Anda di halaman 1dari 14

KONSTITUSI DAN UUD 1945

DISUSUN OLEH:

DESSY FADDHILA
181137044

TEKNIK SIPIL

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur saya ucapkan atas berkah dan hidayah Allah SWT, saya dapat
menyelesaikan makalah ini dengan judul “Konstitusi dan UUD 1945” ini tanpa
hambatan yang berarti. Makalah ini dibuat sebagai bahan pembelajaran tentang
paham Konstitusi dan UUD 1945 dan sebagai bentuk pemenuhan tugas untuk mata
kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Harapan saya semoga makalah yang sederhana ini bisa memberikan pembelajaran
dan pengetahuan bagi pembaca khususnya mengenai Pancasila Sebagai Pedoman
Hidup, tidak lupa saya selaku penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penulisan
makalah ini demi perbaikan penulis dalam menulis makalah selanjutnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, November 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul ……………………………………………………………………….. 1


Kata Pengantar ………………………………………………………………………. 2
Daftar Isi ………………………………………………………………...................... 3
Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………..…………………. 4
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………..………………… 4
1.3 Tujuan …………………………………………………..……………….. 5

Bab II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Konstitusi dan UUD 1945 ……….………..…………………. 6
2.2 Sejarah Singkat Terbentuknya Konstitusi dan UUD 1945 …...………… 6
2.3 Keterkaitan Konstitusi dan UUD 1945 …..……………..……………….. 7
2.4 Nilai-nilai Penting yang Terkandung di Dalam Konstitusi dan UUD 1945
…...…..……………....…………......……………....……………..…...…10
2.5 Apa Saja Fungsi Dari Konstitusi dan UUD 1945 …..……….....………. 12
2.6 Mengapa Konstitusi dan UUD 1945 Menjadi Penting Untuk Bangsa
Indonesia…..………..……………..………………..……………...…… 13

Bab III PENUTUP …………………………………………………………………. 14

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam sebuah negara, pastilah kita mendapati adanya dasar negara dan
kedaulatan. Tidak disebut negara apabila negara tersebut tidak memiliki dasar-
dasar berdirinya sebuah negara. Begitu pula dengan Indonesia. Kita mengenal
dasar negara Indonesia ini adalah Pancasila dan UUD 1945. Kedua dasar
negara ini memiliki nilai penting dalam kehidupan bangsa. Kedua dasar
negara tersebut berisi landasan negara, cita-cita, juga pedoman hidup bangsa
Indonesia. Pancasila dikenal sebagai landasan (EMPTY), sedangkan UUD
1945 sebagai (EMPTY).

Selain dasar negara Pancasila dan UUD 1945, kita juga mengenal istilah
konstitusi. Konstitusi menggambarkan struktur negara dan bekerjanya
lembaga-lembaga negara. Konstitusi menjelaskan kekuasaan dan kewajiban
pemerintah. Konstitusi merupakan pelengkap dari dasar negara yang dibuat
oleh pemerintah.

Dalam ulasan kali ini, penulis akan membahas pengertian konstitusi dan
undang-undang dasar 1945, keterkaitan dua hal tersebut, nilai-nilai penting
yang terkandung dalam dua hal tersebut, fungsi dari kedua hal tersebut dan
mengapa kedua hal tersebut menjadi sesuatu yang penting untuk bangsa
Indonesia itu sendiri.

1.2 Rumusan Masalah

1) Apa pengertian Konstitusi dan UUD 1945?


2) Bagaimana sejarah pembentukan Konstitusi dan UUD 1945?
3) Apa keterkaitan antara Konstitusi dan UUD 1945?
4) Apa saja nilai-nilai penting yang terkandung dalam Konstitusi dan UUD
1945?
5) Apa saja fungsi dari Konstitusi dan UUD 1945?

4
6) Mengapa Konstitusi dan UUD 1945 menjadi penting untuk bangsa
Indonesia?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui pengertian Konstitusi dan UUD 1945;
2) Untuk mengetahui sejarah terbentuknya Konstitusi dan UUD 1945;
3) Untuk mengetahui hubungan keterkaitan antara Konstitusi dan UUD 1945;
4) Untuk mengetahui apa saja nilai-nilai penting yang terkandung di dalam isi
Konstitusi dan UUD 1945;
5) Untuk mengetahui apa saja fungsi yang terdapat dalam Konstitusi dan
UUD 1945;
6) Untuk mengetahui seberapa penting peran Konstitusi dan UUD 1945 bagi
bangsa Indonesia.

