Anda di halaman 1dari 88

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

Untuk Memenuhi Tugas Praktek Program Profesi Ners Stase Jiwa

Di Ruang Puri Mitra Sakit Jiwa Menur

Surabaya

Di susun oleh:

MUHAMMAD MASYKURILLAH

NIM: 1814901146

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

NGUDIA HUSADA MADURA

2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Jiwa Untuk Memenuhi Tugas


Praktek Program Profesi Ners Stase Jiwa Di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Jiwa
Menur Surabaya telah di konsultasikan kepada pembimbing klinik / lahan dan dosen
pembimbing atau fasilitator kami, direvisi dan disetujui pada :
Hari :
Tanggal :
Tempat : Ruang Puri Mitra Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya

Penyusun
Mahasiswa Profesi Ners

Muhammad Masykurillah

Pembimbing Akademik PembimbingLahan/Klinik

( ) ( )

Mengetahui,
Kepala Ruangan Puri Mitra RSJ Menur Surabaya

( )
GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM

A. Konsep Dasar Waham


a) Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat terus-
menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. (Budi Anna Keliat, 2006)
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar
belakang budaya klien (Aziz R, 2003). Ramdi (2000) menyatakan bahwa itu
merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan
kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang
kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat
diubah-ubah.
Waham (dellusi) adalah keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau
dibuktikan dengan realitas. Haber (1982) keyakinan individu tersebut tidak
sesuai dengan tingkat intelektual dan latar belakang budayanya. Rawlin (1993)
dan tidak dapat digoyahkan atau diubah dengan alasan yang logis (Cook and
Fontain 1987)serta keyakinan tersebut diucapkan berulang -ulang.

b) Klasifikasi Waham
1. Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau
kekuasaan khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan. Misalnya, “Saya ini pejabat di separtemen kesehatan lho!” atau,
“Saya punya tambang emas.”
2. Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang
berusaha merugikan/mencederai dirinya dan siucapkan berulang kali, tetapi
tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Saya tidak tahu seluruh saudara saya ingin
menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya.”
3. Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu agama
secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh, “Kalau saya mau masuk surga, saya harus menggunakan pakaian
putih setiap hari.”
4. Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan. Misalnya, “Saya sakit kanker.” (Kenyataannya
pada pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi
pasien terus mengatakan bahwa ia sakit kanker).
5. Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.
Misalnya, ”Ini kan alam kubur ya, sewmua yang ada disini adalah roh-roh”.
6. Waham sisip pikir : keyakinan klien bahwa ada pikiran orang lain yang
disisipkan ke dalam pikirannya.
7. Waham siar pikir : keyakinan klien bahwa orang lain mengetahui apa yang
dia pikirkan walaupun ia tidak pernah menyatakan pikirannya kepada orang
tersebut
8. Waham kontrol pikir : keyakinan klien bahwa pikirannya dikontrol oleh
kekuatan di luar dirinya.

Kategori Waham :
1. Waham sistematis: konsisten, berdasarkan pemikiran mungkin terjadi
walaupun hanya secara teoritis.
2. Waham nonsistematis: tidak konsisten, yang secara logis dan teoritis tidak
mungkin

c) Proses Terjadinya Waham


Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam yaitu :
1. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhn-kebutuhan klien baik secara
fisik maupun psikis. Secar fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-
orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat
miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang
secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan
selft ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi menginginkan
dipandang sebagai seorang dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dn
diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat pentingnya
pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya
penghargaan saat tumbuh kembang ( life span history ).
2. Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan
antara self ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan
kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui
kemampuannya. Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya,
menggunakan teknologi komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta
memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self ideal yang
melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh. Dari aspek
pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya
sangat rendah.

3. Fase control internal external


Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa
yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai
dengan kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang
sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap
penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena
kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan
sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien
itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya
toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar
pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan
klien tidak merugikan orang lain.
4. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya
menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu
yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang.
Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya
norma ( Super Ego ) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat
berbohong.
5. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri
dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan menghindar
interaksi sosial ( Isolasi sosial ).
6. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu
keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul
sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang
tidak terpenuhi ( rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk
dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting
sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta
memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan
menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.
·
4. Etiologi
Faktor predisposisi WAHAM:
a. Genetis: diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf yang
berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.
b. Neurobiologis : adanya gangguan pada korteks pre frontal dan korteks
limbic
c. Neurotransmitter : abnormalitas pada dopamine, serotonin dan glutamat.
d. Virus : paparan virus influensa pada trimester III
e. Psikologis

Faktor Presipitasi WAHAM


a. Proses pengolahan informasi yang berlebihan
b. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.
c. Adanya gejala pemicu
Rentang respon neurobiologi :

5. Pohon Masalah WAHAM

Kerusakan komunikasi Resiko mencederai diri sendiri, orang lain


verbal dan lingkungan

Perubahan isi pikir:


waham Faktor pencetus:
1. Proses pengolahan informasi
yang berlebihan
2. Mekanisme pengahantaran
listrik yang berlebihan
3. Adanya gejala pemicu
Harga diri rendah

Faktor penyebab:
1. Genetik
2. Neurobiologis
3. Psikologis
4. Neurotransmitter
5. Virus

6. Manifestasi Klinis WAHAM


a. Gangguan fungsi kognitif (perubahan daya ingat)
Cara berpikir magis dan primitif, perhatian, isi pikir, bentuk dan
pengorganisasian bicara (tangensial, neologisme, sirkumtansial)
b. Fungsi persepsi
Depersonalisasi dan halusinasi
c. Fungsi emosi
Afek tumpul, kurang respon emosional, afek datar, afek tidak sesuai, reaksi
berlebihan, ambivalen
d. Fungsi motorik
Imfulsif dan gerakan tiba-tiba dan spontan, manerisme, stereotopik dan
gerakan yang diulang-ulang, tidak bertujuan, tidak dipengaruhi stimulus
yang jelas, katatonia.
e. Fungsi sosial : kesepian
Isolasi sosial, menarik diri dan harga diri rendah.
f. Dalam tatanan keperawatan jiwa respon neurobiologis yang sering muncul
adalah gangguan isi pikir : waham dan gangguan persepsi sensori :
halusinasi.

6. Penatalaksanaan Waham
a. Psikofarmakologi
b. Pasien hiperaktif / agitasi anti psikotik low potensial
c. penarikan diri high potensial
d. ECT tipe katatonik
e. Psikoterapi
f. Perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif

7. Asuhan Keperawatan Waham


A. Pengkajian
1. Data yang Perlu Dikaji
a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
1). Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada
seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-
barang dan tidak mampu mengendalikan diri.
2). Data objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara
menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar
barang-barang.

b. Kerusakan komunikasi : verbal


1). Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
2). Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar
dan kontak mata kurang

c. Perubahan isi pikir : waham (..)


1). Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tenteng agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai kenyataan.
Pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengkaji waham :
a) Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang
diungkapkan dan menetap?
b) Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah
pasien cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
c) Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda disekitarnya aneh
dan tidak nyata?
d) Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada diluar tubuhnya?
e) Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
f) Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh
orang lain atau kekuatan dari luar?
g) Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau
kekuatan lainnya atau yakin bahwa orang lain dapat membaca
pikirannya?
2). Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak
(diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak
tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah
tersinggung.

d. Gangguan harga diri rendah


1). Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap
diri sendiri
2). Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup
B. Masalah keperawatan yang mungkin muncul
a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Kerusakan komunikasi : verbal
c. Perubahan isi pikir : waham

C. Rencana Keperawatan WAHAM


Diagnosa Keperawatan 1: kerusakan komunikasi verbal berhubungan
dengan waham
1. Tujuan umum :
 Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2. Tujuan khusus :
 Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Tindakan :
a) Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas
topik, waktu, tempat).
b) Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat
menerima keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai
ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi
ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
c) Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan
perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman,
gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
d) Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan
diri.

 Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki


Tindakan :
a) Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
b) Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan
saat ini yang realistis.
c) Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan
diri).
d) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan
waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

 Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi


Tindakan :
a) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
b) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah
maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
c) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
d) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
e) Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan
wahamnya.

 Klien dapat berhubungan dengan realitas


Tindakan :
a) Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan
waktu).
b) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
c) Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

 Klien dapat menggunakan obat dengan benar


Tindakan :
a) Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping minum obat
b) Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat,
dosis, cara dan waktu).
c) Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
d) Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

 Klien dapat dukungan dari keluarga


Tindakan :
a) Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala
waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
b) Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri, orang lain dan


lingkungan berhubungan dengan waham
1. Tujuan Umum:
 Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
2. Tujuan Khusus:
 Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tindakan:
a) Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama
perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
b) Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
c) Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
d) Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.

 Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.


Tindakan:
a) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
b) Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
c) Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan
sikap tenang.

 Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.


Tindakan :
a) Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat
jengkel/kesal.
b) Observasi tanda perilaku kekerasan.
c) Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.

 Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.


Tindakan:
a) Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
b) Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
c) Tanyakan “apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?”

 Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.


Tindakan:
a) Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
b) Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
c) Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.

 Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap


kemarahan.
Tindakan :
a) Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
b) Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang
kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
c) Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
d) Secara spiritual : berdo’a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk
diberi kesabaran.

 Klien dapat mengidentifikasi cara mengotrol perilaku kekerasan.


Tindakan:
a) Bantu memilih cara yang paling tepat.
b) Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
c) Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
d) Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
e) Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

 Klien mendapat dukungan dari keluarga.


Tindakan :
a) Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan
keluarga.
b) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

 Klien dapat menggunakan obat denagan benar (sesuai program).


Tindakan:
a) Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan
efek samping)
b) Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat,
dosis, cara dan waktu).
c) Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang
dirasakan.

Diagnosa Keperawatan 3: Perubahan isi pikir : waham ( …….. ) berhubungan


dengan harga diri rendah
1. Tujuan umum :
 Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan
meningkat harga dirinya.
2. Tujuan khusus :
 Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
a) Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang
jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c) Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d) Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

 Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang


dimiliki.
Tindakan :
a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b) Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan
memberi pujian yang realistis
c) Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

 Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan


Tindakan :
a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b) Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke
rumah

 Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan


kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
a) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
b) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
c) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

 Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan


Tindakan :
a) Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b) Beri pujian atas keberhasilan klien
c) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

 Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang adA


Tindakan :
a) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
b) Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
c) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
d) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

Rencana Keperawtan Gangguan Proses Pikir : Waham Dalam Bentuk Strategi


Pelaksanaan.
NO KLIEN KELUARGA
SPIP SPIK
1. Membantu orientasi realita Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat pasien.
2. Memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi Menjelaskan pengertian tanda dan gejala waham dan
jenis waham yang dialami pasien beserta proses
terjadinya.
3. Membentu pasien memenuhi kebutuhannya Menjelaskan cara merawat pasien waham.

4. Menganjurkan pasien memasukkan dalam


jadwal kegiatan harian
SP2P SP2K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat
pasien dengan waham.
2. Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat
langsung kepada pasien waham
3. Melatih kemampuan yang dimiliki
SP3P SP3K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di
rumah termasuk minum obat (dicharge planning)
2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
penggunaan obat secara teratur
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian

DAFTAR PUSTAKA

Farida dan yudi. 2012. Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : Salemba Medika
Keliat Budi Ana. 1999. Gangguan Konsep Diri, Edisi I. Jakarta : EGC
Mukhripah dan iskandar. 2012. Asuhan keperawatan jiwa. Bandung: Refika
Aditama
GANGGUAN ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI

A. Konsep Isolasi Sosial


1. Pengertian
Menurut Depkes RI 2000, kerusakan interaksi sosial merupakan suatu
gangguan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak
fleksibel menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang
dalam hubungan sosial.
Isolasi sosial merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi
dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak
mempunyai kesmpatan untuk berbagi rasa, pikiran dan kegagalan. Klien
mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang
dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup
berbagi pengalaman (Balitbang, 2007).
Kerusakan interaksi sosial adalah suatu gangguan kepribadian yang tidak
fleksibel, tingkah maladaktif dan mengganggu fungsi individu dalam hubungan
sosial (Stuart dan sundeen, 1998).
Kerusakan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang
berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang tidak
efektif. Klien yang mengalami kerusakan interaksi sosial mengalami kesulitan
dalam berinteraksi dengan orang lain salah satunya mengarah pada menarik diri
(Towsend, 1998). Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain menghindari hubungan dengan orang lain (Pawlin,1993 dikutip
Budi Keliat,2001).
Isolasi sosial merupakan menghindari komunikasi dengan orang lain
karena merasa kehilangan hubungan akrap dan tidak mempunyai kesempatan
untuk berbagai rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam
berhubungansecara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan
mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman.
Gangguan hubungan sosial terdiri atas :
a) Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu
dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai
suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal
sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik
diri, kurangnya kontak mata. Ketidaksesuaian atau ketidakmatangan
minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi
dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna.
Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan
oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain,
merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose
Kep. Psikiatri, 1998; hal 252).
b) Kerusakan Interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu
berpartisipasi dalam suatu kualitas yang tidak cukup atau berlebihan atau
kualitas interaksi sosial yang tidak efektif, Dengan Karakteristik :
Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidaknyamanan dalam
situasi-situasi sosial. Menyatakan secara verbal atau menampakkan
ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan kepuasan
rasa memiliki, perhatian, minat, atau membagi cerita. Tampak
menggunakan perilaku interaksi sosial yang tidak berhasil. Disfungsi
interaksi dengan rekan sebaya, keluarga atau orang lain. Penggunaan
proyeksi yang berlebihan tidak menerima tanggung jawab atas
perilakunya sendiri. Manipulasi verbal. Ketidakmampuan menunda
kepuasan. (Mary C. Townsend, Diagnosa Keperawatan Psikiatri, 1998;
hal 226).

2. Rentang Respon Sosial


a) Waktu membina suatu hubungan sosial, setiap individu berada dalam
rentang respons yang adaptif sampai dengan maladaptif. Respon
adaptif merupakan respons yang dapat diterima oleh norma – norma sosial
dan budaya setempat yang secara umum berlaku, sedangkan respons
maladaptif merupakan respons yang dilakukan individu dalam
menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma – norma
sosial dan budaya setempat. Respons sosial maladaptif yang sering terjadi
dalam kehidupan sehari – hari adalah menarik diri, tergantung (dependen),
manipulasi, curiga, gangguan komunikasi, dan kesepian.
b) Menurut Stuart dan Sundeen, 1999, respon setiap individu berada
dalam rentang adaptif sampai dengan maladaptive yang dapat dilihat pada
bagan berikut :
1) Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma –
norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku di masyarakat.
Respon adaptif terdiri dari :
a. Menyendiri(Solitude): Merupakan respons yang dibutuhkan
seseorang untuk merenungkan sapa yang telah dilakukan di
lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk
menentukan langkah selanjutnya. Solitude umumnya dilakukan
setelah melakukan kegiatan.

b. Otonomi: Merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan


menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
c. Bekerja sama (mutualisme): adalah suatu kondisi dalam hubungan
interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi
dan menerima.

d. Saling tergantung (interdependen): Merupakan kondisi saling


tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina
hubungan interpersonal.

2) Respon maladaptive adalah respon yang menimbulkan gangguan dengan


berbagai tingkat keparahan (Stuart dan Sundeen, 1998). Respon
maladaptif terdiri dari :
1. Menarik diri: merupakan suatu keadaan dimana seseorang
menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka
dengan orang lain.
2. Manipulasi: Merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat
pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. Individu
tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.

3. Impulsif: Individu impulsif tidak mampu merencanakan sesuatu,


tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat diandalkan.

4. Narkisisme: Pada individu narkisisme terdapat harga diri yang rapuh,


secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian,
sikap egosenetris, pencemburuan, marah jika orang lain tidak
mendukung.

5. Tergantung (dependen): terjadi bila seseorang gagal mengembangkan


rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses.

6. Curiga: Terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya


dengan orang lain. Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan
dengan tanda-tanda cemburu, iri hati, dan berhati-hati. Perasaan
individu ditandai dengan humor yang kurang, dan individu merasa
bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi.

3. Penyebab Dari Menarik Diri

Salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga
diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa
seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri
dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri dan
kemampuan, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan yang
diekspresikan secara langsung maupun tak langsung.
Terjadinya gangguan ini dipengaruhi oleh factor predisposisi di
antaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengakibatkan
individu tidak percaya pada diri, tidak percaya pada orang lain, ragu, takut
salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan
keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku
tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri,
menghindar dari orang lain, dan kegiatan sehari-hari terabaikan.
A. Factor predisposisi
1. Factor tumbuh kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tuga perkembangan
yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.
Bila tugas-tugas daam perkembangan ini tidak terpenuhi maka akan
menhambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan
masalah.

