Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Keperawatan

HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK DENGAN BLOOD SUGAR


NUCHTER PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2

Sri Anik Rustini1), Nurul Maulidia2)


Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah,
Email : srianikrustini88@ymail.com
Alamat Korespondensi : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah, Jl. Gadung No.1, Kota Surabaya,
Jawa Timur

ARTICLE INFO ABSTRAK

Article History : Latar Belakang : Diabetes Mellitus merupakan salah satu jenis
Received: July, 6th, 2018 penyakit tidak menular yang dialami oleh sebagian masyarakat
Revised form: July-August, 2018 Indonesia. Peningkatan jumlah penderita diabetes mellitus
Accepted: August, 27th, 2018 dipengaruhi oleh perilaku hidup tidak sehat yang dilakukan oleh
Published: August, 30th, 2018 banyak masyarakat di Indonesia. Salah satu faktor yang memicu
peningkatan kadar gula pada penderita diabetes mellitus adalah
Kata Kunci : tidak teraturnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh penderita
Tingkat aktivitas fisik, Blood diabetes mellitus itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk
Sugar Nuchter, Diabetes Mellitus mengetahui hubungan tingkat aktivitas fisik dengan Blood Sugar
Tipe 2 Nuchter pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode : Desain
penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan
pendekatan cross sectional. Variabel penelitian ini yaitu tingkat
aktivitas fisik dan Blood Sugar Nuchter. Sampel yang diambil
menggunakan simple random sampling sebanyak 44 pasien
diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kebonsari. Instrumen
menggunakan kuisioner IPAQ, glukometer dan lembar
observasi. Data di analisis menggunakan uji korelasi pearson
dengan ρ<0,05. Hasil : Dari analisa data yang dilakukan,
menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik pada pasien diabetes
melitus tipe 2 di Puskesmas Kebonsari sebagian besar
melakukan aktivitas fisik sedang dengan Blood Sugar Nuchter
126-150 Mg/dl. Uji korelasi pearson menunjukkan adanya
hubungan tingkat aktivitas fisik dengan kadar gula darah ρ =
0,00. Kesimpulan : Implikasi penelitian ini adalah tingkat
akivitas fisik berhubungan dengan Blood Sugar Nuchter
sehingga pasien diabetes dapat menjaga kestabilan kadar gula
darah dengan berolahraga atau melakukan kegiatan fisik sehari-
hari secara rutin

