Anda di halaman 1dari 25

TUGAS UAS MATA KULIAH

AL-HADIS

Dosen Pengampuh:
Siti Ardianti, S.Th.I., M.TH.

Disusun Oleh:

*SUSAN MAYANG SARI*


NIM : 0701162003

JURUSAN ILMU KOMPUTER-1/Sem1


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
2016
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena
rahmat-Nya lah kita masih diberi kehidupan yang sejahtera. Shalawat serta salam
semoga tetap tercurahkan kepada junjungan besar Habibana Wanabiyana
Muhammad SAW, karena bimbingannya lah kita bisa berjalan pada jalan yang
diridoi Allah SWT.
Harapan saya semoga makalah ini yang bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca , sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya
miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Susan Mayang Sari

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................i


DAFTAR ISI .................................................................................................ii

BAB I
Soal Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Al-Hadis .........................................1

BAB II
Pembahasan Soal Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Al-Hadis .....................2

ii
SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER MATA KULIAH AL-HADIS
JURUSAN ILMU KOMPUTER FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a. Hadis, Sunnah dan Atsar memiliki pengertian yang sama dan berberda.
Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang persamaan dan perbedaan Hadis,
Sunnah dan Atsar ? berikan alasanya berdasarkan pendapat Ulama?
b. Hadis telah dikenal setiap lapisan kalangan tetapi terdapat pula golongan atau
orang yang tidak mempercayai tetang keaslian Hadis sehingga menjadi
Inggar Sunnah / Hadis. Apakah Kamu termasuk Inggar Hadis/Sunnah ?
Berikan Alasannya serta Bagimana Membuktikan atau menjelaskan tentang
Keaslian Hadis ?
c. Pilihlah Salah satu poin pembahasan di bawah ini dan lengkapi dengan
penjelasannya seperti : Sunan an-Nasa‟i, 20. Kitāb Qiyām al-Lail, 27. Bāb al-
Amr bi al-Witr
Bunyi Hadis :
‫َق َقا ْلا ِو ْل ُر اَق ْل َق ِو َق ْل ٍم َق َق ْل َق ِو ْلا َق ْل ُر َق ِو َق اَق ِو َّن ُر ُر َّن ٌة َق َّن َق َق ُر ُرا َّن ِو َق َّن َّن ُر َق َق ْل ِو َق َق َّن َق‬

1. “Tata cara berwuduk dan bacaan/doa sesudah berwuduk


2. “Tata cara dan bacaan Takbiratul Ihram
3. “Bacaan Doa Iftitah “wajjahtu”
4. “Bacaan Doa Iftitah “Allahumma ba’id”
5. “Bacaan Doa Ruku’ dan Sujud
6. “Bacaan I’tidal”
7. “Bacaan Duduk di antara dua sujud”
8. “Bacaan Tahyat dan Salawat dalam salat”
9. “Bacaan doa pada tahyat awal dan tahyat akhir.”
10. “Tatacara dan bacaan doa dan zikir mengiringi salat fardu
11. “Doa Berbuka Puasa”
12. “Salat tarawih dan witir serta jumlah rakaatnya
13. “Status salat witir dalam Ramdhan dan di luar Ramadhan
14. “Tata cara Shalat Idul Fithri & Adha dan khutbahnya”
15. “Zakat al-Fithry dan Tata caranya
16. “Tatacara dan ucapan takbir dalam beridul Fithri & Adha.

1
Pembahasan Soal Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Al-Hadis

A. Hadis, Sunnah dan Atsar memiliki pengertian yang sama dan berberbeda.
Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang persamaan dan perbedaan Hadis,
Sunnah dan Atsar ? berikan alasannya berdasarkan pendapat Ulama?
Jawaban:

1. Perbedaan Hadits dengan Sunnah, Khabar dan Atsar


Dari keempat tema tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tema tersebut
sangat berguna sebagai ilmu tambahan bagi masyarakat Islam untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan menentukan kulitas dan kuwantitas
Hadits, sunnah, Khabar dan Atsar.
Para ulama juga membedakan antara hadits, sunnah, khabar dan atsar sebagai
berikut:
a. Hadits dan sunnah: hadits terbatas pada perkataan, perbuatan, takrir yang
bersumber pada Nabi SAW, sedangkan sunnah segala yang bersumber dari
Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, tabiat, budi pekerti atau
perjalanan hidupnya, baik sebelum di angkat menjadi rasulmaupun
sesudahnya.
b. Hadits dan khabar: sebagian ulama hadits berpendapat bahwa khabar sebagai
suatu yang berasal atau disandarkan kepada selain nabi SAW., hadits
sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan pada Nabi SAW.
c. Hadits dan atsar: jumhur ulama berpendapat bahwa atsar sama artinya
dengan khabar dan hadits. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa atsar
sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan pada Nabi SAW,
sahabat dan tabiin.

2
2. Persamaan Hadits, Sunnah dan Atsar
Dari keempat istilah yaitu Hadith, Sunnah, Khabar, dan Atsar, menurut jumhur
ulama Hadith dapat dipergunakan untuk maksud yang sama, yaitu bahwa
hadith disebut juga dengan sunnah, khabar atau atsar. Begitu pula halnya
sunnah, dapat disebut dengan hadith, khabar dan atsar. Maka Hadith Mutawatir
dapat juga disebut dengan Sunnah Mutawatir atau Khabar Mutawatir. Begitu
juga Hadith Shahih dapat disebut dengan Sunnah Shahih, Khabar Shahih, dan
Atsar Shahih.

