Anda di halaman 1dari 12

PENGUKURAN KAPASITAS PENCERNAAN MAKANAN PADA

IKAN (AKTIVITAS AMILASE)

Oleh:
Nama : Yosi Herliani
NIM : B1A016023
Rombongan : III
Kelompok : 3
Asisten : Persona Gemilang

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
201818
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan
sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Katalisator
adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi, substansi tersebut
tidak berubah. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan.
Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. pH
optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam
atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman, 1994).
Aktivitas enzim pencernaan berkorelasi dengan jumlah enzim yang terdapat
pada tempat pencernaan berlangsung. Aktivitas amilase dan protease dapat diketahui
dengan cara mengukur banyaknya mikromol maltosa dan asam-asam amino (tirosin)
yang dihasilkan per menit (Al Gadri et al., 2014). Salah satu enzim yang diperlukan
untuk pertumbuhan adalah amilase. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan
enzim yang merombak pati, glikogen dan polisakarida yang lain. Tumbuhan
mengandung α dan β amilase, hewan memiliki hanya α amilase, dijumpai dalam
cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah.
Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang, menghasilkan campuran
glukosa dan maltosa. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000
molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. Dalam air, amilosa
bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox, 1991).
Amilase merupakan enzim yang paling penting dan keberadaanya paling
besar, pada bidang bioteknologi, enzim ini diperjual belikan sebanyak 25% dari total
enzim yang lainya. Amilase didapatkan dari berbagai macam sumber, seperti
tanaman, hewan dan mikroorganisme. Amilase yang berasal dari mikroorganisme
banyak digunakan dalam industri, hal ini dikarenakan mikroorganisme periode
pertumbuhanya pendek. Amilase pertama kali yang diproduksi adalah amilase yang
berasal dari fungi pada tahun 1894 (Salisbury, 1990).

A. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah mengetahui perbedaan kapasitas pencernaan


ikan yang terukur aktivitas amilase pada ikan yang memperoleh asupan pakan
dengan kualitas berbeda.
II. MATERI DAN METODE

2.1 Materi

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan Lele
(Clarias gariepinus), pakan protein 32% dan 18%, ekstrak enzim, substrat amilum,
buffer fosfat, reagen DNS dan akuabides.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tabung eppendorf,
tabung reaksi, rak tabung reaksi, water bath, spektrofotometer, vortex, freezer, dan
mikropipet tip.

2.2 Metode

A. Preparasi Jaringan
1. Saluran digesti diisolasi dengan cara pembedahan lalu dibersihkan
(dilakukan diatas es balok).
2. Tris-HCl buffer 50 mM ditambahkan ke dalam botol sampel dengan rasio 1 :
8 (w/v)
3. Usus dilumatkan atau dihancurkan menggunakan homogenizer elektrik
selama 10 menit.
4. Usus yang telah dilumatkan dan ditampung dalam eppendorf 1,5 mL
disentrifugasi dengan menggunakan centrifuse 4C pada kecepatan 15.000
rpm selama 10 menit.
5. Supernatan diambil dan disimpan pada suhu -80º C.
B. Pengukuran aktivitas Amilase
1. Buffer fosfat amylase pH 7,03 dicampurkan ke dalam tabung sampel dan
blanko sebanyak 350 µl.
2. Ekstrak enzim ditambahkan pada tabung sampel sebanyak 50 µl.
3. Tabung sampel dan blanko diaktivasi selama 10 menit pada suhu 37oC.
4. Substrat pati ditambahkan sebanyak 350 µl ke dalam tabung sampel dan
blanko, lalu diinkubasi selama 15 menit pada suhu 37oC.
5. Setelah inkubasi, pada tabung sampel dan blanko ditambahkan dengan 750
µl reagen DNS.
6. Ekstrak enzim ditambahkan sebanyak 50 µl pada tabung blanko.
7. Semua tabung sampel dan blanko diinkubasi dengan dididihkan selama 5
menit.
8. Tabung yang telah didihkan, kemudian didinginkan sampai larutan tersebut
dingin kira-kira 15-30 menit, lalu ditambahkan akuabides sebanyak
akuabides 3000 µl.
9. Campuran reaksi dihomogenkan menggunakan vortex.
10. Campuran reaksi diukur absorbansinya pada spektofotometer dengan
panjang gelombang 540 nm.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1.1 Preparasi Jaringan Rombongan III

