Anda di halaman 1dari 8

Lampiran

Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto


Nomor : 046/SK/DOR/I/2013
Tanggal : 17 Januari 2013
Tentang : Kebijakan Penangana Kasus Mediko-legal

KEBIJAKAN PENANGANAN KASUS MEDIKO-LEGAL


RUMAH SAKIT MUTIARA HATI MOJOKERTO

I. PENDAHULUAN
Rumah sakit memiliki fungsi utama memberikan perawatan dan pengobatan yang
sempurna kepada pasien. Rumah Sakit juga merupakan sebuah lembaga profesi yang
mempunyai tanggungjawab kepada pasien dan masyarakat. Sementara itu, di dalam profesi
berlaku norma etika dan hukum, maka kesalahan praktek (malpraktek) juga merupakan
permasalahan yang memerlukan pengaturan dan penyelesaian tersendiri, yang akhirnya juga
harus mengacu pada ketentuan hukum positif. Oleh karena itu, diperlukan suatu kebijakan
berkaitan dengan penanganan kasus mediko-legal di Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto,
guna peningkatan mutu pelayanan secara menyeluruh dan profesional.

II. TUJUAN
1. Melaksanakan tanggungjawab RS Mutiara Hati Mojokertoterhadap pelayanan medis
sesuai ketentuan hukum yang berlaku;
2. Sebagai upaya perbaikan mutu pelayanan RS Mutiara Hati Mojokertokepada pasien dan
masyarakat;
3. Sebagai upaya perlindungan hukum terhadap pasien, tenaga medis dan rumah sakit
sesuai dengan hak dan kewajibannya masing-masing.

III. SASARAN
Kebijakan ini berlaku bagi :
1. Tenaga medis RS Mutiara Hati Mojokerto;
2. Tenaga keperawatan RS Mutiara Hati Mojokerto

1
3. Pihak-pihak yang terkait.

IV. ISI KEBIJAKAN


Setiap permasalahan yang berkaitan dengan dugaan malpraktek di RS Mutiara Hati
Mojokerto pertama kali segera dilaporkan kepada Direktur Rumah Sakit, kemudian Direktur
membahas dan mengkategorikan permasalahan apakah termasuk dalam lingkup medikolegal
atau bukan. Penanganan kasus mediko-legal di RS Mutiara Hati Mojokerto dikategorikan
dalam empat jenis yaitu :
A. Penanganan Etichal malpractice (pelanggaran etik profesi) :
1. Pelanggaran etik/ethichal malpractice meliputi pelanggaran terhadap kode etik
profesi dokter, perawat, bidan dan penunjang medis lain sesuai profesinya.
2. Penanganan Ethical malpractice diserahkan kepada panitia etik profesi RS Mutiara
Hati Mojokerto berkoordinasi dengan Panitia Etik Rumah Sakit dan Hukum
3. Pelanggaran etik/ethichal malpractice yang masuk dalam lingkup yudicial
malpractice oleh Panitia Etik penanganannya harus diserahkan kepada petugas
Rumah Sakit yang diberi kewenangan. Kemudian Direktur yang memutuskan
penanganan berikutnya.
4. Untuk menentukan ada/ tidaknya pelanggaran etik kedokteran, Panitia Etik dapat
meminta pendapat ahli dari Majelis Kehormatan Etik (MKE) masing-masing
profesi, sebelum membuat kesimpulan

B. Penanganan Criminal malpractice (pelanggaran pidana) :


1. Criminal malpractice meliputi :
(a) Melakukan aborsi tanpa indikasi medis;
(b) Melakukan euthanasia;
(c) Membocorkan rahasia kedokteran
(d) Tidak melakukan pertolongan terhadap seseorang yang sedang dalam keadaan
emergensi/ darurat meskipun tahu bahwa tidak ada dokter lain yang akan
menolongnya
(e) Menerbitkan surat kedokteran yang tidak benar
(f) Melakukan tindakan medis yang tidak lege artis

