Anda di halaman 1dari 108

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang sangat penting
dalam menunjang pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sebagai salah satu
institusi sosial, Rumah Sakit dituntut untuk mengutamakan pelayanan kesehatan
kepada seluruh masyarakat tidak memandang perbedaan golongan, suku, ras, dan
agama.
Rumah Sakit Umum Daerah Toto Kabila yang berada di Kabupaten Bone
Bolango dan secara geografis terletak dipusat wilayah Teluk Tomini,
memudahkan masyarakat yang berada di daerah Hinterland untuk mengakses
pelayanan rujukan. Untuk itu terus dilakukan pembenahan baik dari segi
sarana/prasarana, Sumber Daya Manusia serta jenis pelayanan yang diberikan.
RSUD Toto Kabila yakni satu dari sekian Rumah Sakit milik Pemkab
Bone Bolango yang berwujud RSU, dikelola oleh Pemda Kabupaten dan tercatat
kedalam Rumah Sakit Tipe C. Rumah Sakit ini telah terdaftar sejak 25/02/2016
dengan Nomor Surat Izin 420/menkes/sk/VI/2009 dan Tanggal Surat Izin
02/06/2009 dari menkes dengan Sifat Tetap, dan berlaku sampai 2019. Setelah
mengadakan Proses akreditasi Rumah sakit Seluruh Indonesia dengan proses
Pentahapan I ( 5 Pelayanan) akhirnya ditetapkan dengan status Lulus.
Pelayanan kesehatan bermutu merupakan salah satu wujud dari tuntutan
masyarakat di era globalisasi saat ini. Masyarakat yang semakin kritis dan
terdidik kian menguatkan agar pelayanan kesehatan lebih responsif atas kebutuhan
masyarakat, menerapkan manajemen yang transparan, partisipatif dan akuntabel
(Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2011 dalam Komapo, 2013). Selain
itu, masyarakat menuntut rumah sakit harus dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang terkait dengan kebutuhan pasien harus dapat dilayani oleh rumah
sakit secara mudah, cepat, akurat, dengan biaya terjangkau (Ilyas, 2004).
Meningkatnya tuntutan masyarakat di sarana kesehatan terutama di rumah
sakit, secara berkesinambungan membuat rumah sakit harus melakukan upaya
peningkatan mutu pemberian pelayanan kesehatan. Salah satu mutu pelayanan

1
kesehatan yang harus ditingkatkan secara berkesinambungan adalah mutu
pelayanan keperawatan di rumah sakit (Depkes RI, 2012). Setiap upaya untuk
meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit harus juga disertai upaya untuk
meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan (Mulyono, 2013). Keperawatan
sebagai profesi dan tenaga profesional bertanggung jawab untuk memberikan
pelayanan keperawatan sesuai kompetensi dan kewenangan yang dimiliki secara
mandiri maupun bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lain (Gustini, 2010).
Di era pasar bebas dan liberalisasi, profesionalisme merupakan suatu
instrumen yang unggul untuk memenangkan kompetensi, untuk itu tenaga
keperawatan dan kebidanan harus lebih kompeten dan memiliki daya saing yang
tinggi secara regional maupun global (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2010). Oleh karena itu, pelayanan keperawatan dan kebidanan harus
dikelola secara profesional demi peningkatan mutu pelayanan yang
merupakan salah satu indikator manajemen pelayanan keperawatan dan
kebidanan di rumah sakit.
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif
dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi Manajemen tersebut mencakup
kegiatan planning, organizing. Actuating, controlling terhadap staf sarana, dan
prasarana dalam mencapai organisasi (Grant dan Massye. 1999 dalam Nursalam,
2011). Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasi,
memimpin, dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat
memberikan asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkin bagi
individu, keluarga dan masyarakat.
Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan
sebagai metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara profesional, sehingga
diharapkan keduanya dapat saling mendukung. Adanya manajemen keperawatan
dapat membantu Adanya tuntutan kualitas terhadap pelayanan keperawatan.
Pelayanan keperawatan dirasakan sebagai satu phenomena yang harus direspon
oleh perawat. Pelayanan keperawatan secara profesional perlu mendapatkan
perhatian dalam pengembangan dunia keperawatan. Salah satu strategi untuk
mengoptimalkan peran dan fungsi perawat dalam pelayanan keperawatan adalah

2
melakukan manajemen keperawatan dengan harapan adanya factor kelola yang
optimal mampu meningkatkan keefektifan pembagian pelayanan keperawatan
sekaligus lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan.
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan
sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk
pengambilan keputusan yang berfokus pada klien. Manajemen kebidanan
menyangkut pemberian pelayanan yang utuh dan menyeluruh dari kepada
kliennya, yang merupakan suatu proses manajemen kebidanan yang
diselenggarakan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas melalui tahapan-
tahapan dan langkah-langkah yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan
data, memberikan pelayanan yang benar sesuai dengan keputusan tindakan klinik
yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien (Qomariah,2012).
Akar atau dasar manajemen kebidanan, adalah ilmu manajemen secara
umum. Dengan memepelajari teori manajemen, maka diharapkan bidan dapat
menjadi manajer ketika mendapat kedudukan sebagai seorang pimpinan, dan
sebaliknya dapat melakukan pekerjaan yang baik pula ketika menjadi bawahan
dalam suatu sistem organisasi kebidanan. Demikian pula dalam hal memberikan
pelayanan kesehatan pada kliennya, seorang bidan haruslah menjadi manajer yang
baik daam rangka pemecahan masalah dari klien tersebut. Menurut (Wibowo,
2010) Bidan di dalam prakteknya secara profesional, dituntut tanggung jawab
manajerial yang bermutu. Untuk itu metode ilmiah akan dapat dilakukan bila telah
memahami betul tekhnik-tekhnik manajemen yang adekuat. Artinya di dalam
prakteknya yang penuh tanggung jawab itu dilakukan menggunakan teori-teori
dan prinsip manajemen, yang telah diakui secara nasional maupun internasional.
Dengan perkataan lain, bidan praktek telah menggunakan manajemen kebidanan
yang adekuat dalam memberikan asuhan kebidanan pada kliennya.
Dalam melaksanakan praktik, bidan memberikan asuhan sesuai dengan
kebutuhan terhadap perempuan pada masa prakonsepsi, masa hamil, melahirkan
dan postpartum, maupun masa interval, melaksanakan pertolongan persalinan
dibawah tanggung jawabnya sendiri, memberi asuhan Bayi Baru Lahir, bayi dan

3
anak balita. Meliputi tindakan pemeliharaan, pencegahan, deteksi, serta intervensi,
dan rujukan pada keadaan risiko tinggi, termasuk kegawatan pada ibu dan anak.
Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga, dan masyarakat yang
meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan
(Qomariah,2012).
Pelayanan kesehatan yang memadai ditentukan sebagian besar oleh
gambaran pelayanan keperawatan yang terdapat di dalamnya. Era globalisasi dan
perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat dan bidan, sebagai
suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Praktek keperawatan
dan kebidanan ditentukan dalam standar profesi dan system pengaturan serta
pengendaliannya melalui perundang-undangan keperawatan maupun kebidanan
dimanapun perawat atau bidan itu bekerja (Nursalam 2015).
2. Tujuan
2.1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan praktek profesi manajemen keperawatan,
mahasiswa mampu menerapkan konsep dan prinsip manajemen
keperawatan dan menjadi “ Change Agent” dan model peran dalam
kepemimpinan dan pengelolaan pelayanan keperawatan professional pada
unit pelayanan kesehatan secara nyata dan meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan di Ruang Nifas RSUD TOTO Kabila.
2.2. Tujuan Khusus
Setelah menyelesaikan praktek profesi keperawatan Manajemen
Keperawatan mahasiswa mampu:
a. Mengidentifikasi kebutuhan dan masalah pelayanan kesehatan yang
terkait dengan manajemen keperawatan berdasarkan analisis situasi
nyata di tempat praktek.
b. Menetapkan prioritas manajemen keperawatan bersama kepala
ruanngan serta perawat ruangan di tempat mahasiswa praktek
c. Menetapkan prioritas dan alternatief penyelesaian masalah yang
disepakati bersama kepala ruangan dan para perawat ruangan serta
pembimbing

4
d. Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah berdasarkan
kebutuhan masalah yang disepakati kepala ruangan dan para perawat
ruangan serta pembimbing
e. Mengevaluasi proses pelaksanaan kegiatan mulai dari aspek masukan
(input), aspek proses sampai dengan proses hasil (Output).
3. Manfaat
3.1 Bagi Mahasiswa Keperawatan
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dalam
menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara nyata dilahan praktek
maupun tempat bekerja nanti.
3.2 Bagi Ruangan / Rumah sakit
Meningkatkan kulalitas pelayanan keperawatan sesuai dengan
masalah yang ditemukan di lahan praktek sesuai dengan ilmu yang
didapatkan selama proses akademik dengan tehnik pemecahan masalah
pada konsep manajemen sehingga meningkatkan mutu pelayanan di
Rumah Sakit.
3.3 Bagi Pendidikan
Dapat menjadi referensi sebagai evaluasi untuk meningkatkan
kualitas pengajaran manajemen keperawatan bagi mahasiswa yang akan
menjalankan praktek profesi manajemen keperawatan pada program
berikutnya.

5
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Mutu Pelayanan Kebidanan
Mutu pelayanan kebidanan adalah yang menunjuk pada tingkat
kesempurnaan pelayanan kebidanan, yang disatu pihak dapat menimbulkan
kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata
penduduk, serta di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan
kode etik dan standar pelayanan profesi kebidanan yang telah ditetapkan.
Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga dalam
rangka tercapainya keluarga yang berkualitas. Layanan kebidanan ini
diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangan yang diberikannya dengan
maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya
keluarga berkualitas, bahagia dan sejahtera.
Menurut Wijono (1999), faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
mutu pelayanan kesehatan adalah kompetensi teknik yang terkait dengan
kemampuan ketrampilan dan penampilan pemberi pelayanan, akses atau
keterjangkauan pelayanan, efektifitas, hubungan antar manusia yang
merupakan interaksi antara pemberi pelayanan dengan pasien, sesama tim
kesehatan, maupun hubungan antara atasan dan bawahan. Hubungan antar
manusia yang baik akan menimbulkan kepercayaan, kredibilitas dengan
rasa saling menghargai, menjaga rahasia, menghormati, responsive dan
memberikan perhatian. Faktor yang lain yang juga dapat mempengaruhi
mutu pelayanan kesehatan adalah efisiensi sumber daya dan kesinambungan
pelayanan di mana pasien akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang
lengkap, dan mempunyai akses kepada pelayanan yang dibutuhkan karena
riwayat kesehatannya diketahui. Tidak adanya kesinambungan pelayanan
akan mengurangi efisiensi dan mutu hubungan antar manusia.
Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari pelayanan kesehatan
di Rumah Sakit dimana mutu pelayanan kebidanan harus dikelola dengan

6
sebaik-baiknya karena pelayanan kebidanan utamanya di Instalasi Rawat
Inap dapat menjadi indikator mutu pelayanan Rumah Sakit.
Sistem pemberian asuhan Kebidanan yang mandiri adalah pelayanan
yang di lakukan oleh seorang bidan tanpa intervensi dari pihak lain dalam
menjalankan asuhan kebidanan. Kewenangan Bidan Sesuai Permenkes
Nomor 1464 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik
Bidan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan
Masalah yang dihadapi saat ini adalah belum terbentuknya layanan
kebidanan professional sehingga layanan yang diberikan belum sesuai
dengan tuntutan standar profesi.
Mutu pelayanan adalah tanggung jawab bersama, setiap individu yang
berkaitan langsung dengan pelayanan, mutu tidak saja menjadi tanggung
jawab bidan pelaksana yang langsung berhadapan dengan pasien, tetapi juga
menjadi tanggung jawab manajer. Kepala Ruang adalah manajer operasional
yang merupakan pimpinan yang secara langsung mengelola seluruh sumber
daya di unit bidanan dan ikut bertanggung-jawab dalam menghasilkan
pelayanan yang bermutu.
Untuk mewujudkan pelayanan kebidanan yang bermutu memerlukan
sumber daya bidan yang didukung oleh komitmen, motivasi dan faktor
eksternal lain seperti kebijakan organisasi, kepemimpinan, struktur
organisasi, sistem penugasan dan pembinaan (Departemen Kesehatan RI,
2004).
2.2. Standar Manajemen Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga dalam
rangka tercapainya keluarga yang berkualitas. Layanan kebidanan ini
diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangan yang diberikannya dengan
maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya
keluarga berkualitas, bahagia dan sejahtera.

7
Pelayanan kebidanan di Rumah Sakit adalah pelayanan professional
yang diselenggarakan untuk melayani kebutuhan masyarakat, khususnya
dalam bidang kebidanan yang dikelola melalui pelayanan rawat inap. Untuk
dapat menjamin mutu pelayanan, kebidanan perlu dikelola secara
professional berdasarkan pada standar yang telah ditetapkan. Departemen
Kesehatan telah menyusun Standar Manajemen Pelayanan kebidanan untuk
Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan lainnya yang menjadi acuan bagi para
manager kebidanan dalam melakukan pengelolaan pelayanan kebidanan di
Rumah Sakit.
Manajemen pelayanan kebidanan merupakan pendekatan yang
digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara
sistematis mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosis kebidanan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2001). Perencanaan pelayanan merupakan fungsi utama
pengelolaan dan landasan kegiatan dalam upaya mencapai tujuan pelayanan,
perencanaan disusun berdasarkan hasil pengumpulan dan analisis data dari
seluruh sumber daya (manusia, fasilitas, peralatan dan dana) dan kegiatan
pelayanan yang ada. Pengorganisasian adalah pengaturan sumber daya
melalui integrasi dan koordinasi untuk menjamin kesinambungan pelayanan
secara efektif dan efisien. Pengaturan ketenagaan adalah pendayagunaan
tenaga kebidanan sesuai kompetensi dan potensi pengembangan untuk
terlaksananya pelayanan yang bermutu.
Pengarahan dalam pelayanan kebidanan merupakan kegiatan yang
terstruktur untuk menciptakan iklim kerja yang kondusif melalui
kemampuan interpersonal manajer dalam memotivasi dan membimbing staf
sehingga dapat meningkatkan kinerja. Evaluasi pelayanan adalah kegiatan
yang dilakukan secara obyektif sebagai upaya yang dapat mendorong
terjadinya perubahan perkembangan sistem dalam peningkatan mutu
pelayanan. Pengendalian mutu pelayanan kebidanan adalah upaya
pemantauan yang berkesinambungan yang diperlukan untuk menilai mutu
pelayanan kebidanan.

8
Prinsip dasar mutu pelayanan, ada empat prinsip utama dalam
manajemen mutu (Djuhaeni, 2000).
a. Kepuasan pelanggan
Konsep mengenai kualitas dan pelanggan mengalami perluasan.
Kualitas tidak lagi hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi
tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Pelanggan itu
sendiri meliputi pelanggan internal, pelanggan eksternal dan
intermediate. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam
segala aspek termasuk didalamnya harga, kenyamanan, keamanan, dan
ketepatan waktu.
b. Penghargaan terhadap setiap orang
Dalam organisasi kelas dunia, setiap karyawan dipandang sebagai
individu yang memiliki bakat dan kreativitas tersendiri yang unik.
Dengan demikian karyawan merupakan sumber daya organisasi yang
paling bernilai. Oleh karena itu, setiap orang dalam organisasi
diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat dan
berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.
c. Manajemen berdasarkan fakta
Organisasi kelas dunia berorientasi fakta. Maksudnya bahwa setiap
keputusan selalu didasarkan pada data dan informasi, bukan sekedar
perasaan (Feeling). Ada dua konsep pokok berkaitan dengan hal ini.
Pertama, penjenjangan prioritas (prioritization) yakni suatu konsep
bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada saat
yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh
karena itu, dengan menggunakan data dan informasi maka manajemen
dan tim dalam organisasi dapat memfokuskan usahanya pada situasi
tertentu yang vital. Konsep kedua, variasi (variation) atau variabilitas
kinerja manusia. Data statistki dapat memberikan gambaran mengenai
sistem organisasi, dengan demikian manajemen dapat memprediksi hasil
dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.

9
d. Perbaikan berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap organisasi perlu melakukan proses secara
sistematis dalam melaksanakan perbaikan berkesinambungan. Konsep
yang berlaku disini adalah siklus PDCA (plan-do-check-action), yang
terdiri dari langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan rencana,
pemeriksaan hasil pelaksanaan rencana, dan tindakan korektif terhadap
hasil yang diperoleh.
2.3. Metode Praktek Asuhan Kebidanan
Asuhan Kebidanan yang mandiri adalah pelayanan yang di lakukan oleh
seorang bidan tanpa intervensi dari pihak lain dalam menjalankan asuhan
kebidanan. Pelayanan yang profesional identik dengan pelayanan yang
bermutu, untuk meningkatkan mutu asuhan kebidanan dalam melakukan
kegiatan penerapan standart asuhan kebidanan dan pendidikan
berkelanjutan.
Dalam kelompok kebidanan yang tidak kalah pentingnya yaitu
bagaimana caranya metode penugasan tenaga kebidanan agar dapat
dilaksanakan secara teratur, efesien tenaga, waktu dan ruang, serta
meningkatkan keterampilan dan motivasi kerja. Menurut Tappen (1995),
model pemberian asuhan kebidanan ada enam macam, yaitu: model kasus,
model fungsional, model tim, model primer, model manajemen bidanan,
dan model bidanan berfokus pada pasien.
1. Metode Fungsional
Model pemberian asuhan Kebidanan ini berorientasi pada
penyelesaian tugas dan prosedur Kebidanan. Bidan ditugaskan untuk
melakukan tugas tertentu untuk dilaksanakan kepada semua pasien yang
dirawat di suatu ruangan. Model ini digambarkan sebagai Kebidanan
yang berorientasi pada tugas dimana fungsi Kebidanan tertentu
ditugaskan pada setiap anggota staf. Setiap staf bidan hanya melakukan
1-2 jenis intervensi Kebidanan pada semua pasien dibangsal. Seorang
bidan bertanggung jawab kepada manajer bidan. Bidan senior
menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan bidan pelaksana

10
pada tindakan Kebidanan. Penugasan yang dilakukan pada model ini
berdasarkan kriteria efisiensi, tugas didistribusikan berdasarkan tingkat
kemampuan masing-masing bidan dan dipilih bidan yang paling murah.
Kepala ruangan terlebih dahulu mengidentifikasm tingkat kesulitan
tindakan, selanjutnya ditetapkan bidan yang akan bertanggung jawab
mengerjakan tindakan yang dimaksud. Model fungsional ini merupakan
metode praktek Kebidanan yang paling tua yang dilaksanakan oleh bidan
dan berkembang pada saat perang dunia kedua.
Kelebihan :
a. Efisien karena dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dalam
waktu singkat dengan pembagian tugas yang jelas dan pengawasan
yang baik.
b. Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga
c. Bidan akan trampil untuk tugas pekerjaan tertentu saja
d. Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi bidan setelah selesai
kerja.
e. Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang
berpengalaman untuk tugas sederhana.
f. Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta
didik yang melakukan praktek untuk ketrampilan tertentu.
Kelemahan :
a. Pelayanan Kebidanan terpisah-pisah atau tidak total sehingga
kesulitan dalam penerapan proses Kebidanan.
b. Bidan cenderung meninggalkan klien setelah melakukan tugas
pekerjaan.
c. Persepsi bidan cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan
keterampilan saja.
d. Tidak memberikan kepuasan pada pasien ataupun bidan lainnya.
e. Menurunkan tanggung jawab dan tanggung gugat bidan.
f. Hubungan bidan dan klien sulit terbentuk .

