Anda di halaman 1dari 8

TUGAS GCG PERTEMUAN KE 9

RANGKUMAN 2 SUMBER RUJUKAN DARI BUKU DAN ARTIKEL

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang dibina oleh
Ibu Rohmawati Kusumaningtyas, SE., Ak., MSA.

Oleh

ISMIATI ULFAH NIM 15080694079

S1AK15A

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
2018
A. RANGKUMAN MATERI PERTEMUAN KE 9 TENTANG IDENTIFIKASI
PERMASALAHAN DI GCG
a) Struktur Governance di Indonesia
Struktur corporate governance di Indonesia dapat dilihat melalui jumlah
perusahaan privat maupun publik. Fenomena governance memperlihatkan minimnya
pemisahan antara kepemilikan (ownership) dan pengendalian (control) dalam
perusahaan. Pada faktanya, pemilik mayoritas dapat mempertahankan kontrol pada
perusahaan walaupun sebagian kepemilikan perusahaan dijual melalui listing di pasar
modal. Berdasarkan Patrick (2002), kondisi bursa saham Indonesia tidak kuat,
peraturan institusi pasar modal tidak efektif, dan kelalaian regulator dalam
mendukung penegakan aturan sehingga mengakibatkan mekanisme disiplin dan
pengendalian tidak berjalan lancar.
Sebagian besar perusahaan di Indonesia merupakan perusahaan yang dibawah
kendali lingkaran keluarga, maka segala keputusan korporasi berada di bawah kendali
keluarga sebagai pemilik mayoritas. Pemilik minoritas tidak memiliki kekuatan
efektif untuk berada pada posisi yang kuat karena lemahnya perlindungan hukum bagi
golongan investor kecil. Selain itu, perusahaan di Indonesia juga memiliki afiliasi atau
merupakan bagian dari kelompok bisnis atau konglomerasi yang juga dimiliki oleh
keluarga. Setiap perusahaan di Indonesia juga memiliki kepercayaan untuk
menggunakan pembiayaan eksternal melalui pinjaman bank yang berperan dalam
mendukung implementasi CG secara signifikan dengan sedikit otonomi dari manajer
bank.
Check and balances dalam praktik CG dapat ditingkatkan dengan memperbaiki
peran dari board of director (dewan komisaris di Indonesia) melalui sikap
independensi dan profesional dalam menjalankan fungsi supervisory dan advisory.
Anggota dewan komisaris di Indonesia umumya ditunjuk karena memiliki hubungan
kekeluargaan dengan pemegang saham utama. Hal ini dapat menyebabkan
berkurangnya efektivitas peran pengawasan dalam check and balances sebagai esensi
keberadaan CG dalam perusahaan.
Kelemahan corporate governance di Indonesia muncul karena belum adanya
sistem governance yang sesuai, tidak ditemukannya kerangka peraturan dan hukum
yang bersifat memaksa dan sah, lemahnya struktur peraturan dasar untuk sektor
korporasi dan masih kurangnya peraturan dan kepatuhan akan hukum yang berlaku.
b) Konteks dan Struktur Governance
Secara umum, sistem CG diklasifikasikan menjadi sistem yang didominasi
pasar (market-dominated) atau dominasi bank. Terdapat perbedaan konteks CG di
berbagai negara di dunia dan hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu. Pola bisnis
dan kerangka hukum perusahaan di Indonesia didasarkan atas sistem hukum yang
dibangun oleh Belanda. Pola perkembangan struktur korporasi di Indonesia dijelaskan
melalui teori path dependence. Teori ini memberikan penjelasan bahwa struktur
corporate dalam suatu perekonomian bergantung pada struktur bagaimana ekonomi
suatu negara dimulai. Selanjutnya, peraturan-peraturan korporasi akan bergantung
pada dirinya sendiri berdasarkan struktur tersebut. Dengan demikian, sistem keuangan
suatu negara menentukan orientasi perusahaan dalam membangun hubungan antara
berbagai pihak yang terlibat dan pilihan pembiayaan.
c) Indonesia, Stakeholding versus Shareholding
Jika memperhatikan ciri sistem dan model governance yang diadopsi Indonesia
yaitu model continental European, maka perspektif stakeholding lebih sesuai
diterapkan di Indonesia. Melalui sudut pandang stakeholding diharapkan pemahaman
fenomena CG di Indonesia dapat menemukan nilai yang sesuai serta tidak berlawanan
dengan konsep dan praktik. Pemahaman fenomena CG di Indonesia juga dapat
dilakukan dengan menggunakan perspektif shareholding, dimana masalah keagenan
yang ditemukan di perusahaan publik terjadi antara pemilik mayoritas (controlling
shareholders) dengan pemilik minoritas (minority shareholders).
