Anda di halaman 1dari 10

Tugas Akhir

Kevin Martend (2013-22-078)

KASUS PIDANA PENGANIAYAAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum, tidak berdasarkanvkekuasaan belaka.


Penegakan hukum harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku juga berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hukum tersebut harus
ditegakkan demi terciptanya tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana yang
diamatkan pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
alinea ke-empat yaitu membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi
segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Indonesia
sebagai negara yang sedang berkembang tentunya tidak terlepas dari pengaruh perkembangan
jaman yang sudah mendunia. Dimana perkembangan yang terjadi sudah mulai merambah
banyak aspek kehidupan. Perkembangan jaman sekarang ini tidak hanya membawa pengaruh
besar pada Negara Indonesia melainkan juga berdampak pada perkembangan masyarakat,
perilaku, maupun pergeseran budaya dalam masyarakat. Terlebih lagi setelah masa reformasi
kondisi ekonomi bangsa ini yang semakin terpuruk. Tidak hanya mengalami krisis ekonomi
saja namun juga berdampak pada krisis moral. Terjadinya peningkatan kepadatan penduduk,
jumlah pengangguran yang semakin bertambah, didukung dengan angka kemiskinan yang
tinggi mengakibatkan seseorang dapat berbuat kejahatan. Karena desakan ekonomi, banyak
orang yang mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
uang. Masalah ini menyebabkan semakin tingginya angka kriminalitas terutama di daerah
urban yang padat penduduk.
Pengertian Hukum pidana ada bermacam macam menurut ahli tapi disini kami hanya
memakai pendapat seorang ahli bernama Moeljatno : menurut moeljatno bahwa: Hukum
pidana adalah bagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara, yang
mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk:

1. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan
disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar
larangan tersebut;

2. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-
larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan;

3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada
orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.

Hukum pidana termasuk pada ranah hukum publik. Hukum pidana adalah hukum yang
mengatur hubungan antar subjek hukum dalam hal perbuatan - perbuatan yang diharuskan
dan dilarang oleh peraturan perundang - undangan dan berakibat diterapkannya sanksi berupa
pemidanaan dan/atau denda bagi para pelanggarnya. Dalam hukum pidana dikenal 2 jenis
perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran. Kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya
bertentangan dengan peraturan perundang - undangan tetapi juga bertentangan dengan nilai
moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat. Pelaku pelanggaran berupa kejahatan
mendapatkan sanksi berupa pemidanaan, contohnya mencuri, membunuh, berzina,
memperkosa dan sebagainya. Sedangkan pelanggaran ialah perbuatan yang hanya dilarang
oleh peraturan perundangan namun tidak memberikan efek yang tidak berpengaruh secara
langsung kepada orang lain, seperti tidak menggunakan helm, tidak menggunakan sabuk
pengaman dalam berkendaraan, dan sebagainya. Di Indonesia, hukum pidana diatur secara
umum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), yang merupakan peninggalan
dari zaman penjajahan Belanda, sebelumnya bernama Wetboek van Straafrecht (WvS). KUHP
merupakan lex generalis bagi pengaturan hukum pidana di Indonesia dimana asas-asas umum
termuat dan menjadi dasar bagi semua ketentuan pidana yang diatur di luar KUHP.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tindak pidana penganiayaan

Dalam kasus tindak pidana penganiyayaan dapat di bagi menjadi 2 yaitu: (Penganiayaan
Biasa Dan Penganiayaan Ringan) –misalnya Peristiwa Penganiayaan dengan korban Cici
Paramida yang dilakukan oleh suaminya dan juga salah satu anggota DPR RI dari partai
demokrat yang kepalanya dilempar buku oleh George Adicondro dalam sebuah diskusi.

Atas dua peristiwa tersebut jika kita merujuk pada KUHP setidaknya peristiwa tersebut
masuk dalam unsur-unsur penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 ayat (1)
(Penganiayaan biasa) Jo. 352 ayat (1) KUHP (penganiayaan Ringan).