11
2. Metode Tim
Metode tim adalah pengorganisasian pelayanan Kebidanan dengan
menggunakan tim yang terdiri atas kelompok klien dan bidan. Kelompok
ini dipimpin oleh bidan yang berijazah dan berpengalaman kerja serta
memiliki pengetahuan dibidangnya (Regestered Nurse). Pembagian tugas
dalam kelompok dilakukan oleh pimpinan kelompok/ ketua group dan
ketua group bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota group/ tim.
Selain itu, ketua group bertugas memberi pengarahan dan menerima
laporan kemajuan pelayanan Kebidanan klien serta membantu anggota
tim dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani kesulitan dan
selanjutnya ketua tim melaporkan pada kepala ruang tentang kemajuan
pelayanan/ Asuhan Kebidanan terhadap klien.
Dibawah pimpinan bidan professional, kelompok bidan akan dapat
bekerja bersama untuk memenuhi sebagai bidan fungsional. Penugasan
terhadap pasien dibuat untuk tim yang terdiri dari ketua tim dan anggota
tim.
Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota
kelompok mempunyai kontriibusi dalam merencanakan dan memberikan
asuhan Kebidanan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab
bidan yang tinggi. Setiap anggota tim akan merasakan kepuasan karena
diakui kontribusinya di dalam mencapai tujuan bersama yaitu mencapai
kualitas Asuhan Kebidanan yang bermutu. Potensi setiap anggota tim
saling melengkapi menjadi suatu kekuatan yang dapat meningkatkan
kemampuan kepemimpinan serta menimbulkan rasa kebersamaan dalam
setiap upaya dalam pemberian asuhan Kebidanan.
Pelaksanaan konsep tim sangat tergantung pada filosofi ketua tim
apakah berorientasi pada tugas atau pada klien. Bidan yang berperan
sebagai ketua tim bertanggung jawab untuk mengetahui kondisi dan
kebutuhan semua pasien yang ada di dalam timnya dan merencanakan
bidanan klien. Tugas ketua tim meliputi: mengkaji anggota tim, memberi
arahan bidanan untuk klien, melakukan pendidikan kesehatan,

12
mengkoordinasikan aktivitas klien. Menurut Tappen (1995), ada
beberapa elemen penting yang harus diperhatikan:
a. Pemimpin tim didelegasikan/ diberi otoritas untuk membuat
penugasan bagi anggota tim dan mengarahkan pekerjaan timnya.
b. Pemimpin diharapkan menggunakan gaya kepemimpinan demokratik
atau partisipatif dalam berinteraksi dengan anggota tim.
c. Tim bertanggung jawab terhadap bidanan total yang diberikan
kepada kelompok pasien.
d. Komunikasi di antara anggota tim adalah penting agar dapat sukses.
Komunikasi meliputi: penu!isan bidanan klien, rencana bidanan klien,
laporan untuk dan dari pemimpin tim, pentemuan tim untuk
mendiskusikan kasus pasien dan umpan balik informal di antara
anggota tim.
Kelebihan :
a. Dapat memfasilitasi pelayanan Kebidanan secara komprehensif.
b. Memungkinkan pelaksanaan proses Kebidanan.
c. Konflik antar staf dapat dikendalikan melalui rapat dan efektif
untuk belajar.
d. Memberi kepuasan anggota tim dalam berhubungan interpersonal.
e. Memungkinkan meningkatkan kemampuan anggota tim yang
berbeda-beda secara efektif.
f. Peningkatan kerja sama dan komunikasi di antara anggota tim
dapat menghasilkan sikap moral yang tinggi, memperbaiki fungsi
staf secara keseluruhan, memberikan anggota tim perasaan bahwa
ia mempunyai kontribusi terhadap hasil asuhan Kebidanan yang
diberikan akan menghasilkan kualitas asuhan Kebidanan yang
dapat dipertanggung-jawabkan
g. Metode ini memotivasi bidan untuk selalu bersama klien
selama bertugas.

13
Kelemahan :
a. Ketua tim menghabiskan banyak waktu untuk koordinasi dan
supervisi anggota tim dan harus mempunyai keterampilan yang
tinggi baik sebagai bidan pemimpin maupun bidan klinik .
b. Kebidanan tim menimbulkan fragmentasi Kebidanan bila
konsepnya tidak diimplementasikan dengan total
c. Rapat tim membutuhkan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat
tim ditiadakan, sehingga komunikasi antar angota tim terganggu.
d. Bidan yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu
tergantung staf, berlindung kepada anggota tim yang mampu.
e. Akuntabilitas dari tim menjadi kabur.
f. Tidak efisien bila dibandingkan dengan model fungsional
karena membutuhkan tenaga yang mempunyai keterampilan tinggi.
Tanggung Jawab Kepala Ruang :
a. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan sesuai dengan standar
Asuhan Kebidanan.
b. Mengorganisir pembagian tim dan pasien
c. Memberi kesempatan pada ketua tim untuk mengembangkan
kepemimpinan.
d. Menjadi narasumber bagi ketua tim.
e. Mengorientasikan tenaga Kebidanan yang baru tentang metode/
model tim dalam pemberian asuhan Kebidanan.
f. Memberi pengarahan kepada seluruh kegiatan yang ada di
ruangannya.
g. Melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan yang ada di
ruangannya.
h. Memfasilitasi kolaborasi tim dengan anggota tim kesehatan yang
lainnya.
i. Melakukan audit asuhan dan pelayanan Kebidanan di ruangannya,
kemudian menindak lanjutinya.

14
j. Memotivasi staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset
Kebidanan.
k. Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka dengan semua staf.
Tanggung Jawab Ketua Tim:
a. Mengatur jadwal dinas timnya yang dikoordinasikan dengan
kepala ruangan.
b. Membuat perencanaan berdasarkan tugas dan kewenangannya
yang didelegasikan oleh kepala ruangan.
c. Melakukan pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi asuhan
Kebidanan bersama-sama anggota timnya.
d. Mengkoordinasikan rencana Kebidanan dengan tindakan medik.
e. Membuat penugasan kepada setiap anggota tim dan memberikan
bimbingan melalui konferens.
f. Mengevaluasi Asuhan Kebidanan baik proses ataupun hasil yang
diharapkan serta mendokumentasikannya.
g. Memberi pengarahan pada bidan pelaksana tentang pelaksanaan
Asuhan Kebidanan.
h. Menyelenggarakan konferensi
i. Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya dalam
pelaksanaan Asuhan Kebidanan.
j. Melakukan audit Asuhan Kebidanan yang menjadi tanggung-jawab
timnya.
k. Melakukan perbaikan pemberian Asuhan Kebidanan,
Tanggung Jawab Anggota Tim
a. Melaksanakan tugas berdasarkan rencana Asuhan Kebidanan.
b. Mencatat dengan jelas dan tepat Asuhan Kebidanan yang telah
diberikan berdasarkan respon klien.
c. Berpartisipasi dalam setiap memberiikan masukan untuk
meningkatkan Asuhan Kebidanan.
d. Menghargai bantuan dan bimbingan dan ketua tim.
e. Melaporkan perkembangan kondisi pasien kepada ketua tim.

15
f. Memberikan laporan
3. Metode Primer
Model primer dikembangkan pada awal tahun 1970-an,
menggunakan beberapa konsep dan bidanan total pasien. Kebidanan
primer merupakan suatu metode pemberian Asuhan Kebidanan di mana
bidan primer bertanggung jawab selama 24 jam terhadap perencanaan
pelaksanaan pengevaluasi satu atau beberapa klien dan sejak klien
masuk rumah sakit sampai pasien dinyatakan pulang. Selama jam kerja,
bidan primer memberikan bidanan langsung secara total untuk klien.
Ketika bidan primer tidak sedang bertugas, bidanan diberikan/
didelegasikan kepada bidan asosiet yang mengikuti rencana Kebidanan
yang telah disusuni oleh bidan primer.
Pada model ini, klien, keluarga, staf medik dan staf Kebidanan
akan mengetahui bahwa pasien tertentu akan merupakan tanggung jawab
bidan primer tertentu. Setiap bidan primer mempunyai 4-6 pasien.
Seorang bidan primer mempunyai kewenangan untuk melakukan rujukan
kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial masyarakat
membuat jadual perjanjian klinik, mengadakan kunjungan rumah, dan
lain sebagainya. Dengan diberikannya kewenangan tersebut, maka
dituntut akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang
diberikan. Tanggung jawab mencakup periode 24 jam, dengan bidan
kolega yang memberikan bidanan bila bidan primer tidak ada. Bidanan
yang yang diberikan direncanakan dan ditentukan secara total oleh
bidan primer.
Metode Kebidanan primer mendorong praktek kemandirian bidan,
yang ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara
pasien dan bidan yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan
koordinasi Asuhan Kebidanan selama pasien dirawat. Bidan primer
bertanggung jawab untuk membangun komunikasi yang jelas di antara
pasien, dokter, bidan asosiet, dan anggota tim kesehatan lain. Walaupun
bidan primer membuat rencana Kebidanan, umpan balik dari orang lain

16
diperlukan untuk pengkoordinasian Asuhan Kebidanan klien. Dalam
menetapkan seseorang menjadi bidan primer perlu berhati-hati karena
memerlukan beberapa kriteria, di antaranya dalam menetapkan
kemampuan asertif, self direction kemampuan mengambil keputusan
yang tepat, menguasai kebidanan klinik, akuntabel serta mampu
berkolaborasi dengan baik antar berbagai disiplin ilmu.
Di Negara maju pada umumnya bidan yang ditunjuk sebagai bidan
primer adalah seorang bidan spesialis klinik yang mempunyai
kualifikasi master dalam bidang kebidanan. Karakteristik modalitas
kebidanan primer adalah:
1) Bidan primer mempunyai tanggung jawab untuk asuhan kebidanan
pasien selama 24 jam sehari, dari penerimaan sampai pemulangan.
2) Bidan primer melakukan pengkajian kebutuhan asuhan kebidanan,
kolaborasi dengan pasien dan professional kesehatan lain, dan
menyusun rencana kebidanan.
3) Pelaksanaan rencana asuhan kebidanan didelegasikan oleh bidan
primer kepada bidan sekunder selama shift lain.
4) Bidan primer berkonsultasi dengan bidan kepala dan penyedia.
5) Autoritas, tanggung gugat dan autonomi ada pada bidan primer
Kelebihan :
a. Bidan primer mendapat akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan
memungkinkan untuk pengembangan diri.
b. Memberikan peningkatan autonomi pada pihak bidan, jadi
meningkatkan motivasi, tanggung jawab dan tanggung gugat.
c. Bersifat kontinuitas dan komprehensif sesuai dengan arahan bidan
primer dalam memberikan atau mengarahkan bidanan sepanjang
hospitalisasi.
d. Membebaskan manajer bidan klinis untuk melakukan peran
manajer operasional dan administrasi.
e. Kepuasan kerja bidan tinggi karena dapat memberiikan asuhan
kebidanan secara holistik. Kepuasan yang dirasakan oleh bidan

17
primer adalah memungkinkan pengembangan diri melalui
penerapan ilmu pengetahuan.
f. Staf medis juga merasakan kepuasan karena senantiasa informasi
tentang kondisi klien selalu mutakhir dan komprehensif serta
informasi dapat diperoleh dari satu bidan yang benar-benar
mengetahui keadaan kliennya.
g. Bidan ditantang untuk bekerja total sesuai dengan kapasitas
mereka.
h. Waktu yang digunakan lebih sedikit dalam aktivitas koordinasi
dan supervisi dan lebih banyak waktu untuk aktivitas langsung
kepada klien.
i. Pasien terlihat lebih menghargai. Pasien merasa dimanusiakan
karena terpenuhi kebutuhannya secara individu.
j. Asuhan kebidanan berfokus pada kebutuhan klien.
k. Profesi lain lebih menghargai karena dapat berkonsultasi dengan
bidan yang mengetahui semua tentang kliennya.
l. Menjamin kontinuitas asuhan kebidanan.
m. Meningkatnya hubungan antara bidan dan klien.
n. Metode ini mendukung pelayanan profesional.
o. Rumah sakit tidak harus mempekerjakan terlalu banyak tenaga
kebidanan tetapi harus berkualitas tinggi.
Kelemahan :
a. Hanya dapat dilakukan oleh bidan profesional
b. Tidak semua bidan merasa siap untuk bertindak mandiri,
memiliki akuntabilitas dan kemampuan untuk mengkaji serta
merencanakan asuhan kebidanan untuk klien.
c. Akuntabilitas yang total dapat membuat jenuh.
d. Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan
dasar yang sama.
e. Biaya relatif tinggi dibanding metode penugasan yang lain.

18
Ketenagaan Metode Primer :
a. Setiap bidan primer adalah bidan “bedside”
b. Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu bidan primer
c. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
d. Bidan primer dibantu oleh bidan professional lain maupun non
professional sebagai bidan asisten.
Tanggung Jawab Kepala Ruang dalam Metode Primer
a. Sebagai konsultan dan pengendalian mutu bidan primer
b. Mengorganisir pembagian pasien kepada bidan primer
c. Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada bidan asisten
d. Orientasi dan merencanakan karyawan baru
e. Merencanakan dan menyelenggarakan pengembangan staff
Tanggung Jawab Bidan Primer :
a. Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara
komprehensif.
b. Membuat tujuan dan rencana kebidanan
c. Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama ia dinas
d. Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang
diberikan oleh disiplin lain maupun bidan lain
e. Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
f. Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
g. Melakukan rujukan kepada pekarya sosial, kontak dengan
lembaga sosial di masyarakat
h. Membuat jadwal perjanjian klinis
i. Mengadakan kunjungan rumah
4. Metode Kasus
Metode kasus adalah metode dimana bidan bertanggung jawab
terhadap pasien tertentu yang didasarkan pada rasio satu bidan untuk satu
pasien dengan pemberian bidanan konstan untuk periode tertentu.
Metode penugasan kasus biasa diterapkan untuk bidanan khusus seperti
isolasi, intensive care, bidan kesehatan komunitas.

19
Kelebihan :
a. Bidan lebih memahami kasus per kasus
Kekurangan :
a. Belum dapatnya diidentifikasi bidan penanggung jawab
5. Metode Modifikasi Tim Primer
Metode modifikasi adalah penggunaan metode asuhan kebidanan
dengan modifikasi antara tim dan primer. Menurut Sudarsono (2000),
MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai dengan kondisi sumber daya
manusia yang ada, antara lain adalah:
a. Model Praktek Kebidanan Profesional III
Melalui pengembangan model PKP III dapat berikan asuhan
kebidanan profesional tingkat III. Pada ketenagaan terdapat tenaga
bidan dengan kemampuan doktor dalam kebidanan klinik yang
berfungsi untuk melakukan riset dan membimbing para bidan
melakukan riset serta memanfaatkan hasil-hasil riset dalam
memberikan asuhan kebidanan
b. Model Praktek Kebidanan Profesional II
Pada model ini akan mampu memberikan asuhan kebidanan
professional tingkat II. Pada ketenagaan terdapat tenaga bidan dengan
kemampuan spesialis kebidanan yang spesifik untuk cabang ilmu
tertentu. Bidan spesialis berfungsi untuk memberikan konsultasi
tentang asuhan kebidanan kepada bidan primer pada area
spesialisnya.
Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil
riset dalam memberikan asuhan kebidanan. Jumlah bidan spesialis
direncanakan satu orang untuk 10 bidan primer pada area spesialisnya.
Disamping itu, melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset
dalam memberikan asuhan kebidanan. Jumlah bidan spesialis
direncanakan satu orang untuk bidan primer (1:10)

20
c. Model Praktek Kebidanan Profesional I.
Pada model ini bidan mampu memberikan asuhan kebidanan
profesional tingkat I dan untuk itu diperlukan penataan 3 komponen
utama yaitu: ketenagaan kebidanan, metode pemberian asuhan
kebidanan yang digunakan. Pada model ini adalah kombinasi
metode kebidanan primer dan metode tim disebut tim primer.
d. Model Praktek Kebidanan Profesional Pemula
Model Praktek Kebidanan Profesional Pemula (MPKP)
merupakan tahap awal untuk menuju model PKP. Model ini mampu
memberikan asuhan kebidanan profesional tingkat pemula. Pada
model ini terdapat 3 komponen utama yaitu: ketenagaan kebidanan,
metode pemberian asuhan kebidanan dan dokumentasi asuhan
kebidanan.

2.4. Pembagian Tugas dalam Tahapan Proses Kebidanan


Table 2.1 Pembagian Tugas dalam Tahapan Proses Kebidanan
No. Tahapan proses Peran kepala Peran ketua tim / Peran bidan
Kebidanan ruangan / Karu PP pelaksana
1. Pengkajian Mengidentifikasi Mengidentifikasi -
masalah terkait masalah terkait
fungsi-fungsi fungsi-fungsi
manajemen manajemen

2. Perencanaan 1. Menunjuk 1. Bersama Karu 1. Bersama Katim


Katim mengadakan mengikuti
2. Mengikuti serah serah terima operan dinas
terima klien tugas 2. Melaksanakan
3. Mengidentifikasi 2. Bersama Karu pembagian tugas
tingkat melakukan yang diberikan
ketergantungan pembagian tugas katim

21
4. Mengidentifikasi 3. Menyusun 3. Melaksanakan
jumlah bidan asuhan rencana asuhan
yang dibutuhkan Kebidanan Kebidanan.
berdasarkan 4. Mengidentifikasi 4. Menyiapkan
aktivitas dan kesiapan keperluan untuk
kebutuhan klien. keperluan untuk melaksanakan
5. Merencanakan melaksanakan asuhan
strategi asuhan Kebidanan.
pelaksanaan Kebidanan 5. Mengikuti ronde
Kebidanan. 5. Melakukan ronde Kebidanan
6. Merencanakan Kebidanan bersama Katim
logistic ruang/ bersama Karu dan Karu
fasilitas ruangan 6. Mengorientasikan
7. Melakukan klien baru pada
pendokumentasi lingkungan
an 7. Melakukan
pelaporan dan
pendokumentasia
n rencana
Kebidanan dan
lembar kerja.
3. Implementasi
Fungsi 1. Merumuskan 1. Menjelaskan 1. Melaksanakan
pengorganisasian system tujuan tugas sesuai
penugasan pengorganisasian system
2. Menjelaskan tim Kebidanan penugasan yang
rincian tugas 2. Membagi diberikan Katim
Katim pekerjaan sesuai 2. Melaksanakan
3. Menjelaskan tingkat asuhan
tentang kendali ketergantungan Kebidanan

22
di ruang rawat pasien sesuai rencana
4. Mengatur dan 3. Membuat rincian Kebidanan
mengendalikan tugas anggota tim 3. Melaksanakan
tenaga dalam pemberian tugas yang
Kebidanan di ASKEB didelegasikan
ruang rawat 4. Mampu oleh Katim dan
5. Mengatur dan mengkoordinasi mempertanggun
mengendalikan pekerjaan yang g jawabkannya
logistic ruangan/ baru dilakukan 4. Melakukan
fasilitas bersama tim pelaporan dan
6. Mengatur dan kesehatan lain pendokumentasi
mengendalikan 5. Mengatur waktu an tindakan
situasi lahan istirahat untuk Kebidanan
praktek anggota tim
7. Mendelegasikan 6. Mendelegasikan
tugas kepada pelaksanaan
Katim proses asuhan
8. Melakukan Kebidanan pada
pelaporan dan anggota tim
pendokumentasi 7. Melakukan
an. pelaporan dan
pendokumentasia
n
Fungsi 1. Memberikan 1. Melakukan 1. Menerima
pengarahan pengarahan pengarahan bimbingan
kepada Katim kepada anggota pengarahan &
2. Memberikan tim memberikan
motivasi dalam 2. Memberikan umpan balik
meningkatkan bimbingan pada kepada Katim
pengetahuan, anggota tim
keterampilan, 3. Memberikan

23
dan sikap informasi yang
anggota tim berhubungan
3. Memberikan dengan askep
pujian pada 4. Mengawasi
anggota tim proses pemberian
yang askep
melaksanakan 5. Melibatkan
tugas dengan anggota tim dari
baik awal s/d akhir
4. Membimbing kegiatan
bawahan 6. Memberikan
5. Meningkatkan pujian, motivasi
kolaborasi pada anggota tim
dengan anggota 7. Melakukan
tim pelaporan dan
6. Melakukan pendokumentasia
supervise n
Kebidanan
7. Memberikan
informasi
tentang hal-hal
yang
berhubungan
dengan
pelayanan
Kebidanan di
ruang rawat
8. Melakukan
pelaporan dan
pendokumentasi
an.

24
4. Evaluasi 1. Mengevaluasi 1. Mengevaluasi 1. Mengevaluasi
kinerja katim ASKEB ASKEB
2. Memberikan 2. Memberikan 2. Memberikan
umpan balik umpan balik pada umpan balik
pada kinerja pelaksana pada pelaksana
Katim 3. Memperhatikan ASKEB
3. Mengatasi aspek legal dan 3. Memperhatikan
masalah di etik aspek legal dan
ruang rawat dan 4. Melakukan etik
menetapkan pelaporan dan 4. Melakukan
tindak lanjut pendokumetasian pelaporan dan
4. Memperhatikan pendokumentasi
aspek legal dan an.
etik Kebidanan
5. Melakukan
pelaporan dan
pendokumentasi
an

JOB Description
1. Kepala Ruangan
a. Perencanaan
1) Menunjukkan ketua TIM akan bertugas di ruangan masing-masing.
2) Mengikuti serah terima pasien pada shift sebelumnya.
3) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat, transisi dan
persiapan pulang, bersama ketua TIM.
4) Mengidentifikasi jumlah bidan yang dibutuhkan berdasarkan
aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua TIM, mengatur
penugasan atau penjadwalan.
5) Merencanakan strategi pelaksanaan bidanan.