BAB 2

PEMBAHASAN

5
2.1 Pengertian Konstitusi dan UUD 1945

Di bagian ini akan dibahas pengertian Konstitusi dan UUD 1945 secara
lebih rinci. Konstitusi sendiri adalah hukum dasar/hukum utama dari sebuah
negara. Konstitusi menggambarkan struktur negara dan bekerjanya lembaga-
lembaga negara dan juga menjelaskan kekuasaan dan kewajiban pemerintah.
Suatu konstitusi memuat aturan atau sendi-sendi pokok yang bersifat
fundamental untuk menegakkan bangunan besar yang bernama “Negara”.

Sementara itu, UUD 1945 merupakan hukum dasar yang menetapkan


struktur dan prosedur organisasi yang harus diikuti oleh otoritas publik agar
keputusan-keputusan yang dibuat mengikat komunitas politik.

2.2 Sejarah Singkat Terbentuknya Konstitusi dan UUD 1945

Sejarah adanya Konstitusi di Indonesia

Konstitusi disusun oleh sebuah panitia yang terdiri dari pemimpin-


pemimpin politik dan pakar-pakar hukum. Panitia ini bekerja terburu-buru
menjelang pernyataan kemerdekaan. Akibatnya banyak hal yang tidak diatur
secara rinci sehingga mudah dimanipulasi oleh pemerintah. Inilah yang terjadi
selama 25 tahun kekuasaan Orde Baru.

Sejarah Terbentuknya UUD 1945

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)


yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945 adalah badan yang menyusun
rancangan UUD 1945. Pada masa sidang pertama yang berlangsung dari
tanggal 28 Mei 1945 s/d 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan gagasan
tentang “Dasar Negara” yang diberi nama Pancasila. Pengesahan UUD 1945
dilakukan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada
tanggal 29 Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun
pada masa sidang kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
( BPUPK ). Nama badan ini tanpa kata “ INDONESIA”, karena hanya
diperuntukkan untuk tanah Jawa saja. Tanggal 18 Agustus 1945, PPKI

6
mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

2.3 Keterkaitan Konstitusi dan UUD 1945

Konstitusi dan UUD 1945 seperti suatu hal penting yang berjalan
beriringan. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam tata kehidupan bangsa
Indonesia. Dalam bagian ini akan dijabarkan apa-apa saja keterkaitan antara
Konstitusi dan UUD 1945.

Konstitusi dan UUD 1945 mempunyai hubungan secara yuridis, filosofis


dan sosiologis. Berikut ulasan lebih lengkapnya :

a. Secara Yuridis : Keterkaitan dasar negara dengan konstitusi bahwa


konstitusi mengandung pokok-pokok pikiran dasar negara yang diwujudkan
dalam bentuk pasal-pasal.
b. Secara Filosofis : Konstitusi di dasarkan pada filosofil bangsa tersebut
yang berakar pada budaya bangasa.

c. Secara Sosiologis : Konstitusi dapat menampung nilai-nilai yang


berkembang di masyarakat yang bersumber kepada dasar negara dalam
penyelenggaraan pemerintahan .

Menurut Miriam Budiardjo, setiap Undang-undang Dasar / Konstitusi


memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikt :

1. Organisasi Negara

Misalnya: pembagian kekuasaan antara badan Eksekutif, Legeslatif dan


Yudikatif. Masalah pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat /
pemerintah federal dengan pemerintah daerah / pemerintah negara bagian;
Prosedur penyelesaian masalah pelanggaran yurisdiksi lembaga negara.
*Pembagian kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Legislatif di Indonesia adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

2. Hak-hak asasi manusia


Di Indonesia sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM).

3. Prosedur mengubah Undang-undang dasar

7
Mengubah UUD suatu negara dapat dilakukan, tetapi tidak mudah untuk
sewenang-wenang melakukan itu.

4. Adakalanya memuat larangan untuk mengubah sifat-sifat tertentu dari


Undang-undang Dasar.
Kita dapat mengakui pada UUD 1945 telah ada perubahan. Akan tetapi
adakalanya perubahan itu tidak dapat dilakukan oleh sebab-sebab/sifat
tertentu sehingga ia tidak dapat dirubah.

