Makalah Carpal Tunnel Syndrome Program S
Makalah Carpal Tunnel Syndrome Program S
Disusun Oleh:
Cynthia Kartika Yolanda (201510490311002)
Fahmi Yurizal (201510490311003)
Muhammad Nanda Risydianto (20151049031100)
Widyaningsih(20151049031100)
Arsy Rahman (20151049031100)
Rahayu Kurniawati (20151049031100)
Hidayatul Ihsani (2015104901311030)
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
2.3 Tujuan
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
2.2.1 Anantomi
Pergelangan tangan dibentuk oleh beberapa tulang,otot,struktur persendian
dan diinervasi oleh beberapa saraf.
A. Tulang pembentuk sendi pergelangan tangan
Tulang-tulang pada sendi pergelangan tangan yaitu ada dua deretan.
Daratan pertama yaitu dari tulang Radius dan Ulna. Deretan yang kedua terdiri
atas delapan tulang carpalia yang tersusun dalam dua deretan. Tulang carpal
deretan proximal antara scapoideum,lunatum,triquetrum,pisiforme. Sedangkan
bagian distal terdiri atas tulang trapesium,trapesoideum,capitatum, dan
hamatum.
1. Tulang scapoideum
Tulang ini berbentuk perahu dengan dataran yang proximal konveksi
bersendi dengan tulang radius. Yulang ini memiliki dataran sendi
yaitu ke arah ulnar bersendi dengan tulang hamatum, ke arah distal
bersendi dengan tulang tulang trapesium, capitatum, dan
trapesoideum dan pada permukaaan volar memiliki tonjolan yang
disebut tuberositas scapoideum (Putz R dan R. Pabst,2005).
2. Tulang Lunatum
Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial
dengan tulang Scapoideum, ke arah ulnar dengan Triquetrum, ke arah
distal dengan tulang capitatum. Tulang ini memiliki dataran proximal
yang konvek yang bersendi dengan tulang radius, dan berbentuk kecil,
seperti bulan sabit (Putz R dan R. Pabst, 2005).
3. Tulang Triquetrum
Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal dengan
tulang radius, ke arah radial dengan tulang Lunatum, ke arah ulnar
dan polar berhubungan dengan tulang pisiforme yang melekat pada
permukaan polar tulang triquetrum dan arah distal dengan tulang
hamatum (Putz R dan R. Pabst,2005).
4. Tulang Pisiforme
Tulang yang berbentuk kecil,agak bulat seperti biji kacang ini melekat
di dataran polar pada tulang triquetrum (Putz R dan R. Pabst,2005).
5. Tulang Trapesium
Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah polar
dengan trapesoideum dan terdapat tonjolan tulang yang disebut
tuberositas osis trapesium, ke arah proximal dengan tulang
scapoideum, ke arah distal dengan tulang metacarpal satu dan dua
(Putz R dan R. Pabst,2005).
6. Tulang Trapezoideum
Tulang ini ke arah radial mempunyai hubungan dengan tulang
trapesium ke arah ulnar dengan tulang capitatum, ke arah distal
dengan tulang metacarpal dua, dan ke arah proximal berhubungan
dengan tulang scapoideum (Putz R dan R. Pabst,2005).
7. Tulang Capitatum
Memiliki bangunan bangunan bulat dan panjang sebagai caputnya.
Mempunyai hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial
berhubungan dengan tulang trapesoideum, ke arah proximal dengan
tulang scapoideum dan lunatum. Ke arah ulnar dengan tulang
hamatum dan ke arah distal dengan tulang metacarpal dua, tiga, dan
empat (Putz R dan R. Pabst,2005).
8. Tulang Hamatum
Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal dengan
tulang triquetrum ke arah radial dengan tulang capitatum ke arah
distal dengan tulang metacarpal empat dan lima. Dan ke arah polar
memliki bangunan seperti lidah yang disebut hamalus ossis hamati
(Putz R dan R. Pabst,2005).
