Anda di halaman 1dari 6

PROFESI (Profesional Islam)

Media Publikasi Penelitian; 2018; Volume 15; No 2.


Website: ejournal.stikespku.ac.id

Pengetahuan Risiko, Perilaku Pencegahan


Anemia dan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri

Nur Ainun Hasyim, Mutalazimah*, Muwakhidah


Prodi Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta
*email: mutalazimah@ums.ac.id

Kata Kunci Abstrak


Pengetahuan risiko, Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan pada remaja di
Perilaku pencegahan Indonesia. Remaja putri berisiko terkena anemia sepuluh kali lipat
anemia, dibandingkan dengan remaja putra. Akibat jangka pendek anemia pada
Kadar hemoglobin remaja yaitu mudah lelah, lemah, letih dan lesu. Akibat jangka panjang
apabila hamil dapat menyebabkan BBLR, angka kematian perinatal,
prematuritas. Anemia disebabkan oleh beberapa hal, seperti kurangnya
pengetahuan risiko anemia dan perilaku pencegahan anemia. Menganalisis
hubungan pengetahuan risiko anemia dan perilaku pencegahan anemia
dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMK Negeri 1 Sukoharjo.
Jenis penelitian ini termasuk observasional dengan pendekatan cross
sectional.Subyek penelitian sebanyak 54 remaja putri yang dipilih secara
simple random sampling. Pengetahuan risiko anemia dan perilaku
pencegahan anemia diukur dengan kuesioner yang telah teruji reliablitasnya.
Kadar hemoglobin diukur menggunakan alat Hemocue. Analisis statistik
menggunakan uji korelasi Pearson product moment. Rata-rata nilai
pengetahuan risiko anemia pada remaja putri adalah 69.7; rata-rata skor
perilaku pencegahan anemia adalah 27.1; dan rata-rata kadar hemoglobin
remaja putri adalah 11.6 g/dL. Ada hubungan antara pengetahuan risiko
anemia dengan kadar hemoglobin pada remaja putri (p=0.001) dan tidak ada
hubungan antara perilaku pencegahan anemia dengan kadar hemoglobin
pada remaja putri(p=0.481). Kadar Hb remaja putri dapat dioptimalkan
melalui peningkatan pengetahuan risiko dan perilaku pencegahan anemia.

The Knowledge of Anemia Risk, Prevention Behavior of Anemia,


and Hemoglobin Levels on Adolescent Girls

Keywords Abstract
Knowledge Of Anemia is still one health problem in adolescents in Indonesia. Adolescent
Anemia Risk, girls are at risk of developing anemia than young men. Short-term
Anemia Prevention consequences of anemia in adolescents are easily tired, weak, and lethargic.
Behavior, While long-term consequense in pre pregnant women can impact to birth
Hemoglobin Levels, outcome such as low birth weight, perinatal mortality, prematurity. Anemia is
Adolescent Girls. caused by several factors, such as a lack of knowledge of anemia risk and
prevention behavior of anemia. Analyzing the correlation between knowledge
of anemia risk, prevention behavior of anemia and hemoglobin level on
adolescent girls at Vocational High School 1 of Sukoharjo is the aim of this
study. This study was an observational study with cross sectional method. The
research subjects were 54 adolescent girls chosen by simply random sampling.
The knowledge of anemia risk and prevention behavior of anemia was
measured by answering the questionnaire, and hemoglobin level was measured
using a hemocue device. Statistical analysis used the correlation test of

28
PROFESI (Profesional Islam)
Media Publikasi Penelitian; 2018; Volume 15; No 2.
Website: ejournal.stikespku.ac.id

Pearson Product moment. The average score of knowledge of anemia risk was
69.7; the average score of anemia prevention behavior was 27.1; and the
average of hemoglobin level was 11.6; g/dL. There was correlation between
knowledge of anemia risk and hemoglobin levels in adolescent girls (p=0.001)
and there was no correlation between prevention behavior of anemia and
hemoglobin levels in adolescent girls (p=0.481). Hemoglobin levels could be
optimized by improve knowledge of risk and prevention behavior of anemia.

