Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR LANJUT USIA


1. Pengertian lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.
13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah
seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk,
2008). Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia
(lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit,
namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai
dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres
lingkungan. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan
seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres
fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan
untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009).

2. Batasan lansia
Departemen Kesehatan RI (dalam Mubarak et all, 2006) membagi
lansia sebagai berikut:
a. Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa vibrilitas
b. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium
c. Kelompok usia lanjut (65 tahun >) sebagai senium
Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-
batasan umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:
a. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal
1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai
usia 60 (enam puluh) tahun ke atas”.
b. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi
menjadi empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah
45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua
(old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90
tahun.
c. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :
pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities) ialah
40-55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun, keempat (fase
senium) ialah 65 hingga tutup usia. d. Menurut Prof. Dr. Koesoemato
Setyonegoro masa lanjut usia (geriatric age): > 65 tahun atau 70 tahun.
Masa lanjut usia (getiatric age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan
umur, yaitu young old (70-75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old
( > 80 tahun) (Efendi, 2009).

3. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia


Menurut Mubarak et all (2006), perubahan yang terjadi pada lansia
meliputi perubahan kondisi fisik, perubahan kondisi mental, perubahan
psikososial, perubahan kognitif dan perubahan spiritual.
a. Perubahan kondisi fisik meliputi perubahan tingkat sel sampai ke
semua organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran,
penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh,
muskuloskeletal, gastrointestinal, genitourinaria, endokrin dan
integumen.
b. Sistem integumen
Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering
dan kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan
adiposa, kulit pucat dan terdapat bintik-bintik hitam akibat
menurunnya aliran darah ke kulit dan menurunnya sel-sel yang
memproduksi pigmen, kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal
dan rapuh, pada wanita usia > 60 tahun rambut wajah meningkat,
rambut menipis atau botak dan warna rambut kelabu, kelenjar keringat
berkurang jumlah dan fungsinya. Fungsi kulit sebagai proteksi sudah
menurun
c. Perubahan kondisi mental
Pada umumnya usia lanjut mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotor. Dari segi mental emosional sering muncul
perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas, adanya
kekacauan mental akut, merasa terancam akan timbulnya suatu
penyakit atau takut diterlantarkan karena tidak berguna lagi.
Perubahan psikososial
Pada saat ini orang yang telah menjalani kehidupannya dengan
bekerja mendadak diharapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan
masa pensiun. Bila ia cukup beruntung dan bijaksana, mempersiapkan
diri untuk pensiun dengan menciptakan minat untuk memanfaatkan
waktu, sehingga masa pensiun memberikan kesempatan untuk
menikmati sisa hidupnya. Tetapi banyak pekerja pensiun berarti
terputus dari lingkungan dan teman-teman yang akrab dan
disingkirkan untuk duduk-duduk di rumah. Perubahan psikososial
yang lain adalah merasakan atau sadar akan kematian, kesepian akibat
pengasingan diri lingkungan sosial, kehilangan hubungan dengan
teman dan keluarga, hilangnya kekuatan dan ketegangan fisik,
perubahan konsep diri dan kematian pasangan hidup.
d. Perubahan kognitif
Perubahan fungsi kognitif di antaranya adalah:
1) Kemunduran umumnya terjadi pada tugas-tugas yang
membutuhkan kecepatan dan tugas tugas yang memerlukan
memori jangka pendek.
2) Kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran.
3) Kemampuan verbal dalam bidang vokabular (kosakata) akan
menetap bila tidak ada penyakit.
e. Perubahan spiritual
a. Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya.
b. Lanjut usia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini
terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari.
A. KONSEP DASAR ASMA
1. Definisi
Asma adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan respon
dari trachea dan bronkus terhadap bermacam-macam stimulus yang ditandai
dengan menyempitnya bronkus dan bronkiolus dan sekresi yang berlebihan
dari kelenjar-kelenjar mukosa bronkus. Asma juga disebut dengan penyakit
paru-paru kronis yang menyebabkan penderita sulit bernapas. Hal ini
disebabkan karena adanya pengencangan dari otot sekitar saluran
pernafasan, peradangan, rasa nyeri, pemebngkakan dan iritasi pada saluran
nafas di paru-paru. Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas
mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan
tertentu, yang menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat berulang
namun reversible (Nurarif & Kusuma, 2015). Asma adalah penyakit jalan
nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berspon
dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Smeltzer, 2002 : 611)