25
6) Mengikuti Visite dokter untuk mnegetahui kondisi,patofisiologi,
tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan dan
mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan
dilakukan terhadap pasien.
7) Mengatur dan mengendalikan asuhan Kebidanan
a. Membimbing pelaksanaan asuhan Kebidanan
b. Membimbing penerapan proses Kebidanan dan menilai Asuhan
Kebidanan
c. Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.
d. Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru
masuk.
8) Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri.
9) Membantu membimbing peserta didik Kebidanan.
10) Menjaga terwujudnya visi dan misi Kebidanan Rumah Sakit.
b. Pengorganisasian.
1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan .
2) Merumuskan tujuan metode penugasan.
3) Membuat rincian tugas ketua TIM dan anggota TIM secara jelas.
4) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 3 ketua
TIM, dan ketua TIM membawahi 2-3 bidan.
5) Mengatur dan mengendalikan tenaga Kebidanan, membuat proses
dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari,dll.
6) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
7) Mengatur dan mengendalikan dituasi tempat praktek.
8) Mendelegasikan tugas, saat kepala ruangan tidak ada di tempat
kepada ketua TIM.
9) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus
administrasi pasien.
10) Mengatur penugasan jadwal post dan pakarnya.
11) Identifikasi masalah dan penanganannya.

26
c. Pengarahan.
1) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua TIM.
2) Memberi pujian kepada anggota TIM yang melakukan tugas
dengan baik.
3) Memberi motifasi dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan
dan sikap.
4) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan
dengan ASKEB pasien.
5) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.
6) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya.
7) Meninggkatkan kolaborasi dengan anggota TIM lain.
d. Pengawasan.
1) Melalui komunikasi.
Mengawasi dan berkomunikasi lansung dengan ketua TIM maupun
pelaksanaan mengenai asuhan Kebidanan yang diberikan kepada
pasien.
2) Melalui Supervisi.
a. Pengawasan langsung dilakukan dengan cara inspeksi,
mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan
dan memperbaiki atau mengawasi kelemahan-kelemahan yang
ada saat itu juga.
b. Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua
TIM, membacadan memeriksa rencana kebidanan serta catatan
yang dibuat selama dan sesudah proses Kebidanan dilaksanakan
(didokumentasikan), mendengar laoran ketua TIM tentang
pelaksanaan tugas.
c. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan
rencana Kebidanan yang telah disusun bersama ketua TIM.
d. Audit Kebidanan.

27
2. Ketua Tim
a. Membuat perencanaan.
b. Membuat penugasan, supervise, dan evaluasi.
c. Mengenal atau mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat
kebutuhan pasien.
d. Mengembangkan kemampuan anggota.
e. Menyelenggarakan konfrensi.
3. Anggota Tim/ Bidan Pelaksana
a. Memberikan asuhan Kebidanan pada pasien dibawah tanggung
jawabnya.
b. Kerjasama dengan ketua TIM dan antar TIM.
c. Memberikan laporan.
2.5. Indikator Pelayanan Manajerial
Indikator pelayanan manajerial berdasarkan Kepmenkes Nomor 836
tahun 2005 dan Modul pelatihan SP2KP) :
1. Pre and Post Conference
a. Definisi Pre dan Post Conference
Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap
hari. Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan
dinas, sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas bidanan
pelaksanaan. konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri
sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar.
b. Jenis Conference
Conferensi terdiri dari pre conference dan post conference yaitu:
1) Pre Conference
Pre conference adalah komunikasi katim dan bidan pelaksana
setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut
yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim. Jika
yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang, maka pre
conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap bidan

28
(rencana harian), dan tambahan rencana dari katim dan PJ tim
(Modul MPKP, 2006)
Waktu : Setelah operan
Tempat : Meja masing – masing tim
Penanggung jawab : Ketua tim atau Pj tim
Kegiatan :
1) Ketua tim atau Pj tim membuka acara
2) Ketua tim atau pj tim menanyakan rencana harian masing –
masing bidan pelaksana
3) Ketua tim atau Pj tim memberikan masukan dan tindakan lanjut
terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu.
4) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement.
5) Ketua tim atau Pj tim menutup acara
2) Post Conference
Post conference adalah komunikasi katim dan bidan
pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum
operan kepada shift berikut. Isi post conference adalah hasil askeb
tiap bidanan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post
conference dipimpin oleh katim atau Pj tim.
Kegiatan :
1) Ketua tim atau Pj tim membuka acara.
2) Ketua tim atau Pj tim menanyakan kendala dalam asuhan yang
telah diberikan.
3) Ketua tim atau Pj tim yang menanyakan tindakan lanjut asuhan
klien yang harus dioperkan kepada bidan shift berikutnya.
4) Ketua tim atau Pj menutup acara.
c. Tujuan Pre dan Post Conference
Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa
masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian
masalah, mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat
menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat

29
meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan Kebidanan dan
merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non
kognitif (McKeachie, 1962). Juga membantu koordinasi dalam
rencana pemberian asuhan kebidanan sehingga tidak terjadi
pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan
(T.M.Marelli, et.al, 1997).
1) Tujuan pre conference adalah
a. Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien,
merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil
b. Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan
c. Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan
pasien
2) Tujuan post conference adalah
Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian
masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.
d. Syarat Pre dan Post Conference
1. Pre conference dilaksanakan sebelum pemberian asuhan Kebidanan
dan post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan
Kebidanan
2. Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit
3. Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan
pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu
ditambahkan
4. Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim
dan anggota tim
e. Pedoman Pelaksanaan Conference
1. Sebelum dimulai, tujuan conference harus dijelaskan
2. Diskusi harus mencerminkan proses dan dinamika kelompok
3. Pemimpin mempunyai peran untuk menjaga fokus diskusi tanpa
mendominasi dan memberi umpan balik
4. Pemimpin harus merencanakan topik yang penting secara periodic

30
5. Ciptakan suasana diskusi yang mendukung peran serta, keinginan
mengambil tanggung jawab dan menerima pendekatan serta
pendapat yang berbeda
6. Ruang diskusi diatur sehingga dapat tatap muka pada saat diskusi
7. Pada saat menyimpulkan conference, ringkasan diberikan oleh
pemimpin dan kesesuaiannya dengan situasi lapangan
f. Panduan Bidan Pelaksanaan dalam Melaksanakan Konferensi
Menurut Sitorus (2006), adapun panduan bagi PP dalam
melakukan konferensi adalah sebagai beriku :
a. Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan
pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal bidanan
pelaksana.
b. Konferensi dihadiri oleh bidan pelaksana dan PA dalam timnya
masing – masing.
c. Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil
evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas
malam.
Hal hal yang disampaikan oleh bidan pelaksana meliputi :
1) Keluhan utama klien
2) Keluhan klien
3) TTV dan kesadaran
4) Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru.
5) Masalah Kebidanan
6) Rencana Kebidanan hari ini.
7) Perubahan keadaan terapi medis.
8) Rencana medis.
d. Bidan pelaksana mendikusikan dan mengarahkan bidan asosiet
tentang masalah yang terkait dengan bidanan klien yang meliputi:
1) Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan,
kesalahan pemberian makan, kebisikan pengunjung lain,
kehadiran dokter yang dikonsulkan.

31
2) Ketepatan pemberian infuse.
3) Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan.
4) Ketepatan pemberian obat / injeksi.
5) Ketepatan pelaksanaan tindakan lain,
6) Ketepatan dokumentasi.
e. Mengingatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan.
f. Menginagatkan kembali tentang kedisiplinan, ketelitian, kejujuran
dan kemajuan masing-masing bidan asosiet.
g. Membantu bidan menyelesaikan masalaah yang tidak dapat
diselesaikan.
2. Operan
a. Definisi
Operan merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan
menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien.
Overan pasien harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan
secara singkat, jelas dan lengkap tentang tindakan mandiri bidan.
Tindakan kolaboratif yang sudah dan yang belum dilakukan serta
perkembangan pasien saat itu (Nursalam, 2013).
Operan dilakukan oleh bidan primer Kebidanan kepada bidan
primer (penanggung jawab) dinas sore atau dinas malam secara
tertulis dan lisan.
b. Tujuan Operan
Tujuan Umum : Mengkomunikasikan keadaan pasien dan
menyampaikan informasi yang penting.
Tujuan Khusus :
1. Menyampaikan kondisi dan keadaan pasien (data focus)
2. Menyampaikan hal yang sudah/belum dilakukan dalam asuhan
Kebidanan kepada pasien
3. Menyampaikan hal yang penting yang harus ditindak lanjuti oleh
bidan dinas berikutnya
4. Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya

32
c. Manfaat Operan
Bagi Bidan :
1. Meningkatkan kemampuan komunikasi antar bidan
2. Menjalin hubungan kerjasama dan bertanggung jawab antar bidan.
3. Pelaksanaan Asuhan Kebidanan terhadap pasien yang
berkesinambungan
4. Bidan dapat mengikuti perkembangan pasien secara paripurna
Bagi Pasien : Klien dapat menyampaikan masalah secara langsung
bila ada yang belum terungkap
d. Prosedur Operan
Tahap Persiapan : (Waktu : 5 menit, Tempat : Midwife Station,
Pelaksana yaitu Bidan Primer dan Bidan Assosiet).
a. Operan dilaksanakan setiap pergantian shift
b. Prinsip overan, terutama pada semua pasien baru masuk & pasien
yang memiliki permasalahan yang belum/dapat teratasi serta yg
mmbutuhkan observasi lebih lanjut.
c. Hal yg perlu disampaikan oleh Bidan dalam overan yaitu : jumlah
pasien, keluhan,identitas pasien & diagnosis medis, masalah
kebidanan yg masih muncul, intervensi kebidanan yang sudah dan
belum dilaksanakan (secara umum), intervensi kolaborasi, rencana
umum & persiapan operasi, pemeriksaan penunjang, dll.
Tahap Pelaksanaan : (Waktu : 20 menit, Tempat : Midwife Station,
Pelaksana : KARU, Bidan Pelaksana dan Bidan Assosiet)
a. Kedua kelompok dinas sudah siap (sif jaga)
b. Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan
c. Kepala ruangan membuka acara overan
d. Bidan yang melakukan overan dapat melakukan klarifikasi, tanya
jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang telah
dioverkan dan berhak menanyakan mengenai hal-hal yang kurang
jelas
e. Kepala ruangan menanyakan kebutuhan dasar pasien

33
f. Penyampaian yang jelas, singkat dan padat
g. Bidan yang melaksanakan overan mengkaji secara penuh terhadap
masalah kebidanan, kebutuhan dan tindakan yang telah/belum
dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya selama masa bidanan
h. Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang
matang sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian
diserahterimakan kepada petugas berikutnya
i. Lama overan untuk tiap pasien tidak lebih dari 5 menit kecuali
pada kondisi khusus dan memerlukan keterangan yang rumit
Post Operan : (Waktu : 5 menit, Tempat : Midwife Station, Pelaksana
: KARU, Bidan Pelaksana dan Bidan Assosiet)
a. Diskusi
b. Pelaporan untuk overan dituliskan secara langsung pada format
overan yang ditandatangani oleh Bidan Pelaksana yang jaga saat itu
dan Bidan Pelaksana yang jaga berikutnya diketahui oleh kepala
ruangan.
c. Ditutup oleh KARU
3. Ronde
a. Definisi
Ronde merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi
masalah kebidanan pasien yang dilaksanakan oleh bidan selain
melibatkan pasien untuk membahas dan melaksanakan asuhan
kebidanan (Nursalam, 2006).

b. Tujuan Ronde
Tujuan Umum : Menyelesaikan masalah pasien melalui pendekatan
berpikir kritis.

Tujuan Khusus :

1. Menumbuhkan cara berpikir kritis dan sistematis


2. Meningkatkan kemampuan validisi data pasien

34
3. Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis kebidanan.
4. Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan kebidanan yang
berorientasi pada masalah pasien.
5. Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
kebidanan.
6. Meningkatkan kemampuan justifikasi dan menilai hasil kerja
c. Manfaat Ronde Kebidanan
1. Masalah pasien dapat teratasi
2. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi
3. Terciptanya komunitas kebidanan yang professional
4. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan
5. Bidan dapat melaksanakan model asuhan kebidanan dengan tepat
dan benar
d. Kriteria Pasien
1. Mempunyai masalah kebidanan yang belum teratasi meskipun
sudah dilakukan tindakan kebidanan
2. Pasien dengan kasus baru dan langka
e. Peran Masing-masing Anggota Tim
Peran bidan primer dan bidan pelaksana :

a. Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien


b. Menjelaskan diagnosis kebidanan
c. Menjelaskan intervensi yang dilakukan
d. Menjelaskan hasil yang didapat
e. Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil
f. Menggali masalah-masalah pasien yang belum terkaji
Peran bidan konselor :

a. Memberikan justifikasi & reinforcement


b. Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi kebidanan
serta rasional tindakan
c. Mengarahkan dan koreksi

35
d. Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari
f. Tahapan Ronde
Pra Ronde :

1. Menentukan kasus dan topic (masalah yang tidak teratasi dan


masalah yang langka )
2. Menentukan Tim ronde
3. Mencari sumber atau literature
4. Membuat proposal
5. Mempersiapkan pasien : Informed Consent dan pengkajian
6. Diskusi tentang diagnosis kebidanan, data yang mendukung,
asuhan kebidanan yang dilakukan dan hambatan selama bidanan
Ronde :

1. Penjelasan tentang pasien oleh bidan primer yang difokuskan pada


masalah kebidanan dan rencana tindakan yang akan dilaksanakan
dan atau telah dilaksanakan serta memilih prioritas yang perlu
didiskusikan
2. Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut
3. Pemberian justifikasi oleh bidan primer atau konselor atau kepala
ruangan tentang masalah pasien serta rencana tindakan yang akan
dilakukan
Pasca Ronde :

1. Evaluasi, revisi dan perbaikan


2. Kesimpulan dan rekomendasi penegakkan diagnosis, intervensi
kebidanan selanjutnya

36
g. Langkah-langkah Kegiatan Ronde Kebidanan

BP
Tahap Pra

Penetapan
pasien

Persiapan pasien :

· Informed Consent
· Hasil pengkajian / validasi data

Tahap
pelaksanaan di Penyajian masalah
Midwife Sation

· Apa diagnosis Kebidanan ?


· Apa data yang mendukung?
· Bagaimana intervensi yg sudah
dilakukan?
· Apa hambatan yang ditemukan?

Validasi Data
Tahap pelaksanaan
di Kamar pasien

37
BP, Konselor,
KARU

Kesimpulan &
rekomendasi Lanjutan – Diskusi di
Solusi masalah Nurse Station

Pasca ronde

(Gambar 2.1 Langkah-langkah Kegiatan Ronde)

4. Perencanaan Pulang (Discharge Planning)


a. Definisi
Perencanaan pulang merupakan suatu proses yang dinamis dan
sistematis dari penilaian, persiapan serta koordinasi yang dilakukan
untuk memberikan kemudahan pengawasan pelayanan kesehatan dan
pelayanan sosial sebelum dan sesudah pulang (Carpenito, 1999).
Perencanaan pulang akan menghasilkan sebuah hubungan yang
terintegtasi yaitu antara bidanan yang diterima pada waktu di rumah
sakit dengan bidanan yang diberikan setelah pasien pulang. Bidanan
dirumah sakit akan bermakna jika dilanjutkan dengan bidanan
dirumah. Namun, sampai saat ini perencanaan pulang bagi pasien
yang dirawat belum optimal karena peran bidan masih terbatas pada
pelaksanaan kegiatan rutinitas saja, yaitu hanya berupa informasi
tentang jadwal kontrol ulang (Nursalam, 2007).

b. Tujuan perencanaan pulang


Rorden dan Traft (1993) dalam Kristina (2007),
mengungkapkan bahwa perencanaan pulang bertujuan membantu
pasien dan keluarga untuk dapat memahami permasalahan dan upaya
pencegahan yang harus ditempuh sehingga dapat mengurangi risiko

38
kambuh, serta menukar informasi antara pasien sebagai penerima
pelayanan dengan bidan dari pasien masuk sampai keluarrumah sakit.
Adapun prinsip-prinsip dalam perencanaan pulang antara lain :
a) Pasien merupakan fokus dalam perencanaan pulang sehingga nilai
keinginan dan kebutuhan dari pasien perlu dikaji dan dievaluasi
b) Kebutuhan dari pasien diidentifikasi lalu dikaitkan dengan masalah
yang mungkin timbul pada saat pasien pulang nanti, sehingga
kemungkinan masalah yang timbul di rumah dapat segera
diantisipasi
c) Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif karena
merupakan pelayanan multidisiplin dan setiap tim harus saling
bekerja sama
d) Tindakan atau rencana yang akan dilakukan setelah pulang
disesuaikan dengan pengetahuan dari tenaga/sumber daya maupun
fasilitas yang tersedia di masyarakat
e) Perencanaan pulang dilakukan pada setiap system atau tatanan
pelayanan kesehatan
c. Komponen perencanaan pulang
Menurut Jipp dan Sirass (1986) dalam Kristina (2007),
komponen perencanaan pulang terdiri atas :
a. Bidanan dirumah meliputi pemberian pengajaran atau pendidikan
kesehatan mengenai diet, mobilisasi, waktu control dan tempat
control, pemberian pelajaran disesuaikan dengan tingkat
pemahaman dan keluarga mengenai bidanan selama pasien
dirumah nanti
b. Obat-obatan yang masih diminum dan jumlahnya, meliputi dosis,
cara pemberian dan waktu yang tepat minum obat
c. Obat-obat yang dihentikan, karena meskipun ada obat-obat tersebut
sudah tidak diminum lagi oleh pasien, obat-obat tersebut tetap
dibawa pulang pasien

39
d. Hasil pemeriksaan, termasuk hasil pemeriksaan luar sebelum MRS
dan hasil pemeriksaan selama MRS, semua diberikan ke pasien saat
pulang
e. Surat-surat seperti surat keterangan sakit, surat kontrol
d. Faktor-faktor yang perlu dikaji dalam perencanaan pulang
a) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit, terapi dan
bidanan yang diperlukan
b) Kebutuhan psikologis dan hubungan interpersonal di dalam
keluarga
c) Keinginan keluarga dan pasien menerima bantuan dan kemampuan
mereka member asuhan
d) Bantuan yang diperlukan pasien
e) Pemenuhan kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari seperti makan,
minum, eliminasi, istirahat dan tidur, berpakaian, kebersihan diri,
keamanan dari bahaya komunikasi, kegamaan, rekreasi dan sekolah
f) Sumber dan system pendukung yang ada di masyarakat
g) Sumber financial dan pekerjaan
h) Fasilitas yang ada di rumah dan harapan pasien setelah dirawat
i) Kebutuhan bidanan dan supervisi dirumah
5. Sentralisasi Obat
a. Definisi
Pengelolaan obat dimana seluruh obat yang diberikan kepada
pasien, diserahkan sepenuhnya kepada bidan
b. Tujuan
a. Meningkatkan mutu pelayanan pada pasien, terutama dalam
memberikan obat
b. Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hokum maupun
secara moral
c. Mempermudah pegelolaan obat secara efektif dan efisien
c. Teknik Pengelolaan Obat
a. Penanggung jawab pengelolaan obat adalah Karu

40
b. Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan
obat
c. Penerima obat
1) Obat yang diresepkan dan telah diambil oleh keluarga
diserahkan kepada bidan yang menerima lembar serah terima
obat.
2) Bidan menulis nama pasien, register, jenis obat, jumlah dan
persediaan dalam kartu control yang diketahui oleh pasien atau
keluarga dalam buku masuk obat
3) Keluarga atau klien mendapatkan kapan atau bilamana obat
tersebut habis
d. Pembagian Obat
1. Obat yang diterima untuk selanjutnya disalin dalam buku daftar
pemberian obat
2. Obat yang telah disimpan diberikan oleh bidan dengan
memperhatikan oleh alur yang tercantum dalam buku pemberian
obat tapi dicocokkan dulu dengan instruksi dokter dan kartu obat
pasien.
3. Saat pemberian obat jelaskan macam obat, jumlah obat,
penggunaan obat, efek samping, tempat dikembalikan dan pantau
efek obat.
e. Penambahan Obat
a. Dimasukkan dalam buku obat dan dilakukan perubahan dalam
kartu persediaan obat
b. Pemberian obat yang tidak rutin dokumentasi hanya dilakukan pada
buku obat masuk dan informasikan kepada keluarga dengan kartu
khusus obat

f. Obat Khusus
a. Harga mahal, rute sulit, efek samping besar, waktu pemberian
tertentu.

