Anda di halaman 1dari 32

X

Kurikulum 2006/2013

s
Kela
biologi
ANIMALIA I

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami tentang ciri-ciri dan klasifikasi Animalia.
2. Memahami tentang Porifera.
3. Memahami tentang Coelenterata/Cnidaria.
4. Memahami tentang Platyhelminthes.
5. Memahami tentang Nemathelminthes.
6. Memahami tentang Annelida.

A. Ciri-Ciri umum dan Klasifikasi Animalia


1. Ciri-Ciri umum Animalia
Animalia atau hewan berasal dari bahasa Latin, yaitu anima yang berarti jiwa. Ciri-ciri
organisme yang tergolong dalam kingdom Animalia adalah sebagai berikut.
a. Bersifat multiseluler (bersel banyak).
b. Bersifat eukariotik (sudah memiliki membran inti).
c. Tidak memiliki dinding sel.
d. Bersifat heterotrof, karena tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri.
e. Mampu bergerak secara aktif dan gerakannya relatif lebih cepat daripada tumbuhan
dan organisme lainnya. Gerakan ini berfungsi mempermudah hewan untuk mencari
makanan atau mempertahankan diri dari musuhnya.
f. Sebagian besar hewan bereproduksi secara seksual, yaitu dengan bertemunya sel
kelamin jantan (spermatozoa) dan sel kelamin betina (ovum). Proses fertilisasi ada
yang bersifat eksternal (terjadi di luar tubuh induk betina) dan ada yang bersifat
internal (terjadi di dalam tubuh induk betina). Proses fertilisasi ini akan menghasilkan
keturunan yang bersifat diploid (2n).
g. Memiliki bentuk tubuh dan organ-organ yang bervariasi. Bentuk tubuh hewan dapat
dibedakan berdasarkan simetri tubuh dan lapisan penyusun tubuhnya.
1.) Berdasarkan simetri tubuh
Berdasarkan simetri tubuhnya, hewan dibedakan menjadi dua, yaitu hewan
dengan tubuh simetri bilateral dan simetri radial.
• Simetri bilateral artinya bagian tubuhnya tersusun bersebelahan dengan
bagian lainnya. Jika tubuh hewan tersebut dipotong membujur dari
mulut hingga anusnya, akan diperoleh bagian yang sama antara sisi kiri
dan sisi kanan, sisi atas dan sisi bawah, serta sisi anterior dan sisi posterior.
Kelompok hewan yang memiliki tubuh simetri bilateral disebut bilateria,
misalnya udang, kepiting, atau lipan.
• Simetri radial artinya bagian tubuhnya tersusun melingkar. Jika tubuh
hewan tersebut dipotong, akan dihasilkan potongan-potongan tubuh
dengan bentuk yang sama. Hewan dengan tubuh simetri radial hanya
memiliki sisi oral di bagian puncak dan sisi aboral di bagian dasar. Kelompok
hewan yang memiliki tubuh simetri radial disebut radiata, misalnya Hydra
dan Aurelia (ubur-ubur).
2.) Berdasarkan lapisan penyusun tubuh
Lapisan penyusun tubuh yang dikenal dengan lapisan embrional adalah
lapisan yang terbentuk melalui proses gastrulasi pada saat perkembangan
embrio. Terdapat tiga macam lapisan embrional, yaitu lapisan ektoderm,
mesoderm, dan endoderm.
• Lapisan ektoderm adalah lapisan terluar yang menutupi permukaan
embrio. Ektoderm akan berkembang menjadi penutup luar tubuh hewan
(kulit) dan sistem saraf pusat.
• Lapisan mesoderm adalah lapisan yang terletak di antara ektoderm dan
endoderm. Mesoderm akan berkembang menjadi jaringan dan organ
seperti otot, jantung, alat-alat reproduksi, dan ginjal.
• Lapisan endoderm adalah lapisan terdalam yang menutupi arkenteron
(bakal saluran pencernaan). Endoderm akan berkembang menjadi saluran
pencernaan, hati, dan organ pernapasan pada Vertebrata.

Berdasarkan lapisan penyusun tubuhnya, hewan dibedakan menjadi dua,


yaitu hewan diploblastik dan hewan triploblastik.

2
• Hewan diploblastik adalah hewan yang tubuhnya tersusun dari
dua lapisan embrional, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm
(gastrodermis). Contohnya adalah Porifera dan Coelenterata.
• Hewan triploblastik adalah hewan yang tubuhnya tersusun dari tiga
lapisan embrional, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Berdasarkan
ada tidaknya rongga tubuh, hewan triploblastik dapat dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu triploblastik aselomata, triploblastik pseudoselomata,
dan triploblastik selomata.
o Triploblastik aselomata adalah hewan triploblastik yang belum
memiliki rongga tubuh di antara saluran pencernaan dan dinding
tubuhnya. Ini berarti, tubuh hewan triploblastik aselomata
padat tanpa rongga. Contohnya adalah hewan-hewan anggota
Platyhelminthes (cacing pipih).
o Triploblastik pseudoselomata adalah hewan triploblastik yang
memiliki rongga tubuh semu. Hal ini dikarenakan mesodermnya
belum membentuk rongga tubuh yang sesungguhnya dan belum
terbagi menjadi lapisan luar dan lapisan dalam. Contohnya adalah
hewan-hewan anggota Nemathelminthes (cacing gilik).
o Triploblastik selomata adalah hewan triploblastik yang sudah
memiliki rongga tubuh dan dilapisi oleh jaringan yang berasal dari
mesoderm. Contohnya adalah hewan-hewan anggota dari Annelida,
Mollusca, Arthropoda, Echinodermata, dan Chordata.

2. Klasifikasi Animalia
Berdasarkan ada atau tidaknya tulang belakang, Animalia dibedakan menjadi dua, yaitu
Invertebrata dan Vertebrata.
a. Invertebrata berasal dari bahasa Latin, yaitu in yang artinya tidak dan vertebrae yang
artinya tulang belakang. Ini berarti, Invertebrata adalah kelompok hewan yang tidak
memiliki tulang belakang. Filum-filum yang tergolong Invertebrata adalah Porifera,
Coelenterata (Cnidaria), Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca,
Echinodermata, dan Arthropoda.
b. Vertebrata adalah kelompok hewan yang memiliki tulang belakang. Vertebrata
merupakan subfilum dari filum Chordata, yaitu hewan-hewan yang memiliki korda
dorsalis (notochord). Korda dorsalis terdapat di sebelah dorsal dari alat pencernaan
dan bertindak sebagai penguat rangka tubuh. Filum Chordata dibagi menjadi empat,
yaitu Hemichordata, Cephalochordata, Urochordata, dan Vertebrata.

3
B. Porifera (Hewan Berpori)
Porifera berasal dari bahasa Latin, yaitu porus yang berarti lubang kecil dan ferre yang
berarti membawa. Ini berarti, Porifera adalah hewan yang memiliki lubang kecil atau
pori-pori pada tubuhnya. Porifera disebut juga hewan spons.

1. Ciri-Ciri
Porifera memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Bersifat diploblastik, karena tubuhnya tersusun dari dua lapisan embrional, yaitu
lapisan ektoderm dan lapisan endoderm. Pada lapisan ektoderm terdapat sel-sel
pinakosit dan pada lapisan endoderm terdapat sel-sel koanosit.
b. Belum memiliki jaringan sejati dan organ-organ tubuh yang terspesialisasi.
c. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi, mulai dari seukuran kacang polong hingga
berukuran setinggi 90 cm dengan diameter 100 cm.
d. Tubuh berwarna pucat hingga cerah.
e. Simetri tubuh asimetri atau simetri radial.
f. Bentuk tubuh bermacam-macam, ada yang seperti vas bunga, tabung, atau
bercabang-cabang seperti tumbuhan.
g. Memiliki saluran air yang bertipe askonoid, sikonoid, atau leukonoid (rhagon).
h. Hidup melekat di suatu substrat di dasar perairan (sesil).
i. Sebagian besar hidup di laut dan sebagian kecil hidup di air tawar. Porifera hidup
di bagian perairan yang jernih dan dangkal, tetapi ada juga yang hidup di perairan
berpasir atau berlumpur.
j. Tidak memiliki sistem saraf.