Penerapan CG di Indonesia memberikan dampak bahwa reformasi dalam bidang
CG harus mempertimbangkan karakteristik spesifik praktik bisnis, hukum yang
dianut, serta kondisi sosial masyarakat. Realitas praktik CG merupakan multifaced
phenomenon serta berbeda antarnegara dan antarkorporasi sehingga upaya
penyederhanaan konsepsi CG akan mengaburkan esensi governance yang sehat.
Perbedaan lingkungan budaya, aspek hukum dan perundang-undangan, pola bisnis
yang dianut merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam
mengidentifikasi sistem dan model CG di suatu negara.
d) Karakteristik Corporate Governance di Indonesia
Sistem pengelolaan perusahaan Indonesia dipengaruhi oleh faktor
ketergantungan (path dependencies) pada struktur perusahaan dan hukum dari
Belanda. Masalah mendasar tentang CG dimulai karena adanya pemisahan antara
kepemilikan (ownership) dan pengendalian (control) entitas perusahaan. Pemisahan
tersebut menimbulkan masalah keagenan yang dapat mempengaruhi pencapaian
tujuan perusahaan. Di negara berkembang, seperti Indonesia, sistem yang digunakan
adalah sistem keuangan berbasis jaringan (networ oriented) karena belum dapat
mengandalkan mekanisme pasar sebagai perangkat pengendalian korporasi untuk
mendisiplinkan perusahaan. Selain itu juga, keberadaan Dewan Komisaris perseroan
belum sepenuhnya independen dan bebas dari intervensi pemilik saham mayoritas.
Karakteristik CG di Indonesia yaitu sebagai berikut :
1) Kepemilikan perusahaan terkonsentrasi pada individu atau keluarga sehingga
pihak ini mempunyai pengaruh kuat untuk menentukan arah perusahaan.
2) Kepemilikan saham dengan penguasaan mayoritas keluarga untuk menduduki
posisi direksi dan/atau komisaris di dalam suatu perusahaan.
3) Kepemilikan saham keluarga juga diikuti dengan berkembangnya kelompok
bisnis keluarga berpola konglomerat dengan usaha yang sangat terdiversifikasi.
4) Perusahaan publik di Indonesia pada umumnya mempunyai tingkat utang yang
sangat besar dan sebagian besar dalam bentuk mata uang asing yang tidak
dilindung-nilaikan.
5) Pasar modal relatif kecil dan tidak likuid sehingga tidak mampu secara efektif
berperan sebagai mekasnisme kontrol eksternal dalam penerapan prinsip CG.
6) Kombinasi antara relatif kecilnya pasar modal Indonesia dengan sedikitnya
proporsi kepemilikan perusahaan dalam bentuk saham yang dijual kepada publik.
7) Lemahnya penegakan hukum dan lembaga pendukungnya di dalam menjaga
berjalannya sistem secara benar, sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan.
8) Belum terdapat upaya perbankan menyeluruh yang mencakup pembenahan
seluruh komponen sistem CG.
Kendala penerapan CG di Indonesia berhubungan dengan moral dan etika.
Perusahaan publik di Indonesia yang terkosentrasi pada basis hubungan keluarga,
tanpa basis moral dan etika yang kuat akan menyababkan memanfaatkan peluang
untuk memperoleh keuntungan dengan mengorbankan kepentingan pihak lain.
e) Kendala Implementasi Corporate Governance di Indonesia
Indonesia mengikuti pola yang dianut oleh Belanda namun memiliki sistem
governance yang lebih spesifik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh La Porta
(1998) dan CLSA (2001), Indonesia merupakan negara yang berada pada peringkat
terakhir terkait dengan keadaan iklim usaha terutama pelaksanaan dan kepastian
hukum. Implikasinya adalah masalah hukum tidak menjadi faktor utama yang
mempengaruhi penerapan CG, tetapi ada faktor lain yang mempengaruhi efektivitas
penerapannya.
Menurut Tabalujan, Indonesia telah memiliki perangkat hukum dan lembaga
pendukung yang cukup. Kebutuhan Indonesia adalah mengadakan perubahan secara
mendasar terhadap legal culture agar masyarakat Indonesia menjadi lebih taat dan
patuh pada hukum serta asas yang berlaku sehingga perangkat hukum dan institusi
pendukungnya dapat berjalan optimal sesuai dengan tujuan. Tidak berfungsinya
hukum di negara berkembang, seperti Indonesia, disebabkan hukum yang diadopsi
dari negara Barat kurang sesuai dengan budaya lokal/hukum informal di Indonesia.
Hal ini menjelaskan bahwa nilai budaya tradisional lebih berperan sebagai aturan yang
dominan dibandingkan dengan aturan hukum yang terinstitusionalisasi secara legal-
formal.