B. Hadis telah dikenal setiap lapisan kalangan tetapi terdapat pula golongan atau
orang yang tidak mempercayai tetang keaslian Hadis sehingga menjadi Inggar
Sunnah / Hadis. Apakah Kamu termasuk Inggar Hadis/Sunnah ? Berikan
Alasannya serta Bagimana Membuktikan atau menjelaskan tentang Keaslian
Hadis ?
Jawaban:
Tidak, karena hadis telah disampaikan kepada kita melalui riwayat yang shahih.
Pembuktian keaslian hadis dilihat dari siapa yang meriwayatkannya dan apa
hubungannya dengan Rasulullah SAW. Misalnya, Hadis riwayat Aisyah, istri
rasulullah, shahih atau asli karena beliau adalah istri rasulullah dan selalu dekat
dengan rasulullah. Kemudian Abu Huraihah, adalah sahabat nabi yang paling
banyak meriwayatkan hadis rasulullah, hadis riwayatnya dinyatakan shahih atau
asli karena beliau sudah ikut Rasulullah SAW sejak kecil. Kemudian Abu Bakar
dan Umar Bin Khattab, meraka berdua adalah sahabat Rasulullah SAW dan
mereka terkenal karena selalu ada disamping Rasulullah kemanapun dia pergi,
dan mereka berdua mustahil berbohong, karena itu hadis yang diriwayatkan
mereka shahih atau asli. Periwayatan itu disebut juga rantai penyampaian.

3
Dari Rasulullah ke istri, berlanjut ke ayah atau saudaranya ke anak-anaknya
apabila mereka memiliki sifat yang jujur,adil, dan tidak berbohong maka riwayat
hadis tersebut adalah shahih atau asli. Begitu pula dari Rasulullah ke para sahabat-
sahabatnya, berlanjut kepada ayah atau saudaranya ke anak-anaknya apabila
mereka memiliki sifat yang jujur,adil, dan tidak berbohong maka riwayat hadis
tersebut adalah shahih atau asli. Dan para-para sahabat nabi maupun para ulama
mengumpulkan berbagai sabda Nabi Muhammad S.A.W. dan membukukannya.
Para ulama tersebut telah menyusun kitab-kitab hadist yang shahih atau otentik,
misalnya seperti Hadist Sahih Al-Bukhari, Sahih Al-Muslim, Sunnah Abu Dawud,
Sunnah An-Nasa'i, dan sebagainya.

C. Pilihlah Salah satu poin pembahasan di bawah ini dan lengkapi dengan
penjelasannya seperti : Sunan an-Nasa‟i, 20. Kitāb Qiyām al-Lail, 27. Bāb al-
Amr bi al-Witr.
Jawaban:

1. “Tata cara berwuduk dan bacaan/doa sesudah berwuduk.

Wudhu merupakan suatu hal yang tiada asing bagi setiap muslim, sejak kecil ia
telah mengetahuinya bahkan telah mengamalkannya. Akan tetapi apakah wudhu
yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun atau bahkan telah puluhan tahun
itu telah benar sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu
„alaihi was sallam? Karena suatu hal yang telah menjadi konsekwensi dari dua
kalimat syahadat bahwa ibadah harus ikhlas mengharapkan ridho Allah dan sesuai
sunnah Nabi shallallahu „alaihi was sallam. Demikian juga telah masyhur bagi
kita bahwa wudhu merupakan syarat sah sholat, yang mana jika syarat tidak
terpenuhi maka tidak akan teranggap/terlaksana apa yang kita inginkan dari syarat
tersebut. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu „alaihi was
sallam,

4
‫َال ُلُت ْق َال ُل َال َال ُل َال ْق َال ْق َال َال َال ىَّت َالُتَالُت َال ىَّت َال‬

“Tidak diterima sholat orang yang berhadats sampai ia berwudhu”.

Demikian juga dalam juga Allah Subhanahu wa Ta‟ala perintahkan kepada kita
dalam KitabNya,

ِ ‫ين آَ َمنُىا إِ َذا قُ ْمتُ ْم إِلَى الص َََّل ِة فَا ْغ ِسلُىا ُوجُىهَ ُك ْم َوأَ ْي ِد َي ُك ْم إِلَى ْال َم َسا ِف‬
‫ق‬ َ ‫َيا أَيُّ َها الَّ ِر‬
‫وو ُك ْم َوأَزْ ُجلَ ُك ْم إِلَى ْال َك ْ َ ِْن‬
ِ ُ ‫َوا ْم َس ُىا ِ ُس‬

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,


maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. (QS Al Maidah
[5] : 6).

Maka marilah duduk bersama kami barang sejenak untuk mempelajari shifat/tata
cara wudhu Nabi shallallahu „alaihi was sallam.

Pengertian wudhu

Secara bahasa wudhu berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan, wudhu


untuk sholat dikatakan sebagai wudhu karena ia membersihkan anggota wudhu
dan memperindahnya. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari‟at,
wudhu adalah peribadatan kepada Allah „azza wa jalla dengan mencuci empat
anggota wudhu dengan tata cara tertentu.

