Anda di halaman 1dari 5

PERAN PEMERINTAH DAERAH

DALAM PEMBERDAYAAN UKM


Posted by aliwear ⋅ 17 Mei 2012 ⋅ Tinggalkan komentar

Telah dikemukakan bhawa peranan UKM membantu perekonomian suatu daerah. Kehadiran
UKM bukan saja dalam rangka peningkatan pendapatan tapi juga dalam rangka pemerataan
pendapatan. Hal ini bisa dimengerti karena sektor UKM melibatkan banyak orang dengan
beragam usaha. Pemerintah sudah mempunyai komitmen memberdayakan ekonomi
kerakyatan dalam hal ini UKM dan koperasi. Hal ini tercantum dalam GBHN 1999-2004.
Namun misi ini sempat belum terlaksana seiring dengan sikap pemerintah yang masih
mengandalkan usaha besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi. Ada ketakutan pemerintah
tentang pertumbuhan yang rendah sehingga mereka kembali dengan kebijakan ekonomi
konglomerasi mengingat tekanan dari dunia internasional agar Indonesia mengejar
pertumbuhan daripada pemerataan.

Tentu tantangan yang dihadapi pemerintah pusat berbeda dengan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah banyak disibukkan dengan masalah khas di daerah seperti kemiskinan
sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberdayakan kelompok masyarakat miskin.
Beberapa penelitian mendapatkan hubungan yang erat antara pemberdayaan UKM dengan
pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut Schmitz (Ananda 2003), UKM mampu tumbuh lebih
cepat dari usaha besar bila diberi peluang. Di Jepang, Jerman, Swedia, dan Italia usaha kecil
elektronika, mampu melakukan penemuan, inovasi, dan bisa efisiensi. Schmitz percaya
bahwa usaha kecil dan menengah akan mendominasi dan mendorong perkembangan ekonomi
suatu bangsa, dengan syarat mereka mampu meningkatkan efisiensi dan daya saingnya.

Pertanyaanya adalah apa yang harus dilakukan pemerintah? Pemerintah perlu membuat
kebijakan kelembagaan untuk memberikan iklim yang kondusif bagi beroperasinya UKM.
Untuk itu maka ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prawirokusumo (1999)
mengemukakan beberapa hal yang harus mendapat perhatian dalam pemberdayaan UKM: (a)
kebijakan persaingan sehat dengan pengurangan distorsi pasar, (b) kebijakan ekonomi yang
memberi peluang UKM dapat mengurangi beban biaya yang tidak berhubungan dengar
proses produksi, dan (c) kebijakan penumbuhan kemitraan dengan prinsip saling
memerlukan, memperkuat, dan saling menguntungkan. Selanjutnya dukungan penguatan
yang meliputi: peningkatan kualitas SDM koperasi dan UKM; peningkatan penguasaan
teknologi; peningkatan penguasaai informasi; peningkatan penguasaan permodalan;
peningkatan penguasaan pasar, pengoptimalan organisasi dan manajemen; pencadangan
tempat usaha ; dan pencadangan bidang-bidang usaha.

Pemerintah daerah dapat memberdayakan UKM melalui pembuatan peraturan yang tepat.
Pemberdayaan dimaksudkan untuk menjadikan UKM sebagai usaha yang tangguh dan
mandiri dalam perekonomian nasional. Dalam proses pemberdayaan melibatkan pemerintah,
dunia usaha, dan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah harus menciptakan iklim yang usaha
yang kondusif dan melakukan pembinaan dan pengembangan berupa bimbingan dan bantuan
lainnya. Memang banyak UKM yang masih menghadapi kendala yaitu lingkungan yang tidak
kondusif untuk berusaha. Misalnya, ijin yang sulit atau penyogokan yang memberatkan usaha
UKM. Jika ini dilakukan berarti pemerintah membantu UKM keluar dari kendala internal dan
eksternal.
Dalam upaya pemberdayaan usaha kecil pemerintah membuat aturan kebijakan pendanaan.
Aturan tersebut ditetapkan dalam rangka membantu UKM untuk bisa tumbuh lebih sehat
(Prawirokusumo 1999). Pemerintah telah menetapkan peraturan dan kebijaksanaan untuk: (a)
memperluas sumber pendanaan, (b) meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan, dan (c)
memberikan kemudahan dalam pendanaan. Dalam aspek pendanaan ini, pemerintah
menyediakan berbagai skim kredit perbankan untuk koperasi dan usaha kecil antara lain
Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Kepada KUD (KKUD), Kredit Koperasi Primer untuk
Anggota (KKPA), Kredit Usaha Kecil (KUK), dan Kredit Kelayakan Usaha (KKU). KKU
lebih menitikberatkan pada potensi atau kelayakan usaha dan bukan agunan yang biasanya
dijadikan persyaratan oleh bank selama ini dalam pemberian kredit untuk berusaha. Adapun
persyaratan permohonan kredit lewat KKU adalah:

1. Jaminannya adalah proyek yang dibiayai oleh kredit, tanpa jaminan tambahan;
2. Formulir permohonannya disederhanakan menjadi 1-2 lembar;
3. SIUP, NPWP, dan surat perizinan lainnya ditiadakan atau diganti dengan izin kepala
desa atau camat setempat

Jawaban ditolak atau diterimanya permohonan kredit dalam waktu paling lama 14 hari, dan
KKU diberikan kepada pengusaha kecil yang mempunyai volume usaha maksimum Rp600
juta per tahun dengan maksimum kredit sebesar Rp50 juta per orang.

A. Pemberdayaan melalui Kemitraan

Dalam upaya mewujudkan pembangunan nasional dan daerah yang tangguh tantangan yang
dihadapi semakin berat. Sistem ekonomi yang sangat terbuka menyebabkan persaingan bukan
saja datang dari sektor domestik tapi datang juga dari sektor luar negeri. Oleh karena itu
berbagai komponen perlu bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu
strategi ke arah itu adalah pengembangan kemitraan. Tentu kondisi ini baru terwujud jika
diantara pelaku usaha tercipta rasa saling membutuhkan, saling memperkuat, dan saling
menguntungkan.

Ada beberapa konsep yang sering dipakai dalam kaitan dengan kemitraan. Dalam bahasa
Inggris sering dipakai istilah partnerships, business networking, dan strategic alliances.
Istilah apa pun yang dipakai sebenarnya merujuk pada pengertian yang sama tentang
kemitraan. Pada intinya kemitraan dimaknai sebagai dua institusi bisnis atau lebih bergabung
mnyatukan keunggulan masing masing untuk memperoleh hasil yang maksimal. Tentu ada
beberapa alasan untuk menggalang kemitraan seperti yang diungkapkan Prawirokusumo
(1999):

1. Meningkatkan keuntungan atau penjualan pihak pihak yang terlibat dalam kemitraan
2. Mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang pasar
3. Meningkatkan jumlah pelanggan atau pemasok baru
4. Membantu peningkatan pengembangan produk
5. Memperbaiki proses produksi
6. Meningkatkan perbaikan kualitas produk
7. Meningkatkan akses terhadap teknologi

Sebenarnya kemitraan antar pelaku usaha bukan hal baru sehingga mustahil dilaksanakan di
daerah. Negara maju seperti Amerika dan Kanada juga mendorong kemitraan antar
pengusaha di semua lini usaha. Di Indonesia untuk industri tertentu sudah terjadi kemitraan
yang saling menguntungkan. Pola perusahan intiplasma (PIR) adalah contoh menarik tentang
kemitraan tersebut. Pola PIR berkembang dengan baik di sektor perkebunan, perikanan, dan
peternakan. Usaha besar menjadi perusahan inti sedang UKM menjadi plasma. Dalam pola
PIR perusahan besar melakukan pembinaan terhadap UKM, melalui penyediaan sarana
produksi, bimbingan teknis, sampai pemasaran hasil produksi. Hal ini sudah sering terlihat
dalam perkebunan kelapa sawit.

Oleh karena peran UKM dianggap penting perlu upaya yang terus-menerus memberdayakan
mereka dalam rangka menghadapi tantangan dan kecenderungan di masa mendatang. UKM
harus bisa membangun mitra kerja sama dengan usaha besar dengan prinsip saling
menguntungkan. UKM bisa berperan sebagai distributor produk usaha besar dan sebaliknya
produk usaha kecil dapat dipakai sebagai bahan baku usaha besar. Mengingat pentingnya
kemitraan ini maka Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, telah
memasukkan kemitraan sebagai bab tersendiri. Dalam upaya mendorong kemitraan
pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang
kemitraan.