2. Struktur Tubuh
Pada permukaan tubuh Porifera terdapat lubang-lubang kecil atau pori-pori yang disebut
ostium. Ostium berperan seperti mulut yang berfungsi sebagai tempat masuknya air ke
dalam tubuh. Air yang masuk ke dalam ostium akan mengalir ke dalam rongga tubuh
yang disebut spongosol. Selanjutnya, air akan keluar dari spongosol melalui lubang
pengeluaran yang disebut oskulum.
Tubuh Porifera terdiri atas 3 lapisan, yaitu pinakosit, mesoglea, dan koanosit.
a. Pinakosit atau pinakoderm adalah sel-sel pada lapisan terluar tubuh yang
berbentuk pipih dan tersusun rapat satu sama lain. Pinakosit berfungsi sebagai
pelindung tubuh bagian dalam. Di antara pinakosit terdapat pori-pori (ostium) yang
membentuk saluran air menuju spongosol.

4
b. Mesoglea adalah lapisan nonseluler yang terdapat di antara lapisan luar (pinakosit)
dan lapisan dalam (koanosit). Mesoglea tersusun dari protein bergelatin yang
mengandung bahan tulang dan sel-sel ameboid yang disebut amebosit. Fungsi
amebosit adalah mengedarkan sari-sari makanan dan oksigen ke dalam sel-sel
tubuh lainnya, membuang partikel-partikel sisa metabolisme, membuat spikula
(serat spons), serta membentuk sel reproduktif.
c. Koanosit (sel leher) adalah sel-sel berbentuk seperti botol dan berflagel yang menyusun
lapisan tubuh paling dalam. Koanosit menghadap ke spongosol. Fungsi koanosit adalah
mencerna makanan secara intraseluler. Koanosit memiliki nukleus dan vakuola.

Tubuh Porifera yang lunak dapat berdiri tegak pada substrat karena ditunjang oleh
spikula dan serat organik yang berfungsi sebagai rangka tubuh. Spikula tersusun dari zat
kapur (CaCO3) dan zat silikat (SiO2), sedangkan serat organik tersusun dari skleroprotein
yang mengandung belerang.

3. Tipe-Tipe Saluran Air


Sistem saluran air pada Porifera ada tiga tipe, yaitu askonoid, sikonoid, dan leukonoid
(rhagon).
a. Askonoid merupakan tipe saluran air yang paling sederhana. Pada tipe ini, lubang
ostium langsung dihubungkan dengan saluran lurus yang menuju spongosol.
Contohnya adalah Leucosolenia sp.
b. Sikonoid merupakan tipe saluran air yang lebih rumit daripada askonoid. Pada tipe
ini, lubang-lubang ostium dihubungkan dengan saluran yang bercabang-cabang ke
rongga-rongga yang berhubungan langsung dengan spongosol. Rongga-rongga ini
dilapisi oleh koanosit. Contohnya adalah Scypha sp.
c. Leukonoid (rhagon) merupakan tipe saluran air yang paling rumit. Pada tipe ini, lubang-
lubang ostiumnya dihubungkan dengan saluran yang bercabang-cabang ke rongga
yang sudah tidak berhubungan dengan spongosol. Contohnya adalah Spongia sp.

Berikut ini adalah gambar tipe-tipe saluran air pada Porifera.

Oskulum
Arah aliran air

Ostium

Spongosol
Koanosit
Ostium Arah aliran air

TIPE ASKONOID TIPE SIKONOID TIPE LEUKONOID/RHAGON

Gambar 1. Tipe-tipe saluran air pada Porifera

5
SUPER "Solusi Quipper"
Untuk mempermudah dalam mengingat tipe-tipe saluran air pada Porifera, gunakan
cara berikut.

ASLi

Askonoid – Sikonoid - Leukonoid



4. Cara Reproduksi
Porifera dapat melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual.
a. Reproduksi aseksual
Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan tunas (budding) dan gemula
(tunas internal).
1.) Tunas (budding) merupakan salah satu jenis sel amebosit yang mudah
dilepaskan. Sekelompok sel yang dilepaskan akan tumbuh menjadi individu
baru.
2.) Gemula (tunas internal) merupakan sekumpulan sel arkeosit yang
mengandung cadangan makanan. Arkeosit adalah amebosit dengan
pseudopodia yang tumpul dan bernukleus besar. Gemula dikelilingi oleh sel
amebosit yang membentuk lapisan luar yang keras atau terkadang mengandung
spikula. Gemula merupakan sel koanosit yang membungkus diri saat kondisi
lingkungan buruk.
b. Reproduksi seksual
Reproduksi seksual dilakukan dengan membentuk sel-sel gamet jantan dan betina.
Pada umumnya, Porifera bersifat hermafrodit karena menghasilkan sperma dan
ovum pada tubuh yang sama. Namun, ada juga yang bersifat diesis, yaitu sperma
dan ovum dihasilkan pada tubuh yang berbeda. Pada hewan hermafrodit, sperma
dan ovum dihasilkan pada waktu yang berbeda oleh sel arkeosit. Sperma yang
dibentuk kemudian dikeluarkan bersama aliran air melalui oskulum dan masuk ke
dalam individu lain melalui ostium. Fertilisasi terjadi di dalam lapisan mesoglea
dan menghasilkan embrio. Embrio akan tumbuh menjadi larva yang disebut larva
amfiblastula. Larva amfiblastula keluar dari mesoglea, kemudian keluar bersama
aliran air melalui oskulum. Selanjutnya, di luar tubuh induk, larva amfiblastula akan
berenang bebas dan kemudian menempel di substrat hingga tumbuh menjadi
Porifera dewasa.

6
5. Klasifikasi
Berdasarkan bentuk dan kandungan spikulanya, filum Porifera dibagi menjadi tiga kelas,
yaitu Calcarea, Hexactinellida, dan Demospongia.
a. Kelas Calcarea (Calcispongidae)
Calcarea (Calcispongidae) berasal dari bahasa Latin, yaitu calcare atau calsi yang
berarti kapur dan spongia yang berarti spons. Kelas Calcarea memiliki ciri-ciri sebagai
berikut.
1.) Memiliki rangka (spikula) dari zat kapur atau kalsium karbonat dengan bentuk
monaxon dan triaxon, sehingga tampak seperti duri-duri kecil dan berwarna
putih pucat. Calcarea memiliki rangka dengan tinggi kurang dari 15 cm dan
permukaan tubuhnya berbulu.
2.) Memiliki tipe saluran air askonoid, sikonoid, dan leukonoid.
3.) Contohnya adalah Leucosolenia sp., Scypha sp., dan Clathrina sp.
b. Kelas Hexactinellida (Hyalospongidae)
Hexactinellida (Hyalospongidae) berasal dari bahasa Yunani, yaitu hexa yang berarti
enam, hyalo yang berarti transparan atau kaca, dan spongia yang berarti spons. Kelas
Hexactinellida memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Memiliki spikula dari bahan silikat atau kersik (SiO2) yang berbentuk triaxon
bercabang enam. Bentuk tubuh pada kelas ini menyerupai gelas, corong, atau
silinder, dengan tinggi mencapai 90 cm.
2.) Memiliki tipe saluran air sikonoid.
3.) Hidup di laut dengan kedalaman 90 cm hingga 5.000 m.
4.) Contohnya adalah Euplectella aspergilium, Pheronema sp., dan Hyalonema sp.
c. Kelas Demospongia
Demospongia berasal dari bahasa Yunani, yaitu demo yang berarti tebal dan spongia
yang berarti spons. Demospongia memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Tidak memiliki rangka tubuh, sehingga tubuhnya lunak. Jika ada yang memiliki
rangka, rangkanya tersusun dari serabut-serabut spongin dengan spikula
dari bahan silikat yang bertipe monaxon atau tetraxon. Tinggi dan diameter
tubuhnya mencapai 1 m, dengan warna yang umumnya cerah, tetapi ada juga
yang gelap (hitam).
2.) Memiliki tipe saluran air leukonoid.
3.) Hidup di tepi pantai hingga kedalaman 45 m, tetapi ada juga yang hidup di air
tawar.
4.) Contohnya adalah Spongia sp., Euspongia sp., Callyspongia sp., dan Clionia sp.

7
Berikut ini adalah gambar beberapa anggota Porifera.

Leucosolenia sp. Euplectella sp.


Gambar 2. Beberapa anggota Porifera

6. Peranan bagi Kehidupan Manusia


Peranan Porifera bagi kehidupan manusia adalah sebagai berikut.
a. Digunakan sebagai hiasan di dalam akuarium, terutama Porifera yang berwarna
cerah.
b. Digunakan untuk spons mandi.
c. Digunakan untuk alat pembersih.

C. Coelenterata/Cnidaria
Coelenterata berasal dari bahasa Yunani, yaitu coelos yang berarti rongga dan enteron
yang berarti usus. Ini berarti, Coelenterata adalah hewan yang memiliki rongga usus
atau rongga gastrovaskuler. Coelenterata juga disebut Cnidaria yang berasal dari bahasa
Yunani, yaitu cnide yang berarti sengat, karena memiliki sengat.

