Anda di halaman 1dari 7

komoditas yg sangat menarik bagi pedagang dulu rempah-rempah.

kalau
untuk sekarang selain rempah-rempah itu barang tambang seperti mineral, minyak bumi
pada zaman dahulu bangsa asing lebih tertarik kepada rempah-rempah indonesia,
sehingga tak heran rempah-rempah pada zaman dahulu menjadi komoditas penting dari
indonesia, namun seiring majunya teknologi serta perkembangan dan eksploitasi komoditas
bangsa indonesia lebih cenderung kepada bahan tambang, karena negara indonesia setelah
dieksploitasi kaya akan bhan tambang
kalau dulu komoditas yg menarik para pedagang untuk datang ke pelabuhan di Indonesia
itu rempah-rempah. sampai sekarang rempah-rempah dari Indonesia masih banyak diekspor
ke negara-negara lain, selain rempah-rempah sekarang Indonesia jg banyak mengekspor
bahan tambang

POSISI INDONESIA DALAM JARINGAN PERDAGANGAN DAN


PELAYARAN ASIA-EROPA SAMPAI ABAD KE-18 MASEHI

Oleh : SS-Hauptsturmführer Ajisaka Lingga Bagaskara

Kawasan Nusantara memiliki posisi tersendiri dalam percaturan perdagangan dan pelayaran
kuno antara Asia-Eropa. Posisi yang strategis dalam lalu lintas perdagangan internasional itu
telah menyebabkan kawasan Nusantara menjadi incaran dan ajang perebutan bangsa-bangsa
Barat, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Berganti-gantinya bangsa Barat yang
bercokol di Nusantara bukannya membuat kesejahteraan dan ketenteraman, melainkan rakyat
malah menjadi korban penghisapan oleh kolonialis-imperialis dan sumber daya alam terus
mengalir ke dunia Barat.

A. PERANAN INDONESIA DALAM PERDAGANGAN DAN PELAYARAN


ANTARA ASIA-EROPA

Peta letak posisi silang Nusantara.

Secara geografis wilayah Nusantara berada pada posisi silang di antara dua benua dan dua
samudera. Wilayah Nusantara diapit oleh Benua Asia dan Benua Australia, juga diapit oleh
Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Kondisi geografis tersebut bernilai strategis dan
terbuka. Strategis bermakna letaknya baik dan menguntungkan, sedangkan terbuka berarti
Nusantara terbuka oleh jalur hubungan antarpulau dan antarnegara.

Dengan memiliki letak posisi silang, kawasan Nusantara menerima dampak positif dan
negative akibat timbulnya hubungan antarnegara yang melewati wilayah ini. Dampak positif
dari posisi silang, yakni Nusantara dapat berperan menjadi jembatan lalu lintas perdagangan
dan pelayaran internasional. Nusantara pun bias menjadi tempat persinggahan sementara bagi
kapal-kapal yang melewatinya. Adapun dampak negatf dari posisi silang, yaitu mudah
mendatangkan bahaya dan ancaman dari luar terhadap Nusantara. Selain itu, mudah
masuknya budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat Nusantara.
Sejak abad ke-7 kawasan Nusantara telah berhasil memainkan peran sebagai salah satu pusat
perdagangan dan pintu gerbang lalu lintas perdagangan internasional, antara India-Cina di
Asia atau di antara mata rantai hubungan Asia-Eropa. Di Nusantara muncul beberapa pusat
perdagangan penting setelah sebelumnya mampu tampil sebagai pemasok barang komoditas
bagi bangsa-bangsa asing, terutama rempah-rempah. Aktivitas perdagangan dan pelayaran
internasional di Nusantara dapat berjalan dengan baik sebab negeri-negeri pemilik pusat
perdagangan di Nusantara dapat mengamankan wilayah perairannya sehingga memberi
jaminan keamanan kepada setiap bangsa. Selain itu, penduduk Nusantara termasuk bangsa
yang memiliki kepandaian dan keberanian mengarungi samudera luas. Semua itu
menyebabkan posisi Nusantara menjadi teramat penting dalam percaturan perdagangan dan
pelayaran antara Asia-Eropa.