41
b. Diberikan dengan kartu khusus oleh PP
c. Informasi yang diberikan ke klien : nama obat, kegunaan obat,
waktu pemberian,wadah obat ditunjukkan ke keluarga, usahakan
ada saksi dari keluarga saat pemberian obat.
6. Dokumentasi Kebidanan
a. Definisi
Dokumentasi merupakan catatan otentik dalam penerapan
manajemen asuhan kebidanan professional. Bidan professional
diharapkan dapat menghadapi tuntutan tanggung jawab dan tanggung
gugat terhadap segala tindakan yang dilaksanakan.
Komponen penting dalam pendokumentasian adalah
komunikasi, proses kebidanan, dan standar asuhan kebidanan.
Efektivitas dan efisiensi sangat bermanfaat dalam mengumpulkan
informasi yang relevan serta akan meningkatkan kualitas dokumentasi
kebidanan.
b. Tujuan
Tujuan umum : menerapkan system dokumentasi kebidanan dengan
benar diruangan.
Tujuan Khusus :
1. Mendokumentasikan Asuhan Kebidanan (pendekatan proses
Kebidanan)
2. Mendokumentasikan pengkajian Kebidanan
3. Mendokumentasikan diagnosis Kebidanan
4. Mendokumentasikan perencanaan Kebidanan
5. Mendokumentasikan pelaksanaan kebidanan
6. Mendokumentasikan evaluasi Kebidanan
7. Mendokumentasikan pengelolaan logistic dan obat
8. Mendokumentasikan HE (health education) melalui kegiatan
perencanaan pulang
9. Mendokumentasikan timbang trima
10. Mendokumentasikan kegiatan supervise

42
11. Mendokumentasikan kegiatan penyelesaian kasus melalui Ronde.
c. Manfaat
1. Sebagai alat komunikasi antar bidan dan dengan tenaga kesehatan
lain
2. Sebagai dokumentasi legal dan mempunyai nilai hokum
3. Meningkatkan mutu pelayanan kebidanan
4. Sebagai referensi pembelajaran dalam peningkatan ilmu kebidanan
5. Mempunyai nilai riset penelitian dan pengembangan kebidanan
d. Asuhan Kebidanan
Kemampuan untuk berbagi tanggung jawab antara bidan dan
dokter sangat penting agar bisa saling menghormati, saling
mempercayai dan menciptakan komunikasi efektif antara kedua
profesi. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap askeb sesuai
fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
a. Mengkaji masalah yang berkaitan dengan komplikasi & keadaan
kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
 Menentukan diagnosa, prognosa, dan prioritas kegawatan yang
memerlukan tindakan kolaborasi.
 Merencanakan tindakan sesuai dengan prioritas kegawatan &
hasil kolaborasi / kerjasama dengan klien.
 Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana dengan
melibatkan klien
 Mengevaluasi hasil tindakan yang telah diberikan
 Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien
 Membuat pencatan dan pelaporan
b. Memberikan askeb pada bumil dgn risiko tinggi dan pertolongan
pertama pada kegawatan yg memerlukan tindakan kolaborasi.
 Mengkaji kebutuhan asuhan kepada kasus risiko tinggi &
keadaan kegawatdaruratan yg memrlukan pertolongan pertama
& tindakan kolaborasi.

43
 Menentukan diagnosa, prognosa, dan prioritas sesuai dengan
faktor risiko dan keadaan kegawadaruratan pada kasus risiko
tinggi.
 Menyusun rencana asuhan dan tindakan pertolongan pertama
sesuai dengan prioritas.
 Melaksanakan askeb kepada bumil risiko tinggi dan
memberikan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas
 Mengevaluasi hasil askeb dan pertolongan pertama
 Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien
 Membuat pencatan dan pelaporan
c. Memberikan askeb kepada ibu dalam masa persalinan dengan
risiko tinggi dan keadaan kegawatan yang memerlukan pertolongan
pertama dengan tindakan kolaborasi denga melibatkan klien dan
keluarga.
 Mengkaji kebutuhan askeb pada ibu masa persalinan dgn risiko
tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yg memerlukan
pertolongan pertama dgn tindakan kolaborasi
 Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dgn faktor
risiko dan keadaan kegawatan
 Menyusun rencana askeb pada ibu dlm masa persalinan dgn
risiko tinggi dan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
 Melaksanakan askeb pada ibu dalam masa persalinan dgn
risiko tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai
dengan prioritas.
 Mengevaluasi hasil askeb dan pertolongan pertama.
 Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien/ keluarga.
 Membuat catatan dan laporan
d. Memberikan askeb pada ibu masa nifas dengan risiko tinggi dan
pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang
memerlukan tindakan kolaborasi dengan klien dan keluarga.

44
 Mengkaji kebutuhan asuhan pada ibu masa nifas dgn risiko
tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yg memerlukan
pertolongan pertama dgn tindakan kolaborasi
 Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dgn faktor
risiko dan keadaan kegawatan
 Menyusun rencana askeb pada ibu masa nifas dgn risiko tinggi
dan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas bersama
klien/keluarga.
 Melaksanakan askeb dengan ibu risiko tinggi dan memberikan
pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
 Mengevaluasi hasil askeb dan pertolongan pertama.
 Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien/ keluarga.
 Membuat catatan dan laporan.

e. Memberikan askeb pada BBL dengan risiko tinggi dan yang


mengalami komplikasi serta kegawatdaruratan yang memerlukan
tindakan kolaborasi dengan klien dan keluarga

 Mengkaji kebutuhan asuhan pada BBL dgn risiko tinggi dan


keadaan kegawatdaruratan yg memerlukan pertolongan
pertama dgn tindakan kolaborasi.
 Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dgn faktor
risiko dan keadaan kegawatan.
 Menyusun rencana askeb pada BBL dgn risiko tinggi dan
pertolongan pertama sesuai dengan prioritas bersama
klien/keluarga.
 Melaksanakan askeb dgn BBL risiko tinggi dan memberikan
pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
 Mengevaluasi hasil askeb dan pertolongan pertama
 Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien/ keluarga
 Membuat catatan dan laporan

45
2.6. Keselamatan Pasien (Patient Safety)
1. Pengertian Patient Safety
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu
system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. System
tersebut meliputi assesmen resiko, identifikasi dan pengeloalaan hal yang
berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan, dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi
solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. System tersebut
diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan
tindakan yang seharusnya dilakukan (Depkes RI: 2006).
Patient safety adalah pasien bebas dari cedera yang tidak
seharusnya terjadi atau bebas dari cedera yang potensial akan terjadi
(penyakit, cedera fisik/ sosial psikologis, cacat, kematian) terkait dengan
pelayanan kesehatan (KKP-RS, 2008). Patient Safety (keselamatan
pasien) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk: assesment resiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insidendan tindak
lanjutnyaserta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya
resiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (DepKes,2006).
2. Tujuan Patient Safety
Tujuan “Patient safety” adalah
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat;
c. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.

46
3. Standar Keselamatan Pasien
Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar yaitu:
a. Hak Pasien
Standar : Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk
mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk
kemungkinan terjadinya kejadian tidak diharapkan.
Kriteria :
1) Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan
2) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana
pelayanan
3) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan
yang jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana
dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien
termasuk kemungkinan terjadinya kejadian tidak diharapkan.
b. Mendidik Pasien dan Keluarga
Standar : RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban
& tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
Kriteria :
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn
keterlibatan pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu,
di RS harus ada system dan mekanisme mendidik pasien &
keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam
asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien &
keluarga dapat:
1) Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur
2) Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab
3) Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti
4) Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
5) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS
6) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
7) Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati

47
c. Keselamatan Pasien dan Kesinambungan Pelayanan
Standar :
RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi
antar tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriteria
1) Koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai saat pasien masuk,
pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan
pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit
2) Koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan
sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada seluruh
tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan baik
dan lancar
3) Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi untuk
memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan kebidanan, pelayanan
social, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan
tindak lanjut lainnya.
4) Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan
sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan,
aman dan efektif.
d. Penggunaan Metode-metode Peningkatan Kinerja untuk
Melakukan Evaluasi dan Program Peningkatan Keselamatan
Pasien
Standar :
RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada,
memonitor & mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,
menganalisis secara intensif kejadian tidak diharapkan, & melakukan
perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
Kriteria :
1) Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design)
yang baik, mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit,
kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis

48
terkini, praktik bisnis yang sehat dan factor-faktor lain yang
berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan ”Tujuh Langkah
Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit”.
2) Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja
yang antara lain terkait dengan : pelaporan insiden, akreditasi,
manajemen resiko, mutu pelayanan, keuangan.
3) Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif terkait
dengan semua kejadian tidak diharapkan, dan secara proaktif
melakukan evaluasi satu proses kasus resiko tinggi.
4) Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi
hasil analisis untuk menentukan perubahan system yang
diperlukan, agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin.
e. Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien
Standar :
1) Pimpinan dorong dan menjamin implementasi progr keselamatan
pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan
melalui penerapan “7 Langkah Menuju keselamatan pasien rumah
sakit ”.
2) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program mengurangi kejadian tidak
diharapkan.
3) Pimpinan dorong dan tumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar
unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien.
4) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur,
mengkaji, dan meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan
keselamatan pasien.
5) Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinyadalam
meningkatkan kinerja RS dan keselamatan pasien.
Kriteria :

49
1) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan
pasien.
2) Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan
dan program meminimalkan insiden, yang mencakup jenis-jenis
kejadian yang memerlukan perhatian, mulai dari “kejadian nyaris
cedera” sampai dengan “kejadian tidak diharapkan.
3) Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua
komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam
program keselamatan pasien.
4) Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk
asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko
pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas
untuk keperluan analisis.
5) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan
dengan insiden, termasuk penyediaan informasi yang benar dan
jelas tentang analisis akar masalah saat program keselamatan
pasien mulai dilaksanakan.
6) Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden,
misalnya menangani “kejadian tidak diharapkan atau kegiatan
proaktif untuk memperkecil resiko, termasuk mekanisme untuk
mendukung staf dalam kaitan tentang kejadian tidak diharapkan.
7) Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar
unit dan antar pengelola pelayanan didalam rumah sakit dengan
pendekatan antar disiplin.
8) Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam
kegiatan perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan
pasien, termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya
tersebut.
9) Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi
menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas

50
perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien, termasuk
rencana tindak lanjut dan implementasi.
f. Mendidik Staf tentang Keselamatan Pasien
Standar :
1) RS memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk
setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan
pasien secara jelas.
2) RS menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf
serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.
Kriteria :
1) Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat
topik keselamatan pasien sesuai dengan tugasnya masing-masing.
2) Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan
inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang
pelaporan :insiden.
3) Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok
(teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan
kolaboratif dalam rangka melayani pasien.
g. Komunikasi Merupakan Kunci bagi Staf untuk Mencapai
Keselamatan Pasien
Standar :
1) RS merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi KP
untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.
2) Transmisi data dan informasi harus tepat waktu & akurat.
Kriteria :
1) Disediakan Anggaran Untuk Merencanakan Dan Mendesain Proses
Manajemen Untuk Memperoleh Data Dan Informasi Tentang Hal-
Hal Terkait Dengan Keselamatan Pasien.
2) Tersedia Mekanisme Identifikasi Masalah Dan Kendala
Komunikasi Untuk Merevisi Manajemen informasi yang ada.

51
4. Jenis-Jenis Insiden Keselamatan Pasien
Insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut insiden
adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat
dicegah pada pasien, terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian
Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Cedera dan Kejadian Potensial Cedera
(PMK No. 1691 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit).
1) Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD adalah
insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien.
2) Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah
terjadinya insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.
3) Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden
yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul cedera.
4) Kondisi Potensial Cedera, selanjutnya disingkat KPC adalah kondisi
yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi
insiden.
5) Kejadian sentinel adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian
atau cedera yang serius
5. Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit
Tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit adalah sebagai
berikut:
1) Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien, ciptakan
kepemimpinan, dan budaya yang terbuka dan adil.
2) Pimpin dan dukung staf, bangunlah komitmen dan focus yang kuat dan
jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit.
3) Integrasikan aktivitas pengelolaan resiko, kembangkan system dan proses
pengelolaan resiko, serta lakukan identifikasi dan assesmen hal yang
potensial bermasalah.
4) Kembangkan system pelaporan, pastikan staf dengan mudah dapat
melaporkan kejadian/ insiden, serta rumah sakit mengatur pelaporan
kepada komite keselamatan pasien rumah sakit (KKP-RS).

52
5) Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien, kembangkan cara-cara
komunikasi yang terbuka dengan pasien.
6) Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien, dorong staf
untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan
mengapa kejadian itu timbul.
7) Cegah cedera melalui implementasi system keselamatan pasien, gunakan
informasi yang ada tentang kejadian/ masalah untuk melakukan
perubahan pada system pelayanan.
Tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit merupakan panduan
yang komprehensif untuk menuju keselamatan pasien, sehingga tujuh
langkah tersebut secara menyeluruh harus dilaksanakan oleh setiap rumah
sakit. Dalam pelaksanaan, tujuh langkah tersebut tidak harus berurutan dan
tidak harus serentak. Pilih langkah-langkah yang paling strategis dan paling
mudah dilaksanakan di rumah sakit. Langkah-langkah ini berhasil maka
kembangkan langkah-langkah yang akan belum dilaksanakan.
6. Sasaran Keselamatan Pasien
Sasaran keselamatan pasien adalah mendorong perbaikan spesifik
dalam keselamatan pasien. Sasaran menyorot bagian-bagian yang
bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi
dari consensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini. Diakui
bahwa desain system yang baik secara intrinsik adalah untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu tinggi, sedapat mungkin
sasaran secara umum difokuskan pda solusi-solusi yang menyeluruh.
Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat untuk diterapkan
disemua rumah sakit yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah
Sakit. Penyusunan sasaran ini mengacu kepada Nine Life-Saaving Patient
Saety Solution dari WHO Patient Safety (2007) yang digunakan juga oleh
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI (KKPRS PERSI),
dan dari Joint Commission International (JCI).
KARS (2011) menjelaskan enam sasaran keselamatan pasien adalah
tercapainya hal-hal sebagi berikut:

53
Sasaran I : Ketepatan Identifikasi Pasien
Kesalahan karena keliru-pasien sebenarnya terjadi disemua aspek
diagnosis dan pengobatan. Keadaan yang dapat mengarahkan terjadinya
error/kesalahan dalam mengidentifikasi pasien, adalah pasien yang dalam
keadaan terbius/ tersedasi, mengalami disorientasi, atau tidak sadar
sepenuhnya; mungkin bertukar tempat tidur, kamar, lokasi di dalam rumah
sakit; mungkin mengalami disabilitas sensori; atau akibat situasi lain.
Maksud ganda dari sasaran ini adalah : pertama, untuk dengan cara yang
dapat dipercaya/reliable mengidentifikasi pasien sebagai individu yang
dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan atau pengobatan; dan
kedua, untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap individu
tersebut. Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif
dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi, khususnya proses
yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat,
darah atau produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis; atau memberikan pengobatan atau tindakan lain.
Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara
untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor
identifikasi umumnya digunakan nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang
(-identitas pasien) dengan bar-code, atau cara lain. Nomor kamar atau
lokasi pasien tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau
prosedur juga menjelaskan penggunaan dua pengidentifikasi/penanda
yang berbeda pada lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan
ambulatori atau pelayanan rawat jalan yang lain, unit gawat darurat,
atau kamar operasi. Identifikasi terhadap pasien koma yang tanpa
identitas, juga termasuk. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur untuk memastikan telah
mengatur semua situasi yang memungkinkan untuk diidentifikasi.
Sasaran II : Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan
yang dipahami oleh resipien/penerima, akan mengurangi kesalahan, dan

54
menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara
elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami
kesalahan adalah perintah diberikan secara lisan dan yang diberikan
melalui telpon, bila diperbolehkan peraturan perundangan. Komunikasi
lain yang mudah terjadi kesalahan adalah pelaporan kembali hasil
pemeriksaan kritis, seperti laboratorium klinis menelpon unit pelayanan
pasien untuk melaporkan hasil pemeriksaan segera /cito.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan
dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan melalui telepon termasuk:
menuliskan (atau memasukkan ke komputer) perintah secara lengkap
atau hasil pemeriksaan oleh penerima informasi; penerima membacakan
kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi
bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibacakan ulang adalah akurat.
Kebijakan dan/atau prosedur mengidentifikasi alternatif yang
diperbolehkan bila proses pembacaan kembali (read back) tidak
memungkinkan seperti di kamar operasi dan dalam situasi gawat
darurat/emergensi di IGD atau ICU.
Sasaran III : Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu Diwaspadai
(HighAlert Medications)
Bila obat-obatan adalah bagian dari rencana pengobatan pasien,
maka penerapan manajemen yang benar penting/krusial untuk
memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai
(high-alert medications) adalah obat yang persentasinya tinggi dalam
menyebabkan terjadi kesalahan/error dan/atau kejadian sentinel (sentinel
event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome) demikian pula obat-obat yang tampak
mirip/ucapan mirip (Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM,
atau Look-Alike Sound-Alike / LASA). Daftar obat-obatan yang sangat
perlu diwaspadai tersedia di WHO. Yang sering disebut-sebut dalam
isu keamanan obat adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak
sengaja (misalnya, kalium/potasium klorida [sama dengan 2 mEq/ml atau

55
yang lebih pekat)], kalium/potasium fosfat [(sama dengan atau lebih besar
dari 3 mmol/ml)], natrium/sodium klorida [lebih pekat dari 0.9%], dan
magnesium sulfat [sama dengan 50% atau lebih pekat]. Kesalahan ini bisa
terjadi bila staf tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit
asuhan pasien, bila bidan kontrak tidak diorientasikan sebagaimana
mestinya terhadap unit asuhan pasien, atau pada keadaan gawat
darurat/emergensi.
Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi
kejadian tsb adalah dengan mengembangkan proses pengelolaan obat-
obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat
dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit secara kolaboratif
mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk menyusun
daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan datanya sendiri.
Kebijakan dan/atau prosedur juga mengidentifikasi area mana yang
membutuhkan elektrolit konsentrat secara klinis sebagaimana ditetapkan
oleh petunjuk dan praktek profesional, seperti di IGD atau kamar
operasi, serta menetapkan cara pemberian label yang jelas serta
bagaimana penyimpanannya di area tersebut sedemikian rupa, sehingga
membatasi akses untuk men cegah pemberian yang tidak disengaja/kurang
hati-hati.
Sasaran IV : Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat-
Pasien Operasi
Salah-lokasi, salah-prosedur, salah-pasien operasi, adalah kejadian
yang mengkhawatirkan dan biasa terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini
adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara
anggota tim bedah, kurang/ tidak melibatkan pasien di dalam penandaan
lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi
lokasi operasi. Di samping itu juga asesmen pasien yang tidak adekuat,
penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak
mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan
yang berhubungan dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting)

56
dan pemakaian singkatan adalah merupakan faktor-faktor kontribusi yang
sering terjadi.Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan
suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi
masalah yang mengkhawatirkan ini. Kebijakan termasuk definisi dari
operasi yang memasukkan sekurang-kurangnya prosedur yang
menginvestigasi dan/atau mengobati penyakit dan kelainan/disorder pada
tubuh manusia dengan cara menyayat, membuang, mengubah, atau
menyisipkan kesempatan diagnostik/terapeutik. Kebijakan berlaku atas
setiap lokasi di rumah sakit dimana prosedur ini dijalankan.
Praktek berbasis bukti, seperti yang diuraikan dalam Surgical
Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint
Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong
Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi melibatkan
pasien dan dilakukan dengan tanda yang segera dapat dikenali. Tanda itu
harus digunakan secara konsisten di seluruh rumah sakit; dan harus dibuat
oleh orang yang akan melakukan tindakan; harus dibuat saat pasien
terjaga dan sadar; jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai pasien
disiapkan dan diselimuti. Lokasi operasi ditandai pada semua kasus
termasuk sisi (laterality), struktur multipel (jari tangan, jari kaki, lesi),
atau multiple level (tulang belakang).
Maksud dari proses verifikasi praoperatif adalah untuk :
a) Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar;
b) Memastikan bahwa semua dokumen, foto − (images), dan hasil
pemeriksaan yang relevan tersedia, diberi label dengan baik, dan
dipampang; Memverifikasi keberadaan peralatan khusus dan/atau−
implant-implant yang dibutuhkan. Tahap “Sebelum insisi” / Time
out memungkinkan setiap pertanyaan yang belum terjawab atau
kesimpang-siuran dibereskan. Time out dilakukan di tempat tindakan
akan dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan
seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana proses itu
didokumentasikan (secara ringkas, misalnya menggunakan checklist)

57
Sasaran V : Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan
praktisi dalam kebanyakan tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan
biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan
kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para
profesional pelayanan kesehatan. Infeksi umumnya dijumpai dalam semua
bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih-terkait kateter,
infeksi aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali
dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pokok dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi lain adalah cuci
tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene yang berlaku
secara internasional bisa diperoleh dari WHO, Pusat Pengendalian dan
Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (US CDC) berbagai organisasi
nasional dan intemasional. Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif
untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan
atau mengadopsi pedoman hand hygiene yang diterima secara umum untuk
implementasi pedoman itu di rumah sakit.
Sasaran VI : Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
Jumlah kasus jatuh menjadi bagian yang bermakna penyebab
cedera pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang
dilayani, pelayanan yang diberikan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu
mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk
mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa meliputi
riwayat jatuh, obat dan telah terhadap obat dan konsumsi alkohol,
penelitian terhadap gaya/cara jalan dan keseimbangan, serta alat bantu
berjalan yang digunakan oleh pasien. Program ini memonitor baik
konsekuensi yang dimaksudkan atau yang tidak sengaja terhadap
langkah-langkah yang dilakukan untuk mengurangi jatuh. Misalnya
penggunaan yang tidak benar dari alat penghalang atau pembatasan
asupan cairan bisa menyebabkan cedera, sirkulasi yang terganggu, atau
integrasi kulit yang menurun. Program tersebut harus diterapkan di

58
rumah sakit agar mencegah terjadinya insiden yang tidak diharapkan /
Keselamatan pasien drumah sakit.
SP2KP dan implementasi pasien safety merupakan suatu sistem
dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi
asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan
risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
7. Sembilan Solusi keselamatan Pasien di RS (WHO Collaborating Centre
for Patient Safety, 2 May 2007), yaitu:
1) Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names)
2) Pastikan identifikasi pasien
3) Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
4) Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
5) Kendalikan cairan elektrolit pekat
6) Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
7) Hindari salah kateter dan salah sambung selang
8) Gunakan alat injeksi sekali pakai
9) Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.