1. PENDAHULUAN melatarbelakangi tingginya prevalensi anemia di


Anemia gizi besi adalah anemia yang timbul negara berkembang,adalah keadaan sosial, peri-
akibat berkurangnya penyediaan besi untuk laku, kurang asupan zat besi, dan pengetahuan
proses pembentukan sel darah merah, karena tentang anemia. Pengetahuan memegang peranan
cadangan zat besi kosong sehingga pembentukan penting dalam kejadian anemia, bila pengetahuan
hemoglobin berkurang (Sudoyo et al., 2006). tentang anemia rendah maka kejadian anemia
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun pada remaja putri akan meningkat, hal ini sesuai
2013, didapatkan hasil prevalensi anemia pada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
remaja putri umur 15-24 tahun adalah 18,4% Martini (2015) di MAN 1 Metro Tanjung Karang,
(Kemenkes RI, 2013). Berdasarkan hasil yang menunjukkan bahwa remaja putri dengan
penelitian sebelumnya ditemukan prevalensi pengetahuan yang kurang mempunyai risiko 2,3
kejadian anemia di SMK Negeri 1 Kabupaten kali mengalami anemia dibandingkan dengan
Sukoharjo pada remaja putri sebesar 38,9% remaja yang berpengetahuan baik.
(Setyaningrum & Mutalazimah, 2016). Hasil survey yang dilakukan oleh Puskesmas
Remaja putri yang telah mengalami mens- Bendosari di SMK Negeri 1 Sukoharjo pada
truasi merupakan salah satu kelompok WUS dan tahun 2014 menunjukkan bahwa dari 100 sampel
merupakan masa transisi dan anak-anak menuju remaja putri yang diperiksa, sebanyak 39%
dewasa yang berpeluang meningkatnya aktifitas diantaranya mengalami anemia. Berdasarkan
kehidupan sosial dan kesibukan, sehingga masalah di atas maka peneliti tertarik untuk
mempengaruhi kebiasaan yang cenderung meng- meneliti hubungan pengetahuan risiko anemia
konsumi makanan cepat saji, praktis, namun dan perilaku pencegahan anemia dengan kadar
rendah kandungan gizi (Kristianti et al., 2009). hemoglobin pada remaja putri di SMK Negeri 1
Kurangnya kandungan zat gizi dalam makanan Sukoharjo. Tujuan penelitian secara umum
berisiko menyebabkan anemia. Anemia pada adalah untuk menganalisis hubungan penge-
remaja didefinisikan sebagai suatu keadaan kadar tahuan risiko anemia dan perilaku pencegahan
hemoglobin (Hb) di dalam darah kurang dan anemia dengan kadar hemoglobin pada remaja
angka normal sesuai dengan kelompok jenis putri di SMK Negeri 1 Sukoharjo.
kelamin dan umur. Nilai batas ambang anemia
berdasarkan ketetapan WHO untuk remaja wanita 2. METODE PENELITIAN
adalah 12 g/dL sedangkan untuk laki-laki 13 g/dL Penelitian ini merupakan jenis penelitian
(Andriyani & Bambang, 2014). Anemia pada observasional dengan rancangan cross sectional
remaja putri berdampak pada menurunnya yang dilaksanakan pada bulan April 2017. Lokasi
produktivitas kerja atau kemampuan akademis, penelitian dilakukan di SMK Negeri 1 Sukoharjo.
dapat menganggu pertumbuhan, daya tahan tubuh Populasi penelitian adalah siswi kelas XI dengan
menurun sehingga mudah terserang penyakit jumlah sampel 54 sampel. Pengambilan sampel
(Syatriani & Aryani, 2010). Menurut Hidayati menggunakan teknik simple random sampling.
(2008), akibat jangka panjang dari anemia pada Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah seluruh
remaja putri yaitu BBLR, prematuritas, angka siswi kelas XI, siswi dalam keadaan sehat, dan
kematian perinatal, dan risiko kematian martenal. tidak sedang dalam keadaan menstruasi saat
Sedangkan jangka pendek adalah mudah lelah, pengambilan darah. Kriteria eksklusi pada pene-
letih, lesu, dan lemah. litian ini adalah siswi yang tidak masuk sekolah
Menurut (Tashara et al., 2015), faktor yang saat penelitian dan mengkonsumsi tablet tambah