Pada os scapoideum dan os trapesium yang masing-masing memiliki
tonjolan tulang pada bagian colarnya membentuk eminentia carpi radialis. Di
sebelah ulnanya terdapat eminentia carpi ulnaris yang dibentuk oleh os
pisiforme dan hamalum ossis hamati.
B. Ligamen
Ligamen colateral capri ulnar yang membentang dari procesus
styloideus ulna menuju ke tulang triquetrum ligamen colateral carpi radialis
yang membentang dari prossesus stiloideus radii menuju tulang scapoideum
dan ligamen intercarpal yang terdiri dari ligamen interlaveum collare dan
dorsale, ligamen interseum dan ligamen carpiarquetrum.
C. Otot
Otot merupakan stabilitas aktif dan penggerak tulang pembentuk sentral.
Otot pergelangan tangan secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar
yaitu otot fleksor dan ekstensor yang masing-masing terbagi dua bagian
superfisialis dan profunda.
Otot fleksor superficialis yaitu otot fleksor carpi ulnaris, fleksor carpi
radialis, fleksor digitorum sublimes dan palmaris longus (Cailliet,1990).Otot
fleksor carpi radialis dan fleksor carpi ulnaris berfungsi fleksi di pergelanagan
tangan, dan otot ekstensi ekstensor carpi radialis longus brevis dan ekstensor
carpi ulnaris berfungsi ekstensi pergelangan tangan. Pada gerakan ulnar
deviasi dilakukan oleh m.ekstensor carpi ulnaris dan fleksor carpi ulnaris.
Sedangkan gerakan radial deviasi dilakukan oleh m,ekstensor carpi radialis,
fleksor carpi radialis, ekstensor pollicis brevis dan abduktor pollicis longus.
D. Nerves Medianus
Berasal dari pleksus brakhialis dengan dua buah caput yaitu caput medial
dari pasikulus medialis dan caput lateral. Dari pasikulus lateralis kedua caput
tersebut ersatu pada tepi bawah otot pectoralis minor, jadi serabut dalam
truncus berasal dari tiga atau empat segmen medula spinalis (C6-8, Th 1).
Dalam lengan serabut saraf ini tidak bercabang. Truncus berjalan turun
sepanjang arteri brachialis dan melewati sisi polar lengan bawah dna
bercabang masuk ke tengah dan berakhir dengan cabang muscular kutaneus
(Chusid, 1993).
Otot-otot yang mensarafi nerves medianus antara lain : m. pronator teres, m.
fleksor carpi radialis, m.palmaris longus, m.fleksor digitorum profundus,
m,fleksor pollicis longus dan pronator quadratus (Chusid, 1993). Apabila ada
lesi yang mengenai nerves medianus akan mengakibatkan terjadinya
pengurangan sensoris pada bagian polar lengan bawah, daerah palmar tangan
jari satu,dua,tiga,dan setengah jari empat.
2.2.2 Biomekanik
Ditinjau dari morfologinya termasuk articulasio ellipsoidea, tetapi fungsinya
sebagai artikulatio gluboidea. Gerakan yang terjadi pada persendian itu yaitu
fleksi dengan LGS 800 ekstensi 700, ulnar deviasi 300, dan radial deviasi 200.
Derajat fleksi dan ulnar deviasi lebih besar dibandingkan dengan gerakan ekstensi
dan radial deviasi, hal ini disebabkan karena bentuk permukaan sendi radius dari
ligamen bagian dorsal lebih kendor dari bagian palmar (Chuside, 1967).
2.3 Etiologi
Etiologi CTS dapat terjadi pada keadaan yang menyebabkan penyempitan
terowongan karpal misalnya trauma pada tangan bisa karena fraktur riwayat
immobilisasi lama akibat operasi ataupun karena over use yang bersifat kronik pd
pergelangan tangan, kelainan anatomis bawaan (herediter), gangguan pada otot
dan tulang seperti akromegali osteofit yang dapat mempengaruhi struktur
pergelangan tangan. Etiologi yang paling sering terjadi yaitu penebalan fleksor
retinaculum karena proses radang. Namun secara sekunder CTS dapat timbul juga
pada penderita dengan Osteoarthritis, Diabetes Melitus, Miksedema, Amiloidosis
atau wanita yang hamil (Sidharta,1984).
