Anda di halaman 1dari 23

OCCUPATIONAL TUBERKULOSIS

PREVENTION AND IMMUNIZATION

Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan


Perawat Pengendali Infeksi Indonesia (HIPPII) Pusat
pada tanggal 05 – 07 APRIL 2019
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosis, penularannya melalui inhalasi
droplet nucklei yang sangat cepat, mudah, dan dapat
mengancam siapapun tanpa memandang latar belakang orang
tersebut. "Salah satu sumber yang menjadi tempat
penyebaran dan juga pencegahan TB adalah lingkungan
tempat kita kerja”,
lanjutan

• Terkait TB, sesuai data WHO Global Tuberculosis Report


2016, Indonesia menempati posisi kedua dengan beban TB
tertinggi di dunia. Trend insiden kasus TB di Indonesia tidak
pernah menurun, masih banyak kasus yang belum
terjangkau dan terdeteksi, kalaupun terdeteksi dan telah
diobati tetapi belum dilaporkan.
lanjutan
• Angka TB di Indonesia berdasarkan
mikroskopik sebanyak 759 per100 ribu
penduduk untuk usia 15 tahun ke atas
dengan jumlah laki-laki lebih tinggi dari
pada perempuan, dan jumlah di
perkotaan lebih tinggi dari pada di
pedesaan.
FAKTOR PREDISPOSISI
• Keadaan imunitas yang menurun
• Pengidap HIV
• Orang yang melakukan kontak
dengan pasien TB
• Orang yang merawat pasien TB 
Perawat, Dokter, Nakes lain
• Lingkungan yang padat
• Keadan social ekonomi yang
rendah
• Imigran
FAKTOR YANG DAPAT MENINGKATKAN
PENYEBARAN TB
• Fasilitas Kesehatan 
• Emergency Departemen,
• Laboratorium (tempat pengambilan dahak)
• Area Intubasi (ICU, OT, ER)
• Rawat Jalan
• Rawat Inap yang merawat pasien yang berisiko
• Fasilitas Umum 
• Lembaga pemasyarakatan (LAPAS)
• Sentral Pengambilan obat
• Penampungan Tuna Wisma (Panti2)
TIGA TINGKAT PENATALAKSANAAN

PENGAWASAN
ADMINISTRASI
PENGAWASAN
LINGKUNGAN

PROKTEKSI
RESPIRATORY
PENGAWASAN ADMINISTRASI

• Menetapkan Regulasi Infection Control TB


• Menyiapkan fasilitas anggaran dan kebijakan
• Membangun dan melaksanakan System
• Peningkatan Budaya Kerja
• Melaksanakan Asesmen risiko TB
• Melaksanakan Triage dan pemisahan kasus berpotensi infeksius
• Menerapkan Etika Batuk untuk mencegah transmisi pathogen
• Mengurangi waktu fasilitas pasien berada di pelayanan kesehatan
• Monitoring dan Evaluasi
TRIAGE
NO WARNA PRIORITAS DIPERUNTUKKAN

1 Merah Utama 1. Terduga TB


2. Pasien TB BTA positif
3. Pasien TB BTA positif setelah fase intensif belum konversi
4. Pasien TB BTA positif sudah konversi pada bulan ke-2, positif
kembali di bulan ke-5
5. TB dengan gambaran foto toraks kavitas
6. TB Laring

2 Biru Sedang Pasien TB BTA positif sudah konversi pada bulan ke-2

3 Hijau Ringan 1.Pasien TB BTA negatif


2.Pasien TB extra paru tanpa kelainan paru
ETIKA BATUK /HYGIENE RESPIRASI
IMMUNISASI
INFLUENZA
PENGAWASAN LINGKUNGAN

• Isolasi/spacing
• Penggunaan Sistem Ventilasi:
• - Alamiah (Natural)
• - Mekanik
• - Campuran
• Penggunaan Radiasi Ultraviolet (UVGI = Ultraviolet Germicidal
Irradiation)
• Hepafilter bila udara akan diresirkulasi
Faktor lingkungan yang krodit,
tidak ada jarak
Ventilasi tidak adekuat
Sirkulasi udara mengandung
droplet infeksi
Prosedur penanganan specimen
yang salah
Isolasi  Negative Pressure
Pintu harus selalu tertutup
Masker N 95 /Respiratory
Particulat  FIT Test
RESPIRATORY PROTECTION CONTROL

• Menerapkan program perlindungan pernapasan


• Pelatihan untuk HCP tentang perlindungan pernapasan
• Lakukan Test Kecocokan (FIT TEST) untuk HCP sesuai dengan
fungsinya
• Edukasi pasien tentang etika batuk (Hygiene Respirasi) dan
pentingnya menutup mulut saat batuk
FIT TEST
CARA PENCEGAHAN
1. MINUM OBAT SECARA TERATUR
Jangka pendek dengan Strategi DOTS selama 6 bulan atau lebih 
Isoniazid (INH), Rifampicin, Pyrazinamide,Ethambutol,Streptomicin
TB PREVENTIVE THERAPY (TPT)

JENIS OBAT DURASI FREKUENSI TOTAL DOSIS


ISONIAZID (INH) 9 BULAN SETIAP HARI 270
2 KALI SEMINGGU 76
6 BULAN SETIAP HARI 180
2 KALI SEMINGGU 52
RIFAMPICIN 4 BULAN SETIAP HARI 120
RIFAPENTIN + INH 3 BULAN SEMINGGU 12
(3 HP) SEKALI
RIFAPENTIN + INH 1 BULAN SETIAP HARI 30
(3 HP)
2. MENUTUP MULUT SAAT BATUK ATAU BERSIN DENGAN
MENGGUNAKAN TISSU ATAU SAPUTANGAN ETIKA BATUK
3. TIDAK MEMBUANG DAHAK SEMBARANGAN

4. BUANG DAHAK KE LUBANG WC (SALURAN YANG


LANGSUNG KE IPAL

5. VENTILASI YANG BAIK (ALAMIAH ATAU MEKANIK)


SIMPULAN
TB merupakan penyebab kematian yang tertinggi dan TB di Indonesia
berada di urutan ke dua
Tempat kerja merupakan tempat potensial penyebaran TB
Petugas kesehatan yang bertugas di pelayanan kesehatan berisiko
terpapar dengan TB yaitu kontak yang lama dengan pasien TB di rawat
inap, rawat jalan, emergency
Pencegahan dan Immunisasi merupakan cara untuk mengurangi risiko
Edukasi dan sosialisasi terkait pencegahan seperti HH, pemakaian masker,
etika batuk
Fit test merupakan test kecocokan pada pemakaian masker sesuai dengan
fungsinya

Anda mungkin juga menyukai