Anda di halaman 1dari 13

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pinang (Areca catechu L.)

Gambar 2.1 Tanaman Pinang (Areca catechu L.)


(Dalimartha, 2006).

2.1.1 Klasifikasi Tanaman


Pinang atau Areca catechu L. termasuk suku Arecaceae
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisi : Magnoliophytae (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus : Areca
Spesies : Areca catechu L.
2.1.2 Deskripsi Tanaman
Pinang biasa ditanam di pekarangan, di taman atau dibudidayakan.
Tanaman ini kadang tumbuh liar di tepi sungai atau tempat lain, dan dapat
ditemukan pada ketinggian 1-1400 m dpl.
Pohon berbatang langsing, tumbuh tegak, tinggi 10-30 m, diameter 15-
20 cm, tidak bercabang, dengan bekas daun yang lepas. Daun majemuk
menyirip, tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang, dan
Panjang helaian daun 1-1,8 m. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang
sekitar 80 cm dan tangkai daun pendek. Helai anak daun mempunyai panjang
85 cm, lebar 5 cm, dengan ujung sobek dan bergigi, tongkol bunga dengan
seludang Panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun, Panjang
sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap.
Ada satu bunga betina pada pangkal, di atasnya banyak bunga jantan
tersusun dalam dua baris yang tertancap dalam alur. Panjang bunga jantan 4
mm, berwarna putih kuning dan benang sari berjumlah 6, sedangkan panjang
bunga betina sekitar 1,5 cm, berwarna hijau, dan bakal buahnya beruang satu.
4

Buah bentuk buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5 sampai 7 cm,
dinding buah berserabut, warna merah jingga jika masak. Bentuk biji seperti
kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan satu
lekukan dangkal, panjangnya 15 sampai 30 mm, permukaan luar berwarna
kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala
dengan warna yang lebih muda; pada pangkal biji sering terdapat bagian-
bagian dari kulit buah berwarna putih. Pada bidang irisan biji tidak beraturan
menembus endosperm yang berwarna agak keputih-putihan.
Unggutnya dimakan sebagai lalab atau acar, sedangkan buahnya
merupakan salah satu ramuan untuk makan sirih. Pinang merupakan tanaman
penghasil zat samak. Pelepah daun (sunda: upih), digunakan untuk
membungkus makanan dan bahan campuran untuk pembuatan topi
perbanyakan dilakukan dengan biji (Dalimartha, 2006).
2.1.3 Kandungan Kimia
Biji pinang mengandung 0,3 sampai 07% alkaloid yang bekerja
kolinergik, seperti arekolin (C8H13NO2), arekolidin, arekain, gufakolin,
gufasin, homoarekolin, dan isogufasin. Selain itu mengandung tannin
terkondensasi 15% arecaret, lemak 14% (palmitic, oleic, linoleic, palmitoleic,
stearic, caproic, caprylic, lauric, miristic acid), saponin (diosgenin), steroid
(kryptogenin, betasitosterol), asam amino, kolin, dan katekin. Biji segar
mengandung sekitar 50% lebih banyak alkaloid dibandingkan biji yang telah
diproses (Dalimartha, 2006).
2.1.4 Khasiat
Rasa biji pahit pedas, bersifat hangat dan astringen. Berkhasiat
meruluhkan cacing usus (antelmintik), karminatif, meluruhkan haid,
meruluhkan kencing (diuretik), meluruhkan dahak, memperbaiki pencernaan
(digestan), pencahar (laksatif), dan menghentikan serangan malaria.
Mengunyah pinang dapat merangsang keluarnya air liur dan cairan lambung
untuk meningkatkan fungsi pencernaan. Daunnya berkhasiat menambah nafsu
makan. Rasa sabut atau kulit buah pahit, bersifat hangat dan sedikit astringen.
Berkhasiat melancarkan sirkulasi darah, meluruhkan kencing (diuretik) dan
pencahar (Dalimartha, 2006).