Tahap perkembangan Tugas


Masa bayi Menetapkan rasa percaya
Masa bermain Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri
Masa pra sekolah Belajar menunjukkan inisiatif, rasa tanggung jawab,
dan hati nurani
Masa sekolah Belajar berkompetensi, bekerjasama, dan
berkompromi
Masa pra remaja Menjalin hubungan intim dengan teman sesame jenis
kelamin
Masa remaja Menjadi intim dengan teman lawan jenis atau
bergantung
Masa muda Menjadi saling bergantung antara orang tua dan
teman, mencari pasangan, menikah dan mempunyai
anak
Masa tengah baya Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah dilalui
Masa dewasa tua Berduka karena kehilangan dan mengembangkan
perasaan keterikatan dengan budaya
Sumber: Stuart dan Sundeen (1995), hlm.346 dikutip dalam fitria (2009).
2. Factor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan factor pendukung
terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk
masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (double
bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan
yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang
tinggi alam kelurga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan
di luar keluarga.
3. Factor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan suatu
faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini
disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, dimana setiap
anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis,
dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
4. Factor biologis
Factor biologis juha merupakan salah satu factor pendukung terjadinya
gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat memengaruhi
terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien
skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki
struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perubahan ukuran
dan bentuk sel-sel dalam limbic dan daerah kortikal.
B. Faktor presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor internal
maupun eksternal, meliputi:
a. Stressor Sosial Budaya
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan,
terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti perceraian, berpisah dengan
orang yang dicintai, kehilangan pasangan pada usia tua, kesepian karena
ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit atau dipenjara. Semua ini dapat
menimbulkan isolasi sosial.
b. Stressor Biokimia
1) Teori dopamine: Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan
mesolimbik serta tractus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya
skizofrenia.
2) Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah akan
meningkatkan dopamin dalam otak. Karena salah satu kegiatan MAO
adalah sebagai enzim yang menurunkan dopamin, maka menurunnya
MAO juga dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
3) Faktor endokrin: Jumlah FSH dan LH yang rendah ditemukan pada
pasien skizofrenia. Demikian pula prolaktin mengalami penurunan
karena dihambat oleh dopamin. Hypertiroidisme, adanya peningkatan
maupun penurunan hormon adrenocortical seringkali dikaitkan dengan
tingkah laku psikotik.
4) Viral hipotesis: Beberapa jenis virus dapat menyebabkan gejala-gejala
psikotik diantaranya adalah virus HIV yang dapat merubah stuktur sel-
sel otak.
c. Stressor Biologik dan Lingkungan Sosial
Beberapa peneliti membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering terjadi
akibat interaksi antara individu, lingkungan maupun biologis.

d. Stressor Psikologis
Kecemasan yang tinggi akan menyebabkan menurunnya kemampuan
individu untuk berhubungan dengan orang lain. Intesitas kecemasan yang
ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan individu untuk
mengatasi masalah akan menimbulkan berbagai masalah gangguan
berhubungan pada tipe psikotik.
Menurut teori psikoanalisa; perilaku skizofrenia disebabkan karena
ego tidak dapat menahan tekanan yang berasal dari id maupun realitas yang
berasal dari luar. Ego pada klien psikotik mempunyai kemampuan terbatas
untuk mengatasi stress. Hal ini berkaitan dengan adanya masalah serius
antara hubungan ibu dan anak pada fase simbiotik sehingga perkembangan
psikologis individu terhambat.
Menurut Purba, dkk. (2008) strategi koping digunakan pasien sebagai
usaha mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang
mengancam dirinya. Strategi koping yang sering digunakan pada masing-
masing tingkah laku adalah sebagai berikut:
a) Tingkah laku curiga: proyeksi
b) Dependency: reaksi formasi
c) Menarik diri: regrasi, depresi, dan isolasi
d) Curiga, waham, halusinasi: proyeksi, denial
e) Manipulatif: regrasi, represi, isolasi
f) Skizoprenia: displacement, projeksi, intrijeksi, kondensasi, isolasi,
represi dan regrasi.

4. Proses terjadinya masalah


Resti mencederai diri,
orange lain dan
lingkungan

Deficit perawatan diri Gangguan persepsi


sensori halusinasi

Intoleransi aktivitas Isolasi sosial

Koping individu tidak Harga diri rendah


efektif kronis
(Sumber :Fitri 2009)

5. Karakteristik isolasi sosial


Koping keluarga tidak
Gejala subjektif:
efektif
a. Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
b. Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
c. Respons verbal kurang dan sangat singkat.
d. Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
e. Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
f. Klien tidak mampu berkontaksi dan membuat keputussan.
g. Klien merasa tidak berguna.
h. Klien tidak yakin dapat melangsungka hidup.
i. Klien merasa di tolak.
Gejala objektif:
a. Klien banya diam dan tidak mau bicara.
b. Tidak mengikuti kegiatan.
c. Banyak berdiam diri di kamar.
d. Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan oarang terdekat.
e. Klien tampak sedih, ekpresi datardan dangkal.
f. Kontak mata kurang.
g. Kurang spontan.
h. Apatis (acuh terhadap lingkungan)
i. Ekpresi wajah kurang berseri.
j. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
k. Mengisolasi diri.
l. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar.
m. Masukan makanan dan minuman terganggu.
n. Retensi urin dan fses.
o. Aktivitas menurun.
p. Kurang energi (tenaga)
q. Rendah diri.
r. Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus?janin(khususnya pada
posisi tidur)

6. Rentang Respons

Menurut stuart sundeen rebtang respons klien ditinjau dari interaksinya dengan
lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang bertentang antara respons adaptif
dengan maladaptip sebagai berikut:

Respon adaptif Respon maladaptif


Menyendiri otonomi Merasa sendiri Menaruk diri
bekerjasama dependendi curiga ketergantungan
interdeperdependen manipulasi curiga

a. Respons adaptif
Respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
kebudayaan secara umum serta masih dalam batas normal dalam
menyelesaikan masalah
1) Menyendiri: respons yang dibutuhkan seseorang untuk
merenungkan apa yank telah terjadi di lingkungan sosialnya.
2) Otonomi: kemampuan individu untuk menentukan dan
menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3) Bekerjasama: kemampuan individu yang saling membutuhkan
satu sama lain.
4) Interdependen: saling ketergantungan antara individu dengan
orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
b. Respons maladaptif
Respons yang di berikan individu yang menyimpang dari norma
sosial. Yang termasuk respons maladaptif adalah:
1) Menarik diri: seseorang yang mengalami kesulitan dalam
membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
2) Ketergantungan: seseorang gagal mengembangkan rasa percaya
diri sehingga tergantung dengan orang lain.
3) Manipulasi: seseorang yang menggau orang lain sebagai objek
individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara
mendalam.
4) Curiga: seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap
orang lain.

7. Tanda Dan Gejala Menarik Diri (Budi Anna Keliat, 1998)

a) Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul


b) Menghindar dari orang lain (menyendiri)

c) Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan


klien lain/perawat

d) Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk

e) Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas

f) Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan


atau pergi jika diajak bercakap-cakap

g) Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.

8. Penatalaksanaan

1. Terapi Psikofarmaka
a. Chlorpromazine
Mengatasi sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam kemampuan
menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya ingat norma sosial dan
tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi-fungsi mental: faham,
halusinasi. Gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau tidak
terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak
mampu bekerja, berhubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
Mempunyai efek samping gangguan otonomi (hypotensi)
antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi,
hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan
irama jantung. Gangguan ekstra pyramidal (distonia akut, akathsia
sindrom parkinson). Gangguan endoktrin (amenorhe). Metabolic
(Soundiee). Hematologik, agranulosis. Biasanya untuk pemakaian
jangka panjang. Kontraindikasi terhadap penyakit hati, penyakit darah,
epilepsy, kelainan jantung (Andrey, 2010).
b. Haloperidol (HLP)
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi mental
serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari. Memiliki efek samping seperti
gangguan miksi dan parasimpatik, defeksi, hidung tersumbat mata kabur
, tekanan infra meninggi, gangguan irama jantung. Kontraindikasi
terhadap penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung
(Andrey, 2010).
c. Trihexyphenidil (THP)
Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pasca ensepalitis dan
idiopatik, sindrom Parkinson akibat obat misalnya reserpina dan
fenotiazine. Memiliki efek samping diantaranya mulut kering,
penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi, konstipasi,
takikardia, dilatasi, ginjal, retensi urine. Kontraindikasi terhadap
hypersensitive Trihexyphenidil (THP), glaukoma sudut sempit, psikosis
berat psikoneurosis (Andrey, 2010).
2. Terapi Individu
Terapi individu pada pasien dengan masalah isolasi sosial dapat
diberikan strategi pertemuan (SP) yang terdiri dari tiga SP dengan masing-
masing strategi pertemuan yang berbeda-beda. Pada SP satu, perawat
mengidentifikasi penyebab isolasi social, berdiskusi dengan pasien
mengenai keuntungan dan kerugian apabila berinteraksi dan tidak
berinteraksi dengan orang lain, mengajarkan cara berkenalan, dan
memasukkan kegiatan latihan berbiincang-bincang dengan orang lain ke
dalam kegiatan harian. Pada SP dua, perawat mengevaluasi jadwal kegiatan
harian pasien, memberi kesempatan pada pasien mempraktekkan cara
berkenalan dengan satu orang, dan membantu pasien memasukkan kegiatan
berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.
Pada SP tiga, perawat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien,
memberi kesempatan untuk berkenalan dengan dua orang atau lebih dan
menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya
(Purba, dkk. 2008)
3. Terapi kelompok
Menurut (Purba, 2009), aktivitas pasien yang mengalami ketidakmampuan
bersosialisasi secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Activity Daily Living (ADL)
Adalah tingkah laku yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan
sehari-hari yang meliputi:
1) Bangun tidur, yaitu semua tingkah laku/perbuatan pasien sewaktu
bangun tidur.
2) Buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK), yaitu semua
bentuk tingkah laku/perbuatan yang berhubungan dengan BAB dan
BAK.
3) Waktu mandi, yaitu tingkah laku sewaktu akan mandi, dalam
kegiatan mandi dan sesudah mandi.
4) Ganti pakaian, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan
keperluan berganti pakaian.
5) Makan dan minum, yaitu tingkah laku yang dilakukan pada waktu,
sedang dan setelah makan dan minum.
6) Menjaga kebersihan diri, yaitu perbuatan yang berhubungan dengan
kebutuhan kebersihan diri, baik yang berhubungan dengan
kebersihan pakaian, badan, rambut, kuku dan lain-lain.
7) Menjaga keselamatan diri, yaitu sejauhmana pasien mengerti dan
dapat menjaga keselamatan dirinya sendiri, seperti, tidak
menggunakan/menaruh benda tajam sembarangan, tidak merokok
sambil tiduran, memanjat ditempat yang berbahaya tanpa tujuan yang
positif.
8) Pergi tidur, yaitu perbuatan yang mengiringi seorang pasien untuk
pergi tidur. Pada pasien gangguan jiwa tingkah laku pergi tidur ini
perlu diperhatikan karena sering merupakan gejala primer yang
muncul padagangguan jiwa. Dalam hal ini yang dinilai bukan gejala
insomnia (gangguan tidur) tetapi bagaimana pasien mau mengawali
tidurnya.
b. Tingkah laku sosial
Adalah tingkah laku yang berhubungan dengan kebutuhan sosial
pasien dalam kehidupan bermasyarakat yang meliputi:
1) Kontak sosial terhadap teman, yaitu tingkah laku pasien untuk
melakukan hubungan sosial dengan sesama pasien, misalnya
menegur kawannya, berbicara dengan kawannya dan sebagainya.
2) Kontak sosial terhadap petugas, yaitu tingkah laku pasien untuk
melakukan hubungan sosial dengan petugas seperti tegur sapa,
menjawab pertanyaan waktu ditanya, bertanya jika ada kesulitan
dan sebagainya.
3) Kontak mata waktu berbicara, yaitu sikap pasien sewaktu berbicara
dengan orang lain seperti memperhatikan dan saling menatap
sebagai tanda adanya kesungguhan dalam berkomunikasi.
4) Bergaul, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan kemampuan
bergaul dengan orang lain secara kelompok (lebih dari dua orang).
5) Mematuhi tata tertib, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan
ketertiban yang harus dipatuhi dalam perawatan rumah sakit.
6) Sopan santun, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan tata
krama atau sopan santun terhadap kawannya dan petugas maupun
orang lain.
7) Menjaga kebersihan lingkungan, yaitu tingkah laku pasien yang
bersifat mengendalikan diri untuk tidak mengotori lingkungannya,
seperti tidak meludah sembarangan, tidak membuang puntung
rokok sembarangan dan sebagainya.

9. Asuhan Keperawatan Dengan Isolasi Sosial

A. Pengkajian
1. Identitas
Sering ditemukan pada usia dini atau muncul pertama kali pada masa pubertas
2. Keluhan utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa kerumah sakit biasanya
akibat adanya kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi
3. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi sangat erat kaitannya dengan faktor etiologi yakni
keturunan, endokrin, metabolism, susunan saraf pusat, dan kelenahan ego
4. Psikososial
a. Genogram
Orangtua penderita skizofrenia, salah satu kemungkinan anaknya 7-16%
skizofrenia, bila keduanya menderita 40-68%, saudara tiri kemungkinan
0,9-1,8%, saudara kembar 2-15%, dan saudara kandung 7-15%
b. Konsep diri
Kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi yang mengenai pasien akan
mempengaruhi konsep diri pasien
c. Hubungan social
Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun,
dan berdiam diri.
d. Spiritual
Aktivitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan
5. Status mental
a. Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan,kancing baju tidak
tepat,resleting tak terkunci, baju tak diganti,baju terbaik sebagai
manifestasi kemunduran kemauan pasien
b. Pembicaraan
Nada suara rendah, lambat,kurang bicara dan apatis
c. Aktivitas motorik
Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif,kecenderungan mempertahankan
pada satu posisi yang dibuatnya sendiri (katalepsia).
d. Emosi
Emosi dangkal
e. Afek
Dangkal, tak ada ekspresi roman muka
f. Interaksi selama wawancara
Cenderung tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan
bicara,diam
g. Persepsi
Tidak terdapat halusinasi atau waham
h. Proses berpikir
Gangguan proses berpikir jarang ditemukan
i. Kesadaran
Keasadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan serta pembatasan
dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak
sesuai dengan kenyataan (secara kualitatif)
j. Memori
Tidak ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu dan orang
k. Kemampuan penelitian
Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu
keadaan, selalu memberikan alasan meskupun alasan tidak jelas atau tidak
tepat
l. Tilik diri
Tak ada yang khas
6. Kebutuhan sehari-hari
Pada permulaan penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya, makin
mundur dalam pekerjaan akibat kemunduran kemauan. Minat untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri sangat menurun dalam hal makan. BAB/BAK, mandi,
berpakaian, dan istirahat tidur.

B. Diagnosis Keperawatan

Isolasi social b.d kurangnya rasa percaya kepada orang lain,panic, regresi
ketahap perkembangan sebelumnya, sukar berinteraksi dengan orang lain
pada masa lampau.
Dibuktikan oleh hal-hal berikut ini :
1. Menyendiri dalam ruangan
2. Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata
3. Sedih, efek datar
4. Pethatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya
5. Berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna
6. Mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain
Tujuan jangka pendek :
Pasien siap masuk dalam terapi aktivitas ditemani oleh seorang perawat yang
dipercayainya dalam 1 minggu.
Tujuan jangka panjang :
Pasien dapat secara sukarela meluangkan waktu bersama pasien lain dan
perawat dalam aktivitas kelompok di unit rawat inap
Kriteria Hasil:
1. Pasien dapat mendemonstrasikan keinginan dan hasrat untuk bersosialisasi
dengan orang lain
2. Pasien dapat mengikuti aktivitas kelompok tanpa disuruh
3. Pasien melakukan pendekatan interaksi satu-satu dengan orang lain dengan
cara yang sesuai atau dapat diterima.
Intervensi Keperawatan Rasional

1. Perlihatkan siakp menerima dengan 1. Sikap menerima dari orang lain


cara melakukan kontak yang sering akan meningkatkan harga diri
tapi singkat pasien dan memfasilitasi rasa
percaya kepada orang lain
2. Perlihatkan penguatan positif pada 2. Pasien merasa menjadi orang yang
pasien berguna
3. Temani pasien untuk 3. Kehadiran seseorang yang
memperlihatkan dukungan selama dipercaya akan memberikan rasa
aktivitas kelompok yang mungkin aman bagi pasien
merupakan hal yang menakutkan
atau sukar bagi pasien
4. Jujur dan menepati semua janji 4. Kejujuran dan rasa saling
membutuhkan menimbulkan suatu
hubungan saling percaya
5. Orientasikan pasien pada orang,
waktu, tempat sesuai kebutuhannya
6. Berhati-hatilah dengan sentuhan 6. Pasien yang curiga dapat menerima
semtuhan sebagai suatu yang
mengancam
7. Diskusikan pada pasien tanda-tanda 7. Perilaku menarik diri dan curiga
peningkatan ansietas dan tekhnik dimanifestasikan selama terjadi
untuk memutuskan respons (latihan peningkatan ansietas
relaksasi , berhenti berpikir)
8. Berikan pengakuan dan penghargaan 8. Penguatan akan meningkatkan
tanpa disuruh pasien dapat harga diri pasien dan mendorong
berinteraksi dengan orang lain pengulangan perilaku tersebut
9. Berikan obat-obat penenang sesuai 9. Obat-obat antipsikosis
program pengobatan pasien menolongkan untuk menurunkan
gejala psikosis
pada seseorang sehingga
memudahkan interaksi dengan
orang lain.