Dalam beberapa perkara pidana penganiayaan memang tidak mudah untuk menentukan
apakah sebuah penganiayaan masuk dalam kategori Penganiayaan Biasa dengan
Penganiaayaan Ringan. Hal ini nampaknya perlu kita kaji lebih dalam, menginggat dalam
beberapa perkara terkadang Penyidik (Kepolisian) tidak sejalan dengan apa yang diinginkan
oleh korban. Khususnya berkaitan dengan ditahan atau tidaknya seorang pelaku
Penganiayaan, mengingat jika si pelaku dikenakan pasal 351 (1) KUHP maka hal tersebut
masuk dalam unsur penganiayaan biasa dimana pelaku harus ditahan, jika pelaku dikenakan
pasal 352 (1) KUHP maka hal tersebut masuk dalam unsure penganiayaan ringan sehingga
pelaku tidak bisa ditahan. (Lihat ketetuan pasal 21 Ayat (4) KUHAP).

Contoh: :
Pada tanggal 7 Maret 2010, pukul 03.30 WIB ada seseorang perempuan dianiaya oleh mantan
suaminya, akibat penganiayaan tersebut si korban mengalami luka dan rasa sakit pada bagian
bibir dan mulutnya. Bahwa setelah peristiwa tersebut terjadi Korban pada waktu yang sama
melaporkannya kepada pihak kepolisian. Setelah sampai dan melaporkan peristiwa tersebut
Si Korban di mintai keterangan (BAP) tentang bagaimana peristiwa tersebut terjadi dan siapa
pelakunya, hingga pada akhirnya munculah pertanyaan terakhir dari penyidik , dan si Korban
ditanya oleh Penyidik : Apakah setelah peristiwa penganiayaan tersebut terjadi Saksi Korban
masih bisa bekerja ? Jawab Korban “ Iya, saya masih bisa bekerja dengan baik. Bahwa
dengan alasan si korban masih bisa bekerja dengan baik, akhirnya Penyidik
berkesimpulan bahwa Pelaku dikenakan pasal 352 ayat (2) KUHP yakni penganiayaan
ringan walaupun jika kita lihat secara kasat mata demikian rupa parahnya luka tersebut.
Akibat dari penggunaan pasal tersebut akhirnya Pelaku tidak ditahan.

Bahwa selanjutnya setelah proses Pelaporan dan pemeriksaan selesai, ternyata keesokan
harinya akibat dari pemukulan tersebut Korban merasakan sakit nyeri yang luar biasa pada
bagian mulutnya, sehingga menyebabkan si Korban tidak bisa berfikir dan berkonsentrasi,
dan pada hari selanjutnya tanggal 8 Maret 2010 korban tidak bisa masuk kerja. Bahwa
selanjutnya Korban kembali mendatangi Penyidik dan meminta supaya pelaku ditahan,
mengingat rasa sakit yang dialami oleh Korban luar biasa sakitnya, khususnya dibagian
mulut. Atas pernmintaan tersebut Penyidik menolak untuk melakukan penahanan dengan
alasan si korban bukan lah penyanyi , sehingga walaupun mulutnya sakit dianggap masih bisa
melakukan aktifitas. Namun sebaliknya jikapun luka kecil dijari seorang pemain biola yang
hal tersebut menyebabkan si pemain biola tidak bisa bermain biola maka kejahatan tersebut
adalan penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 ayat (1) KUHP dan sipelaku
bisa ditahan.

