Anda di halaman 1dari 62

4

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pneumatik
2.1.1 Penjelasan Tentang Pneumatik
Pneumatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti udara atau angin.
Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang
dimampatkan untuk menghasilkan suatu kerja disebut pneumatik. Dalam
penerapannya, sistem pneumatik digunakan sebagai sistem otomatis.
Pneumatik dalam pelaksanaan teknik udara bertekanan dalam industri
merupakan ilmu pengetahuan dari semua proses mekanik dimana udara
memindahkan suatu gaya atau gerakan. Jadi pneumatik meliputi semua komponen
mesin atau peralatan, dalam mana terjadi proses-proses pneumatik. Dalam bidang
kejuruan teknik pneumatik dalam pengertian yang lebih sempit lagi adalah teknik
udara bertekanan (udara bertekanan).
Dalam suatu rangakaian pneumatik, udara diluar dihisap ke dalam
kompressor dan mengalami kompresi, sehingga memiliki bentuk energi yang
kemudian diubah menjadi gerak mekanik (gerak piston).
Pneumatik menggunakan hukum-hukum aeromekanika, yang menentukan
keadaan keseimbangan gas dan uap (khususnya udara atmosfir) dengan adanya
gaya-gaya luar (aerostatika) dan teori aliran (aerodinamika).
Berkaitan dengan ilmu pneumatik yang terus berkembang maka pada
kesempatan kali ini kita akan mencoba untuk mempraktikan bagaimana
sebenarnya udara itu dimampatkan dan dengan alat bantu apa sehingga semua
gagasan mengenai pemanfaatan udara ini bisa diwujudkan.

2.1.2 Komponen Pendukung Sistem Pneumatik


1. Kompresor
Kompresor adalah mesin untuk memampatkan udara atau gas.
Kompresordibutuhkan agar mendapatkan tekanan kerja yang diinginkan.
Kompresor udarabiasanya mengisap udara dari atmosfir . Namun ada pula
5

yang mengisap udara atau gas yang bertekanan lebih tinggi dari tekanan
atmosfir.
Dalam hal ini kompresor bekerja sebagai penguat. Sebaliknya ada
kompresor yang mengisap gas yang bertekanan lebih rendah dari tekanan
atmosfir. Dalam hal ini kompresordisebut pompa vakum.
Kompresor digunakan untuk menghisap udara atmosfer dan
memampatkannya ke dalam tangki penampung atau receiver, kondisi
udara pada atmosfer dipengaruhi oleh suhu dan tekanan, sehingga berlaku:

P . V = M .R1 . T
Dimana :
P = Tekanan (Pa)
V = Volume yang dibutuhkan oleh gas (m2)
M = Massa molar
R1 = Konstanta gas spesifik = 287 j/kg.ºK
T = Temperatur absolut (ºK)
Simbol :

Gambar 2.1 Kompressor

Beberapa macam kompresor secara umum yaitu :


a. Kompresor piston
Piston menarik udara melalui katup isap pada langkah
turun,memampatkannya pada langkah naik dan mendorong keluar
melalui katuptekanan.
Daerah tekanan :
Satu tahap sampai 600 kPa ( 6 bar)
Dua tahap sampai 1500 kPa (15 bar)
6

Gambar 2.2 Kompresor Piston Tunggal


b. Kompresor sekerup
Udara dihisap melalui lubang hisap dan dipindahkan aksial melalui
duapropeller dengan kecepatan tinggi untuk mendapatkan tekanan.
Daerah tekanan:
Sampai 1000 kPa (10 bar)

Gambar 2.3 Kompresor sekerup

c. Kompresor aliran radial


Melalui baling-baling putaran cepat,udara dipercepat secara radial.
Energi kinetikdari udara diubah menjadi energi tekanan.
Daerah tekanan :
Dengan langkah banyak sampai 1000 kPa
(10 bar)

Gambar 2.4 Kompressor aliran radial


7

d. Kompresor sudu geser


Kompresor ini mempunyai rotor yang dipasang secara eksentrik di
dalamrumah yang berbentuk silinder. Pada rotor terdapat beberapa parit
dalam arahaksial dimana sudu-sudu dipasang.Selama berputar ukuran
sudu-sudu berubahubah,sehingga udara dimampatkan.
Daerah tekanan :
Satu tahap sampai 400 kPa ( 4 bar)
Dua tahap sampai 800 kPa ( 8 bar)

Gambar 2.5 Kompresor sudu geser

e. Kompresor aksial
Melalui baling-baling putaran cepat,udara dipercepat secara radial.
Energi kinetikdari udara diubah menjadi energi tekanan.
Daerah tekanan :
Dengan langkah banyak sampai
600kPa (6bar)

Gambar 2.6 Kompresor aksial


8

2. Kompresor Air Filter


Kompressor air filter berfungsi sebagai penyaring udara yang digunakan
pada sistem dengan memisahkan partikel – partikel air dan debu dari
udara.
Simbol :

Gambar 2.7 Kompressor Air Filter

3. Katup Pneumatik
Simbol-simbol yang digunakan dalam sistem pneumatik berdasarkan
standart DIN/ISO 1219.

Tabel 2.1 Simbol Pneumatik


Nama komponen Keterangan Simbol
Katup 2/2  Mempunyai 2 lubang (masukan
dankeluaran) dan 2 posisi
hubungan katup
 Lubang keluaran tertutup. Pada
posisinormal tertutup, tidak aliran
yang keluar(konfigurasi NC)
 Pada posisi normal terbuka, ada
alirankeluar (konfigurasi NO )

Katup 3/2  Mempunyai 3 lubang (masukan,


keluarann dan pembuangan) dan
2 posisi hubungan katup
 Pada posisi normal, tidak ada
aliran udarayang keluar
(konfigurasi NC).
9

 Pada posisi normal, ada aliran


udara yang keluar (konfigurasi
NO).

Katup 4/2  Mempunyai 4 lubang ( masukan,


keluaran dan 1 pembuangan ) dan
2posisi hubungan katup .

Katup 5/2  Mempunyai 5 lubang.( masukan


,keluaran dan 2 pembuangan ) dan
2posisi hubungan katup.

Katup 3/3  Mempunyai 3 lubang (masukan,


keluarandan pembuangan) dan 3
posisi hubungankatup.
 Pada posisi normal (tengah) tertutup

Katup 4/3  Mempunyai 4 lubang (masukan,


keluarandan pembuangan ) dan 3
posisihubungan katup
 Pada posisi normal (tengah)
lubangkeluaran sambung dengan
pembuangan.
Katup 5/3  Mempunyai 5 lubang (masukan,
keluarandan pembuangan) dan 3
posisi hubungankatup
 Pada posisi normal (tengah) tertutup

Tabel 2.2 Katup-katup lainnya


Nama Komponen Keterangan Simbol
10

Katup cek  Tanpa pegas.Lubang keluaran


terbuka jika tekanan masukan
lebih besar daripada tekanan
keluaran
 Dengan pegas.Terbuka jika
tekanan masukan lebih besar
dari pada tekanan keluaran
(termasukgaya pegas ).

Katup fungsi “ Lubang keluaran akan bertekanan,


ATAU “ (Shuttle bila salah satu atau kedua lubang
Valve) masukan bertekanan.

Katup pembuang Bila lubang masukan disuplai oleh


cepat (Quick udara bertekanan, lubang keluaran
Exhaust Valve) akan membuang udara secara
langsung ke atmosfir.
Katup fungsi Lubang keluaran hanya akan
“DAN” (Two bertekan an bila udara bertekanan
Pressure Valve) disuplai ke kedua lubang masukan.

Katup kontrol Aliran udara keluar dapat diatur,


aliran (Flow dengan memutar pengaturnya.
Control Valve)

Katup kontrol Katup cek dengan katup kontrol


aliran satu arah aliran. Katup kontrol aliran dengan
(One way Flow arah aliran satu arah dan dapat
Control Valve) diatur.

Tabel 2.3 Jenis-jenis Pengaktifan


Jenis Pengaktifan Keterangan Simbol
Umum
11

Tombol tekan

Tuas

Kerja manual
Pedal kaki

Tuas ( putar) dengan


pengunci (tidak reset
otomatis)
Plunjer

Pegas

Kerja mekanik Rol

Rol, idle (kerja hanya ke


satu arah saja)

Kerja pneumatic Kerja langsung oleh


tekanan kerja

Tekanan kembali (pressure


relief )

Tidak langsung melalui


katup pilot

Selenoid tunggal
12

Kerja listrik Selenoid ganda

Solenoid ganda dan kerja


pilot dengan tambahan
manual
Kombinasi
Tanda ini menunjukan
keterangan pengaktifan
katup tersebut.