1. Ciri-Ciri
Ciri-ciri dari Coelenterata/Cnidaria adalah sebagai berikut.
a. Bersifat diploblastik, karena tubuhnya tersusun dari dua lapisan embrional. Lapisan
endoderm akan berkembang menjadi gastroderm.
b. Memiliki rongga gastrovaskuler yang terdapat di lapisan gastroderm. Rongga
gastrovaskuler berfungsi untuk mencerna makanan.
c. Rongga gastrovaskuler hanya memiliki satu lubang oskulum yang berfungsi sebagai
mulut dan anus.
d. Tubuh sudah tersusun dari jaringan sejati.
e. Ukuran tubuh bervariasi, mulai dari ukuran beberapa milimeter hingga yang
berdiameter mencapai 2 meter.

8
f. Memiliki sengat yang berfungsi sebagai pertahanan diri dan menangkap mangsa.
Sengat terdapat pada alat gerak yang disebut tentakel.
g. Bentuk tubuh dapat dibedakan menjadi polip dan medusa. Polip adalah tubuh yang
berbentuk silindris dengan dua ujung. Ujung yang satu sebagai oral yang dikelilingi
tentakel, sedangkan ujung lainnya melekat pada substrat atau dasar perairan.
Medusa adalah tubuh yang berbentuk lonceng, payung, atau mangkuk terbalik.
Bagian cembung mengarah ke atas, sedangkan bagian cekung yang memiliki mulut
dan tentakel mengarah ke bawah. Medusa dapat berenang bebas.
h. Simetri tubuh radial.
i. Memiliki saraf dan otot sederhana.
j. Tidak memiliki alat pernapasan dan ekskresi. Pertukaran gas dilakukan oleh seluruh
permukaan tubuhnya secara difusi. Sisa metabolisme berupa amonia dibuang
melalui mulut, karena Coelenterata tidak memiliki anus.
k. Sebagian besar hidup bebas di laut dan hanya sedikit yang hidup di air tawar.

2. Struktur Tubuh
Tubuh Coelenterata terdiri atas tiga lapisan, yaitu epidermis, mesoglea, dan gastrodermis.
a. Epidermis adalah lapisan terluar tubuh yang terdiri atas 5 macam sel, yaitu sel
epitel otot, sel interstisial, sel knidosit atau knidoblas, sel kelenjar lendir, dan sel saraf
indra. Di dalam knidosit terdapat alat penyengat berbentuk kapsul yang disebut
nematosista. Nematosista menghasilkan racun yang hanya dapat digunakan sekali
saja, sehingga perlu dibentuk knidosit baru. Sel-sel interstisial berfungsi dalam proses
regenerasi dan membentuk sel-sel lainnya, seperti knidosit, spermatozoa, dan ovum.
Sel indra berhubungan dengan sel saraf yang tersusun seperti jalan pada epidermis
yang berdekatan dengan mesoglea.
b. Mesoglea adalah lapisan di antara epidermis dan gastrodermis yang berisi bahan
seperti gelatin. Mesoglea tidak mengandung sel-sel.
c. Gastrodermis adalah lapisan terdalam tubuh Coelenterata yang terdiri atas beberapa
macam sel, yaitu sel otot pencerna berflagela, sel kelenjar enzim, dan sel kelenjar
lendir. Sebagian besar Coelenterata memiliki nematosista pada gastrodermisnya,
tetapi untuk Hydra tidak. Pada beberapa Hydra, gastrodermisnya mengandung
Zoochlorella yang hidup bersimbiosis dengan Hydra, sehingga Hydra berwarna hijau
cerah.

9
Berikut ini adalah gambar struktur tubuh Coelenterata.
Rongga Rongga
Mulut/Anus gastrovaskuler Gastrodermis
Tentakel
Mesoglea
Epidermis
Gastrodermis
Mesoglea
Epidermis
Tubuh
Tentakel
Kaki Mulut/Anus
POLIP Medusa

Gambar 3. Struktur tubuh Coelenterata

3. Cara Mencerna Makanan


Cara makan dan mencerna makanan pada Coelenterata adalah sebagai berikut.

Makanan masuk ke dalam mulut dengan bantuan tentakel – menuju rongga


gastrovaskuler – terjadi pencernaan makanan dengan bantuan enzim semacam tripsin
untuk mencerna protein – makanan yang hancur diaduk oleh flagela – sel otot pencerna
membentuk pseudopodia untuk menangkap dan menelan partikel makanan – terjadi
pencernaan intraseluler – sari-sari makanan diedarkan ke seluruh tubuh melalui difusi
– sebagian disimpan sebagai cadangan makanan berupa lemak dan glikogen – sisa
pencernaan dikeluarkan dari tubuh melalui mulut, karena tidak memiliki anus.

4. Cara Reproduksi
Coelenterata dapat melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual.
a. Reproduksi aseksual
Reproduksi aseksual dilakukan dengan membentuk tunas. Tunas dibentuk oleh
Coelenterata yang berbentuk polip. Tunas tumbuh di dekat kaki polip. Coelenterata
memiliki daya regenerasi yang tinggi. Contohnya, seekor Hydra yang tubuhnya
dipotong menjadi dua bagian, setiap potongan akan tumbuh menjadi individu
baru.
b. Reproduksi seksual
Reproduksi seksual biasanya dilakukan oleh Coelenterata yang berbentuk medusa,
dengan cara membentuk gamet jantan dan betina. Hydra merupakan bentuk polip
yang dapat bereproduksi secara seksual. Pada kondisi lingkungan yang buruk, Hydra
dapat membentuk sel-sel gamet. Selanjutnya, zigot yang terbentuk akan melakukan
dormansi hingga lingkungan kembali membaik.

10
5. Metagenesis
Pada Coelenterata, reproduksi aseksual dalam bentuk polip dan reproduksi seksual dalam
bentuk medusa berlangsung secara bergantian membentuk siklus hidup (metagenesis).
Berikut ini adalah metagenesis pada Obelia sp. dan Aurelia sp.
a. Metagenesis pada Obelia sp.
Tahapan metagenesis pada Obelia sp. adalah sebagai berikut.
1.) Polip diploid (2n) bereproduksi secara aseksual dengan membentuk tunas-
tunas, sehingga terbentuk koloni polip. Terdapat dua macam polip, yaitu polip
bertentakel yang bertugas mencari makan dan polip tanpa tentakel yang
bertugas untuk reproduksi.
2.) Polip tanpa tentakel akan membentuk tunas medusa secara aseksual. Tunas
medusa kemudian dilepaskan dan akan berenang bebas.
3.) Medusa dewasa (2n) jantan dan betina akan membentuk sel-sel gamet (sperma
atau ovum) secara meiosis, sehingga dihasilkan sel-sel gamet haploid (n).
4.) Jika terjadi fertilisasi antara ovum dan sperma, akan terbentuk zigot yang juga
bersifat diploid (2n).
5.) Zigot akan berkembang menjadi larva padat bersilia yang berenang bebas atau
disebut planula.
6.) Planula kemudian akan menetap di suatu substrat dan tumbuh menjadi polip
baru (2n).

Berikut ini adalah gambar metagenesis pada Obelia sp.


gonad reproduksi
medusa
Polip untuk aseksual
mencari makan
sperma (n)

telur (n)
tunas medusa
ektoderm zigot (2n)
blastula
reproduksi
seksual dengan
tunas larva planula

koloni polip
polip yang
polip dewasa
bekembang
Gambar 4. Metagenesis pada Obelia sp.

11
b. Metagenesis pada Aurelia sp. (ubur-ubur)
Tahapan metagenesis pada Aurelia sp. adalah sebagai berikut.
1.) Medusa jantan dan betina yang diploid (2n) masing-masing menghasilkan sel-
sel gamet (sperma atau ovum) yang haploid (n).
2.) Jika terjadi fertilisasi antara ovum dan sperma, akan terbentuk zigot yang juga
bersifat diploid (2n).
3.) Zigot akan mengalami pembelahan mitosis dan tumbuh menjadi larva bersilia
yang berenang bebas atau disebut planula.
4.) Planula kemudian akan menempel pada substrat dan tumbuh menjadi larva
polip berukuran kecil dan bertentakel yang disebut skifistoma. Polip skifistoma
kemudian akan membentuk tunas-tunas.
5.) Skifistoma kemudian akan mengalami strobilasi, yaitu melakukan pembelahan
secara melintang pada ujung oral, sehingga terbentuk setumpuk calon medusa
yang disebut efira.
6.) Efira akan terlepas satu per satu dan akan tumbuh menjadi ubur-ubur dewasa.
Sementara itu, skifistoma akan hidup sebagai polip kembali. Skifistoma dapat
hidup selama 1 tahun hingga beberapa tahun.

