Anda di halaman 1dari 9

TUGAS

ANALISIS EPIDEMIOLOGI

“DERMATOFITOSIS”

DISUSUN OLEH :

SITTI NURHASTIAWATI (K1A116075)

ZUHDI AZYUMAR DHINI (K1A116076)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2019
BAB I

PENDAHULUAN

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastik dan
sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis kelamin, ras dan juga sangat
bergantung pada lokasi tubuh. Penyakit kulit dapat disebabkan oleh jamur, virus, kuman,
parasit hewani dan lain-lain.

Penyakit infeksi jamur, masih memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia,
mengingat negara kita beriklim tropis yang mempunyai kelembapan tinggi. Pada zaman
sekarang ini, dengan berkembangnya kebudayaan dan perubahan tatanan hidup dari
waktu ke waktu, sedikit banyak mempengaruhi pola penyakit. Data epidemiologis
menunjukkan bahwa penyakit kulit karena jamur superfisial (dermatomikosis
superfisialis) merupakan penyakit kulit yang banyak dijumpai pada semua lapisan
masyarakat, baik di pedesaan maupun perkotaan, tidak hanya di negara berkembang
tetapi juga di negara maju. Insidensi dermatomikosis di berbagai rumah sakit pendidikan
dokter di Indonesia menunjukkan angka persentase yang bervariasi.

Dermatofita merupakan golongan jamur yang melekat dan tumbuh pada jaringan
keratin, jamur menggunakan jaringan keratin sebagai sumber makanannya. Jaringan
yang mengandung keratin ialah jaringan seperti stratum korneum kulit, kuku, dan rambut
pada manusia. Kemungkinan besar terjadinya infeksi pada daerah tersebut pada
manusia. Selain menyerang jaringan keratin pada manusia dermatofita juga menyerang
kulit hewan, sehingga penularan jamur dermatofita dapat terjadi jika berkontak dengan
hewan yang terinfeksi.1 Saat sekarang ini sudah ditemukan 41 spesies dermatofita,
terdiri dari 17 spesies Microsporum, 22 spesies Trichophyton, 2 spesies Epidermophyton.

Pertumbuhan jamur sangat mudah sesuai dengan kecocokan dengan sel inang
dan lingkungannya. Pada umumnya jamur tumbuh dan berkembang baik pada
lingkungan dengan suhu 250C -280C begitu juga dengan dermatofita. Selain faktor
lingkungan, infeksi pada kulit manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti; higiene
individu yang rendah, tempat tinggal atau pemukiman yang padat, pakaian yang tidak
menyerap keringat, atau bagian tubuh yang sering tertutup lama oleh pakaian, sepatu,
maupun topi. Biasanya infeksi jamur sering terjadi pada populasi dengan tingkat
sosioekonomi yang rendah, hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan dan sikap
individual terhadap resiko timbulnya infeksi dan transmisi dari jamur.

Penegakan diagnosis dermatofitosis pada umumnya dilakukan secara klinis,


dapat diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan pemeriksaan dengan
lampu Wood pada spesies tertentu.
BAB II

PEMBAHASAN

A. EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF :DISTRIBUSI PRAVALENSI menurut,


1. Orang
Pasien dermatofitosis di Divisi Mikologi URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin
RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2014 terbanyak pada kelompok umur
45-64 tahun yaitu sebanyak 55 pasien (29,9%), diikuti kelompok umur 25-44
tahun sebanyak 46 pasien (25%). Jenis kelamin yang terbanyak adalah
perempuan, 97 pasien (52,7%) dibandingkan laki-laki.
2. Tempat
Insidensi dermatomikosis di berbagai rumah sakit pendidikan dokter di
Indonesia menunjukkan angka persentase yang bervariasi mulai dari yang
terendah yaitu di Kota Semarang (2,93%), Kota Surabaya (4,8%), Kota
Padang (27,6), Kota Surakarta (82,6 %).
3. Waktu
Penelitian World Health Organization (WHO) terhadap insiden dari infeksi
dermatofit menyatakan 20% orang dengan seluruh dunia mengalami infeksi
kutaneus dan infeksi tinea korporis merupakan tipe yang paling dominan dan
diikuti dengan tinea kruris, pedis, dan onychonychosis. Penelitian
dermatofitosis di Divisi mikologi URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr.
Soetomo Surabaya dalam kurun waktu 3 tahun, jumlah kasus baru
dermatofitosis di Divisi Mikologi dibandingkan dengan keseluruhan kasus baru
ditemukan persentase sebesar 78,3% (2014), 62,2% (2015), dan 72,3%
(2016).
B. EPIDEMIOLOGI ANALITIK :
1. Determinan Faktor Resiko
Dermatofitosis dipengaruhi oleh banyak faktor, beberapa faktor predisposisi
yang menyebabkan infeksi ini adalah personal hygiene, penggunaan pakaian
yang ketat, status sosial ekonomi, kondisi tempat tinggal padat yang dapat
mengakibatkan kontak langsung kulit ke kulit atau kontak yang erat dengan
hewan, serta adanya penyakit kronis (imunosupresi) seperti Human
Immunodeficiency Virus (HIV), penggunaan sitostatika, dan kortikosteroid
jangka panjang.
2. Upaya Pencegahan

