Anda di halaman 1dari 3

TUGAS BAHASA INDONESIA

Teks Ceramah

“Janji Adalah Malapetaka.”

Namira Zikri Rachman

9686

XI IIS 2

DINAS PENDIDIKAN

SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 65 JAKARTA

TAHUN AJARAN 2018/2019


Assalamualaikum Wr.Wb, Selamat Pagi dan salam sejahtera bagi kita
semua, Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan YME.
Karena telah memberikan kita anugerah yang luar biasa, berupa kesehatan dan
kesempatan untuk berkumpul di sini.
Kepada Ibu Leni yang saya hormati serta teman- teman sekalian yang saya
cintai, izinkan saya memberikan sebuah pertanyaan, perihal “Apakah kita sering
merasa mampu? Apakah kita sering merasa bisa?” manusia akan selalu merasa
mampu, karena rupanya merasa mampu adalah sifat paling mendasar yang ada
pada manusia, hingga jika saya kaitkan dengan sebuah janji, maka Anda dan Saya
sebagai manusia akan senang hati berjanji dan membuatnya jadi kebiasaan yang
kemudian dimudahkan, bahkan berucap sumpah seolah yakin dan mampu untuk
menjalankan, sebab pikir kita dengan janji semua akan mudah terselesaikan,
padahal jika kita pandai, maka kita akan spontan mempertanyakan “Mampukah
kita Menepatinya?”, tapi kali ini saya akan tekankan bahwasannya kita adalah
manusia, MH ciptaan Tuhan yang terkenal akan sifat meningginya, merasa besar
padahal selalu masih ada yang diatasnya, merasa sanggup menepati seolah
hidupnya selalu pasti, maka sekarang pertanyaannya adalah “Mengapa Kita Harus
Membuat Janji?”, pada dasarnya manusia membuat janji karena berada pada
posisi terancam, atau karena tak lagi punya jalan keluar sehingga memohon pada
seseorang agar memberikan kepercayaan, maka jika dipandang dengan
sederhana, janji seolah menjadi suatu tindakan yang hadir karena terpaksa, bahkan
suatu tindakan yang tidak beriringan dengan ketulusan, oleh karena itu
kesempatan yang diberikan pada saya untuk berdiri disini membawa saya untuk
mengangkat sebuah tema yang sering kali kita temukan bahwasannya “Janji
Adalah Malapetaka”
Sebelumnya ada yang tau apa itu Malapetaka?, malapetaka adalah kata
yang terdefinisikan sebagai sebuah musibah bahkan dapat diartikan pula sebagai
bentuk kesengsaraan, maka ‘janji adalah malapetaka’ dapat diartikan bahwa janji
membawa seseorang pada kesengsaraan, tapi tenang malapetaka hanya hadir
kepada siapapun yang telah merasa dewasa, malapetaka akan hadir bagi siapapun,
yang mengucap janji untuk pelarian sementara, malapetaka akan hadir bagi
manusia yang merasa berbicara manis akan menyelamatkan dirinya, padahal jika
kita tela’ah lebih baik, “Bagaimana orang lain yang menerima sumpah, yang
mempercayai janji?, tapi begitu saja dikhianati.” kecewa adalah jawaban paling
benar untuk terucap, lalu sekarang “sudah berapa kali kita menggumbar janji?
menjerumuskan seseorang pada rasa kecewa? Dan tak merasa bersalah karena kita
lupa tengah bersumpah?” padahal gerbang dari malapetaka adalah rasa kecewa,
sebab kecewa mampu membuat kita tidak lagi punya siapa-siapa, kehilangan
segalanya, dilupakan begitu saja. Lalu bisa apa kita Saat hal itu kelak
menghampiri kita? Berteriak mengucapkan janji kembalikah? Menangis agar
mereka mempercayaikah? Jika kita memilih melakukan hal tersebut maka hidup
tanpa harga diri di dalam Jiwa akan menelan kita sedemikian rupa,
menghancurkan batin, membuat hidup tak lagi berarti, dan saat itu semua orang
akan bangga mengucapkan Selamat pada kita karena menuai hasil dari Janji yang
mengiring kita pada sebuah Malapetaka.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengajak Anda untuk cobalah
menjadi dewasa, bukan merasa dewasa, cobalah menjadi sosok yang mencari
jalan keluar tanpa putus asa, berhenti menghasut seseorang agar percaya melalui
ucapan manis yang meleset begitu melodis, tapi mulailah jadi seseorang yang
malu berucap manis karena tau bahwa dirinya masih makhluk tanpa daya,
mulailah jadi seseorang yang enggan mengecewakan orang lain, mulailah jadi
seseorang yang menghindari mencelakakan dirinya sendiri, karena satu satunya
orang yang peduli adalah diri Anda sendiri maka percayalah Anda bisa, hingga
Janji adalah Malapetaka enggan untuk menghampiri Anda.