Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006), masih menempatkan


Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina
dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 pertahun dan jumlah kematian sekitar
101.000 pertahun. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2005,
menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan merupakan nomor satu terbesar
dalam kelompok penyakit infeksi.
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh
Mycobacterium tuberkulosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB
baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan
98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian
juga, kematian wanita akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan,
persalinan dan nifas.
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara
ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan
rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan
pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB,
maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara
ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan
dikucilkan oleh masyarakat.
Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua
pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan
TB. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar, bukan hanya dari aspek kesehatan
semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Dengan demikian TB
merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan
rakyat secara menyeluruh. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang
terhadap kemiskinan, ketidakproduktifan, dan kelemahan akibat TB.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis dan Kejadiannya


Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
Sumber penularan tuberkulosis adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu
batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak
(droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar
matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama
beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien
ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi
derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor
yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi
percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien
TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar
dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Risiko penularan setiap tahunnya di
tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi
penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10
(sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesia
bervariasi antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin
negative menjadi positif.
Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. Dengan ARTI
1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan
10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50
diantaranya adalah pasien TB BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan
seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya
infeksI HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). HIV merupakan faktor risiko yang
paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan
kerusakan luas system daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika
terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan
akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang
terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian
penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

B. Patogenesis
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang
primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam
paru. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening menuju
hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah
bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis
regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami
kesembuhan denghan tidak meninggalakan cacat sama sekali, sembuh dengan
meninggalkan sedikit bekas atau mengalami penyebaran. Kompleks primer dapat
menyebar dengan perkontinuitatum (menyebar ke sekitarnya), menyebar secara
bronkogen (baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya) atau menyebar
secara hematogen dan limfogen.
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian
tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post primer
mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa,
localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis
inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat menjadi sumber
penularan. Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya
terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini
awalnya berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Sarang tadi mula mula meluas,
tetapi segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis.
Selanjutnya akan membungkus diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan
sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi
aktif kembali, membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju
dibatukkan keluar. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan
kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti
awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik).
Kaviti ini dapat meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang
pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan diatas Dapat
pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut tuberkuloma.
Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif kembali,
mencair lagi dan menjadi kaviti lagi Kaviti ini bisa pula menjadi bersih dan
menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan
membungkus diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang
terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped).

C. Klasifikasi
1. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru dapat
dibedakan berdasarkan hasil pemeriksaan dahak dan berdasarkan tipe pasien.
a. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)
- Tuberkulosis paru BTA positif (+) adalah sekurang-kurangnya 2 dari 3
spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif atau hasil pemeriksaan
satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologi
menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif atau hasil pemeriksaan satu
spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif.
- Tuberkulosis paru BTA negatif (-) adalah hasil pemeriksaan dahak 3 kali
menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan kelainan radiologi
menunjukkan tuberkulosis aktif atau hasil pemeriksaan dahak 3 kali
menunjukkan BTA negatif dan bikan M. tuberculosis positif.
b. Berdasarkan tipe pasien
- Kasus baru adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan
dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
- Kasus relaps adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. Apabila BTA negatif
atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi aktif atau
perburukan dan terdapat gejala klinik maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan.
- Kasus drop out adalah pasien yang tidak mengambil obat selama 2 bulan
berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
- Kasus gagal adalah pasien dengan BTA positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke-5 pengobatan atau pasien dengan BTA negatif
namun gambaran radiologi positif menjadi postif pada akhir bulan ke-2
pengobatan.
- Kasus kronik atau persisten adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA
masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan
pengawasan yang baik.
2. Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, perikard,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi. Untuk
kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan
bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.