5
Jika pengertian ini telah dipahami maka kita akan mulai pembahasan tentang
syarat, hal-hal wajib dan sunnah dalam wudhu secara ringkas.

Tata Cara Wudhu secara Global

Adapun tata cara wudhu secara ringkas berdasarkan hadits Nabi shallallahu
„alaihi was sallam dari Humroon budak sahabat Utsman bin Affan rodhiyallahu
„anhu,

‫ فَالُتغَال َالسلَال ُله َالما‬، ‫ فَالَال ْقفُتَالرغَال َالعلَالى َال َال ْق ِه ِ ْق إِنَالائِِه‬، ‫ان َالد َالعا بَِال ُل ٍء‬ ‫ان بْق ِ َالعف َال‬
‫ىَّتان َالنىَّتهُل َالرَالى ُلعثْق َالم َال‬ ‫ان َال ْق َالَل ُلعثْق َالم َال‬
‫َالع ْق ُلُحْقَالر َال‬
ِ
‫ ُلُثىَّت َالغ َالس َال َالو ْقج َالههُل ثَال َالثًا‬، ‫اسَالُتْقنثَالُتَالر‬
‫ َالو ْق‬، ‫اسَالُتْقن َالش َالق‬
‫ َالو ْق‬، ‫ض‬ ‫ ُلُثىَّت َالَتَال ْق‬، ‫ ُلُثىَّت ْقَالد َالخ َال َالَيِينَالهُل ِِف اْقل َال ُل ء‬، ‫ات‬
‫ض َالم َال‬
ٍ ‫ثَال َال َال ىَّتر‬
‫َال‬

‫ت ِ ىَّت‬
‫النىَّتِب‬ ‫ ُلُثىَّت قَال َال‬، ‫ ُلُثىَّت َالغ َالس َال ُلك ىَّت ِر ْقج ٍ ثَال َالثًا‬، ‫ ُلُثىَّت َال َالس َالح بَِالرْق ِس ِه‬، ‫ْي ثَال َالثًا‬
‫ال َالرَالْق ُل‬ ِ ‫لى –وَال َال ْق ِه إِ َالَل الْق ِمرفَالُت َال ْق‬
‫ْق‬ ‫َال‬
‫ َال « َالُتَالُت َال ىَّت ُل َالْقَن َال ُلو ُل ئِى َاله َالذا َالوقَال َال‬، ‫ْي‬
‫ال –اهلل عليه وسلم‬ ِ ‫َال ْق َالُت ىَّت َال َالْقَن و ُل ئِى َاله َالذا ُلُثىَّت َال لىَّتى رْقك َالعَالُت ْق‬
‫َال‬ ‫َال ُل‬ ‫َال‬
‫ َالغ َالفَالر اللىَّتهُل لَالهُل َال ا َالُت َال ىَّت َال ِ ْق َالنْقِ ِه‬، ‫ُلَال ِّد ُل فِي ِه َالما نَالُت ْقف َالسهُل‬

Dari Humroon -bekas budak Utsman bin Affan–, suatu


ketika „Utsman memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadahpent.),
kemudian ia tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangannya. Maka ia
membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, lalu ia memasukkan tangan
kanannya ke dalam air wudhu kemudian berkumur-kumur, lalu beristinsyaq dan
beristintsar. Lalu beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, (kemudian)
membasuh kedua tangannya sampai siku sebanyak tiga kali kemudian menyapu
kepalanya (sekali sajapent.) kemudian membasuh kedua kakinya sebanyak tiga kali
6,

kemudian beliau mengatakan, “Aku melihat Nabi shallallahu „alaihi was sallam
berwudhu dengan wudhu yang semisal ini dan beliau shallallahu „alaihi was
sallam mengatakan, “Barangsiapa yang berwudhu dengan wudhu semisal ini
kemudian sholat 2 roka‟at (dengan khusyuked.)dan ia tidak berbicara di antara
wudhu dan sholatnya maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Dari hadits yang mulia ini dan beberapa hadits yang lain dapat kita simpulkan tata
cara wudhu Nabi shallallahu „alaihi was sallam secara ringkas sebagai berikut,

1. Berniat wudhu (dalam hati) untuk menghilangkan hadats.


2. Mengucapkan basmalah (bacaan bismillah).
3. Membasuh dua telapak tangan sebanyak 3 kali.
4. Mengambil air dengan tangan kanan kemudian memasukkannya ke dalam
mulut dan hidung untuk berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air
dalam hidung). Kemudian beristintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan
tangan kiri sebanyak 3 kali.
5. Membasuh seluruh wajah dan menyela-nyelai jenggot sebanyak 3 kali.
6. Membasuh tangan kanan hingga siku bersamaan dengan menyela-nyelai jemari
sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan yang kiri.
7. Menyapu seluruh kepala dengan cara mengusap dari depan ditarik ke belakang,
lalu ditarik lagi ke depan, dilakukan sebanyak 1 kali, dilanjutkan menyapu
bagian luar dan dalam telinga sebanyak 1 kali.
8. Membasuh kaki kanan hingga mata kaki bersamaan dengan menyela-nyelai
jemari sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan kaki kiri.
7