29
PROFESI (Profesional Islam)
Media Publikasi Penelitian; 2018; Volume 15; No 2.
Website: ejournal.stikespku.ac.id

darah. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terjadinya anemia lebih besar. Sejalan dengan
pengetahuan risiko anemia, perilaku pencegahan penelitian yang dilakukan oleh (Dwiriani et al.,
anemia dan kadar hemoglobin sebagai variabel 2011) bahwa seiring dengan meningkatnya usia
terikat. remaja semakin mengarah pada kondisi defi-
Teknik pengumpulan data identitas respon- siensi zat besi, hal ini berhubungan dengan
den dilakukan dengan cara wawancara terstruktur peningkatan kebutuhan zat besi selama usia
menggunakan kuesioner. Data pengetahuan risiko remaja dengan nilai p=0,036 dan r=0,198.
anemia dan perilaku pencegahan anemia dikum- Menurut hasil penelitian yang dilakukan Iragashi
pulkan menggunakan kuesioner dengan skala et al., (2012) di Jepang, remaja putri usia 12-16
likert yang sudah diuji reliabilitas dengan indi- tahun memiliki prevalensi anemia lebih besar,
kator item-total correlation (20 item pengetahuan yaitu 1,21% daripada remaja laki-laki sebesar
risiko anemia dan 18 item perilaku pencegahan 0,27%, sedangkan di Indonesia, remaja perem-
anemia dinyatakan reliabel dengan nilai r > 0,3) puan memiliki risiko terkena anemia sepuluh kali
dan inter-item correlation (koefisien Cronbach’s lebih besar dibandingkan dengan remaja laki-laki
alpha juga dinyatakan reliabel dengan nilai (Briawan, 2014).
koefisien alpha > 0,7 yakni pada variabel
pengetahuan risiko anemia sebesar 0,926 dan Tabel 1. Distribusi Subjek Berdasarkan
pada variabel perilaku pencegahan anemia Kategori Pengetahuan Risiko,
sebesar 0,916). Prosedur penskalaan ordinal pada Perilaku Pencegahan Anemia dan Kadar Hb
likert menjadi interval melalui summated rating
scale dengan pendekatan interpretasi z-score. Variabel n %
Data kadar hemoglobin diperoleh dengan cara Pengetahuan risiko anemia
pengambilan sampel darah oleh petugas analis Baik 21 38,9
kesehatan Puskesmas Bendosari dengan Kurang 33 61,1
menggunakan metode Cyanmethemoglobin Perilaku pencegahan anemia
dengan alat Hemocue. Kurang 1 1,9
Analisis univariat dilakukan dengan Sedang 53 98,1
mendeskripsikan skor pengetahuan risiko, skor Kadar Hb
perilaku pencegahan anemia dan kadar Hb yang Anemia 32 59,3
disajikan melalui nilai rata-rata, standar deviasi, Tidak anemia 22 40,7
nilai minimal dan nilai maksimal. Selain itu
menyajikan dalam bentuk tabel distribusi Menyimak data yang tersaji pada Tabel 1.,
frekuensi berupa kategori skor pengetahuan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki
risiko dan skor perilaku pencegahan anemia pengetahuan resiko anemia dengan kategori
berdasarkan cut off point nilai rata-rata dari skor kurang (61,1%). Hasil penelitian ini tidak jauh
tersebut. Sementara itu kategori kadar Hb berbeda dengan penelitian Fajriyah & Fitriyanto
(anemia atau tidak anemia) didasarkan pada cut (2016) menunjukkan 64,3% remaja putri yang
off point 12 gr/dL. Analisis bivariat diawali berpengetahuan rendah. Menurut Husna &
dengan uji normalitas data menggunakan uji Fatmawati (2015) remaja dengan pengetahuan
Kolmogorov-Smirnov dan uji hubungan meng- anemia rendah akan mempengaruhi kebiasaan
gunakan uji korelasi Pearson product moment yang kurang baik dalam memilih makanan dan
karena data berdistribusi normal. mencegah masalah kesehatan terutama anemia
sehingga masalah anemia pada remaja akan
3. HASIL DAN PEMBAHASAN meningkat. Pengetahuan remaja putri yang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran kurang tentang risiko anemia akan berdampak
umur responden pada penelitian ini adalah 15-17 pada status kesehatannya. Risiko yang dapat
tahun. Umur memiliki keeratan hubungan dengan ditimbulkan yaitu kelelahan, badan lemah,
kejadian anemia terutama pada remaja putri, pada penurunan produktivitas kerja, penurunan fungsi
umur ini remaja putri biasanya akan melakukan kognitif, dan bahkan berisiko menderita anemia
diet karena ingin langsing dan mengalami pada kehamilan di masa yang akan datang
menstruasi setiap bulan sehingga memiliki risiko (Hapzah & Yulita, 2012).