D. Diagnosis
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan penunjang
lainnya
1. Gejala klinis
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan
gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala
respiratorik. Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang pasien
terdiagnosis pada saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses
penyakit, maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama
terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang
dahak ke luar. Adapun gejala respiratorik yang sering muncul yaitu batuk-batuk
selama 2 minggu, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada.
Gejala sistemik yang muncul dapat berupa demam, malaise, keringat malam,
anoreksia maupun penurunan berat badan.
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada
limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari
kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis,
sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas dan kadang nyeri
dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ
yang terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas
kelainan struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya
tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya
terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1
& S2) , serta daerah apeks lobus inferior (S6). Pada pemeriksaan jasmani dapat
ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki
basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma & mediastinum. Pada pleuritis
tuberkulosa, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di
rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada auskultasi suara napas yang
melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan. Pada limfadenitis
tuberkulosa, terlihat pembesaran kelenjar getah bening, tersering di daerah leher
(pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang di daerah ketiak.
Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi cold abscess.
3. Pemeriksaan bakteriologi
Pemeriksaan bakteriologi bertujuan untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk
pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, cairan
serebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kirasan bronkoalveolar, urn,
feses dan jaringan biopsi.
Pemeriksaan bakteriologi yang menggunakan spesimen dahak memerlukan
beberapa prosedur. Sampel dahak harus diambil sebanyak 3 kali, yaitu dahak
sewaktu yaitu sampel dahak sewaktu saat kunjungan, dahak pagi yaitu dahak
yang diperoleh pada pagi hari di keesokan harinya dan dahak sewaktu yaitu dahak
yang diperoleh pada saat mengantarkan dahak pagi. Selain itu dapat pula dengan
memperoleh sampel dahak setiap pagi selama 3 hari berturut-turut.
Pemeriksaan bakteriologi dari spesimen dahak dapat dilakukan dengan cara
mikroskopik maupun biakan. Interpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali
pemeriksaan yaitu dikatakan BTA positif apabila ketiga spesimen menunjukkan
hasil positif atau pada 2 spesimen menunjukkan hasil positif dan 1 spesimen
pemeriksaan menunjukkan hasil negatif. Pemeriksaan bakteriologi juga dikatakan
BTA positif apabila 1 spesimen menunjukkan hasil positif dan 2 spesimen
menunjukkan hasil negatif kemudian dilakukan pemeriksaan ulang BTA sebanyak
3 kali menunjukkan 1 spesimen positif dan 2 spesimen negatif. Pemeriksaan
bakteriologi dikatakan BTA negatif apabila dari 3 spesimen yang diperiksa
menunjukkan hasil negatif.
Melakukan pemeriksaan biakan bertujuan untuk mendapatkan diagnosis pasti dan
dapat mendeteksi Mycobacterium tuberculosis.
4. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi standar yang dilakukan adalah foto thorax PA. Pada
pemeriksaan foto thorax, tuberkulosis dapat memberikan gambaran bermacam-
macam bentuk (multiform). Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB
aktif, yaitu bayangan berawan atau nodular di segmen apikal dan posterior lobus
atas paru dan segmen superior lobus bawah, kaviti, terutama lebih dari satu,
dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodula, bayangan bercak milier dan
adanya efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang).
5. Pemeriksaan penunjang lainnya
Pemeriksaan lainnya juga dapat dijadikan dasar untuk menegakkan diagnosis
tuberkulosis. Salah satunya yaitu uji tuberculin. Uji tuberkulin yang positif
menunjukkan adanya infeksi tuberkulosis. Di Indonesia dengan prevalensi
tuberculosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik penyakit
kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila
didapatkan konversi, bula atau apabila kepositifan dari uji yang didapat besar
sekali. Pada malnutrisi dan infeksi HIV uji tuberkulin dapat memberikan hasil
negative.
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk
tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan
sebagai indikator penyembuhan pasien. LED sering meningkat pada proses aktif,
tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis.
Limfositpun kurang spesifik.

E. Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif selama 2-3
bulan dan fase lanjutan selama 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri
dari paduan obat utama dan tambahan. Adapun jenis obat utama atau obat lini
pertama yang digunakan yaitu Rifampicin, INH, Pirazinamid, Streptomicin dan
Etambutol. Obat anti tuberkulosis lini pertama dikemas menjadi 2 macam, yaitu obat
tunggal atau kemasan lepasan dan obat kombinasi tetap (Fixed Dose Combination)
yang terdiri dari 3 atau 4 obat dalam satu tablet. Penentuan dosis terapi kombinasi
dosis tetap 4 obat didasarkan atas rentang dosis yang telah ditentukan oleh WHO
yang merupakan dosis efektif yaitu termasuk dalam batas dosis terapi dan non toksik.
Pengobatan tuberkulosis dibedakan berdasarkan tipe pasien.
1. Pada pasien TB paru kasus baru dengan hasil BTA positif atau ditemukan lesi luas
pada foto thorax maupun pada pasien tuberculosis kasus baru dengan hasil BTA
negatif dengan gambaran radiologi lesi luas maka dianjurkan untuk memberikan
paduan obat 2 RHZE / 4 RH atau 2 RHZE / 4R3H3 atau 2 RHZE / 6 HE. Pada
pasien TB paru kasus baru dengan hasil BTA negatif dan ditemukan lesi minimal
pada foto thorax, maka paduan obat yang dianjurkan yaitu 2 RHZ / 4 RH atau 2
RHZ / 4R3H3 atau 6 RHE
2. Pada pasien TB paru kasus kambuh atau relaps, maka paduan obat yang diberikan
yaitu 5 macam OAT pada fase intensif selama 3 bulan dan dilanjutkan dengan fase
lanjutan selama 5 bulan atau lebih. Paduan obat yang dianjurkan yaitu 2 RHZES /
1 RHZE / 5 RHE. Pengobatan dapat diberikan lebih lama tergantung dari
perkembangan penyakit pasien.
3. Pada pasien TB paru kasus gagal, maka pengobatan sebaiknya didasarkan atas
hasil uji resistensi dengan menggunakan minimal 5 macam OAT dengan minimal 3
OAT masih sensitif, seandainya H resisten, maka H akan tetap diberikan. Lama
pengobatan minimal selama 1-2 tahun. Sementara menunggu hasil uji resistensi,
maka sementara dapat diberikan obat 2 RHZES, untuk kemudian dilanjutkan
sesuai uji resistensi. Apabila tidak memungkinkan dilakukannya uji resistensi,
maka paduan obat alternatif yang dapat diberikan yaitu 2 RHZES / 1 RHZE / 5
H3R3E3. Pasien kasus gagal pengobatan juga disarankan untuk dirujuk ke dokter
spesialis paru untuk dapat dilakukan penanganan lebih spesifik.
4. Pasien TB paru kasus putus berobat akan dimulai pengobatan sesuai dengan
beberapa kriteria. Pasien yang menghentikan pengobatannya kurang dari 2 bulan,
maka pengobatan OAT akan dilanjutkan sesuai jadwal. Sedangkan pasien yang
menghentikan pengobatan OAT lebih dari 2 bulan maka harus dilihat beberapa hal.
Apabila telah berobat selama 4 bulan, BTA saat ini negatif, klinik dan radiologik
tidak aktif atau ada perbaikan, pengobatan OAT dihentikan. Bila gambaran
radiologik aktif, maka dilakukan analisis lebih lanjut untuk memastikan diagnosis
TB dengan mempertimbangkan juga kemungkinan penyakit paru lain. Bila terbukti
TB, maka pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih kuat dan
jangka waktu pengobatan yang lebih lama. Jika telah diobati dengan kategori II
maka pengobatan kategori II diulang dari awal. Apabila telah berobat > 4 bulan,
BTA saat ini positif, maka pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang
lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama. Jika telah diobati dengan
kategori II maka pengobatan kategori II diulang dari awal. Apabila telah berobat <
4 bulan, BTA saat ini positif atau negatif dengan klinik dan radiologik positif,
maka pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang sama.
BAB III
LAPORAN KASUS

A. Identitas Penderita
Nama : KDA
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 24 tahun
Pendidikan : Tamat SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Hindu
Status perkawinan : Sudah menikah
Alamat : Desa Pelapuan, Buleleng
Tanggal MRS : 23 November 2015
Tanggal Pemeriksaan : 25 November 2015