Pengembangan kemitraan usaha ini dipandang strategis dan perlu terus dikembangkan
mengingat peran penting UKM selain merupakan wahana utama dalam penyerapan tenaga
kerja, juga mampu menggerakkan roda ekonomi serta pelayanan masyarakat. Hal ini
dimungkinkan mengingat ciri-ciri UKM yang ketahanan terhadap krisis ekonomi. UKM
mempunyai ketergantungan rendah terhadap pendanaan sektor perbankan, serta tersebar di
seluruh pelosok nusantara sehingga merupakan jalur distribusi yang efektif untuk
menjangkau sebagian besar rakyat.

Pada masa yang lalu untuk mempercepat proses kemitraan telah dilaksanakan gelar kemitraan
usaha di daerah-daerah. Menjelang tumbangnya orde baru telah dilaksanakan gelar kemitraan
usaha di 11 propinsi yaitu Jabar, DKI aya, Riau, Jambi, Sumbar, Jatim, Sumut, D.I.
Yogyakarta, Sulsel, Lampung, dan Jateng (Prawirokusumo 1999). Meningkatnya kemitraan
tersebut menunjukkan bahwa kemitraan emakin diperlukan oleh para pengusaha besar,
menengah, dan kecil. Dalam kondisi krisis ekonomi, di mana kebutuhan bahan baku relatif
sulit diperoleh, maka kemitraan menjadi sangat strategis bagi pengembangan UK. Melalui
kemitraan, di samping diharapkan memperluas akses pada pasar barang dan jasa UK, juga
yang sangat penting adalah terjadinya alih teknologi dan manajemen dari usaha besar kepada
UKM.

Untuk mempercepat pelaksanaan kemitraan usaha dan meningkatkan mutu kemitraan,


peranan pemerintah daerah sangat penting di sini. Pemda harus mampu membuat sosialisasi
dan penyadaran kepada berbagai unsur yang terlibat dalam dunia usaha di daerah mereka
masing masing. Tentu pemerintah harus mempersiapkan forum dialog antara pengusaha kecil
dan pengusaha besar. Pemerintah harus mampu mendekati pengusaha besar di daerah masing
masing agar mau berpartisipasi. Biasanya pengusaha besar enggan berhubungan dengan
UKM.

Pemerintah perlu behati hati sehingga kebijakan mewujudkan kemitraan UKM dan usaha
besar jangan sampai nmerugikan UKM. Seringkali UKM tidak berpengalaman sehingga
mereka sering dalam posisi yang dirugikan dalam kerjasama tersebut. Dalam pelaksanaan
transaksi UKM biasanya dalam posisi yang lemah. Misalnya, usaha besar cenderung
mengalihkan resiko lebih banyak ke UKM, atau sengaja menunda pembayaran sehingga
UKM mengalami kesulitan pendanaan. Selain itu usaha besar sering membuat pungutan
pungutan tambahan yang mengurangi marjin UKM. Peran pemerintah di sini adalah
menyadarkan berbagai pihak yang terlibat dalam dunia usaha tentang etika usaha yang baik.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa untuk menghadapi tantangan ke depan UKM perlu
diperkuat. Untuk itu di dalam pemberdayaannya, diperlukan kerja keras dan kesabaran dari
seluruh pihak yang terkait, baik dari pemerintah maupun dari seluruh masyarakat pengusaha
Indonesia. Salah satu upaya yang paling strategis dilakukan adalah melalui kemitraan usaha.
Pemerintah dalam hal ini bisa melibatkan lembaga perguruan tinggi untuk turut memikirkan
pola kemitraan yang relevan untuk dikembangkan antara pengusaha kecil dengan usaha
besar. Dengan meningkatkan kerja keras dan semangat yang tinggi diharapkan UKM akan
mampu menjadi penggerak dan pendorong guna terwujudnya pengusaha Idonesia yang
tangguh dan mandiri.