Pangkal Balam

Pelabuhan Pangkal Balam terletak di Pulau Bangka, Provinsi Bangka


Belitung. Hinteriand pelabuhan berpotensi untuk menghasilkan produk-
produk pertambangan, pertanian, dan agroindustri. Komoditas utama
adalah timah, kaolin, pasirkuarsa, granit, karet, minyak kelapa sawit, dan
lada.

Bermula sebagai pelabuhan kecil yang hanya melayani kapal motor dan perahu layar, saat ini
pelabuhan ini telah dilengkapi dengan dermaga sepanjang 254 m, fasilitas penumpukan
seluas 6.320 m2 serta terminal penumpang dengan luas 400 m2, dan lapangan parkir seluas
4.510m2.

Pelabuhan lain yang berada di dalam Nngkup operasi Pelabuhan Pangkal Balam ialah
Pelabuhan Muntok-yang telah memiliki dermaga sepanjang 52 m, terminal penumpang dan
menangani kegiatan ekspor timah dan lada – berada di pantai barat sebelah utara Pulau
Bangka. Pelabuhan lainnya adalah Pelabuhan Sungai Selan yang berada di pedalaman
sebelah selatan Pulau Bangka yang telah memiliki fasilitas berupa dermaga kayu sepanjang
87 m; dan Pelabuhan Belinyuyang memiliki dermaga kayu sepanjang 50 m.

Fasilitas Utama
Lokasi : Pangkal Balam, Bangka
Letak : 02 15/ 32″ LS, 106 71/ 54″ BT
Luas Lahan : 4,88 Ha

apa peran laut pada masa hindu-budha? pendapat kalian tentang peran laut pada saat ini bagi
negara indonesia seperti apa?
Jawab :Peran laut pada masa hindu-budha sangat penting.Karena banyak aktivitas perdagangan
terjadi di laut.Selain itu agama hindu dan budha masuk ke Indonesia melalui jalur laut.Pada saat ini
peran laut berfungsi untuk meningkatkan ekonomi penduduk sekitar dan menjadi daya tarik wisata.
Perdagangan Laut dan Kesatuan

June 29, 2013 by primadwianto 2 Comments

Hari jum’at tanggal 17 Agustus 1945 tepat pukul 10:00 waktu Jawa merupakan hari yang
sangat penting bagi Negara Indonesia. Dalam suasana bulan Ramadhan kala itu, lahirlah
sebuah Negara Indonesia yang merdeka. Presiden Soekarno atas nama bangsa Indonesia
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tentu hari tersebut menjadi hari yang paling
bersejarah dalam perjalanan awal bangsa ini.

Terintegrasinya seluruh wilayah kedalam sebuah wadah bernama Indonesia tentu tidak terjadi
secara instan. Butuh sebuah proses panjang yang melibatkan banyak hal. Wilayah Indonesia
dikenal memiliki daratan yang cukup luas dan memiliki banyak perbedaan antardaerah
berupa suku, agama, bahasa, dan lain sebagainya yang membutuhkan perhatian khusus untuk
dapat mempersatukannya. Terjadi pula berbagai pemberontakan pada masa-masa awal
kemerdekaan. Bhineka tunggal ika akhirnya dipakai sebagai semboyan bangsa ini yang
menegaskan kesatuan dalam berbagai perbedaan. Berbagai faktor integrasi sebenarnya dapat
ditarik sejak berabad-abad yang lalu. Salah satu faktor terpenting yang tidak diragukan lagi
dalam terciptanya Negara Indonesia adalah laut.

Lagu Nenek Moyangku menjadi sebuah saksi bahwa betapa berpengaruhnya laut bagi bangsa
ini. Hal tersebut tentu tidak mengherankan karena Indonesia memang memiliki lautan yang
lebih luas daripada daratannya sendiri. Sekitar 3,1 juta kilometer persegi luas wilayah
Indonesia merupakan perairan, sedangkan daratannya hanya seluas 1,9 juta meter persegi.
Laut memainkan peran yang tak akan tergantikan dalam proses terbentuknya negara ini.
Munculnya kerajaan Sriwijaya adalah bukti betapa laut memang menunjukkan peran
pentingnya bagi adanya sebuah integrasi.