59
BAB III
ANALISA RUANGAN DAN MANAJEMEN RUANG NIFAS
RSUD TOTO KABILA KAB. BONE BOLANGO

3.1 Gambaran Umum


Ruangan kebidanan merupakan salah satu ruangan yang berada di RSUD
Otanaha. Ruangan kebidanan merupakan ruangan rawat pasien perempuan
dengan kapasitas tempat tidur berjumlah 27 buah.
Tenaga kebidanan berjumlah 14 orang, dengan tingkat pendidikan D III
Kebidanan sebanyak 12 orang dan pendidikan DIV kebidanan 2 orang,
pendidikan profesi ners sebanyak 1 orang. Tenaga administrasi sebanyak 2 orang.
Ruangan kebidanan menggunakan metode tim secara struktural saja. Dan dalam
pelaksanaannya semua bertanggungjawab terhadap seluruh pasien ruangan.

3.2 Analisa Situasi Ruangan


Analisa situasi ruangan di dalam ruangan kebidanan dikaji berdasarkan M1-
M5 dengan hasil analisa :
A. Sumber daya M1 (Man)
Di ruang kebidanan RSUD Toto Kabila saat ini memiliki 14 bidan dan 1
orang penanggung jawab ruangan dengan pendidikan S.Kep Ners, 2 orang bidan
primer dengan pendidikan DIV kebidanan dan DIII kebidanan dan bidan
pelaksana terdiri dari 12 orang dengan pendidikan DIII dan DIVKebidanan.
Berdasarkan hasil observasi saat dilakukan pengkajian belum terdapat
struktur organisasi yang terpasang didalam ruangan. Pengadaan Struktur
organisasi di dalam ruangan penting hal ini dikarenakan dengan adanya strukttur
organisasi dapat menjelaskan pembagian aktivitas kerja, serta dapat
memperhatikan hubungan fungsi dan aktivitas sampai batas tertentu, selain itu
struktur organisasi menjelaskan hirarki dan susunan kewenangan, serta hubungan
pelaporan (Husein, 2003). Berdasarkan hal itu maka perlu adanya pengadaan
struktur organisasi di dalam ruangan dengan rencana penyusunan struktur
organisasi adalah :

60
1. Struktur Organisasi

KASIE KEPERAWATAN

Luqman U. Mahmud, SKM

NIP. 19721122 199503 1 002


KEPALA RUANGAN

Penanggung Jawab Ruangan

Ns. Hasna Asse., S.Kep

KETUA TIM KETUA TIM

Fridawati Alinti, S.T Keb Sri Miniarti Husain., A.Md Keb

NIP. 19790611 201001 2 013

Anggota TIM I Anggota TIM II

1. Selfi Sidiki, Amd. Keb 1. Fanti Ma’ruf, Amd. Keb


2. Mustika Kardila Biludi, 2. Celia Gabrela Mantu, Amd.
Amd. Keb Keb
3. Indrawati Saleh, Amd. Keb 3. Nurhayati, Amd. Keb
4. Murtiyanti Abas, Amd. Keb 4. Sri Indrahayu Daliwa, Amd.
5. Rifka Tololiu, Amd. Keb Keb
6. Nurtati Sudrajat., S.T Keb 5. Dian Arga Kurniwati.,Amd.
Keb

ADMINISTRASI

Sri Anggriana Lasulika

Figur 1.1 Struktur organisasi Ruangan Nifas

61
Metode penugasan yang diterapkan di ruangan ini menggunakan metode
penugasan TIM namun hanya sebatas struktural saja.Hal ini berdasarkan hasil
wawancara dengan bidan pelaksana dimana bidan mengatakan bahwa pembagian
tim ada secara struktural, namun untuk metode penugasan di dalam ruangan ini
tidak menerapkan metode TIM dan dalam pemberian tindakan dilakukan oleh
semua bidan.

2. Karakteristik Tenaga di Ruang Kebidanan


a. Karakteristik ketenagaan berdasarkan spesifikasi pekerjaan di ruang
kebidanan tahun 2018.
Tabel 1.1 Distribusi Ketenagaan Berdasarkan Spesifikasi Pekerjaan
di Ruang KebidananTahun 2018
No Spesifikasi Pekerjaan Jumlah Persen

1 Perawat 1 5%

2 Bidan 14 74%

2 Klining Servis 1 5%

3 Administrasi 2 11%

4 Ahli Gizi 1 5%

Jumlah 19 100%

Sumber : Data Primer 2018

Berdasarkan tabel 1.3 diatas, sebagian besar (74%) ketenagaan di


ruang kebidanan adalah tenaga kebidanan, selebihnya adalah tenaga
perawat (5%) administrasi (11%), Ahli gizi (5%) dan cleaning service
(5%). Jumlah ketenagaan di ruangan ini tidak sesuai, hal ini dapat dilihat
dari persyaratan minimal ketenagaan berdasarkan Permenkes No 24
tahun 2014 mengenai rumah sakit kelas C dengan jumlah tenaga
kebidanan 2:3 tenaga penunjang non kesehatan serta admintrasi dan
manajemen disesuaikan kebutuhan. Jika dikaitkan dengan ruangan nifas
jumlah bidan yang ada diruangan 14 orang berarti jumlah tenaga non
bidan yang dibutuhkan seharusnya sebanyak 6 orang, sedangkan sesuai

62
data yang diperoleh dari ruangan dari jumlah bidan 14 orang hanya
terdapat 4 orang tenaga yang non bidan.
b. Karakteristik ketenagaan berdasarkan tingkat pendidikan
Tabel 1.2 Distribusi Tenaga Kebidanan Berdasarkan Tingkat
Pendidikan di Ruang Kebidanan Tahun 2018
No Pendidikan Jumlah Persen

1 S.Kep Ners 1 7%

2 D4 – Kebidanan 2 13%

3 D3 – Kebidanan 12 80%

Jumlah 15 100 %

Sumber : Data Primer 2016


Berdasarkan tabel 1.2 diatas, sebagian besar (80%) ketenagaan di
ruang kebidanan memilki jenjang pendidikan Diploma III. Untuk tingkat
pendidikan Diploma IV adalah sebesar (13%) dan tingkat pendidikan
S.Kep Ners (7%),Hal ini belum sesuai, dikarenakan berdasarkan
pembagian tenaga kebidanan berdasarkan intermountain health care
seharusnya komposisi tenaga yang diperlukan yakni 58% DIV kebidanan
atau sejumalah 58% x 19 = 11 orang, dan 26% D III kebidanan atau
sejumlah 26 % x 19 = 4.94 atau 5 orang, sehingga diperlukan adanya
tambahan tenaga kebidanan dengan latar belakang pendidikan DIV
kebidanan.
c. Karakteristik tenaga keperawatan berdasarkan masa kerja
Tabel 1.3 Distribusi Tenaga Kebidanan Berdasarkan
Masa Kerja di Ruang nifas Tahun 2016

No Masa Kerja Jumlah Persen


1 < 5 tahun 9 60%
2 = 5 tahun – 10 tahun 4 26.7%
3 ≥10 Tahun 2 13.3%
Jumlah 15 100 %
Sumber : Data Primer 2018

63
Berdasarkan tabel 1.3 di atas, sebagian besar (60%) tenaga bidan di
ruang kebidanan memiliki pengalaman kerja < 5 tahun, dan (26.7%)
memiliki pengalaman = 5 tahun-10 tahun, dan (13.3%) memiliki
pengalaman kerja ≥10 Tahun. Pembagian masa kerja dalam 3 kategori
berdasarkan hasil pembagian oleh Wasis 2006 dalam buku Pedoman
Riset Praktis Untuk Profesi Bidan.
d. Karakteristik tenaga keperawatan berdasarkan pelatihan yang diperoleh
Tabel 1.4 Distribusi Tenaga Kebidanan Berdasarkan
PernahMengikuti Pelatihan
di Ruang Kebidanan Tahun 2018
No Pelatihan Jumlah Persen

1 Pernah 12 80 %

2 Tidak pernah 3 20 %

Jumlah 15 100 %

Sumber : Data Primer 2016

Berdasarkan tabel 4 diatas, sebagian besar (80%) tenaga kebidanan


di Ruang kebidanan sudah mengikuti pelatihan dan (20%) diantaranya
belum pernah mengikuti pelatihan misalnya BTCLS dan BHD. Hal ini
menunjukan bahwa masih ada tenaga kebidanan yang belum mengikuti
pelatihan, pengembangan diri berupa pelatihan sangatlah penting hal ini
dikarenakandengan adanya pelatihan tenaga kesehatan dapat
mengembangakan serta meningkatkkan pengetahuan, dan keterampilan.
Hal ini didukung oleh Hariandja (2002) yang menjelaskan bahwa pelatihan
merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama
untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian, juga
meningkatkan keterampilan khusus seseorang. Seorang bidan, baik bidan
manajer ataupun bidan pelaksana tentunya harus berubah sesuai dengan
dinamika waktu dan tuntutan pelayanan kebidanan yang semakin
kompleks sehingga diperlukan pelatihan dan pengembangan bidan. agar
kemampuan kognitif, efektif, dan psikomotornya sesuai dengan kebutuhan
areanya. Dengan hal ini maka tenaga kebidanan yang ada di ruangan

64
perlu diikutkan dalam berbagai jenis pelatihan seperti pelatihan
penanganan gawat darurat obstetric neonatal (PPGDON) atau yang juga
biasa disebut pelatihan Basic Maternal dan Neonatal Reucitation (BMNR)
dan ASFEKSIA yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan keterampilan klinik.
3. Analisis kebutuhan tenaga kebidanan di ruang Kebidanan
A. Analisa kebutuhan tenaga kebidanan di Ruang kebidanan berdasarkan
Rumus Gillies adalah sebagai berikut :
Rumus Gillies
Σ jam kep yg dibutuhkan klien/hr X rata-rata klien/hr X Σ
hr/tahun
Σ hr/tahun – hr libur perawat X Σ jam kerja/hari
= Σ jam kep yg dibutuhkan klien / tahun
Σ jam kerja / tahun
1. Jam Perawatan yang dibutuhkan pasien perhari, yaitu :
a. Kebidanan Langsung
Kebidanan mandiri 11orang x 2 jam = 22 jam
Kebidanan sebagian 0 orang x 3 jam = 0 jam
Kebidanan total 0 orang x 6 jam = 0 jam

Jumlah =22 jam


b. Kebidanan tidak lagsung: 11 orang x 1 jam = 22 jam
c. Penyuluhan kesehatan : 11orang x 0.25 jam= 2.75 jam
Total jam keseluruhan adalah 24.75 jam
2. Menentukan jumlah total jam kebidanan yang dibutuhkan per
pasien perhari adalah 24.75 jam ; 11 = 2.25 jam
3. Menentukan jumlah kebutuhan tenaga kebidanan pada
ruangan tersebut adalah langsung dengan menggunakan
rumus gilies di atas , sehingga didapatkan hasil sebagai
berikut :

65
𝑗𝑎𝑚
2.25 𝑥 11 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑥 365 ℎ𝑎𝑟𝑖 9033 𝑗𝑎𝑚/ℎ𝑟𝑖
𝑘𝑙𝑖𝑒𝑛
ℎ𝑟 = 1659 𝑗𝑎𝑚/𝑡ℎ𝑛
(365−128 𝑥7 𝑗𝑎𝑚
𝑡ℎ𝑛

= 5.44 (5 orang)
= 5 orang +20%
= 5+ 3.8
= 8.8 orang atau 9 orang
4. Menentukan jumlah kebutuhan tenaga kebidanan yang
dibutuhkan perhari yaitu :

𝑘𝑙𝑖𝑒𝑛
𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑗𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛/ℎ𝑎𝑟𝑖
ℎ𝑎𝑟𝑖
RMS= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎/ℎ𝑎𝑟𝑖
11 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑥 2.25 𝑗𝑎𝑚
= 7 𝑗𝑎𝑚

= 3.53 orang ( 4 orang)

Maka jumlah bidan yang dibutuhkan adalah :

= 4+ 1 (kepala ruangan ) = 5 orang


B. Menentukan jumlah tenaga kebidanan yang dibutuhkan per sihift ,
yaitu dengan ketentuan WARSTLER yaitu
Maka berdasakan kondisi diatas didapatkan
a. Shif tpagi = 42 % x 11 orang = 4.62 ( 5 orang)
b. Shift sore = 36% x 11 orang= 3.96 ( 4 orang)
c. Shift malam = 17% x 11 orang = 1.87 ( 2 orang)
Jadi jumlah tenaga bidan yang dibtuhkan yakni : 11 orang
C. Kebutuhan tenaga bidan rumus Douglas
Pada suatu pelayanan professional jumlah tenaga yang dibutuhkan
tegantung pada jumlah pasien dan derajat ketergantungan pasien.
Menurut Douglas (1984), Loveridge & Cumming (1996) klasifikasi
dan derajat ketegantungan pasien dibagi 3 kategori.

66
Tabel 1.5. Klasifikasi dan Derajat Ketergantungan Pasien
Menurut Douglas

Berdasarkan pengkajian yang dilkaukan didaptkan jumlah


rata klien /hari yakni berjumlah 12 orang/hari, hasil ini didapatkan
dari : ( BOR x Jumlah TT). Maka jumlah tenaga yang di butuhkan
berdasarkan tingkat ketegantungan pasien yakni 11 pasien dengan
perawatan minimal, :
1. Jumlah tenaga bidan shift pagi = 11 x 0.17
= 1.87 atau 2 orang
2. Jumlah tenaga bidan shift siang = 11 x 0.14
= 1.54 atau 2 orang
3. Jumlah tenaga bidan shift malam = 11 x 0.07
= 0. 77 atau 1 orang
Jadi jumlah tenaga bidan yang dibutuhkan 5 orang

D. Kebutuhan tenaga kebidanan pada ruangan kebidanan dengan


menggunakan rumus Depkes 2005, yaitu :
 BOR Ruangan : 43,05 %
 Jumlah tempat tidur : 27
 Rata-rata jam perawatan : 2.25 jam
 Jam kerja perawatan/ hari : 7 jam
 Kebutuhan tenaga bidan :
(BOR x Jumlah TT)𝑥 rata − rata jam perawatan
𝑛=
Jam Kerja
(43,05 % x 27)𝑥 2.25
𝑛=
7 jam

67
= 3.7 orang

= 4 orang

 Faktor resiko

52 + 12 + 14
𝑛= 𝑥 14
279

= 3,9 atau 4 orang

Jumlah tenaga kebidanan yang mengerjakan tugas non kebidanan :

= (14 +3.9) x 25%

= 4.5 atau 5 orang

Jumlah tenaga bidan yang diperlukan

= tenaga yang tersedia + faktor koreksi

= 19 +4.5 = 23.5 atau 24 orang

Menurut kami penggunaan metode perhitungan tenaga kebidanan


berdasarkan Depkes paling efektif, berdasarkan perhitungan diatas
didapatkan bahwa jumlah tenaga bidan di ruangan kebidanan masih
kurang, penggunaan metode ini didukung oleh Hendrich, et. al., (2008)
dimana dengan menggunakan metode ini dapat memperhitungkan beban
kerja bidan, dan juga memperhitungkan jam kerja serta loss day dan
faktor resiko sehingga lebih mempertimbangkan beban kerja bidan,
dimana tidak semua waktu digunakan sepenuhnya oleh seorang bidan
untuk bekerja. Ada waktu yang dihabiskan untuk libur, sakit,
melanjutkan pendidikan dan sebagainya, oleh sebab itu waktu produktif
seorang bidan dalam satu tahun diperkirakan sebesar 85% yaitu 1768

68
jam/tahun. Maka dengan ini jumlah tenaga kebidanan di ruangan harus
ditambah sehingga dapat memenuhi kebutuhan tenaga kebidanan yang
ideal.
E. BOR (Bed Occupantio rate Room)
Menurut Depkes RI 2005 BOR adalah presentase pemakaian
tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan
gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur pada satuan
waktu tertentu . indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya
tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang
ideal adalah 60-85 %
Rumus :

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎 𝑛 3 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑘 ℎ𝑖𝑟


= 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 3 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑥 100%

= Jumlah hari perawatan 3 bulan terakhir + 2 hari = 1081

= Jumlah tempat tidur = 27

= Jumlah hari dalam 3 periode = 31+30+31+1=93Hari

Maka

1081
𝑥 100% = 43,05 %
27x93=2511

Jadi untuk BOR (tingkat pemanfaatan tempat tidur ) diruangan


nifas adalah 43,05 %

BOR dari hasil pengkajian pada 3 bulan terakhir ditambahkan


dengan 1 hari sewaktu pengkajian di dapatkan bahwa BOR pada ruang
nifas berdasarkan perhitungan Depkes RI 2005 adalah 43, 05% nilai ini
belumsesuai dengan melihat standar Depkes RI 2005 dimana nilai BOR
optimal adalah 60%-85%. Presentase BOR 60% - 85% per tahun
merupakan standar nilai dari departemen kesehatan RI. Apabila rata-rata
tingkat penggunaan tempat tidur di bawah 60% berarti tempat tidur yang

69
tersedia di rumah sakit belum dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya
dan apabila lebih dari 85% maka hal itu akan mengakibatkan tempat tidur
yang seharusnya bisa digunakan untuk kejadian luar biasa (KLB) akan
terisi penuh sehingga rumah sakit tidak akan mampu menampung pasien
yang akan dirawat dengan Kejadian luar biasa (KLB) tersebut. Selain itu
juga untuk menghindari ketidakadanya waktu untuk pembersihan kamar
pasien yang dirawat karena hampir semua tempat tidur per harinya lebih
85 persen sehingga dapat menyebabkan terjadinya peningkatan infeksi
nosokomial.(Depkes RI, 2005).