30
PROFESI (Profesional Islam)
Media Publikasi Penelitian; 2018; Volume 15; No 2.
Website: ejournal.stikespku.ac.id

Hampir keseluruhan responden memiliki perilaku pencegahan anemia remaja putri sebesar
perilaku pencegahan anemia yang tergolong 27,1±4,0. Perilaku pencegahan anemia pada
dalam kategori sedang sebesar 98,1%. Menurut remaja tergolong baik jika jumlah nilai ≥ 27,1
hasil penelitian yang dilakukan oleh dan tegolong kurang jika < 27,1. Nilai rata-rata
Caturiyantiningtiyas (2015) remaja putri yang kadar hemoglobin sebesar 11,6±1,4. Jika WHO
memiliki perilaku kurang memiliki risiko 0,80 (2011) menetapkan, remaja tergolong anemia jika
kali lebih besar menderita anemia. Ada fakta dari kadar hemoglobin ≥ 12 gr/dL dan tegolong tidak
penelitian ini bahwa 59,3% remaja putri anemia jika kadar hemoglobin < 12 gr/dL, maka
mengalami anemia, menurut hasil pemeriksaan dilihat dari nilai rata-rata kadar Hb pada
yang dilakukan Puskesmas Bendosari (2014) responden dibawah standar WHO.
remaja putri mengalami anemia sebesar 39% dan Berdasarkan hasil uji data statistik meng-
hasil penelitian sebelumnya di SMK Negeri I gunakan uji korelasi Pearson product moment
Sukoharjo yang menemukan angka anemia diperoleh nilai p=0,001. Hal ini menunjukkan ada
sebesar 38,9% (Setyaningrum & Mutalazimah, hubungan signifikan antara skor pengetahuan
2016). Hal ini menunjukkan ada indikasi bahwa risiko anemia dengan kadar hemoglobin pada
anemia pada remaja putri mengalami peningkatan remaja putri di SMK Negeri 1 Sukoharjo.
dan masih menjadi masalah di Indonesia, karena Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
berdasarkan ketetapan WHO, jika dalam suatu dilakukan oleh Caturiyantiningtiyas (2015) yang
wilayah ditemukan prevalensi > 40% maka menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan
terdapat masalah kesehatan masyarakat (WHO, antara tingkat pengetahuan dengan kadar hemo-
2005). globin pada remaja di SMA Negeri 1 Polokarto
Kabupaten Sukoharjo. Pengetahuan yang cukup
Tabel 2. Statistik Deskriptif Pengetahuan Risiko, diharapkan dapat merubah perilaku memilih
Perilaku Pencegahan Anemia dan Kadar Hb makanan menjadi lebih benar (Kusumawati &