Kerajaan Sriwijaya muncul sekitar abad ke tujuh Masehi. Pusat kerajaannya sendiri masih
menjadi sebuah perdebatan, apakah terletak di Palembang atau Jambi. Sriwijaya merupakan
kerajaan maritim terbesar yang pernah ada di Indonesia. Pulau Sumatera merupakan wilayah
kekuasaan Sriwijaya termasuk di dalamnya adalah Bangka-Belitung. Bahkan, Kamboja,
Thailand, dan Semenanjung Malaya juga menjadi bagian dari kerajaan maritim tersebut.

Wilayah Sriwijaya menjadi lokasi yang sangat strategis bagi perdagangan antara India
dengan Tiongkok. Menurut Obdeyn, berdasarkan geomorfologi dahulu Bangka-Belitung
bersambung menjadi satu dengan jazirah Malaka melalui kepulauan Lingga dan Riau.
Dikarenakan Jawa masih menjadi satu dengan Sumatera dan belum terbentuk Selat Sunda,
maka pelayaran India, Indonesia, dan Tiongkok harus melewati Bangka-Belitung terlebih
dahulu. Peran pantai timur Sumatera dan pantai utara Jawa sangatlah penting kala itu.
Walaupun pendapat Obdeyn mendapat tentangan dari ahli lain, tetapi paling tidak
pemikirannya tersebut dapat menambah bahan-bahan baru bagi peran Sriwijaya.

Sriwijaya dikenal sebagai daerah penghasil kapur barus, cengkeh, pala, lada, dan timah.
Dikarenakan lokasi yang sangat penting bagi perdagangan India dan Tiongkok, Sriwijaya
mengalami dampak lain dari adanya perdagangan tersebut. Balaputra yang menjadi raja
Sriwijaya kala itu telah mengadakan hubungan dengan raja Dewapaladea dari Benggala.
Hubungan tersebut tak terbatas pada hubungan politik saja. Dari hubungan tersebut terdapat
unsur agama yang mulai dibawa masuk ke Sriwijaya. Pada waktu itu Benggala merupakan
pusat dari agama Budha Mahayana. Dengan adanya hubungan yang baik, penyebaran agama
Budha Mahayana menjadi sangat subur. Sriwijaya juga melakukan penakhlukan-penakhlukan
yang membuat penyebaran agama Budha lebih mudah lagi. Sementara itu, hubungan dengan
Tiongkok lebih bersifat politik yang ditandai dengan dikirimkannya bantuan pasukan
Tiongkok untuk Sriwijaya dalam menghadapi Jawa.

Sriwijaya mengalami keruntuhannya sekitar abad kesebelas. Meskipun demikian, kerajaan ini
tetap memberikan peran bagi terintegrasinya sebuah wilayah melalui penakhlukan-
penakhlukan wilayah agama yang dianutnya. Agama Budha adalah agama yang banyak
dianut oleh kerajaan yang pernah ada di Indonesia. Adanya kontak dengan India melalui laut
menyebabkan agama ini dapat masuk ke Indonesia. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa agama
Budha juga memainkan peranan penting dalam proses integrasi suatu wilayah kerajaan.

Keunggulan Sriwijaya dalam bidang maritim dilanjutkan oleh Malaka yang dahulu juga
merupakan bekas wilayah kerajaan Sriwijaya. Sebuah negara murni berbentuk pelabuhan
transito di Indonesia. malaka tidak memiliki hasil-hasil sendiri yang cukup penting dan harus
mengimpor dari negara lain untuk mencukupi kebutuhan pangan negerinya. Letak Malaka
sangat strategis waktu itu karena merupakan salah satu trayek dalam sistem perdagangan
internasional dari Cina dan Maluku di timur bahkan sampai Afrika Timur dan Laut Tengah di
barat. Malaka memiliki banyak trayek perdagangan dengan berbagai daerah yang saat ini
masuk dalam wilayah Indonesia seperti Malaka-pantai timur Sumatera yang menjajakan
hasil-hasil bumi seperti emas, kapur barus, lada, dan sutra. Hal ini membuktikan bahwa
Malaka juga memiliki andil dalam menyatukan wilayah Negara Indonesia saat ini.