Berikut ini adalah gambar metagenesis pada Aurelia sp. (ubur-ubur).

Aurelia jantan Aurelia jantan


dewasa dewasa
Aurelia betina
dewasa

Sel telur Sperma


Zigot Medusa muda Efira
Pembuahan

Planula

Skifistoma
Strobila

Gambar 5. Metagenesis pada Aurelia sp.

12
6. Klasifikasi
Coelenterata dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Hydrozoa, Scyphozoa, dan Anthozoa.
a. Hydrozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu hydro yang berarti air dan zoon yang
berarti hewan. Hydrozoa memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Hewan dewasa berbentuk polip, karena fase polip lebih dominan daripada fase
medusa.
2.) Hidup berkoloni atau soliter. Hewan yang berkoloni memiliki bentuk polip dan
medusa, sedangkan hewan yang soliter hanya memiliki bentuk polip.
3.) Hidup di laut atau di air tawar.
4.) Contohnya adalah Hydra sp. (hidup soliter di air tawar) dan Obelia sp. (hidup
berkoloni di laut).
b. Scyphozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu skyphos yang berarti mangkuk dan zoon
yang berarti hewan. Scyphozoa memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Hewan dewasa berbentuk medusa, karena fase medusa lebih dominan daripada
fase polip.
2.) Bentuk tubuh seperti mangkuk, transparan, dan melayang-layang di laut.
3.) Memiliki mesoglea yang tebal sebagai sumber nutrisi.
4.) Mengalami metagenesis antara fase medusa dan fase polip.
5.) Umumnya memiliki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina,
dengan pembuahan secara eksternal.
6.) Contohnya adalah Aurelia aurita (ubur-ubur).
c. Anthozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu anthos yang berarti bunga dan zoon yang
berarti hewan. Anthozoa memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Hewan dewasa selalu berbentuk polip, karena tidak memiliki fase medusa.
2.) Bentuk tubuh seperti bunga.
3.) Hidup di laut, secara koloni atau soliter.
4.) Ada yang membentuk rangka dalam atau rangka luar dari bahan kapur (CaCO3)
dan ada juga yang tidak membentuk rangka. Rangka yang sudah mati akan
membentuk pulau karang (reef).
5.) Rongga gastrovaskuler mempunyai sekat yang mengandung nematokis
(nematosista). Selain itu, nematokis juga terdapat pada tentakel.
6.) Anthozoa dibagi menjadi dua subkelas, yaitu Hexacorallia dan Octocorallia.
• Hexacorallia memiliki rongga tubuh yang bersekat 6 dan masing-masing
terdiri atas 2 lembar. Contohnya adalah Fungia sp. dan Acropora sp.

13
• Octocorallia memiliki rongga tubuh yang bersekat 8. Contohnya adalah
Tubipora musica (karang suling) dan Euplexaura sp. (akar bahar).
7.) Contohnya adalah Acropora sp., Corallium sp. (koral merah), Cerianthus sp., dan
Fungia sp.
Berikut ini adalah gambar beberapa anggota Coelenterata.

Hydra sp. Aurelia sp. Fungia sp.


Gambar 6. Beberapa anggota Coelenterata

7. Peranan bagi Kehidupan Manusia


Peranan Coelenterata bagi kehidupan manusia adalah sebagai berikut.
a. Dapat dimanfaatkan sebagai hiasan akuarium.
b. Beberapa jenis ubur-ubur yang tidak beracun dapat dimakan.
c. Membentuk ekosistem terumbu karang.
d. Bahan pembuat kapur.

D. Platyhelminthes (Cacing Pipih)


Platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, yaitu platy yang berarti pipih dan helminthes
yang berarti cacing. Ini berarti, Platyhelminthes adalah cacing yang berbentuk pipih.

1. Ciri-Ciri
Ciri-ciri dari Platyhelminthes adalah sebagai berikut.
a. Bentuk tubuh pipih dorsiventral, bersegmen-segmen atau tidak bersegmen-segmen.
b. Bersifat triploblastik aselomata, karena tubuhnya memiliki 3 lapisan embrional, yaitu
ektoderm, mesoderm, dan endoderm, serta tidak memiliki selom (rongga tubuh).
c. Memiliki simetri tubuh bilateral.
d. Ukuran tubuh bervariasi, mulai dari ukuran kurang dari 1 mm hingga yang berukuran
lebih dari 20 m.
e. Hidup bebas di air tawar, air laut, atau di tempat-tempat yang lembap. Selain itu, bisa
juga hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan.

14
2. Struktur Tubuh
Platyhelminthes memiliki struktur tubuh sebagai berikut.
a. Tubuh tersusun dari 3 lapisan embrional (triploblastik) dan tidak memiliki rongga
tubuh (aselomata).
b. Ada yang sudah memiliki saluran pencernaan dan ada yang belum memiliki saluran
pencernaan.
c. Tidak memiliki sistem pernapasan dan peredaran darah, sehingga pertukaran gas
dan transportasi zat dilakukan secara difusi.
d. Memiliki sistem saraf berupa beberapa pasang benang saraf.
e. Alat ekskresi berupa sel api (flame cell).
f. Cacing yang hidup bebas memiliki bintik mata sebagai alat untuk sensor cahaya.

3. Cara Reproduksi
Platyhelminthes bereproduksi secara aseksual, seksual, atau keduanya.
a. Reproduksi aseksual
Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara fragmentasi atau memutus tubuhnya
menjadi beberapa bagian kecil. Potongan-potongan tubuh tersebut kemudian
beregenerasi menjadi individu baru yang lengkap seperti induknya. Contohnya
adalah Planaria sp.
b. Reproduksi seksual
Reproduksi seksual dilakukan dengan membentuk gamet jantan (sperma) di dalam
testis dan gamet betina (ovum) di dalam ovarium. Hasil pembuahan antara ovum
dan sperma akan menghasilkan zigot. Pada umumnya, Platyhelminthes bersifat
hermafrodit, yaitu dalam satu tubuh dapat memiliki ovarium dan testis.

4. Klasifikasi
Platyhelminthes dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda, dan Cestoda.
a. Kelas Turbellaria
Kelas Turbellaria (cacing berambut getar) memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Bentuk tubuh umumnya lonjong hingga panjang seperti tongkat dan pipih
dorsiventral. Panjang tubuh umumnya antara 0,5 mm – 60 cm.
2.) Tubuh berwarna hitam, cokelat, kelabu, merah, atau hijau karena bersimbiosis
dengan Algae dan ditutupi epidermis yang banyak mengandung lendir. Lendir
berfungsi untuk melekat pada suatu permukaan dan membalut mangsanya.
3.) Sisi-sisi kepala melebar membentuk tentakel yang disebut aurikel.

15
4.) Bagian ventral tubuh terdapat silia untuk merayap.
5.) Sistem pencernaan terdiri atas mulut, faring, dan rongga gastrovaskuler yang
disebut enteron. Dinding usus hanya terdiri atas satu lapisan sel fagosit dan
sel kelenjar. Dinding usus juga mengalami pelebaran lateral untuk memperluas
penyerapan sari makanan. Turbellaria tidak memiliki anus.
6.) Merupakan karnivora.
7.) Sistem saraf ada yang berbentuk jala saraf dan ada yang berbentuk benang
saraf. Turbellaria memiliki sepasang bintik mata sebagai sensor cahaya. Jika
terdapat cahaya, Turbellaria umumnya akan bergerak menjauh. Turbellaria
memiliki indra peraba berupa sel-sel kemoreseptor.
8.) Alat ekskresi berupa protonefridia yang bercabang-cabang dan berakhir pada
sel api.
9.) Turbellaria umumnya merupakan hewan hermafrodit.
10.) Dapat bereproduksi secara aseksual, seksual, atau keduanya.
• Reproduksi aseksual dilakukan dengan membentuk tunas, fragmentasi
tubuh, atau membentuk kista yang keras pada musim kemarau yang
panas dan kering.
• Reproduksi seksual dilakukan dengan cara mutual, yaitu dua individu
saling bertukar sperma untuk membuahi pasangannya.
11.) Hampir semua anggotanya hidup bebas. Sebagian besar Turbellaria hidup
di dasar laut, pasir, lumpur, atau di bawah batu karang. Ada pula yang hidup
bersimbiosis dengan Algae atau bersimbiosis komensalisme di rongga mantel
Mollusca dan insang Crustacea. Selain itu, Turbellaria juga dapat hidup parasit
pada usus Mollusca atau rongga tubuh Echinodermata. Turbellaria juga ada
yang hidup di kolam dan perairan air tawar yang belum tercemar.
12.) Contohnya adalah Planaria atau Dugesia, Pseudophaenocora, Leptoplana, dan
Mesostoma bipalium.

b. Kelas Trematoda
Kelas Trematoda (cacing isap) memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Tubuh berbentuk lonjong hingga panjang dan diselubungi oleh kutikula.
Ukuran tubuh antara 0,2 mm – 6 cm.
2.) Memiliki satu atau dua alat pengisap untuk menempel pada inangnya.
3.) Umumnya hidup sebagai endoparasit pada ikan, Amphibia, Reptilia, Aves,
Mammalia, termasuk manusia. Akan tetapi, ada juga yang hidup sebagai
ektoparasit.