2. Etiologi
Menurut berbagai penelitian menunjukkan dasar gejala asma yang
inflamasi dan respons saluran napas yang berlebihan ditandai dengan
adanya kalor (panas karena vasodilatasi), tumor (esudasi plasma dan
edema), dolor (rasa sakit karena rangsangan sensori), dan function laesa
(fungsi yang terganggu) (Sudoyo, 2009).
Sedangkan menurut Nurarif & Hardhi (2015) pemicu timbulnya serangan-
serangan asma adalah:
 Infeksi: virus yang menyebabkan flu, bakteri dan jamur, infeksi virus
RSV.
 Cuaca/iklim: perubahan tekanan udara, suhu udara berubah secara
mendadak, angin dan kelembapan udara. Zat iritan, bahan kimia, asap
rokok, emosional.
 Genetik : keturunan. Resiko orang tua dengan asma maka akan
mempunyai anak dengan asma tiga kali lipat lebih tinggi.
 Inhalan: debu, kapuk, tungau, bulu binatang, serbuk sari, bau asap, uap
cat.
 Makanan: putih telur, susu sapi, kacang tanah, coklat, biji-bijian, tomat.
 Obat: aspirin
 Kegiatan fisik: olahraga berat, kecapaian, tertawa terbahak-bahak.
 Jenis kelamin, jumlah kejadian asma pada anak laki-laki lebih banyak
dibandingkan anak perempuan (Van, 2004). Peningkatan resiko pada
anak laki-laki disebabkan oleh semakin menyempitnya saluran
pernapasan, perubahan pada pita suara yang cenderung membatasi
respon bernapas.
 Faktor lingkungan : adanya tengau debu rumah, binatang kecoa, makan-
makanan tertentu, bahan pengawet dan penyedap, obat-obatan tertentu,
iritan, ekspresi emosi yang berlebihan.

3. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya penyempitan saluran nafas pada asma disebabkan
oleh adanya proses :
1. Kontraksi otot polos bronkus (bronkospasme)
2. Adanya hiperreaktifitas bronkus
3. Proses peradangan (inflamasi) saluran napas
(Samekto, 2002)
(Pathway terlampir)
4. Manifestasi
 Sesak napas saat beraktivitas berat ataupun berbicara
 Batuk berdahak
 Nadi lemah
 Suara napas mengi di pagi hari atau setiap kali berbicara dan beraktivitas
 Frekuensi respirasi > 25 x/menit
 Pernapasan cuping hidung
 Tarikan dinding dada lebih dalam
 Napas dangkal
 Batuk dan pilek menahun

5. Klasifikasi
Asma dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Asma bronkial
2. Asma kardial
Sedangkan menurut McConnel & Holgate (Sudoyo, 2009) asma dapat
dibedakan menjadi:
1. Asma ekstrinsik
2. Asma intrinsik
3. Asma yang berkaitan dengan penyakit paru

6. Diagnostik Penunjang
1. Spirometer : dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup
(nebulizer/inhaler), positif jika peningkatan VEP/KVP > 20%.
2. Sputum : eosinofil meningkat
3. Eosinofil darah meningkat.
4. Uji kulit
5. RO dada yaitu patologis paru/komplikasi asma
6. AGD: terjadi pada asma berat pada fase awal terjadi hiposekmia dan
hipokapnia (PCO2 turun) kemudian fase lanjut normokapnia dan
hiperkapnia (PCO2 meningkat).
7. Foto dada AP dan lateral: hiperinflasi paru, diameter anteroposterior
membesar pada foto lateral, dapat terlihat bercak konsolidasi yang
tersebar.