2.2. Katekin
2.2.1 Struktur dan sifat fisikokimia katekin
5

Gambar 2.2 Struktur Katekin


(Depkes RI, 2010)
Katekin memiliki struktur umum C6-C3-C6 dengan 2 cincin aromatic
dan bebera gugus hidroksil (Gambar 2.2). Katekin di klasifikasikan menjadi
dua kelompok; katekin bebas dan katekin esterifikasi. Katekin bebas adalah
katekin, gallocatechin, epicatechin (EC), epigallocatechin (EGC),
sedangkan katekin esterifikasi adalah epigallocatechin gallat (EGCG),
epicatechin gallate (ECG), gallocatechin gallat (GCG), dan catechin gallat
(CG). Katekin yang di esterifikasi berkontribusi substansial yang memiliki
rasa pahit, sedangkan katekin bebas jauh lebih sedikit dan memiliki rasa
yang manis. Katekin di biji pinang disintesis melalui jalur asam asetat
malonat, dan sikimat (Voung et al., 2010).
Katekin tidak berwarna dan larut dalam air dan pelarut polar organic.
Namun, kelarutan katekin individu bervariasi dan tergantung pada suhu
ekstraksi, durasi dan jenis pelarut yang digunakan Labbe et al. menunjukkan
bahwa pelarutan EC dan EGC tergantung pada durasi eksstraksi, sedangkan
kelarutan ECGC dan ECG tergantung pada durasi ekstraksi dan suhu.
Menurut Hu et al. juga melaporkan bahwa dampak dari jenis pelarut, durasi
ekstraksi, dan suhu pada pelarutan EC dan ECG tidak signifikan, faktor-
faktor ini penting untuk pelarutan EGCG dan EGC. Penyerapan sinar ultra
violet oleh katekin, EGCG, EGC, ECG, dan EC, ditemukan pada panjang
gelombang maksimum 210 nm dan dari 269 nm hingga 280 nm (Voung et
al., 2010). Sifat kimia dan fisika dapat dilihat pada table 2.1
Tabel 2.1 Sifat Kimia dan Fisika Katekin
Sifat Fisika Sifat Kimia
1. Kenampakan: Putih 1. Sensitif terhadap oksigen
2. BM: 362,33 2. Sensitip terhadap cahaya
3. Melting point: 104-106 oC 3. Bersifat sebagai antioksidan
4. Boiling point: 245 oC 4. Substansi yang dihindari: Unsur
5. Tekanan uap: 1 mmHg oksidasi, asam klorida, asam
pada 75 oC anhidrat, basa dan asam nitrit
6. Densitas uap: 3,8 g/m3 5. Larut dalam air hangat
7. Flash point : 137 oC 6. Stabil dalam kondisi agak asam asam
atau netral ( pH optimum 4-8)
6

(Syah, 2006)

2.3 Ekstraksi
2.3.1 Metode Ekstraksi
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi
zat aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai
kemudian semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang ditetapkan (Depkes
RI,1995). Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen
kimia yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip
perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, perpindahan mulai
terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi ke dalam pelarut.
Maserasi
Maserasi merupakan proses pengekstrakan simplisia dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan
pada temperatur kamar (Ditjen POM, 2000).
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan
dan peralatan yang digunakan sederhana. Kerugian cara maserasi adalah
pengerjaannya yang lama dan penyariannya kurang sempurna. Pada
penyarian dengan cara maserasi, perlu dilakukan pengadukan untuk
meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia.
2.4 Analisis Senyawa
2.4.1 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi ini menggunakan prinsip adsropsi. Pada prosesnya
melibatkan dua fasa yaitu fasa diam sebagai adsorben dan fasa gerak. Fasa
gerak dapat berupa pelarut atau eluen murni ataupun campuran. Fasa diam
yang berupa selapis tipis silica gel dengan ketebalan 0,25 mm atau dapat
berupa adsorben yang lain seperti alumina atau selulosa.
Proses KLT sangat mudah dan cepat sehingga bisa digunakan untuk
menentukan kemurnian suatu senyawa organik. Selain itu, KLT juga
digunakan untuk menampakkan jumlah senyawa dalam sampel berdasarkan
jumlah noda atau bercak yang muncul.
KLT dapat digunakan untuk uji identifikasi senyawa baku. Parameter
pada KLT digunakan untuk uji identifikasi adalah nilai Rf. Dua senyawa
dikatakan identik jika mempunyai nilai Rf yang sama jika diukur pada
kondisi KLT yang sama.
7