No. No.
Berat Tris-
eppendorf eppendorf Berat usus
Kel Perlakuan HCl (x6)
sampel kasar sampel halus (gram)
(gram)
(a) (b)
Lele Protein tinggi 17 17 1,93 11,58
1
Lele Protein rendah 18 18 2 12
Lele Protein tinggi 19 19 1,43 8,58
2
Lele Protein rendah 20 20 1,95 11,7
Lele Protein tinggi 21 21 2 12
3
Lele Protein rendah 22 22 1,86 11,16
Lele Protein tinggi 23 23 1,78 10,68
4
Lele Protein rendah 24 24 1,5 9

Tabel 3.1.2 Hasil Spektrofotometri Aktivitas Amilase Ikan Lele (Clarias


gariepinus)
No Tabung Jenis Sampel Absorbansi Konsentrasi
1 Ikan lele protein tinggi 1.550 9.04915
2 Ikan lele protein tinggi 1.143 0.643379
Blanko Ikan lele protein
3 0.616 -10.240752
tinggi
4 Ikan lele protein rendah 1.178 1.366234
5 Ikan lele protein rendah 1.006 -2.186082
Blanko Ikan lele protein
6 0.587 -10.839689
rendah

 Untuk mencari nilai konsentrasi, menggunakan rumus :

Konsentrasi = ax + b
a = 20,653
b = - 22,963
x = nilai absorbansi sampel
1) Konsentrasi = ax + b
= 20,653 (1,550) - 22,963
= 9,04915
2) Konsentrasi = a x+ b
= 20,653 (1,143) - 22,963
= 0,643379
3) Konsentrasi = a x+ b
= 20,653 (0,616) - 22,963
= -10,240752
4) Konsentrasi = ax + b
= 20,653 (1,178) - 22,963
= 1,366234
5) Konsentrasi = ax + b
= 20,653 (1,006) - 22,963
= -2,186082
6) Konsentrasi = ax + b
= 20,653 (0,587) - 22,963
= -10,839689
a. Aktivitas amilase ikan lele protein tinggi
kons. sampel 1 + kons. sampel 2
Aktivitas amilase (X) = ( ) − kons. blanko
2

9,04915+ 0,643379
=( )- (-10,240752)
2

= 19,6115915
Nilai aktivitas amilase (X)
Aktivitas amilase/menit = waktu inkubasi (15 menit)

19,6115915
= 15

= 1,30743943
b. Aktivitas amilase ikan Ikan lele protein rendah
kons. sampel 1 + kons. sampel 2
Aktivitas amilase (X) = ( ) − kons. blanko
2

1,3662234−2,186082
=( ) − (−10.839689)
2

= 11,112882
Nilai aktivitas amilase (X)
Aktivitas amilase/menit = waktu inkubasi (15 menit)

11,112882
= 15

= 0,7408588
Gambar 3.1.1 Hasil tabung sampel dan blanko sebelum diinkubasi
selama 5 menit pada suhu 100oC.

Gambar 3.1.2 Hasil tabung sampel dan blanko setelah diinkubasi selama 5 menit
pada suhu 100oC.
3.2 Pembahasan