B. RANGKUMAN ARTIKEL
a) Judul = Reforming Corporate Governance Post Enron: Shareholders’ Board of
Trustees and the Auditor (Mereformasi Pos Tata Kelola Korporat Enron: Dewan
Pengawas Pemegang Saham dan Auditor
b) Penulis = A. Rashad Abdel-Khalik
c) Penerbit = Journal of Accounting and Public Policy 21 (2002) 97–103
d) Rangkuman =
Latar Belakang
Paper ini menjelaskan sebuah usulan untuk mereformasi aspek tata kelola
korporat. Hal ini didasarkan atas kasus yang terjadi pada Enron dimana auditor dipilih,
dipertahankan, dan dikompensasikan. Paper ini memiliki dua tujuan yaitu 1)
mengidentifikasi masalah independensi audit sebagai hasil dari pemberian otoritas
untuk membuat keputusan tekait dengan dewan direki perusahaan, dan 2)
mengusulkan struktur untuk memungkinan pemegang saham secara langsung
memutuskan pilihan auditor dan kompensasi.
Dewan Pengawas Pemegang Saham (SBT) dari Dewan Direksi memiliki
tanggung jawab untuk memilih, mempertahankan, dan mengkompensasi auditor
eksternal. Agar berfungsi sebagai agen independen pemegang saham, proses
pemilihan SBT harus berada di luar korporasi, misalnya dilakukan oleh bursa efek
dengan biaya tertentu.
1) Masalah yang dihadapi
Berdasarkan teori, auditor adalah agen pemegang saham tetapi pada
faktanya kita berbicara tentang manajemen sebagai klien audit. Pengaturan
kelembagaan saat ini berdasarkan premis bahwa shareholder memilih dan
menunjuk auditor. Dalam ekonomi global saat ini, kepemilikan perusahaan
tersebar luas dan pemegang saham melalui suara proksi atau ketidakpedulian,
telah secara efektif menyerahkan kendali keputusan yang terkait dengan auditor
(menyewa, retensi, dan kompensasi) untuk manajemen perusahaan.
Independensi auditor mungkin terganggu ketika perusahaan audit yang
dipilih juga dipertahankan untuk melakukan layanan konsultasi. Independensi
audit bisa dicapai dengan menghapus dari domain manajemen seperti de facto
authority untuk merekrut dan memberi kompensasi kepada auditor. Struktur yang
mungkin untuk mencapai tujuan ini dkembangkan di bawah ini.
2) Biaya Enron dan Keagenan
Sejak Oktober 2001, ketika masalah Enron mulai diketahui, sejumlah
besar laporan telah ditulis tentang keruntuhan Enron. Gambaran yang lebih besar
dari bencana Enron muncul untuk mengungkapkan fenomena yang mengganggu
yaitu konflik kepentingan antara pemegang saham dan manajemen. Kegagalan
mengurangi konflik kepentingan akan menyebabkan meningkatnya biaya
keagenan. Dalam kasus Enron, biaya keagenan lebih tinggi dari yang
dikhawatirkan semua pihak yang berkepentingan.
Salah satu cara mengurangi konflik kepentingan adalah menawarkan
rencana insentif kepada manajer untuk memotivasi mereka agar mengambil
tindakan konsisten dengan memaksimalkan nilai kekayaan pemegang saham
misalnya yaitu program menawarkan opsi saham. Eksekutif Enron memiliki jenis
rencana untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan. Namun, kondisi rencana ini
dilaksanakan tidak biasa karena adanya cacat dalam pengukuran kinerja.
3) Opini dan jaminan audit
Di pasar yang efisien, sering ditegaskan, pasar dapat melihat melalui
manipulasi manajemen. Kondisi yang diperlukan, meskipun tidak mencukupi
untuk pernyataan ini adalah (a) investor dapat dan bersedia menggunakan
pengungkapan informasi akuntansi (dan lainnya) untuk menguraikan permainan