Tabel 2.4 Macam-macam akuator linier


Nama akuator keterangan Simbol
Silinder kerja tunggal  Silinder dengan tekanan
hanyabekerja ke satu
arah saja.(langkah maju):
 Langkah kembali oleh
gaya dariluar.
Langkah kembali oleh
pegas

Silinder kerja ganda  Silinder dengan tekanan


dapatbekerja ke dua arah
( langkah maju dann
mundur )
Dengan batang piston
ganda

4. Pressure Relief
Berfungsi sebagai saklar otomatis, komponen ini berkerja apabila tekanan
pada tabung di dalam komponen telah mencapai tekanan maksimum, maka
udara akan mengalir dan mengaktifkan katup 3/2 yang juga terdapat di
dalam komponen pressure relief ini.
13

Simbol :

Gambar 2.8 Pressure Relief

5. Pressure Gauge
Berfungsi sebagai alat pengukur tekanan fluida (udara) pada sistem
pengontrol pneumatik.
Simbol :

Gambar 2.9 Pressure Gauge

6. Time Delay Valve


Berfungsi untuk menunda kerja dari silinder.
Simbol :

Gambar 2.10 Time Delay Valve

7. Tabung Gerak Tunggal (Single Acting Cylinder)


Silinder kerja tunggal mempunyai seal piston tunggal yang dipasang
padasisi suplai udara bertekanan. Pembuangan udara pada sisi batang
piston silinder dikeluarkan ke atmosfir melalui saluran pembuangan. Jika
lubang pembuangan tidak diproteksi dengan sebuah penyaring akan
memungkinkanmasuknya partikel halus dari debu ke dalam silinder yang
14

bisa merusak seal. Apabila lubang pembuangan ini tertutup akan


membatasi atau menghentikan udara yang akan dibuang pada saat silinder
gerakan keluar dan gerakan akan menjadi tersentak-sentak atau terhenti.
Seal terbuat dari bahan yang fleksibel yang ditanamkan di dalam piston
dari logam atau plastik. Selama bergerak permukaan seal bergeser dengan
permukaan silinder.
Berfungsi sebagai elemen penggerak akhir. Pada SAC ini silinder bergerak
maju dengan tekanan dan kembali secara otomatis karena pengaruh kerja
pegas di dalamnya.
Simbol :

Gambar 2.11 Tabung Gerak Tunggal (SAC)

Gambar 2.12 Gambar Teknik SAC


Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi permukaan piston,sisi
yang lain terbuka ke atmosfir. Silinder hanya bisa memberikan gaya kerja
ke satu arah . Gerakan piston kembali masuk diberikan oleh gaya pegas
yang ada didalam silinder direncanakan hanya untuk mengembalikan
silinder pada posisi awal dengan alasan agar kecepatan kembali tinggi
pada kondisi tanpa beban.
15

8. Tabung Gerak Ganda (Double Acting Cylinder)


Konstruksi silinder kerja ganda adalah sama dengan silinder kerja tunggal,
tetapi tidak mempunyai pegas pengembali. Silinder kerja ganda
mempunyai dua saluran (saluran masukan dan saluran pembuangan).
Silinder terdiri dari tabung silinder dan penutupnya, piston dengan seal,
batang piston, bantalan, ring pengikis dan bagian penyambungan.
Konstruksinya dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Berfungsi sebagai elemen penggerak akhir. Pada DAC ini silinder bergerak
maju tanpa bisa kembali lagi secara otomatis, silinder ini akan kembali ke
posisi awalnya setelah mendapatkan tekanan fluida dari arah yang
berlawanan.
Simbol :

Gambar 2.13 Tabung Gerak Ganda (DAC)

Gambar 2.14 Gambar teknik DAC


16

Biasanya tabung silinder terbuat dari tabung baja tanpa sambungan. Untuk
memperpanjang usia komponen seal permukaan dalam tabung silinder
dikerjakan dengan mesin yang presisi. Untuk aplikasi khusus tabung
silinder bisa dibuat dari aluminium , kuningan dan baja pada permukaan
yang bergeser dilapisi chrom keras. Rancangan khusus dipasang pada
suatu area dimana tidak boleh terkena korosi.

2.1.3 Aplikasi Penggunaan Pneumatik


1. Beberapa aplikasi pneumatik secara umum :
a. Pengemasan (packaging)
b. Pemakanan (feeding)
c. Pengukuran (metering)
d. Pengaturan buka dan tutup (door or chute control)
e. Pemindahan material (transfer of materials)
f. Pemutaran dan pembalikan benda kerja (turning and inverting of
parts)
g. Pemilahan bahan (sorting of parts)
h. Penyusunan benda kerja (stacking of components)
i. Pencetakan benda kerja (stamping and embosing of components)

2. Beberapa bidang aplikasi di industri yang menggunakan media Pneumatik


dalam hal penangan material adalah sebagai berikut :
a. Pencekaman benda kerja
b. Penggeseran benda kerja
c. Pengaturan posisi benda kerja
d. Pengaturan arah benda kerja

2.1.4 Rumus Dasar


1. Tekanan terhadap Luas Penampang
Besarnya nilai tekanan berbanding terbalik dengan ;uas penampang
tempatnya itu bekerja. Besarnya tekanan dapat dirumuskan menjadi:

P=F
A
Dimana: P = Tekanan (Pa)
F = Gaya (N)
A = Luas Peampang (m2)
2. Debit Aliran
Debit aliran adalah volume fluida yang melewatti suatu penampang
dalam suatusatuan waktu tertentu. Sehingga dapat dirumuskan:

Q = Volunetotal
t
17

Dimana: Q = Debit Aliran (m3/s)


Vtotal = Volume total (m3)
t = waktu yang dibutuhkan (sekon)

3. Rumus Perhitungan Silinder Tanpa Beban


a. Gaya tekan (Fp)

Fp = p x A
b. Volume Aktuaror (Vtotal)

V=AxL
c. Kapasitas Aliran (Qs)

v = Qs
A1
d. Kerja Torak (W)

W = Fp x L
e. Daya Torak (P)

P=W
t

2.2 Hidrolik
2.2.1 Penjelasan Hidrolik
Sebelum kita melaksanakan pemasangan system hidrolik, sebaiknya kita
mengetahui terlebih dahulu pengertian hidrolik. Hidrolik menurut “bahasa greek”
berasal dari kata “hydro” = air dan “aulos” = pipa. Jadi hidrolik bias diartikan
suatu alat yang bekerjanya berdasarkan air dalam pipa.
Hidrolik merupakan suatu sistem yang memanfaatkan energi dari fluida
(cairan) yang dimampatkan sehingga menghasilkan energi mekanik/gerak
mekanik (gerak piston). Mekanika fluida dan hidrolik merupakan ilmu yang
berkaitan dengan fluida dalam keadaan statis atau dinamis. Fluida adalah zat yang
memiliki kemampuan untuk mengalir dan menyesuaikan diri dengan tempatnya.
Fluida diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu fluida mampu mampat
(compressible) dan fluida tak mampu mampat (non-compressible). Dalam sistem
18

pneumatik fluida compressible dimanfaatkan untuk menggerakkan silinder.


Sedangkan pada sistem hidrolik digunakan fluida non-compressible.

Tabel 2.5 Kelebihan Dan Kekurangan Sistem Hidrolik


No. Kelebihan Kekurangan
1. Ketelitian dalam penyetelan posisi Reaksi yang dikerjakan lambat.

2 Tenaga yang dihasilkan system Fluida yang digunakan (oli)


hidrolik besar sehingga banyak harganya mahal.
diaplikasikan pada alat berat seperti
crane, kerek hidrolik dll.

3. Oli juga bersifat sebagai pelumas Apabila terjadi kebocoran akan


sehingga tingkat kebocoran lebih mengotori sistem, sehingga system
jarang dibandingkan dengan system hidrolik
pneumatik.
4. Tidak berisik. Jarang digunakan pada industry
makanan maupun obat-obatan.
5. Dapat menahan beban yang besar. Sensitif terhadap kebocoran.

6. Dapat mentransfer energi yang besar Sisa cairan hidrolik yang


menimbulkan limbah.