Jaringan yang sangat luas dengan kepentingan ekonomi masing-masing menjadikan adanya
hubungan Semenanjung Malaya dengan negara-negara kepulauan Indonesia pada masa pra-
kolonial. Lama-kelamaan hubunganpun bersifat kultural. Malaka menjadi salah satu bagian
yang merupakan jaringan terbesar kala itu. Jalur perdagangan membentang ke barat sampai
India, Persia, Arabia, Suriah, Afrika Timur, dan Laut Tengah. Sedangkan ke utara samapai
Siam dan Pegu serta ke timur sampai Cina. Malaka dengan rempah-rempah Indonesianya
menjadi bagian paling penting disamping Gujarat dan India. Keberhasilan Malaka sebenarnya
bukan hanya terletak pada letaknya yang strategis, tetapi juga karena kebijakan-kebijakan
yang dikeluarkan oleh penguasanya sangat menguntungkan para pedagang dengan
memberikan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Mungkin hal itu jugalah yang menarik hati
Portugis untuk meraih tempat ini.

Seperti halnya Sriwijaya, Malaka pun menjadi tempat yang cukup subur bagi penyebaran
agama. Berbeda dengan Sriwijaya yang menganut Budha, Malaka dikenal dengan
keislamannya. Sebenarnya, pada mulanya seorang penguasa Malaka yang bernama
Parameswara memang beragama Hindu-Budha, tetapi pada masa akhir pemerintahannya dia
berpindah ke agama Islam. Dia menggunakan gelar Iskandar Syah. Mungkin kepindahannya
ke agama Islam dipengaruhi oleh banyaknya pedagang muslim yang berdagang di Malaka.

Islam merupakan agama yang tidak bisa dipisahkan dengan bangsa ini. Islam merupakan
agama yang paling banyak dianut oleh penduduk Indonesia saat ini. Menurut M.C. Ricklefs,
Islam menandai era sejarah modern dari Indonesia. Di berbagai pelabuhan di Indonesia
seperti Tuban dan Gresik agama ini tumbuh dengan subur. Tentu agama ini memiliki peranan
tersendiri dalam proses integrasi wilayah-wilayah di Indonesia. Berbeda dengan agama
Hindu yang mengenal pembagian kasta, Islam dinilai lebih egaliter sehingga mudah
mendapatkan pengikut. Pembagian tingkatan dalam agama ini mungkin hanya pada seorang
guru (kyai) dan seorang murid (santri). Selain itu, agama Islam dengan idiologi perang
sabilnya menjadi alat yang sangat penting demi memobilisasi massa dalam menghadapi
penindasan yang dilakukan pada masa kolonial berlangsung.

Memasuki era kolonial laut tetap memerankan perannya sebagai alat integrasi yang cukup
penting. Kongsi dagang tersukses yang pernah ada di Indonesia, VOC (Vereenig-de Oost-
Indische Compagnie), selama kurang lebih duaratus tahun berkuasa di Indonesia. selain
kekuatan militernya yang sangat kuat, VOC juga memiliki angkatan laut yang kuat pula.
Demi mengawasi lancarnya monopoli, mereka menggunakan perahu kora-kora yang biasa
disebut pelayaran Hongi. VOC dibawah pimpinan J.P. Coen meletakkan sebuah tempat
berpijak yang kokoh. Batavia yang sekarang bernama Jakarta dijadikan pusat administrasi
VOC. J.P. Coen juga dikenal kejam dan memiliki prinsip yang sangat kuat. Menurutnya VOC
tidak dapat menuasai perdagangan tanpa melakukan perang dan sebaliknya tidak bisa
melakukan perang tanpa menguasai perdagangan. Salah satu buktinya adalah di Maluku.
Keinginan VOC untuk memonopoli rempah-rempah tak mendapatkan perlawanan berarti
karena keunggulan angkatan laut VOC. Konsekuensinya tentu daerah tersebut harus tunduk
dan menjadi wilayah kekuasaan dari VOC.