7. Penatalaksanaan
Program penatalaksanaan asma meliputi 7 komponen (Nurarif & Hardhi,
2015), yaitu:
1. Edukasi
Edukasi yang baik akan menurunkan morbiditi dan mortaliti. Edukasi
tidak hanya ditujukan untuk penderita dan keluarga tapi juga pihak lain
yang membutuhkan seperti pemegang keputusan, pembuat perencanaan
bidang kesehatan/asma, profesi kesehatan.
2. Menilai dan memonitor berat asma secara berkala
Penilaian klinis berkala antara 1-6 bulan dan monitoring asma oleh
penderita sendiri mutlak dilakukan pada penatalaksanaan asma.
3. Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus
4. Merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang
Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut
sebagai asma terkontrol. Terdapat 3 faktor yang perlu dipertimbangkan
yaitu medikasi (obat-obatan), tahapan pengobatan, dan penanganan asma
mandiri (Pelangi asma).
5. Menetapkan pengobatan pada serangan akut
Pengobatan serangan ringan yang paling baik adalah pengobatan inhalasi
agonis beta-2. Pengobatan pada serangan sedang adalah nebulasi agonis
beta-2 tiap 4 jam dengan alternatif agonis beta-2 subkutan, aminofilin IV,
adrenalin 1/1000 0,3 ml SK. Pengobatan pada serangan berat terbaik
pengobatan yang dilakukan adalah nebulisasi agonis beta-2 tiap 4 jam
dengan pengobatan alternatif agonis beta-2 SK/IV, dan adrenalin 1/1000
0,3 ml SK. Sedangkan pengobatan yang mengancam jiwa seperti
serangan akut berat dapat dipertimbangkan dengan menggunakan
intubasi dan ventilasi mekanis.
6. Kontrol secara teratur
Penatalaksanaan jangka panjang terdapat 2 hal yang harus diperhatikan
dokter adalah follow up secara teratur dan rujuk ke ahli paru untuk
konsultasi atau penanganan lanjut bila diperlukan.
7. Pola hidup sehat
a. Meningkatkan kebugaran fisik, dengan cara olahraga mengikuti
Senam Asma Indonesia (SAI) adalah salah satu bentuk olahraga yang
dianjurkan karena melatih dan menguatkan otot-otot pernapasan.
b. Berhenti atau tidak pernah merokok
c. Lingkungan kerja, kenali lingkungan kerja yang berpotensi dapat
menimbulkan asma.

8. Pencegahan
Menurut Baughman (2000) adalah :

a. Evaluasi dan identifikasi protein asing yang mencetuskan serangan


b. Lakukan uji kulit terhadap bahan dan matras dan bantal jika serangan
terjadi pada malam hari
c. Lakukan uji kulit yang dibuat dengan senyawaan kerokan antigen dari
rambut atau kulit jika serangan tampak berkaitan dengan binatang
d. Hindari pemajanan terhadap bercak serbuk yang membahayakan, misal
: tinggal dalam ruangan ber-AC selama musim serbuk atau jika
memungkinkan ubah zona iklim
e. Cegah asma yang diakibatkan oleh latihan (EIA) dengan melakukan
inspirasi udara pada 37ºC dan kelembaban relatif 100%
f. Tutup hidung dan mulut dengan masker untuk aktivitas yang
menyebabkan serangan
Pathway

Faktor pencetus Basofil mengeluarkan Permiabelitas


- Alergen mediator histamine, kapiler
- Stress platelet, bradikinin meningkat
- Cuaca/iklim