16
4.) Contohnya adalah Fasciola hepatica, Clonorchis sinensis, dan Schistosoma
japonicum.
• Fasciola hepatica
Fasciola hepatica merupakan cacing hati yang menyerang ternak
herbivor seperti sapi. Fasciola hepatica menggunakan inang perantara
berupa siput air tawar Lymnaea sp. Berikut ini adalah siklus hidup dari
Fasciola hepatica.
o Cacing dewasa yang hidup dalam hati ternak bereproduksi secara
seksual dan menghasilkan telur. Telur cacing akan keluar bersama
feses ternak.
o Di luar tubuh, telur akan menetas dan menjadi larva mirasidium
(larva I).
o Mirasidium kemudian menginfeksi inang perantara, yaitu siput.
o Di dalam tubuh siput, mirasidium berubah menjadi sporokista.
o Sporokista kemudian berubah menjadi redia (larva II).
o Redia berkembang menjadi serkaria bersilia (larva III).
o Serkaria keluar dari tubuh siput dan berubah menjadi metaserkaria
yang menempel di rumput atau dedaunan.
o Jika metaserkaria termakan oleh ternak, metaserkaria akan tumbuh
menjadi cacing baru di dalam hati ternak.

Berikut ini adalah gambar siklus hidup Fasciola hepatica.


Cacing dewasa dalam
hati ternak
Metaserkaria
menempel pada
rumput /dedaunan

Telur keluar bersama


Serkaria Reda Sporokista feses ternak

Serkaria keluar dari


tubuh siput
Menetas menjadi
larva mirasidium
Siput air sebagai
inang perantara
Gambar 7. Siklus hidup Fasciola hepatica

17
• Clonorchis sinensis
Clonorchis sinensis merupakan cacing hati yang menyerang hati manusia,
dengan inang perantara berupa ikan air tawar dan siput. Clonorchis sinensis
menginfeksi manusia melalui fase kista metaserkaria yang terdapat di
dalam daging ikan yang dimakan mentah.
• Schistosoma japonicum
Schistosoma japonicum merupakan cacing darah yang menyerang
manusia, dengan inang perantara berupa siput air. Schistosoma japonicum
hidup di dalam vena mesenterika pada dinding usus halus. Cacing ini
menginfeksi tubuh manusia melalui pori-pori kulit telapak kaki dan
tangan atau tertelan melalui mulut. Selanjutnya, cacing tersebut masuk
ke peredaran darah hingga jantung, kemudian menuju paru-paru, hati,
dan menetap di dalam vena mesenterika pada dinding usus halus.
c. Kelas Cestoda
Kelas Cestoda (cacing pita) memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.) Tubuh cacing dewasa terdiri atas skoleks (kepala), leher pendek (strobilus), dan
proglotid. Tubuhnya juga diselubungi oleh lapisan kutikula.
• Skoleks dilengkapi oleh alat pengisap (sucker) dan kait (rostellum) dari
bahan kitin yang berfungsi melekatkan diri pada organ tubuh inang.
• Leher merupakan daerah pertunasan dengan cara strobilasi. Strobilasi
menghasilkan strobilus berupa proglotid yang dapat mencapai 1.000
buah.
• Proglotid yang paling dekat dengan leher adalah proglotid termuda.
Makin jauh dari leher, proglotid makin dewasa dan berukuran besar. Di
dalam setiap proglotid terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin
betina. Pembuahan terjadi secara autofertilisasi di dalam satu proglotid
atau antarproglotid dalam satu individu. Selain itu, autofertilisasi juga
dapat dilakukan melalui kawin silang dengan proglotid dari individu yang
berbeda. Proglotid yang mengandung telur masak (sudah dibuahi) akan
terlepas bersama tinja.
2.) Tidak memiliki mulut, saluran pencernaan, dan alat indra. Makanan diserap dari
usus inang melalui permukaan tubuhnya.
3.) Hidup parasit pada manusia dan hewan seperti sapi, babi, kambing, ayam, atau
ikan.
4.) Contohnya adalah Taenia solium dan Taenia saginata. Taenia solium parasit
pada usus manusia dengan inang perantara berupa babi. Sementara itu, Taenia
saginata parasit pada usus manusia dengan inang perantara berupa sapi.

18
Berikut ini adalah siklus hidup dari Taenia solium dan Taenia saginata.
• Taenia solium
Siklus hidup Taenia solium adalah sebagai berikut.
o Cacing dewasa di dalam usus manusia menghasilkan proglotid yang
mengandung telur masak (sudah dibuahi).
o Proglotid dilepaskan bersama feses manusia.
o Proglotid yang menempel di rumput jika termakan oleh ternak babi
akan masuk ke dalam usus ternak.
o Di dalam usus ternak, telur akan menetas menjadi larva onkosfer.
o Larva onkosfer akan menembus dinding usus menuju jaringan otot
hewan dan membentuk kista sistiserkus.
o Jika manusia memakan daging babi yang mengandung kista
sistiserkus, sistiserkus akan menginfeksi manusia dan tumbuh
menjadi cacing dewasa di usus.
• Taenia saginata
Siklus hidup Taenia saginata adalah sebagai berikut.
o Cacing dewasa di dalam usus manusia menghasilkan proglotid yang
mengandung telur masak (sudah dibuahi).
o Proglotid dilepaskan bersama feses manusia.
o Proglotid yang menempel di rumput jika termakan oleh ternak sapi
akan masuk ke dalam usus ternak.
o Di dalam usus ternak, telur akan menetas menjadi larva onkosfer.
o Larva onkosfer akan menembus dinding usus menuju jaringan otot
hewan dan membentuk kista sistiserkus.
o Jika manusia memakan daging sapi yang mengandung kista
sistiserkus, sistiserkus akan menginfeksi manusia dan tumbuh
menjadi cacing dewasa di usus.

19
Berikut ini adalah gambar siklus hidup Taenia saginata.

Larva dalam jaringan otot sapi


membentuk sistiserkus

Larva dalam
pembuluh darah Daging sapi berisi
sapi sistiserkus
Skoleks
Alat pengisap
Larva onkosfer di
dalam usus sapi
Proglotid

Usus sapi

Gambar 8. Siklus hidup Taenia saginata

5. Peranan bagi Kehidupan Manusia


Peranan Platyhelminthes bagi kehidupan manusia adalah sebagai berikut.
a. Peranan yang menguntungkan
Planaria atau Dugesia dapat digunakan sebagai indikator perairan tawar yang belum
tercemar.
b. Peranan yang merugikan
1.) Fasciola hepatica merugikan manusia karena merupakan parasit pada ternak
herbivor seperti sapi, kambing, atau babi.
2.) Clonorchis sinensis merupakan cacing hati yang menyerang manusia.
3.) Schistosoma japonicum merupakan cacing darah yang menyerang manusia.
4.) Taenia solium dan Taenia saginata merupakan cacing pita yang menyerang manusia.

E. Nemathelminthes (Cacing Gilik)


Nemathelminthes berasal dari bahasa Yunani, yaitu nema yang berarti benang dan
helminthes yang berarti cacing. Ini berarti, Nemathelminthes adalah cacing yang
berbentuk seperti benang. Nemathelminthes disebut juga Nematoda yang berasal dari
bahasa Yunani, yaitu nema yang berarti benang dan ode yang berarti seperti.

1. Ciri-Ciri
Ciri-ciri dari Nemathelminthes adalah sebagai berikut.
a. Bentuk tubuh bulat panjang (gilik) dan tidak bersegmen-segmen.