VOC dengan kekuatan angkatan darat maupun lautnya serta kebijkan monopoli
perdagangannya menjadikan kongsi dagang ini memiliki wilayah yang cukup luas. Wilayah-
wilayah VOC merupakan wilayah yang kini menjadi Indonesia. Meskipun kongsi ini
mengalami kebangkrutan pada 31 Desember 1799, secara tidak langsung memberikan
dampak yang sama terhadap wilayah yang pernah dikuasainya. Kekerasan maupun perang
yang dijalankan di beberapa daerah menumbuhkan rasa senasib antarwilayah yang pernah
dikuasai oleh VOC. Hal ini kemudian menjadi alat pemersatu yang sangat efektif dalam
menghadapi kolonialisme.

Pada sebuah transaksi perdagangan terbukti memberikan pengaruh tidak terbatas hanya
dalam bidang ekonomi saja, melainkan pengaruh lain dibidang kultural seperti agama. Selain
itu, tentu diperlukan sarana yakni bahasa yang sama atau lingua franca demi tercapainya
kelancara dalam sebuah transaksi. Bahasa Melayu yang merupakan bahasa dari kerajaan
Sriwijaya menjadi bahasa yang digunakan dalam perdagangan laut. Bahasa memang menjadi
alat yang sangat vital dalam hubungan perdagangan. Bahasa Indonesia (Melayu) akhirnya
dipilih sebagai bahasa nasional yang diikrarkan oleh para pemuda pada tanggal 28 Oktober
1928 yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Salah satu poin dari sumpah tersebut adalah
“Kami putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Hal ini
menjadi bukti bahwa bahasa merupakan salah satu alat pemersatu wilayah yang cukup
penting perannya.

Laut sebagai alat pengintegrasi wilayah-wilayah yang kini menjadi Indonesia telah dapat
dibuktikan kebenarannya. Berpangkal dari adanya sebuah perdagangan laut, pengaruh
kultural lain seperti agama dan bahasa semakin memperkuat adanya sebuah ikatan
antarwilayah. Penakhlukan-penakhlukan wilayah melalui jalur laut seperti yang dilakukan
oleh kerajaan Sriwijaya juga memberikan andil dalam penyatuan ini. Dengan demikian kita
patut bangga dengan kekayaan alam berupa lautan yang luas yang telah diberikan oleh Yang
Maha Kuasa. Kita patut bersyukur dengan lautan yang luas kita dapat bersatu. Sudah
sepatutnyalah kekayaan laut yang kita miliki dimanfaatkan semaksimal mungkin demi
kesejahteraan masyarakat.
PERAN LAUT BAGI NEGARA INDONESIA

 Tinggalkan komentar

Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi laut yang cukup luas dengan luas
kawasan sekitar 7,7 juta Km2. Indonesia sebagai negara dengan teritorial laut terluas di dunia
dengan keseluruhan garis pantai sepanjang 80.791 km. Luas lautan Indonesia lebih luas
dibanding daratan. Sekitar 5,8 juta Km2 (75%) luas wilayah Indonesia merupakan perairan,
sedangkan daratannya hanya seluas 1,9 juta Km2(25%).Oleh karena itu aneh bila orang
Indonesia apatis terhadap kehidupan dari laut. Laut menyimpan potensi yang luar biasa
bermanfaat bagi kehidupan manusia dan banyak sekali manfaat bagi kehidupan di bumi.
Sayangnya, kebanyakan dari kita sering terlupa dengan manfaat sumber daya alam yang satu
ini.

Istilah trend yang sangat sering kita ucapkan kepada sesama kita adalah sebuah ungkapan,
“Kelaut ajalah”. Ungkapan ini biasa diucapkan untuk orang-orang yang merasa malu dengan
sesuatu, sehingga ungkapan “Kelaut ajalah” ini mencerminkan bahwa laut adalah muara
terakhir pembuangan sesuatu hal yang tak berguna. Ungkapan ini sebetulnya juga menjadi
simbol, betapa tak menghargainya kita sebagai manusia Indonesia terhadap laut Indonesia itu
sendiri. Abai terhadap pengelolaan laut maka membuang potensi kekayaan terbesar yang
tersimpan di tanah air.

Gambar Indonesia

PERAN LAUT PADA MASA HINDU – BUDHA (ABAD KE 4-14 M)

Laut berperan sebagai media transportasi utama perdagangan dunia pada masaHindu-Buddha,
masyarakat di zaman Hindu-Budha tidak hanya berdagang, namun juga menyebarkan agama
Hindu dan Buddha di Indonesia. Laut berfungsi sebagai jalur lalu lintas pelayaran dan
perdagangan antar wilayah di Indonesia pada zaman tersebut dan negara-negara lain di dunia
seperti India, Cina (Tiongkok) dan lain-lain.