Edema mukosa,
sekresi produktif,
kontriksi otot
Spasme otot polos sekresi polos meningkat
kelenjar bronkus meningkat GANGGUAN
PERTUKARAN
GAS
Konsentrasi
Penyempitan/obstruksi oksigen dalam
proksimal dari bronkus darah menurun
pada tahap ekspirasi
dan inspirasi
hipoksemia
a
Batuk, wheezing, Tekanan partial
sesak napas oksigen dialveoli
Suplai darah dan
menurun
oksigen ke jantung
berkurang
KETIDAKEFEKTIFAN
BERSIHAN JALAN
Penyempitan
NAPAS Tekanan darah
jalan napas
menurun

Peningkatan Kelemahan dan


kerja otot keletihan
pernapasan

INTOLERANSI
KETIDAKEFEK AKTIVITAS
TIVAN POLA
NAPAS

Sumber: Sibuea (2009), Rahajoe (2012), Aru (2009), dalam Nurarif &
Hardhi (2015)
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi
pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu maupun pada diri
individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada gejala sama sekali sampai
kepada sesak yang hebat yang disertai gangguan kesadaran. Keluhan dan gejala
tergantung berat ringannya pada waktu serangan. Pada serangan asma bronkial
yang ringan dan tanpa adanya komplikasi, keluhan dan gejala tak ada yang khas.
Keluhan yang paling umum ialah : Napas berbunyi, Sesak, Batuk, yang timbul
secara tiba-tiba dan dapat hilang segera dengan spontan atau dengan pengobatan,
meskipun ada yang berlangsung terus untuk waktu yang lama.

B. Pemeriksaan Fisik
Berguna selain untuk menemukan tanda-tanda fisik yang mendukung
diagnosis asma dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, juga berguna
untuk mengetahui penyakit yang mungkin menyertai asma, meliputi
pemeriksaan :
1) Status kesehatan umum. Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan,
gelisah, kelemahan suara bicara, tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan
yang meningkatan, penggunaan otot-otot pembantu pernapasan sianosis
batuk dengan lendir dan posisi istirahat klien.
2) Integumen. Dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan
pigmentasi, turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau bersisik,
perdarahan, pruritus, ensim, serta adanya bekas atau tanda urtikaria atau
dermatitis pada rambut di kaji warna rambut, kelembaban dan kusam.
3) Thorak. Inspeksi: Dada di inspeksi terutama postur bentuk dan kesemetrisan
adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otot-otot
Interkostalis, sifat dan irama pernafasan serta frekwensi peranfasan.
Palpasi: Pada palpasi di kaji tentang kosimetrisan, ekspansi dan taktil
fremitus. Perkusi: Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor
sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah. Auskultasi: Terdapat suara
vesikuler yang meningkat disertai dengan expirasi lebih dari 4 detik atau
lebih dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernafasan dan Wheezing.
4) Sistem pernafasan. Batuk mula-mula kering tidak produktif kemudian
makin keras dan seterusnya menjadi produktif yang mula-mula encer
kemudian menjadi kental. Warna dahak jernih atau putih tetapi juga bisa
kekuningan atau kehijauan terutama kalau terjadi infeksi sekunder.
a) Frekuensi pernapasan meningkat
b) Otot-otot bantu pernapasan hipertrofi
c) Bunyi pernapasan mungkin melemah dengan ekspirasi yang
memanjang disertai ronchi kering dan wheezing.
d) Ekspirasi lebih daripada 4 detik atau 3x lebih panjang daripada inspirasi
bahkan mungkin lebih.
e) Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan:
 Hiperinflasi paru yang terlihat dengan peningkatan diameter
anteroposterior rongga dada yang pada perkusi terdengar
hipersonor.
 Pernapasan makin cepat dan susah, ditandai dengan pengaktifan
otot-otot bantu napas (antar iga, sternokleidomastoideus), sehingga
tampak retraksi suprasternal, supraclavikula dan sela iga serta
pernapasan cuping hidung.
 Pada keadaan yang lebih berat dapat ditemukan pernapasan cepat
dan dangkal dengan bunyi pernapasan dan wheezing tidak
terdengar(silent chest), sianosis.
5) Sistem kardiovaskuler. Tekanan darah meningkat, nadi juga meningkat
Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan:
a) takhikardi makin hebat disertai dehidrasi.
b) Timbul Pulsus paradoksusdimana terjadi penurunan tekanan darah
sistolik lebih dari 10 mmHg pada waktu inspirasi. Normal tidak lebih
daripada 5 mmHg, pada asma yang berat bisa sampai 10 mmHg atau
lebih.
c) Pada keadaan yang lebih berat tekanan darah menurun, gangguan irama
jantung

C. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 DS : Faktor pencetus Ketidakefektifan
- Klien mengatakan ↓ bersihan jalan
sesak napas napas
- Klien mengatakan Mengeluarkan mediator:
batuk tidak dapat histamin, platelet,
keluar bradikinin

DO : Permiabilitas kapiler
- Adanya suara meningkat
napas tambahan ↓
dan wheezing Kontriksi otot polos
- Pernapasan meningkat
>25x/m ↓
Spasme otot polos sekresi
kelenjar bronkus meningkat

Obstruksi bronkus pada
tahap ekspirasi dan inspirasi

Batuk, wheezing, sesak
napas

Ketidakefektifan bersihan
jalan napas

DS : Faktor pencetus Gangguan


 - Klien ↓ pertukaran gas
mengatakan sesak Mengeluarkan mediator:
napas histamin, platelet,
bradikinin
DO : ↓
- Frekuensi Permiabilitas kapiler
napas >25 x/m meningkat
- Frekuensi nadi ↓
>90x/m Kontriksi otot polos
- Dispnea meningkat
- Sianosis ↓
- GDA Konsentrasi oksigen dalam
abnormal darah menurun

Hipoksemia

Gangguan pertukaran gas
3 DS: Faktor pencetus Ketidakefektifan
- Klien mengatakan ↓ pola napas
sering sakit dada Mengeluarkan mediator:
apabila kelelahan. histamin, platelet,
bradikinin
DO: ↓
- Respirasi Permiabilitas kapiler
menunjukkan > 25 meningkat
x/menit ↓
- Terdengar suara Kontriksi otot polos
wheezing meningkat
- Klien ↓
menunjukkan Spasme otot polos sekresi
terengah-engah kelenjar bronkus meningkat

Penyempitan dari bronkus
pada tahap ekspirasi dan
inspirasi

Batuk, wheezing, sesak
napas

Penyempitan jalan napas

Ketidakefektifan pola napas
4 DS: Faktor pencetus Nyeri akut
- Klien mengeluh ↓
sesak sampai ke Mengeluarkan mediator:
ulu hati histamin, platelet,
- Klien mengatakan bradikinin
posisi apapun tidak ↓
menunjukkan rasa Permiabilitas kapiler
nyaman meningkat
- Klien ↓
menunjukkan skala Kontriksi otot polos
nyeri 2-3 meningkat

DO: Spasme otot polos sekresi
- Klien terlihat kelenjar bronkus meningkat
gelisah ↓
- TTV menunjukkan Obstruksi bronkus pada
ketidaknormalan tahap ekspirasi dan inspirasi
- Klien nampak ↓
meringis kesakitan Batuk, wheezing, sesak
menahan sakit napas

Nyeri akut
5 DS: Faktor pencetus Intoleransi
- Klien mengatakan ↓ aktivitas
akan merasa sesak Mengeluarkan mediator:
bila beraktivitas histamin, platelet,
berlebihan bradikinin
- Klien merasa tidak ↓
ingin melakukan Permiabilitas kapiler
aktivitas meningkat

DO: Kontriksi otot polos
- Klien nampak meningkat
tidak banyak ↓
melakukan Konsentrasi oksigen dalam
aktivitas banyak darah menurun
- Klien nampak ↓
banyak duduk dan Hipoksemia
berbaring untuk ↓
menstabilkan otot Suplai darah dan oksigen
pernapasan. kejantung berkurang

