Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH EKONOMI MANAJERIAL

KONSEP-KONSEP BIAYA UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Lika Novi Ardiyanti 155020200111040


Nikmatul Hidayah 155020200111051
Farah Abidah 155020200111067

Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Brawijaya
2017
KARAKTERISTIK BIAYA
Salah satu hal yang penting dalam analisis biaya adalah perbedaan antara
biaya eksplisit dan implisit. Biaya eksplisit yaitu pengeluaran actual perusahaan
untuk mempekerjakan tenaga kerja, menyewa atau membeli input yang
dibutuhkan dalam produksi. Termasuk di dalamnya adalah upah tenaga kerja,
harga sewa modal, perlengkapan, gedung, dan harga pembelian bahan mentah
serta barang setengah jadi. Biaya implisit yaitu nilai input yang dimiliki dan
digunakan oleh perusahaan dalam aktivitas produksinya sendiri. Meskipun
perusahaan tidak mengeluarkan sejumlah biaya actual tertentu dalam
menggunakan input tersebut, input-input itu tidaklah gratis, karena perusahaan
dapat menjual atau menyewakan input yang dimiliki kepada perusahaan lain.
Biaya implisit meliputi gaji tertinggi yang dapat diperoleh oleh si pengusaha
apabila bekerja di tempat alternative terbaiknya (misalnya mengelola perusahaan
lain), dan pendapatan tertinggi yang dapat diperoleh perusahaan dari
menginvestasikan modalnya dalam alternative lain yang paling menguntungkan.
Dalam ilmu ekonomi, baik biaya eksplisit maupun implisit harus
dipertimbangkan. Artinya, dalam mengukur biaya produksi, perusahaan harus
memasukkan biaya alternative atau biaya oportunitas seluruh input, baik yang
dimiliki atau dibeli perusahaan. Alasannya bahwa perusahaan tidak menahan input
yang disewa jika input tersebut dibayar dengna harga yang lebih rendah dari harga
yang dibayar oleh perusahaan lain. Biaya ekonomis seperti ini harus dibedakan
dari biaya akuntansi yang hanya mengacu pada pengeluaran actual perusahaan
atau biaya eksplisit, yang digunakan untuk membeli atau menyewa input. Biaya
akuntansi atau biaya historis penting untuk laporan keuangan perusahaan dan
untuk pajak. Bagi tujuan pengambilan keputusan manajerial, biaya ekonomis atau
biaya oportunitas adalah konsep biaya relevan yang harus digunakan.
Fungsi Biaya Jangka Pendek
 Fungsi biaya total dan biaya per unit jangka pendek
Jangka pendek yaitu suatu periode di mana beberapa input
perusahaan adalah tetap(tidak dapat diubah dengan mudah). Kewajiban
total perusahaan per periode waktu untuk seluruh input tetap disebut biaya
tetap total. Biaya ini meliputi pembayaran bunga terhadap modal yang
dipinjam,pengeluaran sewa terhadap pabrik yang disewa dan
perlengkapan. Biaya variabel total adalah kewajiban total perusahaan per
peirode waktu untuk seluruh input variabel yang digunakan. Input variable
adalah input yang dapat dengan mudah diubah oleh perusahaan dalam
waktu yang singkat. Biaya ini meliputi pembayaran untuk bahan mentah,
bahan bakar, depresiasi yang dikaitkan dengan penggunaan pabrik dan
peralatan. Biaya total (TC) sama dengan biaya tetap total (TFC) ditambah
dengan biaya variabel total (TVC). Artinya :
TC = TFC + TVC
Dengan keterbatasan yang ditimbulkan oleh pabrik dan peralatan yang
ada, perusahaan dapat mengubah outputnya dalam jangka pendek degan
melakukan variasi penggunaan input variabel. Hal ini menyebabkan
meningkatnya fungsi TFC, TVC, dan TC dari perusahaan. Dari fungsi- fungsi
tersebut kita dapat menurunkan fungsi biaya per unit seperti berikut :
TFC
AFC = AFC =
Q
TVC
AVC = AVC =
Q
TC
ATC = = AFC + AVC
Q
∆ TC ∆ TVC
MC = =
∆Q ∆Q
Skedul Biaya Total dan Per unit Jangka Pendek
Kuantitas Biaya Biaya Biaya Biaya Biaya Biaya Biaya
Output Tetap Variabel Total Tetap Variabel Total Marginal
Total Total Rata- Rata- Rata-
rata rata rata
0 $ 60 $0 $ 60 - - - -
1 60 20 80 $ 60 $ 20 $ 80 $ 20
2 60 30 90 30 15 45 10
3 60 45 105 20 15 32 15
4 60 80 140 15 20 35 35
5 60 135 195 12 27 39 55
 Kurva Biaya Total dan biaya per unit Jangka Pendek
Tabel diatas menunjukkan skedul hipotesis biaya total dan biaya
per unit perusahaan dalam jangka pendek. Skedul ini dipl?ot dalam kurva
diatas. Dari kolom 2 pada tabel kia lihat TFC adalah $60 berapa pun
tingkat outputnya. TVC (kolom 3) adalah nol pada saat output nol dan
meningkat sejalan dengan penambahan output. Sampai dengan titik G’,
perusahaan menggunakan sedikit input variabel dengan input tetap dan
hukuman hasil yang menurun sehingga menjadi tidak berlaku. Sehingga
kurvaTVC menghadap ke bawah atau bertambah pada suatu tingkat yang
menurun.
Setelah titik G’(untuk tingkat output yang lebih besar dari 1,5 unit
pada kurva diatas), hukum hasil yang semakin menurun berlaku, dan kurva