B. Anamnesis
Keluhan utama: batuk-batuk

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang diantar oleh suaminya ke UGD RSUD Buleleng pada tanggal 23
November 2015 pukul 9.30 WITA dengan keluhan utama batuk-batuk yang
dialaminya sejak 1 bulan yang lalu. Batuk yang dialami berupa batuk berdahak
dengan dahak berwarna putih kekuningan dengan volume dahak kurang lebih 1
sendok makan. Batuk dirasakan hilang timbul dan memberat pada malam hari
sehingga menganggu kualitas tidur pasien. Pasien sempat mengkonsumsi obat
batuk yang dibelinya di toko obat terdekat untuk mengurangi keluhan batuknya,
namun keluhan batuk tersebut tidak berkurang. Keluhan batuk-batuk ini tidak
disertai dengan batuk darah maupun sesak nafas.
Pasien juga mengatakan sering berkeringat di malam hari. Keluhan ini muncul
hampir bersamaan dengan munculnya keluhan batuk-batuk. Keluhan ini dirasakan
hampir setiap malam. Selain itu, pasien juga mengeluhkan panas badan sejak 1
bulan yang lalu. Panas badan terutama dirasakan saat sore hari dan dirasakan
sumer-sumer. Pasien tidak pernah mengukur panas badannya, sehingga tidak
mengetahui secara pasti berapa suhu tubuhnya saat keluhan panas badannya
muncul. Keluhan panas badan ini sempat turun saat pasien mengkonsumsi obat
penurun panas, namun muncul kembali setelah pasien tidak mengkonsumsi obat
penurun panas. Pasien juga mengeluhkan penurunan berat badan sebanyak kurang
lebih 10 kg selama sebulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh penurunan nafsu
makan yang dialami pasien. Keluhan sesak nafas, nyeri dada maupun diare lama
disangkal oleh pasien.
Pasien mengatakan BAB normal dengan frekuensi 1 kali sehari dengan
konsistensi lembek dan warna kuning. Frekuensi BAK juga dikatan normal yaitu
sebanyak 3-4 kali sehari dengan warna kuning. Volume sekali BAK dikatakan
kurang lebih 200 cc.

Riwayat penyakit terdahulu:


Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Riwayat penyakit
lain seperti asma, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, penyakit ginjal disangkal
oleh pasien. Riwayat operasi dan alergi obat disangkal oleh pasien.

Riwayat keluarga:
Pasien mengakui ada anggota keluarganya yang mengalami keluhan serupa sejak
4 bulan yang lalu dan sudah berobat di puskesmas terdekat. Diakui oleh pasien
bahwa keluarganya tersebut dikatakan menderita infeksi paru-paru yang
mengharuskannya untuk meminum obat selama 6 bulan. Anggota keluarga
tersebut bukan merupakan keluarga inti, namun tinggal dalam satu lingkungan
yang berdekatan. Riwayat penyakit sistemik lainnya seperti penyakit jantung,
hipertensi dan asma dalam keluarga disangkal oleh pasien.

Riwayat sosial:
Pasien menyangkal adanya tetangga yang mengalami keluhan serupa. Pasien
menyangkal adanya kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol.

C. Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda vital:
Kondisi umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Gizi : Kurang
GCS : E4V5M6
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 100 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit, tipe torakoabdominal
Suhu axilla : 38,4°C
VAS : 0/10
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 42 kg
BMI : 17,48 kg/m2

Pemeriksaan umum:
Mata : Anemis (-), Ikterus (-), Reflek Pupil +/+ isokor
THT
Telinga : bentuk normal, tidak tanda-tanda radang atau pun bekas luka
Hidung : sekret -/-
Tenggorokan : Tonsil T1/T1, faring hiperemi (-)
Leher : JVP : PR+ 0 cmH2O
kelenjar tiroid normal, pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thorax : Bentuk dada normal, simetris, tidak ada retraksi interkosta,
tidak terlihat pembuluh kolateral, tidak ada bekas luka
ataupun jaringan parut
Cor
Inspeksi : Tidak tampak pulsasi iktus cordis
Palpasi : Teraba iktus kordis pada ICS V MCL kiri, thrill (-)
Perkusi : Batas kanan jantung PSL kanan
Batas kiri jantung 1 cm lateral MCL kiri
Pinggang jantung (+)
Auskultasi : S1S2 tunggal, regular, murmur (-)
Pulmo
Inspeksi : Simetris statis dan dinamis
Palpasi : Pergerakan simetris, vokal fremitus N/N
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : Vesikuler +/+, Ronki +/+, Wheezing -/-
Abdomen :
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-), balottment (-/-),
shifting dullness (+)
Perkusi : timpani (+)
Ekstremitas : Hangat +/+, edema - /-
+/+ - /-

D. Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap (23 November 2015)

Parameter 23/11/2015 Nilai Normal Unit


Leukosit 13,1 3,20-10,0 10e3/uL
Eritrosit 4,13 3,80-5,00 10e6/uL
Hemoglobin 9,02 12,0-16,0 g/dL
Hematocrit 31,0 35,0-45,0 %
MCV 75,1 80,0-100 fL
MCH 21,8 28,0-34,0 Pg
MCHC 29,1 32,0-36,0 %
RDW-CV 18,0 11,5-14,5 %
Trombosit 317 170-380 10e3/uL
MPV 5,39 6,90-10,0 fL
Neutrofil% 78,2 48,0-73,0 %
Neutrofil # 10,2 2,00-7,30 10e3/uL
Limfosit % 11,0 15,0-45,0 %
Limfosit # 1,44 0,800-4,00 10e3/uL
Monosit % 9,27 0,100-10,0 %
Monosit # 1,21 0,100-0,800 10e3/uL
Eosinofil % 0,102 0,00-8,00 %
Eosinofil # 0,013 0,00-0,500 10e3/uL
Basofil % 1,43 0,00-2,00 %
Basofil # 0,187 0,00-0,150 10e3/uL

Kimia Klinik (23 November 2015)

Parameter 23/11/2015 Nilai Rujukan


SGOT 27 ≤ 37 U/L
SGPT 18 ≤ 32 U/L
BUN 21,6 10-50 mg/dL
SC 0,59 0,5-0,9 mg/dL
GDA 93 ≤ 200
Natrium 128 136-146 mmol/L
Kalium 4,2 3,5-5,0 mmol/L
Klorida 93 96-106 mmol/dL

Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) (25 November 2015)


 69 mm/jam (normal: 0-10 mm/jam)

Pemeriksaan sputum gram (25 November 2015)


 ditemukan bakteri coccus gram positif

Pemeriksaan Mikrobiologi (27 November 2015)

Bahan Pemeriksaan Hasil


BTA 1 Positif tiga (3+)
Sputum BTA 2 Positif tiga (3+)
BTA 3 Positif tiga (3+)

Foto rontgen thorax AP (23 November 2015)

- Cor: tidak tampak pembesaran

- Pulmo: tampak perselubungan


di apeks kanan dan kiri

- Sinus pleura kanan dan kiri


tampak tajam

- Diafragma kanan dan kiri


normal

- Tulang-tulang tidak tampak


kelainan

E. Diagnosis Kerja KESAN: TB paru


TB Paru Kasus Baru
F. Penatalaksanaan
- IVFD RL 20 tpm
- Paracetamol 3x500 mg
- Amprah FDC OAT fase intensif
- KIE tentang TB paru, pengobatan, penularan dan pencegahannya
BAB IV
PEMBAHASAN