Mutalazimah, 2004).
Variabel rerata±SD min-maks. Pengetahuan memegang peranan penting
Skor pengetahuan 69,7±15,5 40-95 dalam kejadian anemia, dengan pengetahuan
risiko anemia tentang risiko anemia yang rendah maka kejadian
Skor perilaku 27,1±4,0 15,6-36,9 anemia pada remaja putri akan meningkat.
pencegahan Pengetahuan yang kurang akan zat gizi menye-
anemia babkan kurangnya kecukupan mengkonsumsi
Kadar Hb 11,6±1,4 8,0-14,5 sumber makanan yang mengandung zat besi yang
berakibat rendahnya kadar hemoglobin (Listiana,
Tabel 2. menunjukkan bahwa rata-rata skor 2016). Hasil penelitian yang dilakukan oleh
pengetahuan risiko anemia remaja putri sebesar Syatriani & Aryani (2010) bahwa remaja putri
69,7±15,5. Bila dibandingkan dengan penelitian yang mengkonsumsi zat besi kurang berisiko 276
lain, hasil penelitian ini tidak berbeda jauh kali lebih besar menderita anemia dengan nilai
dengan penelitian yang dilakukan oleh p=0,002. Konsekuensi kesehatan yang ditimbul-
Caturiyantiningtiyas (2015) menunjukkan hasil kan akibat defisiensi zat besi bagi remaja putri
rata-rata pengetahuan 61,87±8,19. Pengetahuan meliputi kelahiran prematur, berat badan lahir
risiko anemia tergolong kategori baik jika jumlah rendah, infeksi, dan peningkatan risiko keinatian,
skor pengetahuan ≥ 69,7; sementara pengetahuan perkembangan fisik, gangguan kognitif yang
risiko anemia tergolong kurang, jika nilai < 69,7. mengakibatkan prestasi sekolah yang buruk
Pengetahuan merupakan salah satu faktor predis- (Masthalina et al., 2015).
posisi yang penting. Remaja putri yang kurang Kadar hemoglobin remaja putri selain ber-
pengetahuan tentang anemia akan berisiko kaitan dengan pengetahuan terhadap risiko ane-
menderita anemia (Martini, 2015). Remaja putri mia, juga berkaitan dengan perilaku pencegahan
akan kehilangan zat besi hal ini dikarenakan anemia, namun hasil uji korelasi Pearson product
remaja putri mengalami menstruasi setiap bulan moment diperoleh nilai p=0,481; yang berarti
sehingga kebutuhan zat besi meningkat (Iragashi tidak ada hubungan antara perilaku pencegahan
et al., 2012). Sementara itu hasil rata-rata skor anemia dengan kadar hemoglobin pada remaja