TVC menghadap keatas atau naik pada tingkat pertumbuhan yang semakin
bertambah. Karena TC = TFC + TVC , kurva TC mempunyai bentuk yang
sama dengan kurva TVC tetapi berada di atas kurva TC sebesar $60 setiap
tingkat output.
Nilai AFC yang ditunjukkan dalam kolom 5 diperoleh dengan
membagi nilai TFC pada kolom 2 dengan kuantitas output pada kolom 1.
AVC (kolom 6) sama dengan TVC (kolom 3) dibagi dengan output (kolom
1). ATC juga sama dengan AFC ditambah AVC. MC (kolom 8)
ditunjukkan oleh perubahan TVC (kolom 3) atau perubahan TC (kolom 4)
dibagi dengan output (kolom 1). ATC juga sama dengan AFC ditambah
dengan AVC. MC (kolom 8) ditunjukkan oleh perubahan TVC (kolom 3)
atau perubahan TC (kolom 4) per unit perubahan output (kolom 1).
Sehingga, MC tidak tergantung pada TFC. Skedul biaya-biaya per unit ini
diplot dalam panel bawah dari kurva tersebut. Daribtabel dan panel bawah
dari kurva kita lihat bahwa kurva AVC , ATC, dan MC pertama menurun
dan kemudian menaik(sehingga berbentuk U). Karena jarak vertikal
antara kurva ATC dan AVC sama dengan AFC, kurva AFC terpisah tidak
digambarkan. Ingat bahwa FC menurun secara kontinyu sejalan dengan
meningkatnya output karena sejumlah biaya tetap total disebarkan ke
dalam unit output yang lebih banyak. Secara grafis, AVC adalah
kemiringan garis dari titik asal menuju kurva TVC, ATC sama dengan
kemiringan garis dari titik asal menuju kurva TC, sementara MC adalah
kemiringan dari kurva TVC. Ingat bahwa kurva MC mencapai titik
minimal sebelum ( pada tingkat output yang lebih rendah) dan memotong
dari bawah kurva AVC dan ATC pada titik terendahnya.
Kita dapat menjelaskan benuk U dari kurva AVC sebagai berikut. Dengan
tenaga kerja sebagai satu-satunya input variabel, TVC untuk setiap output
sama dengan tingkat upah dikalikan dengan kuatitas tenaga kerja yang
digunakan.
TVC wL w w
Jadi, AVC = = = =
Q Q Q /L APʟ
Kurva Biaya Jangka Panjang
 Kurva Biaya Total Jangka Pendek
Jangka panjang sebagai suatu periode di mana seluruh input adalah
variable. Sehingga, seluruh biaya adalah variabel dalam jangka panjang.
Panjangnya waktu jangka panjang tergantung industry.
Kurva biaya total jangka panjang diturunkan dari pola ekspansi
perusahaan dan menunjukkan biaya total jangka panjang minimal dalam
meproduksi berbagai tingkat ouput.
Pada panel atas dari grafik menunjukkan garis ekspansi perusahaan. Garis
ekspansi menunjukkan kombinasi input optinum dalam memproduksi
berbagai tingkat output. Sebagai contoh, titik A menunjukkan bahwa
untuk memproduksi 1unit output (1Q), perusahaan menggunakan 4 tenaga
kerja (4L) dan 4 unit modal (4K). Jika upah tenaga kerja(w) adalah $10
per unit dan harga sewa modal (r) juga $10 per unit, biaya total minimum
until memprduksi 6output 1Q adalah
(4L) + ($10) + (4K) ($10) = $80.
Hal in I ditunjukkan oleh titik A' pada panel tengah 1, di mana sumbu
vertikal mengukur biaya total dan sumbu horizontal until mengukur
output. Dari titim C'($100) pada kurva LTC pada panel tengah until output
sejumlah 2Q.
Dari kurva LTC kita dapat menurunkan kurva biaya rata-rata jangka...
panjang dari suatu perusahaan. LAC adalah sama dengan LTC dibagi
dengan Q yaitu :
LTC
LAC =
Q
Sebagai contoh LAC untuk memproduksj 1Q yang diperoleh dengan
membagu LTC sebesar $80(titik A' pada kurva LTC di panel tengah )
dengan 1. Hal ini menunjukkan kemiringan garis dari titik asal ke titik A'
pada kurva LTC dan diplot sebagai titik A" di panrl bawah. Titik-titik lain
pada kurva LAC diperoleh dengan cara yang sama. Catatan bahwa
kemiringan dari garis titik asal ke kurva LTC menurun sampai titik G"(4Q)
dan naik sesudahnya.
Sangat penting untuk diingat bahwa sementara bentuk U kurva biaya rata-
rata jangka pendek (SAC) didasarkan pada operasi hukum hasil yang
menurun(yang dihasilkan keberadaan input tetap jangka pendek), bentuk
U kurva LAC tergantung pada skala hasil yang meningkat, tetap, dan
menurun yang akan dijelaskan pada sub bab selanjutnya.
Dari kurva LTC kita juga dapat menurunkan biaya marginal jangka
panjang. Kurva ini mengukur perubahan LTC per unit perubahan output
ditunjukkan oleh kemiringan dari kurva LTC. Sehingga,
∆ LTC
LMC =
∆Q
1) Analisis Biaya Volume Laba da Tuasan Operasi
A. Analisis Biaya Volume Laba
Biaya volume laba atau analisis titik impas membahas hubungan
antara penerimaan total, biaya total, dan laba total perusahaan pada
berbagai tingkat output. Biaya volume laba atau analisis titik impas sering
digunakan para eksekutif bisnis untuk menentukan volume penjualan yang
diperlukan bagi perusahaan untuk mencapai titik impas, laba total dan
kerugian pada tingkat penjualan lainnya. Analisis tersebut menggunakan
grafik
biaya
volume
laba
dimana
kurva