Bahwa pandangan tersebut sangatlah konservatif, diskirminatif dan sangat jauh dari rasa
keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, mengingat konstruksi hukum yang
dibangun oleh penyidik terlalu simplikatif dalam mengartikan sakit yang dapat mengahalangi
seseorang untuk bekerja. Bagaimana jika si Korban adalan seorang ibu rumah tangga yang
tidak bekerja / pengangguran, ketika dirinya teraniaya dan menimbulkan luka dijarinya
sehingga akibat luka dijarinya dia tidak bisa memotong bawang atau cabai apakah sipelaku
bisa dikenakan pasal 351 ayat (1) KUHP dan ditahan. Pertanyaan ini sangat penting untuk
kita ajukan, mengingat terkadang penyidik sering kali bermain-main dan melakukan jual beli
pasal dalam sebuah perkara, dimana kepada korban dia mengatakan pasal yang dikenakan
adalah pasal 352 sehingga pelaku tidak ditahan, sedangkan pada pelaku selalu diancam akan
dikenakan pasal 351 ayat (1) KUHP sehingga harus ditahan. Hasilnya tentu saja si pelaku
akan mengeluarkan uang bagaimana caranya supaya sipelaku tidak ditahan, sedangkan
tanggung jawab Penydidik kepada Korban tidak perlu susah-susah mengingat dari awal
penyidik sudah mengelabui korban dengan penggunaan pasal 352 ayat (2) KUHP dimana
Pelaku tidak bisa ditahan.
Bahwa jika kita melihat akibat dari pemukulan tersebut tenyata sikorban mengalami sakit
nyeri dan tidak bisa bekerja dengan baik, maka secara otomatis unsur-unsur penganiayaan
ringan tidak bisa lagi dipertahankan oleh Penyidik dalam perkara tersebut, melainkan masuk
dalam peristiwa penganiayaan biasa sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 ayat (1) KUHP,
sehingga sudah seharusnya pelaku penganiayaan tersebut ditahan.

Jalan terbaik atas perkara tersebut adalah Korban dapat meminta BAP tambahan yang mana
hal tersebut dibenarkan menurut KUHAP. Dalam BAP tambahan Korban bisa kembali
menerangkan bahwa selang beberapa hari ternyata luka yang dialami telah mengakibatkan
sakit yang luar biasa sehingga Korban tidak bisa bekerja dan harus meliburkan dirinya 2 hari
untuk beristirahat.

Jika Pihak penyidik menolak untuk BAP tambahan, maka jalan terbaik adalah mencabut
berkas laporan dan memindahkannya ke tingkat yang lebih tinggi lagi dengan alasan penyidik
ditempat laporan semula tidak professional. Dalam hal ini, jika pelaporan dilakukan di Polsek
maka si pelapor bisa memindahkan laporannya ke Polres,dan kejenjang yang lebih tinggi
yaitu Polda dan Mabes Polri, mengingat menurut KUHAP hal tersebut dibenarkan.

B. PROSES HUKUM KASUS PIDANA PENGANIAYAAN

1.PELAPORAN

Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian. Siapa yang bisa
melapor ?

a. Korban (Terutama untuk delik aduan)

b. Saksi

c. Siapa saja yang mengetahui bahwa ada tindak kejahatan


2. PENYIDIKAN

Setelah menerima laporan, Polisi melakukan penyidikan. Penyidikan adalah: serangkaian


tindakan penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti untuk membuat jelas tindak
pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Dalam penyidikan, diperlukan
kerjasama dari anggota masyarakat yang diminta sebagai saksi. Seringkali karena tidak
terbiasa berhubungan dengan aparat penegak hukum, warga yang diminta menjadi saksi
memerlukan pendampingan dari paralegal selama proses penyidikan berlangsung.

3. PENUNTUTAN

Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara ke pengadilan


negeri yang berwenang. Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan meminta Hakim Pengadilan
Negeri untuk memeriksa dan memutuskan perkara. Lalu Jaksa akan membaca dengan tekun
dan teliti untuk merumuskan dokumen tuntutan untuk di limpahkan ke Pengadilan Negeri
yang berwenang.