Kerusakan komunikasi verbal b.d ketidakmampuan untuk percaya ke[ada


oranglain , pani, regresi ketahap perkembangan sebelumnya, menarik diri
Dibuktikan oleh hal-hal berikut :
1. Tidak ada asosiasi antara ide satu dengan lainnya
2. Menggunakan kata-kata simbolik (neologisme)
3. Menggunakan kata yang tak berarti
4. Kontak mata kurang/tidak mau menatap lawan bicara
Tujuan jangka pendek :
Pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk berthan pada satu
topic,menggunakan ketepatan kata, melakukan kontak mata intermiten selama 5
menit dengan perawat selama 1 minggu
Tujuan jangka panjang :
Pasien dapat menunjukkan kemampuan dalam melakukan komunikasi verbal
dengan perawat dan sesame pasien dalam suatu lingkungan social dengan cara
yang sesuai atau dapat diterima.
Kriteria Hasil:
1. Pasien dapat berkomunikasi dengan cara yang dapat dimengerti dan diterima
orang lain
2. Pasien non verbal pasien yang sesuai dengan verbalnya
3. Pasien dapat mengakui bahwa disorganisasi pikiran dan kelainan komunikasi
verbal terjadi pada saat adanya peningkatan ansietas
Intervensi keperawatan Rasional
1. Gunakan tekhnik validasi dan 1. Tekhnik ini menyatakan kepada
klarifikasi untuk mengerti pola pasien bagaimana ia dimengrti
komunikasi pasien oleh orang lain, sedangkan
tanggung jawab untuk mengerti
ada pada perawat
2. Pertahankan konsistensi perawat 2. Memudahkan rasa percaya dan
yang bertugas kemampuan untuk mengerti
tindakan dan komunikasi pasien
3. Jelaskan pada pasien dengan cara 3. Tekhnik untuk meningkatkan
yang tidak mengancam bagaimana hubungan saling percaya anrata
perilaku dan pembicaraannya perawat dan pasien, serta pasien
dengan lingkungannya
diterima dan mungkin juga dihindari
oleh orang lain
4. Jika pasien tidak mampu atau tidak 4. Hal ini menyampaikan rasa empati,
ingin bicara (autism) gunakan mengembangkan rasa percaya dan
tekhnik mengatakan secara tidak mendorong pasien mendiskusikan
langsung hal-hal menyakiti dirinya
5. Antisipasi dan penuhi kebutuhan 5. Kenyamanan dan keamanan pasien
pasien sampai pola komunikasi yang merupakan prioritas keperawatan
memuaskan kembali

Defisit perawatan diri b.d menarik diri, regresi


Dibuktikan oleh hal-hal berikut ini:
1. Kesukaran mengambil makanan atau ketidakmampuan membawa makanan
dari wadah kemulut
2. Ketidakmampuan membersihkan tubuh atau bagian-bagian tubuh
3. Kurangnya minat dalam memilih pakaian, kelainan kemampuan dalam
berpakaian, dan mempertahankan penampilan yang memuaskan
4. Tidak adanya kemampuan untuk melakukan defekasi atau berkemih tanpa
bantuan S
Tujuan jangka pendek :
Pasien dapat mengatakan keinginan untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari
dalam satu minggu
Tujuan jangka panjang :
Pasien mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan
mendemonstrasikan suatu keinginan untuk melakukannya
Kriteria Hasil :
1. Pasien makan sendiri tanpa bantuan
2. Pasien memilih pakaian yang sesuai, berpakaian merawat dirinya tanpa
bantuan
3. Pasien mempertahankan kebersihan diri secara optimal dengan mandi setiap
hari dan melakukan prosedur defekasi dan berkemih tanpa bantuan
Intervensi keperawatan Rasional
1. Dukung pasien untuk melakukan 1. Keberhasilan menampikan
kegiatan hidup sehari-hari tingkat kemandirian dalam melakukan
kemampuan pasien aktivitas akan meningkatkan harga
diri
2. Dukung kemandirian pasien ,tetapi 2. Kenyamanan dan keamanan pasien
berikan bantuan saat pasien tidak merupakan prioritas dalam
dapat melakukan beberapa kegiatan keperawatan
3. Berikan pengakuan dan penghargaan 3. Penguatan positif akan
positif untuk kemampuannya mandiri meningkatkan harga diri dan
mendukung pengulangan perilaku
yang diharapkan
4. Perlihatkan secara konkret, 4. Penjelasan harus sesuai dengan
bagaimana melakukan kegiatan yang tingkat pengertian yang nyata
menurut pasien sulit melakukannya
5. Buat catatan yang rinci tentang 5. Informasi yang penting untuk
makanan dan cairan mendapatkan gambaran nutrisi
yang adekuat
6. Berikan makanan kudapan dan cairan 6. Pasien mungkin tidak mampu
diantara waktu makan mentoleransi makanan dalam
jumlah besar pada saat makan dan
membutuhkan penambahan diluar
waktu makan
7. Jika pasien tidak makan karena 7. Pasien dapat melihat orang makan
curiga dan diracuni, berikan makanan dari hidangan yang sama
kaleng dan biarkan pasien sendiri
yang membukanya, atau disajikan
dalam kekeluargaan
8. Tetapkan jadwal defekasi dan 8. Melatih pasien untuk melakukan
berkemih, bantu pasien ke kamar ADL (Activity Daily Living ) agar
mandi sesuai jadwal sampai pasien mampu melakukan secara mandiri
mampu melakukan tanpa bantuan sehingga kebutuhan utama pasien
orang lain. dukung kemadirian dapat terpenuhi
pasien,tapi berikan bantuan saat
pasien tidak mampu melakukan
beberapa kegiatan

C. Strategi Pelaksanaan Isolasi Sosial


Strategi pelaksanaan
SP I P SP 1 K
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi 1. Mendiskusikan masalah yang
sosial pasien dirasakan keluarga dalam merawat
2. Mengidentifikasi keuntungan
pasien
berinteraksi dengan orang lain 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan
3. Mengidentifikasi kerugian tidak
gejala isolasi sosial yang di alami
berinteraksi dengan orang lain
pasien beserta proses terjadinya
4. Melatih pasien berkenalan dengan
3. Menjelaskan cara-cara merawat
satu orang
pasien isolasi sosial
5. Membimbing pasien memasukkan
jadwal kegiatan harian
SP II P SP II K
1. Memvalidasi masalah dan latihan 1. Melatih keluarga mempraktekkan
sebelumnya cara merawat pasien dengan isolasi
2. Melatih pasien berkenalan dengan
sosial
dua orang atau lebih 2. Melatih keluarga melakukan cara
3. Membimbing pasien memasukkan
merawat langsung kepada pasien
dalam kegiatan harian
isolasi sosial

SP III P SP III K
1. Memvalidasi masalah dan latihan 1. Membantu keluarga membuat
sebelumnya jadwal aktivitas di rumah termasuk
2. Melatih pasien berinteraksi dalam
minum obat
kelompok 2. Menjelaskan follow up pasien
3. Membimbing pasien memasukkan
setelah pulang
dalam jadwal kegiatan harian

DAFTAR PUSTAKA
Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa (edisi revisi). Bandung: PT. Refika
Aditama
Farida Kusumawati Dan Yudi Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Jakarta: Salemba Medika
Keliat, Budi Anna, dan Akemat . Model Praktek Keperawatan Profesional
Jiwa. Jakarta: EGC; 2009. p. 98-108.
PERILAKU KEKERASAN

A. Konsep Dasar Perilaku Kekerasan

1. Pengertian

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan


tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri
maupun orang lain. Sering di sebut juga gaduh gelisah atau amuk di mana
seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik
yang tidak terkontrol (Yosep, 2007).
Perilaku kekerasan merupakan suau bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Budi Ana Keliat, 2005).
Agrresion is harsh physical or verbal action that refflects rage, hostility,
and potensial for physical or verbal destructiveness (Varcaloris, 2006; 490)
dalam (Yosep, 2013). Agresi adalah sikap atau perilaku kasar atau kata-kata
yang menggambarkan perilaku amuk, permusuhan, dan potensi untuk
merusak secara fisik atau dengan kata-kata.
Perilaku kekerasan merupaka respons terhadap stressor yang di hadapi
oleh seseorang, yang di tunjukkan dengan perilaku aktual melakukan
kekerasan baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, secara
verbal maupun non verbal, bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik
maupun psikologis (berkowitz, 2000) dalam (Yosep, 2013).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seorang individu
mengalami perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri
maupun orang lain (towsend, 1998) dalam (Yosep, 2013).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana klien mengalami
perilaku yang dapat membahayakan klien sendiri, lingkungan termasuk orang
lain dan barang-barang (maramis, 2004) dalam (Yosep, 2013).

2. Rentang Respons Marah


Perilaku kekerasan merupakan suatu rentang emosi dan ungkapan
kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Kemarahan tersebut
merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses penyampaian pesan dari
individu. Orang yang mengalami kemarahan sebenarnya ingin menyampaikan
pesan bahwa ia “tidak setuju, tersinggung, merasa tidak di anggap, merasa
tidak diturut atau diremehkan”. Rentang respons kemarahan individu dimulai
dari respons normal (asertif) sampai pada respons sangat tidak normal
(maladaptif). (Yosep, 2013).

Respons Adaptif Respons Maladaptif

Asertif frustasi Pasif Agresif Amuk/PK

Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan


Klien mampu Klien gagal Klien merasa Klien Perasaan
mengungkapka mencapai tidak dapat mengekspresik marah dan
n marah tanpa tujuan mengungkapka an secara fisik, bermusuhan
menyalahkan kepuasan/ saat n perasaannya, tapi marah yang kuat dan
orang lain dan marah dan tidak berdaya terkontrol, hilang
memberikan tidak dapat dan menyerah mendorong kontrol,
kelegaan menemukan orang lain disertai amuk,
alternatif dengan merusak
ancaman lingkungan

3. Proses terjadinya perilaku kekerasan


A. Faktor predisposisi
a. Teori biologik
1) Neorologik faktor, beragam komponen dari sistem saraf seperti
synap, neorotransmitter, dendrit, axon terminalis, mempunyai
peran memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-
pesan yang akan mempengaruhi sifat agresif. Sistem limbik
sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku
bermusuhan dan respons agresif.
2) Genetic factor, adanya faktor gen yang di turunkan melalui
orang tua, menjadi potensi perilaku agresif. Menurut riset
Kazuo murakami (2007) dalam gen manusia terdapat dormant
(potensi) agresif yang sedang tidur dan akan bangun jika
terstimulasi oleh faktor eksterna. Menurut penelitian genetik
type karyo type XYY, pada umumnya dimiliki oleh penghuni
perilaku tidak kriminal serta orang-orang yang tersangkut
hukum akibat perilaku agresif.
3) Cycardian rhytm (irama sirkardian tubuh), memegang peranan
pada individu. Menurut penelitian pada jam-jam tertentu
manusia mengalami peningkatan cortisol terutama pada jam-
jam sibuk seperti menjelang masuk kerja dan menjelang
berahirnya pekerjaan sekitar jam 9 dan jam 13. Pada jam
tetentu orang lebih mudah terstimulasi untuk bersikap agresif.
4) Biochemistry factor (faktor biokimia tubuh) seperti
neotransmitter di otak (epineprin, neropineprhin, dopamin,
asetilkolin,dan serotonin) sangat berperan dalam penyampaian
informasi melalui sistem persyarafan dalam tubuh, adanya
stimulus dari luar tubuh yang di anggap mengancam atau
membahayakan akan di hantar melalui impuls neorotransmitter
ke otak dan merspon melalui serabut efferent. Peningkatan
hormon androgen dan norephineprin serta penurunan serotonin
dan GABA pada cairan cerebrospinal vertebra dapat menjadi
faktor predisposisi terjadinya perilaku agresif.
5) Brain area disorder, gangguan pada sistem limbik dan lobus
temporal, sindrome otak organik, tumor otak, trauma otak,
penyakit ensepalitis, epilepsi di temukan sangat berpengaruh
pada perilaku agresif dan tindak kekerasan.
b. Teori psikologik
1) Teori psikoanalisa
Agresivitas dan kekerasan dapat di pengaruhi oleh
riwayat tumbuh kembang seseorang (life span hystori). Teori
ini menjelaskan bahwa adanya ketidak puasan fase oral antara
usia 0-2 tahun dimana anak tidak mendapat kasih sayang dan
pemenuhan kebutuhan air susu yang cukup cenderung
menegmbangkan sikap agresif dan permusuhan setelah dewasa
sebagai kompensasi adanya ketidakpercayaan pada
lingkungannya. Tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman
dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan dan
membuat konsep diri yang rendah. Perilaku agresif dan tindak
kekerasan merupaka pengungkapan secara terbuka terhadap
rasa ketidakberdayaannya dan rendahnya harga diri tindak
perilaku kekerasan.
2) Imitation, modeling, and information procesing theory
Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang
dalam lingkungan yang menolelir kekerasan. adanya contoh,
model dan perilaku yang di tiru dari media atau lingkungan
sekitar memungkinkan individu meniru perilaku tersebut.
Dalam suatu penelitian beberapa anak di kumpulkan untuk
menonton tayangan pemukulan pada boneka dengan reward
positiv (makin keras pukulannya akan di berikan cokelat), anak
lain menonton cara anak mengasihi dan mencium boneka
tersebut reward positif pula (makin baik belaiannya di beri
hadiah cokelat). Setelah anak-anak keluar dan diberi boneka
ternyata masing-masing anak berperilaku sesuai dengan
tontonan yang pernah di lihatnya.
3) Learning theori
Perilaku kekerasan merupaka hasil belajar individu
terhadap lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana
respons ayah ketika menerima kekecewaan dan mengamati
bagaimana respon ibu saat marah.ia juga belajar bahwa dengan
agresifitas lingkungan sekitar menjadi peduli, bertanya,
menanggapi, dan menganggap bahwa dirinya eksis dan patut
untuk di perhitungkan.
c. Teori sosiokultural
Dalam budaya tertentu seperti rebutan berkah, rebutan uang
receh, sesaji atau kotoran kerbau di keraton, serta ritual-ritual yang
cenderung mengarah pada ke musyrikan secara tidak langsung
turut menumpuk sifat agresif dan ingin menang sendiri. Kontrol
masyarakat yang rendah dan kecendrungan menerima perilaku
kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat
merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan. Hal
ini di picu juga dengan maraknya demonstrasi, film-film
kekerasan, mistik, tahayul, dan perdukunan (santet,tellub) dalam
tayangan televisi.
d. Aspek religiusitas
Dalam tinjauan religiusitas, kemarahan dan agresifitas
merupakan dorongan dan bisikan setan yang sangat menyukai
kerusakan agar manusia menyesal (devil support). Semua bentuk
kekerasan adalah bisikan setan melalui pembuluh darah ke jantung,
otak, dan organ vital manusia lain yang di turuti manusia sebagai
bentuk kompensasi bahwa kebutuhan dirinya terancam dan harus
segera di penuhi tetapi tanpa melibatkan akal (ego) dan norma
agama (super ego).

B. Faktor presipitasi

Faktor-faktor yang dapat mencetus perilaku kekerasan sering kali


berkaitan dengan ;
a. Ekspresi diri, ingin menunjukan eksistensi diri atau simbol
solidaritas seperti dalam sebuah ponsel, penonton sepak bola, geng
sekolahan, perkelahian masal dan sebagainya.
b. Ekspresi dari tidak terpenuhnya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
c. Kesulitan dalam mengkomunikasikan suatu dalam keluarga serta
tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung
melakukan kekerasan dalam meyelesaikan konflik.
d. Ketidak siapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidak
mampuan menempatkan dirinya sebagai seseorang yang sudah
dewasa.
e. Adanya riwayat perilaku antisosial meliputi penyalahgunaan obat
dan alkoholisme dan tidak mamapu mengontrol emosinya pada
saat menghadapi rasa frustasi.
f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap
perkembangan keluarga. (Yosep, 2013).

4. Pohon Masalah
Stuart dan Sundeen (1997) dalam (Yosep, 2013) mengidentifikasi pohon
masalah perilaku kekerasan sebagai berikut :

5. Tanda dan Gejala


Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala
perilaku kekerasan :
1. Fisik
a) Muka merah dan tegang
b) Mata melotot/pandangan tajam
c) Tangan menegepal
d) Rahang mengatup
e) Wajah memerah dan tegang
f) Postur tubuh kaku
g) Pandangan tajam
h) Mengatup rahang dengan kuat
i) Mengepal tangan
j) Jalan mondar mandir
2. Verbal
a) Bicara kasar
b) Suara tinggi, membentak atau berteriak
c) Mengancam secara verbal atau fisik
d) Mengumpat dengan kata-kata kotor
e) Suara keras
f) ketus
3. Perilaku
a) Melempar atau memukul benda/orang lain
b) Menyerang orang lain
c) Malukai diri sendiri/orang lain
d) Merusak lingkungan
e) Amuk/agresif
4. Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan
jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi,
menyalahkan dan menuntut
5. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme
6. Spritual
Marasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,
menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar
7. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran
8. Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual

6. Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan


A. Pengkajian Perilaku Asertif, Pasif, dan Agresif/Kekerasan
Perawat perlu memahami dan membedakan berbagai perilaku yang di
tampilkan klien. Hal ini dapat di analisa dari perbandingan berikut :

Aspek Pasif Asertif Agresif


Isi Negatif, Positif Menyombongkan diri,
pembicaraa merendahkan menawarkan diri, merendahkan orang lain,
n diri, misalnya : misalnya :
Misalnya : “ Saya mampu, “ Kamu pasti tidak bisa,
“ Biasakan
saya bisa, anda kamu selalu melanggar,
saya
boleh, anda kamu tidak pernah
melakukan
dapat” menurut, kamu tidak
hal itu ?
akan bisa”
Biasakah
anda
meakukannya
?
Tekanan Lambat, Sedang Keras ngotot
suara mengeluh
Posisi badan Menundukka Tegap dan santai Kaku, condong kedepan
n kepala
Jarak Menjaga Mempertahanka Siap dengan jarak akan
jarak dengan n jarang yang menyerang orang lain
sikap nyaman
mengabaikan
Penampilan Loyo, tidak Sikap tenang Mengancam, posisi
dapat tenang menyerang
Kontak Sedikit/sama Mempertahankan kontak
mata sekali tidak mata sesuai dengan
hubungan

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien :
Data Subjektif :
a. Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
b. Klien mengatakan merasa orang lain mengancam
c. Klien mengatakan orang lain jahat
Data objektif :
a. Klien tampak tegang saat bercerita
b. Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya
c. Mata melotot, pandangan tajam
d. Mengancam secara verbal dan fisik
e. Nada suara tinggi
f. Tangan mengepal
g. Berteriak/menjerit
h. Memukul jika marah

2. Diagnosa Keperawatan
1. Perilaku kekerasan
2. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
3. Isolasi social

3. Tujuan:
a. Tujuan umum
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara
fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika.
b. Tujuan khusus
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
3) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
4) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan
5) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
6) Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
7) Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan
8) Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.

4. Tindakan :
1) Bina hubungan saling percaya
2) Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya
3) Bantu klien mengungkapkan penyebab perilaku kekerasan
4) Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang
dialaminya
5) Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini
6) Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan
pada diri sendiri, orang lain/keluarga, dan lingkungan
7) Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara
fisik : teknik napas dalam
8) Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan
harian
B. Tindakan Keperawatan Untuk Keluarga
a. Tujuan
Keluarga dapat merawat pasien di rumah
b. Tindakan
1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2. Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab,
tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku
tersebut)
3. Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera
dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukul
benda/orang lain
4. Latih keluarga merawat pasien dengan perilaku kekerasan
a) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan
yang telah diajarkan oleh perawat
b) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila
pasien dapt melakukan kegiatan tersebut secara tepat
c) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila
pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan
5. Buat perencanaan pulang bersama keluarga

C. Tindakan Keperawatan
1) Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar
klien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan perawar :
a) Mengucapkan salam terapeutik
b) Berjabat tangan
c) Menjelaskan tujuan interaksi
d) Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu dengan
klien
2) Diskusikan bersama klien mengenai penyebab perilaku kekerasan saat ini
dan yang lalu
3) Diskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan :
a) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik.
b) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis.
c) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial.
d) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual.
e) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual.
4) Diskusikan bersama klien perilaku yang bisa pada saat marah secara
verbal terhadap orang lain, terhadap diri sendiri, terhadap lingkungan.
5) Diskusikan dengan klien akibat perilakunya.
6) Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik:
distraksi melalui pekerjaan seperti membersihkan lantai, membuat batako,
olahraga, dan sebagainya.
7) Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara
asertif.
8) Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara
spiritual : sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Yosep, Iyus. 2013. Keperawatan Jiwan (Edisi Revisi). Bandung: Refika aditama.
Townsend, Mary C. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan
Psikiatri Edisi 3. Jakarta: EGC.

RESIKO BUNUH DIRI

A. Konsep Dasar Bunuh Diri


1. Pengertian
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat
mengarah pada kematian (Gail W. Stuart, 2006). Bunuh diri adalah pikiran
untuk menghilangkan nyawa sendiri (Isaacs, Ann, 2005). Bunuh diri adalah
ide, isyarat dan usaha bunuh diri, yang sering menyertai gangguan depresif
dan sering terjadi pada remaja (Harold Kaplan, 2004). Perilaku bunuh diri
meliputu isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan
mengakibatkan kematian, luka atau mernyakiti diri sendiri (Yosep, Iyus.
2009).