@2018 Jurnal Keperawatan


Penerbit : LPPM Dian Husada Mojokerto

Halaman | 39
Jurnal Keperawatan

PENDAHULUAN tipe 2 karena pada tipe 1 harus memiliki cukup


Diabetes membutuhkan penanganan seumur insulin yang diperoleh dari luar tubuh. Pada
hidup dalam pengendalian kadar gula darah. Salah penderita diabetes tipe 2 olahrahraga dapat
satu pilar dalam pengelolahan diabetes adalah membuat sel-sel akan lebih peka terhadap insulin
olahraga atau aktivitas fisik. Olahraga secara dan glukosa lebih cepat disalurkan ke dalam sel.
teratur setidaknya pada intensitas sedang Olahraga dapat mencegah kenaikan glukosa
memberikan perlindungan terhadap diabetes tipe 2 berkelanjutan kearah batasan diabetes, atau bahkan
dan memperbaiki resistensi insulin dan karenanya mengembalikan dalam nilai normal
insulin lebih efektif dalam mengangkut glukosa Pada diabetes tipe 2 olahraga merupakan
dari darah (Bryer-Ash, M, 2012). Sering kita bagian utama dari perawatan. Penambahan
mendengar pengakuan dari banyak penderita aktivitas fisik dalam hidup anda merupakan
diabetes mellitus yang mengemukakan bahwa pengobatan satu-satunya yang di butuhkan pada
dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk dapat diabetes tipe 2 (Barnnes, D.E. 2012). Aktivitas
melakukan aktivitas olahraga secara rutin. fisik merupakan salah satu cara pengolahan dalam
Pernyataan ini merupakan salah satu bukti bahwa mengendalikan kadar gula darah pada diabetes
penderita diabetes mellitus tidak memahami betapa melitus tipe 2. Namun perlu diperhatikan bahwa
pentingnya olahraga dalam mengatasi diabetes tidak semua penderita diabetes melitus dapat
(Barnes, 2012). melakukan latihan fisik dengan benar. Penderita
Menurut National Diabetes Fact Sheet diabetes melitus tipe 2 terkontrol (golongan yang
(2014), total prevalensi diabetes di Amerika tahun tidak tergantung terhadap insulin) dapat melakukan
2012 adalah 29,1 juta jiwa (9,3%). Dari data latihan dengan harapan meminimalkan resiko
tersebut 21 juta merupakan diabetes yang terjadinya komplikasi. Apabila diabetes sudah
terdiagnosis. International Diabetes Federation disertai komplikasi seperti jantung koroner,
(IDF) tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi tekanan darah tinggi atau arthritis maka penderita
diabetes melitus di Indonesia sekitar 4,8% dan yang ingin melakukan aktivitas fisik sebaiknya
lebih dari setengah kasus DM (58,8%) adalah berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk
diabetes melitus tidak terdiagnosis. IDF meghindari efek buruk yang mungkin timbul
menyatakan bahwa sekitar 382 juta penduduk (Mahendra, dkk. 2008). Sebelum melaksanakan
dunia menderita diabetes melitus pada tahun 2013 aktivitas fisik dianjurkan untuk mengetes kadar
dengan kategori diabetes melitus tidak terdiagnosis gula darah sebelum dan sesudah olahraga untuk
adalah 46%, diperkirakan prevalensinya akan terus menghindari terjadinya hipoglikemia awal (Barnes.
meningkat dan mencapai 592 juta jiwa pada tahun D.E. 2012).
2035.
Proses metabolisme tubuh merupakan suatu METODE PENELITIAN
sistem komplek yang selalu terjadi pada tubuh Desain penelitian ini menggunakan
manusia. Setiap hari manusia mengkonsumsi observasional analitik dengan pendekatan cross
karbohidrat yang akan dirubah menjadi glukosa, sectional. Variabel penelitian ini yaitu tingkat
protein menjadi asama amino, dan lemak menjadi aktivitas fisik dan Blood Sugar Nuchter. Sampel
asam lemak. Zat makanan tersebut akan diserap yang diambil menggunakan simple random
oleh usus kemudian masuk kedalam pembuluh sampling sebanyak 44 pasien diabetes melitus tipe
darah dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk 2 di Puskesmas Kebonsari Kota Surabaya.
dipergunakan oleh organ organ didalam tubuh Instrumen penelitian menggunakan kuisioner
sebagai bahan bakar metabolisme. Saat IPAQ, glukometer dan lembar observasi. Data di
berolahraga, otot akan menggunakan glukosa yang analisis menggunakan uji korelasi pearson
tersimpan di otot dan jika kadar glukosa berkurang
maka otot akan mengisi kekurangannya dengan
mengambil glukosa di dalam darah. Pada penderita
diabetes tipe 1 memiliki resiko lebih besar
terhadap hipoglikemia daripada penderita diabetes

Halaman | 40
Jurnal Keperawatan

HASIL PENELITIAN
Blood Sugar Nuchter
Total
Aktivitas Fisik 126-150 Mg/dl 151-175 Mg/dl 176-200 Mg/dl
F % F % F % N %
<600 METs 0 0 2 28,6 5 71,4 7 100
> 600 METs 4 21 14 73,7 1 5,3 19 100
>1500 METs 18 100 0 0 0 0 18 100
Total 22 50 16 36,4 6 13,6 44 100
Nilai Uji Statistik Korelasi Pearson 0,001 (ρ= -913)

Berdasarkan hasil penelitian 44 responden didapatkan hasil aktivitas fisik ringan < 600 METs
mempunyai Blood Sugar Nuchter 151-175Mg/dl 2 orang (28,6%), 176-200 Mg/dl 5 orang (71,4%),
aktivitas fisik sedang >600 METs mempunyai Blood Sugar Nuchter 126-150Mg/dl 4 orang (21%), 151-
175 Mg/dl 14 orang (73,7%), 176-200 Mg/dl 1 orang (5,3%), aktivitas berat >1500 METs mempunyai
Blood Sugar Nuchter 126-150 Mg/dl 18 orang (100%).