4. PERSIDANGAN

Mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa dan memutus
perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur dan tidak memihak. Hakim mengadili kasus di
depan sidang pengadilan. Dalam persidangan diperlukan pemantauan dari warga bersama
paralegal baik bila warga masyarakat menjadi korban maupun bila dituduh sebagai tersangka.

5. EKSEKUSI PUTUSAN PENGADILAN

Bila semua pihak setuju dengan putusan pengadilan, maka putusan akan memiliki kekuatan
hukum tetap, dan disusul dengan pelaksanaan eksekusi. Eksekusi adalah pelaksanaan putusan
pengadilan yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Eksekusi akan dilakukan oleh Jaksa
Penuntut Umum. Tapi bila salah satu pihak keberatan dengan putusan tingkat pertama, maka
bisa mengajukan banding. Untuk meminta banding/kasasi, diperlukan dasar hukum dan
alasan yang kuat. Untuk itu sebaiknya minta nasihat dari pengacara bila ingin mengajukan
banding atau kasasi. Semua putusan hakim wajib ditulis dan bisa diakses oleh para pihak dan
masyarakat umum.

Upaya Hukum Setelah Keluar Putusan Pengadilan Negeri:


Banding

Banding ke Pengadilan Tinggi (di tingkat Propinsi): bila jaksa atau terdakwa atau kedua-
duanya keberatan dengan putusan majelis hakim di pengadilan negeri, maka mereka bisa
mengajukan banding atas putusan tersebut ke pengadilan tinggi.

Kasasi

Kasasi: bila jaksa atau terdakwa atau kedua-duanya tetap keberatan dengan putusan
Pengadilan Tinggi, maka bisa dimintakan kasasi ke Mahkamah Agung (di tingkat Nasional)

PN/PT (PUTUSAN)

PT/MA

PUTUSAN

C. YANG HARUS DIPERHATIKAN BILA KITA MENJADI TERSANGKA SEBUAH


TINDAK PIDANA BILA TERJADI PENANGKAPAN:

A. Pertama, periksa prosedur penangkapan, tanyakan apa kesalahan yang dituduhkan.


Tanyakan surat perintah penangkapan, dan bacalah surat itu dengan teliti. Surat penangkapan
dikeluarkan oleh kantor polisi atau jaksa untuk kasus pidana khusus.

B. Hubungi pengacara/lembaga bantuan hukum. Sekalipun kita memang melakukan apa yang
dituduhkan, kita tetap berhak atas bantuan/pendampingan hukum. (daftar LBH/pengacara
masyarakat bisa dilihat di kantor LBH atau posko bantuan hukum terdekat).

C. Proses pemeriksaan: kita boleh menolak memberi kesaksian selama proses pemeriksaan
bila belum didampingi oleh pengacara hukum.

Surat Perintah Penangkapan, minimal isinya memuat:

1. Identitas lengkap si tersangka


2. Pelanggaran pasal/peraturan yang disangkakan

D. Lamanya masa penahanan untuk penyidikan dan persidangan

Penyidikan/Kepolisian 20 hari dapat ditambah 40 hari

Penuntut Umum/Jaksa 20 hari dapat ditambah 40 hari lagi

Persidangan tingkat pertama 30 hari dapat ditambah 60 hari lagi

Persidangan tingkat banding 30 hari dapat ditambah 60 hari lagi

Persidangan tingkat kasasi 50 hari dapat ditambah 60 hari lagi

Hak tersangka:

• Persidangan yang adil

• Didampingi oleh penasehat hukum

• Memperoleh berkas perkara dalam setiap tingkat pemeriksaan

• Tidak mengalami kekerasan atau tekanan.

Apa yang perlu dilakukan jika kita adalah korban tindak kejahatan ?

A. Melaporkan: bisa dilakukan oleh anda sendiri atau orang yang anda percayai
(paralegal/pengacara/LBH/Kepala Desa dan lain-lain). Lapor kepada Kepolisian setempat.
Untuk pidana korupsi, anda bisa laporkan langsung ke Kantor Kejaksaan Negeri setempat.