Dalam praktikum Sistem Hidrolik ada beberapa hal yang harus


diperhatikan, antara lain :

1. Kekentalan (Viskositas)
Kekentalan suatu fluida adalah sifat yang menentukan besarnya daya tahan
terhadap tegangan geser atau dapat didefinisikan sebagai ketahanan
terhadap aliran. Ketahanan ini dipengaruhi oleh gaya tarik antara molekul–
molekul dalam fluida tersebut. Pada standar internasional, koefisien

kinematik dilambangkan dengan ( ). Sedangkan koefisien kekentalan


19

dilambangkan dengan ( ), kedua koefisien ini memiliki hubungan sebagai

berikut :

Dimana :
= Koefisien kekentalan mekanik (m2/detik)

= Koefisien kekentalan mutlak (Pa.detik)

= Densitas cairan (kg/m3)

2. Tekanan Hidrostatik
Yang dimaksud tekanan hidrostatik hidrolik adalah tekanan yang dilakukan
oleh cairan dalam keadaan tak bergerak. Cairan yang ditempatkan pada
suatu bejana memiliki energi tekanan yang diakibatkan oleh massa jenis
cairan, gravitasi dan jarak terhadap titik acuan. Sehingga diperoleh
persamaan :

Dimana :

= Tekanan hidrostatik (Pa)

= Densitas fluida (kg/m3)

= Percepatan gravitasi (m/s2)

= Jarak ketinggian titik acuan (m)

3. Tekanan terhadap Luas Penampang


Besarnya nilai tekanan berbanding terbalik dengan luas penampang tempat
gaya itu bekerja. Besarnya tekanan dapat dirumuskan menjadi :
20

Dimana :
P = Tekanan (Pa)
F = Gaya (N)
A = Luas penampang (m2)

4. Debit Aliran
Debit aliran adalah volume fluida yang melewati suatu penampang dalam
suatu satuan waktu tertentu. Sehingga dapat dirumuskan :

Dimana :
= Debit aliran (m3/menit)

= Luas penampang (m2)

= Kecepatan aliran (m/s)

5. Jenis Aliran Fluida


Tipe aliran dalam fluida dibedakan atas pergerakan partikel dalam fluida
tersebut, yaitu aliran laminer dan turbulen.Pada aliran laminer partikel –
partikel dalam fluida bergerak disepanjang lintasan – lintasan lurus dan
sejajar dalam lapisan – lapisan.Sedangkan pada aliran turbulen partikel –
partikel fkuida bergerak secara acak kesegala arah.
Untuk mengetahui besar dan jenis aliran dari fluida perlu diketahui
bilangan Reynolds, yaitu bilangan tak berdimensi yang menyatakan
perbandingan gaya – gaya inersia terhadap kekentalan suatu fluida. Untuk
menghitung dan menentukan jenis aliran dapat didasarkan pada :
a. Kecepatan aliran (m/s)
b. Diameter pipa (m)
c. Viskositas kinematik (m2/s)
21

Ketiga hal tersebut diatas dapat dirumuskan menjadi persamaan dibawah


ini, dimana aliran laminer memiliki nilai Re < 2300 sedangkan aliran
turbulen memiliki nilai Re > 2300.

Dimana :
= Bilangan Reynold

= Kecepatan aliran (m/s)

= Diameter penampang aliran (m)

= Viskositas kinematis (m2/s)

6. Penurunan Tekanan
Pada suatu aliran dalam pipa, tekanan fluida yang dihasilkan tidak terlalu
konstan. Faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan tekanan ini
adalah :
a. Viskositas cairan
b. Panjang penampang aliran
c. Tipe dan kecepatan aliran
Besarnya penurunan tekaan memenuhi persamaan :

Dimana :
= Penurunan tekanan (Pa)

= Konstanta tahanan (75/ )

= Panjang penampang aliran (m)

= Kecepatan aliran (m/s)


22

= Diameter penampang aliran (m)

= Densitas fluida (kg/m3)

7. Rumus Perhitungan Silinder


a. Rumus perhitungan silinder dengan beban :
1) Gaya akibat beban (Fm)

Dimana : m = Massa benda (kg)


g = Percepatan gravitasi (m/s2)

2) Kerja piston akibat gaya (WF)

Dimana : L = Panjang langkah (m)


3) Daya kerja piston (Pp)

Dimana : t = Waktu (s)

b. Rumus perhitungan silinder tanpa beban :


1) Gaya tekan (Fp)

Dimana : A1 = 0,785 (D2 – Db2)


2) Tekanan akibat gaya (pF)

Dimana : A2 = 0,785 (D2)


23

3) Volume silinder (V)

Dimana : L = Panjang langkah (m)


4) Kapasitas aliran (Qs)

5) Kecepatan aliran (v)

6) Kerja torak (W)

7) Daya torak (P)

2.2.2 Komponen Pendukung Sistem Hidrolik


1. Katup (Valve)
Katup dalam sistem hidrolik dibedakan atas fungsi desain, dan cara kerja
katup. Untuk pembagian katup berdasarkan fungsi, terdiri atas :
a. Katup tekanan (Pressure Relief)
Komponen ini berfungsi sebagai saklar otomatis pada sistem hidrolik,
katup ini akan membuka apabila tekanan dalam tabungnya telah
mencapai tekanan maksimum sesuai dengan yang telah diatur fluida
masuk melalui P dan keluar di T.
Simbol :
T

b. Katup 4/3 Gambar


(Direction2.15 KatupValve)
Control Tekanan (Pressure Valve)
24

Komponen ini berfungsi sebagai pengatur arah aliran fluida yang


fungsinya sama seperti pada katup 3/2 pada rangkaian Pneumatik,
dimana fluida masuk melalui P dan keluar pada titik A dan B,
sedangkan T sebagai tempat keluaran sisa fluida yang digunakan untuk
kemudian ditampung kembali di receiver tank.
Simbol :
AB

P T

Gambar 2.16 Katup 4/3 (Direction Control Valve)


c. Katup Aliran Searah (Non Return Valve)
Pada komponen ini aliran fluida hanya bisa mengalir pada satu arah.
fluida yang telah mengalir tidak dapat kembali melawan arah aliran.
Komponen ini disebut juga penyearah aliran fluida.
Simbol :

Gambar 2.17 Katup Aliran Searah

d. Katup Pengatur Debit Aliran (Flow Control Valve)


Komponen ini berfungsi untuk mengatur kecepatan aliran fluida dalam
rangkaian.
Simbol :
P A

Gambar 2.18 Katup Pengatur Debit Aliran (Flow Control Valve)

e. Katup Pengaman (Reliev Valve)


Katup ini adalah katup dua lubang dan dua posisi dengan pilot pressure
(bola katup) yang dilengkapi dengan pegas tekan yang dapat disetel.
25

1) Fungsi katup pengaman.


Fungsi katup ini adalah untuk mencegah terjadinya beban lebih
atau tekanan yang melebihi kemampuan rangkaian hidrolik.
Tekanan lebih akan mengakibatkan kerusakan dan kerugian
diseluruh bagian sistem.
2) Konstruksi dan simbol
Ada beberapa macam konstruksi releiev valve.Konstruksi yang
paling sederhana terdiri atas sebuah bola yang duduk pada bodi dan
ditekan oleh pegas tekan.Besarnya tekanan oli pada sistem diatur
oleh baut pengatur yang menekan pegas.

Gambar 2.19 Katup Pengaman (Reliev Valve)

Keterangan:
P = Dari Pompa
T = Ke Tangki (Reservoir)
B = Bola Baja (Peluru)
S = Pegas (Spring)
M = Baut Pengatur

2. Silinder Hidrolik
Silinder hidrolik berfungsi untuk mengubah energi yang dimiliki oleh
cairan menjadi energi gerak/mekanik. Jenis silinder hidrolik terbagi
menjadi dua, yaitu :
a. Single Acting Cylinder (SAC).
SAC berfungsi sebagai komponen penggerak akhir, SAC bekerja
dengan cara apabila ada fluida yang menekannya, maka SAC akan
bergerak maju.
26

Namun jika tidak ada tekanan yang masuk maka silindernya akan
kembali kembali seperti semula (mundur) secara otomatis.

Prinsip Kerja:
Jika rangkaian mulai bekerja maka cairan hidrolik masuk dan menekan
dari sisi kiri sehingga torak bergerak ke kanan. Selanjutnya pergeseran
(langkah torak) mencukupi atau mencapai yang dikehendaki dan cairan
hidrolik tidak ada tekanan lagi. Maka plunyer kembali oleh adanya
bobot dari benda yang di angkat ( digeser ). Pemakaian silinder kerja
tunggal ini digunakan pada dongkrak atau alat pembengkok pipa.Untuk
pengembalian torak ke posisi semula ada juga yang dilengkapi dengan
pegas pembalik.
Simbol :

Gambar 2.20 Tabung Gerak Tunggal (SAC)

b. Double Acting Cylinder (DAC)


DAC sama fungsinya seperti SAC, yaitu sebagai elemen penggerak
akhir, hanya saja dalam DAC silinder tidak kembali seperti semula
seperti SAC, kecuali lubang kedua DAC diberi tekanan fluida, karena
DAC merupakan silinder yang memiliki kerka ganda (maju dan
mundur) Dan tidak kembali secara otomatis seperti pada SAC.