PEMBAHASAN semakin banyak pula penggunaan glukosa


Penyakit Diabetes melitus membutuhkan sehingga dapat menjaga kadar glukosa darah tetap
penanganan seumur hidup dengan salah satu cara terkendali (Barnes, D.E.2012).
yaitu olahraga atau aktivitas fisik. Latihan jasmani
pada penderita diabet akan menimbulkan Kategori Aktivitas Fisik Menurut IPAQ
perubahan metabolik yang dipengaruhi oleh lama 1. Aktivitas ringan
latihan dan berat latihan (Ernawati, 2013). Dalam Suatu aktivitas jika tidak melakukan
teori keperawatan self care orem penderita diabetes aktivitas fisik tingkat sedang- berat < 10 METs
perlu merawat dirinya secara mandiri dan – min / minggu atau < 600 METs- min/ minggu
berpartisipasi secara aktif. Penelitian Balkau et al, 2. Aktivitas Sedang, terdiri dari 3 kategori
(2008) dalam Ernawati (2013) menyimpulkan a. > 3 hari melakukan aktivitas fisik berat > 20
bahwa aktivitas fisik sehari hari merupakan salah menit/hari.
satu faktor utama menentukan sensivitas insulin. b. > 5 hari melakukan aktivitas sedang /
Pada penderita diabetes melitus tipe 2 olahraga berjalan > 30 menit/ hari
merupakan faktor utama yang berperan sebagai c. > 5 hari kombinasi berjalan intensitas
pengaturan kadar glukosa darah. Masalah utama sedang, aktivitas berat minimal > 600 METs
DM tipe 2 adalah kurangnya reseptor terhadap min/minggu.
insulin (resistensi insulin). Kecepatan laju transport 3. Aktivitas berat (2 kategori)
glukosa ke dalam otot yang sedang berolahraga a. Aktivitas berat > 3 hari dijumlahkan > 1500
dapat meningkat 10 kali lipat selama melakukan METs-min/minggu.
aktivitas fisik sedang sampai berat (Ernawati, b. > 7 hari berjalan kombinasi dengan aktivitas
2013). sedang/ berat, aktivitas berat dengan total
Pengaruh olahraga terhadap pengendalian METs-min/minggu.
glukosa terdapat 2 pengaruh yaitu akut dan kronis.
Pengaruh akut yaitu berpengaruh langsung dengan Berdasarkan hasil penelitian tingkat aktivitas
kecepatan pemulihan glukosa otot (seberapa fisik ringan < 600 METs mempunyai Blood Sugar
banyak otot mengambil glukosa di aliran darah) Nuchter 176-200 Mg/dl 5 orang (71,4%) lebih
yang disebut dengan glikogen pada otot (glikogen dominan dari Blood Sugar Nuchter 151-175Mg/dl
merupakan bentuk penyimpanan glukosa). Saat 2 orang (28,6%). Menurut Ernawati (2013) glukosa
berolahraga, otot akan menggunakan glukosa yang dalam jaringan otot pada keadaan istirahat
berada di dalam otot dan jika glukosa berkurang, membutuhkan insulin, sehingga disebut sebagai
otot akan mengisi kekurangan dengan mengambil jaringan insulin dependent. Sedangkan pada otot
glukosa darah. Hal tersebut berakibat menurunkan yang aktif walaupun terjadi peningkatan kebutuhan
kadar glukosa darah sehingga memperbesar glukosa, tetapi kadar insulin tidak meningkat. Hal
pengendalian glukosa saat berolahraga. Pengaruh ini di sebabkan karena peningkatana kepekaan
kronis berolahraga berhubungan dengan reseptor insulin otot dan pertambahan insulin otot
peningkatan kecepatan otot yang aktif secara pada saat melakukan aktivitas fisik. Menurut
metabolisme. Semakin sering berolahraga maka penelitian Balkau, et, al (2008) aktifitas fisik sehari
dapat menghasilkan otot yang aktif sehingga hari merupakan faktor utama yang menentukan
Halaman | 41
Jurnal Keperawatan