Wajib Wudhu

 Berniat wudhu:

‫ِو‬ ‫ِو َق َقع اَق‬ ً ‫ض ْل َق اِو َق ْلف ِو ْلا َق َق ِو ْل َق ْل َق ِو فَق ْل‬


‫ض‬ ‫َق َق ْل ُر ْلا ُر ُر‬
“Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil fardu karena Allah
Ta'ala”
 Membaca bismillah ketika hendak wudhu, sebagaimana sabda Nabi

kita shallallahu „alaihi was sallam,

ِ ‫صالَ َة لِ َمنْ الَ يُ ضُي َء لَ ُه َيالَ يُ ضُي َء لِ َمنْ لَ ْم َي ْذ ُك ِر اسْ َم ه‬


« ‫َّللا َت َعالَى َعلَ ْي ِه‬ َ َ‫»ال‬

“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi
orang yang tidak menyebut nama Allah Ta‟ala (bismillah) ketika hendak
berwudhu”.

 Membasuh wajah, termasuk dalam membasuh wajah adalah berkumur-

kumur, istinsyaq dan istintsar. Para „ulama mengatakan batasan bagian wajah
yang dibasuh adalah mulai dari atas ujung dahi (awal tempat tumbuhnya
rambut) sampai bagian bawah jenggot dan batas kiri kanan adalah telinga.
Adapun yang dimaksud dengan istinsyaq adalah sebagaimana yang
dikatakan Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy rohimahullah, “Memasukkan air
ke hidung dengan menghisapnya sampai ke ujungnya, sedangkan istintsar
adalah kebalikannya”. Dalil tentang hal ini sebagaimana yang firman
Allah „azza wa jalla,

8
‫اؼسِ لُيا يُ ُ ي َو ُك ْم‬ َ ‫َيا َ ُّيي َىا الهذ‬
ْ َ ‫ِين َ َم ُ يا ِ َذا ُ ْم ُت ْم ِلَى الص َهال ِة‬

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,


maka basuhlah wajah”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Sebagaimana dalam ilmu ushul fiqh perintah dalam perkara ibadah memberikan
konsekwensi wajib. Maka membasuh wajah dalam wudhu adalah wajib.
Sedangkan dalil yang menunjukkan wajibnya berkumur-kumur, istinsyaq dan
istintsar adalah ayat di atas yang memerintahkan kita untuk membasuh wajah,
sedangkan mulut dan hidung merupakan bagian dari wajah. Demikian juga hadits
Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

« ْ‫» ِ َذا َت َيضهأ َ َ َح ُد ُك ْم َ ْل َيسْ َت ْ شِ ْق ِب َم ْ خ َِر ْي ِه م َِن ْال َما ِء ُث هم ْل َي ْ َت ِثر‬

“Jika salah seorang dari kalian hendak berwudhu maka beristinsyaqlah di


hidungnya dengan air kemudian beristintsarlah”.

Dalil khusus dalam masalah kumur-kumur adalah hadits Nabi shallallahu „alaihi
was sallam,

َ ْ‫» ِ َذا َت َيضهأ‬


« ْ‫ت َ َمضْ ِمض‬

“Jika engkau hendak wudhu, maka berkumur-kumurlah”.

9
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahullah mengatakan, “Cara
berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar dilakukan bersamaan (satu kali jalan),
maka setengah air digunakan untuk berkumur-kumur dan sisanya untuk istinsyaq
dan istintsar”.

 Menyela-nyelai jenggot, dalil tentang hal ini adalah hadits Nabi shallallahu

„alaihi was sallam dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu „anhu,

َ ْ‫ان ِ َذا َت َيضهأ َ َ َخ َذ َك ًّفّا ِمنْ َما ٍءء َ أ َ ْد َخلَ ُه َتح‬


‫ت َح َ ِك ِه َ َخله َ ِب ِه لِحْ َي َت ُه‬ َ ‫َك‬

َ ‫»هَ َك َرا أَ َم َسنِى َز ِّى َع َّز َو َج َّل‬


َ ‫«ي َ ا‬

“Merupakan kebiasaan (Nabi shallallahu „alaihi was sallam. ) jika beliau akan
berwudhu, beliau mengambil segenggaman air kemudian beliau basuhkan (ke
wajahnya) sampai ketenggorokannya kemudian beliau menyela-nyelai
jenggotnya”. Kemudian beliau mengatakan, “Demikianlah cara berwudhu yang
diperintahkan Robbku kepadaku”.

Dan cara menyela-nyelai jenggot adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu


„alaihi was sallam di atas yaitu dengan menyela-nyelainya bersamaan dengan
membasuh wajah.

 Membasuh kedua tangan sampai siku, dalilnya adalah firman Allah „azza

wa jalla,

‫اؼسِ لُيا يُ ُ ي َو ُك ْم َي َ ْي ِد َي ُك ْم ِلَى ْال َم َرا ِِق‬


ْ َ ‫ِ َذا ُ ْم ُت ْم ِلَى الص َهال ِة‬

10
“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Demikian juga hadits Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

« ‫ ُث هم َؼ َس َ َيدَ هُ ْاليُسْ َرى ِلَى ْال َمرْ ِِق‬، ‫ُث هم َؼ َس َ َيدَ هُ ْال ُي ْم َ ى ِلَى ْال َمرْ ِِق َثالَ ًّفثا‬
‫ال ًّفثا‬
َ ‫» َث‬

“Kemudian beliau membasuh tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga
kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali”.