31
PROFESI (Profesional Islam)
Media Publikasi Penelitian; 2018; Volume 15; No 2.
Website: ejournal.stikespku.ac.id

putri di SMK Negeri 1 Sukoharjo. Hasil pene- 5. REFERENSI


litian ini sejalan dengan penelitian yang dilaku-
kan oleh Setiawan (2006) bahwa tidak ada hubu-
Andriyani, M & Bambang, W. (2014). Pengantar
ngan perilaku remaja putri dalam pencegahan
Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana
anemia gizi di Madrasah Aliyah Al-Anwar
Prenada Media Group.
Pondok Pesanten Poculgowang Diwek Kabu-
paten Jombang dengan nilai p=0,637. Hal ini Briawan, D. (2014). Anemia Masalah Gizi pada
tidak jauh berbeda dengan penelitian yang Remaja. Jakarta: EGC.
dilakukan oleh Lestari et al., (2015) bahwa salah Caturiyantiningtiyas, T. (2015). Hubungan Antara
satu faktor pencegahan anemia dipengaruhi oleh Pengetahuan, Sikap dan Perilaku dengan
faktor eksternal yaitu lingkungan, selain itu juga Kejadian Anemia Remaja utri X dan XI
motivasi sebagai faktor internal. Kurangnya SMA Negeri 1 Polokarto. Naskah
motivasi dan kesadaran pada remaja putri yang Publikasi.
rendah sehingga kemampuan atau perilaku dalam
mencegah anemia juga akan rendah. Dwiriani, C. M., R., & Hardinsyah., Riyadi, H.,
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Martianto, D. (2011). Pengarum
penelitian yang dilakukan oleh Tashara et al., Pemberian Zat Multi Gizi Mikro dan
(2015) bahwa pengetahuan memiliki hubungan Pendidikan Gizi terhadap Pengetahuan
yang signifikan dengan perilaku dalam mencegah Gizi, Pemenuhan Zat Gizi dan Status
anemia. Peningkatan pengetahuan tidak selalu Besi Remaja Putri. Jurnal Gizi Dan
menyebabkan perubahan perilaku, sehingga Pangan, 6(3), 171–177.
remaja putri dengan pengetahuan baik belum Fajriyah, N. N & Fitriyanto, M. L. H. (2016).
menjamin praktik terhadap pencegahan anemia Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang
juga baik (Farida, 2007). Perilaku yang kurang Anemia pada Remaja Putri. Jurrnal
baik seperti aktivitas yang terlalu berlebihan pada Ilmiah Kesehatan, IX(1), 1–6.
remaja putri dan tidak diimbangi dengan pola
makan dan istirahat, maka akan mempengaruhi Farida, I. (2007). Determinan Kejadian Anemia
proses pembentukan hemoglobin tidak optimal pada Remaja Putri di Kecamatan Gebog
(Suryani et al., 2016). Upaya pencegahan anemia Kabupaten Kudus. Thesis Universitas
dapat dilakukan dengan tiga pendekatan dasar Diponegoro.
yaitu memperkaya asupan zat besi, meng- Hapzah., & Yulita, R. (2012). Hubungan Tingkat
konsumsi tablet tambah darah sebelum dan Pengetahuan dan Status Gizi terhadap
selama menstruasi, serta peran petugas kesehatan Kejadian Anemia Remaja Putri pada
dalam memberikan informasi cara pencegahan Siswi Kelas III di SMAN 1 Tinambung
anemia (Tarwoto, 2010). Kabupaten Polewali Mandar. Media Gizi
Pangan, XIII(1), 20–25.
4. SIMPULAN
Ada hubungan pengetahuan risiko anemia Hidayati, R. (2008). Asuhan Keperawatan pada
dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di Kehamilan Fisiologi dan Patologis.
SMK Negeri 1 Sukoharjo. Tidak ada hubungan Jakarta: Saldmba Medika.
perilaku pencegahan anemia dengan kadar Husna, U & Fatmawati, R. (2015). Tentang
hemoglobin pada remaja putri di SMK Negeri 1 Anemia Dengan Pola Makan (
Sukoharjo. Implikasi hasil kebijakan program Relationship of Knowledge About
gizi masyarakat yaitu masih diperlukan upaya Anemia on Young Women With Dietary
untuk meningkatkan pengetahuan risiko anemia ). Profesional Islam, 12(2), 52–57.
dan meningkatkan perilaku pencegahan anemia
pada remaja putri melalui edukasi gizi dengan Iragashi, T., Itoh, Y., Maeda, M. (2012). Mean
begitu dapat mengurangi risiko anemia pada Hemoglobin Levels in Venous Blood
remaja putri. Samples and Prevalence of Anemia in
Japanese Elementary and Junior High
School Students. Journal Nippon

32
PROFESI (Profesional Islam)
Media Publikasi Penelitian; 2018; Volume 15; No 2.
Website: ejournal.stikespku.ac.id

Medical School, 79(3). Setyaningrum, A. D., & Mutalazimah, M. (2016).