Salah satu faktor terpenting yang tidak diragukan lagi dalam terciptanya Negara Indonesia
adalah laut. “Bhineka tunggal ika” akhirnya dipakai sebagai semboyan bangsa ini yang
menegaskan kesatuan dalam berbagai perbedaan. Semboyan itu berasal dari Kitab Sutasoma
karya mpu Tantular dizaman Majapahit. Lagu “Nenek Moyangku” menjadi sebuah saksi
bahwa betapa berpengaruhnya laut bagi bangsa ini. Laut memainkan peran yang tak akan
tergantikan dalam proses terbentuknya negara ini. Munculnya kerajaan Sriwijaya sebagai
kerajaan maritim adalah bukti betapa laut memang menunjukkan peran pentingnya bagi
adanya sebuah integrasi.
Kerajaan Sriwijaya muncul sekitar abad ke 7 M. Pulau Sumatera merupakan wilayah
kekuasaan Sriwijaya termasuk di dalamnya adalah Bangka-Belitung. Bahkan, Kamboja,
Thailand, dan Semenanjung Malaya juga menjadi bagian dari kerajaan maritim tersebut.

Wilayah Sriwijaya menjadi lokasi yang sangat strategis bagi perdagangan antara India
dengan Tiongkok. Peran pantai timur Sumatera dan pantai utara Jawa sangatlah penting kala
itu. Sriwijaya dikenal sebagai daerah penghasil kapur barus, cengkeh, pala, lada, dan timah.
Dikarenakan lokasi yang sangat penting bagi perdagangan India dan Tiongkok, Sriwijaya
mengalami dampak lain dari adanya perdagangan tersebut.

Balaputradewa yang menjadi raja Sriwijaya kala itu telah mengadakan hubungan dengan raja
Dewapaladea dari Benggala (India). Hubungan tersebut tak terbatas pada hubungan politik
saja. Dari hubungan tersebut terdapat unsur agama yang mulai dibawa masuk ke Sriwijaya.
Pada waktu itu Benggala merupakan pusat dari agama Budha Mahayana. Dengan adanya
hubungan yang baik, penyebaran agama Budha Mahayana menjadi sangat subur. Sriwijaya
juga melakukan penaklukan yang membuat penyebaran agama Budha lebih mudah lagi.
Sementara itu, hubungan dengan Tiongkok lebih bersifat politik yang ditandai dengan
dikirimkannya bantuan pasukan Tiongkok untuk Sriwijaya dalam menghadapi Jawa.

Gambar Sriwijaya

Tahun 1377 armada angkatan laut Majapahit menyerang Sriwijaya. Serangan ini mengakhiri
riwayat Kerajaan Sriwijaya. Meskipun demikian, kerajaan ini tetap memberikan peran bagi
terintegrasinya sebuah wilayah melalui penaklukan-penaklukan wilayah agama yang
dianutnya.

Keunggulan Sriwijaya dalam bidang maritim dilanjutkan oleh Malaka yang dahulu juga
merupakan bekas wilayah kerajaan Sriwijaya. Sebuah negara murni berbentuk pelabuhan
transit di Indonesia. Malaka tidak memiliki hasil-hasil sendiri yang cukup penting dan harus
mengimpor dari negara lain untuk mencukupi kebutuhan pangan negerinya. Letak Malaka
sangat strategis waktu itu karena merupakan salah satu trayek dalam sistem perdagangan
internasional dari Cina dan Maluku di timur bahkan sampai Afrika Timur dan Laut Tengah di
barat. Malaka memiliki banyak trayek perdagangan dengan berbagai daerah yang saat ini
masuk dalam wilayah Indonesia seperti Malaka-pantai timur Sumatera yang menjajakan
hasil-hasil bumi seperti emas, kapur barus, lada, dan sutra. Hal ini membuktikan bahwa
Malaka juga memiliki andil dalam menyatukan wilayah Negara Indonesia saat ini.