sensivitas insulin. Laju transport glukosa ke dalam merangsang sensivitas insulin sehingga otot akan
otot yang sedang berolahraga dapat meningkat 10 lebih banyak menggunakan glukosa
kali selama melaksanakan aktivitas fisik sedang- Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
berat. Peneliti berasumsi bahwa pasien dengan dari 44 responden didapatkan bahwa Blood Sugar
aktivitas fisik ringan memilki Blood Sugar Nuchter Nuchter dengan hasil uji statistik korelasi pearson
yang masih tinggi 176-200 Mg/dl dikarenakan dengan taraf signifikan ρ < 0,05 (dengan
aktivitas yang dilakukan sehari hari kurang, menggunakan SPSS 16,0) ρ pada pasien tingkat
semakin otot yang aktif maka semakin banyak pula aktivitas fisik bahwa nilai koefisien pearson
penggunaan glukosa sehingga Blood Sugar korelasi -0,913 dengan ρ = 0,05 artinya H0 ditolak
Nuchter bisa terkendali. dan H1 diterima. Ini menyatakan ada hubungan
Berdasarkan hasil penelitian tingkat aktivitas anatara tingkat akivitas fisik dengan Blood Sugar
fisik sedang > 600 METs mempunyai Blood Sugar Nuchter pasien. Peneliti berasumsi bahwa Tingkat
Nuchter 126-150Mg/dl 4 orang (21%), 151-175 aktivitas fisik akan mempengaruhi Blood Sugar
Mg/dl 14 orang (73,7%), 176-200 Mg/dl 1 orang Nuchter, semakin banyak aktivitas fisik yang
(5,3%). Menurut Ernawati (2013), selama dilakukan maka akan membuat jaringan otot
berolahraga sel otot kan lebih banyak menjadi aktif sehingga dapat merangsang
menggunakan glukosa dan bahan bakar nutrient sensivitas insulin
lain untuk menjalankan aktivitas kontraktil. Laju Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
transport glukosa ke dalam otot yang sedang dari 44 responden didapatkan bahwa tingkat
berolahraga dapat meningkat 10 kali selama aktivitas fisik dengan Blood Sugar Nuchter. Hasil
melaksanakan aktivitas fisik sedang-berat. Respon uji statistik korelasi pearson menunjukkan taraf
inihanya terjadi disetiap olahraga, tidak merupakan signivikan ρ < 0,05 (dengan menggunakan SPSS
efek yang menetap atau berlangsung lama, 16,0) ρ pada pasien tingkat aktivitas fisik bahwa
sehingga olahraga harus dilakukan secara teratur. nilai koefisien pearson korelasi -0,913 dengan ρ =
Peneliti berasumsi bahwa pasien yang melakukan 0,05. Ini menyatakan ada hubungan anatara tingkat
aktivitas fisik sedang rata-rata mempunyai Blood akivitas fisik dengan Blood Sugar Nuchter pada
Sugar Nuchter 151-175 Mg/dl 13 orang pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas
dikarenakan otot yang aktif akan merangsang Kebonsari Kota Surabaya. Artinya apabila semakin
sensivitas insulin sehingga kadar glukosa bisa banyak aktivitas yang dilakukan maka diharapkan
terkendali kestabilan Blood Sugar Nuchter akan tetap terjaga
Berdasarkan hasil penelitian tingkat aktivitas
fisik berat >600 METs mempunyai Blood Sugar KESIMPULAN
Nuchter 126-150 Mg/dl 18 orang (100%). Menurut Berdasarkan hasil temuan penelitian dan
Barnes D.E (2012) Pengaruh olahraga terhadap hasil pengujian pada pembahasan yang
pengendalian glukosa terdapat 2 pengaruh yaitu dilaksanakan, maka dapat diambil kesimpulan
akut dan kronis. Pengaruh akut yaitu berpengaruh sebagai berikut :
langsung dengan kecepatan pemulihan glukosa 1. Tingkat aktivitas fisik pada pasien diabetes
otot (seberapa banyak otot mengambil glukosa di mellitus tipe 2 di wilayah Puskesmas Kebonsari
aliran darah) yang disebut dengan glikogen pada sebagian besar melakukan aktivitas fisik
otot (glikogen merupakan bentuk penyimpanan sedang.
glukosa). Saat berolahraga, otot akan 2. Hasil Blood Sugar Nuchter pada pasien
menggunakan glukosa yang berada di dalam otot diabetes mellitus tipe 2 di wilayah Puskesmas
dan jika glukosa berkurang, otot akan mengisi Kebonsari Kota Surabaya sebagian besar
kekurangan dengan mengambil glukosa darah. Hal mempunyai Blood Sugar Nuchter 126-150
tersebut berakibat menurunkan kadar glukosa Mg/dl.
darah sehingga memperbesar pengendalian glukosa 3. Ada hubungan tingkat aktivitas fisik dengan
saat berolahraga. Pengaruh kronis berolahraga Blood Sugar Nuchter pada pasien diabetes
berhubungan dengan peningkatan kecepatan otot mellitus tipe 2 kota Surabaya
yang aktif secara metabolisme. Semakin sering
berolahraga maka dapat menghasilkan otot yang
aktif sehingga semakin banyak pula penggunaan DAFTAR PUSTAKA
glukosa sehingga dapat menjaga Blood Sugar Barnes, D. E. (2012). Program Olahraga
Nuchter tetap terkendali. Peneliti berasumsi bahwa Diabetes“Panduan untuk mengendalikan
pasien yang melakukan aktivitas fisik berat glukosa darah”. Yogyakarta: Citra Aji
memilki Blood Sugar Nuchter 126-150 Mg/dl Pramana.
karena semakin besar otot yang aktif maka akan
Halaman | 42
Jurnal Keperawatan