2. Tanda dan Gejala


Menurut (Fitria ,2009), tanda dan gejala dari resiko bunuh diri adalah :
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputus asaan
4. Impulsive
5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan
6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
7. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
obat dosis mematikan
8. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah
dan mengasingkan diri)
9. Kesehatan mental
10. Kesehatan fisik
11. Pengangguran
12. Umur 15-19 tahun atau di atas 45 tahun
13. Status perkawinan
14. Pekerjaan
15. Konflik interpersonal
16. Latar belakang keluarga

3. Tingkatan
Menurut Tri Aan (2009), perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang
diantaranya :
a) Suicidal ideation.
Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah
metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/tindakan, bahkan klien pada
tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan.
Walaupun demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini
memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati
b) Suicidal intent.
Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang
konkrit untuk melakukan bunuh diri,
c) Suicidal threat.
Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan
dalam bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .
d) Suicidal gesture.
Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada
diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi
sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang
dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya
meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya.
Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup
dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan
untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami
konflik mental. Tahap ini sering di namakan “Crying for help” sebab
individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di
selesaikan.
e) Suicidal attempt.
Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu
ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang
mematikan. Walaupun demikian banyak individu masih mengalami
ambivalen akan kehidupannya.
f) Suicide.
Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri . hal ini telah didahului
oleh beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang yang berhasil
melakukan bunuh diri adalah orang yang pernah melakukan percobaan
bunuh diri sebelumnya. Suicide ini yakini merupakan hasil dari individu
yang tidak punya pilihan untuk mengatasi kesedihan yang mendalam.

4. Klasifikasi
Perilaku bunuh diri dibagi menjadi 3 kategori:
a) Ancaman bunuh diri: ada peringatan verbal & non verbal, ancaman ini
menunjukkan ambivalensi seseorang terhadap kematian, jika tidak mendapat
respon maka akan ditafsirkan sebagai dukungan untuk melakukan tindakan
bunuh diri.
b) Upaya bunuh diri: semua tindakan yang dilakukan individu terhadap diri
sendiri yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
c) Bunuh diri: terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan, orang
yang melakukan upaya bunuh diri walaupun tidak benarbenar ingin mati
mungkin akan mati.

B. Rentang Respon( Menurut Yosep 2009)

Respon Adatif ResponMaladaptif

Peningkatkan Berisiko destruktif Destruktif diri Pencederaan


Bunuh Diri tidak langsung Diri Diri

Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman


bunuh diri mungkin menunjukan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar
dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping dan
mekanisme adatif pada diri seseorang.
a. Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahan diri
secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertolongan diri. Sebagai
contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai
loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.
b. Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami
perilaku destruktif atau menyalakan diri sendri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja
ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpimnan padahal sudah
melakukan pekerjaan secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang kurang
tepat atau maladaptive terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk
mempertahankan diri. misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya
yang tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau
bekerja seenaknya dan tidak optimal.
d. Pencederaan diri. Seorang melakukan percobaan bunuh diri tau pencederaan diri
akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
e. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan tindakan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang.

C. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Sundeen (2004), faktor predisposisi bunuh diri antara lain :
1. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh
diri adalah rasa
bermusuhan, implisif dan depresi.
2. Lingkungan psikososial
Seseorang yang baru mengalami kehilangan, perpisahan/perceraian,
kehilangan yang dini dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor
penting yang berhubungan dengan bunuh diri.
3. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
resiko penting untuk prilaku destruktif.
4. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan depominersik
menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri.

D. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2006) faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh
diri adalah:
1. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal
melakukan hubungan yang berarti.
2. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
3. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada
diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.

E. Mekanisme Koping
1. Mood/affek: Depresi yang persisten, merasa
hopelessness, helplessness, isolation, sedih, merasa jauh dari orang lain, afek
datar, sering mendengar atau melihat bunyi yang sedih dan unhappy,
membenci diri sendiri, merasa dihina, sering menampilkan sesuatu yang tidak
adekuat di sekolah, mengharapkan untuk dihukum.
2. Perilaku/behavior: Perubahan pada penampilan
fisik, kehilangan fungsi, tak berdaya seperti tidak intrest, kurang
mendengarkan, gangguan tidur, sensitive, mengeluh sakit perut, kepala sakit,
perilaku antisocial : menolak untuk minum, menggunakan obat-obatan,
berkelahi, lari dari rumah.
3. Sekolah dan hubungan interpersonal: Menolak
untuk ke sekolah, bolos dari sekolah, sosial teman-temannya, kegiatan-
kegiatan sekolah dan hanya interest pada hal – hal yang menyenangkan,
kekurangan system pendukung sosial yang efektif.
4. Keterampilan koping: Kehilangan batas realita,
menarik dan mengisolasikan diri, tidak menggunakan support system, melihat
diri sebagai orang yang secara total tidak berdaya.

F. Faktor – faktor Risiko Bunuh Diri


a. Perilaku
1. Membeli senjata
2. Mengubah surat wasiat
3. Membuat surat wasiat
4. Perubahan sikap yang nyata
5. Membeli obat dalam jumlah yang banyak
b. Fisik
1. Nyeri kronik
2. penyakit fisik
3. penyakit terminal
c. Psikologis
1. Penganiayaan masa kanak-kanak
2. Riwayat bunuh diri dari keluarga
3. Rasa bersalah
4. Remaja homoseksual
d. Situasional
1. Remaja yang tinggal ditatanan nontradisional
2. Ketidakstabilan ekonomi
3. kehilangan kebebasan
4. pension
e. Sosial
1. Gangguan kehidupan keluarga
2. kesepian
3. Kehilangan hubungan yang penting
4. putus asa
f. Verbal
1. menyatakan keinginan untuk mati
2. mengancam bunuh diri

G. Jenis Bunuh Diri


a. Bunuh diri egoistik (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh
kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu
seolah-olah tidak berkepribadian. Kegagalanintergrasi dalam keluarga dapat
menerangkan mengapa mereka tidak menikah lebih rentang untuk melakukan
percobaan bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang menikah.
b. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk
bunuh diri karena identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa
kelompok tersebut sangat mengharapkannya.
c. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antar individu
dan masyarakat, sehingga individu tersebut meninggalkan norma-norma
kelakuan yang biasa. Individu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat
atau kelompoknya tidak memberikan kepuasan padanya karena tidak ada
pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya.

H. Metode Bunuh Diri


Richman menyatakan ada dua fungsi dari metode bunuh diri dalam (Maris
dkk., 2000). Fungsi pertama adalah sebagai sebuah cara untuk melaksanakan
intensi mati. Sedangkan pada fungsi yang kedua, Richman percaya bahwa
metode memiliki makna khusus atau simbolisasi dari individu.
Secara umum, metode bunuh diri terdiri dari 6 kategori utama yaitu:
1. obat (memakan padatan, cairan, gas, atau uap)
2. menggantung diri (mencekik dan menyesakkan nafas)
3. senjata api dan peledak
4. menenggelamkan diri
5. melompat
6. memotong (menyayat dan menusuk)

I. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Resiko Bunuh Diri

I. Pengkajian Faktor Resiko Perilaku bunuh Diri


a. Jenis kelamin : resiko meningkat pada pria
b. Usia : lebih tua, masalah semakin banyak
c. Status perkawinan: menikah dapat menurunkan resiko, hidup sendiri
merupakan masalah
d. Riwayat keluarga : meningkat apabila ada keluarga dengan percobaan
bunuh diri / penyalahgunaan zat
e. Pencetus ( peristiwa hidup yang baru terjadi) : Kehilangan orang yang
dicintai, pengangguran, mendapat malu di lingkungan social
f. Faktor kepribadian: lebih sering pada kepribadian introvert/menutup diri
1. Identitas Klien: Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, tanggal MRS (Masuk Rumah Sakit), informan, tangggal pengkajian,
No Rumah klien dan alamat klien.
2. Keluhan Utama: Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien
dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk
mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai
3. Faktor predisposisi: Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah
mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga dan tindakan kriminal.

II. Pengkajian Fokus pada klien dengan Resiko Bunuh Diri


1. Keluhan utama : …………
2. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : ……….
3. Konsep diri : …………
4. Alam perasaan :
( ) sedih ( ) putus asa
( ) ketakutan ( ) gembira berlebihan
( Klien umumnya merasakan kesedihan dan keputus asaan yang sangat
mendalam )
5. Interaksi selama wawancara
( ) bermusuhan ( ) tidak kooperatif
( ) defensive ( ) kontak mata kurang
( ) mudah tersinggung ( ) curiga
( klien biasanya menunjukkan kontak mata yang kurang )
6. Afek
( ) datar ( ) labil
( ) tumpul ( ) tidak sesuai
( klien biasanya menunjukkan afek yang datar atau tumpul )
7. Mekanisme koping maladaptive
( ) minum alcohol ( ) bekerja berlebihan
( ) reaksi lambat ( ) mencederai diri
( ) menghindar ( ) lainnya
( klien biasanya menyelesaikan masalahnya dengan cara menghindar dan
mencederai diri )
8. Masalah psikososial dan lingkungan
( ) masalah dengan dukungan keluarga
( ) masalah dengan perumahan

Pohon Masalah

Risiko perilaku kekerasan ( pada diri sendiri,


orang lain, lingkungan dan verbal)
Effect
Resiko Bunuh Diri
Core Problem

Harga Diri Rendah Kronik


Causa

B. DIAGNOSA
1. Risiko Bunuh Diri.
2. Harga diri rendah kronik
3. Risiko perilaku kekerasan pada diri sendiri, orang lain, lingkungan dan verbal.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Tgl No Diagnosa Perencanaan Intervensi


Diagnosa Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi

1 Risiko 1.klien dapat 1. Menjawab salam 1.1 Kenalkan diri pada klien
bunuh diri membina
hubungan saling 2.Kontak mata 1.2 Tanggapi perbicaraan
percaya klien dengan sabar dan tidak
3.Menerima menyangkal
perawat
1.3 Bicara tega,sjelas,jujur
4.Berjabat tangan
1.4 Bersifat hargai dan
bersahabat
1.5 Temani klien saat keinginan
menciderai diri meningkat
1.6 Jauhkan klien dari benda
benda yang
membahayakan(seperti
pisau,silet,gunting,tali kaca,dll
2.Klien dapat 1.Menceritakan 2.1 Dengarkan keluhan yang
mengekspresikan penderitaan secara klien rasakan
perasaannya terbuka dan
konstruktif dengan 2.2 Bersikap empati untuk
orang lain. meningkatkan ungkapan
keraguan,ketakutan dan
keprihatinan.
2.3 Beri dorongan pada klien
untuk mengungkapkan
mengapa dan bagaimana
harapan karena harapan adalah
hal yang penting dalam
kehidupan
2.4 Beri klien waktu dan
kesempatan untuk menceritakan
arti penderitaan kematian dan
sekarat
2.5 Beri dorongan pada klien
untuk mengekspresikan tentang
mengapa harapan tidak pasi dan
dalam hal-hal dimana harapan
mempunyai kegagalan.

3. Klien dapat 1. Mengenang dan 3.1 Bantu klien untuk


mengeskspresikan meninjau kembali memahami bahwa ia dapat
perasaannya kehidupan secara mengatasi aspek-aspek
positif keputusasaan dan memisahkan
dari aspek harapan.
2.Mempertimbang
kan nilai-nilai dan 3.2 Kaji dan kerahkan sumber-
arti kehidupan. sumber internal
individu(outonomi,mandiri,rasi
onal pemikiran
kognitif,fleksibilitas dan
3.Mengekspresikan
spiritualitas.
perasaan-perasaan
yang optimis 3.3 Bantu klien
tentang yang ada. mengidentifikasi sumber-
sumber harapan
(missal:hubungan antar
sesame,keyakinan,hak-hak
untuk diselesaikan).
3.4 Bantu klien
mengembangkan tujuan-tujuan
realitas jangka panjang dan
jangka pendek(beralih dari yang
sederhana ke yang lebih
kompleks,dapat menggunakan
suatu poster tujuan untuk
menandakan jenis dan waktu
untuk mencapai tujuan-tujuan
spesifik
4.Klien 1.Mengekspresikan 4.1 Ajarkan klien untuk
mengunakan perasaan tentang mengantisipasi pengalaman
dukungan sosial hubungan yang yang dia senang melakukan
positif dengan setiap
orang terdekat. hari(missal:berjalan,membaca
buku favorit dan menulis surat.
2.Mengekspresikan
percaya diri 4.2 Bantu klien untuk
dengan hasil yang mengenali hal-hal yang
di inginkan. dicintai,yang ia sayangi dan
pentingnya terhadap kehidupan
3.Mengekspresikan orang lain disamping tentang
percaya diri kegagalan dalam kesehatan
dengan diri dan
orang lain. 4.3 Beri dorongan pada klien
untuk berbagi keprihatian pada
4. Menetapkan orang lain yang mempunyai
tujuan-tujuan yang masalah dan atau penyakit
realistis. yang sama dan telah
mempunyai pengalaman positif
dalam mengatasi tersebut
dengan koping yang efektif.

5.Klien 1. Sumber 5.1 kaji dan kerahkan sumber-


menggunakan tersedia(kel sumber eksternal individu(orang
dukungan sosial uarga,lingk terdekat,tim pelayanan
ungan dan kesehatan,kelompok
masyarakat pendukung,agama yang
). dianutnya)
2. Keyakinan
makin 5.2 kaji system pendukung
meningkat keyakinan (nialai,pengalaman
masa lalu,aktifitas
keagamaan,kepercayaan
agama).lakukan rujukan selesai
indikasi (missal:konseling dan
pemuka agama).

D. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan


No SP I Pasien SP I Keluarga
1. Mengidentifikasi benda-benda Mendiskusikan masalah yang
yang dapat membahayakan klien dirasakan keluarga dalam merawat
2. Mengamankan benda-benda klien.
yang dapat membahayakan klien
3. Melakukan kontrak treatment
Menjelaskan pengertian, tanda gejala
4. Mengajarkan cara-cara
resiko bunuh diri, dan jenis perilaku
mengendalikan dorongan bunuh
bunuh diri yang dialami klien beserta
diri
proses terjadinya.
5. Melatih cara mengendalikan
Menjelaskan cara-cara merawat klien
dorongan bunuh diri
resiko bunuh diri.
No SP II Pasien SP II Keluarga
1. Menidentifikasi aspek positif
klien
2. Mendorong berpikir positif Melatih keluarga mempraktikkan
untuk diri sendiri cara merawat klien dengan resiko
3. Mendorong menghargai diri
bunuh diri.
sebagai individu yang berharga

Melatih keluarga mempraktikkan


cara merawat klien dengan resiko
bunuh diri
No SP III Pasien SP III Keluarga
1. Mengidentifikasi pola koping Membantu keluarga membuat jadwal
yang biasa digunakan atau aktivitas di rumah termasuk minum
diterapkan klien obat (discharge planning).
2. Menilai pola koping yang biasa
dilakukan
3. Mengidentifikasi pola koping
Menjelaskan follow up klien setelah
yang konstruktif
4. Mendorong klien memilih pola pulang
koping yang konstruktif
5. Menganjurkan klien menerapkan
pola koping konstruktif dalam
kegiatan harian.

E. Strategi Penatalaksanaan
1. Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan
pada diri sendiri, dengan cara :
a. Kaji tingkat resiko yang dialami pasien (tinggi, sedang, dan rendah)
b. Kaji level long –Term Risk yang meliputi : Lifestyle / gaya hidup,
dukungan social yang tersedia, rencana tindakan yang bisa
mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa digunakan.
2. Berikan lingkungan yang aman (safety) berdasarkan tingkat resiko,
managemen untuk klien yang memiliki resiko tinggi.
a. Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempakan
didekat ruang perawatan yang mudah dimonitor oleh perawat
b. Mengidentifikasikan dan mengamankan benda – benda yang dapat
membahayakan klien, misalnya : pisau, gunting, kabel listrik, sabuk,
hanger , dan barang membahayakan lainnya
3. Membantu meningkatkan harga diri klien
a. Tidak menghakimi dan empati
b. Mengidentifikasi aspek positif yang dimiliki
c. Mendorong berfikir positif dan berinteraksi denan oran lain
d. Berikan jadwal aktifitas harian yang terencana untk klien dengan
control impuls yang rendah
e. Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif serta perilaku bila
diindikasikan
4. Bantu klien untuk mengidentifikasikan dan mendapatkan dukungan social
a. Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien
membutuhkan dukungan social yang adekuat
b. Bersama klien menulis daftar dukungan social yang dipunyai termasuk
jejaring social yang bisa diakses
c. Dorong klien untuk melakukan aktifitas social
5. Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positif
a. Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
b. Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri
c. Bantu klien untuk mengetahui factor predisposisi
d. Eksplorasi perilaku alternative
e. Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai
DAFTAR PUSTAKA
Keliat Budi A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1.
Jakarta : EGC
Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM. 2000. Rencana
Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian
perawatan pasien. EGC : Jakarta
Sujono & Teguh. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Graha Ilmu :
Yogyakarta
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri


Kurangnya perawatan diri pada pasien gangguan jiwa terjadi akibat
adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan melakukan aktifitas
perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri tanpak dari ketidak mampuan
merawat kebersihan diri di antaranya mandi, makan dan minum secara mandiri,
berhias secara mandiri, dan toileting ( buang air besar{BAB} / buang air kecil
{BAK}).
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna mempertahankan hidupnya, kesehatannya sesuai
dengan kondisi kesehatannya. Klien dinyatakan terganggu perawatan dirinya
jika tidak dapat melakukan perawatan dirinya. (aziz R, 2003).
Defisit perawatan diri adalah suatu keadaan seseorang mengalami
kelainan dalam kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas
kehidupan sehari-hari secara mandiri. Tidak ada keinginan untuk mandi secara
teratur, tidak menyisir rambut, pakaian kotor, bau badan, bau napas, dan
penampilan tidak rapi. Defisit perawatan diri merupakan salah satu masalah
yang timbul pada pasien gangguan jiwa. Pasien gangguan jiwa kronis sering
mengalami ketidakpedulian merawat diri. Keadaan ini merupakan gejala
perilaku negative dan menyebabkan pasien dikucilkan baik dalam keluarga
maupun masyarakat.