Penyakit sistemik lainnya misalnya kegemukan dan menopause karena
gangguan keseimbangan hormon yang mengakibatkan penimbunan lemak atau
cairan yang menimbulkan penyempitan dalam terowongan karpal (Katz, 2002).
CTS merupakan neuropati jepitan yang paling banyak dijumpai, yaitu terjebaknya
Nervus Medianus di dalam terowongan Karpal pada pergelangan tangan, di bawah
fleksor retinakulum (DeJong, 1992). American Society for Surgery of the Hand
mendefinisikan CTS sebagai kompresi neuropati dari Nervus Medianus di
pergelangan tangan dimana saraf melewati bawah ligamentum karpal transversus
(Burton, 1983).
Beberapa penyebab dan factor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian
carpal tunnel syndrome antara lain :
1. Herediter: neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy,
misalnya HMSN (hereditary motor and sensory neuropathies) tipe III.
2. Trauma: dislokasi, fraktur atau hematom pada lengan bawah, pergelangan
tangan dan tangan .Sprain pergelangan tangan. Trauma langsung terhadap
pergelangan tangan.
3. Pekerjaan : gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan
yang berulang-ulang. Seorang sekretaris yang sering mengetik, pekerja
kasar yang sering mengangkat beban berat dan pemain musik terutama
pemain piano dan pemain gitar yang banyak menggunakan tangannya juga
merupakan etiologi dari carpal turner syndrome.
4. Infeksi: tenosinovitis, tuberkulosis, sarkoidosis.
5. Metabolik: amiloidosis, gout, hipotiroid - Neuropati fokal tekan,
khususnya sindrom carpal tunnel juga terjadi karena penebalanligamen,
dan tendon dari simpanan zat yang disebut mukopolisakarida.
6. Endokrin : akromegali, terapi estrogen atau androgen, diabetes mellitus,
hipotiroidi, kehamilan.
7. Neoplasma: kista ganglion, lipoma, infiltrasi metastase, mieloma.
8. Penyakit kolagen vaskular : artritis reumatoid, polimialgia reumatika,
skleroderma, lupus eritematosus sistemik.
9. Degeneratif: osteoartritis.
10. Latrogenik : punksi arteri radialis, pemasangan shunt vaskular untuk
dialisis, hematoma, komplikasi dari terapi anti koagulan.
11. Inflamasi : Inflamasi dari membrane mukosa yang mengelilingi tendon
menyebabkan nervus medianus tertekan dan menyebabkan carpal tunnel
syndrome.
2.4 Patofisiologi
Menurut teori kompresi mekanik, gejala CTS adalah karena kompresi nervus
medianus di terowongan karpal.Kelemahan utama dari teori ini adalah bahwa teori
ini menjelaskan konsekuensi dari kompresi saraf tetapi tidak menjelaskan etiologi
yang mendasari kompresi mekanik.Kompresi diyakini dimediasi oleh beberapa
faktor seperti ketegangan, tenaga berlebihan, hiperfungsi, ekstensi pergelangan
tangan berkepanjangan atau berulang (Bahrudin, 2011).
Menurut teori getaran, gejala CTS bisa disebabkan oleh efek dari penggunaan
jangka panjang alat yang bergetar pada saraf median di karpal tunnel.Lundborg
mencatat edema epineural pada saraf median dalam beberapa hariberikut paparan
alat getar genggam.Selanjutnya, terjadi perubahan serupamengikuti mekanik,
iskemik, dan trauma kimia (Bahrudin, 2011).