20
b. Bersifat triploblastik pseudoselomata, karena tubuhnya memiliki 3 lapisan embrional
dan memiliki rongga tubuh semu.
c. Simetri tubuh bilateral.
d. Ukuran tubuh bervariasi, mulai kurang dari 1 mm hingga berukuran lebih dari 1 m.
e. Hidup bebas di alam dengan penyebaran yang sangat luas, mulai dari daerah
tropis yang panas hingga kutub yang dingin, dari padang pasir hingga laut dalam.
Nemathelminthes dapat ditemukan hidup di tanah, air tawar, maupun air laut. Selain
itu, Nemathelminthes juga banyak yang hidup sebagai parasit pada manusia, hewan,
dan tumbuhan.

2. Struktur Tubuh
Struktur tubuh dari Nemathelminthes adalah sebagai berikut.
a. Tubuh bersifat triploblastik karena tersusun dari 3 lapisan embrional dan memiliki
rongga tubuh semu (pseudoselomata).
b. Nemathelminthes yang hidup di air tawar dan daratan biasanya memiliki ukuran
tubuh kurang dari 1 mm. Sementara itu, yang hidup di laut mencapai panjang 5 cm.
c. Cacing betina berukuran lebih besar daripada cacing jantan. Tubuh cacing jantan
memiliki ujung posterior berbentuk kait.
d. Permukaan tubuh dilapisi kutikula transparan. Pada hewan yang hidup sebagai
parasit, lapisan kutikulanya lebih tebal daripada hewan yang hidup bebas.
e. Memiliki sistem pencernaan yang lengkap, yaitu terdiri atas mulut, faring,
kerongkongan (gelembung faring), usus, dan anus. Di sekitar mulut terdapat 3 atau
6 bibir, papila, dan seta.
f. Tidak memiliki sistem peredaran darah dan sistem pernapasan. Transportasi dan
pertukaran gas terjadi secara difusi.
g. Memiliki alat ekskresi berupa sistem sel kelenjar yang dilengkapi saluran atau tanpa
saluran. Pada individu yang hidup di laut, alat ekskresinya berupa satu atau dua buah
kelenjar renet (rennet gland) yang terdapat di dekat faring.

3. Cara Reproduksi
Nemathelminthes bereproduksi secara seksual. Pada umumnya, Nemathelminthes
merupakan hewan yang diesis atau gonokoris, yaitu alat kelamin jantan dan betina
terletak pada individu yang berbeda. Fertilisasi terjadi secara internal di dalam tubuh
induk betina. Telur yang sudah dibuahi akan dilindungi oleh cangkang yang keras. Jika
sudah menetas, larva akan mengalami pergantian kulit atau molting hingga 4 kali. Setelah
dewasa, tubuhnya akan membesar tanpa mengalami pergantian kulit.

21
4. Contoh Nemathelminthes Parasit
Anggota Nemathelminthes yang hidup sebagai parasit antara lain adalah Ascaris
lumbricoides, Ancylostoma duodenale, Wuchereria bancrofti, Oxyuris vermicularis, dan
Trichinella spiralis.
a. Ascaris lumbricoides (cacing usus)
Ascaris lumbricoides merupakan cacing yang parasit pada usus halus manusia dan
menyebabkan penyakit askariasis (cacingan). Infeksi cacing ini dapat menyebabkan
penderita mengalami kurang gizi. Ciri-ciri Ascaris lumbricoides adalah sebagai berikut.
1.) Ukuran tubuh pada cacing betina dan cacing jantan berbeda. Cacing betina
berukuran lebih besar dengan panjang tubuh 20 – 49 cm dan berdiameter
4 – 6 mm. Sementara itu, ukuran panjang tubuh cacing jantan adalah 15 – 31 cm
dengan diameter 2 – 4 mm.
2.) Pada bagian anterior tubuh terdapat mulut yang dikelilingi oleh tiga bibir dan
gigi-gigi kecil. Pada hewan betina, bagian ekornya lurus dan dapat menghasilkan
200.000 butir telur per hari. Sementara itu, pada hewan jantan, bagian ekornya
melengkung dan memiliki spikula yang berbentuk kait pada anusnya. Bagian
ini digunakan untuk memasukkan sperma ke dalam tubuh hewan betina.
3.) Ascaris lumbricoides memiliki siklus hidup sebagai berikut.
• Setelah terjadi perkawinan, cacing betina akan menghasilkan telur yang
berembrio. Telur akan keluar bersama tinja penderita.
• Telur dapat tertelan bersama makanan.
• Di dalam usus inang, telur akan menetas menjadi larva.
• Larva akan menembus dinding usus dan masuk ke dalam pembuluh darah.
Larva tersebut akan mengikuti aliran darah hingga melewati jantung dan
paru-paru, kemudian naik ke trakea hingga faring. Selanjutnya, larva akan
tertelan kembali ke saluran pencernaan hingga masuk ke usus halus dan
menjadi cacing dewasa di dalamnya.

22
Berikut ini adalah gambar siklus hidup Ascaris lumbricoides.

Cacing dewasa dalam perut


Berkembang
menjadi bentuk
infektan di dalam
tanah

Mengikuti
aliran darah
Bentuk larva

Feses

Gambar 9. Siklus hidup Ascaris lumbricoides

b. Ancylostoma duodenale (cacing tambang)


Ancylostoma duodenale merupakan cacing yang parasit di dalam usus halus manusia
dan dapat menyebabkan penyakit ankilostomiasis. Penyakit ini ditandai dengan
anemia berat. Hal ini dikarenakan cacing tambang mengisap darah penderita dan
menghasilkan zat antikoagulan. Ancylostoma duodenale disebut cacing tambang
karena sering ditemukan di daerah pertambangan. Selain Ancylostoma duodenale,
jenis cacing tambang lainnya adalah Necator americanus yang terdapat di Amerika.
Ciri-ciri Ancylostoma duodenale adalah sebagai berikut.
1.) Cacing betina berukuran 12 mm, memiliki alat kelamin luar berupa vulva, dan dapat
menghasilkan telur sebanyak 10.000 hingga 30.000 butir per hari. Cacing jantan
berukuran 9 mm dengan alat kopulasi berada di bagian ujung posterior tubuhnya.
2.) Pada bagian anterior tubuh terdapat mulut yang dilengkapi dengan 1 – 4
pasang gigi kitin yang berfungsi untuk mencengkeram dinding usus inang.
3.) Dapat menginfeksi inang secara aktif dengan cara menembus pori-pori kulit
telapak kaki.
4.) Ancylostoma duodenale memiliki siklus hidup sebagai berikut.
• Setelah terjadi perkawinan, cacing betina akan menghasilkan telur. Telur
akan keluar bersama feses penderita.
• Telur kemudian menetas menjadi larva rhabditiform. Larva tersebut
kemudian berubah menjadi bentuk infektif yang disebut larva filariform.

23
• Larva filariform akan menembus pori-pori kulit telapak kaki dan masuk ke
dalam pembuluh darah.
• Selanjutnya, larva akan ikut peredaran darah hingga melewati jantung,
paru-paru, naik ke trakea, dan tertelan hingga masuk ke usus halus.
• Di dalam usus halus, larva akan berkembang menjadi cacing dewasa.

Berikut ini adalah gambar siklus hidup Ancylostoma duodenale.

Larva filariform
menembus kulit kaki

Larva filariform

Cacing dewasa di
dalam usus halus

Larva habditiform

= fase infeksi
= fase diagnostik
Telur berembrio
di dalam feses
Gambar 10. Siklus hidup Ancylostoma duodenale

c. Wuchereria bancrofti (cacing penyebab penyakit kaki gajah)


Wuchereria bancrofti merupakan cacing yang parasit di dalam kelenjar getah bening
manusia, terutama kelenjar getah bening di daerah kaki. Cacing ini menyebabkan
penyakit kaki gajah atau filariasis. Cacing Wuchereria bancrofti masuk ke dalam
tubuh manusia melalui perantara gigitan nyamuk Culex, Aedes, Anopheles, atau
Mansonia. Cacing betina memiliki ukuran panjang tubuh 8 cm dan cacing jantan
memiliki ukuran panjang tubuh 4 cm. Cacing Wuchereria bancrofti memiliki siklus
hidup sebagai berikut.
1.) Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan mikrofilaria. Pada siang
hari, mikrofilaria berada di dalam pembuluh darah besar. Sementara pada malam
hari, mikrofilaria berpindah ke dalam pembuluh darah kecil di bawah kulit.
2.) Jika nyamuk perantara menggigit pada malam hari, mikrofilaria bersama darah
akan masuk ke perut nyamuk.
3.) Selanjutnya, mikrofilaria akan menembus dinding usus nyamuk menuju otot

24
toraks. Setelah mencapai ukuran 1,4 mm, mikrofilaria akan pindah ke belalai
nyamuk dan siap ditularkan ke orang lain.
4.) Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia, mikrofilaria akan keluar dari belalai
nyamuk dan masuk ke kulit manusia. Mikrofilaria kemudian akan menuju pembuluh
limfa. Cacing akan menggulung di kelenjar limfa dan tumbuh hingga dewasa.
5.) Cacing dewasa yang jumlahnya banyak akan menghambat sirkulasi limfe dan
dalam beberapa tahun kemudian, akan menyebabkan pembengkakan di kaki.