penerimaan(TR) dan biaya total (TC) ditunjukkan oleh garis lurus seperti
pada figure 7-8.
Biaya total sama dengan penerimaan total ditambah biaya variabel
total(TVC). Karena TVC sama dengan biaya variabel rata rata per
unit(AVC) dikali jumlah output, kita memperoleh:
TC = TFC+(AVC)Q
Dengan menetapkan penerimaan total sama dengan biaya total dan
mensubtitusi Qв (output pada titik impas) untuk , kita memperoleh:
TR=TC (P)(Qв) = TFC+(AVC)(Qв)
Menyelesaikan persamaan diatas untuk output pada titik impas kita
memperoleh
(P)(Qв)-(AVC)(Qв) = TFC (Qв)(P-AVC) = TFC
TFC
Qв=
P− AVC
Penyebut pada persamaan diatas(P-AVC) disebut dengan margin
kontribusi perunit karena mencerminkan bagian dari harga penjualan yang
dapat digunakan untuk menutup biaya tetap dari perusahaan dan
memberikan laba.
B. Tuasan Operasi
Tuasan operasi mengacu pada rasio biaya tetap total dengan biaya
variabel total pada perusahaan. Semakin tinggi rasio ini, semakin tinggi
tuasan suatu perusahaan. Apabila perusahaan menjadi lebih otomatis atau
makin tinggi tuasan (mengganti biaya variabel dengan biaya tetap), biaya
tetap total perusahaan naik tetapi biaya variabel totalnya turun. Karena
tingginya biaya overhead, maka tingkat output balik perusahaan naik. Hal
ini terlihat pada figure 7-9.
Figure 7-9 juga menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio antara
biaya tetap total dengan biaya variabel total(semakin tinggi tuasan
perusahaan tersebut), semakin sensitif laba perusahaan terhadap perubahan
dalam output atau penjualan. Daya respon atau sensitivitas laba total
perusahaan terhadap perubahan dalam output atau penjualan dapat diukur
dengan derajat tuasan operasi(DOL). DOL tidak lain adalah elastisitas laba
terhadap penjualan dan didefinisikan sebagai persentase perubahan laba
dibagi persentase perubahan dalam output penjualan. Sehingga,
∆π ∆ π /∆ π ∆π Q
DOL= = = . DOL=
∆Q ∆ Q/Q ∆Q π