2
(g) Melakukan tindakan dibawah standar/tidak sesuai standar sehingga
mengakibatkan luka/cacat/meninggal dunia pasien
(h) Melakukan tindakan medis tanpa informed consent
(i) Alpa atau kurang hati-hati sehingga mengakibatkan resiko yang lebih tinggi
pada pasien
(j) Alpa atau kurang hati-hati sehingga pasien menderita luka-luka/ cacat/
meninggal dunia
2. Penanganan Criminal malpractice ditangani oleh Bagian Administrasi, Komite
Medis, Panitia Etik Rumah Sakit dan Hukum serta Direksi sebelum diserahkan
penanganannya kepada pihak yang berwenang.
3. Pada criminal malpractice tanggungjawab bersifat pribadi, yaitu pada tenaga medis
yang melakukan. Tanggungjawab tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau
kepada Rumah Sakit.
4. Penerapan sanksi / hukuman sesuai ketentuan hukum positif akan diserahkan kepada
aparat penegak hukum yang berwenang.

C. Penanganan Civil malpractice (pelanggaran perdata) :


1. Tindakan dokter/perawat yang dapat dikategorikan Civil malpractice antara lain :
(a) Tidak melakukan (negative act) apa yang menurut kesepakatan dengan pasien
wajib dilakukan
(b) Melakukan (positive act) apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan tetapi
terlambat
(c) Melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna
(d) Melakukan apa yang menurut kesepakatan tidak seharusnya dilakukan.
2. Penanganan Civil malpractice menjadi diproses Bagian Administrasi, Komite
Medis, Panitia Etik Rumah Sakit dan Hukum serta Direksi.
3. Setiap penyelesaian civil malpractice diupayakan semaksimal mungkin dengan
upaya musyawarah dengan pihak pasien/keluarganya, sehingga lebih efisien
waktu,biaya dan tenaga serta diharapkan diperoleh penyelesaian yang sama-sama
menguntungkan.

3
4. Setiap tanggunggugat civil malpraktek yang dibebankan kepada RS Mutiara Hati
Mojokerto harus dapat dibuktikan bahwa tindakan yang dilakukan dokter/tenaga
medis tersebut dalam rangka melaksanakan kewajiban Rumah Sakit, namun apabila
karena kesalahannya sendiri maka ditanngung secara pribadi oleh yang
bersangkutan;

D. Penanganan Administratif malpractice (pelanggaran administrasi) :


1. Pelanggaran administrasi meliputi :
(a) Menjalankan praktek kedokteran/keperawatan/kebidanan tanpa lisensi/ijin
(b) Melakukan tindakan medis yang tidak sesuai lisensi/ijin yang dimiliki
(c) Melakukan praktek dengan menggunakan lisensi atau ijin yang sudah
kedaluwarsa
(d) Tidak membuat/ mengisi rekam medis.
2. Penanganan Administratif malpractice ditangani Bagian Administrasi, Komite
Medis, Panitia Etik Rumah Sakit dan Hukum serta Direksi.
3. Penanganan kasus pelanggaran administrasi akan dilakukan upaya musyawarah
dengan tenaga yang bersangkutan guna upaya penyelesaian dan/atau perbaikan

E. Kebijakan yang terkait dengan pelanggaran hukum :


Apabila dari kejadian/ diskusi dan analisa masalah bukan merupakan pelanggaran
etik tetapi merupakan pelanggaran hukum murni, Direktur Rumah Sakit Mutiara Hati
Mojokerto dapat menempuh jalan hukum sebagai berikut :
1. Bila pelanggaran berkaitan dengan bidang hukum perdata, maka pihak atau
kuasanya dapat memprosesnya melalui jalur hukum perdata dengan mengajukan
gugatan perdata kepada yang diadukan sebagai pihak tergugat.
2. Bila pelanggaran berkaitan dengan bidang hukum pidana, maka pengadu atau
kuasanya dapat memproses melalui laporan kepada kepolisian, agar POLRI
selanjutnya dapat melangkah/ menindaklanjuti dengan tahap penyelidikan dalam
rangka mengumpulkan barang bukti atas kebenaran laporan tersebut.
3. Dalam hal butir 2 (dua), POLRI harus menjalankan tugasnya sesuai dengan
prosedur penanganan perkara pidana yang diatur oleh Kitab Undang-Undang