manajemen; dan b) laporan keuangan menawarkan representasi yang adil dan
sesuai dengan apa yang telah dicapai manajemen. Sedangkan laporan keuangan
merupakan representasi dari manajemen.
Sejak berdirinya Securities and Exchange Commission (SEC) pada tahun
1934, laporan auditor eksternal telah menjadi sumber utama kepercayaan bagi
investor. Pengaturan lembaga ini telah berkembang dari waktu ke waktu karena
auditor (1) menjadi manajemen independen atas kinerja opini auditor, (2)
bersikap skeptis terhadap representasi manajemen, dan (3) mengadopsi secara
profesional perkembangan dan standar akuntansi dan standar audit.
4) Pilihan dan manajemen auditor
Independensi Auditor adalah subjek dari banyak perdebatan di bawah
arahan Arthur Levitt, mantan ketua SEC. Kasus Enron menyoroti fakta bahwa
manajemen perusahaan yang bukunya sedang diaudit adalah target yang dituju
oleh klien. Untuk melihat masalah pada sistem saat ini, pertimbangkan beberapa
aspek yang relevan terhadap tata kelola perusahaan.
Oleh karena itu, BOD akhirnya mencalonkan dan memilih auditor eksternal
dengan ketidaksadaran. Ini juga merupakan BOD yang dipertukarkan surat
perjanjian dengan auditor yang memperinci retensi auditor dan perjanjian
kompensasi.
5) Pilihan auditor dan pemegang saham
Satu pendekatan penting untuk mereformasi tata kelola perusahaan adalah
menghapus BOD perusahaan dari proses pengambilan keputusan untuk memilih
dan mengganti auditor eksternal. Dengan membangun mekanisme yang praktis
dan dapat diakses, pemegang saham luar akan berada pada posisi untuk membuat
keputusan tentang auditor eksternal tanpa pengaruh BOD atau unit lain pada
manajemen perusahaan. Pertimbangkan skenario di mana para pemegang saham
akan setuju untuk memiliki Dewan Pengawas Pemegang Saham (SBT) yang
bertanggung jawab sepenuhnya membuat keputusan tentang auditor eksternal ––
pemilihan, kompensasi, dan penggantian.
Keputusan mempertahankan perusahaan audit untuk melakukan layanan
jaminan (yaitu, memberikan pendapat pada laporan keuangan) dengan SBT,
sedangkan keputusan untuk menyewa audit perusahaan yang sama untuk
melakukan jasa konsultasi dengan BOD.
6) Komite audit perusahaan: keuntungan tambahan dari SBT
Sementara bertindak dalam kapasitas yang berbeda dari auditor eksternal,
seperti auditor, komite audit perusahaan bertanggung jawab kepada pemegang
saham. Untuk mempengaruhi agen, komite audit perusahaan harus
mempertahankan tingkat otonomi dari BOD. Seperti halnya auditor eksternal,
BOD memiliki kewenangan de facto untuk memilih dan mengganti direktur luar
yang kemudian menjadi anggota komite audit perusahaan. Oleh karena itu, tidak
mengherankan jika komite audit perusahaan menemukan kewajaran untuk
menyesuaikan dengan kebijakan, tujuan, dan kegiatan orang lain (orang dalam)
anggota Direksi.
Tanpa mereorganisasi struktur tata kelola perusahaan, mengurangi masalah
tersebut hanya akan menghasilkan lebih banyak aturan. Namun demikian,
pembentukan SBT memiliki keuntungan tambahan dari kemungkinan
mereformasi pilihan komite audit perusahaan secara potensial lebih efektif.
Alternatif lain adalah memungkinkan proses pengambilan keputusan bersama
yaitu BOD pilih dua anggota dan SBT pilih dua lainnya. SBT menunjuk anggota,
pada dasarnya, menjadi monitor dari kegiatan anggota lain.