Penurunan kardiak output

Tekanan darah menurun

Kelemahan & keletihan

Intoleransi aktivitas

D. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif
b. Gangguan pertukaran gas
c. Pola Nafas tidak efektif
E. Intervensi Keperawatan

RENCANA KEPERAWATAN

DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA


NO INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN HASIL (NOC)
1 Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC :
efektif selama 3 x 24 jam, pasien mampu : Airway Management
Respiratory status : Ventilation 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw
Respiratory status : Airway patency thrust bila perlu
Aspiration Control, 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Dengan kriteria hasil : 3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan nafas buatan
suara nafas yang bersih, tidak ada 4. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
sianosis dan dyspneu (mampu 5. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
mengeluarkan sputum, mampu 6. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
bernafas dengan mudah, tidak ada tambahan
pursed lips) 7. Berikan bronkodilator bila perlu
 Menunjukkan jalan nafas yang paten 8. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
(klien tidak merasa tercekik, irama keseimbangan.
nafas, frekuensi pernafasan dalam 9. Monitor respirasi dan status O2
rentang normal, tidak ada suara nafas
abnormal)
Mampu mengidentifikasikan dan
mencegah factor yang dapat
menghambat jalan nafas
2 Gangguan pertukaran gas Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC :
selama 3 x 24 jam, pasien mampu :
Respiratory Status : Gas exchange 1. Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw
Respiratory Status : ventilation thrust bila perlu
Vital Sign Status 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Dengan kriteria hasil : 3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
 Mendemonstrasikan peningkatan nafas buatan
ventilasi dan oksigenasi yang adekuat 4. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Memelihara kebersihan paru paru dan 5. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
bebas dari tanda tanda distress 6. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
pernafasan tambahan
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan 7. Berika bronkodilator bial perlu
suara nafas yang bersih, tidak ada 8. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
sianosis dan dyspneu (mampu keseimbangan.
mengeluarkan sputum, mampu 9. Monitor respirasi dan status O2
bernafas dengan mudah, tidak ada 10. Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan
pursed lips) usaha respirasi
 anda tanda vital dalam rentang normal 11. Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan,
penggunaan otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostal
12. Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan
paradoksis)
13. Auskultasi suara nafas, catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi dan suara tambahan

3 Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC :


selama 3 x 24 jam, pasien mampu : 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw
Respiratory status : Ventilation thrust bila perlu
Respiratory status : Airway patency 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Vital sign Status 3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
Dengan Kriteria Hasil : nafas buatan
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan 4. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
suara nafas yang bersih, tidak ada 5. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
sianosis dan dyspneu 6. Monitor respirasi dan status O2
 Menunjukkan jalan nafas yang paten 7. Pertahankan jalan nafas yang paten
(klien tidak merasa tercekik, irama 8. Pertahankan posisi pasien
nafas, frekuensi pernafasan dalam 9. Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
rentang normal, tidak ada suara nafas 10. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
abnormal) oksigenasi
 Tanda Tanda vital dalam rentang 11. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
normal (tekanan darah, nadi, 12. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
pernafasan) 13. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
14. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
15. Monitor suara paru
16. Monitor pola pernapasan abnormal
17. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
DAFTAR PUSTAKA

Aru, Sudoyo., dkk. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, ED. 4. Jakarta:
Internal Publishing.

Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. (2015). Asuhan Keperawatan berdasarkan
Diagnosa Medis Nanda. Yogyakarta: Medication.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2003). Pedoman Diagnosis dan


Penatalaksanaan Asma di Indonesia.

Rahajoe, Nastini & Supriyanto Bambang, dkk. (2012). Buku Ajar Respirologi Anak,
Ed. 1. Jakarta: IDAI.

Sibuea, Herdin, dkk. (2009). Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Rineka Cipta.