Komar dan Ford membahas dua bentuk CTS yaitu akut dan kronis. Bentuk
akut mempunyai gejala dengan nyeri parah, bengkak pergelangan tangan atau
tangan, tangan dingin dan gerak jari menurun. Kehilangan gerak jari disebabkan
oleh kombinasi dari rasa sakit dan paresis. Bentuk kronis mempunyai gejala baik
disfungsi sensorik yang mendominasi atau kehilangan motoric dengan perubahan
trofik. Nyeri proksimal mungkin ada dalam CTS (Pecina, et al., 2001).
Kebanyakan sindrom ini bersifat idiopatik. Penderita mengeluh kelemahan
atau kekakuan tangan, terutama bila melakukan pekerjaan halus menggunakan
jari. Selain gangguan motorik, terdapat akroparestesia, serangan nyeri, gelenyar,
mati rasa dan tangan terasa bengkak. Pada tahap dini, biasanya terdapat
hiperparestesia di daerah kulit yang dipersarafi oleh nervus medianus. Pada
penderita yang sudah lama terkena radang terdapat hipotrofi tenar. Parestesia
bertambah berat bila pergelangan tangan difleksikan semaksimal mungkin selama
satu menit, uji ini disebut uji Phalen (Moore, 2002). Gejala awal, pasien sering
terbangun di malam hari mengeluhkan tebal, nyeri dan kesemutan di ibu jari,
telunjuk, jari tengah dan setengah sisi radial jari manis kecuali jari kelingking
(Richard, 1983 dikutip oleh Bahrudin, 2005).
Gejala lainnya adalah pergelangan tangan serasa diikat ketat (tightness)
dan kaku gerak (Moeliono, 1993 dikutip oleh Rambe, 2004). Pada tahap yang
lebih lanjut kekuatan tangan menurun. Selain itu, seringkali penderita mengeluh
jari-jarinya menjadi kurang trampil terutama fungsi menggenggam serta dapat
dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainnya yang dipersarafi oleh Nervus
Medianus (Sidharta, 1984).
2.6 Diagnosa
CTS ditegakkan selain berdasarkan gejala klinis seperti di atas dan
diperkuat dengan pemeriksaan yaitu :
A. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita
dengan perhatian khusus pada fungsi, motorik, sensorik dan otonom
tangan. Beberapa pemeriksaan dan tes provokasi yang dapat membantu
menegakkan diagnosa CTS adalah:
Phalen test : Penderita diminta melakukan fleksi tangan secara
maksimal. Bila dalam waktu 60 detik timbul gejala seperti CTS, tes ini
menyokong diagnosis. Beberapa penulis berpendapat bahwa tes ini
sangat sensitif untuk menegakkan diagnosis CTS.
B. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan sinar-X terhadap pergelangan tangan untuk
melihat kemungkinan adanya penyebab lain seperti fraktur atau artritis.
Foto polos leher berguna untuk menyingkirkan adanya penyakit lain pada
vertebra. USG, CT-scan, dan MRI dilakukan pada kasus yang selektif
(Latov, 2007).
D. Pemeriksaan Khusus
5. Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan terhadap anggota gerak dengan
menggunakantangan dan membedakan antara kedua anggota gerak yang
kanan dan kiri.Palpasi
6. Pemeriksaan ROM
Pemeriksaan ROM ini dilakukan pada pergelangan tangan, dengan
tujuan untuk mengetahui apakah ada keterbatasan gerak pada pergelangan
tangan, pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan goniometer.
7. Pemeriksaan Nyeri
Pemeriksaan nyeri menggunakan VRS bertujuan untuk
mengetahuikeadaan nyeri yang dirasakan pasien. Baik saat diam atu gerak.
3. Ressisted exercise
Ressisted exercise yaitu merupakan bagian dari active exercise
dengan dinamik atau statik kontraksi otot dengan tahanan dari luar.
Tahanan dari luar bisa dengan manual atau dengan mekanik.Posisi
pasien: duduk di kursi dengan tangan disangga bantal, terapis duduk
berhadapan dengan pasien.