KLT dilakukan dengan menotolkan sampel pada adsorben dengan


menggunakan pipa kapiler, dimana sebelumnya fasa diam telah diberi tanda
bagian atas dan bawah menggunakan pensil kemudian fasa diam
dimasukkan ke wadah yang biasanya terbuat dari bahan kaca yang
dilengkapi dengan penutup yang rapat. Kemudian sampel dielusi dan tidak
boleh melebihi batas atas yang telah ditandai sebelumnya. Laju elusi suatu
senyawa tergantung kemampuan terikat pada fasa diam dan kemampuan
larut di fasa gerak atau eluen. Setelah proses elusi, diperoleh noda atau
bercak yang dapat dianalisis lebih lanjut.
Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak
berwarna. Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia, fisika,
maupun biologi. Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan
mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan
sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk
menampakkan bercak adalah dengan pencacahan radioaktif dan fluoresensi
sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet terutama untuk senyawa yang dapat
berfluoresensi membuat bercak akan terlihat jelas. Berikut adalah cara-cara
kimiawi untuk mendeteksi bercak:
1. Menyemprot lempeng KLT dengan reagen kromogenik yang akan
bereaksi secara kimia dengan seluruh solute yang mengandung gugus
fungsional tertentu sehingga bercak menjadi berwarna, kadang-kadang
lempeng dipanaskan terlebih dahulu untuk mempercepat pembentukan
warna dan intensitas warna bercak.
2. Mengamati lempeng dibawah lampu ultraviolet yang dipasang
panjang gelombang emisi 254 nm dan 366 nm untuk menampakkan
solut sebagai bercak yang gelap atau bercak yang berfluoresensi
terang pada dasar yang berfluoresensi seragam.
3. Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat atau asam nitrat pekat
lalu dipanaskan untuk mengoksidasi solute-solut organic yang akan
Nampak sebagai bercak hitam sampai kecoklatan
4. Memaparkan lempeng dengan uap iodium dalam chamber tertutup
(Gholib dan Rohman. A., 2009).

2.5 Gigi
8

Gigi adalah bagian keras yang terdapat didala mulut. Fungsu utama dari gigi
adalah untuk merobek dan mengunyah makanan. Gigi tertanam di dalam tulang
bawah dan atas serta tersusun dalam dua lengkung. Lengkung rahang atas lebih
besar dari pada lengkung rahang bawah. Gigi tetap berjumlah 32 pada setiap
setengah rahang terdapat 8 buah gigi, yaitu 2 gigi sisivus, 1 gigi kaninus dan 2
gigi premolar yang menggantikan kedua molar gigi susu dan tambahan 3 molar
lagi di bagian posterior (Rahman, 2009).

Gambar 2.3 Bagian-Bagian Gigi


Gigi terdiri dari:
a. Mahkota gigi (mahkota klinis) yaitu bagian yang menonjol diatas diatas
gusi (gingiva), sedangkan mahkota anatomis adalah bagian yang dilapisi
email.
b. Akar gigi yaitu bagian yang terpendam dalam alveolus pada tulang
maksila atau mandibula.
c. Leher gigi (serviks) yaitu tempat bertemunya mahkota anatomis dan
akar gigi. Di bagian tengah gigi terdapat rongga pulpa yang melanjutkan
diri menjadi saluran akar yang berakhir pada fornamen apical. Rongga
pulpa ini dikelilingi oleh dentin dan bagian luar dentin dilapisi oleh
email (pada mahkota) dan sementum (pada akar).
d. Email atau enamel adalah bahan terkeras pada tubuh. Terdiri atas 97%
bahan berkapur, terutama bagian fosfat dalam bentuk apatit, dan hanya
1% bahan organik. Bahan organiknya terdiri dari enamelin, suatu protein
yang sangat kaya prolin.
e. Dentin merupakan bahan berkapur yang banyak mengandung unsur,
organik dengan prporsi yang sama seperti tulang. Dentin mengandung
tubulus spiral yang keluar dari rongga sumsum. Masing-masing tubulus
9

tersebut ditempati oleh suatu odontoblas melalui proses protoplasmik


yang sederhana. (Zulfikri, 2000).