Prinsip Kerja:
Jika rangkaian mulai bekerja maka suatu waktu cairan hidrolikmasuk
dan menekan dari sisi kiri sehingga torak bergerak kekanan, bersamaan
dengan itu pada sisi kanan torak cairan hidrolik tertekan dan keluar dari
27

dalam silider selanjutnyamasuk ke Reservoir (Langkah 1).Sebaliknya


jika menghendaki torak bergerak ke posisi semula(kiri) maka cairan
hidrolik harus masuk dari sisi kanan torak, maka cairan hidrolik yang
ada di sisi kiri torak akan bergerakkeluar dari torak (Langkah 2)Silinder
kerja ganda dapat digunakan jika menghendakigerakan bolak-balik
seperti pada mesin perkakas.
Simbol :

Gambar 2.21 Tabung Gerak Ganda (DAC)

3. Motor Hidrolik (Rotary Akuator)


Pada motor hidrolik ini, berfungsi untuk mengubah energi tekanan cairan
hidrolik menjadi energi mekanik/putaran, ukuran dari motor ini dinyatakan
dengan kapasitas perpindahan geometrik (cm3) (V).Motor ini hampir mirip
pompa hidrolik menurut kontruksinya. Pada kenyataannya pompa hidrolik
pun dapat juga digunakan sebagai motor, hanya cara kerjanya berbeda.
Pompa hidrolik mendorong oli dari sistem yang menghasilkan gaya putar
dan meneruskannya menjadi gerakan putar.
Simbol :

Ukuran besar kapasitas dirumuskan dengan :

Gambar 2.22 Motor Hidrolik

Dimana :
28

= Tekanan (Pa)

= Torsi (Nm)

= Perpindahan geometric (cm2)

= Debit aliran (L/min)

= Kecepatan putaran (rpm)

4. Pompa
Pompa digunakan untuk sejumlah volume cairan yang digunakan agar
suatu cairan tersebut memiliki bentuk energi. Berdasarkan prinsip kerjanya
pompa dibagi dalam :
a. Positive displacement pump
b. Pompa dynamic
Simbol HPP (Horse Power Pack).
PT

Gambar 2.23 Horse Power Pack (HPP)

Pada sistem hidrolik, pompa yang digunakan adalah pompa gigi karena
dapat memindahkan sejumlah volume zat cair yang memiliki viskositas
yang besar. Dalam penggunaan pompa pada suatu sistem haruslah
mempertimbangkan karakteristik dari pompa itu sendiri, salah satu
karakteristik yang penting adalah besar volume yang dipindahkan pompa
(V) dirumuskan :
29

Dimana :
= Volume yang dipindahkan (cm3/rpm)

= Debit aliran (L/min)

= Putaran pompa (rpm)

Jenis Pompa Hidrolik


a. Pompa Roda Gigi
Pompa ini terdiri dari 2 buah roda gigi yang dipasang saling merapat.
Perputaran roda gigi yang saling berlawanan arah akan mengakibatkan
kevakuman pada sisi hisap, akibatnya oli akan terisap masuk ke dalam
ruang pompa, selanjutnya dikompresikan ke luar pompa hingga tekanan
tertentu. Tekanan pompa hidrolik dapatmencapai 100 bar. Bentuk
pompa hidrolik roda gigi dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.24 Roda Gigi

b. Pompa Sirip Burung


Pompa ini bergerak terdiri dari dari banyak sirip yang dapat flexible
bergerak didalam rumah pompanya. Bila volume pada ruang pompa
membesar, maka akanmengalami penurunan tekanan, oli hydrolik akan
terhisap masuk, kemudian diteruskanke ruang kompressi. Oli yang
bertekanan akan dialirkan ke sistim hydrolik.
30

Gambar 2.25 Sirip Burung

c. Pompa Torak Aksial


Pompa hydrolik ini akan mengisap oli melalui pengisapan yang
dilakukan olehpiston yang digerakkan oleh poros rotasi. Gerak putar
dari poros pompa diubahmenjadi gerakan torak translasi, kemudian
terjadi langkah hisap dan kompressi secara bergantian. Sehingga aliran
oli hydrolik menjadi kontinyu.

Gambar 2.26 Pompa Torak Aksial

d. Pompa Torak Radial


Pompa ini berupa piston-piston yang dipasang secara radial, bila rotor
berputar secara eksentrik, maka piston 2 pada stator akan mengisap dan
mengkompressi secara bergantian. Gerakan torak ini akan berlangsung
terus menerus, sehingga menghasilkan aliran oli /fluida yang kontinyu.
31

Gambar 2.27 Pompa Radial

e. Pompa Sekrup
Pompa ini memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan
(engage), yang satu mempunyai bentuk cekung, sedangkan lainnya
berbentuk cembung, sehingga dapat memindahkan fluida oli secara
aksial kesisi lainnya. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi
helix yang saling bertautan.

Gambar 2.28 Pompa Sekrup

Karakteristik Pompa
Dari bernacam pompa yang paling banyak di gunakan pada industri-
industri besar adalah Pompa Roda gigi, pompa sudu-sudu (baling-
baling) danpompa torak.Karakteristik pompa dapat dilihat pada table
berikut:
32

Tabel 2.6 Karateristik Pompa

5. Tangki Hidrolik
Tangki hidrolik (reservoir) adalah bagian dari unit tenaga, ada yang
berbentuk segi empat ada pula yang berbentuk silinder. Berikut fungsi
tangki hidrolik adalah:
a. Penampung cairan hidrolik sebelum dan setelah beredar
b. Pendinginan cairan hidrolik. Didalam tangki cairan yang hidrolik
panas (setelah mamasuki rangkaian) bercampur dengan cairan dingin
(yang ada didalam tangki) sehingga mengalami pen-dinginan.
c. Menghilangkan gelembung udara. Gelembung yang masuk dalam
rangkaian sangat tidak menguntungkan dan hanya dapat hilang
setelah masuk tangki. Untuk itu maka ruang udara di dalam tangki
harus ada dan cukup untuk menghilangkan jika terjadi gelembung
d. Mengendapkan kotoran/pencemaran. Agar kotoran yang dibawa dari
rangkain dan tidak masuk lagi maka pemasangan saluran isap dan
saluran balik dipasang sejauh mungkin, dan dipasang
separator/penyekat.
33

e. Tempat pemasangan motor. Pompa dan perlengkapan lain.

Gambar 2.29 Tangki Hidrolik (Reservoir)

6. Cairan Hidrolik
Dalam istilah umum cairan hidrolik berbentuk minyak atau oli dan
digunakan sebagai media mempunyai fungsi sebagai penerus daya (Power
Transmisi), Pelumasan (Lubrication), Perapat (Sealing) dan Pendingin
(Cooling).
a. Fungsi cairan hidrolik
1) Cairan hidrolik sebagai media penerus daya harus mudah mengalir
melalui komponen salurannya sehingga tidak akan mudah daya yang
hilang. Demikian juga cairan hidrolik harus Incompressible atau
tidak mudah dimampatkan agar dapat seketika meneruskan daya bila
sumber daya memberikan tenaganya.
2) Cairan hidrolik sebagai pelumas harus mampu melumasi semua
bagian dalam dari komponen sistem hidrolik yang bergesekan dan
dilalui cairan hidrolik.
3) Cairan hidrolik sebagai perapat akan menjadi Oil Film antara bagian
pesawat yang tidak ada ring perapat yang menerima daya/tekanan.
4) Cairan hidrolik sebagai pendingin akan menyerap panas yang timbul
dalam sistem hidrolik. Penyerapan panas terjadi di bak
penampung(Reservoir) dengan adanya sirkulasi cairan hidrolik

b. Syarat – syarat Cairan hidrolik.