B. M2 ; Material
Sarana dan prasarana
1. Penataan gedung/lokasi dan denah ruangan
Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan yang digunakan
dalam kegiatan pembelajaran manajemen mahasiswa Profesi Ners UNG di
ruang Kebidanan RSUD Toto Kabila dengan uraian sebagai berikut :
a. Timur : Bersebrangan dengan Ruang Interna 1 dan Ruang Bedah
b. Selatan : Berseberangan dengan Ruang VIP
c. Utara : Berseberangan dengan Ruang Interna 2
d. Barat : Berseberangan Nicu dan Ruang anak

Keterangan :

1. Gbr 1, 2, 3 : Ruang Rawat Anak


2. Gbr 4 : Ruang Nifas 1A
3. Gbr 5 : Nurse Station Nifas

70
4. Gbr 6 : Kamar Perawat Nifas
5. Gbr 7 : Ruang Nifas 1B
6. Gbr 8 : Gudang
7. Gbr 9 : Ruang Nifas 1C
8. Gbr 10 : Ruang Nifas 3A
9. Gbr 11 : Ruang Nifas 3B
10. Gbr 12 : Ruang Nifas 3C
11. Gbr 13 : Apotik
12. Gbr 14 : Gudang
13. Gbr 15 : Ruang Gynekologi
14. Gbr 16 : Ruang 3D
15. Gbr 17 : Ruang Picu
16. Gbr 18 : Ruang Nicu
17. Gbr 19 : Ruang Perawat Anak
18. Gbr 20 : Nurse Station Anak
19. Gbr 21 : Ruang VK

2. Fasilitas
a. Fasilitas untuk pasien
Berikut ini adalah daftar alat-alat yang tersedia di Ruang Bedah
RSUD Toto Kabila dengan menggunakan standar ideal menurut Depkes
RI (2004), dengan tipe Rumah Sakit Tipe C.
Tabel.1.1 Daftar fasilitas Pasien menurut Depkes (2004)
No Nama Barang Ideal

1. Tempat tidur 1:1

2. Kursi roda 2-3/ruangan

3. Seprei besar 1:5

4. Seprei kecil 1:5

5. Sarung bantal 1:6

6. Sarung guling 1:3

7. Sarung kasur 1:1

8. Lemari obat 1/ruangan

9. Lampu senter 1-2/ruangan

10. Tempat sampah pasien 1:1/ruangan

71
Tabel 1.2 Daftar Fasilitas Pasien di Ruang Kebidanan RSUD Toto
Kabila
No Nama Barang Jumlah Kondisi Ideal Usulan

1. Tempat tidur 27 unit Baik 1:1 -

1 2:3 /
2. Kursi Roda Baik Ditambah
Ruangan
1 Baik
3. Jam Dinding 1 / Rungan -

Kamar 7 (1 rusak) Kls I = 1 : 1 Perlu diperbaiki


4. Cukup baik
mandi/WC Kls III = 1:5 yang rusak

7 (2 rusak) Kls I= 1:1 Diperbaiki yang


5. Wastafel Baik
Kls III = 1:5 rusak
Diperbaiki yang
20 (4 Kls I = 3 rusak dan di
6. Lampu
Cukup Baik Kls III = 1:5 lengkapi yang
rusak)
belum ada
Tempat sampah :
- Medis 1
7. Baik 2 / Ruangan -
- Nonmedis 5
- Safety box 1
Kls 1 = 5
Baik Perlu diperbaiki
8. Ventilasi Kls III = -
Cukup baik untuk sirkulasi
25
Alat pemadam
10. - - 1 / Ruangan Perlu diadakan
kebakaran

11. Lemari BHP 1 Kurang baik 1:1 Perlu diperbaiki

12. Kipas Angin - - Perlu diadakan


13. Brancart - - - Perlu diadakan

72
b. Fasilitas untuk petugas kesehatan
Tabel 1.3 Daftar Fasilitas untuk Petugas Kesehatan di Ruang.
Kebidanan (nifas) RSUD Toto Kabila
No Nama Barang Jumlah Kondisi Ideal Usulan
.
1 Nurse station 1 Cukup baik - -
2 Ruangan kepala 0 - - Perlu
ruangan diadakan
3 Ruangan perawat 1 - - -
4 Kamar mandi 1 buah Baik - -
5 Wastafel 1 buah Baik - -
6 Kasur 2 buah Baik - -
7 Loker - - 1:1 -
8 Meja kepala - - - -
ruangan
9 Meja administrasi 2 buah Baik
10 Kursi kepala - - 2/ruangan Perlu di
ruangan adakan
11 Kursi panjang 1 Baik - Perlu
ditambh 1
12 Kursi administrasi 2 buah Baik - -
13 Lemari besar 1 buah Baik - -
14 Lemari kecil - - - -
15 Sentralisasi obat 1 Baik - -
16 Staf dokter 0 - - Perlu
diadakan
17 HT 1 buah baik 1/ruangan -

Keterangan :

1. Ruang kepala ruangan menjadi satu dengan ruang pertemuan perawat dan
tempat administrasi di Nurse station
2. Ruang perawat berada di antara Ruang. Nifas 1A dan Ruang Nifas 1B
sedangkan kamar mandi perawat/WC terdapat berada didekat dengan
nurse stasion
3. Sentralisasi obat berada didepan ruangan perawat
4. Tidak terdapat ruangan staf untuk dokter

73
1. Alat kesehatan yang ada Ruang Kebidanan RSUD Toto Kabila
Tabel. 1.4 Daftar Alat-alat kesehatan di ruangan kebidanan menurut
Depkes (2004)
No Nama Barang Ideal

1. Tensimeter 2/ruangan

2. Stetoskop 2/ruangan

3. Timbangan BB/tinggi badan 1/ruangan

4. Sterilisator 1/ruangan

5. Tabung oksigen + flow meter 2-3 / ruangan

6. Korentang 2/ruangan

7. Bak instrument besar 2/ruangan

8. Bak instrument sedang 2/ruangan


9. Bak instrument kecil 2/ruangan
10. Pispot 1:1/2ruangan
11. Bengkok 2/ruangan
12. Termometer 5/ruangan
13. Timbangan bayi 1/ruangan
14. Standar infuse 1:1
15. Dopler/lenec 1/ruangan
16. Gunting verband 2/ruangan
17. Troly obat 1/ruangan
18. Washlap 1:5
19. Waskom mandi 1-12/ruangan

74
Tabel 1.5 Daftar Fasilitas dan Alat Kesehatan Ruang Kebidanan
(nifas) RSUD Toto Kabila
No. Nama Barang Jumlah Kondisi Ideal Usulan

1 Tensi meter 1 buah Cukup 2 / ruangan Ditambah 1


Baik

2 Stetoskop 2 buah Baik 2/ ruangan

3 Timbangan BB - - 1 / ruangan Perlu


/ TB diadakan

4 Suction - - 1 / ruangan Perlu


diadakan

5 Sterilisator 1 buah Baik 1 / ruangan -

6 Tabung 3 buah Kurang 2-3 / ruangan Perlu


oksigen + flow ditambah
meter

7 Bengkok 1 Baik 2 / ruangan Ditambah 1

8 Pispot - - 1:1 / ruangan Perlu


diadakan

9 Gunting 2 Baik 2 / ruangan -


verband

10 Bak Mandi 1 buah Cukup 2/ ruangan Ditambah 1


Bayi Baik

13 Korentang 1 buah Baik 2 / ruangan Ditambah 1

14 Bak instrument - - 2 / ruangan Perlu


besar diadakan

15 Bak instrument 1 buah Baik 2 / ruangan Ditambah 1


sedang

16 Bak instrument 1 buah Baik 2 / ruangan Ditambah 1


kecil

75
17 Dopler/Lenec - - 1 / ruangan Perlu
diadakan

18 Baskom 1 buah Cukup 2/ ruangan Perlu


Baik Ditambah1

20 Thermometer 1 buah Baik 1 / ruangan Perlu


ditambah

22 Standar infuse 24 buah Cukup 1:1 Perlu


baik ditambah 3

23 Kereta obat 1 Baik 1 / ruangan -

2. Administrasi penunjang Ruang Kebidanan RSUD Toto Kabila


a. Buku injeksi
b. Buku observasi
c. Lembar dokumentasi
d. Buku TTV
e. Buku timbang terima
f. SOP
g. SAK
h. Buku visite dokter
Berdasarkan hasil observasi didapatkan data fasilitas maupun alat
kesehatan untuk perawatan pasien masih belum lengkap, misalnya seperti :
a. Fasilitas untuk pasien
 Belum adanya kipas angin untuk pasien disetiap ruangan
 Belum adanya sekat pembatas disetiap ruangan
 Perlu ditambahkan sampiran disetiap ruangan
 Masih membutuhkan penambahan tiang infuse
 Perlu diadakan brancart pasien di ruangan
 Perlu diadakannya alat tenun
b. Alat kesehatan untuk pasien
 Masih perlunya penambahan alat kesehatan

76
 Perlu adanya penambahan alat kesehatan seperti tabung O2 dan
sucstion di ruangan
 Perlu adanya penambahan untuk alat mandi bayi
c. Fasilitas untuk petugas kesehatan
 Perlu mengadakan ruangan sendiri untuk kepala ruangan
 Perlu mengadakan ruangan sendiri untuk dokter
Hal ini didukung oleh hasil wawancara dimana belum lengkapnya fasilitas
pasien karena ruangan kebidanan merupakan ruangan baru sehingga pengadaan
fasilitas belum terlalu lengkap misalnya disetiap ruangan perlu adanya alat tenun,
kipas angin, sampiran dan standar infuse perlu ditambah, untuk fasilitas ruangan
perawat belum adanya struktur organisasi , denah ruangan. Bukan hanya itu untuk
alat kesehatan perlu adanya penambahan tabung O2 dan pispot, didapatkan bahwa
jumlah alat yang tersedia belum sesuai dengan rasio pasien. Sehingga adapun
masalah yang dapat diangkat yaitu :

o Belum lengkapnya fasilitas dan alat kesehatan untuk pasien diruang


kebidanan
o Belum terdapatnya kekhususan ruangan untuk petugas kesehatan (Kepala
ruangan, dan staf dokter)
Berdasarkan Depkes RI tahun 2007 tentang Rumah Sakit tipe c
merupakan saran pelayanan umum tingkat kab/kota yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medis 4 spesialistik dasar dan 4 spesialistik penunjang.
Dalam rangka mencapai kualitas dan kemampuan pelayanan medis pada rumah
sakit tipe c ini, maka harus di dukung dengan sarana dan prasarana rumah sakit
yang terencana baik dan benar .
Adapun jenis peralatan rumah sakit tipe C untuk ruang rawat inap
kebidanan yaitu :

77
Tabel Daftar jenis peralatan Rawat Inap
Kebidanan untuk Rumah Sakit tipe c
No Jenis Peralatan
1 Tempat Tidur dewasa
2 Tempat tidur bayi
3 Termometer axial
4 Stetoskop
5 Tensimeter anroid with stand
6 Timbangan dewasa
7 Reflex Hammer
8 Pen light
9 Lenec
10 EKG
11 Infusion set
12 Infusion Pump
13 Oxygen Set+ Flow meter
14 Recusitation Set dewasa
15 Minor suRuangery instrument set
16 EmeRuangency set
17 Doek
18 Branchard
19 Anatomische pinset
20 Churgical pinset
21 Transfusion set
22 Korentang
23 Nierbekhen
24 Standar Infus
25 Pisfot
26 Set Perawatan Luka
27 Bak instrument
28 Bak Catheter
29 Kursi Roda
30 Dopler
31 Sink memandikan bayi
32 Set kebidanan
33 Resusitasi set bayi
34 Timbangan bayi
35 Klem tali pusat
36 Gunting tali pusat
37 celemek plastic

78
Berdasarkan data diatas maka perlu adanya penambahan perlatan
berdasarkan standar depkes (2007). Namun untuk melakukan pelaksanaan
akreditasi rumah sakit ke rumah sakit tipe c maka peralatan atau fasilitas harus
disesuaikan dengan pementuhan fasilitas menurut Depkses 2007 untuk rumah
sakit tipe C. Adapun hal-hal yang perlu di perhatikan dalam pelaksanaan
akreditasi yaitu seperti kelengkapan sarana dan prasarana di ruangan rawat inap
kebidanan.

Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas (Depkes
RI, 2007)
Tabel Kebutuhan Ruangan Dan Kebutuhan Fasilitas
No Nama Ruangan Fungsi Besaran Kebutuhan
. Ruang/Lua Fasilitas
s
1 Ruang admistrasi Ruang untuk 3-5 meter / Meja, kursi,
dan pendaftaran menyelenggaraka petugas lemari arsip,
n kegiatan (min 6 telpn/intercom,
administrasi meter) computer,printer
khususnya dan peralatan
pelayanan pasien kantor lainnya
diruang kebidanan
dan kandungan.
Ruang ini berada
pada bagian depan
instalasi /
R.Kebidanan dn
kandungan
dengan dilengkapi
loket, mej kerja,
lemari
berkas/arsip dan
telpon/intercom
Kegiatan
admininstrasi
meliputi :
1.Pendataan pasie
2.Penandatangana
n surat pernyataan
keluarga pasien
(jika diperlukan
tindakan operasi)

79
3.Pembayaran (
kasir)
2 Ruag tunggu Ruang untuk 1-1.5 Kursi, meja, TV,
engantar pasien pengantar pasien meter/orang dan alat
menunggu selama (min pengkondisi
pasien menjalani 16meter) udara
proses persalinan (AC/Aircondition
atau tindakan )
bedah
3 Ruang bersalin /kala Ruang sebagai
Min 12 Set partus, set
1-2-3 temat dimanameter / minor surgery,
pasien melahirkan tempat tidur dopler, USG,
bayinya termasuk tensimeter,
kegiatan-kegiatan timbangan bayi,
untuk tindakan suction apartus,
saat persalinan lampu periksa,
standar infuse,
O2 set,
emergency light,
infuset, set
kebidanan (min :
vorceps, vakum
ekstraktor, klem
hemostasis arteri,
guntingtali pusar,
klem tali pusar),
sarung tangan,
celemek plastic,
kassa dan kapas,
doek,
cardiotograph
(CTG),
stetoskop,
resutitasi set
dewasa,
resusitasi set bayi
4 Ruang Tindakan Ruang tempat Min 12 Set partus, set
melakukan meter/tempa AVM, set minor
tindakan t tidur surgery,
kebidanan dan tenasimeter,
penyakit suctin apartus,
kandungan lampu periksa,
stand infuse, O2
set, emergency
light, sarung
tangan, celemek

80
plastic, kassa,
resusitasi set
dewasa
5 Ruang pemulihan Ruang pemulihan Min 7.2 Tempat tidur
pasien pasca meter / pasien, monitor
melahirkan yang tempat tidur pasien, tiang
memerlukan infuse, infusion
perawatan set, oksigen
kualitas tinggi dan
pementauan terus-
menerus
6 Ruang bayi Ruang tempat bayi Min 9 meter Tempat tidur
setelah dilahirkan bayi, incubator,
timbangan dan
pengukur
panjang bayi,
tensi meter, alat
resusitasi bayi,
blue lamp
therapy, tempat
ganti popok bayi,
sink mandi bayi
7 Gudang steril Ruang tempat Min 6 meter Lemari
penyimpanan instrument,
instrument yang tromol
telah disterilkan.
Instrument berada
dalam tromol
tertutup dan
disimpan di
lemari instrument.
Bahan-bahan lain
seperti linen, kasa
steril dan kapas
yang telah
disterilkan juga
dpat disimpan di
ruangan ini
8 Ruang ganti Tempat ganti Min 6 meter Loker, rak sepatu
pakaian/loker pakaian, bersih, wastafel
sepatu/alat kaki
sebelum masuk ke
– dan sebaliknya
setelah keluar dari
ruang kebidanan
dan kandungan, /

81
suatu ruangan
yang
diperuntukkan
bagi para
pengunjung, staf
medis/non medis
untuk berganti
pakaian atau alas
kaki sebelum
masuk ke ruang
kebidanan dan
kandungan.
9 Ruang dokter Ruang tempat 9-16 meter Tempat tidur,
kerja dan istirahat sofa, meja,
dokter dilengkapi wastafel
dengan kamar
mandi/wc
10 Ruang Ruang untuk 9-16 meter Tempat tidur,
perawat/petugas istirahat sofa, meja,
perawat/petugas wastafel, pantry
lainnya setelah
melaksanakan
kegiatan
pelayanan atau
tugas jaga. Kamar
jaga harus berada
di bagian depan
sehingga
mempermudah
semua pihak
yangmemerlukan
pelayanan pasien
11 Pantry Ruang untuk Min 6 meter Meja, kursi,
menyiapkan microwave,
makanan bagi kompor,
pasien dan para penghangat,
petugas instalasi kulkas, sink
kebidanan dan
kandungan
12 Gudang kotor Fasilitas untuk 4-6 meter Kloset leher agsa,
membuang keran air bersih
kotoran bekas (sink)
pelayanan pasien Ket : tinggi bibir
khususnya yang kloset 80-100
berua cairan. meter dari
Spoolhoek berupa permukaan lantai

82
bak atau kloset
yang dilengkapi
dengan leher
angsa (water seal)

13 Kamar mandi/ WC Kamarmandi / KM/WC Kloset, watafel,


(petugas,pengunjung WC pria/ wanita bak air
) luas 2-3
meter

14 Janitor Ruang tempat Min 3 meter Kloset, wastafel,


penyimpanan bak air
peralatan

Lampiran dokumentasi ruangan rawat inap di kebidanan (nifas)

Gambar 1.1 Ruang Perawatan Pasien Gambar 1.2 Sampiran

Gambar 1.3 Kamar mandi/WC Pasien yang Terpakai

83
3. M3 (Method)
1. Visi dan Misi
Tabel 7 Visi dan Misi di RSUD. TOTO KABILA

Visi Rumah Sakit terkemuka di Provinsi Gorontalo dan


Sekitarnya

Misi 1. Memberikan kesehatan paripurna, bermutu, dan


terjangkau yang berorientasipada kepuasan pelanggan.
2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang
professional
3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas dan
sarana/prasarana pelayanan di semua bidang secara terus
menerus dan berkesinambungan.
Motto “Melayani dengan senyum”

Sumber Data Primer 2018

Berdasarkan data pengkajian didapatkan bahwa ruangan kebidanan di


RSUD Toto Kabila belum memiliki visi ruangan. Visi misi ruangan diperlukan
karena menurut Nursalam (2012), adanya visi dan misi yang jelas dapat
menentukan arah dari sebuah Ruangan (bidan dan perawat) untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Jika tidak terdapat suatu visi dan misi, maka akan
terjadi ketimpangan yang justru akan menambah ketidakjelasan arah
pengembangan manajemen keperawatan. Oleh karena itu perlu pengadaan visi
misi di ruangan.