B. Faktor Predisposisi Defisit Perawatan Diri


Menurut tarwoto dan wartonah (2000), penyebab kurang perawatan diri
adalah kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Menurut depkes (2000),
penyebab kurang perawatan diri adalah:
a. Faktor predisposisi
1) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
2) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
3) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang
kurang menyebabkan ketidak pedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri.

4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan
kemampuan dalam perawatan diri.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presipitasi deficit perawatan diri adalah
kurang penurunan motivasi, kerusakan kongnisi atau perceptual, cemas,
lelah/ lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang
mampu melakukan perawatan diri.

Menurut Depkes (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi personal


hygiene adalah:
1) Body image.Gambaran individu terhadap dirinya sangat
mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan
fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
2) Praktik sosial. Pada anak-anak selalu di manja dalam kebersihan
diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal
hygiene.
3) Status sosial Ekonomi. Personal hygiene memerlukan alat dan
bahan seprti sabun,pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi
memrlukan uang untuk menyediakannya.
4) Pengetahuan. Personal hygine sangat penting karena pengetahuan
yang baik dapat meningkatkan kesehatan biasa pada pasien
penderita diabetes militus ya harus menjaga kebersihan kakinya.
5) Budaya. Di sebagian masyarakat jika individu tertentu tidak boleh
di mandikanseseorang. Ada kebiasaan orang yang menggunakan
produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan
sabun,sampo dll.
6) Kondisi fisik atau psikis. Pada keadaan tertentu/ sakit kemampuan
untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk
melakukannya.

C. Karakteristik Defisit Perawatan Diri


Menurut Nanda-I (2012), jenis perawatan diri terdiri dari:
a. Defisit perawatan diri:Mandi;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
mandi/beraktivitas perawatan diri untuk diri sendiri. Klasifikasi ini
dapat dikatakan pula tidak ada keinginan untuk mandi secara teratur,
pakian kotor, bau badan, bau napas dan penampilan tidak rapi

b. Deficit perawatan diri:berpakaian;


Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas berpakaian dan berias untuk diri sendiri. Deficit perawatan
diri seperti ini ditandai kurangnya minat dalam memilih pakaian yang
sesuai, tidak menyisir rambut, atau mencukur kumis.
c. Defisit perawatan diri: makan;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas sendiri. Pasien mengalami kesukaran dalam mengambil,
ketidakmampuan membawa makanan dari piring ke mulut, dan
makan hanya beberapa suap makanan dari piring.
d. Defisit perawatan diri:eliminasi;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas eliminasi sendiri. Eliminasi atau toileting harus dibantu.
Keterbatasan perawatan diri diatas biasanya diakibatkan karena
stressor yang cukup berat dan sulit ditangani oleh klien (klien bisa
mengalami harga diri rendah), sehingga dirinya tidak mau
mengurusatau merawt dirinya sendiri baik dalam hal mandi,
berpakaian, berhias, makan, maupun BAB dan BAK. Bila tidak
dilakukan intervensioleh perawat, maka kemungkinan klien bisa
mengalami masalah resiko tinggi isolasi social.

D. Proses Terjadinya Defisit Perawatan Diri


Kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi
akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan
aktivitas perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri tampak dari
ketidakmampuan merawat kebersihan diri, maka secara mandiri, berhias diri
secara mandiri, dan toileting (buang air besar [BAB]) atau buang air kecil
[BAK] secara mandiri.
Defisit perawatan diri bukan merupakan bagian dari komponen pohon
masalah (cause, core problem, effect) tetapi sebagai maslah pendukung.
a. Effect
b. Core problem
c. Causa
d. Defisit perawatan diri
e. Menurunnya motivasi perawatan diri

Pohon masalah

Defisit perawatan diri


Effect

Core problem
Cause
Menurunnya motivasi dalam
perawatan diri

D. Tanda dan Gejala Defisit Perawatan Diri


Adapun tanda dan gejala deficit perawatan diri yang lain menurut Fitria
(2009) adalah sebagai berikut:
a. Mandi /hygiene
Klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan,
memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran
mandi,mendapatkan perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh, serta
masuk dan keluar kamar mandi.
b. Berpakaian/berhias
Klien memounyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil potongan
pakaian, menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau menukar pakaian.
Klien juga memiliki ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian dalam,
memilih pakaian, menggunakan alat tambahan, menggunakan kancing
tarik, melepaskan pakaian, menggunakan kaos kaki, mempertahankan
penanpilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian dan
mengenakan sepatu.
c. Makan
Klien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan,
mempersiapkan makanan,menangani perkakas, mengunyah makanan,
menggunakan alat tambahan, mendapatkan makanan,membuka container,
manipulasi makanan dalam mulut, mengambil makanan dalam wadah lalu
memasukkannya ke mulut, melengkapi makanan, mencernakan makanan
menurut cara yang diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas,
serta mencerna cukup makanan dengan aman

d. Eliminasi
Klien memiliki keterbatan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan
jamban atau kamar kecil, duduk atau bangikit dari jamban, manipulasi
pakaian untuk toileting, membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan
tepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil
Menurut Depkes (2000), tanda dan gejala klien dengan deficit perawatan
diri adalah:
a. Fisik
1) Badan bau, pakaian kotor;
2) Rambut dan kulit kotor;
3) Kuku panjang dan kotor
4) Gigi kotor disertai mulut bau;
5) Penampilan tidak rapi
b. Psikologis
1) Malas, tidak ada inisiatif;
2) Menarik diri, isolasi diri;
3) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina;
c. Sosial
1) Interaksi kurang;
2) Kegiatan kurang;
3) Tidak mampu berperilaku sesuai norma;
4) Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi
dan mandi tidak mampu mandiri.
Menurut Nanda-I (2012), batasan karakteristik klien dengan deficit
perawatan diri adalah:
a. Defisit perawatan diri: mandi;
1) Ketidakmampuan untuk mengakses kamar mandi,
2) Ketidakmampuan mengeringkan tubuh,
3) Ketidakmampuan mengambil perlengkapan mandi,
4) Ketidakmampuan menjangkau sumber air,
5) Ketidakmampuan mengatur air mandi,
6) Ketidakmampuan membasuh tubuh.
b. Deficit perawatan diri: berpakaian;
1) Ketidakmampuan mengancing pakaian,
2) Ketidakmampuan mendapat pakaian,
3) Ketidakmampuan mengenakan atribut pakaian,
4) Ketidakmampuan mengenakan sepatu,
5) Ketidakmampuan mengenakan kaus kaki,
6) Ketidakmampuan melepas atribut pakaian,
7) Ketidakmampuan melepas sepatu,
8) Ketidakmampuan mengenakan kaus kaki,
9) Hambatan memilih pakaian,
10) Hambatan mempertahankan penampilan yang memuaskan,
11) Hambatan mengambil pakaian,
12) Hambatan mengenakan pakaian pada bagian tubuh bawah,
13) Hambatan mengenakan pakaian pada bagian tubuh atas,
14) Hambatan memasang sepatu,
15) Hambatan memasang kaus kaki,
16) Hambatan melepaskan pakaian,
17) Hambatan melepas sepatu,
18) Hambatan melepas kaus kaki,
19) Hambatan menggunakan alat bantu,
20) Hambatan menggunakan resleting.
c. Deficit perawatan diri: makan;
1) Ketidakmampuan mengambil makanan dan memasukkan kemulut,
2) Ketidakmampuan mengunyak makanan,
3) Ketidakmampuan menghabiskan makanan,
4) Ketidakmampuan menempatkan makanan ke perlengkapan makan,
5) Ketidakmampuan menggunakan perlengkapan makan,
6) Ketidakmampuan memakan makanan dalam cara yang dapat di terima
secara sosial,
7) Ketidakmampuan makan makanan dengan aman,
8) Ketidakmampuan makan makanan dalam jumlah memadai,
9) Ketidakmampuan manipulasi makanan dalam mulut,
10) Ketidakmampuan membuka wadah makanan,
11) Ketidak mampuan mengambil gelas dan cangkir
12) Ketidakmampuan makanan untuk dimakan,
13) Ketidakmampuan menelan makanan,
14) Ketidakmampuan menggunakan alat bantu.
d. Defisit perawatan diri:eliminasi;
1) Ketidakmampuan melakukan hygiene eliminasi yang tepat,
2) Ketidakmampuan menyiram toilet atau kursi buang air (commode)
3) Ketidakmampuan naik ke toilet atau commode
4) Ketidakmampuan manipulasi pakaian untuk eliminasi
5) Ketidakmampuan berdiri dari toilet atau commode
6) Ketidakmampuan untuk duduk di toilet atau commode

E. Dampak yang Timbul pada Masalah Personal Hygiene


a. Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang
sering terjadi adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa
mulut, infeksi pada mata dan telinga, gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial
Masalah yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga
diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

F. Data yang Perlu Dikaji


a. Data
Data yang bisa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah:
1) Data subjektif:
a) pasien merasa lemah
b) Malas untuk beraktivitas
c) merasa tidak berdaya
2). Data Objektif
a) Rambut kotor, acak-acaka
b) Badan dan pakaian kotor dan bau
c) mulut dan gigi bau
d) kulit kusam dan kotor
e) kuku panjang dan tidak terawat
b. Mekanisme koping:
1) Regresi,
2) Penyangkalan,
3) Isolasi sosial, menarik diri,
4) Intelektualisasi.
c. Cara mengetahui pasien deficit perawatan diri
Untuk mengetahui apah pasien mengalami masalah kurang keperawatan diri
maka tanda dan gejala dapat diperoleh melalui observasi pada pasien yaitu
sebagai berikut.
1) Gangguan kebersihan diri ditandai dengan rambut rambut kotor, gigi
kotor, kulit berdaki dan bau, serta kuku dan kotor
2) Ketidakmampuan berhias/berdandan ditandai dengan ramngan rambut
acak-acakan, pakian kotor dan tidak rapi, tidak rapi, pakian tidak sesua,
pada pasien laki-laki tidak bercukur, serta pada pasien wanita tidak
berdandan.
3) Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ditandai
dengan ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran,
dan makan tidak pada tempatnya.
4) Ketidakmampuan BAB dan BAK secara mandiri ditandai dengan BAB atau BAK
tidak pada tempatnya, serta ttnya, serta tidak membersihkan diri dengan baik
setelah BAB/BAK.
Masalah Keperawatan Data yang Perlu Dikaji
Defisit perawatan diri Subjektif :
a. Klien mengatakan dirinya malas mandi karena airnya
dingin atau di RS tidak tersedia alat mandi
b. Klien mengatakan dirinya malas berdandan.
c. Klien mengatakan ingin disuapi makan.
d. Klien mengatakan jarang membersihkan laat
kelaminnya setelah BAK maupun BAB.
Objektif :
a. Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai
dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki, dan
berbau, serta kukupanjang dan kotor.
b. Ketidakmampuan berpakaian/berhias ditandai dengan
rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi,
pakaian tidak sesuai, tidak bercukur atau tidak
berdandan.
c. Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai
dengan ketidakmampuan mengambil makan sendiri,
makan berceceran dan makan tidak pada tempatnya.
d. Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai
BAB/BAK tidak ada pada tempatnya, tidak
membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK.

B. Diagnosis Keperawatan
1) Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
2) Defisit perawatan diri; kebersihan diri, makan, berdandan, dan BAK/BAB

C. Rencana Intervensi
No Dx Perencanaan Intervensi
Dx Keperawat Tujuan Kriteria evaluasi
an
1 Defisit TUM: Ekspresi wajah Bina hubungan saling percaya
perawatan Klien dapat bersahabat, dengan prinsip komunikasi
diri memelihara menunjukkan rasa terapeutik
kebersihan diri senang, klien 1. Sapa klien dengan ramah baik
secara mandiri dan bersedia berjabat verbal maupun nonverbal
Klien tidak tangan, klien 2. Perkenalkan diri dengan sopan
mengalami defisit bersedia 3. Tanyakan nama lengkap klien
perawatan diri menyebutkan nama, dan nama panggilan
TUK: ada kontak mata, 4. Jelaskan tujuan pertemuan
1. Klien dapat klien besedia duduk 5. Jujur dan menempati janji
membina berdampingan 6. Tunjukkan sikap empati dan
hubungan saling dengan perawat, menerima klien apa adanya
percaya klien bersedia 7. Beri perhatian pada pemenuhan
mengutarakan kebutuhan dasar klien
masalah yang
dihadapinya
2. Mengidentifikasi Klien dapat 1. Kaji pengetahuan klien tentang
kebersihan diri menyebutkan kebersihan diri dan tandanya
klien kebersihan dirinya 2. Beri kesempatan klien untuk
menjawab pertanyaan
3. Berikan pujian terhadap
kemampuan klien menjawab
pertanyaan
3. Menjelaskan Klien dapat 1. Menjelaskan pentingnya
pentingnya memahami kebersihan diri
kebersihan diri pentingnya 2. Meminta klien menjelaskan
kebersihan diri kembali pentingnya kebersihan
diri
3. Diskusikan dengan klien
tentang kebersihan diri
4. Beri penguat positif atas
jawabannya
4. Menjelaskan cara Klien mampu 1. Menjelaskan cara makan yang
makan yang benar melakukan makan benar
dengan baik 2. Melatih pasien makan secara
mandiri
a) Menjelaskan cara
mempersiapkan makan
b) Menjelaskan cara makan
yang tertib
c) Menjelaskan cara
merapihkan peralatan
makan setelah makan
d) Praktek makan sesuai
dengan tahapan makan
yang baik
5. Menjelaskan cara Klien dapat mengerti 1. Menjelaskan cara mandi yang
mandi yang benar cara mandi yang benar
benar 2. Beri kesempatan untuk bertanya
dan mendemonstrasikan cara
yang benar
3. Memberi pujian positif terhadap
klien
6. Menjelaskan cara Klien mampu 1. Menjelaskan cara berdandan
berdandan yang melakukan yang benar
benar berhias/berdandan 2. Melatih pasien
secara baik berdandan/berhias
Untuk pasien laki-laki latihan
meliputi:
a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Bercukur
Untuk pasien wanita,
latihannya meliputi :
a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Berhias
7. Menjelaskan cara Klien mampu 1. Menjelaskan cara toileting yang
toileting yang melakukan benar
benar BAB/BAK secara 2. Mengajarkan pasien melakukan
mandiri BAB/BAK secara mandiri
a) Menjelaskan tempat
BAB/BAK yang sesuai
b) Menjelaskan cara
membersihkan diri
setelah BAB dan BAK
c) Menjelaskan cara
membersihkan tempat
BAB dan BAK
8. Menjelaskan cara Klien mampu 1. Melatih pasien cara-cara
menjaga melakukan perawatan kebersihan diri
kebersihan diri kebersihan diri a) Menjelasan pentingnya
secara mandiri menjaga kebersihan diri.
b) Menjelaskan alat-alat
untuk menjaga
kebersihan diri
c) Menjelaskan cara-cara
melakukan kebersihan
diri
d) Melatih pasien
mempraktekkan cara
menjaga kebersihan diri
9. Klien dapat Klien selalu tampak 1. Beri reinforcement positif
mempertahankan bersih dan rapi setelah klien mampu melakukan
kebersihan diri kebersihan diri
secara mandiri
10. Mendiskusikan Keluarga dapat 1. Menjelaskan kepada keluarga
masalah yang mengerti tentang tentang pengertian tanda gejala
dirasakan klien merawat klien defisit perawatan diri, dan jenis
dalam merawat defisit perawatan diri yang
pasien pada dialami pasein beserta proses
keluarga terjadinya
2. Menjelaskan kepada keluarga
cara-cara merawat pasien defisit
perawatan diri
3. Beri kesempatan keluarga untuk
bertanya
4. Beri pujian positif terhadap
keluarga
11. Klien dapat Keluarga 1. Jelaskan kepada keluarga tentang
dukungan menyiapkan sarana manfaat sarana yang lengkap
keluarga dalam untuk membantu dalam menjaga kebersihan diri
meningkatkan klien dalam menjaga klien
kebersihan diri kebersihan diri 2. Anjurkan keluarga untuk
menyiapkan sarana dalam
menjaga kebersihan diri
3. Diskusikan bersama keluarga
cara membantu klien menjaga
kebersihan diri
Keluarga membantu 1. Diskusikan dengan keluarga
dan membimbing mengenai hal-hal yang
klien dalam menjaga dilakukan, misalnya:
kebersihan diri a. Mengingatkan klien pada
waktu mandi
b. Sikat gigi, keramas, ganti
baju, dan lain-lain
2. Membantu klien apabila
mengalami hambatan, memberi
pujian atau keberhasilan klien.

D. Strategi Pelaksanaan Tindakan


Defisit Pasien Keluarga
Perawatan
Diri SP I pasien SP I keluarga
1. Membina hubungan saling percaya 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan
2. Mengidentifikasi kebersihan diri klien keluarga dalam merawat pasien
3. Menjelaskan pentingnya kebersihan diri 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
4. Menjelaskan cara menjaga kebersihan defisit perawatan diri, dan jenis defisit
diri perawatan perawatan diri yang dialami
5. Membantu pasien mempraktekan cara pasien
menjaga kebersihan diri 3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien
6. Menganjurkan pasien memasukkan defisit perawatan diri
dalam jadwal kegiatan harian
SP II keluarga
SP II pasien 1. Melatih keluarga mempraktekkan cara
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian merawat pasien dengan defisit perawatan
pasien diri
2. Menjelaskan cara makan yang baik 2. Melatih keluarga melakukan cara
3. Membantu pasien mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien defisit
makan yang baik perawatan diri
4. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
SP III keluarga
SP III pasien 1. Membantu keluarga membuat
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian jadwal aktifitas di rumah termasuk
pasien minum obat [discharge planning]
2. Menjelaskan cara eliminasi yang baik 2. Menjelaskan follow up pasien
3. Membantu pasien mempraktekkan cara setelah pulang
eliminasi yang baik dan memasukkan
dalam jadwal
4. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian

SP IV pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian pasien
2. Menjelaskan cara berdandan
3. Membantu pasien mempraktekkan
cara berdandan
4. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian

DAFTAR PUSTAKA
Yusuf, Ah, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta :
Salemba Medika.
Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa.
Jakarta : Refika Aditama.
Keliat, Budi A, dkk. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas.
Jakarta : EGC.
Fitria, Nita. 2014. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan
Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP
dan SP): Untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi
Program S-1 Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA HARGA DIRI RENDAH (HDR)

A. Definisi
Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan
tidak dapat bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri.
Harga diri rendah adalah perasan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negativ terhadap diri sendiri atau
kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena
tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (keliat, 2009)
Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi secara :
a. Situational, yaitu terjadi tertama yang tiba-tiba, misalnya harus operasi,
kecelakaan, dicerai suami atau istri, putus sekolah, putus hubungan kerja,
perasaan malu karena sesuatu ( korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara
tiba-tiba ).
b. Kronik, yaitu perassan negativ terhadap diri berlangsung lama, yaitu
sebelum sakit atau dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negativ.
Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negativ terhadap
dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon mal yang adaptif. Kondisi ini
dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronik atau pada klien
gangguan jiwa.