 Menyapu kepala dengan air, kedua telinga termasuk dalam bagian

kepala. Dalilnya adalah firman Allah „azza wa jalla,

‫ْسحُ يا ِبرُ ءُيسِ ُك ْم‬


َ ‫َيام‬

“Dan sapulah kepalamu”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Perintah dalam ayat ini menunjukkan hukum menyapu kepala adalah wajib
bahkan hal ini diklaim ijma‟ oleh An Nawawi Asy Syafi‟i rohimahullah.
Demikian juga sabda Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

َ ‫ َح هتى َذ َو‬، ‫ َبدَ َ ِب ُم َقد ِهم َر ْسِ ِه‬، ‫ َ أ َ ْ َب َ ِب ِى َما َي َ ْد َب َر‬، ‫ُث هم َم َس َح َر ْ َس ُه ِب َيدَ ْي ِه‬
« ‫ب ِب ِى َما‬
‫ان الهذِى َبدَ َ ِم ْ ُه‬
ِ ‫ ُث هم َر هد ُو َما ِلَى ْال َم َك‬، ُ‫» ِلَى َ َ اه‬

11
“Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya,(dengan
carapent.) menyapunya ke depan dan ke belakang. Beliau memulainya dari bagian
depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke tengkuk kemudian
mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya”.

Hadits ini menunjukkan bagaimana cara mengusap kepala yang Allah perintahkan
dalam surat Al Maidah ayat 6 di atas. Demikian juga hadits ini juga dalil bahwa
yang bagian kepala yang dihusap dalam ayat di atas adalah seluruh
kepala/rambut dan inilah pendapat Al Imam Malik rohimahullah demikian juga
hal ini merupakan pendapat Al Imam Al Bukhori rohimahullah sebagaimana
dalam kitab shahihnya. Jadi mengusap kepala bukanlah hanya sebagian (hanya
ubun-ubun) sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan dalil bahwa
menyapu kedua telinga termasuk dalam menyapu kepala adalah sabda
Nabi ‟alaihish sholatu was salam,

ْ ُ
« ‫س‬ ِ َ ‫»األ ُذ‬
ِ ‫ان م َِن الره‬

“Kedua telinga merupakan bagian dari kepala”.

Lalu cara menyapu kedua telinga adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu
„alaihi was sallam,

« ‫ْن َي َظاو ِِر ِو َما ِبإِ ْب َىا َم ْي ِه‬ َ ‫»ث هم َم َس َح ِب َر ْسِ ِه َي ُ ُذ َ ْي ِه بَاطِ ِِى َما ِبال هسب‬
ِ ‫هاح َتي‬ ُ

12
“kemudian beliau menyapu kedua telinga sisi dalamnya dengan dua telunjuknya
dan sisi luarnya dengan kedua jempolnya”.

Adapun untuk cara mengusap kepala dan kedua telinga dengan air, untuk
perempuan sama seperti untuk laki-laki sebagaimana yang dikatakan oleh An
Nawawi Asy Syafi‟i rohimahullah demikian juga hal ini merupakan pendapat
Imam Syafi‟i rohimahullah sendiri dan dinukil oleh Al
Bukhori rohimahullah dalam kitab shohihnya dari Sa‟id bin
Musayyib rohimahullah.

 Membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Dalil hal ini adalah firman Allah Subhanahu

wa Ta’ala,

ِ ‫َي َرْ ُ لَ ُك ْم ِلَى ْال َكعْ َبي‬


‫ْن‬

“(basuh) kaki-kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki”.(QS Al Maidah [5] :
6).

Demikian juga hadits Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

ُ
ِ ‫»ث هم َؼ َس َ ِر ْ لَ ْي ِه ِلَى ْال َكعْ َبي‬
« ‫ْن‬

“Kemudian beliau membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki”.

Membasuh kedua mata kaki hukumnya wajib karena Allah sebutkan dengan
lafadz/bentuk perintah, dan hukum asal perintah dalam masalah ibadah adalah

13
wajib. Adapun cara membasuhnya adalah sebagaimana yang disabdakan
beliau alaihish sholatu was salam,

َ ْ‫خ‬
« ‫ص ِر ِه‬ َ َ ‫» ِ َذا َت َيضهأ َ دَ لَ َك‬
ِ ‫ص ِاب َع ِر ْ لَ ْي ِه ِب‬

“Jika beliau shallallahu „alaihi was sallam berwudhu, beliau menggosok jari-jari
kedua kakinya dengan dengan jari kelingkingnya”.

Demikian juga pendapat Al Ghozali rohimahullah, namun beliau qiyaskan dengan


cara istinja‟, sebagaimana yang dinukilkan oleh Al „Amir Ash
Shon‟ani rohimahullah.

 Muwalah

Muwalah adalah berturut-turut dalam membasuh anggota-anggota wudhu


dalam artian membasuh anggota wudhu lainnya sebelum anggota wudhu (yang
sebelumnya telah dibasuh) mengering dalam kondisi/waktu normal.