2.6 Pasta Gigi


2.6.1 Pengertian Pasta Gigi
Pasta gigi pertama di dunia dibuat leh bangsa Mesir pada tahun 4
Masehi dengan mencampur bahan beberapa garam, merica, daun mint dan
bunga iris. Bangsa Romawi menggunakan formulasi pasta gigi dengan
memakai produk urin manusia karena kandungan amonianya. Pada urine
berfungsi umtuk memutihkan gigi. Bangsa Amerika menemukan pasta gigi
yang mengandung bahan roti hangus, cinnamon dan aluminium hangus pada
abad ke-18. Awal tahun 1800 kegiatan menyikat gigi yang sebelumnya
hanya menggunakan air saja diganti dengan pupuk pasta gigi, biasanya
dibuat sendiri dengan campuran bahan kapur, bata yang dihancurkan dan
garam, karena banyaknya keluhan yang timbul akibat penggunaan bahan-
bahan ini, maka tahun 1866 diperkenalkan pasta gigi bubuk dengan bahan
arang. Pada tahun 1900, mulai direkomendasikan pasta gigi dengan backing
soda dan hydrogen peroksida. Jenis ini mencapai popularitasnya setelh
perang dunia pertama di New York tahun 1896, Colgate memperkenalkan
pasta gigi kemasan tube seperti yang dipakai oleh para pelukis, kemudian
unsur flour mulai dimasukkan sebagai bahan pasta gigi pada tahun 1914
tetapi baru disetujui ADA (American Dental Association) pada tahun 1950
(Pratiwi, 2005).
Pasta gigi didefinisikan suatu bahan semi-aqueous yang digunakan
bersama sikat gigi untuk membersihkan deposit dan memoles seluruh
permukaan gigi. Penggunaan pasta gigi bersama sikat gigi melalui
penyukatan gigi adalah salah satu cara yang paling banyak digunakan oleh
masyarakat saat ini dengan tujuan untuk meningkatkan kebersihan rongga
mulut (Storehagen, 2003)
Syarat mutu monografi bahan pasta gigi dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel 2.2 Syarat Mutu Pasta Gigi (SNI 12-3524-1995)
10

No Jenis Uji Satuan Syarat


Sukrosa dan karbohidrat Negative
1 -
lain yang dapat terfenetrasi
2 pH - 4,5-10,5
Cemaran logam:
a) Pb Maksimal 5,0
3 ppm
b) Hg Maksimal 0,02
c) As Maksimal 2,0
Cemaran mikroba:
4 a) Angka lempeng total - <105
b) E.coli Negative
Zat pengawet asam benzoat, asam propionat,
asam sorbat, sulfur dioksida,
etil p-hidroksi benzoat, kalium
benzoat, kalium sulfit, kalium
bisulfit, kalium nitrat, kalium
nitrit, kalium propionat, kalium
sorbat, kalsium propionat,
5 - kalsium sorbat, kalsium
benzoat, natrium benzoat,
metil-p-hidroksi benzoat,
natrium sulfit, natrium bisulfit,
natirum metabisulfit, natrium
nitrat, natrium nitrit, natrium
propionat, nisin, dan propil-p-
hidroksi benzoat.
Formaldehid maks. Sebagai 0,1
6 %
formaldehid bebas
7 Fluor ppm 800-1500
Zat warna
Kurkumin, Riboflavin,
Karmin dan ekstrak
cochineal, Klorofil, Klorofil
dan klorofilin tembaga
kompleks, Karamel I,
Karamel III amonia proses,
Karamel IV amonia sulfit
proses, Karbon tanaman,
8 - Beta-karoten, Ekstrak
anato, Karotenoid, Merah
bit, Antosianin dan
Titanium dioksida.
Tartrazin, Kuning kuinolin,
Kuning FCF, Karmoisin,
Ponceau 4R, Eritrosin,
Merah allura, Indigotin,
Biru berlian FCF, Hijau
FCF, Coklat HT
11