4
Hukum Acara Pidana (KUHP, UU No. 8 tahun 1981) dan dalam hal demikian
Direktur Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto membantu sejauh mungkin sesuai
dengan batas-batas kewenangan yang diberikan kepadanya oleh hukum.
4. Bilamana terbukti bahwa tenaga/perawat/mahasiswa/perorangan yang diduga
melanggar hukum tersebut ada kaitannya/ disebabkan karena adanya kekurangan
yang berada dibidang pengelolaan/ manajemen Rumah Sakit Mutiara Hati
Mojokerto, maka bagian yang ditugaskan untuk bidang tersebut oleh Direktur
Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto ikut bertanggung jawab
5. Bilamana pelanggaran hukum tersebut tidak disebabkan karena segi pengelolaan
Rumah sakit, Direktur Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto dapat mengusulkan
kepada instansi atasan langsung dari yang bersangkutan, agar yang bersangkutan
untuk sementara waktu di non-aktifkan dari tugasnya.
6. Bilamana pelaku/ pelanggar hukum tersebut oleh pengadilan tingkat pertama
dinyatakan bersalah telah melanggar norma hukum yang didakwakan kepadanya,
Direktur Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto dapat mengajukan permohonan
pemberhentian untuk sementara atau seterusnya kepada instansi atasan langsung
yang bersangkutan.
7. Instansi atasan langsung dari pelaku/pelanggar hukum tersebut berdasarkan
permohonan Kepala Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto, menerbitkan Surat
Keputusan Pemberhentian sementara atau tetap terhadap yang bersangkutan, dan
Direktur Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto harus diberikan tindasannya untuk
pelaksanaannya.
8. Keputusan dalam butir 7 (tujuh) tersebut baru dapat diproses pelaksanaannya, bila
pelaku/ pelanggar hukum yang bersangkutan tidak mengajukan banding atau kasus
atas keputusan pengadilan tingkat pertama tersebut, karena putusan tersebut belum
dapat mempunyai kekuatan hukum yang mengikat untuk dilaksanakan.

5
V. ALUR PENANGANAN KASUS MEDIKOLEGAL
Alur Penanganan Kasus Mediko-legal RS Mutiara Hati Mojokerto

Pengaduan pasien terkait kesalahan


medis/ dugaan malpraktek

Diadukan melalui : perawat ruangan/


Humas RS / Unit lain

Tidak termasuk
Kasus Mediko- DIREKTUR RS kesalahan medis /
legal malpraktek (hanya
kesalahpahaman
HPAHAMAN)

PELANGGARAN JUDICIAL MALPRAKTIK ADMINISTRASI Klarifikasi dengan pasien


ETIK PROFESI (CRIMINAL & CIVIL ) MALPRAKTEK dan /atau keluaraga

Panitia Etik Profesi Direksi , KomDis / KomKep, Bag. KomDis / KomPer, Bag. Adm
RS Penyelesaian secara
Adm RS & Pan. Etik RS/Hukum RS & Pan. Etik RS & Hukum
damai / kekeluargaan
Penyelesaian intern /
klarifikasi dgn Criminal Malpraktik Civil / Perdata Malpraktik
mendatangkan pengadu, Musyawarah dengan
teradu dan saksi tenaga ybs, dan
diwajibkan untuk segera
RINGAN : Musyawarah dengan memenuhi ketentuan
Musyawarah / Damai pasien / keluarganya administrasi yang
Hasil dilaporkan
Direksi berlaku

BERAT : Diserahkan ke Jika terbukti bersalah, maka


Pembinaan /
pihak yang berwajib ada pemberian ganti rugi
sanksi etik

RINGAN : Bila disebabkan kesalahan Bila disebabkan kesalahan tenaga kesehatan


Intern RSMH prosedur RS : ganti rugi sendiri : ganti rugi dibebankan pada tenaga medis
dibebankan ke RS yang bersangkutan

BERAT :
Organisasi DOKTER ORGANIK RS
DOKTER MITRA
Profesi

Tanggungjawab bersifat pribadi RSMH mengusahakan bantuan hukum

Pembersihan Nama Baik RSMH


6

PEMBERSIHAN NAMA
BAIK RSML
7
8