2. Ruang Kebidanan
a. Penerapan Model Praktek Kebidanan
Ruang kebidanan merupakan ruangan yang menerapkan model asuhan
kebidanan dengan metode TIM. Berdasarkan hasil wawancara bersama
bidan ruangan, metode tim telah dibagi secara struktural. Dalam daftar
dinas Ruang kebidanan terbagi menjadi 2 tim. Tim 1 terdiri dari Katim 1
orang dan anggota tim 6 orang, dan Tim 2 terdiri dari Katim 1 orang dan

84
anggota tim 5 orang. Tidak ada pembagian tugas pada masing-masing tim.
Tanggung jawab ruangan, menjadi tanggung jawab bersama atau dalam
arti kerja bersama. Berdasarkan hasil wawancara dengan penanggung
jawab ruangan nifas, hal ini dikarenakan ruangan nifas belum
ditetapkannya seorang kepala ruangan yang mengatur pembagian tim dan
penugasan masing-masing tim. Adapun karakteristik dari kepala ruangan
nifas yaitu :
1) Pendidikan Minimal D IV Keperawatan
2) Pengalaman Kerja 3-5 tahun
3) Memiiki sertifikat kepelatihan BTCLS, BHD & ASFIKSIA
4) Memiliki kemampuan kepemimpinan
5) Berwibawa
6) Sehat
Ruangan kebidanan secara struktural memiliki metode tim dalam
pemberian asuhan kebidanan yang apabila diterapkan akan memungkinkan
pelayanan kebidanan yang menyeluruh, mendukung pelaksanaan proses
kebidanan, dan memungkinkan komunikasi antar tim. Dalam pelaksanaan
metode Model Praktek Kebidanan ada beberapa hal yang harus
diperhatikan antara lain:
1. Operan
Berdasarkan data pengkajian melalui kuesioner, observasi dan
wawancara didapatkan hasil, Operan shift dan pengaturan di ruangan, tiap
harinya terbagi menjadi 3 shift, yaitu shift pagi dari jam 08.00 – 14. 00
WITA, shift sore dari jam 14.00 – 21.00 WITA dan shift malam dari jam
21.00 – 08.00 WITA. Berdasarkan hasil kuesioner, 100% bidan di ruangan
melaksanakan operan tetapi belum maksimal. Sebanyak 37,5% bidan
belum mengetahui tekhnik pelaksanaan operan , seperti : teknik pelaporan
operan di depan pasien, kehadiran bidan saat melakukan operan dan waktu
pelaksanaan operan.
Operan perlu dilakukan oleh bidan dalam setiap pergantian shift.
Operan mempunyai tujuan untuk mengkomunikasikan keadaan pasien dan

85
menyampaikan informasi yang penting, informasi yang disampaikan harus
akurat sehingga adanya kesinambungan pemberian asuhan kebidanan yang
komprehensif terhadap pasien (Asrinah,2012). Dalam memaksimalkan
pelaksanaan operan diruangan kebidanan dapat dilakukan sosialisasi
tentang tehnik pelaksanaan operan melalui role play oleh mahasiswa untuk
pelaksanaan operan.
2. Ronde
Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi bahwa ronde di
ruang Nifas belum pernah dilakukan. Dan sebanyak 100% tidak
mengetahui tentang ronde. Penyelesaian masalah atau kasus kompleks di
ruangan nifas hanya dilakukan dengan cara diskusi antara bidan-bidan dan
dokter yang dilakukan di midwife station.
Ronde adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah
keperawatan pasien yang dilaksanakan oleh bidan selain melibatkan pasien
untuk membahas dan melaksanakan asuhan kebidanan. Pada kasus tertentu
harus dilakukan oleh bidan, atau konselor, kepala ruangan, bidan
pelaksana yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim kesehatan.
Ronde mempunyai tujuan untuk menyelesaikan masalah pasien melalui
pendekatan berprikir kritis (Nursalam,2012).
Adapun proses ronde sebagai berikut :
1. Melaksanakan ronde bersama – sama kepala ruangan dan staf
kebidanan
2. Penjelasan tentang pasien oleh bidan primer dalam hal ini
penjelasan difokuskan pada msalah kebidanan dan intervensi yang
telah dilaksanakan tetapi belum mampu mengatasi masalah pasien.
3. Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
4. Pemberian masukan, solusi, tindakan yang lain yang mampu
mengatasi masalah pasien tersebut.
Dalam memaksimalkan pelaksanaan ronde diruangan kebidanan,
dapat dilakukan sosialisasi tentang tehnik pelaksanaan ronde kebidanan
melalui role play oleh mahasiswa.

86
3. Discharge Planning
Berdasarkan hasil kuesioner sebanyak 100% bidan mengerti dengan
perencanaan pulang, bidan bersedia melakukan perencanaan pulang.Dari
hasil observasi belum tersedianya brosur atau leaflet yang diberikan pada
pasien saat pulang.
Perencanaan pulang adalah suatu proses yang dinamis dan sistematis
dari penilaian, persiapan, serta koordinasi yang dilakukan untuk
memberikan kemudahan pengawasan pelayanan kesehatan dan pelayanan
social sebelum dan sesudah pulang. Tujuan perencaan pulang : membantu
pasien dan keluarga untuk dapat memahami permasalahan, pencegahan
yang harus ditempuh sehingga dapat mengurangi angka kambuh dan
penerimaan kembali dirumah sakit dan terjadi pertukaran informasi antara
pasien sebagai penerima pelayanan dengan keperawatan dari pasien masuk
sampai masuk rumah sakit.
Dalam memaksimalkan pelaksanaan perencaan pulang pada pasien
diruangan kebidanan, dapat dilakukan pembagian tugas dari kepala
ruangan untuk perencaan pulang, pengadaan leaflet dan brosur yang akan
diberikan pada pasien yang akan pulang.
4. Dokumentasi
Dari hasil observasi dan wawancara di Ruang kebidanan Model
dokumentasi kebidanan yang digunakan adalah model dokumentasi POR
(Progress Oriented Record). Dari hasil observasi yang dilakukan bahwa
dokumentasi kebidanan yang dilakukan meliputi pengkajian yang
menggunakan ROS pengkajian kebutuhan dasar, serta diagnosis kebidanan
sampai dengan evaluasi menggunakan SOAP.
Komponen dasar POR terdiri dari empat bagian, yaitu :
a. Data Dasar; identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan
sebelumnya. Riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik,
laboratorium, dan lain-lain, data dasar diperlukan tergantung dari unit
atau jenis asuhan yang akan diberikan, misalnya: data dasar unit
kebidanan akan berbeda dengan unit bedah.

87
b. Daftar Masalah; masalah pasien didapat dari hasil kajian. Pencatatan
dasar masalah dapat berupa gejala-gejala, kumpulan gejala, atau hasil
laboratorium yang abnormal, masalah psikologis, atau masalah sosial.
Masalah yang ada mungkin banyak sehingga perlu diatur menurut
prioritas masalah dengan memberi nomor, tanggal pencatatan, serta
menyebutkan masalahnya. Daftar memberikan keuntungan bagi
perawat sebagai perencana keperawatan.
c. Rencana. Rencana disesuaikan dengan tiap masalah yang ada. Dengan
demikian perawat dapat merencanakan sesuai kebutuhan pasen.
d. Catatan Perkembangan Pasen. Adalah semua catatan yang
berhubungan dengan keadaan pasen selama dalam perawatan. Pada
umumnya catatan ini terdiri dari beberapa macam bentuk, antara lain :
 Catatan Berkesinambungan (Flow Sheet)Digunakan untuk mencatat
hasil observasi perawatan secara umum, khususnya pada keadaan pasen
yang sering berubah-ubah dengan cepat.
 Catatan secara Naratif (Notes)
 Catatan akan Pulang/Sembuh (Discharge Notes)
Dokter maupun perawat membuat kesimpulan tentang keadaan pasen
selama dirawat, baik mengenai permasalahan dan tindak lanjut yang
dibutuhkan

Dari hasil observasi penulisan catatan perkembangan pasien / susunan


pencatatan di ruangan nifas menggunakan SOAP. Format SOAP umumnya
digunakan untuk melakukan pengkajian pada pasien.

S : Subjective : Pernyataan atau keluhan dari pasien

O : Objective : Data yang diobservasi oleh bidan atau keluarga

A : Analisys : Kesimpulan dari objektif dan subjektif

P : Rencana : Rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan analisis

88
Dari hasil wawancara dan observasi pengisian dokumentasi di ruang
nifas sudah sesuai dengan format dokumentasi kebidanan pada umumnya.
Dokumentasi dalam kebidanan adalah suatu rangkaian kegiatan yang rumit
dan sangat beragam serta memelukan waktu yang cukup banyak dalam
proses pembuatannya. Suatu dokumen atau data yang berisi data tentang
keadaan pasien yang dilihat tidak saja dari tingkat kesakitan dan tetapi
juga dilihat dari jenis, kualitas, dan kuantitas dari layanan yang telah
diberikan perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien (Ali,2010).

4. M4/ Money
Berdasarkan hasil wawancara pada administrasi ruangan kebidanan bahwa
perencanaan anggaran untuk ruangan, fasilitas, dan sarana dalam menunjang
kegiatan pelayanan kebidanan telah dibuat dan diajukan kepada bidang keuangan,
bidang pelayanan, sarana dan prasarana. Adapun pembiayaan ruangan kebidanaan
yang terdiri atas : dana operasional ruangan, pembiayaan listrik, air, telpon alat
kesehatan, fasilitas kesehatan bagi pasien. Fasilitas bahan habis pakai bagi pasien
di atur langsung oleh kepala bidang keuangan pelayanan, dan sarana prasaranan
rumah sakit.
Sumber Pembiayaan Ruang Kebidanan sebagian besar berasal dari RSUD
Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango sedangkan pembiayaan pasien sebagian
besar dari BPJS untuk pasien yang mempunyai jaminan kesehatan, dan untuk
pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan di hitung umum dan biaya di
tanggung oleh pasien itu sendiri. Adapun rincian pembiayan rawat inap bagi
pasien itu sendiri sebagai berikut :

Tabel 1.10 Daftar Rincian Biaya Rawat Inap


Kelas III Kelas I
No. Jenis Pelayanan Sarana dan Sarana dan
Pelayanan Kebidanan Pelayanan Kebidanan
1. Tarif Ruangan/Pelayanan Rp. 45.000 Rp. 150.000
Tindakan sederhana
2.
- Injeksi Rp. 25.000 Rp. 30.000

89
Pengambilan sampel Darah
- DL Rp. 50.000 Rp. 55.000
- GDS Rp. 25.000 Rp. 30.000
- GDP Rp. 25.000 Rp. 30.000
- Pemasangan oksigen Rp. 10.000/Jam Rp. 15.000/Jam
Tindakan Kecil
3. - Huknah rendah Rp. 45.000 Rp. 50.000
- Suction Rp. - Rp. -
Tindakan Sedang
- Pemasangan IVFD Rp. 25.000 Rp. 30.000
4. - Transfusi darah Rp. 30.000 Rp. 42.000
- Pemasangan kateter Rp. 45.000 Rp. 50.000
- EKG Rp. 50.000 Rp. 55.000
Tindakan Keperawatan
- Self care Rp. 4.000 Rp. 8.000
- Partial care Rp. 5.000 Rp. 9.000
5. - Total care Rp. 7.000 Rp. 12.000
- Konsul gizi Rp. 15.000 Rp. 20.000
- Makanan umum Rp. 2.000 Rp. 7.000
- Makanan khusus Rp. - Rp. -
- Tarif O2/Strip Rp. 10.000/Jam Rp. 15.000/Jam
Untuk pembiayaan dalam ruang kebidanan sudah cukup yaitu terdapat
uang Gaji umumnya berlaku untuk tarif bayaran bulanan untuk pegawai tetap dan
honorer. Kemudian uang Jasa dan Jaga Malam.

Tabel 1.11 Daftar Gaji Perbulan Pegawai RSUD Toto Kabila

Golongan Gaji perbulan


- PNS Sesuai golongan
- Honorer D3 Rp. 950.000 /bulan
- Honorer D4 Rp. 1.050.000 /bulan
- jaga malam Bidan Rp. 40.000 /malam
- jaga malam administrasi Rp. -
- jasa perbulan untuk perawat Rp. 1.000.000 – 1.500.000 /bulan
(ket : di hitung sesuai jumlah pasien
perbulan )

Bedasarkan tabel diatas bahwa jumlah gaji PNS tetap di sesuaikan dengan
golongan, untuk honorer D3 dan D4 sebesar Rp.950.000/bulan dan

90
Rp.1.50.000/bulan, adapun uang jasa bidan biasanya mendapatkan uang sekitar ±
Rp. 1.000.000 – 1.500.000/bulan namun hal ini tak menentu tergantug dari jumlah
pasien perbulan. Sedangkan uang jaga malam Rp 40.000 /malam.

5. M5 Marketing dan Mutu Pelayanan


Marketing atau pemasaran merupakan salah satu langkah pengumpulan data
yang dilakukan untuk pengelolaan Manajemen di suatu Rumah Sakit.
Adapun data marketing yang didapat dari Ruang Kebidanan yaitu :
1. Mutu Pelayanan Kebidanan
Ruang kebidanan menerapkan upaya penjaminan mutu perawatan pasien,
dimana terdapat beberapa aspek penting terdapat didalamnya. Yaitu :
a. Meningkatkan Mutu Pelayanan
1. Kejadian Dekubitus :
Berdasarkan hasil wawancara dari bidan di ruangan Kebidanan
didapatkan bahwa Selama 3 bulan terakhir, tidak terdapat angka
kejadian dekubitus di ruangan Kebidanan.
2. Kematian pasien :
Berdasarkan data yang diperoleh dari bulan November - Desember
2017 NDR (Kematian pasien) diruang Kebidanan RSUD Toto
Kabila Kabupaten Bone Bolango didapatkan tidak ada pasien yang
mati > 48 jam, sedangkan jumlah pasien keluar (Hidup+Mati) adalah
445 pasien. Dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :
Tabel Distribusi Pasien Ruang Kebidanan
Rumah Sakit Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango

Jumlah Pasien Jumlah Pasien


No Periode NDR
Mati > 48 Jam (Hidup + Mati)
1 Oktober 0 173 0/173 x100% = 0%
2 November 0 155 0/155 x100% = 0%
3 Desember 0 117 0/117 x100% = 0%
Total 0 445 0%

Adapun menurut (DEPKES RI 2005) ideal untuk NDR yaitu standar


< 4.5 %, semakin rendah NDR suatu Rumah Sakit berarti mutu

91
pelayanannya semakin baik, sedangkan diruang Kebidanan RSUD
Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango didapatkan rata-rata ideal
untuk NDR adalah 0%, sehingga untuk ruang Kebidanan RSUD
Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango tergolong kategori Rendah.
b. Upaya Pengurangan Infeksi Nosokomial
1. Flebitis
Berdasarkan data laporan register Ruang Kebidanan didapatkan
bahwa tidak terdapat angka kejadian flebitis selama 3 bulan terakhir.
Hal ini dipengaruhi oleh adanya prosedur tetap yang digunakan oleh
bidan di ruangan dalam menentukan kejadian flebitis. Sehingga
bidan mampu meminimalisir kejadian flebitis pada pasien.
2. ILO (Infeksi Luka Operasi)
Berdasarkan data laporan register Ruang Kebidanan didapatkan
bahwa tidak terdapat angka kejadian infeksi luka operasi selama 3
bulan terakhir.
3. ISK (Infeksi Saluran Kemih)
Berdasarkan data laporan register Ruang Kebidanan didapatkan
bahwa tidak terdapat angka kejadian Infeksi Saluran Kemih akibat
INOS selama 3 bulan terakhir.
4. TB
Berdasarkan data laporan register Ruang Kebidanan didapatkan
bahwa tidak terdapat pasien dengan penyakit TB akibat INOS selama
3 bulan terakhir.
5. Pneumoia
Berdasarkan data laporan register Ruang Kebidanan didapatkan
bahwa tidak terdapat dengan penyakit Pneumonia akibat INOS
selama 3 bulan terakhir.
c. Indikator mutu
1. Tingkat Kepuasan Pasien
Kepuasan masyarakat merupakan faktor yang sangat penting dan
menentukan keberhasilan suatu badan usaha karena masyarakat

92
adalah konsumen dari produk yang dihasilkannya. Oleh karena itu,
pelayanan kesehatan harus dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan masyarakat agar dapat mencapai kepuasan masyarakat.
Sebab, apabila jika tenaga kesehatan tidak dapat memenuhi
kebutuhan dan kepuasan masyarakat akan menyebabkan
ketidakpuasan masyarakat yang mengakibatkan kesetiaan
masyarakat akan suatu pelayanan menjadi luntur.
Tingkat kepuasan pasien diruang Kebidanan RSUD Toto Kabila
Kabupaten Bone Bolango dapat dilihat dari hasil yang diperoleh
melalui Bidang Perencanaan RSUD Toto Kabila yang menunjukkan
tingkat Kepuasan Pasien selama 3 bulan terakhir sebagai berikut
pada bulan September sebanyak 95.05% , Oktober sebanyak 89.92%
dan pada bulan November sebanyak 91.87%. Presentase diatas
mengambarkan bahwa sebagian besar pasien yang ada diruang
Kebidanan merasa puas dengan pelayanan maupun tindakan
kebidanan yang diberikan. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara
dan observasi yang dilakukan selama pengkajian 1 minggu terakhir
sebagian besar pasien mengatakan merasa puas dengan pelayanan
dan perawatan di ruang Kebidanan RS Toto Kabila.
2. Keamanan pasien
Indikator penilaian keamanan pasien di ruang kebidanan dilihat
melalui 5 indikator dan berdasarkan data 3 bulan terakhir (Oktober,
November dan Desember)
- Jumlah KTD : Berdasarkan hasil wawancara tidak terjadi
KTD
- Kejadian Dekubitus : Berdasarkan data laporan register selama 3
bulan terakhir, tidak terjadi kejadian Dekubitus di ruang
Kebidanan.
- Flebitis : Flebitis didefinisikan sebagai peradangan
akut lapisan internal vena (PPNI, 2009) yang ditandai oleh rasa
sakit dan nyeri disepanjang vena, kemerahan, bengkak dan

93
hangat, serta dapat dirasakan disekitar daerah penusukan.
Penilaian flebitis berdasarkan skor VIP.
-
Tabel 1.12 Penilaian Flebitis
IV line Nampak sehat 0 Tidak ada tanda flebitis Obsevasi kanul
Terdapat salah satu tanda- 1 Mungkin tanda-tanda Observasi kanul
tanda berikut jelas : pertama flebitis
1. Sedikit nyeri dekat IV
Line
2. Sedikit kemerahan
dekat IV Line

Dua dari tanda berikut 2 Tahap awal flebitis Pindahkan kanul


ialah:
 Nyeri pada IV Line
 Kemerahan
 Pembengkakan

Semua tanda-tanda berikut 3 Tahap menengah flebitis Pindahkan kanul,


jelas: pertimbangkan
 Nyeri sepanjang kanul perawatan infeksi
 Kemerahan
 Pembengkakan

Semua tanda-tanda berikut 4 Tahap lanjut flebitis atau Pindahkan kanul,


adalah nyata: awal tromboflebitis pertimbangkan
 Nyeri sepanjang kanul perawatan infeksi
 Kemerahan
 Pembengkakan
 Vena teraba keras

94
Semua tanda-tanda berikut 5 Stadium lanjut Memulai
adalah nyata: tromboflebitis perawatan infeksi
 Nyeri disepanjang
kanul
 Kemerahan
 Pembengkakan
 Vena teraba keras
 Pireksia

Berdasarkan data laporan register yang diperoleh dari ruang


Kebidanan didapatkan bahwa tidak terdapat angka kejadian
flebitis selama 3 bulan terakhir. Hal ini disebabkan karena pada
ruang perawatan Kebidanan mempunyai prosedur tetap dalam
menentukan angka kejadian flebitis.
- Kejadian kesalahan pemberian obat :
Berdasarkan data yang diperoleh dari ruang Kebidanan
didapatkan bahwa Selama 3 bulan terakhir tidak terjadi kejadian
kesalahan dalam pemberian obat di ruang Kebidanan.
- Kejadian jatuh :
Berdasarkan data yang diperoleh dari ruang Kebidanan
didapatkan bahwa Selama 3 bulan terakhir tidak terjadi kejadian
pasien jatuh di ruang Kebidanan.
d. ALOS
Alos menurut Hufman (1994) adalah “ The Average
hospitalization stay of inpatient discharnged during the periode under
consideratio “. ALOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama
rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran
tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan,
apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang
perlu pengamatan lebih lanjut, secara umum nilai ALOS yang ideal
antara 6-9 hari (Depkes RI 2005).

95
ALOS = jumlah lama rawat Rata-Rata
Jumlah pasien keluar hidup + Mati

Jumlah lama rawat di Ruang Kebidanan sejak 3 bulan terakhir adalah :


1. Oktober : 587 hari
2. November : 531 hari
3. Desember : 389 hari
Sedangkan jumlah pasien sejak 3 bulan terakhir adalah :
1. Oktober : 173 pasien
2. November : 155 pasien
3. Desember : 117 pasien
Sehingga, hasil ALOS selama 3 bulan terakhir :
a. Oktober
= 587 hari = 3.39 hari ( 3 hari perawatan)
173 Pasien
b. November
= 531 hari = 3.42 hari ( 3 hari perawatan)
155 Pasien
c. Desember
= 389 hari = 3.32 hari ( 3 hari perawatan)
117 Pasien

Berdasarkan hasil perhitungan ALOS selama 3 bulan terakhir, diperoleh


rata-rata lamanya pasien dirawat di ruang Kebidanan adalah selama 3.37
hari atau 3 hari.
e. TOI
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat
tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator
ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan temapat tidur.
Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.