Orgnoleptik:
a) Keadaan Harus lembut, serba sama
(homogen) tidak terlihat adanya
9 gelembung udara, gumpalan
dan partikel yang terpisah.
Tidak tampak
b) Benda asing

2.6.2 Fungsi Pasta Gigi


Pasta gigi yang digunakan pada saat menyikat gigi berfungsi untuk
mengurangi pembentukan plak atau stain, memperkuat perlindungan gigi
terhadap karies, membersihkan dan memoles permukaan gigi, mengurangi
atau menghilangkan bau mulut, memeberikan rasa segar pada mulut serta
memelihara kesehatan gingiva (Ireland, 2006).
2.6.3 Komponen Pasta
Menurut Ireland (2006) pasta gigi biasanya mengandung bahan
abrasive, pembersih, bahan penambah rasa dan warna, serta pemanis selain
itu dapat juga ditambahkan bahan pengikat, pelembab, pengawet, flour dan
air.
a. Bahan abrasif
Bahan abrasif yang terdapat dalam pasta gigi umumnya
berbentuk bubuk pembersih yang dapat memolis dan menghilangkan
stain dan plak. Bentuk dan jumlah bahan abrasif dalam pasta gigi
membantu untuk menambah kekentalan pasta gigi. Bahan abrasif
yang terdapat dalam pasta gigi tidak sekeras email, tetapi sekeras
atau lebih keras dari dentin. Kandungan bahan abrasif yang terdapat
dalam pasta gigi sebanyak 30-40%. Contoh abrasif ini antara lain
natrium bikarbonat, kalsium bikarbonat, kalsium sulfat, natrium
klorida, partikel silica, dikalsium fosfat. Efek yang diberikan oleh
bahan ini antara lain membersikan dan memoles permkaan gigi tanpa
merusak email, mempertahankan partikel, mencegah akumulasi
stain.
b. Bahan pelembab atau humektan sebanyak 10-30%
12

Bahan pelembab atau humektan ini dapat mencegah penguapan air


dan mempertahankan kelembaban pasta. Contoh bahan pelembab ini
antara lain gliserin, sorbitol dan air.
c. Bahan pengikat
Bahan pengikat ini memberikan efek untuk mengikat semua dan
membantu memberi tekstur pasta gigi, terdapat sebanyak 1-5%
dalam pasta gigi. Contoh bahan pengikat antara lain carboksimetil
sellulose, hidroksimetil sellulose, carrageenan dan cellulose gum.
d. Deterjen atau surfaktan
Deterjen dalam pasta gigi berfungsi menurunkan tegangan
permukaan dan melonggarkan ikatan debris dengan pasta gigi yang
akan membantu gerakan pembersihan sikat gigi. Persentasi detrjen
dalam pasta gigi sebanyak 1-2%. Contoh deterjen yang terdapat
dalam pasta gigi antara lain Sodium Lauryl Sulfat (SLS) dan Sodium
Lauryl Sarcosinate.

e. Bahan pengawet
Bahan pengawet dalam pasta gigi berfungsi mencegah
kontaminasi bakteri dan mempertahankan keaslian produk. Jumlah
bahan pengawet dalam pasta gigi diatas 7 dari 1%. Contoh bahan
pengawet yang digunakan dalam pasta gigi antar lain formalin,
alcohol, natrium benzoate.
f. Bahan pewarna atau bahan pemberi rasa
Persentase bahan ini dalam pasta gigi sebanyak 1-5%. Bahan
pewarna dan bahan pemberi rasa ini berfungsi untuk menutupi rasa
bahan-bahan lain yang kurang enak, terutama SLS dan juga
memenuhi selera pengguna seperti rasa mint, strawberry dan ras
permen karet pada pasta gigi anak-anak. Contoh bahan ini antara lain
peppermint atau spearmint, menthol, eucalyptus, aniseed dan
sakharin.
g. Air
13