∆ Q( P−AVC )Q Q( P− AVC )
=
∆ Q[Q ( P− AVC )−TFC ] Q ( P− AVC )−TFC
Pembilang pada persamaan diatas adalah kontribusi total dari biaya tetap
dan keuntungan dari seluruh unit yang dijual oleh perusahaan, dan
penyebutnya adalah laba total perusahaan(secara ekonomis)
2) Estimasi Empiris Fungsi Biaya
Estimasi empiris fungsi biaya penting untuk mencapai berbagai tujuan
keputusan manajerial. Pengetahuan tentang fungsi biaya jangka pendek sangat
penting bagi perusahaan dalam menentukan tingkat output optimum pada harga
yang dibebankan. Pengetahuan tentang fungsi biaya jangka panjang penting dalam
perencanaan untuk skala optimum pabrik yang dibangun perusahaan jangka
panjang.
A. Masalah Data dan Pengukuran dalam Mengestimasi Fungsi Biaya
Jangka Pendek
Metode yang paling umum dalam mengestimasi fungsi perusahaan
jangka pendek adalah analisis regresi, dimana biaya variabel total
diregresikan terhadap output dan beberapa variabel lainnya, seperti
harga input dan kondisi operasi selama periode waktu dimana ukuran
pabrik tetap
Seperti ditunjukkan pada awal bab ini, fungsi biaya perusahaan
didasarkan pada asumsi harga input konstan. Jika harga input naik,
maka akan menyebabkan pergeseran ke atas seluruh fungsi biaya
tersebut. Sehingga kita dapat menyatakan sebagai:
C = f(Q,X1,X2,…Xn)
C= Biaya variable Q= Output X= Determinan lain dari
biaya perusahaan
Salah satu masalah mendasar yang timbul dalam estimasi
empiris fungsi biaya adalah bahwa biaya oportunitas harus dikeluarkan
dari data biaya akutansi yang ada. Tidak saja biaya yang ada harus
dialikasikan secara tepat ke dalam berbagai produk yang diproduksi
oleh perusahaan tetapi harus diperhatikan juga masalah dalam
memasang biaya dengan output sepanjang waktu.
B. Bentuk Fungsional Fungsi Biaya Jangka Pendek
Teori ekonomi memostulatkan bentuk S(kubik) kurva TVC seperti
ditunjukkan pada panel kiri figure 7-10 dengan bentuk Ukurva AVC
dan MC terkait. Persamaan untuk fungsi ini adalah
TVC= a(Q) + b Q2 + c Q3 AVC= TVC//Q= a + 2bQ +
3c Q2
MC= a + 2Bq + 3c Q 2
Panel kanan pada figure 7-10 menunjukkan suatu perkiraan
linear kurva TVC kubik, yang sering memberikan kecocokan empiris
yang lebih baik terhadap data-data pada daerah output yang
diobservasi. Persamaan estimasi perkiraan linear untuk S kurva TVC
kubik dan kurva AVC dan MC yang berkaitan adalah
TVC = a + bQ AVC = a/Q + b MC = b
C.