Bryer-Ash,M..(2012). 100 Tanya Jawab Mahendra, dkk.(2008). Care Your Self Diabetes
Mengenai Diabetes. Jakarta: PT. Indeks Melitus. Jakarta: Penebar Plus.
Ernawati. (2013). Penatalaksanaan Maulana, M. (2012). Mengenal Diabetes
Keperawatan Diabetes melitus terpadu Melitus “ Panduan Praktis
Dengan penerapan teori keperawatan SELF Menangani Penyakit Kencing
CARE OREM. Jakarta : Wacana media. Manis”.Yogyakarta: Kata Hati,
Haskell, William L.dkk. (2007). Physical Activity Misnadiarly. (2006). Diabetes Melitus :
and Public Health: Updated Gangguan, Ulcer, Infeksi, Mengenai
Recommendation for Adults From Gejala, Menanggulangi, dan Mencegah
the American College of Sports Komplikasi. Jakarta: Pustaka Populer
Medicine and the American Heart Obor.
Association. University of South Tjokroprawiro, A. 2011.Hidup Sehat Bersama
Carolina Scholar Commons. Diabetes “Panduan lengkap pola makan
Karim, Faizati. (2012). Panduan Kesehatan untuk penderita diabetes” . Jakarta:
dan Olahraga Bagi Petugas Kesehatan. PT.Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta : Departemen Kesehatan Waluyo, S. & Putra, Budhi mahendra. 2013. Cek
Kemendikbud. (2015). Pendidikan Jasmani, Kesehatan Anda Pria Usia 50 Tahun.
Olahraga, dan Kesehatan. Jakarta: Jakarta : PT Elex Media Komputindo
Kementrian pendidikan dan Kebudayaan. Kelompok Gramedia

Halaman | 43