Untuk memenuhi fungi seperti tersebut diatas, cairan hidrolik harus
memenuhi syarat tertentu, diantaranya adalah :
1) Mampu mencegah terjadinya karat (korosi)
34

2) Tidak membentuk buih


3) Mampu mencegah terbentuknya lumpur endapan
4) Tidak mudah bersenyawa dengan air
5) Tidak mudah bocor, (mudah diperpak)
6) Tahan panas
7) Stabil dan tahan lama

2.2.3 Kontruksi dari Sistem Penggerak Hidrolik

2.2.4 Rumus Dasar Hidrolik


a. Debit Aliran ( )

Dimana :
= Kapasitas aliran (m3/s)

= Volume (m3)
= Panjang langkah (m)
= Jari – jari (m)
b. Kecepatan Aliran ( )

Dimana : = Kecepatan aliran (m/s)

= Kapasitas aliran (m3/s)


= Luas penampang (m2)
= Jari – jari (m)

c. Konstanta Reynolds (Re)

Dimana : = Bilangan Reynold

= Kecepatan aliran (m/s)


= Diameter penampang aliran (m)
35

= Viskositas kinematis (m2/s)


d. Kerja Pompa (W)

Dimana : = Kerja pompa (J)

= Kapasitas aliran (m3/s)


e. Efisiensi ( )

1. Rumus Perhitungan Silinder Dengan Beban


a. Gaya akibat beban ( )

Dimana : = Gaya akibat bebean (Newton)

= Massa beban (kg)

= Percepatan gravitasi (m/s2)

b. Kerja piston akibat gaya ( )

Dimana : = Kerja piston akibat gaya (J)

= Gaya akibat bebean (Newton)

= Panjang langkah (m)

c. Daya kerja piston ( )


36

Dimana : = Daya kerja piston (J/s)

= Kerja piston akibat gaya (J)

= Waktu (s)

2. Rumus Perhitungan Silinder Tanpa Beban


a. Gaya tekan ( )

Dimana: = Gaya tekan (Newton)

= Tekanan (Pa)

= 0,785 (D2 – Db2)

b. Tekanan akibat gaya tekan ( )

Dimana : = Tekana akibat gaya tekan (Pa)

= Gaya tekan (Newton)

= 0,785 (D2)

c. Volume silinder (V)

Dimana : = Volume silinder (m3)

= 0,785 (D2 – Db2)

= Panjang langkah (m)


37

d. Kapasitas aliran ( )

Dimana : = Kapasitas aliran (m3/s)

= Volume silinder (m3)

= Waktu (s)

e. Kecepatan aliran ( )

Dimana : = Kecepatan aliran (m/s)

= Kapasitas aliran (m3/s)

= 0,785 (D2 – Db2)

f. Kerja torak ( )

Dimana : = Kerja torak (J)

= Gaya tekan (Newton)

= Panjang langkah (m)

g. Daya torak (P)

Dimana : P = Daya torak (J/s)


= Kerja torak (J)
38

= Waktu (s)

2.3 Pressure Drop

2.3.1 Defenisi Fluida

Fluida adalah suatu zat yang dapat berubah secara terus-menerus bila

menerima tegangan geser walaupun tegangan geser itu relatif kecil. Fluida dalam

keadaan diam artinya tidak ada gaya geser yang bekerja pada fluida tersebut,

seluruh gaya akan tegak lurus pada bidang fluida dimana gaya tersebut bekerja.

2.3.2 Klasifikasi Fluida


Fluida merupakan suatu zat yang tidak mampu menahan gaya geser yang
bekerja sehingga akan mengalami deformasi. Fluida dapat diklasifikasikan
menjadi dua bagian, yaitu :

1. Fluida Newtonian
Fluida Newtonian adalah suatu jenis fluida yang memiliki kurva shear
stress dan gradien kecepatan yang linier, seperti air, udara, ethanol,
benzene, dll. Fluida Newtonian akan terus mengalir dan viskositas fluida
tidak berubah sekalipun terdapat gaya yang bekerja pada fluida. Viskositas
fluida akan berubah jika terjadi perubahan temperatur. Pada dasarnya
fluida Newtonian adalah fluida yang mengikuti hukum Newton tentang
aliran dengan persamaan :

u
t =m
�y

Dimana :
39

t = Tegangan geser pada fluida


m = Viskositas dinamik fluida

u
= Gradien kecepatan fluida
�y

a. Fluida Non-Newtonian
Fluida Non-Newtonian adalah fluida yang tidak tahan terhadap tegangan
geser (shear stress), gradien kecepatan (shear rate), dan temperatur seperti
cat, minyak pelumas, darah, bubur kertas, obat-obatan cair, dll. Viskositas
fluida Non-Newtonian merupakan fungsi dari waktu dimana gradien
kecepatannya tidak linier dan tidak mengikuti hukum Newton tentang
aliran.

Gambar 2.30 Hubungan antara shear stress – shear rate pada fluida
Newtonian dan non-newtonian

Ada beberapa model pendekatan untuk fluida Non-Newtonian, antara lain :


a. Bingham plastic
40

Bingham plastic adalah suatu model pendekatan fluida Non-Newtonian


dimana viskositasnya sangat bergantung pada shear stress dari fluida
tersebut, dmana semakin lama viskositasnya akan menjadi konstan.
Persamaan untuk model ini sebagai berikut :

u
t =t y + mp
�y

Dimana :

t<ty = zat padat

t>ty = fluida Newton

Gambar 2.30 Distribusi Kecepatan bingham plastic fluid pada pipa

b. Pseudo plastic (plastic semu)

Pseudo plastic adalah suatu model pendekatan fluida Non-Newtonian


dimana viskositasnya cenderung menurun tetapi shear stress dari fluida
ini akan semakin meningkat, misalnya vinil acetate/vinylpyrrolidone
co-polymer (PVP/PA). Persamaan untuk model ini sebagai berikut :
n
��
u�
t = K � � ,n <1
��y�
41

c. Dilatant
Dilatan adalah suatu model pendekatan fluida Non-Newtonian dimana
viskositas dan shear stress dari fluida ini akan cenderung mengalami
peningkatan, misalnya pasta. Persamaan untuk model ini sebagai
berikut :
n
��
u�
t = K � � ,n >1
��y�

d. Penggolongan lain

1) Thixotropic (shear thining), fluida dimana viskositasnya berubah


tergantung pada waktu dimana seolah-olah semakin lama semakin
berkurang meskipun laju gesernya tetap. Apabila terdapat gaya yang
bekerja pada fluida ini maka viskositasnya akan menurun, misalnya
cat, campuran tanah liat (clay), dan berbagai jenis gel.
2) Rheopectic (shear thickening), fluida dimana viskositasnya berubah
tergantung pada waktu dimana seolah-olah semakin lama semakin
besar, misalnya minyak pelumas dimana viskositasnya akan
bertambah besar saat minyak pelumas tersebut mengalami
guncangan. Dalam hal ini fluida rheopectic jika ada suatu gaya yang
akan bekerja padanya maka viskositasnya akan bertambah.
Ketika aliran melewati awal ujung pipa, distribusi kecepatan
didalam pipa mempunyai bentuk yang tidak teratur yang disebut aliran
sedang berkembang. Kondisi ini akan semakin berubah seiring
bertambahnya panjang dari inlet. Distribusi kecepatan yang terjadi
masing mengalami perubahan bentuk kontur. Setelah aliran mengalami
fully developed flow atau berkembang penuh, maka distribusi
kecepatan akan seragam untuk jarak dari inlet semakin panjang. Untuk
aliran laminar, panjang hidrodinamik untuk mencapai keadaan fully
developed flow adalah kurang lebih 120 kali diameter dalam pipa.
42

Gambar 2.31 Perilaku aliran dalam pipa dari aliran sedang berkembang hingga
aliran berkembang penuh
Dalam suatu aliran yang melewati sistem atau instalasi pipa maka
terjadi suatu hambatan aliran. Hambatan tersebut disebabkan oleh
faktor-faktor bentuk instalasi. Hambatan tersebut dapat menyebabkan
turunnya energi dari fluida yang sering disebut dengan kerugian
tekanan (head loss) atau penurunan tekanan (pressure drop) yang
disebabkan oleh pengaruh gesekan fluida (friction losses) dan
43

perubahan pola aliran. Pada kondisi aliran laminar, hambatan gesek


tersebut hanya dipengaruhi oleh kekentalan fluida. Namun, pada aliran
turbulent hambatan tersebut dipengaruhi oleh kekentalan fluida dan
kekasaran permukaan pipa.

2.3.3 Sifat-Sifat Dasar Fluida


Cairan dan gas disebut fluida, sebab zat tersebut dapat mengalir. Untuk
mengerti aliran fluida maka harus mengetahui beberapa sifat dasar fluida.
Adapun sifat–sifat dasar fluida yaitu; kerapatan (density), berat jenis (specific
gravity), tekanan (pressure), kekentalan (viscosity).
1. Kerapatan (density)

Kerapatan atau density dinyatakan dengan ρ (ρ adalah huruf kecil Yunani

yang dibaca “rho”), didefinisikan sebagai massa per satuan volume.

