Anda di halaman 1dari 7

KJJ

KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN


Seputar Pengertian Klasifikasi Jalan Menurut (Bina Marga 1997). Jalan raya pada umumnya dapat
digolongkan dalam 4 klasifikasi yaitu:
1. Klasifikasi menurut fungsi jalan
2. Klasifkasi menurut kelas jalan
3. Klasifikasi menurut medan jalan
4. Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan

Klasifikasi menurut fungsi jalan


Klasifikasi menurut fungsi jalan terdiri atas 3 golongan yaitu:
1. Jalan arteri yaitu jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan
rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.
2. Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri perjalanan jarak
sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi.
3. Jalan lokal yaitu Jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat,
kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Klasifikasi menurut kelas jalan


Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk menerima beban lalu lintas, dinyatakan
dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton.

Klasifikasi menurut medan jalan


Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan yang diukur tegak lurus
garis kontur. Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus mempertimbangkan keseragaman kondisi
medan menurut rencana trase jalan dengan mengabaikan perubahan-perubahan pada bagian kecil dari segmen
rencana jalan tersebut.

Jenis Medan Notasi Kemiringan Medan (%)


Datar D <3

Berbukit B 3-25

Pegunungan G >25

Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan


Klasifikasi menurut wewenang pembinaannya terdiri dari Jalan Nasional, Jalan Provinsi, Jalan
Kabupaten/Kotamadya dan Jalan Desa
KJJ
KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN
Klasifikasi jalan atau hirarki jalan adalah pengelompokan jalan berdasarkan fungsi jalan,
berdasarkan administrasi pemerintahan dan berdasarkan muatan sumbu yang menyangkut dimensi
dan berat kendaraan. Penentuan klasifikasi jalan terkait dengan besarnya volume lalu lintas yang
menggunakan jalan tersebut, besarnya kapasitas jalan, keekonomian dari jalan tersebut serta
pembiayaan pembangunan dan perawatan jalan.

Klasifikasi jalan menurut fungsi[sunting]


Jalan umum menurut fungsinya berdasarkan pasal 8 Undang-undang No 38 tahun 2004 tentang
Jalan dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan.

1. Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri
perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara
berdaya guna.
2. Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau
pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan
masuk dibatasi.
3. Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri
perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
4. Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan
dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.
Didalam pasal 6 dan pasal 9 Peraturan Pemerintah No 34 tahun 2006 tentang Jalan dijelaskan
bahwa fungsi jalan terdapat pada sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder
yang merupakan bagian dari Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan jaringan jalan yang
terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam
hubungan hierarki.
Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem jaringan jalan yang menghubungkan antarkawasan
perkotaan, yang diatur secara berjenjang sesuai dengan peran perkotaan yang dihubungkannya.
Untuk melayani lalu lintas menerus maka ruas-ruas jalan dalam sistem jaringan jalan primer tidak
terputus walaupun memasuki kawasan perkotaan. Sistem jaringan jalan sekunder merupakan
sistem jaringan jalan yang menghubungkan antarkawasan di dalam perkotaan yang diatur secara
berjenjang sesuai dengan fungsi kawasan yang dihubungkannya.

Klasifikasi berdasarkan status[sunting]


Pengelompokan jalan dimaksudkan untuk mewujudkan kepastian hukum penyelenggaraan jalan
sesuai dengan kewenangan Pemerintah dan pemerintah daerah. Jalan umum menurut statusnya
dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.

1. Jalan nasional, merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer
yang menghubungkan antar ibukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
2. Jalan provinsi, merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota
kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
3. Jalan kabupaten, merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak
termasuk jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan,
antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat
kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah
kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
4. Jalan kota, adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan
antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil,
menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di
dalam kota.
5. Jalan desa, merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau
antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

Klasifikasi berdasarkan muatan sumbu[sunting]


Jalan dikelompokkan dalam beberapa kelas berdasarkan muatan sumbu yang ditetapkan
berdasarkan fungsi dan intensitas Lalu Lintas guna kepentingan pengaturan penggunaan Jalan dan
Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; dan daya dukung untuk menerima muatan sumbu
terberat dan dimensi Kendaraan Bermotor.