Berdasarkan praktikum didapatkan hasil kelompok 3 rombongan III hasil


pengamatan aktivitas amilase pada ikan yang memperoleh perlakuan strategi
pemberian pakan berbeda yaitu aktivitas enzim amilase untuk ikan lele protein
tinggi yaitu 19,6115915 , sedangkan untuk aktivitas enzim amilase protein rendah
yaitu 11,112882. Aktivitas enzim dinyatakan dalam /menit untuk ikan dengan pakan
tinggi yaitu 1,30743943 menit dan untuk pakan rendah yaitu 0, 7408588 menit.
Perbandingan aktivitas enzim amilase pada lele yang diberi pakan tinggi dan yang
diberi pakan rendah terlihat berbedaan yang sangat signifikan, terlihat bahwa laju
aktivitas enzim amilase ikan lele yang diberi pakan rendah memiliki aktivitas
amilase rendah dibandingkan dengan laju aktivitas enzim amilase ikan yang diberi
pakan tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Eroldogan et al. (2008), yaitu
aktivitas enzim digesti akan meningkat pada saat ikan berada pada fase pemberian
pakan. Aktivitas amilase yang meningkat diduga juga berkaitan dengan
meningkatnya peran pakan yang dikonsumsi sebagai stimulator aktivitas enzim.
Adanya peningkatan aktivitas enzim sebagai akibat meningkatnya makanan dalam
saluran digesti yang bertindak sebagai substrat. Aktivitas amilase pada intestine
sangat dipengaruhi antara lain oleh jumlah amilase aktif yang ada, jumlah pakan
(amilum) dan kualitas pakan serta pola makan bukan oleh ukuran (Al gadri et al.,
2014).
Amilase adalah enzim yang menghidrolisis molekul pati menjadi polimer
dekstrin dan unit glukosa yang lebih sederhana. Enzim amilase merupakan enzim
yang memiliki peran penting dalam aplikasi bioteknologi mulai dari makanan,
pembuatan bir, fermentasi, deterjen, tekstil industry serta kimia obat dan klinis
(Singh et al., 2012). German et al. (2016) berpendapat, bahwa α-amilase
mengkatalisis ikatan glikosidik pada pati dan molekul serupa, kemudian
menghasilkan oligosakarida dan disakarida, dimana molekul ini nantinya akan
dihidrolisis kembali menjadi glukosa monomer dengan enzim disakarase pada
intestin. Aktivitas enzim pencernaan berkorelasi dengan jumlah enzim yang terdapat
pada tempat pencernaan berlangsung. Aktivitas amilase dan protease dapat diketahui
dengan cara mengukur banyaknya mikromol maltosa dan asam-asam amino (tirosin)
yang dihasilkan per menit. Aktivitas enzim pencernaan juga berkorelasi dengan
jumlah enzim yang terdapat pada tempat pencernaan berlangsung, semakin banyak
enzim yang bekerja pada organ pencernaan tersebut semakin tinggi pula aktivitasnya
(Al gadri et al., 2014).
Aktivitas amilase ditentukan dengan metode hidrolisis pati (Hidalgo et al.,
1999), dimana substrat yang digunakan dapat berupa amilum. Langkah pertama
untuk metode ini adalah dengan mengaktivkan terlebih dahulu ekstrak enzim yang
akan diuji. Kemudian baru ditambahkan subtrat dan diinkubasi kembali untuk
keberlangsungan reaksi enzim dan subtrat. Pengukuran hasil hidrolisis enzim tidak
dapat langsung dilakukan, karena perlu dilakukan pemberhentian aktivitas enzim
menggunakan reagen tertentu seperti DNS. Aktivitas amilase dapat diukur
menggunakan absorbansi larutan tersebut kemudian dikalkulasikan. Aktivitas enzim
amilase juga dapa ditentukan dengan metode Somorgyi-Nelson, dimana pengukuran
dilakukan pada terbentuknya gula pereduksi (Asnani & Lestari, 2009).
Perbedaan aktivitas enzim amilase pada ikan yang diberi pakan berbeda
sangat jelas terlihat dari hasil praktikum, dimana ikan yang diberikan pakan tinggi
memiliki aktivitas enzim lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pakan rendah.
Kehadiran pakan pada intestin ikan akan mengakibatkan adanya respon berupa
pemecahan struktur kompleks dari makanan yang dimakan ikan. Respon ini tidak
hanya berupa pemecahan amilum pada makanan, namun juga terdapat pemecahan
molekul-molekul kompleks lainnya seperti protein dan lipid. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa enzim memiliki sifat inducible dimana pakan merupakan subtrat.
Sifatnya yang inducible ini menyebabkan naiknya nilai aktivitas enzim karena
keberadaan dan peningkatan pakan dalam saluran digesti (Pratiwi et al., 2013).
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat bedah yang berfungsi
untuk untuk membedah ikan dan mengisolasi ususnya, timbangan analitik untuk
menimbang berat usus, bak plastik sebagai wadah untuk membedah ikan, lempengan
es untuk mencegah rusaknya jaringan serta menstabilkan pH, botol sampel sebagai
wadah campuran reaksi, homogenizer listrik untuk menghancurkan usus dan
mencampurkannya dengan larutan Tris-HCl, kompor untuk mendidihkan air, tabung
eppendorf sebagai wadah campuran reaksi, sentrifuge untuk memisahkan natan dan
supernatan, freezer untuk menyimpan supernatan pada suhu suhu -80 oC, tabung
reaksi untuk wadah campuran reaksi, penangas air untuk tempat melakukan inkubasi,
mikropipet untuk memindahkan larutan-larutan dalam kadar mikro, pipet tetes
untuk memindahkan larutan, spectrophotometry untuk mengukur absorbansi dengan
cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu objek kaca
atau kuarsa yang disebut kuvet, dan vortex untuk mengaduk senyawa kimia yang ada
dalam tabung reaksi atau wadah (Csuros, 1997).
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ikan lele (Clarias
gariepinus), sebagai objek preparat penelitian, Tris-HCL buffer berfungsi menjaga
buffer enzim agar tidak rusak dan penstabil pH, buffer fosfat berfungsi untuk
penstabil pH, ekstrak enzim diinkubasi selama 10 menit berfungssi untuk
mengaktifkan enzim dan diikubasi selama 15 menit berfungsi agar enzim berikatan
dengan substrat, substrat amilum merupakan substrat untuk amilase, akuabides
berfungsi untuk mengenceran/pelarut, dan reagen DNS untuk memberikan reaksi
kompleks yang membantu dalam pengukuran absorbansi larutan pada
spektrofotometer dan berfungsi menghentikan kerja enzim, sehingga enzim tidak
memecah pati (Lehnninger, 1995).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan


bahwa ikan yang diberi pakan protein tinggi memiliki kapasitas pencernaan yang
terukur sebagai aktivitas amilase lebih tinggi dari pada ikan yang diberi pakan
protein rendah .
DAFTAR REFERENSI

Al Gadri, S. F., Susilo, U., & Priyanto, S. 2014. Aktivitas Protease dan Amilase pada
Hepatopankreas dan Intestine Ikan Nilem Osteochilus hasselti C.V. Scripta
Biologica.

Asnani, A., & Lestari, P. 2009. Aktivitas Amilase, Lipase, dan Protease dari Cacing
Peryonix excavatus. Molekul, 4(2), pp. 115-121.
Csuros M. 1997. Environmental Sampling and Analysis Lab Manual. Inggris: CRC
Press.

Eroldogan, O. T., Suzer, C., Tasbozan, O., & Tabakoglu, S. 2008. The Effect of Rate
Restricted Feeding Regimes in Cycles in Digestive Enzymes of Gil the head
Sea-brem Sparus aurata. Turkish Journal of Fisheris and Aquatic Science.
Vol. 8, pp. 49-54

Fox, P.F. 1991. Food Enzymology Vol 2. London: Elsevier.

Gaman, P.M & Sherrington. 1994. Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi
dan Mikrobiologi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.

German, D. P., Dolly, M. F., Joseph, H., Hooree, A., & Brent, L. L. 2016. Elevated
Gene Copy Number Does Not Always Explain Elevated Amylase Activities
in Fishes. Physiological and Biochemical Zoology, 89(4), pp. 277–293.
Hidalgo MC, Urea E, Sanz A. 1999. Comparative study of digestive enzymes in fish
with different nutritional habits. Proteolytic and amylase. Aquaculture, 170,
pp. 267-283.

Lehninger, A.L. 1997. Dasar-dasar Biokimia. Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Pratiwi, E. D., Untung, S., & Slamet, P. 2013. Aktivitas Amilase dan Laju
Metabolisme Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) pada Kondisi Puasa dan
Pemberian Pakan Kembali. Biosfera, 30(1), pp. 1-6.
Salisbury, F. B & Cleon. W., Ross. 1990. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.

Singh, P., Gupta, P., Singh, R & Sharma, R. 2012. Activity and stability of
immobilized alpha-amylase produced by Bacillus acidocaldarius.
International Journal Of Pharmacy & Life Sciences, 3 (12), pp. 2247-2253.