B. Etiologi
Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri
seseorang. Dalam tinjuan life span history klien, penyebab terjadinya harga
diri rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas
keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang
dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal
sering gagal disekolah, pekerjaan atau pergaulan. Harga diri rendah muncul
saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari
kemampuannya ( yosep,2009 ).
Menurut stuart (2006), faktor-faktor yang mengakibatkan harga diri
rendah kronik meliputi faktor predisposisi dan faktor presipitasi sebagai
berikut :
a. Faktor predisposisi
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang,
kurang mempunyai tanggung jawab yang tidak realistis, kegagalan
yang berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak realitis.
2. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah sterotipe peran
gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya
3. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi ketidak
percayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan
struktur sosial.
b. Faktor presipitasi
Menurut yosep (2009), faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah
biasanya adalah kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk
tubuh, kegagalan atau produktivitas yang menurun. Secara umum,
gangguan konsep harga diri rendah dapat terjadi secara situasional atau
kronik.secara situasional karena trauma yang muncul secara tiba-tiba,
misalnya harus dioperasi, kecelakaan,perkosaan,atau penjara, termasuk
dirawat di rumah sakit bisa menyebabkan harga diri rendah disebabkan
karena penyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang membuat klien
tidak nyaman. Harga diri rendah kronik, biasanya dirasakan klien sebelum
sakit atau sebelum dirawat klien sudah memiliki pikiran negatif dan
meningkat saat dirawat.

C. Tanda dan gejala


Menurut keliat 2009), tanda dan gejala harga diri rendah kronik adalah
sebagai berikut:
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Pandangan hidup yang pesimis
d. Penurunan produktivitas
e. Penolakan terhadap kemampuan diri

Selain data diatas, dapat juga mengamati penampilan seseorang dengan harga
diri rendah, terlihat dari kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian
tidak rapi, selera makan kurang,tidak berani menatap lawan bicara, lebih
banyak menunduk, bicara lambat dengan suara nada lemah

D. Rentang respon

Respon adaptif Respon maldaptif


Aktualisasi diri Konsep diri Harga diri Kerancuan
Depersonalisasi Positif rendah identitas

Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif
dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.
Konsep diri positif merupakan bagaimana seseorang memandang apa
yang ada pada dirinya meliputi cita dirinya, ideal dirinya, harga dirinya,
penampilan peran serta identitas dirinya secara positif. Hal ini akan
menunjukkan bahwa individu itu akan menjadi individu yang sukses.
Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap dirinya
sendiri, termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna,
pesimis, tidak ada harapan dan putus asa. Adapun perilaku yang berhubungan
dengan harga diri yang rendah yaitu mengkritik diri sendiri dan atau orang
lain, penurunan produktifitas, destruktif yang diarahkan kepada orang lain,
gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, perassan
negatif mengenai tubuhnya sendiri, keluhan fisik, menarik diri secara sosial,
khawatir, serta meanarik diri dari realitas.
Kerancuan identitas merupakan suatu kegagalan individu untuk
mengintegrasikan berbagai identifikasi masa kanak-kanak kedalam
kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Adapun perilaku yang
berhubungan dengan kerancuan identitas yaitu tidak ada kode moral, sifat
kepribadian yang bertentangan, hubungan interpersonal eksploitasi, perassan
hampa. Perasaan mengambang tentang diri sendiri, tingkat ansietas yang
tinggi, ketidak mampuan untuk empati terhadap orang lain.
Depersonalisasi merupakan suatu perasaan yang tidak realistis dimana
klien tidak dapat membedakan stimulus dari alam atau luar dirinya. Individu
mengalami kesulitan untuk membedakan dirinya sendiri dari orang lain, dan
tubuhnya sendiri merasa tidak nyata dan asing baginya.
Faktor yang mempegaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang
mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan
ideal diri yag tidak realistis. Sedangkan stresor pencetus mungkin ditimbulkan
dari sumber internal dan eksternal seperti :
1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menaksika
kejadian yang megancam.
2. Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi
peran :
a. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang
berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap
perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-
norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk peyesuaian diri.
b. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya
anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c. Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat
ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan
bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi
tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.

Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara:
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misal harus operasi,
kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubugan kerja dll. Pada
pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang
kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan
alat yang tidak sopani (pemasangan kateter, pemeriksaan pemeriksaan
perianal dll.), harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak
tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak
menghargai.
2. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama

E. POHON MASALAH

Isolasi sosial

Harga diri rendah kronik


Koping individu tidak efektif
F. Batasan Karasteristik Harga Diri Rendah Kronik
Batasan karasteristik menurut Nanda-I (2012), yaitu:
a. Bergantung pada pendapat orang lain
b. Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi peristiwa
c. Melebih-lebihkan umpan balik negatif tentang diri sendiri
d. Secara berlebihan mencari penguatan
e. Sering kali kurang berhasil dalam peristiwa hidup
f. Enggan mencoba situasi baru
g. Enggan mencoba hal baru
h. Perilaku bimbang
i. Kontak mata kurang
j. Perilaku tidak asertif
k. Sering kali mencari penegasan
l. Pasif
m. Menolak umpan balik positif tentang diri sendiri
n. Ekspresi rasa bersalah
o. Ekspresi rasa malu
G. Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah
1. Pengkajian
Bagian ini berisi pedoman agar perawat da[at menangani pasien yang mengalami
diagnosis keperawatan harga diri rendah, baik menggunakan pendekatan secara
individu ataupun kelompok. Tahap pertama pengkajian meliputi faktor
predisposisi seperti: psikologis, tanda dan tingkah laku klien dan mekanisme
koping klien.
Masalah keperawatan:
a. Resiko isolasi sosial: menarik diri.
b. Gangguan konsep diri: harga diri rendah.
c. Berduka disfungsional.
2. Data yang perlu dikaji:
a. Data subyektif: Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu
apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
b. Data obyektif:Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup

3. Diagnosa keperawatan
a. Harga diri rendah
b. Koping individu tidak efektif
c. Isolasi sosial

4. Tindakan keperawatan
A. Tindakan Keperawatan pada pasien
1) Tujuan keperawatan
a. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b. Pasien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
c. Pasien dapat memilih kegiatan sesuai dengan kemampuan
d. Pasien dapat melatih kegiatan yang dipilih sesuai kemampuan
e. Pasien dapat melakukan kegiatan yang sudah dilatih sesuai jadwal
2) Tindakan keperawatan
a. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien.
a) Diskusikan tentang sejumlah kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki pasien seperti kegiatan pasien di rumah sakit, dan dirumah,
adanyan keluarga dan lingkungan terdekat pasien.
b) Beri pujian yang realistik dan hindarkan penilaian yang negatif.
b. Bantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan dengan cara
berikut:
a) Diskusikan dengan pasien mengenai kemampuan yang masih dapat
digunakan saat ini.
b) Bantu pasien menyebutkannya dan beri penguatan terhadap
kemampuan diri.
c) Perlihatkan respons yang kondusif dan upayaka menjadi pendengar
yang aktif
c. Membantu pasien untuk memilih / menetapkan kemampuan yang akan
dilatih.
a) Diskusikan dengan pasien kegiatan yang akan dipilih
b) Bantu pasien untuk memilih kegiatan yang dapat dilakukan mandiri
d. Latih kemampuan yang dipilih pasien
a) Diskusikan dengan pasien langkah-langkah pelaksanaan kegiatan
b) Bersama pasien, peragakan kegiatan yang ditetapkan
c) Beri dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan
pasien.
e. Bantu pasien menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih
a) Beri kesempatan kepada pasien untuk mencoba kegiatan yang telah
dilatihkan
b) Beri pujian atas segala kegiatan yang dapat dilakukan pasien setia hari
c) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan
setiap kegiatan
d) Berikan pasien kesempatan mengungkapkan perasaanya setelah
pelaksanaan kegiatan.
SP Pasien
SP 1 :
a. Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien
b. Membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan
c. Membantu pasien memilih kemampuan yang akan dilatih
d. Melatih kemampuan yang sudah dipilih
e. Menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah di latih dalam rencana
harian
SP 2 :
a. Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan
pasien
b. Latihan dapat dilanjutkan untuk kemampuan lain sampai semua
kemampuan dilatih.
c. Setiap kemampuan yang dimiliki akan meningkatkan harga diri pasien.
B. Tindakan keperawatan pada keluarga
1) Tujuan keperawatan
a. Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
pasien
b. Keluarga dapat memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih dimiliki
pasien
c. Keluarga dapat memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang sudah
dilatih dan membri pujian
d. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien.
2) Tindakan keperawatan
a. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
b. Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang dialami pasien
c. Diskusi dengan keluarga mengenai kemampuan yang dimiliki pasien dan puji
pasien
d. Jelaskan cara merawat pasien harga diri rendah

SP Keluarga
SP 1 :
Mendiskusikan msalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
dirumah, menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala HDR, cara
merawat pasien HDR, mendemonstrasikan cara merawat & memberi
kesempatan untuk mempraktekkan cara merawat.
SP 2 :
Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung dihadapan pasien
SP 3:
Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.

5. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan


Tgl No Dx Perencanaan
Dx keperawatan Tujuan Kreteria Evaluasi Intervensi
Gangguan TUM: 1. Klien menunjukan 1. Membina
konsep diri: Klien ekspresi wajah hubungan saling
harga diri memiliki bersahabat, percaya dengan
rendah konsep diri menunjukan rasa menggunakan
yang positif senang, ada kontak prinsip
TUK: mata, mau berjabat komunikasi
1. Klien tangan, mau terapeutik :
dapat menyebutkan nama, - Sapa klien
membina mau menjawab dengan ramah baik
hubungan salam, klien mau verbal maupun
saling duduk berdampingan non verbal.
percaya dengan perawat, mau - Perkenalkan
dengan mengutarakan diri dengan sopan.
perawat masalah yang - Tanyakan nama
dihadapi lengkap dan nama
panggilan yang
disukai klien.
- Jelaskan tujuan
pertemuan
- Jujur dan
menepati janji
- Tunjukan sikap
empati dan
menerima klien
apa adanya.
- Beri perhatian
dan perhatikan
kebutuhan dasar
klien.
2. Klien 2. Klien menyebutkan: 2.1 Diskusikan
dapat - Aspek positif dan dengan klien
mengdentifi kemampuan yang tentang:
kasi aspek dimiliki klien - Aspek positif
positif dan - Aspek positif yang dimiliki
kemampuan keluarga klien, keluarga,
yang - Aspek positif lingkungan.
dimiliki lingkungan klien - Kemampuan
yang dimiliki
klien.
2.2 Bersama klien
buat daftar
tentang:
- Aspek positif
klien, keluarga,
lingkungan
- Kemampuan
yang dimiliki klien
2.3 Beri pujian yang
realistis, hindarkan
memberi penilaian
negatif.
3. Klien 3.0 Klien mampu 2.4 Diskusikan
dapat menyebutkan dengan klien
menilai kemampuan yang kemampuan yang
kemampuan dapat dilaksanakan. dapat dilaksanakan
yang 2.5 Diskusikan
dimiliki kemampuan yang
untuk dapat dilanjutkan
dilaksanakan pelaksanaanya.
4. Klien 4.0 Klien mampu 4.1 Rencanakan
dapat membuat rencana bersama klien
merencanak kegiatan harian aktivitas yang
an kegiatan dapat dilakukan
sesuai klien sesuai
dengan dengan
kemampuan kemampuan klien:
yang - Kegiatan
dimiliki mandiri
- Kegiatan
dengan bantuan
4.2 Tingkatkan
kegiatan sesuai
kondisi klien.
4.3 Beri contoh cara
pelaksanaan
kegiatan yang
dapat klien
lakukan.
5. Klien 5.0 Klien dapat 5.1 Anjurkan klien
dapat melakukan kegiatan untuk
melakukan sesuai jadwal yang melaksanakan
kegiatan dibuat. kegiatan yang
sesuai telah
rencana direncanakan.
yang dibuat. 5.2 Pantau kegiatan
yang dilaksanakan
klien.
5.3 Beri pujian atas
usaha yang
dilakukan klien.
5.4 Diskusikan
kemungkinan
pelaksanaan
kegiatan setelah
pulang.

6. Klien 6.0 Klien mampu 6.1 Beri pendidikan


dapat memanfaatkan kesehatan kepada
memanfaatk sistem pendukung keluarga tentang
an sistem yang ada dikeluarga cara merawar klien
pendukung dengan harga diri
yang ada rendah.
6.2 Bantu keluarga
memberikan
dukungan selama
klien dirawat.
6.3 Bantu klien
menyiapkan
lingkungan
dirumah.
ASUHAN KEPERAWATN JIWA GANGGUAN PERSEPSI SENSORI:
HALUSINASI

A. DEFINISI
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan
rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien
memberi persepsi dan pendapat tentang lingkungan tanpa objek atau rangsangan
yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidrak ada
orang yang berbicara.
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami
perubahan sensori persepsi: merasakan sensori palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan, perabaan, atau penghiduan.
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang
nyata, artinya klien menginterpretasikan ssuatu yang nyata tanpa stimulus atau
rangsangan dari luar. (Herman, Ade Surya 2011)

B. RENTANG RESPON NEUROBIOLOGIS

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Pikiran logis Distorsi pikiran (pikiran Gangguan piker / delusi
kotor
Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dengan Reaksi emosi berlebihan Prilaku disorganisasi
pengalaman atau kurang
Perilaku sesuai Perilaku aneh dan tidak Isolasi sosial
biasa
Hubungan social Menarik diri

a. Respon Adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma sosial bdaya
yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika
menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut, respon
adaptif:
1. Fikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
2. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
3. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari
pengalaman ahli.
4. Perilaku sosial adalah sikap dan tnkah laku yang masih dalam batas
kewajaran.
5. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi denga orang lain dan
lingkungan.
b. Respon Psikososial
Respon psikososial mliputi:
1) Proses pikir tergangu adalah proses fikir yang menimbulkan gangguan
2) Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentang penerapan
yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indera
3) Emosi berlebihan atau berkurang
4) Perilaku yang biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas
kewajaran
5) Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang
lain
c. Respons Maladaptif
Respon maladaptif adalah respon indifidu dalam menyelesaikan masalah yang
menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon
maladaptif meliputi:
1. Kelainan fikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan
meskipun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan
kenyataan sosial
2. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal
yang tidak realita atau tidak benar
3. Kerusakan proses emosi adalah perubahan suatu yang timbul dari hati
4. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur
5. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan
diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan
yang negatif mengancam

C. TANDA-TANDA HALUSINASI
Menurut Hamid (2000), tanda-tanda perilaku klien dengan halusinasi :
1. Bicara sendiri
2. Senyum sendiri
3. Ketawa sendiri
4. Menggerakkan bibir tanpa suara
5. Pergerakan mata yang cepat
6. Respon verbal yang lambat
7. Menarik diri dari orang lain
8. Berusaha menghindari orang lain
9. Tidak dapat membedakan mana yang nyata mana yang tidak nyata
10. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah
11. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik
12. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori
13. Sulit berhubungan dengan orang lain
14. Ekspresi muka tegang
15. Mudah tersinggung, jengkel dan marah
16. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawata
17. Tampak tremor dan berkeringat
18. Perilaku panik
19. Agitasi dan kataton
20. Curiga dan bermusuhan
21. Betindak merusak diri, orang lain, dan lingkungan
22. Ketakutan
23. Tidak dapat mengurus diri
24. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempst, dan orang

D. BATASAN KARAKTERISTIK GANGGUAN PERSEPSI SENSORI :


HALUSINASI
Batasan karakteristik klien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi menurut
Nanda-I (2012) yaitu :
a. Perubahan dalam pola perilaku
b. Perubahan dalam kemampuan menyelesaikan masalah
c. Perubahan dalam ketajaman sensori
d. Perubahan respon yang biasa terhadap stimulus
e. Disorientasi
f. Halusinasi
g. Hambatan komunikasi
h. Iritabilitas
i. Konsentrasi buruk
j. Gelisah
k. Distorsi sensori

E. KLASIFIKASI HALUSINASI
Menurut yosep (2007) halusinasi terdiri dari delapan jenis. Penjelasan secara
detail mengenai karakteristik dari setiap jenis halusinasi adalah sebagai berikut:
a. Halusinasi pendengaran (Auditif, Akustik)
Halusinasi sering dijumpai dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising
yang tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering mendengar sebagai sebuah kata
atau kalimat yang bermakna. Biasanya suara tersebut ditujukan pada penderita
sehingga tidak jarang penderta bertengkar dan berdebat dengan suara-suara
tersebut.
b. Halusinasi penglihatan (visual, optik)
Lebih sering terjadi pada keadaan delirium (penyakit organik). Biasanya
sering muncul bersamaan dengan penurunan kesadaran, menimbulkan rasa
takut akibat gambaran-gambaran yang mengerikan
c. Halusinasi penciuman (olfaktorik)
Halusinasi ini biasanya berupa mencium suatu bau terentu dan dirasakan tidak
enak, melambangkan rasa tdak bersalah pada penderita, bau dilambangkan
sebagai pengalaman yang dianggap penderita sebgai suatu kombinasi moral.
d. Halusinasi pengecapan (gustatorik)
Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman.
Penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi gastorik lebih jarang pada
halusinasi gustatorik.
e. Halusinasi perabaan (taktil)
Merasa diraba, disentuh, ditiup atau seperti ada ulat yang bergerak dibawah
kulit. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia.
f. Halusinasi seksual, ini merupakan halusinasi raba
Penderita merasa diraba dan diperkosa sering pada skiziprenia dengan waham
kebesaran terutama mengenai organ-organ
g. Halusinasi kinistetik
Penderita merasa badannya bergerak-gerak dalam suatu ruang atau anggota
badannya bergerak-gerak. Misalnya: phantom phenomenom atau yungkai
yang diamputasi selalu bergerak-gerak (phantom limb). Sering pada
skizofrenia dalam keadaan toksik tertentu akibat pemakaian obat tertentu.
h. Halusinasi viseral
Timbul perasaaan tertentu didalam tubuhnya
1. Dipersonalisasi adalah erasaan aneh pada dirinya bahwa pribadinya sudah tidak
seperti biasanya lagi serta tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Sering pada
skizofrenia dan sindrom lobus perietalis. Misalnya sering merasa dirinya
terpecah dua.