Mengestimasi Fungsi Biaya Jangka Panjang dengan Cross Sectional


Regression Analysis
Estimasi empiris kurva biaya jangka panjang lebih sulit
dibandingkan estimasi kurva biaya jangka pendek. Tujuan estimasi
kurva biaya jangka panjang adalah untuk menentukan skala pabrik
terbaik yang dibangun oleh perusahaan untuk meminimumkan biaya
dalam memproduksi tingkat output yang diharapkan dalam jangka
panjang. Secara teoritis, kurva biaya jangka panjang dapat diestimasi
dengan analisis regresi menggunaka baik data deret-waktu atau data
lintas bagian. Penggunaan data deret waktu melibatkan perubahan tipe
produk yang diproduksi perusahaan dan teknologi yang digunakan
untuk membuat estimasi yang tepat atas kurva biaya jangka panjang,
dengan analisis deret waktu dalam praktinya menjadi tidak mugkin.
Sehingga, analisis regresi dilakukan dengan data cross section.
Namun, analisis regresi dengan menggunakan data cross-section
untuk mengestimasi kurva biaya jangka panjang juga memunculkan
beberapa hal. Satu hal, perusahaan yang berbeda secara geografis
mungkin membayar harga yang berbeda untuk input mereka.

D. Mengestimasi Fungsi Biaya Jangka Panjang dengan Teknik Rekayasa


dan Survival
Teknik rekayasa menggunakan pengetahuan mengenai hubungan
fisik antara input dan output yang dinyatakan oleh fungsi produk untuk
menentukan kombinasi input optimum yang dibutuhkan dalam
memproduksi berbagai tingkat output.
Kelebihan teknik rekayasa adalah bahwa teknik rekayasa
didasarkan pada teknologi saat ini, sehingga terhindarkan
pencampurannya teknologi lama dan baru. Namun teknik rekayasa
bukan tanpa kekurangan. Masalah timbul karena teknik ini hanya
berhubungan dengan aspek teknis perusahaan tanpa
mempertimbangkan biaya, administrasi keuangan dan pemasaran.
Teknik survival pertama kali ditemukan oleh John Stuart Mill pada
tahun 1850 an dan dikembangkan oleh George Stigler. Dalam
bentuknya yang asli teknik ini hanya merumuskan bahwa jika
perusahaan besar dan kecil berada pada industri yang sama, dalam
jangka panjang skala ekonomi harus konstan atau mendekati konstan.
Meskipun teknik survival mudah diaplikasikan, teknik ini secara
implicit mengasumsikan bentuk kompetisi yang tinggi struktur pasar
dimana teknik survival bergantung hanya pada efisiensi ekonomi.