Kandungan air dalam pasta gigi sebanyak 20-40% dan berfungsi


sebagai bahan pelarut bagi sebagian bahan dan mempertahankan
kosistensi
h. Bahan terapeutik
Bahan terapeutik yang terdapat dalam pasta gigi dapat
memperkuat enamel dengan cara membuatnya resisten terhadap
asam dan menghambat bakteri untuk memproduksi asam.
Adapun macam-macam fluoride yang terdapat dalam pasta gigi
yang digunakan sebagai berikut:
1. Stannous fluoride
Tin flour merupakan flour yang pertama ditambahkan dalam
pasta gigi yang digunakan secara bersamaan dengan bahan
abrasive (kalsium fosfat). Flour ini yaitu bersifat antibacterial,
namun kelemahannya dapat membuat stain abu-abu pada gigi.
2. Sodium fluoride
Naf merupakan flour yang paling sering ditambahkan dalam
pasta gigi, tapi tidak dapat digunakan besamaan dengan bahan
abrasive.
3. Sodium monofluorafosfat 2
i. Bahan desensitisasi
Bahan desensitisasi memberikan efek dengan cara mengurangi
atau menghilangkan sensitivitas dentin dengan cara efek
desentisitisasi langsung pada serabut saraf dan bahan tersebut yang
digunakan dalam pasta gigi adalah sebagai berikut:
1. Potassium nitrat dapat memblok transmisi nyeri diantara sel-
sel syaraf.
2. Stronsium chloride dapat memblok tubulus dentin
j. Bahan anti-tartar
Bahan ini digunakan untuk mengurangi kalsium dan magnesium
dalam saliva sehingga keduanya tidak dapat berdeposit pada
permukaan gigi. Contohnya tetrasodium pyrophosphate.
k. Bahan antimikroba
14

Bahan ini digunanakan untuk membunuh dan menghambat


pertumbuhan bakteri. Contoh bahan ini adalah triklosan
(bakterisidal), zinc citrate atau zinc phosphate (bakteriostatik). Selain
itu ada beberapa herbal yang ditambahkan sebagai antimikroba
dalam pasta gigi, contohnya ekstrak daun sirih merah dan siwak.
l. Bahan pemutih
Ada berbagai macam bahan pemutih yang digunakan antara lain
sodium carbonate, hydrogen perokside, citroxane dan sodium
hexametaphosphate.
2.6.4 Evaluasi Karakteristik Pasta Gigi
Menurut Storehagen (2003) karakteristik yang penting dari pasta
adalah konsistensi ideal, kemampuan menggosok, penampilan,
pembentukan busa, rasa, stabilitas dan keamanan.

a. Konsistensi
Konsistensi menggambarkan reologi dari pasta. Konsistensi ideal
dari pasta yaitu mudah dikeluarkan dari tube, cukup keras sehingga
dapat mempertahankan bentuk pasta minimal dalam 1 menit.
Konsistensi dapat diukur melalui densitas, viskositas dan kelarutan.
Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Maka
besar resistensi suatu zat cair untuk mengalir, maka semakin besar
oula viskositasnya.
b. Kemampuan mengosok
Pasta gigi dapat memiliki kemampuan menggosok yang sangat
bervariasi. Pasta gigi yang harus memiliki kemampuan menggosok
yang cukup untuk dapat dibersihkan dan membersihkan partikel atau
noda dan mengkilatkan permukaan gigi.
c. Penampilan
Pasta gigi yang disukai biasanya lembut, homogeny, mengkilat,
bebas dari gelembung udara dan memiliki warna yang menarik.
d. Pembentikan busa
15

Surfaktan yang digunakan harus dapat mensuspensikan dan


membersihkan sisa makanan melalui proses gosok gigi.
e. Rasa
Rasa dan aroma merupakan hal yang penting diperhatikan
konsumen dan merupakan karakteristik yang penting untuk
mengetahui apakah konsumen akan membeli produk atau tidak.
f. Stabilitas
Formulasi pasta gigi harus stabil, sesuai dengan waktu
penyimpanan pasta gigi dapat mencapai tiga tahun. Sediaan pasta
gigi tidak boleh memisah atau terjadi sinerisis. Viskositas dan pH
sediaan pasta gigi harus dapat dipertahankan selama waktu
penyimpanan.