Dalil wajibnya hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala,

‫اؼسِ لُيا يُ ُ ي َو ُك ْم َي َ ْي ِد َي ُك ْم ِلَى ْال َم َرا ِِق‬ َ ‫َيا َ ُّيي َىا الهذ‬
ْ َ ‫ِين َ َم ُ يا ِ َذا ُ ْم ُت ْم ِلَى الص َهال ِة‬

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,


maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku”. (QS Al Maidah [5]
: 6).

14
Sisi pendalilannya sebagai berikut, jawab syarat (dari kalimat syarat yang ada
dalam ayat ini) merupakan suatu yang berurutan dan tidak boleh diakhirkan.
Adapun dalil dari Sunnah adalah Nabi shallallahu „alaihi was sallam berwudhu
dengan tidak memisahkan membasuh anggota wudhu (yang satu dengan yang
lainnya.) dan hadits Nabi shallallahu „alaihi was sallam yang diriwayatkan dari
sahabat Umar bin Khottob rodhiyallahu „anhu

َ ‫ظ ُ ٍءر َعلَى َدَ ِم ِه َ أَب‬


‫ْص َرهُ ال ه ِبىُّي‬ ُ ‫ َنه َر ُ الًّف َت َيضهأ َ َ َت َر َك َم ْيضِ َع‬- ‫صلى َّللا عليه‬

‫يسلم‬- َ ‫»ارْ ِعْ َ أَحْ سِ نْ يُ ضُي َء َك « َ َقا‬. ‫صلهى‬


َ ‫َ َر َ َع ُث هم‬

“Bahwasanya ada seorang laki-laki berwudhu dan meninggalkan bagian yang


belum dibasuh sebesar kuku pada kakinya. Ketika Nabi shallallahu „alaihi was
sallam melihatnya maka Nabi shallallahu „alaihi was sallam mengatakan,
“Kembalilah (berwudhu) perbaguslah wudhumu”.

Hal ini merupakan pendapat Imam Syafi‟i dalam perkataannya yang lama, serta
pendapat Al Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur dar beliau.

Sunnah Wudhu

 Bersiwak, hal sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

َ ِّ ‫ش هق َعلَى ُ همتِى ألَ َمرْ ُت ُى ْم ِبالس َِّياكِ عِ ْ دَ ُك‬


« ‫صالَ ٍءة‬ ُ َ ْ‫»لَ ْيالَ َن‬

15
“Seandainya jika tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka
untuk bersiwak pada setiap hendak berwudhu”.

 Mencuci kedua tangan tiga kali ketika hendak berwudhu, sunnah ini lebih

ditekankan ketika bangun dari tidur atau dengan kata lain hukumnya wajib.
Dalil yang menunjukkan bahwa mencuci tangan ketika hendak berwudhu
sunnah adalah hadits Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

‫ َ أ َ ْ َر َغ َعلَى‬، ‫دَعا ِب َيضُي ٍءء‬َ ‫ان‬ َ ‫ان َ ه ُه َر َى ع ُْث َم‬


َ ‫ْن َع ه‬ِ ‫ان ب‬َ ‫ان َم ْيلَى ع ُْث َم‬
َ ‫َعنْ حُ م َْر‬
ُ ‫–ث هم َ ا َ َر َي‬
‫ َ َؽ َسلَ ُى َما َثالَ َ َمره ا ٍء‬، ‫… َيدَ ْي ِه ِمنْ ِ َ ااِ ِه‬.. ‫ْت ال ه ِبىه‬
‫ت‬ ُ ‫صلى َّللا عليه‬

‫َي َت َيضهأ ُ َ حْ َي يُ ضُياِى َو َذا –يسلم‬

Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (ketika ia menjadi budaknya


Utsmanpent.) suatu ketika beliau memintanya untuk membawakan air wudhu
(dengan wadahpent.), kemudian aku tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua
tangan beliau. Maka ia membasuh tangannya sebanyak tiga kali……kemudian
beliau berkata, “Aku dahulu melihat Nabi shallallahu „alaihi was sallam
berwudhu dengan wudhu seperti yang aku peragakan ini”.

Hal ini ditetapkan sebagai sunnah dan bukan wajib sebab Utsman rodhiyallahu
„anhu melakukannya karena melihat Nabi shallallahu „alaihi was
sallam melakukannya. Semata-mata perbuatan Nabi shallallahu „alaihi was
sallam yang dicontoh para sahabat menunjukkan hukum anjuran atau sunnah.
Kemudian dalil yang menunjukkan wajibnya mencuci tangan ketika bangun dari
tidur adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

16
ِ ‫َي ِ َذا اسْ َت ْي َق َظ َ َح ُد ُك ْم ِمنْ َ ْي ِم ِه َ ْل َي ْؽسِ ْ َيدَ ُه َ ْب َ َنْ ي ُْد‬
« ‫ َ إِنه‬، ‫خلَ َىا ِى َيضُياِ ِه‬
ُ‫ت َي ُده‬ْ ‫» َ َحدَ ُك ْم الَ َي ْد ِرى َي َْن َبا َت‬

“Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah ia mencuci
tangannya sebelum ia memasukkan tangannya ke air wudhu, karena ia tidak tahu
di mana tangannya bermalam”.