Pencegahan primer

Ada beberapa langkah atau cara yang bias dilakukan untuk mencegah
pitriasis alba, diantaranya :

a. Mandi memakai sabun dengan pH netral dan yang mengandung


pelemba,hindari pembersih antibacterial.
b. Mandi air hangat 1-2 kali sehari dan tidak lebih dari 10 menit setiap
kalinya.
c. Pakaian baru sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dipakai untuk
membersihkan formaldehid atau bahan kimia tambahan.
d. Mencuci pakaian dengan deterjen harus dibilas dengan baik.
e. Selesai berenang harus segera mandi untuk membilas sisa klorin.
f. Bayi dan anak jangan terlalu sering dimandikan, cukup dua kali sehari,
jangan menggosok terlalu kuat.
g. Jangan memakai pakian terlalu tebal, ketat, atau kotor, atau yang bersifat
iritan (wol atau sintetik); bahan katun lebih baik.
h. Pada bayi penting diperhatikan kebersihan daerah popok.

Pencegahan sekunder
Terapi dengan kortikosteroid lemah seperti hidrokortison 0.5% atau 1%,
atau krim yang mengandung penghambat calcineurin seperti tacrolimus dan
pimecrolimus, juga sering diresepkan. Sisik dapat dikurangi dengan krim
emollient lunak dan untuk lesi kronik pada trunkus pasta tar ringan mungkin
berguna.
Pencegahan tersier
Bagaimanapun, abnormalitas pigmentasi membutuhkan waktu
berbulanbulan untuk mengalami perbaikan. Syndets (synthetic balanced
detergents) dapat digunakan untuk mencuci muka karena kurang bersifat
iritatif dibandingkan sabun alkali. Pelembab dapat digunakan dua kali
sehari, dan setelah mencuci wajah. Tanning tidak membantu, malah
semakin menonjolkan perbedaan bila terlalu sering dilakukan.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dermatofitosis merupakan salah satu penyakit mikosis superfisialis akibat
jamur yang menginvasi jaringan yang mengandung keratin seperti stratum
korneum epidermis, rambut, dan kuku. Seringkali disebut tinea dan diklasifikasikan
menurut bagian tubuh yang terinfeksi.
B. SARAN

Masih banyak kekurangan data dan penelitian yang dikemukakan dalam


tugas ini sehingga diperlukan kajian-kajian literataure yang lebih dalam lagi,
dalam melengkapi tugas ini. Diperlukan penelitian-penelitian epidemiologis yang
lebih terbaru dan lengkap dalam melakukan penelitian terkait dengan
dermatotofosis dalam menambah data dan pengetahuann terkait.
DAFTAR PUSTAKA
Verma S, Hefferman MP. Superficial Fungal Infection: Dermatophytosis,
Onichomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam: Wolff K, Goldsmith L, Katz S,
Gilchrest B, Paller A, Leffell O, editor (penyunting). Fitzpatrick’s Dermatology in
General Medicine. Edisi ke-7. New York: McGraw-Hill; 2008. hlm.1807-21.
Duarsa W. Pedoman diagnosi dan terapi penyakit kulit dan kelamin. Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar; 2010.
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN
2014 PANDUAN PRAKTIK KLINIS BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN
KESEHATAN PRIMER
LAMPIRAN

Gambar 1. Gambaran efloresensi dermatofitosis pada kulit

Sumber :
https://www.google.com/search?q=dermatofitosis&safe=strict&rlz=1C1NDCM_enID841ID841&source=l
nms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjCo42hiniAhVBOq0KHYC2CNcQ_AUIECgB#imgrc=dAj2JtxQkwXMe
M:, diakses tanggal 13 juni 2019