Pelaksanaan:
Gerakan dorsi fleksi dan palmar fleksi
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh.
Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri. Terapis
menstabilisasi pada pergelangan tangan kemudian pasien diminta
menggerakkan kearah dorsal dan palmar fleksi dan terapis memberi
tahanan kearah palmar dan dorsal tangan dengan aba aba
pertahankan disinitahantahan. Selama 7 hitungan
kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan
kemampuan pasien dengan pengulangan 8 10 kali (Bates, 1992).
Gambar 7. Gerak palmar dan dorsi fleksi dengan tahanan
Gerakan ulnar deviasi dan radial deviasi
1. Ulnar deviasi:
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan
pronasi dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan
tangan kanan dan kiri Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah
dan pasien diminta menggerakkan tangan ke ulnar dan terapis
memberi tahanan kearah dorsal tangan dengan aba aba
pertahankan disinitahantahan. Selama 7 hitungan
kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan
kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 10 kali (Bates, 1992).
Gambar 8. Gerak ulnar deviasi dan radial deviasi yang ditahan
2. Radial deviasi:
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan
pronasi dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan
tangan kanan dan kiri Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah
dan pasien diminta menggerakkan tangan ke radial deviasi dan
terapis memberi tahanan kearah ulnar tangan dengan aba aba
pertahankan disinitahantahan. Selama 7 hitungan
kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan
kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 10 kali (Bates, 1992).
Untuk (T2 T6) pemberian terapi latihan pada pergelangan tangan
kanan dan kiri sama seperti T1 tapi untuk tahanannya ditambah.
B. Teknologi Fisioterapi
1. Ultrasound
Efek terapeutik US masih sedang diperdebatkan. Sampai saat ini, masih
sangat sedikit bukti untuk menjelaskan bagaimana US bisa
menyebabkan efek terapeutik dalam jaringan yang terluka. Namun
demikian praktisi di seluruh dunia terus menggunakan modalitas terapi ini
sesuai dengan pengalaman pribadi, bukan bukti ilmiah. Berikut adalah
sejumlah teori oleh US yang berhubungan dengan efek terapeutik.
Thermal effect
Ketika gelombang ultrasonik lulus dari transuder ke dalam kulit
yang menyebabkan getaran di sekitar jaringan, terutama yang
mengandung kolagen. Getaran yang meningkat ini menyebabkan
produksi panas dalam jaringan. Pada kebanyakan kasus, hal ini
tidak dapat dirasakan oleh pasien sendiri. Peningkatan suhu ini
dapat menyebabkan peningkatan Ekstensibilitas struktur seperti
ligamen, tendon, jaringan parut dan kapsul fibrosa sendi. Selain itu,
pemanasan juga dapat membantu untuk mengurangi rasa sakit dan
kejang otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
Efek pada inflamasi dan proses perbaikan :
Salah satu manfaat terbesar terapi US yang disampaikan adalah
yaitu mengurangi waktu
Penyembuhan cedera jaringan lunak tertentu.
US bertindak untuk mempercepat waktu penyembuhan yang normal
dari proses peradangan dengan menarik lebih banyak mast sells
ke lokasi cedera. Ini dapat menyebabkan peningkatan aliran darah
yang dapat bermanfaat pada fase sub-akut pada cedera jaringan. US
tidak di anjurkan pada cidera dimana peningkatan aliran darah
masih berlangsung.
Ultrasonografi juga dapat merangsang produksi kolagen khususnya
komponen protein dalam jaringan lunak seperti tendon dan ligamen.
Oleh karena itu US dapat mempercepat fase proliferatif pada
penyembuhan jaringan.