HUBUNGAN PENDAPAT MERIAM BUDIARJO ATAS UUD 1945

1. Pendapat Meriam Budoarjo Yang mengatakan bahwa dalam konstitusi


terdapat pembagian kekuasaan sangat jelas adanya dalam UUD 1945.
Dalam UUD 1945 pada Bab II (Majelis Permusyawaratan Rakyat), Bab III
(Kekuasaan Pemerintahan Negara), Bab V (Kementerian Negara), Bab VI
(Pemerintah Daerah), Bab VII (Dewan Perwakilan Rakyat), Bab VIIA
(Dewan Perwakilan Daerah), Bab VIIIA (Badan Pemeriksa Keuangan) dan
Bab XI (Kekuasaan Kehakiman).Adanya Bab-bab ini membuktikan bahwa
dalam UUD 1945 Jelas terdapat pembagian kekuasaan antara Kekuasaan
Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.

2. Pendapat Meriam Budiarjo yang mengatakan bahwa dalam konstitusi


terdapat Hak asasi manusia (HAM) juga sangat jelas dalam undang-undang
dasar 1945. Dalam UUD 1945 Pada Bab XA (Hak asasi manusia). Misalnya
Dalam UUD 1945 bab XA PAsal 28A yang Mangatakan Setiap Orang
berrhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya
dan banyak lagi pasal dalam Bab XA ini yang menjelaskan tentang Hak
asasi Manusia.

3. Pendapat Meriam Budiarjo Yang mengatakan Bahwa dalam Konstitusi


tedapat Prosedur mengubah UUD Juga jelas dalam Undang-undang dasar
1945. Pada Bab XVI (Perubahan Undang-undang dasar). Pada bab Ini
Dijelaskan tentang prosedur mengubah Undang-undang dasar. Misalnya
Pada Pasal 37

(1) Untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 2/3 dari


pada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir.

8
(2) Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari pada
jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat yang hadir.

4. Pendapat Meriam Budiarjo yang mengatakan bahwa dalam konstitusi ada


kalanya larangan mengubah sifat tertentu dari UUD. Setelah mengamati
UUD 1945, tidak ditemukan adanya pembahasan mengenai Larangan
mengubah siat tertentu dari UUD. Yang ditemukan hanya Larangan
memberlakukan suatu Badan Negara atau Peraturan jika belum diadakan
yang baru menurut UUD. Hal ini terdapat pada Aturan Peralihan Pasal II
yang mengatakan bahwa Segala badan negara dan peraturan yang ada
masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut
Undang-Undang Dasar ini.

Hubungan Konstitusi dan UUD 1945 tidak hanya berlaku di Indonesia.


Keterkaitan ini juga berlaku di negara-negara lain yang menganut sistem liberal
dan komunis. Berikut penjelasannya sekaligus perbandingan Hubungan
Konstitusi dan UUD di negara demokrasi, liberal dan komunis :

 Hubungan dasar negara dan konstitusi di Indonesia


Dapat dilihat dari hubungan antara sila-sila pancasila yang termuat pada
pembukaan UUD 1945 dengan pasal-pasal yang termuat dalam batang
tubuh UUD 1945. Pasal-pasal UUD adalah penjabaran dari pokok-pokok
pikiran yang ada dalam pembukaan UUD 1945.

 Hubungan dasar negara dan konstitusi di negara liberal (As)


Konstitusi yang di buat bertujuan untuk :
 Menegakkan keadilan
 Menjamin keamanan dalam negeri
 Menyediakan pertahanan umum
 Memajukan kesahteraan umum
 Mengamankan kemerdekaan rakyat As yang dianggap sebagai anugerah
dari sang pencipta
 Hubungan dasar negara dan konstitusi di negara komunis (Uni soviet)
Dasar negara Uni soviet adalah komunisme. Hal itu di nyatakan di dalam
pembukaan konstitusi 1977 hubungn dasar negara komunisme dengan

9
pasal-pasal dalam konstitusi Uni Soviet terdapat di dalam alinea terakhir.
Ajaran komunisme di jabarkan kedalam aturan pokok tentang kehidupan
bernegara yang sesuai dengan komunisme di dalam konstitusi Uni Soviet.

2.4 Nilai-nilai Penting yang Terkandung di dalam Konstitusi dan UUD 1945

Eksistensi suatu “negara” yang diisyaratkan oleh A.G. Pringgodigdo, baru


riel-ada kalau memenuhi empat unsur: (1) memenuhi unsur pemerintahan yang
berdaulat, (2) wilayah tertentu, (3) rakyat yang hidup teratur sebagai suatu
bangsa (nation), dan (4) pengakuan dari negara-negara lain. Dari ke empat
unsur untuk berdirinya suatu negara ini belumlah cukup menjamin
terlaksananya fungsi kenegaraan suatu bangsa kalau belum ada hukum dasar
yang mengaturnya. Hukum dasar yang dimaksud adalah sebuah Konstitusi atau
Undang Undang Dasar.