Pengelompokan Jalan menurut kelas Jalan terdiri atas:

1. jalan kelas I, yaitu jalan arteri dan kolektor yang dapat dilalui Kendaraan Bermotor dengan
ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter, ukuran panjang tidak
melebihi 18.000 (delapan belas ribu) milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua
ratus) milimeter, dan muatan sumbu terberat 10 (sepuluh) ton;
2. jalan kelas II, yaitu jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat dilalui Kendaraan
Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter, ukuran
panjang tidak melebihi 12.000 (dua belas ribu) milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 (empat
ribu dua ratus) milimeter, dan muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton;
3. jalan kelas III, yaitu jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat dilalui Kendaraan
Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 (dua ribu seratus) milimeter, ukuran
panjang tidak melebihi 9.000 (sembilan ribu) milimeter, ukuran paling tinggi 3.500 (tiga ribu
lima ratus) milimeter, dan muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton; dan
4. jalan kelas khusus, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui Kendaraan Bermotor dengan ukuran
lebar melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter, ukuran panjang melebihi 18.000
(delapan belas ribu) milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter,
dan muatan sumbu terberat lebih dari 10 (sepuluh) ton.

JEMBATAN
Drainase yang berasal dari bahasa Inggris “drainage” mempunyai arti mengalirkan,
menguras, membuang, atau mengalihkan air. Dalam bidang teknik sipil, drainase secara
umum dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik
yang berasal dari air hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu kawasan/lahan,
sehingga fungsi kawasan/lahan tidak terganggu. Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha
untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas. Secara umum, sistem
drainase dapat didefinisikan serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi
dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan/lahan, sehingga lahan dapat
difungsikan secara optimal.

A. Fungsi Drainase
1. Fungsi/kegunaan dari sistem drainase, antara lain:
2. Membebaskan suatu wilayah terutama yang padat pemukiman dari genangan air erosi dan
banjir.
3. Karena aliran lancar, maka drainase juga berfungsi memperkecil resiko kesehatan lingkungan
bebas dari malaria dan penyakit lainnya.
4. Kegunaan tanah pemukiman padat akan menjadi lebih baik karena terhiindar dari
kelembaban.
5. Dengan sistem yang baik, tata guna lahan dapat dioptimalkan dan juga memperkecil
kerusakan-kerusakan tanah, bentuk jalan, dan bangunan-bangunan lainnya

B. Jenis-jenis Drainase
1. Menurut sejarah terbentuknya
a) Drainase alamiah (natural drainage), yaitu sistem drainase yang terbentuk secara
alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia.
b) Drainase buatan , yaitu sistem drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu
drainase, untuk menentukan debit akibat hujan dan dimensi saluran.
2. Menurut letak saluran
a) Drainase permukaan tanah (surface drainage), yaitu saluran drainase yang berada di
atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan.
b) Drainase bawah tanah (sub surface drainage), yaitu saluran drainase yang bertujuan
mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-
pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain tuntutan artistik,
tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di
permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, taman, dan lain-
lain.

3. Menurut fungsi
a. Single Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan saja.
b. Multy Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis buangan, baik
secara bercampur maupun bergantian.

4. Menurut konstruksi
a. Saluran terbuka, yaitu sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk
menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun kebanyakan sistem
saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka
ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi saluran terbuka di dalam
kota harus diberi lining dengan beton, pasangan batu (masonry) ataupun dengan
pasangan bata.
b. Saluran tertutup, yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan
lingkungan. Siste ini cukup bagus digunakan di daerah perkotaan terutama dengan
tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar
lainnya.
C. Fungsi Jaringan
Pada sistem pengumpulan air buangan yang diperhatikan ada dua macam air
buangan, yaitu air hujan dan air kotor (bekas). Cara atau sistem buangan ada tiga, yaitu:
1. Sistem Terpisah (Separate System) Air kotor dan air hujan dilayani oleh sistem
saluran masing-masing terpisah. Pemilihan sistem ini didasarkan pada beberapa
pertimbangan, antara lain:
a. Periode musim hujan dan kemarau yang terlalu lama.
b. Kuantitas yang jauh berbeda antara air buangan dan air hujan.
c. Air buangan memerlukan pengolahan terlebih dahulu sedangkan air hujan
tidak perlu dan harus secepatnya dibuang ke sungai.
Keuntungan:
1. Sistem saluran mempunyai dimensi yang kecil sehingga memudahkan pembuatan dan
operasinya.
2. Penggunaan sistem terpisah mengurangi bahaya bagi kesehatan masyarakat.
3. Pada instalasi pengolahan air buangan, tidak ada tambahan beban kapasitas karena
penambahan air hujan.
4. Pada sistem ini untuk saluran air buangan bisa direncanakan pembilasan sendiri, baik pada
musim kemarau maupun pada musim hujan
Kerugian:
Harus membuat dua sistem saluran sehingga memerlukan tempat yang luas dan biaya
yang cukup besar.