Dimana : ρ = kerapatan (kg/m3)

m = massa benda (kg)

v = volume (m3)

Kerapatan adalah suatu sifat karakteristik setiap bahan murni. Benda


tersusun atas bahan murni, misalnya emas murni, yang dapat memiliki
berbagai ukuran ataupun massa, tetapi kerapatannya akan sama untuk
semuanya. Satuan SI untuk kerapatan adalah kg/m 3. Kadang kerapatan
diberikan dalam g/cm3.
44

Tabel 2.7 Berbagai Kerapatan (Density) Bahan

Bahan Kerapatan ρ (kg/m3)


Cair

Air pada suhu 4oC 1,00 x 103

Darah, plasma 1,03 x 103

Darah seluruhnya 1,05 x 103

Air laut 1,025 x 103

Raksa 13,6 x 103

Alkohol, alkyl 0,79 x 103

Bensin 0,68 x 103

Gas
1,29
Udara
0,179
Helium
1,98
Karbon dioksida
0,598
Uap air pada suhu 100oC

2. Berat Jenis (Specific Gravity)


Berat jenis suatu bahan didefinikan sebagai perbandingan kerapatan bahan
terhadap kerapatan air.

3. Tekanan (Pressure)
Tekanan didefinisikan sebagai gaya per satuan luas, dengan gaya F
dianggap bekerja secara tegak lurus terhadap luas permukaan A, maka :
45

Dimana : P = tekanan (kg/m2)

F = gaya (kg)
A = luas permukaan (m2)
Satuan tekanan dalam SI adalah N/m2. Satuan ini mempunyai nama resmi
Pascal (Pa), untuk penghormatan terhadap Blaise Pascal dipakai 1 Pa = 1
N/m2. Namun untuk penyederhanaan, sering menggunakan N/m2.
4. Kekentalan (Viscosity)
Kekentalan (viscosity) didefinisikan sebagai gesekan internal atau gesekan
fluida terhadap wadah dimana fluida itu mengalir. Ini ada dalam cairan
atau gas, dan pada dasarnya adalah gesekan antar lapisan fluida yang
berdekatan ketika bergerak melintasi satu sama lain atau gesekan antara
fluida dengan wadah tempat ia mengalir. Dalam cairan, kekentalan
disebabkan oleh gaya kohesif antara molekul-molekulnya sedangkan gas,
berasal tumbukan diantara molekul-molekul tersebut.
Kekentalan fluida yang berbeda dapat dinyatakan secara kuantatif dengan
koefisien kekentalan, η yang didefinisikan dengan cara sebagai berikut :
b. Fluida diletakkan diantara dua lempengan datar. Salah satu lempengan
diam dan yang lain dibuat bergerak. Fluida yang secara langsung
bersinggungan dengan masing-masing lempengan ditarik pada
permukaanya oleh gaya rekat diantara molekul-molekul cairan dengan
kedua lempengan tersebut. Dengan demikian permukaan fluida sebelah
atas bergerak dengan laju v yang seperti lempengan atas, sedangkan
fluida yang bersinggungan dengan lempengan diam bertahan diam.
Kecepatan bervariasi secara linear dari 0 hingga v seperti ditunjukkan
gambar 2.31.
46

Gambar 2.31 Penentuan kekentalan


Kenaikan kecepatan dibagi oleh jarak dengan perubahan ini dibuat –
sama dengan v/I – disebut gradien kecepatan. Untuk menggerakkan
lempengan diatas memerlukan gaya, yang dapat dibuktikan dengan
menggerakkan lempengan datar melewati genangan fluida. Untuk fluida
tertentu, diperoleh bahwa gaya sebagai berikut :

Untuk fluida yang berbeda, fluida yang kental, diperlukan gaya yang
lebih besar. Tetapan kesebandingan untuk persamaan ini didefinisikan
sebagai koefisien kekentalan, η :

Dimana :

F = Gaya (N)

A = Luasan fluida yang bersinggungan dengan setiap

lempengan ( m2 )

V = Kecepatan fluida (m/s)

L = Jarak lempengannya (m)

η = Koefisien kekentalan (Pa.s)


47

Penyelesaian untuk η, kita peroleh η = FI/vA. Satuan SI untuk η adalah

N.s/m2 = Pa.s (pascal.detik). Dalam sistem cgs, satuan ini adalah

dyne.s/cm2 dan satuan ini disebut poise (P). Kekentalan sering

dinyatakan dalam centipoises (cP), yaitu 1/100 poise. Tabel 2.2

menunjukkan daftar koefisien kekentalan untuk berbagai fluida. Suhu

juga dispesifikasikan, karena mempunyai efek yang berpengaruh dalam

menyatakan kekentalan cairan ; kekentalan cairan seperti minyak motor,

sebagai contohnya, menurun dengan cepat terhadap kenaikan suhu.

Tabel 2.8 Koefisien Kekentalan Untuk Berbagai Fluida

Fluida Suhu Koefisien kekentalan η

(Pa.s)
Air 0 1,8x 103
20 1,0 x 103
100 0,3 x 103
Darah seluruh tubuh 37 4 x 103
Plasma darah 37 1,5 x 103
Alkohol ethyl 20 1,2 x 103
Mesin-mesin (SAE 10) 30 200 x 103
Gilserin 20 1500 x 103
Udara 20 0,018 x 103
Hidrogen 0 0,009 x 103
Uap air 100 0,013 x 103

2.3.4 Penjelasan Tentang Preassure Drop


48

Penurunan tekanan (pressure drop) adalah istilah yang digunakan untuk


menggambarkan penurunan tekanan dari satu titik dalam pipa atau tabung ke hilir
titik. "Penurunan tekanan" adalah hasil dari gaya gesek pada fluida ketika
mengalir melalui tabung yang disebabkan oleh resistensi terhadap aliran. Penentu
utama resistensi terhadap aliran fluida adalah kecepatan fluida melalui pipa dan
viskositas fluida. Aliran cairan atau gas akan selalu mengalir dalam arah
perlawanan paling sedikit (tekanan kurang).
Penurunan tekanan meningkat sebanding dengan gaya geser gesek dalam
jaringan pipa. Penurunan tekanan dipengaruhi oleh sebuah jaringan pipa yang
berisi rating kekasaran relatif tinggi serta banyak pipa fitting dan sendi,
konvergensi tabung, divergensi, kekasaran permukaan dan sifat fisik lainnya.
Selain itu Perubahan energi kinetik dan perhitungan penurunan tekanan yang
disebabkan oleh gesekan dalam pipa melingkar juga berpengaruh terhadap
pressure drop. Kecepatan aliran tinggi dan / atau cairan viskositas tinggi dalam
hasil penurunan tekanan yang lebih besar di bagian pipa atau katup atau siku.
Kecepatan rendah akan mengakibatkan penurunan tekanan yang lebih rendah atau
tidak ada.
Penurunan tekanan dapat dihitung dengan 2 nilai: Reynolds Nomor NRE
(menentukan laminer atau aliran turbulen), dan kekasaran relatif pipa, ε / D. NRE
= Dvρ / μ Dimana D adalah diameter pipa dalam meter, v adalah kecepatan aliran
dalam meter per detik, ρ adalah densitas dalam kilogram per meter kubik, dan μ
adalah dalam kilogram per meter-detik.

2.3.5 Kerugian Head (Head Losses)


1. Kerugian Head Mayor
Aliran fluida yang melalui pipa akan selalu mengalami kerugian head. Hal
ini disebabkan oleh gesekan yang terjadi antara fluida dengan dinding pipa
atau perubahan kecepatan yang dialami oleh aliran fluida (kerugian kecil).
Kerugian head akibat gesekan dapat dihitung dengan menggunakan salah
satu dari dua rumus berikut, yaitu :
a. Persamaan Darcy – Weisbach, yaitu :
49

(
f = f Re, e
D )

Dimana :
hf = Kerugian head karena gesekan (m)
f = Faktor gesekan
d = Diameter dalam pipa (m)
L = Panjang pipa (m)
v = Kecepatan aliran rata-rata fluida dalam pipa (m/s)

g = Percepatan gravitasi (m/s2)


dimana faktor gesekan (f) dapat dicari dengan menggunakan diagram
Moody.

