Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACUAN PENYULUHAN (SAP)

Defisit Perawatan Diri

Pokok Bahasan : Defisit Perawatan Diri

Hari/Tanggal : Sabtu/20 Juli 2019

Tempat : Jl. Dr Sutomo Ujung gg mushola no 6 Kedaton Barat

Sasaran : Pasien gangguan jiwa dan keluarga

Waktu : 08.00 – 10.00

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah menerima pendidikan kesehatan tentang defisit perawatan diri, diharapkan
sasaran mampu memahami dan menyadari bahaya defisit perawatan diri.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah menerima pendidikan kesehatan, diharapkan sasaran mampu :
 Menjelaskan Pengertian defisit perawatan diri.
 Menyebutkan tanda dan gejala defisit perawatan diri
 Menjelaskan penyebab defisit perawatan diri
 Menjelaskan akibat defisit perawatan diri

B. MATERI
1) Pengertian defisit perawatan diri.
2) Tanda dan gejala defisit perawatan diri
3) Penyebab defisit perawatan diri
4) Akibat defisit perawatan diri

C. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

D. MEDIA
Leaflet

E. EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi diadakan di akhir sesi penyuluhan dengan cara penyuluh mengajukan
perntanyaan sebagai berikut kepada sasaran:
 Apakah pernah mengenal istilah defisit perawatan diri?
 Bagaimana Tanda dan gejala defisit perawatan diri?
 Apakah Penyebab defisit perawatan diri?
 Apa saja Akibat defisit perawatan diri?

F. KEGIATAN PENYULUHAN

NO FASE KEGIATAN KEGIATAN SASARAN

1 Pembukaan 1. Memberi salam pembukaan Sasaran diharapkan


2. Memperkenalkan diri
(5 menit) menjawab salam,
3. Menjelaskan kontrak waktu,
mendengarkan dan
pokok bahasan dan tujuan
memperhatikan
penyuluhan

2 Pelaksanaan  Menjelaskan pengertian defisit Sasaran diharapkan dapat


perawatan diri. memperhatikan materi
(15 menit)  Menjelaskan tanda dan gejala penyuluhan dengan baik
defisit perawatan
 Menjelaskan penyebab defisit
perawatan diri
 Menjelaskan akibat defisit
perawatan diri

3 Tanya  Mempersilahkan sasaran untuk  Diharapkan sasaran


Jawab bertanya mengenai materi dapat mengajukan
penyuluhan pertanyaan kepada
(5 menit)
penyuluh

4 Evaluasi  Mengajukan pertanyaan  Sasaran diharapkan


dan kepada sasaran tentang materi dapat menjawab
Penutup penyuluhan dengan soal yang pertanyaan yang
sudah disiapkan diajukan oleh penyuluh
(10 menit)  Mengucapkan terima kasih dan  Sasaran diharapkan
salam penutup mendengarkan,
memperhatikan dan
menjawab salam

G. KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
 Pasien dan keluarga mengikuti penyuluhan dan antusias
 Penyelenggaraan penyuluhan diadakan di pukesmas pembantu pakunden
 Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya. (SAP)
2. Evaluasi Proses
 Pasien dan keluarga antusias terhadap materi penyuluhan
 Pasien dan keluarga tidak meninggalkan tempat selama acara berlangsung
 Pasien dan keluarga menjawab pertanyaan secara benar.

3. Evaluasi Akhir
 Pasien dan keluarga mengetahui pengertian defisit perawatan diri.
 Pasien dan keluarga mengetahui tanda dan gejala defisit perawatan diri
 Pasien dan keluarga mengetahui penyebab tentang defisit perawatan diri
 Pasien dan keluarga mengetahui akibat dari defisit perawatan diri
DEFISIT PERAWATAN DIRI

A.Pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai
dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak
dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan
kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting)
(Nurjannah, 2004).
Menurut Poter. Perry (2005), personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang
perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan
kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa defisit perawatan diri adalah suatu
kondisi seseorang dimana seseorang yang mengalami kelemahan melakukan aktifitas
perawatan diri secara mandiri.

B. Tanda dan Gejala

a. Mandi/hygiene

Klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan, memperoleh atau


mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan perlengkapan
mandi, mengeringkan tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi.

b. Berpakaian/berhias

Klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil potongan pakaian,


menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau menukar pakaian. Klien juga memiliki
ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian dalam memilih pakaian, menggunakan alat
tambahan, menggunakan kancing tarik, melepaskan pakaian, menggunakan kaos kaki,
mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan mengambil pakaian dan
mengenakan sepatu.
c. Makan

Klien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan


makanan, menangani perkakas, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan,
mendapatkan makanan, membuka container, memanipulasi makanan dalam mulut,
mengambil makanan dari wadah lalu memasukkannya ke mulut, melengkapi makan,
mencerna makanan menurut cara yang diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas,
serta mencerna cukup makanan dengan aman.

d. BAB/BAK (toileting)

Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan jamban atau


kamar kecil, duduk atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian untuk toileting,
membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil.

Menurut Depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:

a. Fisik
- Badan bau, pakaian kotor
- Rambut dan kulit kotor
- Kuku panjang dan kotor
- Gigi kotor disertai mulut bau
- Penampilan tidak rapi
b. Psikologis
- Malas, tidak ada inisiatif
- Menarik diri, isolasi diri
- Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina
c. Sosial
- Interaksi kurang
- Kegiatan kurang
- Tidak mampu berperilaku sesuai norma
- Cara makan tidak teratur
- BAK dan BAB disembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri
C.Penyebab
1. Faktor Predisposisi
a) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu
b) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan
diri
c) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwadengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya danlingkungan termasuk perawatan diri
d) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuanperawatan diri lingkungannya.
Situasilingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri

2. Faktor Predispitasi
Merupakan factor presiptasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi,
kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah, lemas yang dialami individu
sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000:59) factor- factor yang mempengaruhi personal hygienea
adalah:
a) Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya: dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli
kebersihan.
b) Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan
terjadi perubahan personal hygiene
c) Status sosial ekonomi
Personl hygiene memerluka alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, shampo dan
alat mandi semuanya memerluka uang untuk menyediakannya.
d) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat
meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien menderita diabetes mellitus ia
harus menjaga kebersihan kakinya
e) Budaya
Disebagian masyarakat jika individu sakit tidak boleh dimandikan
f) Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan seorang mengunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti
penggunaan sabun , shampo dan lain-lain
g) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu atau sakit kemampuan untuk melakukannya

D. Jenis-Jenis Perawatan Diri


1. Kurang perawatan diri : Mandi atau kebersihan
Gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi maupun kebersihan diri
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian atau berhias
Gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktifitas berdanadan sendiri
3. Kurang perawatan diri : Makan
Gangguan kemampuan untuk menunjukan aktifitas makan
4. Kurang perawatan diri : Toileting
Gangguan kemampuanuntuk melakukan atau menyelesaikan toileting sendiri
(nurjannah: 2004, 79)

D. Akibat
Defisit perawatan diri berdampak pada fisik maupun psikis pada diri seseorang
 Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang sering di derita seseorang karena tidak di jaganya
kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang seringa terjadi dalah gangaun
intregitas kulit,ganguan mukosa, infeksi pada mata dan telinga
 Dampak psikososial
Masalah yang muncul pada personal higient adalah gangguan rasa nyaman kebutuhan di
cintai dan mencintai, kebutuahan harga diri, dan ganguan interaksi sosial.
DAFTAR PUSTAKA

Nurjanah,intisari s.2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta:


Memodia.

Tarwoto & wartonah.2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.

Perry& Potter.2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.