Berikut ini adalah gambar siklus hidup Wuchereria bancrofti.


Mikrofilaria berkembang dalam tubuh
nyamuk selama 2 minggu
Nyamuk yang membawa mikrofilaria
Nyamuk mengisap darah yang
menggigit orang yang sehat
mengandung mikrofilaria

Mikrofilaria matan di pembuluh


limfa, terutama di daerah kaki,
tangan, payudara, dan skrotum

Mikrofilaria akan pindah ke tubuh


nyamuk ketika berada di dalam
kapiler dekat permukaan tubuh

Cacing dewasa dapat hidup 3-4 tahun


di sepanjang pembuluh darah dan terjadi pembengkakan akut di
menghasilkan jutaan mikrofilaria daerah kaki

Gambar 11. Siklus hidup Wuchereria bancrofti

Selain Wuchereria bancrofti, penyakit kaki gajah juga dapat disebabkan oleh
cacing Brugia malayi.

d. Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis (cacing kremi)


Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis merupakan cacing yang parasit di
dalam usus besar manusia, terutama pada anak-anak. Tubuh cacing ini berukuran 10
– 15 mm. Cacing betina dewasa pada malam hari akan turun ke anus untuk bertelur.
Selain menghasilkan telur, cacing tersebut juga akan mengeluarkan suatu zat yang
dapat menimbulkan rasa gatal. Akibatnya, penderita akan menggaruk-garuk bagian
tubuh yang berasa gatal tersebut. Hal ini menyebabkan telur cacing mudah menyelip
di antara kuku-kuku, sehingga dapat tertelan kembali saat penderita makan. Telur
yang tertelan akan menetas menjadi cacing kremi baru di usus. Cara penularan ini
disebut dengan autoinfeksi.

25
e. Trichinella spiralis (cacing otot)
Trichinella spiralis merupakan cacing yang parasit di dalam otot manusia dan
menyebabkan penyakit trikinosis, trikinelosis, atau trikiniasis. Cacing ini masuk ke
dalam tubuh manusia yang mengonsumsi daging babi setengah matang. Selain
manusia, cacing ini juga dapat hidup pada hewan seperti anjing, babi, tikus, beruang,
kucing, atau babi hutan. Ciri-ciri Trichinella spiralis adalah sebagai berkut.
1.) Cacing jantan memiliki panjang 1,4 - 1,6 mm dan cacing betina memiliki
panjang 3 - 4 mm.
2.) Telur akan menetas dalam uterus cacing betina (bersifat vivipar).
3.) Larva seekor cacing betina dapat menghasilkan 1.350 - 2.000 larva yang
ditemukan dalam kista mikroskopis pada urat daging bergaris melintang.
4.) Trichinella spiralis memiliki siklus hidup sebagai berikut.

Larva matang
di otot rangka
Cacing dewasa
berkembang biak
di usus halus

Larva terbawa
oleh aliran darah

Larva memasuki
otot rangka

patologi

Gambar 12. Siklus hidup Trichinella spiralis



• Manusia terinfeksi karena memakan daging setengah matang yang
mengandung larva cacing, terutama daging babi atau babi hutan.
• Larva kemudian masuk ke dalam usus halus, menembus mukosa, dan
menjadi dewasa dalam 6 – 8 hari.
• Cacing betina dewasa akan melepaskan 1.500 larva yang bisa bertahan
hidup sampai 6 minggu di mukosa usus halus.

26
• Larva kemudian menyebar melalui pembuluh limfe dan darah menuju
otot lurik dan tumbuh di sana sebagai kista. Larva akan menjadi kista
sepenuhnya dalam 1 - 2 bulan dan tetap hidup hingga beberapa tahun
sebagai parasit intraseluler. Larva yang mati akhirnya akan diserap kembali
oleh tubuh.

5. Peranan bagi Kehidupan Manusia
Nemathelminthes umumnya merugikan manusia karena menjadi parasit pada tubuh dan
dapat menimbulkan berbagai penyakit. Di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Ascaris lumbricoides (cacing perut) yang menyebabkan penyakit askariasis.
b. Ancylostoma duodenale (cacing tambang) yang menyebabkan penyakit ankilos-
tomiasis.
c. Wuchereria bancrofti yang menyebabkan penyakit kaki gajah atau filariasis.
d. Oxyuris vermicularis (cacing kremi) yang menyebabkan kremian.
e. Trichinella spiralis (cacing otot) yang menyebabkan penyakit trikinosis, trikinelosis,
atau trikiniasis.

6. Pencegahan Infeksi Cacing Nemathelminthes pada Manusia


Pencegahan infeksi cacing Nemathelminthes dapat dilakukan dengan beberapa cara
berikut.
a. Tidak buang air besar di sembarang tempat.
b. Menggunakan alas kaki ketika berada di luar rumah.
c. Mencuci tangan sebelum makan atau memegang makanan.
d. Mencuci tangan dan kaki setelah bermain atau setelah bepergian.
e. Mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar.
f. Memasak daging dan ikan hingga benar-benar matang.
g. Menggunting kuku untuk mencegah infeksi selanjutnya.
h. Mencuci sayuran hingga bersih sebelum dimasak.
i. Menyimpan makanan dengan baik agar terhindar dari kontaminasi pencemaran.

F. Annelida (Cacing Gelang)


Annelida berasal dari bahasa Latin, yaitu annelus yang berarti cincin kecil dan eidos yang
berarti bentuk. Cacing ini dinamakan Annelida karena memiliki bentuk tubuh seperti
deretan atau untaian cincin kecil atau gelang.

27
1. Ciri-Ciri
Ciri-ciri dari Annelida adalah sebagai berikut.
a. Memiliki bentuk tubuh gilik dengan segmen-segmen yang tersusun berderet seperti
cincin atau gelang.
b. Bersifat triploblastik selomata karena memiliki 3 lapisan embrional dan rongga tubuh
sejati (selom).
c. Panjang tubuh bervariasi, mulai dari sekitar 1 mm hingga 3 m.
d. Simetri tubuh bilateral, dengan bagian luar tubuh diselubungi oleh lapisan kutikula.
e. Pada setiap sisi lateral ruas tubuh, terdapat parapodia dengan sejumlah seta (rambut).
Parapodia merupakan pelebaran dinding tubuh yang pipih.
f. Memiliki daya regenerasi yang tinggi. Jika sebagian tubuhnya terputus atau rusak,
bagian tubuh yang baru akan segera tumbuh.
g. Sebagian besar Annelida hidup bebas dan sebagian kecil ada yang parasit dengan
menempel pada Vertebrata, termasuk manusia. Pada yang hidup bebas, umumnya
berada di dasar laut dan perairan air tawar. Selain itu, ada juga sebagian yang hidup
di tanah atau tempat-tempat lembap.

2. Struktur Tubuh
Annelida memiliki struktur tubuh sebagai berikut.
a. Tubuh bersegmen-segmen. Segmen-segmen tubuh ini disebut metameri atau
somit. Segmentasi tubuh membagi otot dinding tubuh dan juga menyekat tubuh.
Penyekat tubuh disebut septa.
b. Memiliki sistem pencernaan lengkap yang terdiri atas mulut, faring, esofagus,
tembolok, lambung otot (empedal), usus halus, dan anus.
c. Memiliki sistem peredaran darah tertutup, karena darah mengalir di dalam
pembuluh darah. Pembuluh darah utama ada dua macam, yaitu pembuluh darah
dorsal (punggung) dan pembuluh darah ventral (perut) yang sejajar dengan saluran
pencernaan. Darah mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah.
d. Annelida bernapas melalui seluruh permukaan tubuhnya dengan cara difusi. Selain
itu, ada pula yang menggunakan insang hasil modifikasi dari parapodia atau sirri
(rambut-rambut kasar) dorsal.
e. Alat ekskresi berupa metanefridia (nefridium) yang terdiri atas nefrostom (corong
bersilia), nefridia (saluran yang terbungkus peritoneum), dan nefridiofor (lubang
ekskresi).
f. Memiliki sistem saraf berupa sistem saraf tangga tali, dengan ganglion otak di bagian
dorsal depan faring.