Rumus :

96
= (Jumlah tempat tidur x periode) – Hari perawatan
Jumlah pasien Keluar (hidup+ mati)

= (27 x 93) – 1.081


445
= 2.511 – 1.081
445
= 1.430
445
= 3.21 hari

= 3 hari

Jadi tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur dalam 3 bulan terakhir di


ruangan Kebidanan adalah 3 hari sehingga masuk dalam kategori Ideal.

C. Keselamatan Pasien (Pasien Safety)


Keselamatan pasien (patient safety) merupakan suatu variable untuk
mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan kebidanan yang berdampak
terhadap pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil analisis dari kuesioner
pengetahuan bidan tentang penerapan Patient Safety didapatkan mencapai
100%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan bidan sudah baik
dalam menerapkan Patient Safety di Rumah Sakit. Selain itu, Berdasarkan
hasil lembar observasi penerapan International Patient Safety Goals
diketahui melalui 5 sasaran berikut yang didapatkan bahwa:
a. Sasaran I : Ketepatan Identifikasi Pasien
Berdasarkan hasil wawancara melalui kuisioner yang dilakukan pada
bidan di ruang Kebidanan didapatkan bahwa ketepatan identifikasi
pasien ini dapat dilihat dari sebagian besar bidan memantau/ memastikan
identifikasi pasien yang meliputi nama dan tanggal lahir melalui
penggunaan gelang (100%), bidan mengidentifikasi pasien yang beresiko
dari warna gelang (75%), bidan mengidentifikasi pasien sebelum
melakukan tindakan prosedural (100%), bidan mengidentifikasi pasien

97
dengan benar sebelum memberikan obat, darah/produk darah (87.5%)
serta bidan menggunakan injeksi sekali pakai pada pasien (100%). Selain
itu, Identifikasi pasien di ruang Kebidanan juga didapatkan dari laporan
status pasien dan hasil operan antar shift yang meliputi nama pasien,
diagnosa, dan tindakan yang sudah maupun yang akan dilakukan.
Menurut (Nursalam, 2011) Ketepatan identifikasi pasien meliputi
standar berikut :
1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh
menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien
2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk
darah.
3. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan specimen lain
untuk pemeriksaan klinis (lihat juga).
4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan
atau prosedur
5. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik identifikasi yang
konsisten pada semua situasi dan lokasi.
b. Sasaran II : Peningkatan komunikasi yang efektif
Berdasarkan hasil wawancara melalui kuisioner yang dilakukan pada
bidan di ruang Kebidanan didapatkan bahwa komunikasi antara bidan
dan pasien sudah mencapai 72.5%. Dimana, bidan di ruangan senantiasa
memberikan penjelasan tindakan yang akan dilakukan (87.5%) , bidan
memberikan asuhan kebidanan yang melibatkan pasien dan keluarga
(62.5%) , bidan membacakan kembali perintah lengkap lisan dan telepon
yang diterima (87.5%) serta bidan menuliskan kembali perintah lengkap
dan telepon yang diterima (87.5%). Namun setelah dianalisis melalui
kuisioner, bidan di ruangan masih kurang dalam melakukan serah terima
pasien dengan melibatkan pasien itu sendiri dengan presentase (37.5%).
Komunikasi serah terima pasien adalah proses pengalihan informasi dan
tanggung jawab perawatan pasien dari satu petugas kesehatan ke petugas
kesehatan lainnya.

98
Menurut (Nursalam, 2011) Peningkatan komunikasi yang efektif dapat
dilakukan dengan beberapa cara :
1. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan
dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah atau hasil
pemeriksaan tersebut
2. Perintah lisan dan melalui telepon atau hasil pemeriksaan secara
lengkap dibacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil
pemeriksaan tersebut
3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang
memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut
4. Kebijakan dan prosedur mendukung paraktik yang konsisten dalam
melakukan verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi lisan melaui
telepon
Pada ruangan Kebidanan diperlukan peningkatan komunikasi dalam
melakukan serah terima pasien. Dimana, pertemuan antara bidan dan
bidan diruangan bertujuan untuk membahas peningkatan komunikasi
yang lebih efektif. Hal ini diperlukan karena komunikasi merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan keamanan pasien dan membuat
pasien nyaman karena perawat mengetahui keadaan pasien. Serah terima
pasien diperlukan untuk melaporkan kondisi pasien pada shift
selanjutnya. Adapun jenis komunikasi yang dilakukan di RS yakni, read
back dan repeat back. Read back dapat dilakukan dengan menulis dan
membacakan kembali pesan yang diterima sedangkan, repeat back dapat
dilakukan dengan mengulang kembali apa yang dipesankan kemudian
ditulis.
c. Sasaran III : Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (High-
alert medication)
Berdasarkan hasil wawancara melalui kuisioner yang dilakukan pada
bidan di ruang Kebidanan didapatkan keamanan obat di ruang
Kebidanan mencapai 77.5%. Hal ini dapat dilihat dari,tindakan bidan
yang memberikan label pada obat yang beresiko tinggi (75%), bidan

99
memberikan obat pada pasien dengan memperhatikan prinsip 6 Benar
(Benar pasien, Benar obat, Benar Dosis, Benar Cara/ rute, benar waktu,
benar dokumentasi) (100%) serta bidan mendokumentasikan setiap
tindakan pemberian obat pada pasien (100%). Namun, untuk
penyimpanan obat resiko tinggi (High-alert) bidan di ruangan tidak
memiliki tempat penyimpanan yang aman/ area yang dibatasi. Hal ini
dipengaruhi oleh tidak tersedianya tempat penyimpanan obat High-alert
di ruangan Kebidanan.
Menurut (Nursalam, 2011) Peningkatan keamanan obat yang perlu
diwaspadai (High-alert medication) yakni :
1. Kebijakan dan atau prosedur dikembangkan untuk mengatur
identifikasi, lokasi, pemberian label, dan penyimpanan obat-obat
yang perlu diwaspadai
2. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan
3. Elektrolit konsentrat tidak berada diunit pelayanan pasien kecuali
jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah
pemberian yang tidak sengaja di area tersebut, bila diperkenankan
kebijakan.
4. Elektrolit konsentrat yang disimpan diunit pelayanan pasien diberi
label yang jelas dan disimpan dengan cara membatasi akses ( restrict
acces)
d. Sasaran V : Pengurangan Resiko Infeksi terkait pelayanan kesehatan
Berdasarakan hasil wawancara melalui kuisioner yang dilakukan pada
bidan di ruang Kebidanan didapatkan bahwa pencegahan resiko infeksi
di ruang Kebidanan mencapai 95%. Hal ini dapat dilihat dari tindakan
bidan yang mencuci tangan dengan menggunakan air mengalir maupun
dengan gel (100%), bidan menggunakan panduan Hand Hygiene
(100%), bidan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
(87.5%) serta bidan menggunakan injeksi sekali pakai pada pasien
(100%). Selain itu, berdasarkan observasi bidan di ruangan senantiasa
menggunakan APD dalam melakukan prosedur tindakan. Namun, pada

100
ruangan Kebidanan diperlukan poster SOP tambahan yang bertujuan
untuk meminimalisir kesalahan dalam melakukan tindakan invasif.
Menurut (Nursalam, 2011) pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan dapat dilakukan dengan :
1. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman Hand Hygiene
terbaru yang baru baru ini diterbitkan dan sudah diterima secara
umum (antar lain dari WHO Patient Safety)
2. Rumah sakit menerapkan program Hand Hygiene yang efektif
3. Kebijakan dan atau prosedur dikembangkan untuk mendukung
pengurangan secara berkelanjutan resiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan
e. Sasaran VI : Pengurangan Resiko Pasien Jatuh
Berdasarakan hasil wawancara melalui kuisioner yang dilakukan pada
bidan di ruang Kebidanan didapatkan bahwa Pengurangan Resiko Jatuh
di ruang Kebidanan mencapai 85%. Hal ini dapat dilihat dari adanya
tindakan bidan yang memasang pengaman tempat tidur pasien dan rem
tempat tidur (100%), bidan senantiasa memperhatikan lantai yang licin,
penerangan cukup dan hal-hal yang memungkinkan pasien jatuh (87.5%)
serta untuk penggunaan form pengkajian pasien resiko jatuh (75%).
Selain itu, saat dilakuan observasi didapatkan adanya form pengkajian
resiko jatuh di ruangan Kebidanan. Namun, berdasarkan hasil
wawancara melalui penanggung jawab ruang Kebidanan menyatakan
bahwa penggunaan form pengkajian resiko jatuh hanya digunakan pada
pasien yang saat diobservasi memiliki resiko besar untuk mengalami
jatuh. Sehingga, form untuk ruangan Kebidanan RS Toto Kabila hanya
digunakan pada pasien yang beresiko jatuh. Menurut (Nursalam, 2011)
Pengurangan resiko pasien jatuh dapat dilakukan dengan:
1. Rumah sakit menerapkan proses assessment awal resiko pasien
jatuh dan melakukan pengkajian ulang terhadap pasien bila
diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.

101
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi resiko jatuh bagi
mereka yang pada hasil assessment dianggap beresiko
3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya baik tentang keberhasil
penurangan cedera akibat jatuh maupun dampak yang berkaitan
secara tidak sengaja.
4. Kebijakan dan atau prosedur mendukung pengurangan
berkelanjutan dari resiko cedera pasien akibat jatuh di rumah sakit

102
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Belum Optimalnya Timbang Terima


Operan/ handover adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima
sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien (Nursalam, 2011).
Hand over juga meliputi mekanisme transfer informasi yang dilakukan,
tanggung jawab utama dan kewenangan bidan dari bidan sebelumnya ke bidan
yang akan melanjutkan perawatan.
Berdasarkan hasil observasi tanggal 8-10 Januari 2018, kegiatan operan (hand
over) di ruang nifas RSTK sudah dilakukan setiap pergantian shift dan diikuti
oleh semua bidan yang bertugas pada masing-masing shift. Berdasarkan data
pengkajian melalui kuesioner, observasi dan wawancara didapatkan hasil,
Operan shift dan pengaturan di ruangan, tiap harinya terbagi menjadi 3 shift,
yaitu shift pagi dari jam 08.00 – 14. 00 WITA, shift sore dari jam 14.00 – 21.00
WITA dan shift malam dari jam 21.00 – 08.00 WITA. Berdasarkan hasil
kuesioner, 100% bidan di ruangan melaksanakan operan tetapi belum maksimal.
Sebanyak 37,5% bidan belum mengetahui tekhnik pelaksanaan operan , seperti :
teknik pelaporan operan di depan pasien, kehadiran bidan saat melakukan operan
dan waktu pelaksanaan operan.
Setelah dilakukan implementasi oleh mahasiswa Profesi Ners UNG
diruangan nifas RSUD Toto Kabila, dengan melakukan sosialisasi bersama
penanggung jawab ruangan dan beberapa bidan yang ada diruangan mengenai
teknik pelaksanaan operan dan SOP pelaksanaan operan yang sesuai, didapatkan
bahwa bidan-bidan mulai menerapkan teknik pelaksanaan operan yang sesuai
terutama teknik pelaporan operan di depan pasien, yang sebelumnya jarang atau
bahkan tidak pernah dilakukan karena selama ini teknik pelaporan operan
kebanyakan hanya dilakukan di midwife station saja.

103
4.2 Belum Tersedianya Brosur Atau leaflet
Perencanaan pulang adalah suatu proses yang dinamis dan sistematis dari
penilaian, persiapan, serta koordinasi yang dilakukan untuk memberikan
kemudahan pengawasan pelayanan kesehatan dan pelayanan social sebelum dan
sesudah pulang. Tujuan perencaan pulang : membantu pasien dan keluarga
untuk dapat memahami permasalahan, pencegahan yang harus ditempuh
sehingga dapat mengurangi angka kambuh dan penerimaan kembali dirumah
sakit dan terjadi pertukaran informasi antara pasien sebagai penerima pelayanan
dengan keperawatan dari pasien masuk sampai masuk rumah sakit.
Berdasarkan hasil kuesioner sebanyak 100% bidan mengerti dengan
perencanaan pulang, bidan bersedia melakukan perencanaan pulang.Dari hasil
observasi belum tersedianya brosur atau leaflet yang diberikan pada pasien saat
pulang.
Setelah dilakukan implementasi oleh mahasiswa Profesi Ners UNG diruangan
nifas RSUD Toto Kabila selama 1 minggu yaitu melakukan sosialisasi mengenai
discharge planning dan mengadakan leaflet mengenai cara menyusui yang baik
dan benar, manfaat asi, menjaga bayi tetap hangat (metode kanguru), serta
membuat flipchart mengenai perawatan luka post sc dan perawatan luka
perineum sehingga diharapkan bidan diruangan nifas dapat maksimal dalam
proses discharge planning ke pasien.

4.3 Belum Dilakukannya Serah Terima Pasien Yang Melibatkan Pasien Di


Ruangan
Komunikasi serah terima pasien adalah proses pengalihan informasi dan
tanggung jawab perawatan pasien dari satu petugas kesehatan ke petugas
kesehatan lainnya.
Berdasarkan hasil wawancara melalui kuisioner yang dilakukan pada bidan di
ruang Kebidanan didapatkan bahwa komunikasi antara bidan dan pasien sudah
mencapai 72.5%. Dimana, bidan di ruangan senantiasa memberikan penjelasan
tindakan yang akan dilakukan (87.5%) , bidan memberikan asuhan kebidanan
yang melibatkan pasien dan keluarga (62.5%) , bidan membacakan kembali

104
perintah lengkap lisan dan telepon yang diterima (87.5%) serta bidan menuliskan
kembali perintah lengkap dan telepon yang diterima (87.5%). Namun setelah
dianalisis melalui kuisioner, bidan di ruangan masih kurang dalam melakukan
serah terima pasien dengan melibatkan pasien itu sendiri dengan presentase
(37.5%).
Hasil implementasi yang dilakukan oleh mahasiswa profesi Ners UNG
selama 1 minggu yaitu dengan melakukan sosialisasi dan melakukan role play
tentang serah terima pasien, didapatkan bidan-bidan diruangan nifas melakukan
serah terima pasien sudah mulai sesuai prosedur. Misalnya saat bidan melakukan
serah terima pasien dari ruang vk ke ruang nifas, sebelumnya bidan dari ruang vk
menginformasikan ke ruang nifas untuk bersiap-siap menerima pasien. Pasien
diantar ke ruang nifas oleh 1 orang bidan dengan menggunakan kursi roda. Serah
terima dilakukan oleh bidan vk yang memindahkan kepada penanggung jawab
yaitu bidan yang ada diruang nifas. Informasi serah terima meliputi : identitas
pasien minimal nama lengkap dan rekam medik pasien dan diagnosis
kerja/diagnosis masuk yang dibuat oleh dokter.

4.4 Belum Optimalnya Ronde Dan Pre Post Conference


Ronde adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan
pasien yang dilaksanakan oleh bidan selain melibatkan pasien untuk membahas
dan melaksanakan asuhan kebidanan. Pada kasus tertentu harus dilakukan oleh
bidan, atau konselor, kepala ruangan, bidan pelaksana yang perlu juga melibatkan
seluruh anggota tim kesehatan. Ronde mempunyai tujuan untuk menyelesaikan
masalah pasien melalui pendekatan berprikir kritis (Nursalam,2012).
Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi bahwa ronde di ruang Nifas
belum pernah dilakukan. Dan sebanyak 100% tidak mengetahui tentang ronde.
Penyelesaian masalah atau kasus kompleks di ruangan nifas hanya dilakukan
dengan cara diskusi antara bidan-bidan dan dokter yang dilakukan di midwife
station.
Setelah dilakukan implementasi oleh mahasiswa Profesi Ners UNG diruangan
nifas RSUD Toto Kabila selama 1 minggu yaitu dengan melakukan sosialisasi

105
mengenai ronde dan melakukan role play dan dari hasil observasi, pelaksanaan
kegiatan ronde yang dilakukan oleh mahasiswa Profesi Ners UNG hanya dihadiri
oleh bidan-bidan nifas dan sebagian bidan lain belum mengikuti kegiatan ronde
karena masih menyelesaikan laporan, sehingga untuk pelaksanaan ronde belum
optimal.

4.5 Belum Lengkapnya Fasilitas Dan Alat Kesehatan Untuk Pasien Diruang
Perawatan
Berdasarkan hasil wawancara pada bidan yang berada di ruangan, 83% bidan
mengatakan untuk kelengkapan sarana dan prasarana di ruangan masih sangat
kurang terutama untuk alat-alat misalanya tabung oksigen, dopler, standar infus
diruangan dan lain-lain, untuk fasilitas pasien masih belum adanya kipas angin,
sampiran disetiap ruangan pasien sedangkan untuk fasilitas petugas kesehatan
bidan mengatakan masih belum adanya ruangan sendiri untuk kepala ruangan dan
untuk staf dokter.
Berdasarkan hasil implementasi yang dilakukan oleh Mahasiswa Profesi Ners
didapatkan sudah terdapat alat komunikasi diruangan berupa HT, yang digunakan
untuk berkomunikasi dengan ruangan lain, tetapi untuk beberapa sarana dan
prasarana lainnya menurut bagian sarana dan prasarana mengatakan untuk kursi
roda, brancart di beberapa ruangan sudah ada di rumah sakit, hanya tinggal
menunggu pasien di ruangan tidak terlalu banyak sehingga untuk penggantian
sarana dan prasarana dapat dilaksanakan tanpa mengganggu ketenangan pasien.
Berdasarkan hasil diskusi dengan bidan ruangan untuk alat-alat kesehatan itu
akan tetap diadakan begitu pula dengan peralatan medis lainnya seperti tabung
oksigen dan standar infus akan ditambahkan juga.

106
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan
sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk
pengambilan keputusan yang berfokus pada klien. Manajemen kebidanan
menyangkut pemberian pelayanan yang utuh dan menyeluruh dari kepada
kliennya, yang merupakan suatu proses manajemen kebidanan yang
diselenggarakan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas melalui tahapan-
tahapan dan langkah-langkah yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan
data, memberikan pelayanan yang benar sesuai dengan keputusan tindakan klinik
yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien (Qomariah,2012).
Dari hasil pengkajian yang dilakukan mahasiswa profesi ners UNG
didapatkan beberapa masalah manajemen diruang kebidanan khususnya ruang
nifas di Rumah Sakit Toto Kabila diantaranya yaitu : Belum lengkapnya fasilitas
dan alat kesehatan untuk pasien diruang perawatan, Belum optimalnya timbang
terima, Belum Optimalnya Ronde dan pre post conference, Belum tersedianya
Brosur atau leaflet, Belum di lakukannya serah terima pasien yang melibatkan
pasien diruangan.

5.2 SARAN
Sebaiknya untuk semua masalah yang didapatkan terutama pada bagian M3-
Method perlu diprioritaskan oleh pihak rumah sakit guna untuk meningkatkan
mutu pelayanan yang professional / sesuai SOP, dan diharapkan untuk peneliti/
mahasiswa manajemen selanjutnya dapat menjadikan pembahasan diatas sebagai
acuan dalam melaksanakan fungsi manajemen di RSUD Toto Kabila khususnya
diruang kebidanan.

107
Daftar Pustaka

Departemen kesehatan RI. 2007. Pedomaan Teknis Sarana Dan


Prasarana Rumah Sakit Kelas C. Ditjen Bina Pelayanan Medik.

Depkes RI. 2012. pelayanan keperawatan di rumah sakit

Depkes. 2004. Standar fasilitas pasien di ruang kebidanan

Gustini. 2010. Manajemen keperawatan suatu pendekatan sistem edisi


kedua

Husein, 2003. Kepemimpinan dan perilaku organisasi. Bandung :


Alfabeta

Ilyas,2004 pelayanan kesehatan di rumah sakit. E-Library.Stikes nani


Hasanuddin.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Instrumen evaluasi


penerapan standar asuhan keperawatan di rumah sakit.

Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan.Ed. 3. Jakaata : EGC

Nursalam. 2015. Manajemen Keperawatan.Ed. 5. Jakaata : EGC

NursMuninjaya, A.A. Gde. 2004. Manajemen Kesehatan. Ed. 2. Jakarta:


EGC

Sitorus, Ratna Dr. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional di


Rumah Sakit. Jakarta :EGC

Triwibowo, Cecep. 2013. Manajemen Pelayanan Keperawatan di Rumah


Sakit. Jakarta: TIM

Qomariah. 2012. Manajemen dalam kebidanan. Jakarta : Trans Info


Media.

Wibowo. 2010. Bidan di dalam prakteknya secara professional.


Yogyakarta : BPFE

108