Sistem Tercampur (Combined System) Air kotor dan air hujan disalurkan melalui satu
saluran yang sama. Saluran ini harus tertutup. Pemilihan sistem ini didasarkan pada beberapa
pertimbangan, antara lain:
a Debit masing-masing buangan relatif kecil sehingga dapat disatukan.
b Kuantitas air buangan dan air hujan tidak jauh berbeda.
c Fluktuasi curah hujan dari tahun ke tahun relatif kecil.
Keuntungan:
1. Hanya diperlukan sat sistem penyaluran air sehingga dalam pemilihannya lebih
ekonomis.
2. Terjadi pengenceran air buangan oleh air hujan sehingga konsentrasi air buangan
menjadi menurun. Kerugian: Diperlukan areal yang luas untuk menempatkan instalasi
tambahan utuk penanggulangan di saat-saat tertentu.
Sistem Kombinasi (Pseudo Separate System), atau sistem interseptor. Merupakan
perpaduan antara saluran air buangan dan saluran air hujan dimana pada waktu musim hujan
air buangan dan air hujan tercampur dalam saluran air buangan, sedangkan air hujan
berfungsi sebagai pengencer. Kedua saluran ini tidak bersatu tetapi dihubungkan dengan
sistem perpipaan interseptor.

Beberapa faktor yang dapat digunakan dalam pemillihan sistem ini adalah:
1. Perbedaan yang besar antara kuantitas air buangan yang akan disalurkan melalui jaringan
penyalur air buangan dan kuantitas curah hujan pada daerah pelayanan.
2. Umumnya di dalam kota dilalui sungai-sungai dimana air hujan secepatnya dibuang ke
dalam sungai-sungai tersebut.
3. Periode musim kemarau dan musim hujan yang lama dan fluktuasi air hujan yang tidak
tetap. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka secara teknis dan ekonomis,
sistem yang memungkinkan untuk diterapkan adalah sistem terpisah antara air buangan
rumah tangga dengan air buangan yang berasal dari air hujan.
D. Sasaran Sistem Drainase
Sasaran penyediaan sistem drainase adalah:
1. Penataan sistem jaringan drainase primer, sekunder, dan tersier melalui normalisasi
maupun rehabilitasi saluran guna menciptakan lingkungan yang aman dan baik terhadap
genangan, luapan sungai, banjir kiriman, maupun hujan lokal. Dari masing-masing jaringan
dapat didefinisikan sebagai berikut :
a Jaringan Primer : saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai.
b Jaringan Sekunder : saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan saluran
primer (dibangun dengan beton/plesteran semen).
c Jaringan Tersier : saluran untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran sekunder,
berupa plesteran, pipa dan tanah.
2. Memenuhi kebutuhan dasar (basic need) drainase bagi kawasan hunian dan kota.
3. Menunjang kebutuhan pembangunan (development need) dalam menunjang terciptanya
scenario pengembangan kota untuk kawasan andalan dan menunjang sektor unggulan
yang berpedoman pada Rancana Umum Tata Ruang Kota.
E. Sistem Jaringan Drainase
Sistem jaringan drainase umumnya terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Sistem Drainase Makro
Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air
dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase
makro ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major system) atau
drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti
saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini
umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi
yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
2. Sistem Drainase Mikro
Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang
menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang
termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan
air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya
dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro
ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata
guna lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai
sistem drainase mikro.
F. Pengklasifikasian Saluran Drainase
Jenis saluran untuk pembuangan air dapat dibedakan menjadi:
1. Saluran Air Tertutup
a. Drainase Bawah Tanah Tertutup, yaitu saluran yang menerima air limpasan dari daerah
yang diperkeras maupun yang tidak diperkeras dan membawanya ke sebuah pipa
keluar di sisi tapak (saluran permukaan atau sungai), ke sistem drainase kota.
b. Drainase Bawah Tanah Tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, dimana
drainase ini mampu menampung air limpasan dengan volume dan kecepatan yang
meningkat tanpa menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak.
2. Saluran Air Terbuka
Merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan bebas. Pada saluran
air terbuka ini jika ada sampah yang menyumbat dapat dengan mudah untuk dibersihkan,
namun bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut asalnya, saluran
dibedakan menjadi : a. Saluran Alam (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan
sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.

6.