Jenis Halusinasi Data Objectif Data Subjectif


Halusinasi pendengaran a. Bicara atau ketawa a. Mendengar suara atau
sendiri kegaduhan
b. Marah-marah tanpa b. Mendengar suara yang
sebab mengajak bercakap-
c. Mengarahkan telinga cakap
kearah tertentu c. Mendengar suara yang
d. Menutup telinga menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya
Halusinasi penglihatan a. Menunjuk-nunjuk kearah a. Melihat bayangan,
tertentu sinarbentuk geometris,
b. Ketakutan pada sesuatu bentuk karton, melihat
yang tidj jelas hantu atau menster
Halusinasi penghidu a. Menghidu seperti sedang a. Membau bau-bauan
membau bau-bauan seperti bau darah, urine,
terentu fasese kadang-kadang
b. Menutup hidung bau itu menyenangkan
Halusinasi pengecap a. Sering meludah a. Merasakan rasa seperti
b. Muntah darah, urine atau fases
Halusinasi perabaan a. Menggaruk-garuk a. Menyatakan ada
permukaan kulit serangan dipermukaan
kulit merasa tersengat
listrik

F. ETIOLOGI HALUSINASI

Faktor penyebab halusinasi :


1. Predisposisi:
a. Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya control dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil,
mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentang terhadap stress.
b. Fakrtor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi (unwanted
child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada
lingkungannya.
c. Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh tehdapa terjadinya gangguana jiwa. Adanya stress
yang berlebihan dialami sesorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan
suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti buffofenon
dan demetytranferase (DMP). Akibat stress berkepanjangan menyebabkan
teraktivasinya neurotransmitter otak. Misalnya terjadi ketidakseimbangan
acetycholin dan dopamine.
d. Faktor Psikologis
Tipe kepribadian lemas dan tidan bertanggung jawab mudan terjerumus
pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada
ketidakmampuan klien dalam memngambil keputusan yang tepat demi
masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam
nyata menuju alam hayalan.
e. Faktor genetic dan pola asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang tua
skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan
bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh
pada penyakit ini.
2. Faktor Presipitasi
a. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapt berupa curiga, ketakutan, perasaan
tidak aman, gelisah, an bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian,
tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan
nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba
memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan
seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar unsure-unsur
bio-psiko-sosial- spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima
dimensi yaitu:
1. Dimensi Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti
kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga
delirium, intoksikasol alcohol dan kesulitan untuk tidur dalam
waktu yang lama.
2. Dimensi Emosional
Parasanaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak
dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari
halusinasi dapat berupa perintah memaksa atau menakutkan. Klien
tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut sehingga dengan
kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakukan tersebut.
3. Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu
dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi
ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri
untuk melawan implus yang menekan, namun merupakan suatu hal
yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh
perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku
klien.
4. Dimensi Sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fasse awal dan
comforting, klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam
nyata sangat membahayakan. Klien asik dengan halusinasinya,
seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan
interaksi sosial, control diri dan harga diri yang tidak di dapatkan
dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan control oleh individu
tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya
atau orang lain individu cenderung untuk itu.
5. Dimensi Spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup,
rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktivitas beribadah dan jarang
berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri. Irama
sirkardiannya terganggu, karena ia sering tidur larut malam dan
bangun sangat siang. Saat terbangun merasa hampa dan tidak jelas
tujuan hidupnya. Ia sering memaki takdir tetapi lemah dalam
upaya memjemput rejeki, menyalahkan lingkungan dan orang lain
yang menyebabkannya takdirnya memburuk.

G. PROSES TERJADINYA HALUSINASI


Proses Terjadinya Halusinasi
Halusinasi berkembang menjadi empat fase, yaitu sebagai berikut :
1. Fase pertama, disebut juga dengan fase comforting yaitu fase menyenangkan.
Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
Karakteristik : klien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan, rasa
bersalah, kesepian yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai
melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini menolong
sementara.
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan
bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika
sedang asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.
2. Fase kedua, disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu
halusinasi menjadi mejiikkan. Termasuk dalam psikotik ringan.
Karakteristiknya : pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan,
kecemasan meningkat, melamun, dan berpikir sendiri menjadi dominan.
Mulai dirasakan ada bisiska tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain tahu, dan
ia tetap dapat mengontrolnya.
Perilaku klien : meningkatnya tanda-tanda system saraf otonom seperti
peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan
halusinasinya dan tidak bias membedakan realitas.
3. Fase ketiga, adalah fase controlling atau fase ansietas berat yaitu pengalaman
sensori menjadi berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik.
Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai
dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap
halusinasinya.
Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya
beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor,
dan tidak mematuhi perintah.
4. Fase keempat, adalaah fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan
halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat.
Karakteristik : halusinasinya berubah menjadi mengancam, memerintah,
atau memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol, dan
tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan.
Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku
kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespons
terhadap perintah kompleks, dan tidak mampu berespons lebih dari satu
orang.

G. ASUHAN KEPERAWATAN JIWA HALUSINASI


1. Masalah keperawatan
Akibat : Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Masalah utama : Perubahan sensori perseptual : halusinasi

Penyebab : Isolasi sosial : menarik diri

2. Data yang perlu dikaji


a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
1. Data Subyektif :
Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.Klien suka
membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang
kesal atau marah.Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa
lainnya
2. Data Objektif :
Mata merah, wajah agak merah.Nada suara tinggi dan keras, bicara
menguasai: berteriak, menjerit, memukul diri sendiri/orang
lain.Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
Merusak dan melempar barang-barang.
b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi
1. Data Subjektif
a. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan
dengan stimulus nyata
b. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang
nyata
c. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
d. Klien merasa makan sesuatu
e. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
f. Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
g. Klien ingin memukul/melempar barang-barang
2. Data Objektif
a. Klien berbicara dan tertawa sendiri
b. Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
c. Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu
d. Disorientasi
c. Isolasi sosial : menarik diri
1. Data Subyektif
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab
dengan singkat ”tidak”, ”ya”.
2. Data Obyektif
Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menyendiri/menghindari orang
lain, berdiam diri di kamar, komunikasi kurang atau tidak ada (banyak
diam), kontak mata kurang, menolak berhubungan dengan orang lain,
perawatan diri kurang, posisi tidur seperti janin (menekur).

3. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko perilaku mencederai diri berhubungan dengan halusinasi
pendengaran
2. Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran berhubungan dengan
menarik diri
3. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

4. Tindakan Keperawatan
a. Tindakan keperawatan pada pasien
1. Tujuan keperawatan
a) Pasien dapat mengenali halusinasi yang dialaminya
b) Pasien dapat mengontrol halusinasi
c) Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal
2. Tindakan keperawatan
a) Bantu pasien menganli halusinasi
b) Melatih pasien mengontrol halusinasi
1) Menghardik halusinasi
2) Bercaka-cakap dengan orang lain
3) Melakukan aktivitas yang terjadwal
4) Minum obat secara teratur

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


KLIEN DENGAN PERUBAHAN SENSORI PERSEPSI :
HALUSINASI
No. Diagnosa Perencanan
T
Diagn Keperawa Intervensi Rasional
gl Kriteria
osa tan Pasien Tujuan
Evaluasi
1. Ganggua 1. Klien 1.1 eksperisi 1.1.1 Bina Hubungan
n Persepsi dapat wajah hubungan saling saling
Sensori: membina bersahabat, percaya dengan percaya
Halusinas hubungan menunjukan mengungkapkan merupakan
i saling rasa senang, prinsip dasar untuk
percaya. ada kontak komunikasi kelancaran
mata, mau terapiutik: hubungan
berjabat a. Sapa klien interaksi
tangan, mau dengan ramah selanjutnya.
memberitahuk baik verbal
an nama, mau maupun
menjawab nonverbal.
salam, klien b. Perkenalkan
mau duduk diri dengan sopan
berdampingan c. Tanyakan nama
dengan lengkap klien dan
perawat, mau nama panggilan
mengutarakan disukai klien
masalah yang d. jelaskan tujuan
dihadapi. pertemuan
e. Jujur dan
menempati janji
f. Tunjukkan
sikap empati dan
menerima klien
apa adanya
g. Beri perhatian
pada klien dan
perhatikan
kebutuhan dasar
klien

2.Klien 2.1 Klien 2.1.1 Adanya Kontak


dapat dapat kontak sering dan sering tapi
mengenali menyebutkan singkat secara singkat
halusinasin waktu, isi, bertahap. selain
ya frekuensi membina
timbulnya hubungan
halusinasi. saling
percaya juga
dapat
memutuskan
halusinasi.

2.2 Klien 2.1.2 Obepservasi Mengenal


dapat timhkah laku perilaku
mengungkapka klien terkait pada saat
n perasaan dengan halusinasi
terhadap halusinasinya; timbul
halusinasi. bicara dan tertawa memudahka
tanpa stimulasi, n perawat
memandang untuk
kekiri atau ke melakukan
kanan atau ke intervesi.
depan seolah-olah
ada teman bicara.

2.1.3 Bantu klien Mengenal


untuk mengenali halusinasi
hakusinasinya. memungkin
a. Jika kan klien
menemukan yang untuk
sedang halusinasi, menghindar
tanyakan apa ada kan factor
suara yang pencetus
didengar. timbulnya
b. Jika klien halusinasi.
menjawab ada,
lanjutkan: apa
yang dikatakan.
c. Katakan bahwa
perawat percaya
klien mendengar
suara itu, namun
perawat sendiri
tidak
mendengarnya
(dengan bernada
sahabat tanpa
menuduh atau
menghakimi).
d. Katakan bahwa
klien ada juga
yang seperti klien.
2.1.4 Diskusikan Dengan
dengan klien mengetahui
a. Situasi yang waktu, isi,
menimbulkan dan
atau tidak frekuensi
menimbulkan munculnya
halusinasi. halusinasi
b. Waktu dan mempermud
frekuensi ah tindakan
terjadinya keperawatan
halusinasi (Pagi, klien yang
siang, sore dan akan
malam atau jika dilakukan
sendiri, jengkel perawat.
atau sedih).

2.1.5 Diskusikan Untuk


dengan klien apa mengidentifi
yang dirasakan kasi
jika terjadi pengaruh
halusinasi( marah halusinasi
atau takut, sedih, klien.
senang)
berikempatan
mengungkapkan
perasaan.
3.Klien Upaya untuk
dapat 3.1 Klien 3.1.1 Identifikasi memutuskan
mengontro dapat bersama klien halusinasi
l menyebutkan cara tindakan sehingga
halusinasin tindakan yang yang dilakukan halusinasi
ya. biasa jika terjadi tidak
dilakukan halusinasi (tidur, berlanjut.
untuk marah,
mengendalikan menyibukkan diri
halusinasinya. dll). Reinforceme
nt positif
3.2 Klien 3.1.2 Diskusikan akan
dapat manfaat cara yang meningkatka
menyebutkan dilakukan klien, n hardi diri
cara baru jika bermanfaat klien.
beri pujian.
Memberikan
alternative
3.1.3 Diskusikan pilihan bagi
3.3 Klien cara baru untuk klien untuk
dapat memilih memutus atau mengontrol
cara mengatasi mengontrol halusinasi.
halusinasi halusinasi:
seperti yang a. Katakan “Saya
telah tidak mau dengar
disiskusikan kamu” (pada saat
dengan klien halusinasi terjadi).
b. Menemui orang
lain
(perawat/temen/a
nggota kluarga)
bercakap-cakap
atau mengatakan
halusinasi yang
didengar.
c.membuat jadwal
kegiatan sehari-
hari agar
halusinasi tidak
muncul.
d.Minta
kluarga/teman/per
awat jika tampak
bicara sendiri. Memotivasi
dapat
3.1.4 Bantu klien meningkatka
memilih dan n kegiatan
melatih cara klien untuk
memutuskan mencoba
halusinasi secara memilih
bertahap. salah satu
cara
mengendalik
an
halusinasi
dan dapat
meningkatka
n harga diri
klien.
4.Klien
dapat Untuk
dukungan 4.1.1 Anjurkan mendapatka
dari 4.1 Klien klien untuk n bantuan
keluarga dapat memberitahu keluarga
dalam membina keluarga jika mengontrol
mengontro hubungan mengalami halusinasi.
l saling percaya halusinasi
halusinasi dengan Untuk
perawat 4.2.2 Diskusikan mengetahui
dengan keluarga pengetahuan
4.2 Keluarga (pada saat keluarga dan
dapat berkunjung/ pada meningkatka
menyebutkan saat kunnungan n
pengertian, rumah): kemampuan
tanda dan a. Gejala pengetahuan
kegiatan untuk halusinasi yang di tentang
mengendalikan alami klien. halusinasi
halusinasi b. Cara yang
dapat dilakukan
klien dan keluarga
untuk memutus
halusinasi
c. Cara merawat
anggota keluarga
untuk memutus
halusinasi di
rumah, beri
kegiatan, jangan
biarkan sendiri,
makan bersama,
bepergian
bersama.
d. Beri informasi
waktu follow up
atau kapan perlu
mendapat bantun:
halusinasi
terkontrol dan
risiko mencederai
orang lain.
5. Klien Dengan
dapat 5.1.1 Diskusikan menyebutka
memanfaat dengan klien dan n dosis,
kan obat 5.1 Klien dan keluarga tentang frekuensi
dengan keluarga dapat dosis, frekuensi dan manfaat
baik menyebutkan manfaat obat obat.
manfaat, dosis
dan efek Diharapkan
samping obat. 5.1.2 Anjurkan klien
klien minta melaksanaka
5.2 Klien dan sendiri obat pada n program
keluarga dapat perawat dan pengobatan.
mendemonstra merasakan Menilai
sikan manfaatnya. kemampuan
penggunaan klien dalam
obat secara pengobatann
benar. ya sendiri

Dengan
mengetahui
5.1.3 Anjurkan efek
5.3 Klien klien bicara samping
dapat dengan dokter obat klien
informasi tentang manfaat akan tahu
tentang efek dan efek samping apa yang
samping obat obat yang harus
dirasakan dilakukan
setelah
minum obat.

Progrm
pengobatan
5.1.4 Diskusikan dapat
akinat berhenti berjalan
5.4 Klien minum obat tanpa sesuai
dapat konsultasi rencana
memahami
akibat berhenti Dengan
minum obat. mengetahui
5.1.5 Bantu klien prinsip
menggunakan penggunaan
obat dengan obat, maka
5.5 klien dapat prinsip benar kemandirian
menyebutkan klien untuk
prinsip 5 benar pengobatan
penggunaan dapat
obat ditingkatkan
secara
bertahap.

Rencana Keperawatan Klien Gangguan Persepsi Sensori :


Halusinasi Dalam Bentuk Strategi Pelaksanaan
STRATEGI PELAKSANAAN
SP1P SP1K
1) Mengidentifikasi Jenis Halusinasi Klien 1) Mendiskusikan masalah yang dirasakan
2) Mengidentifikasi isi Halusinasi Klien keluarga dalam merawat klien.
3) Mengidentifikasi Waktu Halusinasi Klien 2) Memberikan pendidikan kesehatan tentang
4) Mengidentifikasi Frekuensi Halusinasi pengertian Halusinasi, jenis Halusinasi
Klien. yang dialami klien, tanda dan gejala
5) Mengidentifikasi situasi yang dapat halusinasi, serta proses terjadinya
menimbulkan Halusinasi Klien. Halusinasi.
6) Mengidentifikasi respon klien terhadap 3) Menjelaskan cara merawat klien dengan
Halusinasi klien Halusinasi.
7) Mengajarkan klien menghardik Halusinasi
8) Menganjurkan klien memasukkan cara
menghardik ke dalam kegiatan harian
SP2P SP2K
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien 1) Melatih keluarga mempraktikkan cara
2) Melatih klien mengendalikan halusinasi merawat klien dengan Halusinasi.
dengan cara bercakap-cakap dengan orang 2) Melatih keluarga melakukan cara merawat
lain. langsung kepada klien Halusinasi.
3) Menganjurkan klien memasukkan kedalam
jadwal kehgiatan harian
SP3P SP3K
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien. 1) Membantu keluarga membuat jadwal
2) Melatih klien mengendalikan Halusinasi aktivitas dirumah termasuk minum obat (
dengan cara melakukan kegiatan. discharge Planning).
3) Menganjurkan klien memasukkan dalam 2) Menjelaskan Pollow Up klien setelah
jadwal kegiatan harian. pulang.

SP4P
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
2) Memberikan penkes tentang penggunaan
obat secara teratur.
3) Menganjurkan klien memasukkan kedalam
jadwal kegiatan harian.

DAFTAR PU S TAKA
Yosep, Iyus S.kp M.Si. 2007. Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung : PT Revika
Aditama
Herman Surya Direja, Ade. dkk. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Nuha Medika
Kusumawati, Farida dan Hartono Yudi. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta :
Salemba Medika
Damaiyanti, Mukhripah S. Kep. Ns dan Iskandar S. Kep. Ns. 2012. Asuhan
Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Revika Aditama

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA GANGGUAN ALAM PERASAAN:


DEPRESI
A. Pengertian
Gangguan alam perasaan ditandai oleh depresi atau peningkatan alam
perasaan. Gangguan ini memunculkan gejala yang mengindikasikan disfungsi
afek, emosi, pikiran, dan aktivitas-aktivitas umum(Linda : 2007).
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang
mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan
alam perasaan adalah gangguan emosional yang disertai gejala mania atau
depresi (Wahyu : 2010).
Perasaan suasana hati yang mewarnai kehidupan psikis seseorang dan
mempengaruhi seseorang dalam waktu yang lama. Misalnya seseorang yang
sedih, malas untuk berkomunikasi,makan ,bekerja, dan sebagainya (Iyus Yosep:
2009).