Jika ada yang bertanya apakah hal ini hanya berlaku pada tidur di malam hari saja atau
umum? Maka jawabannya adalah sebagaimana yang disampaikan Nabi shollallahu
„alaihi was sallam di atas yaitu semua tidur yang menyebabkan orang tidak tahu
di mana tangannya berada ketika ia tidur. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh
Al Imam Asy Syafi‟i rohimahullah, demikian juga mayoritas „ulama.

 Bersungguh-sungguh dalam beristinsyaq dan berkumur-kumur ketika tidak

sedang berpuasa. Dalilnya adalah sabda Nabi shollallahu „alaihi was sallam,

« ‫صااِمًّفا‬ َ ‫اق ِاله َنْ َت ُك‬


َ ‫ين‬ ِ ‫» َبال ِْػ ِى االِسْ تِ ْ َش‬

“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali jika kalian sedang


berpuasa”.

 Mendahulukan membasuh anggota wudhu yang kanan. Dalilnya adalah

sabda Nabi shollallahu „alaihi was sallam,

ِ ‫ان َرسُي ُ ه‬
َ ‫ َك‬-‫صلى َّللا عليه يسلم‬- ‫ُير ِه ِ َذا َت َطى َهر‬ ُ
« ‫َّللا‬ ِ ‫»لَ ُيحِبُّي ال هت َيم َُّين ِى طى‬

17
“Adalah kebiasaan Nabi shollallahu „alaihi was sallam sangat menyukai
mendahulukan kanan dalam thoharoh (berwudhu.)”.

 Membasuh anggota wudhu sebanyak 2 kali atau 3 kali. Dalil bahwa

Nabi shallallahu „alaihi was sallam membasuh anggota wudhunya 2 kali


adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Zaid,

‫ْن –صلى َّللا عليه يسلم – َنه ال ه ِبىه‬ ِ ‫َت َيضهأ َ َمره َتي‬
ِ ‫ْن َمره َتي‬

“Sesungguhnya Nabi shallallahu „alaihi was sallam berwudhu (membasuh


anggota wudhunya sebanyak) dua kali-dua kali.”

Dalil bahwa beliau membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali adalah hadits
yang diriwayatkan Humroon dari tentang wudhu Utsman bin Affan rodhiyallahu
„anhu ketika melihat cara wudhu Nabi shollallahu „alaihi was sallam,

‫ َ أ َ ْ َر َغ َعلَى‬، ‫دَعا ِب َيضُي ٍءء‬


َ ‫ان‬ َ ‫ان َ ه ُه َر َى ع ُْث َم‬ َ ‫ْن َع ه‬ ِ ‫ان ب‬َ ‫ان َم ْيلَى ع ُْث َم‬َ ‫َعنْ حُ م َْر‬
‫ َ َؽ َسلَ ُى َما َثالَ َ َمره ا ٍء‬، ‫… َيدَ ْي ِه ِمنْ ِ َ ااِ ِه‬. ‫…ث هم َؼ َس َ َي ْ َى ُه َثالَ ًّفثا‬
‫ت‬ ُ

Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (ketika ia menjadi budaknya


Utsmanpent.) suatu ketika beliau memintanya untuk membawakan air wudhu
(dengan wadahpent.), kemudian aku tuangkan air dari wadah tersebut ke tangan
beliau. Maka ia membasuh tangannya sebanyak 3 kali…kemudian dia membasuh
wajahnya sebanyak 3 kali….

18
Hal ini sering beliau lakukan pada anggota wudhu selain pada mengusap kepala,
berdasarkan salah satu riwayat hadits Abdullah bin Zaid rodhiyallahu „anhu di
atas yang juga dalam shohihain,

‫ َ أ َ ْ َب َ ِب ِى َما َي َ ْد َب َر َمره ًّفة َياحِدَ ًّفة‬، ‫ُث هم َ ْد َخ َ َيدَ ُه َ َم َس َح َر ْ َس ُه‬

“Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah air lalu menyapu


kepalanya ke arah depan dan belakang sebanyak 1 kali”.

Namun demikian dianjurkan juga menyapu kepala sebanyak tiga kali, namun hal
ini dianjurkan dengan catatan tidak dilakukan terus menerus berdasarkan salah
satu riwayat hadits yang diriwayatkan Humroon tentang cara wudhu Utsman bin
Affan rodhiyallahu „anhu ketika beliau melihat cara wudhu Nabi shollallahu
„alaihi was sallam,

‫َّللا‬ ُ ‫ي َم َس َح َر ْ َس ُه َثالَ ًّفثا ُث هم َؼ َس َ ِر ْ لَ ْي ِه َثالَ ًّفثا ُث هم َ ا َ َر َي‬-


ِ ‫ْت َرسُي َ ه‬ َ ‫صلى َّللا‬
‫عليه يسلم‬- ‫َت َيضهأ َ َو َك َذا‬

Beliau (Utsman bin Affan pent.)menyapu kepalanya tiga kali kemudian membasuh
kakinya tiga kali, kemudian beliau berkata, “Aku melihat Rosulullah shallallahu
„alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu seperti ini”.