Untuk memahami hukum dasar suatu negara, juga belum cukup kalau
hanya dilihat pada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam Undang
Undang Dasar atau konstitusi saja, tetapi harus dipahami pula aturan-aturan
dasar yang muncul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara
meskipun tidak tertulis, atau sering dicontohkan dengan “konvensi” ketatane-
garaan suatu bangsa. Sebab dengan pemahaman yang demikian inilah
“ketertiban“ sebagai fungsi utama adanya hukum dapat terealisasikan.

Prof. Mr. Djokosutono melihat pentingnya konstitusi (grondwet) dari dua


segi. Pertama, dari segi isi (naar de inhoud) karena konstitusi memuat dasar
(grondslagen) dari struktur (inrichting) dan memuat fungsi (administratie)
negara. Kedua, dari segi bentuk (naar demaker) oleh karena yang memuat
konstitusi bukan sembarang orang atau lembaga. Mungkin bisa oleh seorang
raja, raja dengan rakyat, badan konstituante, atau lembaga diktator. Pada sudut
pandang yang kedua ini, K.C. Wheare mengkaitkan pentingnya konstitusi
dengan pengertian hukum dalam arti sempit, di mana konstitusi dibuat oleh
badan yang mempunyai “wewenang hukum” yaitu sebuah badan yang diakui
sah untuk memberikan kekuatan hukum pada konstitusi. Tapi dalam
kenyataannya tidak menutup kemungkinan adanya konstitusi yang sama sekali
hampa (tidak sarat makna, kursif penulis), karena tidak ada pertalian yang

10
nyata antara pihak yang merumuskan dan membuat konstitusi dengan pihak
yang benar-benar menjalankan pemerintahan negara. Sehingga konstitusi hanya
menjadi dokumen historis semata atau justru menjadi tabir tebal antara
perumus atau peletak dasar konstitusi dengan pemerintah pemegang astafet
berikutnya. Kondisi obyektif semacam inilah yang menjadi salah satu
penyebab jatuh bangunnya suatu pemerintahan yang sering diikuti pula oleh
perubahan konstitusi negara tersebut. Seperti yang pernah terjadi di Philiphina,
Kamboja, dan lain sebagainya.

Tidak heran, kalau dalam praktek ketatanegaraan suatu negara dijumpai


suatu konstitusi yang tertulis tidak berlaku secara sempurna, oleh karena salah
satu dari beberapa pasal di dalamnya tidak berjalan atau tidak dijalankan lagi.
Atau dapat juga karena konstitusi yang berlaku itu tidak dijalankan, karena
kepentingan suatu golongan/kelompok atau kepentingan pribadi penguasa
semata. Disamping itu tentunya masih banyak nilai-nilai dari konstitusi yang
dijalankan sesuai dengan pasal-pasal yang tercantum di dalamnya.

Dari pemikiran tersebut, Karl Loewenstein mengadakan suatu


penyelidikan mengenai apakah arti dari suatu konstitusi tertulis (UUD) dalam
suatu lingkungan nasional yang spesifik, terutama kenyataannya bagi rakyat
biasa sehingga membawanya kepada tiga jenis penilaian konstitusi sebagai
berikut:

1. Konstitusi yang mempunyai nilai Normatif

Suatu konstitusi yang telah resmi diterima oleh suatu bangsa dan bagi
mereka konstitusi tersebut bukan hanya berlaku dalam arti hukum, akari
tetapi juga merupakan suatu kenyataan yanghidup dalam arti sepenuhnya
diperlukan dan efektif. Dengan kata lain konstitusi itu dilaksanakan secara
murni dan konsekuen.

2. Konstitusi yang mempunyai nilai Nominal

Konstitusi yang mempunyai nilai nominal berarti secara hukum konstitusi


itu berlaku, tetapi kenyataannya kurang sempurna. Sebab pasal-pasal ter-
tentu dari konstitusi tersebut dalam kenyataannya tidak berlaku.