Hubungan Antara Indikator Pemeriksaan
Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar
Klinis Dan Biofisik Sebagai Variabel
Tahun 2013. Jakarta.
Prediktor Dengan Penentuan Status
Kristianti, N., Sarbini, D., & Mutalazimah, M. Anemia Pada Siswi Di SMK Negeri 1
(2009). Hubungan Pengetahuan Gizi Dan Sukoharjo. E-Paper. Retrieved from
Frekuensi Konsumsi Fast Food Dengan http://eprints.ums.ac.id/44446/3/HALAM
Status Gizi Siswa SMA Negeri 4 AN DEPAN.pdf
Surakarta. Jurnal Kesehatan, 2, 39–48.
Sudoyo, A., W., Bambang S., I. A. (2006). Ilmu
Kusumawati, Y., & Mutalazimah, M. (2004). Penyakit Dalam. Jakarta: Fakultas
Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Kedokteran Universitas Indonesia.
Gizi Ibu dengan Berat Bayi Lahir di
Suryani, D., Hafiani, R., Junita, R. (2016).
RSUD dr. Moewardi Surakarta. Info
Analisis Pola Makan dan Anemia Gizi
Kesehatan, 8(1), 1–9.
Besi pada Remaja Putri Kota Bengkulu.
Lestari, P., Widardo, W., & Mulyani, S. (2015). Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas,
Pengetahuan Berhubungan dengan 10(1), 11–18.
Konsumsi Tablet Fe Saat Menstruasi
Syatriani, S., & Aryani, A. (2010). Konsumsi
pada Remaja Putri di SMAN 2
Makanan dan Kejadian Anemia pada
Banguntapan Bantul. Jurnal Ners Dan
Siswi Salah Satu SMP di Kota Makassar.
Kebidanan Indonesia, 3(3), 145–149.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional,
https://doi.org/10.21927/jnki.2015.3(3).1
4(No. 6), 251–254.
45-149
Tarwoto. (2010). Kesehatan Remaja Problem dan
Listiana, A. (2016). Analisis faktor-faktor yang
Solusinya. Jakarta: Salemba Medika.
berhubungan dengan kejadian anemia
gizi besi pada remaja putri di smkn 1 Tashara, I. F., Achen, R. K, M Quadras, R.,
terbanggi besar lampung tengah. Jurnal D’Souza, M. v., Jyouti, P. J., Sankar, A.
Kesehatan, VII(3), 455–469. (2015). Knowledge and self-reported
practices on prevention of iron deficiency
Martini. (2015). Faktor-Faktor Yang Berhu-
anemia among women of reproductive
bungan Dengan Kejadian Anemia pada
age in rural area. International Journal of
Remaja Putri di MAN 1 Metro. Jurnal
Advances in Scientific Research, 1(7),
Kesehatan Metro Sai Wawai Volume,
289–292. https://doi.org/10.7439/ijasr
VIII(1).
World Health Organization. (2005). Worldwide
Masthalina, H., Laraeni, Y., & Dahlia, Y. P.
Prevalence of Anaemia. WHO Report,
(2015). Pola Konsumsi (Faktor Inhibitor
51.
dan Enhancer Fe) Terhadap Status
https://doi.org/10.1017/S1368980008002
Anemia Remaja Putri. Jurnal Kesehatan
401
Masyarakat, 11(1), 80–86.
https://doi.org/ISSN 1858-1196 World Health Organization. (2011). Haemoglobin
concentrations for the diagnosis of
Setiawan, D. (2006). Perilaku remaja putri dalam
anaemia and assessment of severity.
pencegahan anemia gizi. ADLN Perpus-
Geneva, Switzerland: World Health
takaan Universitas Airlangga.
Organization, 1–6. https://doi.org/2011

33