B. UKM dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)

Kehadiran UKM yang tangguh dapat menjadi motivator pengusaha lain. Kinerja UKM dapat
ditingkatkan jika berbagai kendala sebagaimana disebutkan di muka dapat dilonggarkan.
Bagi UKM faktor ketrampilan pemilik atau pengelola usaha merupakan faktor penentu. Oleh
karena itu, pendekatan pengembangan SDM menjadi sangat strategis. Melalui peningkatan
kualitas keterampilan SDM diharapkan berbagai kendala yang dihadapi UKM dapat diatasi.
Peningkatan kualitas dan pengembangan SDM dilakukan secara simultan dengan penciptaan
iklim yang kondusif bagi UKM untuk tumbuh dan berkembang. Iklim yang kondusif
sebagaimana disebutkan di muka dirancang secara makro yang sifatnya publik dan berlaku
umum. Hal ini perlu dilakukan mengingat jumlah UKM sangat besar.

Peningkatan kualitas SDM dilakukan melalui peningkatan keterampilan manajemen dan


kewirausahaan. Ini menyangkut dua aspek SDM yang umumnya lebih efektif dilakukan
melalui pendekatan learning by doing. Bagi pengusaha UKM lebih mudah belajar melalui
praktik langsung dari pada belajar teori yang rumit terutama menyangkut kewirausahaan.
Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kewirausahaan pada kebanyakan kasus tumbuh
dari keluarga wirausaha pula. Pendekatan semacam ini akan cenderung terus dikembangkan.
Berbagai program magang, inkubator, klinik usaha, konsultasi lapangan kini tengah digodok
melalui berbagai projek percontohan yang nantinya dapat direplikasikan di tempat-tempat
lain.

Dengan demikian, pendekatan pembangunan SDM akan diprioritaskan dalam upaya


memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan khususnya dalam rangka pembinaan
UKM. Perlu disadari bahwa pendekatan semacam ini tidak cepat dilihat buahnya (quick
yielding), melainkan merupakan investasi jangka panjang yang buahnya mungkindinikmati
setelah beberapa waktu. Namun, setiap investasi jangka panjang biasanya juga memiliki daur
hidup yang relatif panjang pula. Sekali berhasil membangun suatu generasi pengusaha muda
yang tangguh dan andal, maka hal serupa akan mengalami replikasi untuk generasi-generasi
berikutnya. Proses semacam ini akan terus terjadi secara berulang-ulang sehingga roda
pembangunan berputar dengan sendirinya. Dengan demikian, suatu ketika setiap daerah akan
memiliki pengusaha daerah yang tangguh dan mandiri. Oleh karena itu, diharapkan dari
pengusaha UKM harus secara proaktif memikirkan hal ini dan terjun langsung sebagai
wirausaha dalam rangka memperkokoh perekonomian masing masing daerah.

C. Rangkuman
Pemerintah daerah dapat memanfaatkan UKM untuk pengentasan kemiskinan. Untuk itu
pemerintah daerah malalui kewenangan pembuatan peraturan bisa memberdayakan UKM.
Pemberdayaan dimaksudkan untuk menjadikan UKM sebagai usaha yang tangguh dan
mandiri dalam perekonomian nasional. Dalam proses pemberdayaan melibatkan pemerintah,
dunia usaha, dan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah harus menciptakan iklim yang usaha
yang kondusif dan melakukan pembinaan dan pengembangan berupa bimbingan dan bantuan
lainnya.

Dalam hal ini pemerintah dapat mendorong agar dalam menilai UKM bisa dilihat dari
kelayakan usaha dan bukan hanya atas dasar agunan. Pemerintah dapat mendorong agar
UKM membangun kemitraan dengan usaha besar dalam semangat saling menguntungkan.
Pemda harus mampu membuat sosialisasi dan penyadaran kepada berbagai unsur yang
terlibat dalam dunia usaha di daerah mereka masing masing. Tentu pemerintah harus
mempersiapkan forum dialog antara pengusaha kecil dan pengusaha besar. Kualitas SDM
UKM rata rata rendah dan pemerintah dalam hal ini dapat melakukan pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan para pengusaha UKM. Dengan demikian, pendekatan
pembangunan SDM akan diprioritaskan dalam upaya memasyarakatkan dan membudayakan
kewirausahaan khususnya dalam rangka pembinaan UKM.