Gambar 2.32 Diagram Moody


50

Tabel 2.9 Nilai kekerasan dinding untuk berbagai pipa

b. Persamaan Hazen – Williams


Rumus ini pada umumnya dipakai untuk menghitung kerugian head
dalam pipa yang relatif sangat panjang seperti jalur pipa penyalur air
minum. Bentuk umum persamaan Hazen – Williams, menurut yaitu :

Dimana :

hf = Kerugian gesekan dalam pipa (m)


51

Q = Laju aliran dalam pipa (m3/s)

L = Panjang pipa (m)

C = Koefisien kekasaran pipa Hazen – Williams

d = Diameter dalam pipa (m)

Diagram Moody telah digunakan untuk menyelesaikan permasalahan


aliran fluida di dalam pipa dengan menggunakan faktor gesekan pipa (f)
dari rumus Darcy – Weisbach. Untuk aliran laminar dimana Bilangan
Reynolds kurang dari 2000, faktor gesekan dihubungkan dengan Bilangan
Reynolds, menurut dinyatakan dengan rumus :

Untuk aliran turbulen dimana Bilangan Reynolds lebih besar dari 4000,
maka hubungan antara Bilangan Reynolds, faktor gesekan dan kekasaran
relatif menjadi lebih kompleks. Faktor gesekan untuk aliran turbulen
dalam pipa didapatkan dari hasil eksperimen, antara lain :
a. Untuk daerah complete roughness, rough pipes yaitu :

Dimana :

f = Faktor gesekan
ε = Kekasaran (m)
b. Untuk pipa sangat halus seperti glass dan plastik, hubungan antara
bilangan Reynold dan faktor gesekan, dirumuskan sebagai :
1) Blassius, untuk Re = 3000 – 100.000
52

2) Von Karman, Untuk Re sampai dengan 3.10 6.

3) Untuk pipa kasar, menurut Von Karman yaitu :

Dimana harga f tidak tergantung pada bilangan Reynold.


4) Untuk pipa antara kasar dan halus atau dikenal dengan daerah
transisi, menurut Corelbrook – Whiteyaitu :

2. Kerugian Head Minor

Selain kerugian yang disebabkan oleh gesekan, pada suatu jalur pipa juga

terjadi kerugian karena kelengkapan pipa seperti belokan, siku,

sambungan, katup dan sebagainya yang disebut dengan kerugian kecil

(minor losses). Besarnya kerugian minor akibat adanya kelengkapan pipa,

dirumuskan sebagai :
53

Dimana :

n = Jumlah kelengkapan pipa

k = Koefisien kerugian

v = Kecepatan aliran fluida dalam pipa.

Untuk pipa yang panjang (L/d >>> 1000), minor losses dapat diabaikan

tanpa kesalahan yang cukup berarti tetapi menjadi penting pada pipa yang

pendek.

2.3.6 Rumus Dasar

1. Mencari ketinggian pada experimental set-up pada pressure

h=P
ρ

Dimana : h = Ketinggian H2O (m)

P = Tekanan (Kg/cm2)

ρ = Kerapatan (Kg/m2)

2. Perbedaan ketinggian H2O antara pressure tap 1 dengan 2 (Δh12)

Δh12 = h1-h2

Dimana: h1 = Ketinggian H2O pada tap 1 (m)

h2 = Ketinggian H2O pada tap 2 (m)

Δh12 = Perbedaan ketinggian H2O (m)


54

3. Perbedaan ketinggian H2O antara pressure tap 1 dengan 3 (Δh13)

Δh13 = h1-h3

Dimana: h1 = Ketinggian H2O pada tap 1 (m)

h2 = Ketinggian H2O pada tap 3 (m)

Δh12 = Perbedaan ketinggian H2O (m)

4. Perbedaan ketinggian H2O antara pressure tap 2 dengan 3 (Δh23)

Δh13 = h2-h3

Dimana: h1 = Ketinggian H2O pada tap 2 (m)

h2 = Ketinggian H2O pada tap 3 (m)

Δh12 = Perbedaan ketinggian H2O (m)

5. Perbedaan tekanan antara pressure tap 1 dengan 2 (ΔP12)

ΔP12 = ρ.g.Δh12

6. Perbedaan tekanan antara pressure tap 2 dengan 3 (ΔP23)

ΔP23 = ρ.g.Δh23

7. Perbedaan tekanan antara pressure tap 1 dengan 3 (ΔP13)

ΔP13 = ρ.g.Δh13

8. Kapasitas aliran (Q)


Q=V
s
55

9. Kecepatan aliran fluida (v)

v=Q
A

10. Bilangan Reynold (Re)

Re = vD
u

Dimana : D = Diameter dalam pipa (m)

11. Koefisien gesek fluida dari jarak pressure tap 1 hingga 2 ( f12)

f12 = 2.g.D.Δ12
L12.v2

Dimana: L12 = Panjang pipa dari tap 1 ke tap 2 (m)

. 12. Koefisien gesek fluida dari jarak pressure tap 2 hingga 3 ( f23)

f23= 2.g.D.Δ23
L23.v2

L23 = Panjang pipa dari tap 2 ke tap 3 (m)

13. Koefisien gesek fluida dari jarak pressure tap 1 hingga 3 ( f13)

f12 = 2.g.D.Δ13
L13.v2

L13 = Panjang pipa dari tap 1 ke tap 3 (m)


56

2.4 Heat Exchanger


2.4.1 Prinsip – prinsip Perpindahan Kalor
Perpindahan kalor (heat transfer) merupakan suatu proses perpindahan
energy kalor antara dua fluida yang mempunyai perbedaan temperature,
perpindahan kalor pada umumnya terjadi melalui tiga mekanisme diantaranya
perpindahan kalor secara konveksi, perpindahan kalor secara konduksi dan
perpindahan kalor secara radiasi.

2.4.2 Klasifikasi Alat Penukar Kalor (Heat Transfer)


Klasifikasi alat penukar kalor dapat dikelompokkan berdasarka
pertimbangan kapasitas kerja dan penggunaan, diantara klasifikasi alat penukar
kalor :
1. Klasifikasi berdasarkan proses perpindahan
a. Tipe kontak tidak lansung
b. Tipe kontak lansung
2. Kasifikasi berdasarkan jumlah fluida yang mengalir
a. Dua jenis fluida
b. Tiga jenis fluida
c. N – jenis fluida (N lebih dari tiga)
3. Klasifikasi berdasarkan aliran
a. Aliran berlawanan (counter flow)
b. Aliran kombinasi
c. Aliran parallel (parallel flow)
4. Klasifikasi berdasarkan konstruksi
a. Konstruksi Tubular terdiri dari (Double tube dan Shell and Tube)
b. Konstruksi Tipe Pelat terdiri dari (Tipe pelat, Tipe Spiral, Tipe Koil)
c. Konstruksi dengan luas permukaan diperluas terdiri dari (plat fin, tube
fin)
d. Regenerative terdiri dari (Tipe Rotari, Tipe Drum, Tipe disk, Tipe
Matrik tetap)

2.4.3 Jenis-jenis Heat Exchanger


1. Macam-macam Heat Exchanger Berdasarkan Proses Transfer Panas
a. Heat Exchanger Tipe Kontak Tak Langsung
57

Heat exchanger tipe ini melibatkan fluida-fluida yang saling bertukar


panas dengan adanya lapisan dinding yang memisahkan fluida-fluida
tersebut. Sehingga pada heat exchanger jenis ini tidak akan terjadi kontak
secara langsung antara fluida-fluida yang terlibat.
b. Heat Exchanger Tipe Kontak Langsung
Suatu alat yang di dalamnya terjadi perpindahan panas antara satu atau
lebih fluida dengan diikuti dengan terjadinya pencampuran sejumlah
massa dari fluida-fluida tersebut disebut dengan heat exchanger tipe
kontak langsung. Perpindahan panas yang diikuti percampuran fluida-
fluida tersebut, biasanya diikuti dengan terjadinya perubahan fase dari
salah satu atau labih fluida kerja tersebut. Terjadinya perubahan fase
tersebut menunjukkan terjadinya perpindahan energi panas yang cukup
besar. Perubahan fase tersebut juga meningkatkan kecepatan perpindahan
panas yang terjadi.
2. Macam-macam Heat Exchanger Berdasarkan Jumlah Fluida Kerja
Sebagaan besar proses perpindahan panas antar fluida, melibatkan hanya
dua jenis fluida yang berbeda. Semisal air dengan air, uap dengan air, uap
dengan air laut, dan lain sebagainya. Namun ada pula heat exchanger yang
melibatkan lebih dari dua fluida kerja yang berbeda jenis. Umumnya heat
exchanger jenis ini digunakan pada proses-proses kimiawi, seperti pada
contoh sistem di bawah ini yaitu proses penghilangan kandungan nitrogen
dari bahan baku gas alam. Pada sistem ini dihasilkan gas alam dengan
kandungan nitrogen yang lebih rendah sehingga penggunaan gas alam
tersebut pada kebutuhan porses pembakaran selanjutnya dapat lebih
efisien.
3. Macam-macam Heat Exchanger Berdasarkan Bidang Kotak Perpindahan
Panas
Parameter yang digunakan dalam pengklasifikasian ini adalah sebuah
satuan besar luas permukaan bidang kontak di setiap volume heat
exchanger. Semakin luas permukaan bidang kontak perpindahan panas per
satuan volume, maka akan semakin besar efisiensi perpindahan panas yang
58