28
g. Memiliki sel indra atau sel peraba di seluruh permukaan tubuhnya.
h. Memiliki bintik mata dan alat keseimbangan statosista.

3. Cara Reproduksi
Annelida dapat melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual.
a. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara fragmentasi (pemutusan sebagian
tubuhnya).
b. Reproduksi seksual dilakukan dengan membentuk gamet jantan dan gamet
betina. Annelida umumnya merupakan hewan yang hermafrodit, karena memiliki
alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Meskipun bersifat hermafrodit,
Annelida tetap melakukan perkawinan silang dengan cara menukarkan spermanya
untuk membuahi sel telur individu pasangannya.

4. Klasifikasi
Berdasarkan ciri-ciri rambut (seta) pada tubuhnya, filum Annelida dibagi menjadi 3 kelas,
yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea.
a. Polychaeta
Polychaeta berasal dari bahasa Yunani, yaitu poly yang berarti banyak dan chaetae
yang berarti rambut kaku. Ciri-ciri Polychaeta adalah sebagai berikut.
1.) Tubuhnya tertutup oleh banyak seta.
2.) Berukuran panjang 5 – 10 cm dengan diameter 2 – 10 mm.
3.) Bagian kepala terdiri atas protostomium dan peristomium. Pada protostomium
terdapat sepasang mata, antena, dan sepasang palpus. Sementara pada
peristomium terdapat mulut, alat indra, dan sirus (sungut atau rambut kasar
sebagai alat peraba).
4.) Pada setiap ruas tubuh terdapat sepasang parapodia yang berfungsi sebagai
alat gerak dan alat pernapasan. Hal ini dikarenakan parapodia mengandung
banyak pembuluh darah yang halus.
5.) Alat indra berupa mata dan alat keseimbangan berupa statosista. Mata
berfungsi sebagai fotoreseptor dan menunjukkan gerak fototaksis negatif
(gerak menjauhi cahaya).
6.) Dapat bereproduksi secara seksual dengan fertilisasi secara internal atau
eksternal. Ada pula yang bereproduksi dengan membentuk epitoke (individu
reproduktif ) melalui pertunasan atau transformasi langsung.
7.) Dapat hidup sebagai karnivor (memakan hewan-hewan Invertebrata kecil),

29
herbivor (memakan ganggang), dan pemakan endapan dengan cara menelan
lumpur yang mengandung bahan organik.
8.) Sebagian besar hidup di laut, tetapi ada juga yang hidup di air tawar.
9.) Contohnya adalah Eunice sp. (cacing palolo), Lysidice oele (cacing wawo), dan
Nereis sp. (kelabang laut).

b. Oligochaeta
Oligochaeta berasal dari bahasa Yunani, yaitu oligo yang berarti sedikit dan chaetae
yang berarti rambut kaku. Ciri-ciri Oligochaeta adalah sebagai berikut.
1.) Tubuh bersegmen dan tertutup oleh sedikit seta.
2.) Terdapat dua macam Oligochaeta, yaitu mikrodrile dan megadrile.
• Mikrodrile adalah spesies yang berukuran kecil dengan panjang 1 – 30 mm,
hidup di laut, berdinding tipis, dan agak transparan.
• Megadrile adalah spesies yang berukuran besar dengan panjang 5 – 30 cm,
bahkan ada yang mencapai panjang 3 m. Megadrile hidup di darat dan
tubuhnya berdinding tebal. Megadrile memiliki jumlah ruas tubuh antara
115 – 200 buah, bahkan ada yang mencapai 500 buah. Pada setiap ruas
tubuh terdapat 4 rumpun seta dan setiap rumpun terdiri atas 1 – 25 buah
seta.
3.) Memiliki kloragogen di sekeliling usus dan pembuluh dorsal. Kloragogen
adalah lapisan berwarna kuning yang berfungsi sebagai hati serta berperan
dalam proses deaminasi protein, pembentukan amonia, dan sintesis urea.
4.) Umumnya tidak memiliki bintik mata, kecuali yang hidup di air. Sel indra sebagai
fotoreseptor terdapat di seluruh permukaan tubuh, kecuali bagian ventral
tubuh. Oligochaeta menunjukkan gerak menuju cahaya lemah dan menjauhi
cahaya kuat.
5.) Merupakan hewan hermafrodit, tetapi melakukan perkawinan silang.
Oligochaeta juga memiliki ruas-ruas reproduktif yang disebut klitelum.
Klitelum berdinding tebal dan mengandung banyak sel kelenjar. Sel kelenjar ini
berfungsi menghasilkan lendir dalam perkawinan. Selain itu, juga merupakan
bahan pembuat dinding kokon dan albumin untuk melekatkan telur dalam
kokon. Klitelum juga menghasilkan ovum dan sperma. Pembuahan berlangsung
di dalam lapisan albumin dinding kokon. Embrio berkembang di dalam kokon
hingga saatnya menetas, anak cacing akan keluar dari kokon.
6.) Contohnya adalah Lumbricus terrestris (cacing tanah), Tubifex sp., dan
Megascolides australis (cacing raksasa Australia).

30
c. Hirudinea
Hirudinea atau lintah tidak memiliki seta maupun parapodia. Ciri-ciri Hirudinea
adalah sebagai berikut.
1.) Merupakan hewan ektoparasit pada manusia, sapi, atau kerbau.
2.) Memiliki dua buah alat pengisap yang terletak di bagian anterior dan posterior
tubuh. Fungsi alat tersebut adalah untuk melekatkan diri pada inangnya. Alat
pengisap anterior letaknya mengelilingi mulut.
3.) Memiliki panjang tubuh antara 1 - 5 cm dan ada pula yang mencapai panjang
20 - 30 cm. Bentuk tubuhnya pipih dorsoventral dengan ujung anterior
meruncing.
4.) Ruas tubuh berjumlah 34 buah. Lintah juga memiliki ruas-ruas semu eksternal
yang disebut annuli.
5.) Sebagian besar lintah merupakan pengisap darah. Hewan ini memiliki kelenjar
ludah yang menghasilkan zat antikoagulan hirudin. Fungsi hirudin adalah
mencegah penggumpalan darah mangsa, sehingga lintah dapat mengisap
darah sebanyak mungkin. Selain itu, lintah juga mengeluarkan zat anestetik
(penghilang sakit) ketika merobek bagian tubuh inang. Dengan begitu, mangsa
tidak menyadari jika ada gigitan.
6.) Lintah dapat bertahan hidup tanpa makan dalam waktu yang lama, hingga 1,5
tahun.
7.) Semua lintah bersifat hermafrodit dan melakukan perkawinan silang. Kokon
diletakkan pada substrat dan sedikit tenggelam dalam lumpur. Ada juga lintah
yang mengerami telur-telurnya. Setelah menetas, anak-anak lintah tersebut
akan tetap menempel pada tubuh induknya hingga beberapa hari.
8.) Lintah banyak ditemukan hidup di perairan tawar yang tenang, dangkal, dan
banyak ditumbuhi tumbuhan air. Lintah aktif pada malam hari (nokturnal)
untuk mencari mangsa dan bersembunyi pada siang hari.
9.) Contohnya adalah Hirudo medicinalis (lintah) dan Haemadipsa sp. (pacet).

5. Peranan bagi Kehidupan Manusia


Peranan Annelida bagi kehidupan manusia adalah sebagai berikut.
a. Peranan yang menguntungkan
1.) Dapat dikonsumsi, misalnya cacing palolo (Eunice sp.) dan cacing wawo (Lysidice
oele), karena mengandung protein yang cukup tinggi.
2.) Dapat dijadikan makanan ikan dan burung, misalnya cacing Tubifex.

31
3.) Dapat menggemburkan dan menyuburkan tanah, sehingga bermanfaat untuk
pertanian, misalnya cacing tanah Lumbricus terrestris dan Pheretima sp.
4.) Dapat digunakan dalam pengobatan tradisional dan modern. Hal ini dikarenakan
lintah dapat mengisap racun atau mengeluarkan kelebihan cairan dalam tubuh
akibat luka, penyakit, atau operasi, misalnya lintah (Hirudo medicinalis).
b. Peranan yang merugikan
1.) Polydora dapat mengebor cangkang tiram untuk membuat liang, sehingga
menurunkan harga jual tiram.
2.) Lintah (Hirudo medicinalis) dan pacet (Haemadipsa sp.) dapat mengisap darah
sapi, kerbau, dan manusia.

32