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh


bakteri dan dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Adapun sumber penularan
tuberculosis adalah pasien TB BTA positif. Berdasarkan hasil anamnesis diketahui
bahwa ada salah satu anggota keluarga pasien ada yang mengalami keluhan serupa
yaitu batuk-batuk sejak 4 bulan yang lalu dan sudah berobat di puskesmas terdekat.
Diakui oleh pasien bahwa keluarganya tersebut dikatakan menderita infeksi paru-paru
yang mengharuskannya untuk meminum obat selama 6 bulan. Dari pengakuan pasien
dapat dipastikan bahwa anggota keluarganya ada yang mengidap TB paru dengan
BTA positif yang merupakan sumber penularan infeksi. Pada teori dikatakan bahwa
risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Hal ini sesuai
dengan hasil anamnesis kepada pasien yang dikatakan bahwa pasien dan anggota
keluarga yang menderita TB tinggal dalam satu lingkungan rumah yang berdekatan
sehingga memungkinkan risiko terjadinya penularan.
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologik dan radiologik. Dari hasil anamnesis
yang dilakukan terhadap pasien diketahui bahwa pasien datang dengan keluhan batuk
lama yang dialami sejak 1 bulan yang lalu. Batuk yang dialami berupa batuk
berdahak dengan dahak berwarna putih kekuningan dengan volume dahak kurang
lebih 1 sendok makan. Batuk dirasakan hilang timbul dan memberat pada malam hari
sehingga menganggu kualitas tidur pasien. Namun keluhan batuk ini tidak disertai
dengan keluhan sesak nafas maupun nyeri dada. Hal ini sesuai dengan teori yang
menyebutkan bahwa gejala respratori yang sering muncul pada pasien TB paru, yaitu
batuk-batuk selama lebih dari 2 minggu dan dapat disertai dengan keluhan batuk
darah, sesak nafas dan nyeri dada. Pasien juga mengatakan sering berkeringat di
malam hari. Keluhan ini muncul hampir bersamaan dengan munculnya keluhan
batuk-batuk. Keluhan ini dirasakan hampir setiap malam. Selain itu, pasien juga
mengeluhkan panas badan sejak 1 bulan yang lalu. Pasien juga mengeluhkan
penurunan berat badan sebanyak kurang lebih 10 kg selama sebulan terakhir. Hal ini
sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa gejala sistemik yang muncul dapat
berupa demam, keringat malam maupun penurunan berat badan.
Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan adanya rhonki saat dilakukan
auskultasi di area superior atau apeks. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan
bahwa kelainan paru pada TB paru, pada umumnya terletak di daerah lobus superior
terutama daerah apeks. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara
napas bronkial, amforik, suara napas melemah dan ronki basah.
Dari hasil pemeriksaan radiologi ditemukan adanya gambaran perselubungan
di apeks paru. Hal ini sangat khas pada gambaran TB paru, yaitu ditemukan adanya
bayangan berawan atau nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru.
Walaupun pada beberapa kasus banyak ditemukan gambaran multiform atau beragam
pada kasus TB paru seperti gambaran kaviti maupun milier.
Pada pemeriksaan mikrobiologi yaitu pemeriksaan BTA yang dilakukan
kepada pasien menunjukkan hasil bahwa dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil
positif tiga (3+). Hal ini menunjukkan bahwa pasien termasuk pasien BTA positif.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa interpretasi hasil pemeriksaan
dahak dari 3 kali pemeriksaan yaitu dikatakan BTA positif apabila ketiga spesimen
menunjukkan hasil positif.
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologi dan
pemeriksaan mikrobiologi dapat ditegakkan diagnosis TB paru pada pasien. Dari
hasil anamnesis diketahui bahwa keluhan ini dirasakan pertama kalinya oleh pasien,
sebelumnya pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama. Sehingga pasien
dapat dikategorikan sebagai kasus baru. Hal ini dapat dijadikan acuan untuk
menentukan regimen yang akan diberikan kepada pasien.
Berdasarkan klasifikasi tipe pasien, pasien ini tergolong pasien TB kasus baru,
sehingga paduan obat yang dianjurkan yaitu 2 RHZE / 4 RH. Pengobatan ini terbagi
menjadi 2 fase, yaitu fase intensif selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4 bulan.
Obat anti tuberculosis yang diberikan kepada pasien merupakan obat kombinasi tetap
(Fixed Dose Combination).
BAB V
SIMPULAN

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman


TB (Mycobacterium Tuberculosis). Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan
berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologik, radiologik
dan pemeriksaan penunjang lainnya. Tuberkulosis paru dapat dibedakan berdasarkan
hasil pemeriksaan dahak dan berdasarkan tipe pasien. Pengobatan tuberkulosis
terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif selama 2-3 bulan dan fase lanjutan selama 4
atau 7 bulan. Pengobatan tuberkulosis dibedakan berdasarkan tipe pasien.