 Tertib, yang dimaksud tertib di sini adalah membasuh anggota wudhu sesuai

tempatnya (urutan yang ada dalam ayat wudhu). Hal ini kami cantumkan di
sini sebagai sebuah sunnah bukan wajib dalam wudhu dengan alasan hadits Al
Miqdam bin Ma‟dikarib Al Kindiy rodhiyallahu „anhu,

19
‫ ُت َِى َرسُي ُ ه‬-‫صلى َّللا عليه يسلم‬- ‫ِب َيضُي ٍءء َ َت َيضهأ َ َ َؽ َس َ َك ه ْي ِه َثالَ ًّفثا ُث هم‬
ِ‫َّللا‬
‫اع ْي ِه َثالَ ًّفثا َثالَ ًّفثا ُث هم‬
َ ‫ض َياسْ َت ْ َش َق َثالَ ًّفثا َي َؼ َس َ َي ْ َى ُه َثالَ ًّفثا ُث هم َؼ َس َ ذ َِر‬
َ ‫َت َمضْ َم‬
‫َم َس َح ِب َر ْسِ ِه َي ُ ُذ َ ْي ِه َظاو ِِر ِو َما َيبَاطِ ِِى َما‬

“Rosulullah shallallahu „alaihi was sallam melakukan wudhu dengan membasuh


tangannya tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq tiga kali, kemudian
membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kakinya tiga kali, kemudian
menyapu kepalanya dan telinga bagian luar maupun dalam”[58].

 Berdo’a ketika telah selesai berwudhu. Hal ini berdasarkan sabda

Nabi shallallahu „alaihi was sallam,

« ‫ْاليُ ضُي َء ُث هم َيقُي ُ َ ْش َى ُد َنْ الَ ِلَ َه – َ ْي َ يُسْ ِب ُػ – َما ِم ْ ُك ْم ِمنْ َ َح ٍءد َي َت َيضهأ ُ َ ُي ْبل ُِػ‬
‫ت لَ ُه َب َْيابُ ْال َ ه ِة ه‬
ْ‫الث َما ِ َي ُة َي ْد ُخ ُ ِمن‬ ِ ‫َّللاُ َي َنه م َُحم ًّفهدا َع ْب ُد ه‬
ْ ‫َّللا َي َرسُيلُ ُه ِاله ُت َِح‬ ‫ِاله ه‬
‫» َ ِّي َىا َشا َء‬.

“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu dan ia menyempurnakan


wudhunya kemudian membaca, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang
berhak disembah kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”
melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang jumlahnya delapan,
dan dia bisa masuk dari pintu mana saja ia mau”.

20
Berdoa setelah wudhu merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan
dalam islam,berdasarkan hadits dari Umar radhiyallahu „anhu bahwasanya
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dengan sempurna, kemudian


mengucapkan „Asyhadu allaa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, wa
asyhadu anna muhammdan abduhu wa rosuluhu‘ kecuali dibukakan baginya
delapan pintu surga dan ia boleh masuk dari pintu mana saja yang ia suka.”
(HR. Muslim)

Di dalam lafadz Tirmidzi ada tambahan bacaan, “Allahummajnalni


minattawwabiin wa ij‟alni minal mutathohhiriin.”
(HR. Tirmidzi, shahih)

Dari hadist di atas kita bisa mengaetahui berata berdoa sesudah wudhu merupakan
amalan yang sangat besar manfaatnya . Dari hadist diatas maka doa selesai
wudhu, kemudian membaca (doa):

.ُ‫اَ ْ هَ ُد اَ ْ ّاِللَ اِ َّ ُ َو ْ َد ُ َ َ ِس ْي َ لَلُ َواَ ْ هَ ُد اَ َّ ُم َ َّم ًددا َع ْ ُد ُ َو َزو ُْىلُل‬

َ ‫اَللهُ َّم اجْ َ ْلنِ ْى ِمنَ التَّ َّىا ِ ْنَ َواجْ َ ْلنِ ْى ِمنَ ْال ُمتَ َه ِِّس ْينَ َواجْ َ ْلنِ ْى ِم ْن ِع َا ِا‬
. َ‫الصَّالِ ِ ْن‬

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu
bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan
Utusan Allah. Ya Allah jadikanlah aku golongan orang yang ahli taubat
dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku termasuk golongan
orang-orang yang sholeh."

21
At Tirmidzi menambahkan lafafdz,

َ ‫ين َيا ْ َع ْل ِى م َِن ْال ُم َت َطى ِِّر‬


‫ين‬ َ ‫الله ُى هم ا ْ َع ْل ِى م َِن ال هت هي ِاب‬

“Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah
aku termsuk orang-orang yang selalu mensucikan diri”.

 Sholat dua raka‟at setelah wudhu. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu

„alaihi was sallam,

ِ ُ ‫ الَ ي َُح ِّد‬، ‫ْن‬


« ‫ َؼ َ َر‬، ‫ِيى َما َ ْ َس ُه‬ ِ ‫صلهى َر ْك َع َتي‬ َ ‫َمنْ َت َيضهأ َ َ حْ َي يُ ضُياِى َو َذا ُث هم‬
‫ه‬
‫»َّللاُ لَ ُه َما َت َق هد َم ِمنْ َذ ْ ِب ِه‬

“Barangsiapa berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian sholat 2


raka‟at (dengan khusyuk) setelahnya dan ia tidak berbicara di antara keduanya,
maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah lalu”.

22