US berpikir untuk meningkatkan ekstensibilitas kolagen dan dapat
memiliki efek positif pada fibrosa jaringan parut yang dapat
terbentuk setelah cedera.
a. Persiapan alat
Mesin ditest apakah mesin dalam keadaan baik dan dapat mengeluarkan
gelombang ultra sonic dengan cara memberi air pada tranduser guna
menampung air dan dipegang menghadap ke atas kemudian mesin
dihidupkan, bila mesin dalam keadaan baik maka air akan bergerak seperti
mendidih kemudian koupling medium, handuk, tissue, dan alkohol
dipersiapkan.
b. Persiapan pasien
Pasien diposisikan senyaman mungkin, rileks, dan tanpa adanya rasa sakit
yaitu posisi dengan duduk kemudian tangan supinasi diletakkan diatas bed,
kemudian pada bagian tangan disuport oleh bantal. Dan tangan yang akan
diterapi harus terbebas dari pakaian dan segala aksesoris. Sebelum
pemberian terapi dilakukan tes sensibilitas dengan menggunakan tabung
berisi air panas dan dingin didaerah tangan bagian palmar. Posisi terapis
duduk di depan pasien. Pasien diberi penjelasan tentang tujuan pengobatan
yang diberikan dan juga rasa panas yang dirasakan dan jika pasien
merasakan seperti kesemutan yang berlebihan saat terapi berlangsung
diharapkan pasien langsung memberitahukan kepada terapis.
c. Pelaksanaan
Alat diatur sedemikian rupa sehingga tangkai mesin dapat menjangkau
tangan yang akan diterapi kemudian area yang akan diterapi yaitu pada
dorsal pergelangan tangan kanan diberikan koupling medium kemudian
tranduser ditempelkan lalu mesin dihidupkan lalu tranduser digerakan pelan-
pelan pada pergelangan tangan kanan pasien secara tranvers dan irama yang
teratur di atas pergelangan tangan dengan arah tegak lurus dengan area
terapi, tranduser harus selalu kontak dengan kulit, dengan intensitas 1,5
watt/cm2 secara continous, lama terapi 5 menit diperoleh dari luas area 25
cm2 dan ERA 5 cm2. Selama proses terapi berlangsung harus mengontrol
panas yang dirasakan pasien. Jika selama pengobatan rasa nyeri dan
ketegangan otot meninggi, dosis harus dikurangi dengan menurunkan
intensitas. Hal ini berkaitan dengan overdosis. Setelah terapi pada
pergelangan tangan kanan selesai intensitas dinolkan dan dilanjutkan untuk
pergelangangan tangan yang kiri sama seperti yang dilakukan pada
pergelangan tangan kanan, setelah selesai kemudian alat dirapikan seperti
semula. Untuk (T2 T6) pemberian terapi ultra sonic pada pergelangan
tangan kanan dan kiri sama seperti T1.
d. Edukasi
Agar hasil maksimal maka perlu diberikan edukasi pada pasien
tentang cara melakukan aktivitas sehari-hari yang benar dan pemberian
modalitas fisioterapi. Edukasi yang diberikan untuk penderita carpal tunnel
syndrome yaitu pasien diminta untuk mengompres dengan air hangat pada
kedua pergelangan sampai telapak tangan kanan dan kiri sekitar 10 menit,
menggerakkan kedua pergelangan tangan sebatas nyeri pasien secara aktif
dengan tujuan pemperlancar peredaran darah dan mengistirahatkan kedua
tangan saat timbul nyeri dan juga jangan mengangkat beban berat yang
menimbulkan nyeri, serta melakukan latihan tangan seperti yang diajarkan
terapis tapi menggunakan tahanan kantong pasir, jangan mengangkat beban
berat yang menimbulkan nyeri, jangan memaksakan bekerja secara
berlebihan saat tangan merasa nyeri.
BAB III
PENUTUP
Pada Bab II telah dipaparkan secara rinci penjelasan tentang (1) Definisi Carpal
Tunnel Syndrome (2) Anatomi Dan Biomekanika Carpal Tunnel Sindrome (3)
Etiologi Carpal Tunnel Sindrome (4) Patofisiologi Carpal Tunnel Sindrome (5)
Manifestasi Klinis Carpal Tunnel Sindrome (6) Pemeriksaan Diagnostik Carpal
Tunnel Sindrome (7) Penatalaksanaan Carpal Tunnel Sindrome. Maka dari
pembahasan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.