didapatkan. Namun hal tersebut harus juga memperhatikan jenis fluida


kerja yang digunakan. Semakin besar kandungan partikel di dalam fluida
tersebut, maka semakin rendah juga kebutuhan luas permukaan bidang
kontak perpindahan panas pada heat exchanger.
2.4.4 Aplikasi Heat Exchanger
1. Wet Cooling Tower
Wet cooling tower biasa dipergunakan pada pembangkit-pembangkit
listrik tenaga uap yang terletak jauh dari sumber air. Udara bekerja sebagai
media pendingin, sedangkan air bekerja sebagai media yang didinginkan.
Air disemprotkan ke dalam cooling tower sehingga terjadi percampuran
antara keduanya diikuti dengan perpindahan panas. Sebagian air akan
terkondensasi lagi sehingga terkumpul pada sisi bawah cooling tower,
sedangkan sebagian yang lain akan menguap dan ikut terbawa udara ke
atmosfer.

Gambar 2.33 Wet Cooling Tower

2. Heat exchanger dengan tubing bersirip


ini digunakan jika salah satu fluida memiliki tekanan kerja dan temperatur
yang lebih tinggi daripada fluida kerja yang lainnya. Sehingga dengan
adanya sirip tersebut terjadi perpindahan panas yang efisien. Aplikasi
59

tubing dengan sirip ini digunakan seperti pada kondensor dan evaporator
pada mesin pendingin (air conditioning), kondensor pada pembangkit
listrik tenaga uap, pendingin oli pada pembangkit listrik, dan lain
sebagainya.
2.4.5 Rumus Dasar
1. Debit Aliran

Dimana :
Q = Debit Aliran Fluida (m3/s)
V = Volume (m3)
t = Waktu (s)
2. Kecepatan Fluida

Dimana :
v = Kecepatan Aliran Fluida
Q = Debit Aliran Fluida (m3/s)
A = Luas Penampang (m2)
3. Laju Aliran massa (mass flow)

Dimana :
m = Massa (kg)
= Mass flow

t = Waktu (s)

4. Bilangan Prandtl

Dimana :
60

Pr = Bilangan Prandtl
ν =Viskositas kinematik fluida (m2/s)
α = Thermal diffusivity (m2/s)
cp = Kalor spesifik (J/kg K)
μ = Viskositas fluida (Kg/m.s)
k = Konduktifitas thermal (W/m.K)

5. Perhitungan Keseimbangan Energi


Nilai keseimbangan energy yang didapat dari perhitungan laju aliran mass,
panas spesifik dan selisih temperature, nilai energy yang dihasilkan akan
semakin tinggi jika memilki selisih temperature yang besar, sehingga
hubungan kenaikan energy berbanding lurus dengan kenaikan temperature.

Dimana :
= Kapasitas Perpindahan Panas/Heat Duty (W)

= Laju Aliran Massa (kg/s)

= Kalor Spesifik (J/kg.K)

= Selisih Temperatur (K)

6. Reynold Number
Merupakan aliran yang tidak memiliki dimensi, bilangan ini digunakan
untuk dapat menentukan jenis aliran fluida yang terjadi didalam
penampang pipa, aliran tersebut terdiri dari aliran laminar, transisi dan
turbulent.

Dimana :
= Bilangan reynold

= Laju aliran massa (Kg/s)


61

= Diameter pipa ( )

= Viskositas dinamik )

7. Bilangan Nusselt

Dimana :
Re = Bilangan Reynold
Pr = Bilangan Prandtl
n = 0.4 (untuk pemanas)
0.3 (untuk pendingin)
8. Perhitungan Koefisien Konveksi
Koefisien h adalah koefisien perpindahan kalor konveksi yang merupakan
konstanta proporsionalitas pada persamaan pada hukum Newton
pendingin, Koefisien perpindahan panas antara fluida dan permukaan pipa
dapat menggunakan persamaan.

Diamana :
= Koefisien konveksi (W/m2.K)

= Bilangan Nusselt

= Konduktifitas thermal (W/m.K)

= Diameter pipa (m)

9. Total Koefisien Perpindahan Panas Konveksi


Setelah melakukan perhitungan nilai koefisien konveksi dari masing–
masing pipa, maka dapat melakukan perhitungan untuk total nilai koefisien
konveksi secara keseluruhan.
62

Dimana :
U = Total koefisien konveksi (W/m2.K)
hin = koefisien konveksi dalam (W/m2.K)
hout = koefisien konveksi luar (W/m2.K)

2.5 Getaran Mekanik


2.5.1 Penjelasan Getaran
Getaran adaah gerakan system teknik yang mengandung massa dan
elastisitas yang mampu bergerak secara relative dalam interval waktu tertntu.
Getaran juga merupakan energi sisa yang tidak diinginkan karena menimbulkan
bising, merusak bagian mesin, memindahkan gaya yang tidak diinginkan dan
menggerakkan benda yang didekatnya.
2.5.2 Klasifikasi Getaran
Getaran dapat diklasifikasikan sebeagai berikut:
a. Getaran bebas
Merupakan osilasi suatu system ke posisi keseimbangan yang terjadi tanpa
gaya dari luar. Getaran bebas merupakan perpindahan dari titik
keseimangan yang menghasilkan perbedaan energi potensial dari posisi
keseimbangan system kondisi sebelumnya.
b. Getaran paksa
Dapat didefinisikan sebagai getaran yang terjadi pada suatu system karena
adanya rangsangan eksitasi yang dapat seagai gaya. Jika rangsangan
tersebut berosilasi maka system dipaksa untuk bergetar pada frekuensi
rangsangan. Jika frekuensi rangsangan sama dengan salah satu frekuensi
natural sistem maka akan dalam keadaan resonansi, dan osilasi menjadi
besar dan berbahaya.
c. Getaran tak teredam
63

Adalah getaran dimana tidak ada kehilangan energy yang disebabkan


tahanan selama osilasi.
d. Getaran teredam
Adalah getaran dimana terjadi kehilangan energy yang disebabkan tahanan
selama osilasi.
e. Getaran linier
Adalah semua komponen yang bergetar, naik itu pegas, massa dan
perbedaan berlaku linier.

f. Getaran deterministic
Adalah getaran dimana harga eksitasi yang bekerja pada sistem diketahui
setiap saat. Eksitasi diplot kemudian perhitungan numeric ekuivalen
eksitasi pada model dilakukan.
g. Getaran Random
Adalah getaran dimana harga eksitasi yang bekerja pada sistem tidak dapat
diperkirakan. Contoh getaran ini adalah gempa bumi, kekasaran
permukaan jalan, dan kecepatan angin.
2.5.3 Rumus Dasar
a. Kekakuan Balok Lentur

KBalok lentur = 192EI


L3

Dimana:
k = Konstanta kekakuan (N/m)
E = Elastisitas bahan (N/m)
I = Momen inersia (m4)
L = Panjang balok (m)
H = Tinggi balok (m)
B = Tebal balok (m)
b. Konstanta Pegas
F = -k . Δx
64

Dimana:
F = Gaya pegas (N)
k = Konstanta pegas (N/m)
Δx = Panjang deformasi pegas (m)

c. Frekuensi Eksitasi
=2пN

Dimana:
 = Frekuensi Eksitasi (rad/s)
N = Jumlah putaran per menit (rpm)
d. Gaya Eksitasi

F0x = m.e. . cos .t dan F0y = m.e. . sin .t

F0 = iF0x + jF0y

Dimana:
F0 = Gaya eksitasi (N)
F0x,F0y= Gaya eksitasi pada setiap sudut α, sumbu x dan y
m = Massa bagian yang berputar (kg)
e = Jarak dari pusat poros ke pusat massa unbalance bagian
yang berputar
 = Frekeunsi eksitasi (rad/s)
t =waktu (s)
e. Frekuensi Pribadi

n = k
m
65

Dimana:
n = Frekuensi pribadi (rad/s)
k = Konstanta kekakuan (N/m)
m = Massa sistem (kg)

f. Rasio Redaman

ᶓ= c
2 mn

Dimana:

ᶓ = Rasio redaman
c = Konstanta Redaman (Ns/m)
m = Massa (kg)
n = Frekuensi pribadi (rad/s)