dan
perluasan kesempatan kerja bagi kaum wanita.