Emotional Reaksi supresi Supresi Reaksi Mania


Responsive Kehilangan Kehilangan Yang atau
yang Wajar Memanjang Depresi

Rentang respon emosi seseorang yang normal bergerak secara dinamis. Tidak
merupakan suatu titik yang statis dan tetap. Dinamisasi tersebut dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti organobiologis, psikoedukatif, sosiokultural. Pada klien yang
mengalami gangguan alam perasan, reaksinya cenderung menetap dan memanjang.
Rentang respon emosi bergerak daro emotional responsive samapai mania/depresi
denga cirri-ciri sebagai berikut (Gail Stuart:2006) :
a. Responsive: klien lebih terbuka, menyadari perasaannya, dapat berpartisipasi
dengan dunia internal.
b. Reaksi kehilangan yang wajar: klien merasa bersedih, kegiatan klien
berhenti (misalnya : bekerja, sekolah).
c. Supresi: merupakan tahap awal dimana coping individu termasuk
maladaptive klien menyangkal perasaannya sendiri, klien berusaha menekan
atau mengalihkan perhatiannya terhadap lingkungan.
d. Depresi: gangguan alam perasaan yang ditandai denga perasaan sedih yang
berlebihan, murung, tidak bersemangat, perasaan tidak berharga.

B. Klasifikasi
1. Depresi reaktif
Depresi reaktif adalah jenis depresi yang paling um8m di jumpai.Depresi ini
kemungkinan disebabkan oleh reaksi terhadap peristiwa eksternal, seperti;
kehilangan orang yang di cintai atau akibat bencana alam.Kondisi ini biasanya
tidakresponsif terhadap berbagai terapi fisik, seperti; obat dan ECT
(Electorcon vulsive terapy/ terapi kejut listrik).Kondisi ini tidak di turunkan
secara genetis, dalam siklus tertentu atau terjadi secara berulang, dan biasanya
lebih ringan dari pada depresi endogen.
2. Depresi endogen (depresi otonom).
Depresi endogen ini berkaitan dengan asal-usul atau proses internal yang idak
diketaghui, dan tidak berkaitan dengan peristiwa-peristiwa ekternal. Depresi
jenis ini biasanya terjadi dalam berbagai siklus (kadang- kadang/ sekali-
sekali),respons terhadap obat-obatan dan ECT (shock treatment/ perlakuan
kejut)dan ada dugaan bahwakecendrungan hormonal dan genetis merupakan
dua macam faktor yang trut berkontribusi terhadap munculnya kondisi ini.
Gejala – gejala tersebut umumnya lebih serius dari pada dalam depresi reaktif.
3. Bipolar depression/ depresi bipolar
- Pasien mengalami episode depresi dan maniak
- Maniak seperti kegembiraan dan kehebohan yang bersifat ekstrim, cermin dari
gambaran depresi
4. Uni-polar depression: tidak memiliki episode maniak.

C. Tipe Gangguan Alam Perasaan :


1) Mood episode
a. Mayor depresive episode
Untuk diagnosis kelompok ini, terdapat 5 atau lebih gejala-gejala yang
ditampilkan selama periode 2minggu dan menampilkan perubahan fungsi
sebelumnya paling sedikit dari gejala tersebut adalah salah satu dari 2 hal
berikut: (1) perasaan depresif; (2) kehilangan ketertarikan terhadap
kesenangan (pleasure).
b. Manic episode
Episode manic ditandai dengan gangguan yang nyata dan peningkatan secara
menetap, meluap-luap atau mood yang mudah terangsang selama 1 minggu.
Selama periode gangguan, 3 atau lebih gejala-gejala berikut telah menetap
dan telah Nampak dalam tingkat yang berarti:
1. Melambungkan harga diri atau grandiosity.
2. Menurunnya kebutuhan untuk tidur
3. Perhatian yang mudah teralih
c. Tipe lainnya (other)
Tipe lain dari episode mood meliputi mixed episode dan hypomanic episode.
Pada mixed episode, kriterianya merupakan perpaduan antara manic episode
dan mayor depressive episode. Sedangkan pada hypomanic episode secara
jelas menunjukan meningkatnya mood yang berbeda dari mood nondepresif
yang biasa tetapi tidak dikelompokan sebagai episode manic.
2) Depresive disorders
a. Mayor depresivve disorders
1. Mayor depresivve disorders dapat berupa episode berulang atau episode
tunggal. Hal ini dapat juga memiliki gambaran khusus seperti adanya
penampilan diam melamun (catatonic) atau melankonik atau menyertai
kejadian post partum
2. Klien yang mengalami mayor depressive berbicara menjadi lambat,
berhnti bicara (halting), cemas dank lien menjadi menyalahkan diri
sendiri. Pada tipe episode depresif gerakan klien menmjadi lambar,
lambat untuk duduk dikursi, kaku, suara mengerang yang sedih.
b. Dysthymic disorder
Kondisi ini ditandai dengan mood yang terdepresi dalam sebagian besar hari.
Dua atau lebih gejala depresi berikut dapat ditampilkan: menurunnya nafsu
makan, susah tidur atau tidur berlebihan, harga diri rendah, kesulitan
konsentrasi.
c. Bipolar disorders
1. Bipolar disorders
Klien dengan tipe bipolar mendemonstrasikan kekuatan (strong) meluap-
luap (exaggregated) dan menggambarkan siklus irama mood (cyclid
mood swings).
2. Cyclothymic disorders
Individu dengan kelainan cyclotimic cenderung untukn mengalami irama
mood diantara exhilaration and depression (keriangan dan
depresif).bagaimanapun ia akan mengalami manic depressive psychosis
pada situasi kehidupan yang penuh stress (stresfull) dan pada beberapa
kasus terjadi penyebab yang tidak jelas. ( change in brain chemistry have
been postulated).

D. Faktor predisposisi dan prespitasi


1. Faktor predisposisi
a. Genetic factor
Faktor genetic dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan efektif melalui
riwayat keluarga atau keturunan.Hal ini disepakati bahwa faktor keturunan
dan lingkungan memegang peranan penting dalam beberapa gangguan mood.
Gangguan tipe bipolar dan mayor depressive terjadi pada keluarga, tetapi fakta
menunjukan bahwa yang diturunkan adalah tipe bipolar dengan
kecenderungan sebagai berikut:
a. Salah satu orang tua menderita gangguan mood tipe bipolar,
kecenderungan terjadi 25% pada anak-anak.
b. Dua oaring tua menderita gangguan mood tipe bipolar, kecenderungan
terjadi 50-75% pada anak-anak.
c. Satu monozygote kembar mengalamibipolar, 40-70% kecenderungan
terjadi pada kembarannya.
d. Satu dizygote kembar mengalami bipolar, kecenderungan 20% terjadin
pada kembarannya.
e. Satu orang tua mengalami kelaianan tipe depresif, 10-13%
kecenderungan terjadi pada anak-anak.
b. Aggression Turned Inwara Theory
Teori agresi menyerang ke dalam menunjukan bahwa depresi terjadi karena
perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri. Untuk beberapa alasan
tidak langsung diarahkan pada objek yang nyata atau objek yang berhubungan
serta disertai perasaan berdosa/bersalah.Prosesnya tejadi akibat kehilangan
atau perasaan ambivolen terhadap objek yanag sangat dicintai.
c. Objeck Loss Theory
Teori kehilangan objek merujuk pada perpisahan traumatic individu dengan
benda atau seseorang yang sangat berarti dalam fase membutuhkan seseorang
yang memberikan rasa aman untuk lekatan (attachment).Dua isu penting
dalam teori ini adalah kehilangan dalam masa kanak-kanak sebagai faktor
predisposisi terjadinya depresi pada masa dewasa dan perpisahan dalam
kehidupan setelah dewasa yang menjadi faktor pencetus terjadinya stress.
d. Personality Organization Theory
Teori organisasi kepribadian menguraikan bagaimana konsep diri yang
negative dan harga diri rendah mempengaruhi sestem keyakinan dan penilaian
seseorang terhadap stressor.
e. Cognitive Model
Model cognitive menyatakan bahwa depresi merupakan masalah cognitive
yang didominasi oleh evaluasi negative seseorang terhadap dirinya sendiri,
dunia seseorang dan masa depannya.kesimpulan dalam teori ini adalah klien
depresi disominasi oleh sikap psimis.
f. Model biologis
Mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi perubahan kimiawi,yaitu
defisiensi katekolamin,tidak berfungsi endokrin dan hipersekresi kortisol.

2. Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaanmeliputi faktor
biologis, psikologis dan sosial budaya. Faktor biologis meliputi perubahan
fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti
infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan metabolisme. Faktor psikologis
meliputi kehilangan kasih sayang,termasuk kehilangan cinta, seseorang, dan
kehilangan harga diri. Faktor sosial budaya meliputi kehilangan peran, perceraan,
kehilangan pekerjaan.

E. Tanda klinis
Berikut adalah berbagai tampilan klinis depresi (Ana : 2013):
1. Mood/perasaan: sedih, tidak bahagia, murung menangis,
2. Pemikiran: pesimisme, ide-ide tentang perasaan bersalah, kebncian terhadap
diri sendiriakibat kehilangan minat dan motivasi, hingga menurunkan efisiensi
dan konsentrasi.
3. Perilaku dan penampilan:
4. Mengabaikan penampilan pribadi.
5. Retardasi agitasi psikomotorik.
6. Somatis
a. Kehilanagan selera makan, atau sebaliknya nafsu makan bertambah.
b. Kehilangan atau kelebihan berat badan.
c. Sembelit.
d. Kurang tidur (insomnia atau hyperinsomnia)
e. Nyeri-nyeri dan terasa sakit.
f. Perubahan siklus menstruasi pada pasien wanita.
g. Kehilangan libido.
7. Tampilan kecemasan, seperti:
a. Jantung berdebar-debar.
b. Berkeringat.
c. Gemetaran.
d. Berpikir, mengancam atau berupaya melakukan bunuh diri, dan
sebagainya.
e. Retardasi psikomotorik.
f. Agitasi.

F. Gejala Gangguan Mood Depresi


a. Sulit konsentrasi dan daya ingat menurun
b. Nafsu makan dan berat badan menurun
c. Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebih) disertai mimpi-mimpi yang
tidak menyenangkan, missal mimpi orang yang sudah meninggal.
d. Agitasi atau retardasi motorik (gelisah atau perlambatan gerakan motorik)
e. Hilang perasaan senang, semanga dan minat, meninggalkan hobi.
f. Kreativitas dan produktivitas menurun.
g. Gangguan seksual (lobido menurun).
h. Pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri.
Bila seseorang lebih rentan untuk menderita depresi dibandingkan orang lain,
biasanya yang bersangkutan mempunyai corak kepribadian sendiri (diri kepribadian
depresif), dengan cirri-ciri:
a. Mereka sukar untuk merasa bahagia, mudah cemas, gelisah dan khawatir,
irritable, tegang dan agitatif.
b. Meraka yang kurang percaya diri,rendah diri, mudah mengalah, dan lebih
senang berdamai untuk menghindari konflik dan konfrontasi, merasa gagal
dalam usaha atau sekolah, lamban, lemah, lesu atau sering mengeluhsakit
ini dan itu.
c. Pengendalian dorongan dan impuls telalu kuat, menarik diri,lebih suka
menyisih, sulit ambil keputusan, enggan bicara, pendiam dan pemalu,
menjaga jarak dan menghindari keterlibatan dengan orang lain.
d. Suka mencela, mengkritik, menyalahkan orang lain atau menggunakan
mekanisme pertahanan penyangkalan.

G. Penatalaksanaan
1. Terapi individual
 Eksplorasi perasaan kehilangan, dan fasilitasi proses berduka.
 Diskusikan perilaku mengalahkan diri, harapan yang tidak realistis, dan
kemungkinan distorsi dari realita.
 Kaji bagaimana distorsi kognitif bagi klien turut menyebabkan depresi.
 Dorong pengungkapan rasa frustasi, marah dan putus asa
 Upaya untuk mengubah pola berfikir negatif otomatis tentang diri, orang lain,
lingkungan, dan masa depan.
 Beri kesempatan kepada klien, seperti berdiskusi dan bermain peran untuk
menyelesaikan masalah interpersonal
 Monitor masalah-masalah fisiologis yang diinduksi atau diperburuk oleh
depresi.
2. Terapi keluarga
 Kaji fungsi keluarga, pola komunikasi, peran yang diharapkan, keterampilan
menyelesaikan masalah, dan stresor.
 Dapatkan informasi dari masing-masing anggota keluarga tentang situasi
keluarga saat ini.
 Tentukan bagaimana konflik atau krisis ditangani, dan evaluasi dukungan
anggota keluarga yang satu terhadap yang lain.
 Kaji tingkat ketertutupan dan ketidakpedulian anggota keluarga.
 Fokuskan pada mengidentifikasi dan menginterversi distorsi kognitif yang
mengganggu fungsi keluarga yang sehat.
 Ajarkan anggota keluarga tentang keterampilan komunikasi, penyelesaian
masalah, pengelolaan stres dan ekspresi perasaan yang konstruktif.
3. Terapi kelompok
 Berupaya untuk meningkatkan harga diri dan mengakui kekuatan masing-
masing anggota kelompok.
 Ajarkan klien tentang cara membentuk dan mempertahankan hubungan
interpersonal, terutama setelah mengalami kehilangan.
 Bantu klien mengembangkan strategi untuk memperoleh dukungan sosial,
mengurangi rasa kesepian, mendapatkan umpan balik dari orang lain, dan
mengatasi stresor.
 Ajarkan klien tentang bagaimana dengan dukungan dan bantuan teman sebaya
mempelajari cara untuk menurunkan dan kemudian menghilangkan distorsi
kognitif.

H. Asuhan Keperawatan Gangguan Alam Perasaan


1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor predisposisi,prespitasi
dan perubahan perilaku serta mekanisme koping yang digunakan klien.
2. Masalah keperawatan
Masalah keperawatan yang berhubungan dengan respon emosional (gangguan
alam perasaan) antara lain :
a. Berduka disfungsional
b. Ketidakberdayaan
c. Peningkatan mobilitas fisik
d. Gangguan pola tidur
e. Resiko terhadap cedera
f. Perubahan nutrisi
g. Defisit perawatan diri
h. Ansietas

3. Diagnosis Keperawatan
1) Duka Cita Maladaptif
Intervensi
a. Dorong klien untuk mendiskusikan kehilangan yang aktual atau yang
dirasakan.
b. Jelaskan fase-fase berduka, dan dorong klien untuk mengidentifikasi tahap
yang tampak sesuai untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang.
c. Dorong pengungkapan perasaan yang berhubungan dengan kehilangan.
d. Dorong klien untuk menceritakan kemarahan, kesedihan, rasa bersalah, dan
kesepian yang umumnya menyertai berduka.
e. Bantu klien menentukan tujuan untuk mengatasi rasa berduka. Caraa yang
sering membantu yaitu, menghabiskan waktu dengan teman lama, berjalan-
jalan dengan benda-benda milik orang yang dicintai sebelum membuang dan
menyimpannya, atau mengunjungi beberapa tempat yang bermakna bagi klien
maupun orang yang sudah meninggal.
f. Ajarkan pilihan cara-cara yang sehat terutama yang disalurkaan secara fisik
untuk mengekspresikan perasaan yang kuat, dan dorong klien untuk
menggunakan alternatif-alternatif pada kehidupan sehari-hari.
g. Ajari klien keterampilan penyelesaian masalah, bersikap asertif, penguatan
diri, dan keterampilan koping lain yaang sesuai.
h. Identifikasi sumber-sumber dukungan, ceritakan tentang bagaimana dukungan
telah diubah oleh kehilangan, dan mulai dukungan baru.

2) Gangguan Harga Diri.


Intervensi
a. Kaji tingkat dan intensitas depresi klien.
b. Tanya dan tentang dengan lemah lembut perihal pernyataan-pernyataan diri
negatif yang dibuat klien.
c. Bantu klien menemukan dan mengkaji keyakinan yang tidak rasional atau
distorsi kognitif lain.
d. Dorong klien untuk mengenali masalah dan stresor yang sesungguhnya ada
pada masa kini.
e. Minta klien mengidentifikasikan aspek diri yang positif.
f. Ajarkan klien tentang cara menemukan hal-hal positif dalam pikiran dan
perasaan terhadap dirinya sendiri
g. Dorong klien untuk membicarakan hal-hal di masa lalu yang menimbulkan
rasa harga diri.
h. Ajarkan klien tentang komunikasi interpersonal yang efektif.
i. Ajarkan klien teknik-teknik relaksasi dan meditasi. Metode-metode yang
berguna diantaranya adalah teknik diam dan teknik menerima.

3) Hambatan Interaksi Sosial.


Intervensi
a. Tetapkan waktu untuk berinteraksi setiap hari dengan klien.
b. Bantu klien mengkaji kuantitas dan kualitas hubungan interpersonal saat ini.
c. Bantu klien mengidentifikasi dan menyatakan secara verbal peristiwa dan
stresor mana yang menyebabkan klien menarik diri dari sosial.
d. Bantu klien mengidentifikasi konflik dan stresor yang ada dalam peran dan
hubungan khusus.
e. Dorong klien untuk mengenali dan mendiskusikan faktor-faktor yang turut
menyebabkan masalah dalam hubungan sosial.
f. Perkenalkan kesempatan interaksi awal yang sederhana dan terstruktur
dengan teman sebaya. Dorong klien untuk menghadiri aktivitas kelompok.
Bantu klien mengidentifikasi dan mendiskusikan aspek positif dan negatif
dalam berinteraksi dengan orang lain.

4) Resiko Perilaku Kekerasan Terhadap Diri Sendiri.


Intervensi
a. Buat kontrak dengan klien untuk tidak bunuh diri.
b. Tentukan tingkaat pencegahan bunuh diri yang diperlukan dan evaluasi
ulang kemungkinan bunuh diri dikegiatan sehari-hari.
c. Cari adanya benda berbahaya pada barang pribadi milik klien.
d. Monitor klien secara ketat selama operan, waktu makan, dan jika staf nakes
yang tersedia lebih sedikit.
e. Ajarkan klien metode-metode nondestruktif dalam mengekspresikan emosi
yang kuat.
f. Ajarkan keterampilan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
g. Minta klien memikirkan dan mendiskusikan beberapa metode alternatif
untuk menangani masalah.
h. Diskusikan dengan klien tentang cara mengidentifikasi gejala awal depresi
dan mencegah perilaku merusak diri.

DAFTAR PUSTAKA
Copel, Linda Carman. 2007. Kesehatan Jiwa Dan Psikiatri:Pedoman Klinis Perawat.
Jakarta:EGC
Purwaningsih,Wahyu. 2010. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta:Nuha Medika
Stuart,Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa.Jakarta : EGC
Yosep,iyus.2009. Keperawatan Jiwa.Edisi Revisi.Bandung: Resika Aditama
I saucs, Ann.2004. Panduan Belajar: Keperawatan Kesehatan Jiwa Dan Lesiatrik.
Jakarta:EGC
April Styawati, Ana.2003. Keperawatan Psikiatri Dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta:
Imperium