3.1 Simpulan
(1) Carpal Tunnel Syndrome adalah neuropati kompresi simtomatik nervus
medianus pada pergelangan tangan berupa peningkatan tekanan di dalam
terowongan carpal dan penurunan fungsi saraf.
(2) Pergelangan tangan dibentuk oleh beberapa tulang,otot,struktur persendian
dan diinervas oleh beberapa saraf. Daratan pertama yaitu dari tulang
Radius dan Ulna. Deretan yang kedua terdiri atas delapan tulang carpalia
yang tersusun dalam dua deretan. Tulang carpal deretan proximal antara
scapoideum, lunatum, triquetrum, pisiforme. Sedangkan bagian distal
terdiri atas tulang trapesium,trapesoideum,capitatum, dan hamatum.
Disusun juga oleh ligamen colateral capri ulnar, otot fleksor dan ekstensor
yang masing-masing terbagi dua bagian superfisialis dan profundus.
(3) Etiologi CTS dapat terjadi pada keadaan yang menyebabkan penyempitan
terowongan karpal misalnya trauma pada tangan bisa karena fraktur
riwayat immobilisasi lama akibat operasi ataupun karena over use yang
bersifat kronik pd pergelangan tangan, kelainan anatomis bawaan
(herediter), gangguan pada otot dan tulang seperti akromegali osteofit
yang dapat mempengaruhi struktur pergelangan tangan. Etiologi yang
paling sering terjadi yaitu penebalan fleksor retinaculum karena proses
radang.
(4) Umumnya CTS terjadi secara kronis dimana terjadi penebalan fleksor
retinakulum yang menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus.
Tekanan yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian
tekanan intrafasikuler, akibatnya aliran darah vena intrafasikuler
melambat. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi
intrafasikuler diikuti oleh anoksia yang akan merusak endotel. Kerusakan
endotel ini akan mengakibatkan kebocor protein sehingga terjadi edema
epineural. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi fibrosis
epineural yang merusak serabut saraf. Lama- kelamaan saraf menjadi
atrofi dan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi
nervus medianusterganggu secara menyeluruh .
(5) Gejala awal, pasien sering terbangun di malam hari mengeluhkan tebal,
nyeri dan kesemutan di ibu jari, telunjuk, jari tengah dan setengah sisi
radial jari manis kecuali jari kelingking. Gejala lainnya adalah pergelangan
tangan serasa diikat ketat (tightness) dan kaku gerak. Pada tahap yang
lebih lanjut kekuatan tangan menurun. Seringkali penderita mengeluh jari-
jarinya menjadi kurang trampil terutama fungsi menggenggam serta dapat
dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainnya yang dipersarafi oleh
Nervus Medianus.
(6) Carpal Tunnel Syndrom yang kasusnya idiopatik mempunyai gejala yang
timbul dan hilang dalam beberapa bulan atau tahun tapi rasa tidak enak
pada malam hari dapat lebih menonjol dan berlangsung sehingga
mengganggu penderita
(7) Diagnosa CTS ditegakkan selain berdasarkan gejala klinis seperti di atas
dan diperkuat dengan pemeriksaan yaitu ; Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan
radiologis, Pemeriksaan neurofisiologi
(8) Pemeriksaa Umum dan Penunjang pasien meliputi ; Pemeriksaan Fisik,
Pemeriksaan kognitif. Pemerksaan interpersonal, Pemeriksaan
intrapersonal.
(9) Dalam kasus ini pemeriksaan khusus yang dilakukan antara lain ; Inspeksi,
Quick tes, Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar, Tes Khusus, Palpasi,
Pemeriksaan ROM, Pemeriksaan Nyeri
(10) Pelatalaksanaan Fisioterapi meliputi ; Terapi Latihan, Teknologi
Fisioterapi, Edukasi.
3.2 Saran