B. Memantau perkembangan kasus yang sudah anda laporkan. Bagaimana bila terjadi
kemandegan dalam penanganan sebuah kasus? Datangi kantor aparat hukum untuk
menanyakan perkembangan kasus dan catat keterangan yang diberikan. Beritahukan kepada
paralegal, bila kita menganggap proses hukum berjalan tidak transparan.

C. Melakukan tindakan tekanan penyelesaian kasus; bekerja sama dengan LSM advokasi,
pengacara masyarakat atau rekan-rekan media massa untuk bersama-sama melakukan
pemantauan dan penyebarluasan hasil pemantauan tersebut ke media massa atau cara
penyebaran informasi yang lain.
D. RUMUSAN MASALAH

1. Dalam beberapa perkara pidana penganiayaan memang tidak mudah untuk menentukan
apakah sebuah penganiayaan masuk dalam kategori Penganiayaan Biasa dan Penganiaayaan
Ringan.

2. Terkadang penyidik sering kali bermain-main dan melakukan jual beli pasal dalam
sebuah perkara pidana,

E. TUJUAN

1. Agar kita dapat memahami sebuah proses hukum dalam kasus pidana penganiyayaan
tersebut diatas.

2. Untuk para penyidik agar tidak bermain main atau jual beli pasal dalam menangani
sebuah perkara pidana (tidak memihak pada siapa pun).
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari kasus pidana penganiayaan tersebut diatas maka disimpulkan sebagai berikut:

1. Bahwa pandangan tersebut sangatlah konservatif, diskirminatif dan sangat jauh dari rasa
keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, mengingat konstruksi hukum yang
dibangun oleh penyidik terlalu simplikatif dalam mengartikan sakit yang dapat mengahalangi
seseorang untuk bekerja. Bagaimana jika si Korban adalan seorang ibu rumah tangga yang
tidak bekerja / pengangguran, ketika dirinya teraniaya dan menimbulkan luka dijarinya
sehingga akibat luka dijarinya dia tidak bisa memotong bawang atau cabai apakah sipelaku
bisa dikenakan pasal 351 ayat (1) KUHP dan ditahan.

2. Dalam beberapa perkara pidana penganiayaan memang tidak mudah untuk menentukan
apakah sebuah penganiayaan masuk dalam kategori Penganiayaan Biasa dengan
Penganiaayaan Ringan. Hal ini nampaknya perlu kita kaji lebih dalam, menginggat dalam
beberapa perkara terkadang Penyidik (Kepolisian) tidak sejalan dengan apa yang diinginkan
oleh korban. Khususnya berkaitan dengan ditahan atau tidaknya seorang pelaku
Penganiayaan, mengingat jika si pelaku dikenakan pasal 351 (1) KUHP maka hal tersebut
masuk dalam unsur penganiayaan biasa dimana pelaku harus ditahan, jika pelaku dikenakan
pasal 352 (1) KUHP maka hal tersebut masuk dalam unsure penganiayaan ringan sehingga
pelaku tidak bisa ditahan. (Lihat ketetuan pasal 21 Ayat (4) KUHAP).

B. SARAN

Dari hasil pembahasan diatas dapat dilakukan beberapa cara untuk mencegah terjadinya
kesalahan kesalahan dalam penerapan pasal agar tidak merugikan pihak pihak yang terkait
dalam masalah pidana tersebut yaitu:

1. Penyidik harus lebih teliti dalam menyelidiki/mengintrogasi korban/tersangka dalam


kasus pidana tersebut (penganiayaan) sehingga tidak ada pihak yang dirugikan atau di
untungkan.

2. Bagi pihak korban/tersangka harus jujur dalam memberikan keterangan agar tidak
membingungkan para penyidik dalam memproses suatu kasus (pidana)