11
3. Konstitusi yang mempunyai nilai Semantik

Suatu konstitusi disebut mempunyai nilai semantik jika konstitusi tersebut


secara hukum tetap berlaku, namun dalam kenyataannya adalah sekedar
untuk memberikan bentuk dari tempat yang telah ada, dan dipergunakan
untuk melaksanakan kekuasaan politik. Jadi konstitusi tersebut hanyalah
sekedar suatu istilah belaka, sedangkan dalam pelaksanaannya hanyalah
dimaksudkan untuk kepentingan pihak penguasa.

Isi konstitusi umumnya hanya memuat aturan-aturan pokok, hanya memuat


garis-garis besar sebagai instruksi kepada pusat dan lain-lain penyelenggara
negara untuk menyelenggarakan kehidupan negara dan kesejahteraan
sosial. Aturan-aturan asing lebih rinci diserahkan pengaturannya kepada
undang-undang yang berada dibawah konstitusi, yang lebih mudah untuk
dibuat, diperbaharui, maupun dicabut.

Pada umumnya konstitusi atau UUD berisi :

 Pernyataan tentang ideology dasar Negara atau gagasan-gagasan moral


kenegaraan;
 Ketentuan tentang struktur organisasi Negara;
 Ketentuan tentang perlindungan hak-hak manusia;
 Ketentuan tentang prosedur mengubah UUD;
 Larangan mengubah sifat tertentu dari UUD.

2.5 Apa Saja Fungsi dari Konstitusi atau UUD 1945

Konstitusi atau UUD sebagai sumber hukum tertinggi dan sumber segala
kewenangan, karena UUD 1945 itu merupakan sumber dari segala sumber
hukum, sumber dari segala kewenangan, sumber dari segala badan kenegaraan.
Fungsi UUD 1945 adalah sebagai pedoman acuan dalam penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konstitusi atau UUD memiliki 2 fungsi pokok, yaitu menentukan dan


membatasi kekuasaan penguasa Negara dan penjamin hak-hak asasi manusia.
Melalui pembagian kekuasaan Negara, konstitusi menentukan dan membatasi
kekuasaan penguasa, sedangkan melalui aturan tentang hak asasi, konstitusi

12
memberi perintah agar penguasa Negara melindungi hak-hak asasi manusia
warga Negara dan penduduknya.

2.6 Mengapa Konstitusi dan UUD 1945 Menjadi Penting Untuk Bangsa
Indonesia

Konstitusi atau UUD menjadi penting karena konstitusi sebagai dokumen


nasional yang mengandung perjanjian luhur, berisi kesepakatan-kesepakatan
tentang politik, hokum, pendidikan, budaya, ekonomi, kesejahteraan dan aspek
fundamental yang menjadi tujuan Negara. Konstitusi juga berfungsi sebagai
piagam kelahiran, sebagai sumber hokum tertinggi, sebagai identitas nasional
dan lambing persatuan, sebagai alat membatasi kekuasaan, serta pelindung
HAM dan kebebasan warga Negara.

Konstitusi suatu Negara merupakan dasar bagi terciptanya rule of law yang
artinya dengan konstitusi yang ada akan dibuat peraturan untuk memegang dan
melaksanakan kekuasaan, sehingga ada pencegahan agar kecenderungan untuk
menyalahgunakan kekuasaan tidak terjadi. Konstitusi mempunyai kedudukan
sebagai hokum dasar, karena berisi aturan-aturan dan ketentuan tentang hal-hal
yang mendasar dalam kehidupan suatu Negara, juga memuat tentang lembaga
Negara sekaligus kewenangannya, serta peraturan perundang-undangan beserta
isinya. Konstitusi juga memiliki kedudukan sebagai hokum tertinggi dalam
suatu Negara. Aturan yang terdapat dalam konstitusi pun memiliki kedudukan
yang lebih tinggi terhadap aturan lainnya, sehingga aturan lain harus sesuai
dengan konstitusi.

BAB 3

PENUTUP

13
3.1 Kesimpulan

UUD 1945 dan Konstitusi memiliki peran penting untuk bangsa Indonesia.
UUD 1945 sebagai dasar negara yang menjadi pedoman dalam menjalankan
roda pemerintahan yang mencakup hukum, norma dalam masyarakat, HAM,
agama dan lain sebagainya. Sedangkan konstitusi memuat aturan-aturan pokok,
hanya memuat garis-garis besar sebagai instruksi kepada pusat dan lain-lain
penyelenggara negara untuk menyelenggarakan kehidupan negara dan
kesejahteraan sosial.

14